NEWS UPDATE :

Geliat Arus Syi’ar PKS Mengkhawatirkan, Penyeimbang?

Minggu, 31 Maret 2013


Hidayat Muhammad

2013 ini diklaim sebagai tahun politik. Benar saja, suhu politik di negeri ini benar-benar terasa semakin panas saja. Ya, karena tahun ini adalah tahun politik menjelang Pemilu 2014. Maka pada episode kali ini partai-partai politik akan saling bermanuver.

Saatnya melakukan konsolidasi internal untuk menghadapi Pemilu 2014.  Politisi di berbagai tingkatan, akan melancarkan manuver untuk menghadapi konsolidasi ini.

Sayangnya tidak hanya manuver-manuver untuk meningkatkan elektabilitas partai sendiri, tetapi kesempatan ini juga digunakan untuk melancarkan serangan ke partai-partai lain agar elektabilitasnya dimata vouters jatuh bahkan kalau bisa sampai tertimpa tangga, sehingga bisa di harapkan partai-partai tersebut tidak akan lolos elektrolar treshold.

Sudah kita saksikan bersama berbagai partai telah mendapatkan serangan-serangan. Tentunya yang sudah kita fahami sendiri adalah partai yang memiliki media, karena sedikit saja isu jelek yang mengatasnamakan aknum partai tertentu, pasti akan menjadi bulan-bulanan media, terlepas dari isu alami atau konspirasi.

Ada hal yang menarik pada episode kali ini. Banyak lembaga-lembaga surver meliris surveynya bahwa Partai Islam (memakai simbol Islam secara formal atau hanya memiliki basis konstituen kaum muslimin) akan keok atau sama sekali tidak menjadi pilihan bagi masyarakat. Padahal dilihat dari perkembangan isu yang ada diarahkan ke Partai Islam, ternyata masih terlalu kecil, sehingga dianggap masih cukup kuat dan memiliki nilai jual untuk pemilu tahun depan. Apa lagi rekor bersih dari korupsi masih dipegang oleh salah satu Partai Islam. Tentunya ini menjadi perhatian bagi kompetitor lain untuk dapat menyikapi itu, minimal mengimbanginya jangan sampai melompat terlalu jauh.

Nah, akhirnya Partai Islam tersebut juga menjadi perhatian kembali karena isu besar yang menimpanya. Itulah badai yang menghampiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tidak tanggung-tanggung, jargon-jargon anti korupsi (harta), anti penyimpangan amanah jabatan (tahta), anti amoral (wanita) telah terhempas dari citra PKS sejak kemunculannya. Itulah gambaran yang dapat diterjemahkan oleh kalangan masyarakat dengan kasus badai yang menerjang PKS dengan prahara yang menimpa pemimpinnya Luthfi Hasan Ishaq. Walaupun saya menilai sendiri juga terlalu vulgar kejanggalan kasus tersebut. Tetapi sudah cukup menjadi bahan pembicaran masyarakat diberbagai dunia (dunia nyata dan dunia maya).

Sayangnya badai tersebut ternyata dapat disikapi dengan cukup baik oleh internal PKS, dengan menunjuk pimpinan baru dengan sekejap yaitu Anis Matta, dan bisa dikatakan berhasil mempertahankan diri dari badai tersebut. Bahkan porak-poranda akibat terpaan badai dengan sangat cepat dapat ditanggulangi dan menjadikan momentum untuk bangkit dan berjaya.

Ya, PKS berhasil memanajemen konflik dengan amat baik dan menjadikannya sebagai sarana untuk lebih maju lagi. Jika dilihat dari perkembangan citra PKS yang belakangan berhasil memenangkan 2 (dua) pemilukada besar dengan raihan kedua-duanya hanya dalam 1 (satu) kali putaran, begitu melecitkan citra PKS. Bahkan di dunia maya juga semakin laju dengan situs-situs Jejaring Sosial yang selalu tidak henti-hentinya tertulis kombinasi 3 (tiga) huruf ini (PKS). Bisa-bisa target menjadi partai yang masuk dalam 3 (tiga) besar pemenang pemilu akan benar-benar tercapai, yang akhirnya menggusur salah satu dari PD, PG, atau PDIP.

Lihat saja situs PKS Piyungan yang dikelola sebuah kecamatan di Bantul Yogyakarta, bisa menjadi situs partai terlaris pengunjungnya, dan menjadi semangat untuk situs-situs PKS daerah-daerah lain untuk menggeliatkan syi’arnya.

“Aku pernah berkunjung ke situs piyungan, isinya ramai sekali, banyak tulisan-tulisan yang bisa membuat pembacanya terlena dan percaya dengan informasinya, memang PKS ini hebat begitu juga dengan situs onlinenya.“

“Tidak ada situs online yang aku lihat mampu menyaingi situs PKS Piyungan.”

Begitulah kutipan dari opini seseorang yang mengharapkan harus ada PENYEIMBANG situs tersebut atau juga bisa jadi syi’ar-syi’ar PKS dimanapun. Situs yang dijadikan para kader PKS untuk dapat meng-counter diri dan tidak mengikuti arus isu media, ternyata juga menjadi sorotan. Gerakan Penyeimbang ini menilai tidak ilmiyah atau apalah itu, yang tidak dapat diakui eabsahannya dengan berbagai alasan, terutama karena hanya sebuah opini. Lain halnya dengan liris-liris media seperti Tempo, yang dikenal sebagai media investigasi, walaupun sebenarnya juga dikenal langganan digugat secara hukum.

Tetapi apalah itu, masyarakat sudah memahami jalan rekonstruksi sebuah pemberitaan media. Kita tidak dapat meyakini secara total dan pasti setiap pemberitaan media, karena sudah terlalu banyak protes-protes yang dilayangkan masyarakat atas berbagai media, baik televisi, radio, cetak, atau online.

Media sebagai alat partai, media mencari sponsor, media melebih-lebihkan isu agar lebih menarik, sudah kita fahami bersama.

Perlunya kita menyikapi sebuah isu dengan lebih cerdas yang dapat membuat kita lebih berfikir positif . Sehingga optimisme untuk memperbaiki dan membangun bangsa lebih dinomor satukan. Tidak apatisme terhadap sesuatu yang dianggap amat penting atau juga urgen. Perlunya kita juga memberi perhatian apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menurut kita dapat dipercaya, sehingga nilai kualitas keabsahannya juga tidak kalah dengan klaim pembenaran mayoritas orang.

Akhirnya mau tidak mau, geliat arus syi’ar/ pencitraan PKS sudah semakin mengkhawatirkan saja bagi mereka yang fobia atau terusik keberadaanya. Siap berdemokrasi, maka harus siap juga dengan penerimaan segala konsekwensinya. []




:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Long Weekend, Aleg PKS ini Malah Tertangkap Kamera Sedang 'Bermesraan'


Sangatta – Libur panjang seringkali digunakan oleh banyak orang untuk berlibur, keluar kota dan bertamasya ke tempat-tempat wisata. Apalagi bagi golongan orang se level pejabat, pasti sudah ada agenda-agenda untuk keluar kota mengingat kesibukannya selama hari kerja sungguh padat, maka wajar jika hari libur mereka habiskan untuk berlibur. Namun justru aneh yang terjadi dengan Mansur, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kab. Kutai Timur dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini. Bukannya berlibur bersama keluarganya tapi malah ber’mesra’an dengan kader partainya di sebuah masjid.

Bersama seluruh kader PKS, Mansur tertangkap kamera sedang ber’asyik-masyuk’ mengikuti tahapan demi tahapan acara untuk ber’mesra’an dengan Tuhannya. Seperti yang nampak pada gambar, Mansur dengan perhatiannya menyimak tausiah yang disampaikan oleh Ustadz. Husni Harras yang pada malam ini, Sabtu, 30/03, didaulat untuk menyampaikan tausiah di depan para kader dakwah PKS di masjid Daarussalaam, Sangatta.

Tidak hanya itu, sebagai mana pengamatan tim media di lokasi, Mansur, Anggota Dewan yang kental dengan logat Makasarnya ini justru menghabiskan malam ini dengan memperbanyak tadarrus Al-qur’an sampai kemudian kantuk datang, ia pun mulai beranjak tidur namun tidak pulang ke rumahnya melainkan tidur di atas ubin lantai masjid bersama dengan kader yang lain. Di sepertiga malam iapun tampak menghabiskan waktu dengan sholat sampai datang subuh. Sehabis sholat subuh media berusaha untuk bertanya kepadanya tentang kegiatan seperti ini, namun jawabannya datar saja, seolah ini hal biasa yang harus dilakukan kader PKS apalagi orang seperti dia.

“Biasa. Untuk sarana ibadah, kita kan partai yang hanya bermodalkan doa.” Selorohnya sambil tertawa ringan.



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Suherman, Tokoh Muda Penyemai Dakwah PKS di Jayapura

Bertemu dengan sosok kita kali ini, kita diajak untuk berkenalan dengan seorang yang masih muda usia tetapi memiliki beragam pengalaman berharga yang dapat dibagikan. Di usianya yang masih belum genap kepala empat ini, telah banyak peran ia bisa lakonkan. Dengan tipe pembelajar, ia bisa menjalani semua tugas yang diembannya dengan baik.

Suherman, SH dilahirkan di Palembang, 12 Oktober 1975. Namun ia hanya berada di tanah kelahirannya selama tiga tahun, selanjutnya ia harus mengikuti orang tuanya kembali ke tanah Jawa. Tiga tahun di tanah Jawa, ia pun kembali harus berhijrah ke ujung timur negeri ini, Merauke. Di kota inilah, Suherman menjalani pendidikannya di tiga jenjang pendidikan, dari SD hingga SMEA. Sepertinya serba tiga ia jalani dalam cerita ini, 3 tahun di Palembang, 3 tahun di tanah Jawa, dan 3 jenjang pendidikan ia tempuh di Merauke, seolah tepat benar dengan nomor partainya yaitu nomor 3 (tiga) di pemilu 2014 nanti.

Setelah dianggap matang oleh keluarganya, ia pun dilepas untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi ternama di Irian Jaya, nama provinsi Papua ketika itu. Di Universitas Cenderawasih (Uncen) Suherman sempat menyelesaikan program Diploma III dari program studi Bimbingan dan Konseling. Berbekal pendidikannya inilah, ia sempat menjalani profesi sebagai seorang guru, sebelum ia diamanahi oleh partai dakwah untuk menduduki posisi sebagai wakil rakyat di DPRD kota Jayapura.

***

Sejak tahun 1996 ketika berada di dunia kampus, ia mulai tertarik dengan para aktivis tarbiyah, yang saat itu ia dapati di Kampus Universitas Cenderawasih telah marak. Kegiatan mereka terlihat dari aktifnya mushola kampus dengan berbagai kegiatan kajian dan aktivitas sosial keagamaan mahasiswa lainnya.

Ia merasa nyaman berada di tengah-tengah para aktivis tarbiyah, karena menurutnya ikatan ukhuwah di antara mereka begitu terasa. Apalagi, di usianya yang masih belia saat mencari jati diri, sebuah lingkungan yang tepat ia temui. Seperti tanaman berada di tanah yang subur. Layaknya ikan ketemu kolam nan segar. Di lingkungan tarbiyah ini, ia bisa tumbuh dan terus berkembang. Ia merasa nyaman dan enjoy bersama para aktivis dakwah. Bersama tarbiyah ia terus berkembang. Melalui tarbiyah ia bisa menumbuhkan berbagai potensi yang dimilikinya.

Menurutnya, tarbiyah mampu memberikan pemahaman baginya tentang Islam yang syumul. Tarbiyah juga mendorongnya untuk menerapkan sekecil apa pun yang dipahaminya tentang diinnya. Di sini juga ia mulai berlatih mengasah kemampuan organisatorisnya.

Karakter aktivis dakwah yang sangat ia rasakan yaitu menyatunya hati-hati mereka dengan ukhuwah yang sangat kuat. Para aktivis dakwah yang pernah dikenalnya tidak hanya membekas di hatinya, lebih dari itu mereka pulalah yang mewarnai hidupnya menggapai sukses dalam kehidupan ini.

***

Suherman menikah dengan Firsandy Libriyanti, S.Pd.I dan dikaruniai dua orang anak, Abdul Hadi Taqiyuddin (6 tahun) dan Naylah ‘Alimatul Yumna (3 tahun). Ia pun melanjutkan studi di STIH Umel Mandiri dan menyelesaikan S1 dalam bidang hukum pada tahun 2012 yang lalu. Program S1 yang ia selesaikan ini merupakan obsesinya ketika menikah dulu, bahwa istri dan ibu mertuanya telah lebih dahulu menyelesaikan S1, maka ia pun termotivasi untuk melanjutkan studinya.

Berkaitan dengan kesibukkannya, ia memiliki prinsip yang patut dicontoh, bahwa semakin sibuk seseorang, akan semakin pandai mengatur waktu. Anggapan jika seseorang sibuk kemudian tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik adalah anggapan yang tidak benar. Bahkan ketika begitu banyak amanah yang dimiliki, ia akan menjalani waktu yang dimilikinya dengan penuh tanggung jawab.

Bagaimana kesibukkannya bisa kita lihat dari aktivitas harian yang ia lalui. Sebagai ayah dari dua anak 6 tahun dan 3 tahun, merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Usia yang demikian merupakan saat-saat di mana anaknya sangat membutuhkan perhatian dari orang tuannya, salah satunya dalam bentuk membersamai mereka.

Tugas keseharian Suherman bersama anak-anaknya yaitu membersamai mereka ketika bangun tidur, mengingatkan jadwal, memandikan di pagi hari, dan mengantarkan mereka ke sekolah. Setelah selesai dengan kegiatan pagi bersama anak-anak, ia pun bersiap menuju kantor. Masih ada satu lagi tugasnya yang tidak kalah penting yaitu membersamai anak-anak shalat berjamaah di masjid. Baginya shalat berjamaah di masjid adalah kesempatan terbaik untuk membersamai dan senantiasa dekat dengan anak-anaknya.

Bersama istri tercintanya, ia mulai mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Di antara aturan keluarga yang diterapkannya ialah berangkat ke sekolah maksimal jam 06.45. pada jam ini, anak-anak harus sudah siap. Kesiapan berangkat ditunjukkan dengan mereka sudah mandi shalat subuh, mandi pagi dan berpakaian rapi, telah sarapan. Jika tidak siap, maka akan ditinggal di rumah. Konsekuensinya hak-haknya selama satu hari tersebut dicabut: hak nonton televisi, hak bermain di luar rumah dan bersepeda. Hanya diperbolehkan membaca dan menggambar. Ketegasan Suherman bersama istri diuji ketika anaknya benar-benar tidak siap pada waktu yang disepakati. Meski pahit konsekuensi yang harus ditanggung anaknya, tetapi hal tersebut baik hasilnya. Setelah diterapkan aturan tersebut, hanya dua kali anaknya telat sekolah. Hingga saat ini anak-anaknya bisa berangkat ke sekolah tepat waktu.

Selepas maghrib, ia telah ditunggu oleh bapak-bapak di masjid dekat tempat tinggalnya, untuk mengajar mereka mengaji dengan menggunakan metode Ummi. Jadwal mengaji mereka yaitu dari hari Ahad hingga Jumat. Libur hanya pada hari Sabtu atau ketika ia tengah memiliki tugas ke luar kota. Sembari menunggu bapak-bapak bersiap mengaji, selepas maghrib ia manfaatkan untuk mengajari kedua anaknya mengaji. Selain itu, sepekan dua kali ia mengisi kajian rutin bersama para binaannya (baca: liqo).

Suherman telah mengajarkan kepada kita kreativitas dalam berdakwah. Baginya ilmu yang sedikit tidak menjadi alasan untuk tidak berkontribusi bagi masyarakat. Ia mencontohkan dengan meluncurkan program halaqah Qur’an pada Ramadhan tahun lalu. Sasarannya ialah bapak-bapak jamaah masjid kompleksnya. Saat itu terdapat dua orang yang mendaftar. Ia berusaha istiqomah menjalankan programnya meski jumlah muridnya tidak seberapa. Program tersebut terus berjalan selepas Ramadhan dan hasilnya bisa terlihat dari kemampuan mengaji para pesertanya. Melihat hal ini, pengurus masjid pun menyambutnya dengan baik dan mendorong jamaah lain untuk bergabung. Alhamdulillah, saat ini tercatat 21 orang telah bergabung dalam program halaqah Qur’an tersebut.

***

Suherman dipercaya oleh partai dakwah untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di lembaga legislatif, karena sebelumnya ia dianggap sukses memegang beberapa amanah, seperti Karateker Sekjen KAMMI, ketua DPD PKS Kota Jayapura periode 2005 hingga 2010, dan sejumlah amanah dakwah lainnya.

Saat ini ia duduk di Komisi C DPRD Kota Jayapura yang membidangi pendidikan, kesehatan dan sosial. Ia berpesan kepada para calon aleg yang baru, jika ia nanti terpilih. Ia teringat saat pertama kali ia menjadi aleg di tahun 2009 lalu. Semua tugas akan dapat berjalan dengan baik jika kita memiliki tipe pembelajar dan mau bekerja keras. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk kita pelajari dan kita lakukan. Berkat kemauannya inilah, awal tahun 2012 ia dipercaya menjadi ketua Fraksi PKS di DPRD Kota Jayapura.

Pada alat kelengkapan dewan, ia duduk sebagai anggota badan anggaran dan badan legislasi. Ia bersama rekan-rekan sefraksinya berjuang untuk banyak memberi warna pada kedewanan. Pada bidang anggaran, ia mendorong agar anggaran efektif berbasis program. Didorong agar pengalokasian anggaran lebih berpihak kepada publik. Hasilnya APBD 2012 dan 2013 sudah banyak berubah. Telah lebih besar alokasi anggaran untuk publik daripada belanja pegawai. Ke depannya akan terus didorong untuk lebih besar lagi.

Sebagai bukti kecintaan dan perhatian serius terhadap masa depan generasi muda, ia bersama anggota Fraksi PKS lainnya menjadi inisiator Raperda Perlindungan Anak. Semoga Kota Jayapura menjadi Kota Layak Anak (KLA).

*by Masdi Abu Hani

http://pkskotajayapura.org/artikel/read/suherman-berkembang-bersama-tarbiyah




:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Pendidikan Politik ala PKS Piyungan, PKS TV, dan Kompasiana

Dimyat Aa Dym

Dalam konteks perjalanan dan pembelajaran berdemokrasi yang sedang berlangsung di negeri kita tercinta seperti yang sedang terjadi saat ini, pendidikan politik menjadi sesuatu yang menarik dan penting untuk kita pelajari dan dikembangkan, baik sebagai pelajar, mahasiswa, guru atau dosen serta warga negara yang baik sehingga output dari proses demokratisasi yang yang sedang terjadi dalam bangsa ini menghasilkan masyarakat berperadaban sebagaimana yang kita harapkan.

Dalam kosa kata Islam disebut dengan masyarakat madani (civil society) atau bahasa kitab sucinya baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Atau ada juga orang PKS menyebutnya dengan istilah “mihwar daulah” era dakwah yang menegara, coba perhatikan berbeda sekali penyebutannya dengan Hizbut Tahrir Indonesia yang keukeuh dengan istilah khilafah islamiyah, dengan tidak menerima konsep demokrasi atau kelompok yang menamakan dirinya penganut Salafi yang membidahkan demokrasi, disinilah terlihat keislaman orang PKS lebih moderat dibandingkan dengan kelompok “garis keras” yang ada.

Sehingga masyarakat Indonesia mulai mengikis kekhawatirannya atas PKS yang disebut-sebut sebagai kelompok yang akan mengiring masyarakat menuju Negara Islam Indonesia, sebagai bukti bisa disimak dalam diskusi MATA NAJWA antara Anis Matta dan Najwa Shihab beberapa waktu lalu di Metro TV dengan judul “Metamorfosa PKS Part 3″.

PKS adalah salah satu partai yang paling peduli serta konsen dengan konsep pandidikan politik baik bagi anggotanya maupun masyarakatnya secara umum. Meski partai lain pun saya yakin melakukan hal demikian meski dengan cara yang sama atau berbeda dengan  PKS.

Dengan berpijak kepada realita di lapangan bahwa media mainstream (Koran, Majalah, Media Online, dan Televisi) saat ini yang kurang “bersahabat” dan cenderung menonjolkan berita-berita yang kurang mendidik terutama ketika dikaitkan dengan partai yang satu ini (perhatikan buku “Masihkan PKS Bermasa Depan” karangan Erwyn Kurniawan Bab  12 berjudul “PKS dan Jurnalisme Su’uzhon”).

Dalam situasi demikian, tampillah PKS dengan dengan sosial medianya melalui para kader, simpatisan maupun orang yang tergerak dan terpanggil karenanya. Mereka sangat ketara sekali pergerakannya terutama dengan adanya 3 media mereka sebagai sarananya yaitu : PKS Piyungan, PKS TV dan Sosial Media (Sosmed) lainnya baik berupa twitter, facebook dan blog pribadi maupun blog bersama seperti di www.kompasiana.com.

Dengan hadirnya 3 media tadi di atas seolah menjadi menu tersendiri di tengah dahaga informasi yang melanda mereka saat ini, bagi para kader PKS, simpatisan dan orang yang peduli dengannya sehingga ketiga media tadi menjadi alternatif bagi suplai informasi yang akan menjadi energi mereka untuk bekerja terutama dalam menembus 3 besar di pemilu 2014 nanti.

Disisi lain dalam khasanah pemikiran mereka ketika membaca dan mengikuti berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta atau fitnah maka berita dusta atau fitnah itu yang seharusnya untuk dihindarkan atau tidak dibaca karena dengan membaca atau mengikutinya itu akan melemahkan semangat dan motivasi mereka yang pada akhirnya melemahkan kerja dakwah mereka.

Pemikiran tersebut saya temukan dalam salah satu buku yang menjadi salah satu pedoman mereka berjudul “Riwayat Ulama Besar Imam Syafi’i” dan itu ternyata sebuah perkataan salafus sholeh pada zaman dahulu sebagaimana pernah diriwayatkan pula oleh Al-Wazir :

Pada suatu hari Imam Syafi’i keluar dari pasar Al-Qonadil di Mesir, tiba-tiba saat itu ada seorang mencerca dan mencaci maki terhadap seorang lain yang ahli ilmu, maka beliau segera berpaling kepadaku seraya berkata, “Bersihkanlah pendengaranmu dari mendengarkan perkataan yang keji, karena yang mendengarkannya itu termasuk bersekutu (berserikat) dengan yang mengucapkannya”.

Inilah ternyata yang menjadi rahasiah mereka para pegiat PKS dalam menyikapi pemberitaan miring media mainstream terhadap PKS. Sehingga PKS Piyungan, PKS TV dan Sosial Media (Sosmed) lainnya tetap eksis.

Ditambah dengan hadirnya sosok Presiden PKS ke-5 saat ini Anis Matta yang menjadi penambah fenomena tersendiri di kalangan pemimpin, kader, simpatisan dan orang yang peduli dengan pemikiran politik PKS dalam mengelola dan membawa bangsa ini kepada kehidupan yang lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera.

Hal ini bisa kita buktikan dalam kutipan pidatonya di bawah ini :

“… Inilah teori kita tentang Indonesia. Dan saya kira dulu, kira-kira 16 tahun, menurut cerita Soekarno sendiri. Sebelum kemerdekaan. Ia mencoba menemukan, semua titik kesepakatan bersama yang bisa menjadi alat pemersatu bagi bangsa Indonesia. Soekarno menyadari bahwa kita ini tumbuh dari ideologi yang sangat berbeda. Dan ada yang menarik dalam sejarah ini. Para pemikir, ideolog-ideolog, terutama tiga ideologi yaitu Islam, sosialisme dan nasionalisme, berguru pada satu orang yang sama. Namanya Cokroaminoto. Dari sini ada murid yang bernama Soekarno, yang nanti mengembangkan ide nasionalisme tetapi dia juga mewarisi ide dasar sosialisme itu. Dari sini juga lahir nanti pemikir Islam yang namanya KH Agus Salim. Tapi dari sini juga nanti tokoh-tokoh merah Indonesia. Ada Muso dan ada Alimin. Lahir dari guru yang sama. Jadi begitu ingin merdeka, Soekarno berfikir bahwa kita membutuhkan alat pemersatu, dan biarlah orang-orang ini dengan ideologinya sendiri-sendiri. Tetapi kita membutuhkan sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan itulah yang kemudian dirumuskan dalam bentuk Pancasila. Di situ (Pancasila) ada Islam, di situ ada pluralisme, disitu ada nasionalisme disitu ada demokrasi berbasis Indonesia, di situ ada sosialisme. Tapi yang menarik adalah kata Soekarno, jika Pancasila ini kita peras, peras dan peras menjadi hanya satu kata, maka satu kata itu adalah artinya gotong-royong.”

PENDIDIKAN POLITIK ALA PKS PIYUNGAN

PKS Piyungan yang dikelola oleh struktur PKS sekelas kecamatan atau DPC di PKS telah menulis sama dan senada dengan kisah Imam Syafi’i di atas dengan rujukan yang lebih kuat dan lebih tinggi yakni diambil dari sumber utama Kitab Suci Al-Quran dan masih dari rangkaian pidato sang Presiden PKS :

“ …… Tahukah antum semuanya apa karunia Allah swt kepada kaum muslimin sebelum perang Badr berlangsung? Tahu karunianya? Dikasih tidur. Jadi malam hari keesokan pagi ketika perang Badr akan berlangsung, malam harinya hujan rintik-rintik turun, hawanya dingin, kaum muslimin dikasih tidur. Tidurnya nyenyak. Mereka tidak memikirkan bahaya yang akan mereka hadapi besok. Seakan-akan yang mereka hadapi besok ini adalah sebuah funny game. Permainan yang lucu. Bukan sebuah dangerous game. Dikasih tidur. Begitu mereka bangun pagi, mereka segar.Orang-orang Quraisy tadi malam pesta pora. Makanya kurang tidur. Waktu mereka bangun pagi-pagi, mereka tidak segar. Nah begitu berhadapan, baru mereka sadar.Ikhwah sekalian, karena itu kita juga percaya bahwa dengan cara menidurkan mereka itu Allah swt menanamkan persepsi kepada kaum muslimin bahwa musuh yang akan kamu lawan ini tidaklah sebesar yang kamu duga…”

PENDIDIKAN POLITIK ALA PKS TV

Meskipun para petinggi PKS belum ada yang mempunyai media massa seperti TV One, Metro TV, dan MNCTV tetapi PKS memiliki PKS TV walaupun jam dan media tayangnya tidak semassif TV di atas.

PENDIDIKAN POLITIK ALA SOSMED : KOMPASIANA

Pendidikan politik ala jejaring blog bersama seperti di Kompasiana menarik menurut saya karena dengan model blog bersama seperti ini kita dapat berinteraksi secara lintas batas, lintas aggota, lintas pemikiran sehingga bagi orang PKS sendiri bisa secara lebih leluasa berekspresi disini, tentunya dengan siap beradu argumentasi yang cerdas sehingga dengan adanya media ini pendidikan politik di Indonesia akan semakin maju, manfaat akan kembali kepada para penulis dan partai-partai yang ada serta kepada perbaikan bangsa dan negara kita sendiri, insya Allah.

Wallahu A’lam, Semoga bermanfaat, Salam Kompasiana dari saya :

Dimyat Aa Dym


*http://politik.kompasiana.com/2013/03/21/pendidikan-politik-ala-pks-piyungan-pks-tv-dan-kompasiana-538952.html


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Derita Hidup Permanen" | Jamil Azzaini


By Jamil Azzaini 

Tak ada manusia yang selalu bahagia. Pasti ada beberapa moment dalam hidupnya merasakan derita, itu sangat manusiawi. Namun, kita tak boleh terjebak dalam derita yang permanen, derita yang berlangsung lama. Apalagi derita itu menyebabkan kita juga menderita di kehidupan setelah dunia.

Menurut pengalaman hidup saya dan juga “curhat” banyak orang kepada saya, ada beberapa sebab yang menyebabkan derita permanen. Pertama, hutang yang berlebihan. Hutang ini konon seperti narkoba, sekali Anda mencoba biasanya menjadi ketagihan. Yang lebih mencelakakan, hutang berbunga besar digunakan untuk menutup hutang berbunga kecil.

Bagi yang bekerja, hutang di perusahaan menjadikan dirinya tertawan. Ketakutan berpendapat, memberikan usulan, masukan atau kritikan lebih sering muncul saat bekerja. Begitu pula saat ada pilihan yang lebih baik di luar perusahaan, iapun tidak berani mengambilnya karena pikirannya tertuju dengan hutang di perusahaan.

Tak perlu Anda terlihat hidup “wah”, mapan dan kaya namun dibangun di atas hutang, itu sangat menyiksa. Jauhi jargon “biar tekor asal kesohor”. Hidup sederhana dan bersahaja tanpa hutang itu jauh lebih tenang dan membahagiakan. Kumpul dengan keluarga tenang. Saat ibadah tenang, menentukan pilihan-pilihan hidup juga tenang.

Kedua, kesalahan memilih pasangan hidup. Memang menyegerakan menikah itu baik, tetapi bukan berarti asal menikah dengan sembarang orang. Selalu pikirkan, “Apakah orang ini kelak bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anakku? Apakah dia bisa mengangkat derajat hidupku di dunia dan menyelamatkanku di akhirat?”

Ilmu menikah dan berumah tangga tidak pernah kita dapatkan dibangku sekolah maka carilah pasangan yang beriman dan memiliki keinginan untuk selalu belajar serta senang bila menerima nasihat. Orang yang sombong dan keras kepala berpotensi besar menjadi sumber masalah di kehidupan berkeluarga.

Bagaimana bagi yang sudah menikah? Belajarlah terus, berguru dengan orang bijak dan berilmu. Sering diskusi di rumah bersama pasangan hidup. Jadikan rumah sebagai tempat berbagi ilmu, cinta dan perhatian. Rumah bukanlah hotel atau restoran yang hanya dijadikan tempat menginap dan makan.

Derita memang selalu ada, namun jangan jadikan derita itu permanen. Hidup ini singkat, rugi bila sebagian besar hidup kita diisi dengan derita…

Salam SuksesMulia!


*http://www.jamilazzaini.com/derita-hidup-permanen/


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

“Salam Cinta dari PKS”


Dalam upaya mewujudkan kecintaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada masyarakat, maka kader-kader PKS Kota Solok, Sumatera Barat, mendatangi rumah-rumah penduduk dalam kegiatan “Salam Cinta dari PKS”. Kegiatan ini dilaksanakan di kelurahan Nan Balimo, Kampung Jawa dan Laing Kota Solok Jumat (29/3). Kegiatan ini senada dengan arahan yang selalu disampaikan oleh Presiden PKS, H.M.Anis Matta, Lc bagaimana PKS bisa menghembuskan tiupan cinta yang membuat bunga itu menjadi mekar. Sebarkan cinta melalui silaturahim. “Dan nafas cintamu, meniup kuncupku jadi bunga.” Begitu Muhammad Iqbal menulis.

Kegiatan ini dilakukan dengan cara langsung mendatangi rumah-rumah penduduk (door to door), memberikan salam cinta, menyapa mereka, berdiskusi dengan mereka dan menerima aspirasi serta masukan mereka terhadap PKS, dan diakhiri dengan memberikan “Hadiah” dari PKS kepada masyarakat. Hadiah berupa bingkisan berupa cenderamata, buku-buku, mushaf qur’an dan lain-lain.

PKS datang menawarkan sebuah persahabatan, sebuah persaudaraan, kepada semua orang, kepada semua warga rakyat Kota Solok. Dan biarlah orang lupa bahwa ia dari ideologi apapun, ideologi kanan, ideologi kiri, dia dari ideologi tengah, itu tidak menjadi penting. Cinta yang membuat kita bersatu, bersahabat, bersaudara. Biarkanlah dia dengan ideologinya, tetapi dia bersama kita.

Salam Cinta dari PKS ini dilaksanakan secara serentak oleh sekitar 100 orang kader PKS yang turun kelapangan. Mereka adalah peserta dari pelatihan LT 3 Besar PKS Kota Solok. Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang positif dari masyarakat. Mereka merasa PKS benar-benar memperhatikan dan Peduli dengan mereka.

Salam 3 Besar

Iqbal Anas
Sekretaris DPD PKS Kota Solok



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Ibroh Kisah SBY dan PD" | by @AryaSandhiyudha




Arya Sandhiyudha AS
@AryaSandhiyudha
Fatih Uni, Turkey


  1. Jangan duga melahap banyak posisi dalam satu tegukan menambah manfaat. Sumbangsih itu soal integritas, kapasitas, & totalitas, bukan status.

  2. Terlalu banyak pelajaran, dari organisasi, partai, majelis ta'lim, dll. yang usia-nya tak lebih dari usia individu/figur berpengaruhnya.

  3. Betapa banyak organisasi yg datang & pergi, begitu saja. Jika ia sandarkan diri pada figuritas, bukan sistem & dream-team.

  4. Ingat komposisi kabinet Soeharto yang terakhir, saat semua orang terdekat-nya, termasuk anaknya sendiri menjadi menteri.

  5. Orde Baru berakhir, justru saat semua orang terdekat Sang Figur yang Melembaga dalam posisi terbaik kenegaraan.

  6. Kisah SBY dan PD mungkin akan dikenang sebagai "pelajaran" (ibroh), tapi bukan "teladan" (uswah). wallahua'lam :)

  7. Partai ideal negarawan, ia yg punya Larangan Rangkap Jabatan. Sadar manusia tidak sempurna, sistem ditata demikian rupa.

  8. Pejabat yang merangkap jabatan, akan berbagi kendali & otoritas dengan istri/suami. Pintu abuse of power.

  9. Dimulai dari: dipimpin Elit yang berfikiran modern & egalitar, nanti lebih mudah Bangkit :)

  10. KITA BANGKIT, jika demokrasi dimenangkan partai modern yg SOLID, dipimpin ELIT amanah & kompeten berdayakan kawula ALIT.

  11. CITRA bisa membawa Partai menang Pemilu, tapi tetaplah jika KAPASITAS institusi ringkih, negara rapuh.

  12. CITRA bisa membawa meraih posisi formal sesaat, namun KAPASITAS gagasan & performa-nya menentukan kualitas sumbangsih.

  13. Kodok di atas kayu yg mengalir bersama sungai. Sang kodok dapat CITRA, tapi Sungai yg ber-KAPASITAS menggerakkannya :)

  14. Itulah sebab banyak Pemimpin formal bergilir tiap period, tapi KAPASITAS yg menentukan daya bekas melintas zaman.

  15. Sebab Sejarah hanya mencatat hal yang "nyata". Yang hadir & sekedar mengisi ruang waktu? tak tercatat.

*https://twitter.com/AryaSandhiyudha


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Depok Menjadi Kota Terbaik di Bidang Pelayanan Publik


DEPOK — Untuk kesekian kalinya, Kota Depok meraih prestasi di bidang tata kota. Kali ini Pemerintah Kota Depok, menerima piagam penghargaan Citra Bhakti Abdi Negara (CBAN) dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Azwar Abubakar. Penghargaan ini di berikan karena Pemerintah Kota Depok masuk ke dalam satu dari 13 Pemerintah Kota dan Kabupaten di Indonesia dengan pelayanan publik baik.

“Pada tahun 2012, Kota Depok menjadi nomor satu se-Jawa Barat, dan kembali bersaing secara nasional. Kini, Kota Depok berhasil mendapat Piagam CBAN dengan predikat B,” kata Nur Mahmudi Ismail, Wali Kota Depok dalam keterangan persnya.

Lebih lanjut Walikota yang murah senyum ini juga memaknai penghargaan sebagai  upaya untuk lebih giat lagi memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Depok.

“Piagam ini sebagai upaya dari Pemerintah Pusat untuk mendorong pemerintah meningkatkan penyelenggaraan pelayanan publik,” tandasnya.

Sebelumnya, Depok juga mendapatkan penghargaan yang sama pada tahun 2012 di tingkat Provinsi Jawa Barat dengan berada di peringkat pertama. Selain kota prestatif, Depok juga dikenal dengan Kota pelopor gerakan kerakyatan dengan gerakan One Day No Rice yang dicetuskan langsung oleh Walikota Depok yang juga merupakan mantan Presiden Partai Keadilan (PK) tersebut.

*foto: Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail saat bersama warga membantu pengaspalan jalan beberapa waktu-lalu

*http://tajuk.co/2013/03/depok-menjadi-kota-terbaik-di-bidang-pelayanan-publik/


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Pengamat: PKS, Satu-satunya Partai Ideal Bernegara Tanpa Rangkap Jabatan

JAKARTA -- Peneliti senior LIPI Indria Samego mengatakan, jika Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat persoalan utamanya adalah mengenai rangkap jabatan. Sebagai partai modern, harusnya Demokrat bisa meniru Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Satu-satunya partai yang sudah memiliki aturan kader pejabat publik tidak boleh menjabat sebagai ketum partai itu PKS," kata Samego di Habibie Center, Jakarta, Sabtu (29/3).

PKS dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) nya telah mengatur tentang aturan rangkap jabatan. Sehingga, saat Nur Mahahmudi Ismail terpilih menjadi wali kota Depok jabatannya sebagai presiden PKS dilepas.

Hal yang sama juga dilakukan Hidayat Nur Wahid waktu menjabat ketua MPR. Dan Tiffatul Sembiring yang terpilih menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo).

Persoalannya, lanjut Samego, di Indonesia belum ada aturan yang melarang pejabat publik untuk rangkap jabatan. Pendekatan yang digunakan baru sebatas legal formal.

Beberapa pejabat negara seperti mantan wakil presiden, Hamzah Haz dan mantan presiden Megawati misalnya. Mereka menjabat sebagai pimpinan negara sekaligus pimpinan partainya masing-masing. "Ke depan harus ada perubahan aturan, yang sifatnya tidak sebatas legal formal," ungkapnya.

Dalam kasus SBY, menurut Samego presiden Indonesia dua periode berturut-turut itu secara de facto sebetulnya merupakan pemimpin Demokrat. Anas Urbaningrum hanya ketum secara yudis formal.

Sehingga, jika memang kongres luar biasa (KLB) menetapkan SBY sebagai ketum bukan hal yang baru. Hanya saja, dari sisi pemerintahan SBY merupakan kepala pemerintahan. Harusnya pada sisa kepemimpinannya, SBY harus meninggalkan warisan bagi rakyat.

Bahwa ia pernah memimpin Indonesia dan memberikan kemajuan berarti bagi negara. Dengan menyanggupi menjabat ketum, SBY dinilai telah masuk pada level politik yang paling praktis.

"Berat bagi SBY jika merangkap jabatan, apalagi di tahun terakhir kepemimpinannya bertepatan menjelang pemilu 2014," ujar Samego.

*http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/03/30/mkgpdt-soal-ketum-demokrat-diminta-meniru-pks


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

[detikcom]: Gebrakan Jokowi Tanpa Perhitungan Matang

Jakarta - 167 hari sudah Joko Widodo memimpin Ibu Kota Jakarta. Meski terkenal dengan ide-ide perbaikan Jakarta, gebrakan mantan Wali Kota Solo itu masih dinilai tanpa perhitungan matang.

"Banyak dari gebrakan baru itu tanpa perhitungan matang seperti Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat yang tidak memperhitungkan beban pelayanan yang harus dihadapi oleh petugas," kata peneliti senior The Jakarta Institute, Ubaidillah saat dihubungi, Sabtu (30/3/2013) malam.

Bukan hanya KJS dan KJP, Ubaidillah menyebut konsep dari gagasan rumah susun dan kampung deret juga belum matang. "Sebaiknya untuk program-program tersebut, Jokowi bikin satu model dulu, kemudian dievaluasi daripada berwacana banyak dan memberi harapan, namun kemudian tidak dijalankan," sambungnya.

Menurutnya banyak wacana yang dilontarkan Jokowi maupun wakilnya Basuki Tjahaja Purnama yang belum ditindaklanjuti seperti MRT maupun peremajaan angkutan umum.

"Namun belum ada tindak lanjut yang signifikan dalam implementasinya dan banyak tarik ulur," sebutnya.

Semestinya, Jokowi juga fokus mengerjakan program yang memiliki beban anggaran tidak terlalu besar dan dapat dikerjakan dalam waktu singkat. "Segera dijalankan misalnnya dalam skala terbatas dulu, kemudian dilakukan evaluasi," kata Ubaidillah. "Yang penting harus berani mengakui kalau ternyata dari hasil evaluasi ada yang kurang," tambahnya.

Bagi Ubaidillah, ada tiga sebutan untuk menilai kinerja kepemimpinan Jokowi. "Panik, implementasi sesaat dan tarik ulur program," ujarnya.

*http://news.detik.com/read/2013/03/31/092943/2207518/10/gebrakan-jokowi-tanpa-perhitungan-matang


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Anis Matta Ucapkan Selamat Pada SBY

Palembang - Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta menyambut baik terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres Luar Biasa yang dilaksanakan di Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu.

"Saya mengucapkan selamat kepada SBY yang terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada KLB di Bali," kata Presiden PKS Anis Matta ketika menghadiri deklarasi pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur Sumatera Selatan Iskandar Hasan-Hafisz Tohir di Palembang, Sabtu malam.

Menurut dia, dengan terpilihnya SBY menjadi Ketua Umum Partai Demokrat pada KLB di Bali itu tentunya akan meramaikan demokrasi.

"Baguslah, saya kira akan meramaikan demokrasi," katanya.

Sebagaimana diketahui Yudhoyono yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat terpilih menjadi Ketua Umum Partai tersebut secara musyawarah dan mufakat.

Sementara mengenai Pilkada Sumsel Anis mengatakan, PKS akan mendukung penuh pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur Sumatera Selatan Iskandar Hasan-Hafisz Tohir yang maju pada pemilihan kepala daerah setempat sehingga bisa menang.

"Saya menegaskan bahwa walaupun yang didukung bukan dari kader PKS, tetapi mereka akan bekerja penuh mendukung pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur itu sama seperti calon dari kader internal partai ini," katanya.

Ia mengatakan, kalau mereka mempunyai keyakinan bisa memenangkan pasangan Iskandar Hasan-Hafisz Tohir, karena ada aura kemenangan.

"Aura kemenangan Pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara, insya Allah ditularkan di Sumsel, karena kemenangan pemilihan kepala daerah itu kemenangan spektakuler di tengah kejadian prahara yang menimpa PKS," tuturnya.

Pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur Iskandar Hasan-Hafisz Tohir maju pada Pilkada Sumsel dengan dukungan PKS, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Bintang Reformasi (PBR).

Pemilihan gubernur Sumsel akan dilaksanakan serentak dengan pilkada empat kabupaten di provinsi itu yakni Banyuasin, Empat Lawang, Lahat, dan Ogan Komering Ilir.

Pilkada Sumsel dilaksanakan pada 6 Juni 2013.(ar)


*antaranews

:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Kisah Sang Penguasa"




Salim A. Fillah
@salimafillah


  1. Ini salah satu kisah tentang Zhu Yuanzhang (1328-1398); pendiri Dinasti Ming yang mengakhiri penjajahan Mongol atas Cina; Kaisar Hongwu.

  2. Beberapa tahun setelah dia bertahta (1368), kekaisaran baru yang dipimpinnya mengalami paceklik; dampak perang mengusir penjajah.

  3. Sang Kaisar prihatin; terlebih dia melihat, dalam kesengsaraan rakyatnya itu, beberapa pejabat & menteri masih bermewah & berfoya.

  4. Maka pada suatu hari; Sang Kaisar menyelenggarakan pesta ulangtahun permaisurinya dengan mengundang semua pejabat & para menteri.

  5. Hadir pula para satrawan, sarjana, & para panglima. Saat masing-masing sudah menghadap meja makan, Sang Kaisar memanggil pelayan.

  6. "Sajikan hidangan pertama!", perintahnya. Para dayang pun menghantarkan piring-piring berisi LOBAK REBUS. Hadirin ternganga.

  7. "Ah", ujar Kaisar tertawa, "Leluhur mengatakan lobak lebih bagus daripada obat. Ada pepatah 'Lobak masuk kota, toko obat tutup!"

  8. "Para pejabat terkasih, setelah kalian memakan lobak ini, rakyat akan berkata: Pejabat masuk kota, masalahpun sirna! Mari makan!"

  9. Sebab Kaisar memberi contoh & lahap sekali makan lobak; para pejabat tak punya pilihan selain ikut bersantap. Lalu hidangan kedua!

  10. Ternyata makanan selanjutnya ialah Jiu Cai (sawi hitam) yang biasa dimakan rakyat fakir. "Sayur hitam; lambang hati yang tulus!"

  11. "Siapa yang memakannya, akan dicintai rakyat! Mari semuanya, kita bersantap!", perintahnya sambil memberi contoh dengan semangat.

  12. "Alangkah jujur & bersihnya lobak, alangkah lembut & harumnya Jiu Cai. Demikianlah kita menjadi pejabat, menikmati kekayaan kerajaan, harus mampu menyelesaikan persoalan rakyat!"

  13. Lalu Kaisar bertepuk aba-aba, datanglah hidangan berikutnya.

  14. Kali ini semangkuk Sup Tahu dengan Bawang. "Tahu & bawang ini bersih & bercahaya, bagaikan matahari & bulan umpama!", sambutnya.

  15. "Ya adalah ya, tidak adalah tidak; dengan keadilan, dinasti kita akan jaya selamanya!", pungkas Kaisar sambil menyesap supnya.

  16. Hadirin mengira, setelah hidangan bersahaja tapi penuh arahan itu usai; akan disajikan jamuan utama yang mewah seperti umumnya.

  17. Tapi lama dinanti, dayang & pelayan tak kunjung muncul. Hadirin mulai tegang & gelisah. Melihat itu Kaisarpun berdiri & bertitah.

  18. "Semua pejabat berlutut & dengarkan titahku! Mulai hari ini, tiap pesta hanya boleh menghidangkan paling banyak 3 sayur & 1 sup!"

  19. Mendengar suara Kaisar yang tegas, tak cuma berlutut, sebagian pejabat bahkan bersujud. "Ulangtahun permaisuri ini jadi contoh!"

  20. "Siapa yang berani melanggar; kepalanya akan dipenggal." Semua hadirin terpaku. Para menteri mematuhi. Para panglima mengiyakan.

  21. Para sarjana & satrawan menulis & menyebarkan titah Kaisar itu ke seluruh penjuru. Gaya hidup sederhanapun merebak di mana-mana.

  22. Rakyatpun jadi tenteram hatinya; mereka lebih giat bekerja. Sejarah mencatat; dalam 2 tahun, paceklik berubah menjadi kemakmuran.

  23. Bermula dari teladan makan sederhana; Kaisar menjadikan pemerintahannya dicinta, & rakyatpun terilham tuk berjuang bagi negara.



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Indonesia Resmi Memiliki “Presiden Part-Time”?

Sabtu, 30 Maret 2013


Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat telah memasuki acara puncaknya yaitu pembahasan mengenai ketua Umum DPP PD. Dari semua peserta yang datang dari ketua DPC dan DPD menyuarakan untuk memilih SBY sebagai ketua umum secara aklamasi. 

Wacana penunjukan SBY sebagai ketua umum PD ini sudah berlangsung beberapa hari jelang KLB. Hari ini (30/3) barulah SBY memberikan jawaban tentang kebersediaannya mengambil jabatan tersebut, tentunya dengan syarat. Disebutkan bahwa SBY menerima jabatan tersebut asalkan ada ketua harian. “Jika SBY bersedia menjadi ketua umum, asal ada ketua hariannya, ini mudah tinggal tunjuk saja,” kata Ramadhan Pohan, dikutip dari republika.co.id. 

Pantauan terakhir, seluruh pemegang suara sepakat untuk menunjuk SBY sebagai ketua umum. Secara resmi jabatan itu diterima SBY setelah bertemu dengan tujuh orang yang terdiri dari ketua sidang KLB, EE Mangindaan dan enam pimpinan sidang lainnya. “Sesuai dengan kesepakatan kami bertujuh kami telah bertemu dengan bapak SBY, beliau tidak mudah memutuskan karena baliau memikirkan tugas kenegaraan. Tetapi ini suasana batin saya sampaikan, belum keputusan, kami mendengar suasana batin beliau, disamping beliau mengemban tugas-tugas amanah rakyat, suasana inilah yang kami lihat, maka beliau menyampaikan bersedia dengan syarat,” kata EE Mangindaan.

Beberapa syarat dimaksud antara lain : Pertama, jabatan ketum yang akan dijalankan benar-benar bersifat sementara. Sifatnya sementara karena ini adalah hanya dalam proses penyelamtan dan konsolidasi partai. Kedua, tugas ketum akan dilaksanakan oleh pengurus harian dibawah ketua harian, dibawah pimpinan ketua harian. Ketiga, karena SBY juga ketua dewan pembina, Ia meminta tugas ketua dewan pembina dilaksanakan oleh ketua harian dewan pembina. Begitu pula, tugas sebagai majelis tinggi diserahkan kepada wakil ketua majelis tinggi. (Sumber republika.co.id)

Tak mau kalah dari Surya Paloh

Terpilihnya SBY sebagai ketua umum PD sebenarnya sudah cukup lama diprediksikan oleh para pengamat. Dimulai dari pengambilalihan kekuasaan Anas Urbaningrum, penetepan Anas urbaningrum sebagai TSK korupsi hambalang oleh KPK. Ini menjadi sinyal kembalinya PD pada pangkuan “keluarga Cikeas” sebagai pendirinya.

Langkah pengambilalihan partai juga sebelumnya telah dilakukan oleh Surya Paloh terhadap partai Nasdem dari ketua umumnya, Patrice Rio Capella. Langkah ini kemudian memiiu konflik internal yang cukup menggemparkan dengan terjadinya pengunduran diri secara massal baik kader, tokoh maupun pengurus partai Nasdem.

Rakyat akan menilai apa yang dilakukan oleh kedua tokoh tersebut di era modern dan di era iklim demokrasi yang sedang bertumbuh kembang di negri ini. Apakah tepat, ataukah akan menjadi tren sistem politik dinasti yang tidak sehat

Fokus itu satu, Bukan Dua, Tiga atau Empat

Terpilihnya SBY sebagai ketua umum PD telah memberi bukti bahwa SBY tidak konsisten dengan apa yang selama ini diwacanakannya. Sudah sangat sering SBY menegur agar para menteri fokus bekerja dan tidak mengurusi parpol, namun pada kenyataannya SBY justru terjun langsung dan menjadi keutua umum parpol dan dalam parpol tersebut sebelumnya  sudah tersemat banyak jabatan yang diatasnamakannya, Ketua Dewan pembina, ketua Majlis Tinggi, dan tak ketinggalan jabatan sekjen dijabat oleh salah satu putranya. Yang menjadi pertanyaan publik saat ini, jabatan presiden RI apakah menjadi pekerjaan utama ataukah sambilan/part time? mari kita amati bersama.




Rahmat El Azzam | Kompasiana

http://politik.kompasiana.com/2013/03/30/indonesia-resmi-memiliki-presiden-part-time-546591.html

:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Jessica, kamu kader PKS juga?"

***

Asyik saya memainkan gadget yang belum sebulan dibelikan oleh ibu, sambil dikerumuni saudara-saudara sebaya yang sedang berkumpul untuk acara arisan keluarga di rumah saya. Nenek adalah orang yang dituakan untuk meneruskan tradisi keluarga ini. Isinya bukan hanya kumpul-kumpul arisan dan makan-makan, tapi ada juga siraman rohani dari ustadz yang biasanya sengaja diundang.

Kali ini yang seharusnya ngisi adalah Pak De yang juga seorang ustadz di kampungnya. Dan gadis-gadis itu, biasanya lebih asyik ngobrol sendiri daripada menyimak ceramah. Saya, mau gak mau harus solider ngikut nimbrung cekikikan. Sementara yang lain, sudah di posisi masing-masing, duduk melingkar sambil nyender, siap menerima santapan ruhani sambil ngemil santapan jasmani.

Tiba-tiba;

“Jess…”

Nenek memanggil saya.

Saya yang sedang asyik di kerumunan gadis-gadis sepupu dan keponakan tidak refleks menengok. Saking asyiknya mainin gadget.

“Uwak Amin mungkin telat, motornya mogok katanya,” nenek melanjutkan pengumuman. Tapi kenapa tadi manggil saya.

“Sudah, kamu buka saja Jess, sekalian kasih kultum.” lanjutnya.

“Hah?” baru sadar kalimat-kalimat itu tertuju ke saya, hampir semua menengok ke arah saya dengan wajah penuh tanya.

“Loh kok saya nek?” protes saya.

Jelas saja saya protes. Kenapa harusa saya? Kan masih ada paman saya, ada adiknya nenek yang juga pemimpin yayasan pendidikan, atau sepupu saya yang lebih senior dan jebolan pesantren, atau bapak saya sekalian. Mereka lebih pantas ngomong di forum ini. Bukan saya.

Saya, baru saja lulus kuliah kedokteran dan belum punya ijin praktek. Kuliah di universitas negeri, sempat dua tahun nerusin ke Eropa. Dan sekarang lagi ikut apprentice di rumah sakit swasta. Ga ada sedikitpun basic syari’ah formal.

Saya, gadis yang umum banget. Diantara gadis-gadis saudara sebaya gak ada istimewanya, selain kerudung yang kelihatan agak berkibar. Pake kerudungpun belum lama, pas kuliah tingkat tiga dulu, ketika mulai aktif ikut kegiatan tarbiyah di kampus.

Hei, apa ini ada hubungannya dengan kerudung saya? Ketika baru kenal tarbiyah, kerudung pertama saya adalah kerudung trendi yang jauh dari level syar’i. Setelah aktif di kegiatan dakwah kampus setahun, kerudung sayapun pelan tapi pasti membesar dan sekarang Insya Allah sesuai yang disyariatkan. Kalau patokan nenek kerudung, itu kerudung tante saya juga besar-besar. Mungkin bukan itu.

Atau karena saya sering ngobrol dan diskusi masalah agama dengan nenek. Biasa saya menyampaikan fakta-fakta medis yang berkaitan dengan agama.

Hmm… atau jangan-jangan ada yang ngelaporin ke nenek, kalau saya aktif di PKS. Tapi siapa? tak pernah saya pakai kaos PKS, atau ngomongin PKS di rumah. Satu-satunya logo PKS ada di stiker do’a bercermin di kamar saya. Asal tahu saja, sejak jaman orde lama keluarga saya penganut setia partai tertentu. Dan belum ada seorangpun yang berani coba-coba melawan tradisi ini. Saya, ngumpet-ngumpet aktif di PKS.

Detik berlalu, saya semakin panik. Dan dengan satu hembusan nafas sambil mengucap Bismillah, saya menggeser duduk, keluar dari kerumunan gadis-gadis. Mata-mata itu masih megikuti saya. Tidak ada yang komen, tidak ada sepatah kata terucap. Ibu masih sibuk dengan box air minum yang sulit dibuka, belum ngeh apa yang sedang terjadi. Bapak saya memanjangkan lehernya melongok kiri kanan seolah mencari Jess lain di sekitarnya.

Kalau urusannya ngisi materi ke adik-adik mahasiswi, itu kerjaan saya tiap minggu. Bahkan di eropa dulu kegiatan ini tak pernah lepas. Tapi ditengah keluarga sendiri? Duh, saya betul-betul minder.

Saya dekati tempat duduk nenek yang masih memegang mic. Berbisik, mendekatkan mulut ke kuping nenek sambil merajuk protes. Dan nenek dengan tanpa beban menyerahkan mic itu.

“Ayo Jess…” senyum nenek penuh arti. Matanya bermain riang. Ada kegembiraan disana. Ada ketenangan yang membuat debar jantung saya mulai terkendali.

Menit pertama gugup. Menit kelima mulai bisa bernafas lega dan bisa mengontrol pitch kalimat-kalimat. Menit kelima belas, sudah berani menatap mata satu persatu sodara-sodara yang datang siang itu. Dalam ingatan saya, sekian puluh pasang mata itu tak ada satupun yang berkedip. Hingga saya sendiri tidak berani berkedip… Ibu dan bapak saya melongo, ada riak basah di bola matanya. Akhirnya, setelah 37,5 menit, materi ukhuwah bisa saya sampaikan lengkap dengan ayat dan hadits penunjang. Pfuuiiihhh…

“Terima kasih Jess…,” itu adalah kalimat penutup dari nenek. Tidak ada kalimat lain. Masih belum percaya, mata-mata itu masih memandang saya.

Bubar acara, saya seperti orang yang berbeda. Gadis-gadis sebaya yang tadi asyik merubungi saya tak ada satupun yang mendekat. Sayapun kikuk sendiri.

“Masuk Jess… masuk banget materinya. Bulan depan bisa ngisi lagi nih.” Kata salah satu paman saya sambil menyodorkan piring kue ke depan saya.

“Apaan sih om…,” kilah saya, dengan muka sedikit memerah.

“Umi sudah lama tahu, kamu itu punya sesuatu,” kata nenek masih dengan senyuman seperti tadi. Kami sekeluarga biasa memanggil dia Umi.

“Aaah umi… Jess malu, gak ada apa-apanya. Masih ada yang lain yang lebih pinter mi,” saya merajuk manja meremas jemari nenek.

“Semua cucu Umi hebat… terutama kamu. Kamu kader PKS juga kan?” lanjut nenek tersenyum sambil merapikan jilbabku.

Terkesiap, mendengar kata PKS dari mulut nenek. Saya memicingkan mata berharap nenek melanjutkan penjelasan.

“Do’akan nenek panjang umur. 2014 nanti nenek pilih partaimu.” lekat nenek menatap mata saya yang riaknya semakin tebal.

Paman saya yang lainnya datang menghampiri.

“Jess, kalau ada acara PKS undang-undang om ya…,” selorohnya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Siap om!!!” menggamit bibir saya berusaha tersenyum, tapi akhirnya riak-riak itu tak sanggup saya bendung, mengalir seiring senyuman kerabat yang memandang takzim. []


~seperti diceritakan oleh Jessica pada @pksqatar~


*http://politik.kompasiana.com/2013/03/29/kamu-kader-pks-juga-541450.html



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Analisa Hukum LHI: Inilah kasus suap pertama yang membuat KPK buntu!



by @dangtuangku

  1. Sebenarnya tak susah untuk tahu janggalnya kasus LHI yg diusut KPK.

  2. Pertama KPK persangkakan LHI terima suap. Pasal 5, 11 dan 12 UU Tipikor.

  3. Bukti yg digadang2kan KPK lewat bocoran ke media adalah ada rekaman sadapan.

  4. Ternyata belakangan rekaman itu tidak ada seperti pengakuan KPK sendiri.

  5. Pertemuan Medan yg disebut2 utk suap kuota impor. Ternyata juga pepesan kosong.

  6. Disana bukan soal suap tapi adu data antara mentan dgn asosiasi importir.

  7. Mentan bilang persediaan daging cukup dan kuota tak perlu naik. Asosiasi minta kuota naik.

  8. Mentan menolak permintaan menaikkan kuota. Fakta data, kuota turun. Mentan benar.

  9. Awalnya KPK menggambarkan lewat bocoran ke media, pertemuan Medan begitu hebat.

  10. Bocoran itu menciptakan interprestasi seakan dihadiri LHI-Mentan dan Indoguna sekaligus.

  11. Fakta yg terungkap ternyata beda. LHI-Mentan-Indoguna tak ketemu bersamaan dlm satu pertemuan.

  12. Inilah kasus suap pertama yg membuat KPK buntu, padahal katanya tangkap tangan.

  13. Penyebab buntunya karena LHI tak tangkap tangan. Uang AF tak pernah sampai ke LHI.

  14. Ini yg kami sebutkan perbedaan penampilan KPK dlm kasus LHI dgn kasus suap lain.

  15. Dalam kasus LHI yg tertangkap tangan AF, makelar yg diasumsikan suruhannya LHI.

  16. Kami dr awal amat yakin KPK tak punya sadapan percakapan LHI-AF soal suap.

  17. Walau KPK lewat media yg digalang johan budi, membuat kesan bahwa rekaman itu ada.

  18. Mengapa kami dari awal tak yakin. Sebab jika memang ada rekaman itu, so KPK pasti tunggu uang suap mengalir dulu ke LHI.

  19. Setelah itu baru tangkap tangan. Dan pembuktian gampang. Tidak perlu ruwet begini. Ada apa sebenarnya dibalik kasus LHI?

  20. Faktanya tidak. AF terpaksa diciduk krn ada tanda2 uang itu memang bukan untuk LHI. Sekali lagi ada apa sebenarnya dibalik kasus LHI?

  21. Kami sudah tuitskan banyak kasus suap yg ditangkap kpk lain.

  22. Gimana KPK bisa tunggu uang sampai ke penyelenggara negara berhari2.

  23. Kasus james gunarjo-tommy hindratmo, suap pegawai pajak dari bhakti investama, misalnya. Uang udah di kurir tiga hari.

  24. KPK sabar menunggu sampai mengalir dari kurir ke tommy. Mengapa? KPK sangat yakin bakal mengalir ke tommy karena ada sadapan.

  25. Sedangkan AF yg diasumsikan KPK sebagai kurir LHI, justru tidak ditunggu KPK sampai AF bawa uang ke LHI. Mengapa?

  26. Mengapa? Karena KPK tak yakin uang bakal sampai ke LHI. Sebab tak ada sadapan sbg penuntun. Sumber kami di kpk jg membenarkan soal ini.

  27. Bingung buktikan LHI terima suap, KPK pake jurus kedua. Jurus klasik polisi dan jaksa. Ingat, KPK kan polisi dan jaksa juga hehehe...

  28. Rusak karakter LHI dgn tsk pencucian uang. Bikin sebanyak2nya pasal tuduhan. Tokh masyarakat juga banyak tak ngerti.

  29. Kami berdiskusi dgn banyak pakar dan penegak hukum senior. Gimana kok bisa LHI menjadi tsk pencucian uang?

  30. Apa pidana pokoknya sehingga dituduh melakukan tindak pidana pencucian uang?

  31. Pidana pokok yg mungkin, ya suap tadi. Lha bukti suap gak ketemu-ketemu, malah pindah sangkaan pencucian uang.

  32. Lihat pasal cucian uang: menerima, bla2...uang yg diduga diketahui hasil tindak pidana.

  33. Konstruksinya, LHI terima uang yg diduga diketahui LHI hasil tindak pidana.

  34. Tindak pidana apa? Ya tindak pidana suap yg tak bisa dibuktikan tadi.

  35. Lho gimana membuktikannya? Apa pakai sulap?

  36. KPK bila ditanya soal ini ngeles nanti dibuktikan di pengadilan. http://Ngeles.com  klasik hehehe.

  37. Kami menduga, penetapan tsk pencucian uang adalah strategi KPK ulur waktu kasus LHI. Istilah lainnya seperti digoreng-goreng lah.

  38. Sambil meluncurkan duluan kasus arya-juard ke penuntutan dan terus ke pengadilan.

  39. Sebab waktu dah mepet. Tsk ditahan dan ada batas waktu kewenangan penyidik menahan.

  40. Jadi perkara juard-arya, pemberi uang ke AF, diadili dulu di pengadilan tipikor.

  41. Goreng2an kasus LHI ala KPK di penyidikan ini akan dijadikan alat tekan berupa opini kepada hakim yg periksa kasus arya-juard.

  42. Agar perkara juard-arya yg diperiksa hakim di pengadilan terpaksa dinyatakan terbukti.

  43. KPK menurut kami tak peduli lamanya arya-juard dihukum, sebulan kek, yg penting terbukti.

  44. Bila arya-juard, terbukti maka LHI otomatis di pengadilan nantinya terpaksa terbukti juga.

  45. Utk bisa memahami tuits kami ini soal strategi KPK. Liatlah kasus anggodo.

  46. Buang dulu prasangka ke anggodo seperti gambaran pers. Anggodo dituduh menyuap. Kita bicara hukum aja.

  47. Mari kita merenung. Siapa yg disuap anggodo sebenarnya? Bibit-Chandra atau Ari Muladi.

  48. Bibit-Chandra tidak. Faktanya. Keduanya tak diadili kok. Ari Muladi. Siapa Ari?

  49. Pejabat negara? Bukan. Swasta. Persis seperti AF, bukan pejabat negara.

  50. Tapi tekanan opini yg digalang johan budi membuat anggodo jadi musuh bersama.

  51. Ada tak ada yg disuapnya, pokoknya harus terbukti suap, karena duit kakaknya dah keluar.

  52. Oh ya, sekedar mengingatkan, duit suap itu milik anggoro, kakak anggodo.

  53. Faktanya hakim menyatakan anggodo terbukti menyuap. Siapa yg disuapnya? Hantu?

  54. Balik ke kasus LHI. Perkara Arya-Juard akan juga dipaksakan terbukti. Kalo tidak gawat.

  55. Kami diskusi dgn para penegak hukum senior. Mereka punya kesimpulan sama.

  56. Banyak yg aneh dlm kasus LHI. Mereka juga bilang LHI dan kasus sprindik AU adalah pertaruhan besar KPK.

  57. Bila LHI tak terbukti nantinya di pengadilan, sprindik terbukti disebar pimpinan KPK yg dah disumpah jaga rahasia, KPK bisa bubar.

  58. Sebab, kata mereka, bila KPK terbukti mengkriminalisasi LHI dan ada motif politik dibalik sprindik, akan muncul arus balik besar ke KPK.

  59. Ini sebabnya KPK akan mati2an membuktikan Arya-Juard. Main kotor bila perlu.

  60. Sekian tuits ini, sambil kita tunggu perkara arya-juard. Moga2 cepat masuk pengadilan.

  61. Agar kita tahu dan menguji dugaan kita dgn lihat kasusnya di pengadilan yg sudah terbuka.

  62. Merdeka. Informasi milik semua.

*https://twitter.com/dangtuangku



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Kader PKS, Too Good to be True?"


by Ummu Alisha
***

Tulisan soal kader PKS di Inggris ‘memicu’ debat, setidaknya oleh dua pembaca Kompasiana.

Yang satu curiga, jangan-jangan cerita soal kerja-kerja kader tersebut fiksi. Hoax. Rekaan. Ia mempertanyakan kerja kader tersebut. Apa benar kader bernama Arif tersebut mau berdakwah ke berbagai kota di Inggris tanpa uang saku?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sebagian ada di kolom komentar artikel yang sama yang diturunkan oleh blog berita PKS, PKS Piyungan. ("Di London, Aku Berubah Setelah Bertemu Kader PKS")

Para pembaca di situs PKS Piyungan menceritakan Arif-Arif lain yang ada di Eropa.

Ada satu benang merah di sini. Bahwa uang, dalam bentuk honor, uang saku, atau apapun namanya, bukan segala-galanya. Juga bukan motivasi Arif ketika melakukan kerja-kerja dakwah.

Saya tahu dan kenal Arif dari dekat. Kadang ia memang terima uang saku, tapi uang saku ini ia kembalikan. Kalau pun tak bisa dikembalikan, ia bisanya infakkan.

Oya, satu lagi. Sebenarnya kerja Arif ini tidak terlalu istimewa. Masih banyak Arif-Arif lain yang bekerja tanpa pamrih di desa-desa terpencil Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Mereka lebih dahsyat. Lebih heroik.

Ada Arif di Jakarta yang ditugaskan untuk kerja dakwah di Sumatera. Ia bisa sampai ke Sumatera beberapa hari kemudian dengan jalan darat, dengan menumpang aneka kendaraan umum.

Ada juga yang berhari-hari naik perahu dengan ombak ganas di antara jajaran pulau-pulau di Maluku Utara untuk menyambangi desa.

Mengapa mereka mau melakukannya?

Sederhana saja. Keinginan untuk membela agama Allah. Juga keinginan untuk melihat pribadi-pribadi yang salih. 

Mengubah orang-orang atau masyarakat tidak gampang. Tapi Arif tahu bahwa mengubah masyarakat bisa dimulai dengan meningkatkan kualitas pribadi. Orang per orang. One person at a time.

Dan melihat pribadi-pribadi yang sudah berubah, yang makin salih, yang makin ber-Islam, menjadi kepuasan tersendiri bagi Arif.

Orang lain boleh mencibir, menaruh curiga, atau tak percaya. Tapi cobalah sedikit membuka mata, telinga, dan terutama mata hati.

Sesungguhnya Arif ada di mana-mana…


*http://politik.kompasiana.com/2013/03/28/kader-pks-too-good-to-be-true-540903.html


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

"Mengapa Anda Tak Bahagia?"


Jamil Azzaini

Ada beragam cara untuk bisa merasakan kebahagiaan. Anda bisa merasa bahagia ketika keinginan dan cita-cita Anda terpenuhi. Anda bahagia ketika Anda sedang berada dalam kondisi sehat dan tidak diberikan sakit oleh Yang Maha Kuasa. Anda bahagia ketika kebutuhan Anda dan keluarga bisa terpenuhi. Anda bahagia ketika pasangan Anda begitu mencintai dan menyayangi Anda. Dan masih banyak lagi hal yang sejatinya bisa membawa kebahagiaan untuk Anda.

Namun demikian, tak jarang kita temui orang-orang yang dilimpahi sekian banyak alasan untuk bisa bahagia, tetapi nyatanya ia tidak bisa merasakan kebahagiaan. Mengapa demikian?

Insan SuksesMulia, ada sebuah kalimat bijak yang patut kita renungkan, “Bukan bahagia yang membuat Anda bersyukur, melainkan bersyukur yang membuat Anda bahagia.”

Dalam hidup ini, pasti ada yang akan Anda miliki, dan ada pula yang cukup Anda lihat sebagai milik orang lain. Ada yang datang, dan ada pula yang pergi. Dalam hidup ini, pasti Anda akan berhasil pada satu dan beberapa hal, tapi boleh jadi Anda gagal dalam satu dan beberapa hal. Dalam hidup ini, Anda akan tertawa dan Anda juga akan menangis. Maka bagaimana Anda memaknai hidup Anda, terkadang itulah yang justru menipu Anda.

Mengapa Anda tak bahagia? Pertama, Anda membanding-bandingkan hidup Anda dengan orang lain sehingga yang muncul adalah “rumput tetangga terlihat lebih hijau” di mata Anda. Ini menyebabkan Anda tidak henti-hentinya ngiler melihat kehidupan orang lain. Walhasil, Anda pun merasa kehidupan Anda saat ini tidak lagi menyenangkan dan membahagiakan.

Kedua, yang membuat Anda tak bahagia adalah karena Anda sering berandai-andai tentang masa lalu. Misalnya, “Jika saya dulu … [baca: titik-titik-titik]”. Beragam pilihan hidup yang telah Anda ambil Anda sesali, hidup Anda pun lebih sering diisi dengan “nostalgia” masa lalu yang jelas-jelas tak mungkin akan kembali. Anda pun menjadi setengah hati menjalani kehidupan Anda saat ini.

Sejatinya setiap orang diberikan takaran waktu yang sama setiap harinya: 24 jam! Itulah waktu yang saya jalani dan waktu yang sama itu pula yang Anda jalani. Semoga di waktu yang terus berjalan dan tidak akan kembali ini, kita bisa melewatinya dengan sibuk mensyukuri segala hal yang kita alami, serta sibuk memperkaya arti kehadiran diri kita di muka bumi.

Insan SuksesMulia, mari kita syukuri apa yang Anda miliki saat ini… Bila tidak, maka bersiaplah untuk menderita…

Salam SuksesMulia!


*)http://www.jamilazzaini.com/mengapa-anda-tak-bahagia/



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android

Andai Rasyid adalah Anak Petinggi PKS

Jumat, 29 Maret 2013


Akhirnya drama pengadilan Rasyid Rajasa berakhir, dengan Vonis  6 bulan masa percobaan. Rasyid pun bebas dan tidak dipenjara.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/03/25/mk7l9o-rasyid-rajasa-bebas

Tulisan ini tidak akan mencoba mengupas aspek hukumnya, namun akan melihat aspek lain dari sisi sosial politik. Sesaat setelah berita kecelakaan yang melibatkan anak seorang menteri, secara bawah sadar masyarakat seolah sudah mafhum bahwa kasus ini akan mendapat keistimewaan dari petugas. Terlebih jika dibandingkan dengan kasus serupa yang melibatkan bukan anak pejabat. Ringannya Vonis Rasyid diyakini tidak akan didapatkan jika yang bersangkutan bukan anak pejabat.

Dari perspektif lain, Rasyid penulis yakini tidak akan bernasib  mujur seperti sekarang jika saja Rasyid adalah putra dari salah satu pejabat yang berasal dari PKS. Kenapa PKS? ada apa dengan PKS? ya karena PKS merupakan satu partai yang empuk untuk dijadikan sasaran tembak lawan - lawan politiknya terutama bagi yang menguasai media mainstream.

Secara kebetulan dalam masa yang sama dengan proses hukum Rasyid Rajasa ada salah satu anak petinggi PKS yang juga terlibat pada masalah hukum yaitu Ridwan Hakim putra keempat dari ketua majelis syuro PKS.  Namun Rasyid dan Ridwan Hakim mendapatkan respon yang sedikit berbeda baik dari aparat maupun pembentukan opini publik dari media.

Yang berbeda dari mereka berdua adalah Rasyid Sudah Tersangka, jelas menjadi pelaku kelalaian berlalulintas yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain namun hingga vonis diputuskan belum pernah sama sekali ditahan sehingga menimbulkan kesan  seolah-olah Rayid layaknya saksi dalam sebuah pengadilan kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan Ridwan, statusnya jelas sebagai saksi dari kasus yang Suap Impor sapi yang secara dtail kasusnya masih misteri. Walaupun hanya saksi Ridwan sudah dianggap seperti tersangka, dikesankan ridwan melarikan diri ke Turki padahal jelas Dia ke Turki sebelum perintah pencekalan ada. Ditambah lagi dengan wacana jemput paksa oleh KPK yang ramai diberitakan oleh media padahal KPK baru mengirim surat panggilan pertama, sehingga makin menguatkan kesan seolah-olah ridwan adalah buronan KPK yang melarikan diri ke luar negeri layaknya Nazarudin dan Istrinya.


( Ridwan Hakim, Saksi tapi seperti Tersangka )


(Rasyid Rajasa, Tersangka tapi seperti saksi)

Nyatanya, Setelah urusan selesai Ridwan pulang dan datang sendiri ke KPK memenuhi panggilan pemeriksanaan. Saat pemeriksaan, lagi-lagi dikesankan seolah-olah ridwan terlibat dan menjadi tersangka.baru menjadi saksi saja Ridwan sudah sedemikian dihinakan oleh media, apalagi jika Ridwan menjadi tersangka maka label-label koruptor tidak hanya disematkan pada Ridwan saja, pasti merembet ke nama baik ayahnya dan tentunya bermuara pada demarketing PKS.

Andai Rasyid Rajasa adalah Ridwan Hakim, maka kasus kecelakaan yang merenggut nyawa manusia tersebut tentu akan sangat mudah digoreng oleh media dan menjadi bola salju yang semakin membesar dengan ending yang tidak manis tentunya. Jauh dari ending vonis bebas dengan mas percobaan 6 bulan. Diakhir penulis ingin menyampaikan bahwa tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskreditkan partai dari ayahnya rasyid, namun lebih melihat pada fenomena yang dialami PKS yang menjadi incaran banyak media untuk demarketisasi. []


Arviantoni Sadri | Kompasiana



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner