"Lha Kiaine Wahe Salah..kok!" | Kolom Musyafa Ahmad Rahim







Musyafa Ahmad Rahim




Lha Kiaine Wahe Salah..kok
(Lho Kiainya Saja Salah ..kok)

Saat seorang ulama’ atau ustadz melakukan suatu kesalahan, meskipun hanya melakukan perbuatan yang khilaful aula (tidak selayaknya/tidak patut), sering sekali masyarakat mensikapinya secara berlebihan, yaitu, tidak mau lagi belajar dan mengambil ilmu dari ulama’ tersebut.

Sikap ini, di satu sisi, bisa menjadi ibrah bagi ulama’ dan ustadz lainnya, agar berhati-hati, namun, di sisi lain, perlu dimunculkan pertanyaan: “Siapa sih yang ma’shum selain nabi Muhammad SAW?”.

Terkait hal ini, menarik juga melakukan perenungan terhadap kisah berikut:

Suatu hari, seorang shalih bernama Salim Al-Khawwash melihat Sufyan bin ‘Uyainah pergi ke pasar. Dalam pandangannya, seorang seperti Sufyan bin ‘Uyainah tidak patut (khilaful aula) baginya untuk memasuki pasar, karenanya, Salim pun mengkritik Sufyan dan mengingatkan bahwa dengan perbuatannya ini, para murid bisa pergi meninggalkan Sufyan.

Melihat hal ini, Sufyan pun menjawab sikap Salim dengan mengutip satu penggalan syi’ir yang berbunyi:

خُذْ بِعِلْمِيْ وِإْنْ قَصَّرْتُ فِيْ عَمَلِيْ ÷ يَنْفَعْكَ عِلْمِيْ وَلَا يَضْرُرْكَ تَقْصِيْرِيْ

Ambil ilmuku meskipun aku lemah dalam beramal
Niscaya ilmuku akan memberi manfaat kepadamu, sementara kelemahanku tidak akan merugikanmu

Ulama’ generasi berikutnya menggubah syi’ir yang dibaca oleh Sufyan dalam logika yang berbeda, namun substansinya tetap sama. Dikatakan:

خُذْ مِنْ عُلُوْمِيْ وَلَا تَنْظُرْ إِلَى عَمَلِيْ ÷ وَاقْصِدْ بِذَلِكَ وَجْهَ الْوَاحِدِ الْبَارِيْ

وَإِنْ مَرَرْتَ بِأَشْجَارٍ لَهَا ثَمَرٌ ÷ فَاجْنِ الثِّمَارَ وَخَلِّ الْعُوْدَ لِلنَّارِ

Ambillah ilmu-ilmuku dan janganlah engkau melihat amalku
Lakukanlah hal itu dengan maksud mencari ridha Allah SWT, Dzat yang Maha Esa dan Maha Pencipta
Dan jika engkau mendapati pohon-pohon yang berbuah
Ambil buahnya, dan tinggalkan batangnya untuk dijadikan kayu bakar

Terkait hal ini, Syekh Mutawalli Sya’rawi berkata:

“Jadi, seorang beriman dituntut menutupi aib orang beriman lainnya, dan menutupi aib seorang alim ulama’ lebih dituntut dan diperkuat lagi, hal ini karena seorang alim ulama itu tidak ma’shum, tidak terbebas dari kesalahan dan keterplesetan, dan jika kesalahan dan keterplesetannya tidak ditutupi, masyarakat tidak mau lagi belajar kepadanya, oleh karena itu, jika engkau melihat kesalahannya, janganlah engkau publikasikan, sebab, penyebarluasan kesalahannya ini membuat masyarakat hilang kepercayaan kepadanya”. (Tafsir Asy-Sya’rawi VII/4187).

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, amin.


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android