NEWS UPDATE :

Kudeta Mesir dan Geopolitik Indonesia

Sabtu, 13 Juli 2013


Oleh: Ribut Lupiyanto
Peminat Studi Geografi Politik, Analis C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)

MUHAMMAD Mursi akhirnya dikudeta militer pada Rabu (3/7), tepat satu tahun menjabat Presiden Mesir. Militer mengklaim bahwa kudeta dilakukan untuk dan atas nama rakyat. Sebelumnya gelombang demonstrasi anti Mursi meningkat tajam, militer pun memberi ultimatum Mursi untuk melakukan rekonsiliasi nasional.

Lepas dari pro-kontra kepuasan atas kepemimpinannya, Mursi adalah presiden pilihan 13,23 juta (51,7 persen) rakyat Mesir. Pemilihan umum ini diyakini semua pihak adalah pemilihan paling demokratis selama setengah abad terakhir. Mursi yang diusung Partai Keadilan dan Pembebasan (FJP) dengan dukungan penuh Ikhwanul Muslimin menjadi harapan bagi masa depan Mesir pascarevolusi.

Rekam Sejarah

Sejarah mencatat Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Di balik pengakuan Mesir tersebut terkuak fakta bahwa pencetus dan pejuangnya adalah Ikhwanul Muslimin (Pribadi, 2013). IM adalah gerakan Islam yang dibentuk Syeikh Hasan Al-Banna pada tahun 1928.  Dr. Richard Mitchell mengungkapkan bahwa IM merupakan gerakan Islam moderat dan modern terbesar di dunia abad ini. Gerakan ini sangat berpengaruh dan mampu menyebar di lebih 70 negara.

IM saat itu sering mengerahkan massa untuk berdemonstrasi dan menghalau kapal-kapal Belanda yang melewati Terusan Suez. Para buruh IM yang bekerja di kapal-kapal Inggris banyak melakukan pemogokan bahkan berhenti bekerja dan mengajukan tuntutan kepada pemerintah Inggris supaya berhenti membantu Belanda. IM juga membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Mesir untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran dan majalah miliknya. Tatkala terjadi pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan banyak koran Indonesia memberitakan, IM mengadakan shalat ghaib berjamaah.

Puncaknya IM mendesak agar pemerintah Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Tepat tanggal 22 Maret 1946 Mesir di bawah Raja Farouk resmi menjadi negara pertama yang menyatakan pengakuan kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Mesir mengirimkan utusan khususnya yang membawa surat pengakuan itu untuk menemui Presiden Soekarno. Mesir selanjutnya menyalurkan bantuan lunak berupa uang kepada pemerintahan Indonesia yang kas-nya masih kosong.

Tidak sampai disitu, IM dengan jaringannya yang tersebar selanjutnya menggalang dukungan-dukungan negara Arab lainnya. Mesir dan negara-negara Arab membentuk Panitia Pembela Indonesia dan mendorong pembahasan isu Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa dan Liga Arab.

Sebelum pengakuan tersebut Indonesia baru merdeka secara de facto belum de jure. Belanda tetap mengklaim Indonesia sebagai wilayah jajahannya.Negara-negara di luar Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mau ikut campur urusan Indonesia karena dianggap sebagai masalah dalam negeri Belanda. Delegasi Indonesia seperti Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Soedjatmoko, dan LN Palar juga tidak boleh masuk ke Sidang Majelis Umum PBB.

Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, menulis bahwa pengakuan kemerdekaan membuat posisi Indonesia setara dengan negara lainnya, termasuk Belanda dalam diplomasi internasional.

Proklamator Bung Hatta sebagaimana dinukil dalam buku tersebut menyatakan, “Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Karena, dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagaimana selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

Sjahrir dan Agus Salim mewakili Indonesia pernah menemui Hasan al-Banna untuk menyampaikan terima kasih kepada IM atas dukungannya kemerdekaannya. Sebagai bangsa berbudaya dan berkarakter sangat pantas Indonesia berterima kasih kepada IM maupun pemerintah Mesir secara umum.

Rekaman di atas menunjukkan bahwa hubungan historis antara IM, Mesir dan Indonesia sangatlah  kuat. Di Mesir bahkan ada Jalan Ahmad Soekarno yang diambil dari nama Presiden Pertama Republik Indonesia.

Peran Geopolitik Indonesia

Manifestasi Geopolitik Indonesia adalah wawasan nusantara.  Wawasan Nusantara dimaknai sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sesuai dengan geografi wilayah Nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasionalnya (Kaelan, 2003). Implementasi dalam kaitannya dengan hubungan internasional adalah politik luar negeri bebas aktif.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar punya tanggung jawab ikut aktif berperan atas masa depan Mesir. Tantangan Mesir sekarang adalah rekonsiliasi dan komitmen membangun demokrasi damai. Kompleksnya permasalahan dalam negeri Mesir ditandai oleh banyaknya faksi yang bermain, seperti IM, Hizbut Tahrir, kelompok sekuler, kelompok liberal, Salafy, sisa antek Mubarak, dan lainnya. Sebagian besar mereka menolak uluran  Amerika dan Uni Eropa dalam menengahi urusannya. Sebaliknya Indonesia relatif diterima karena sudah dianggap saudara kandung mereka. Dinilah kesempatan Indonesia tampil berperan sebagai mediator. Semua pihak harus dirangkul untuk duduk bersama membahas masa depannya.

Indonesia punya pengalaman besar dan banyak berhasil dalam mewujudkan perdamaian konflik. Filosofi Bhineka Tunggal Ika menjadi unggulan yang dapat ditularkan. Beberapa konflik pun berhasil diatasi dengan ujung perdamaian, seperti kasus Gerakan Aceh Merdeka, konflik Maluku, konflik Poso, dan lainnya. Semua ini modal besar yang dapat dijadikan bahan mediasi.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif tetap harus dijunjung. Klaim militer dan oposisi tidak boleh diterima mentah-mentah. Bagaimanapun kudeta tidak bisa diterima nalar demokrasi. Kunci mediasi akan berhasil jika Indonesia menunjukkan netralitas dan objektifitasnya. Semua ini dapat menjadi bagian kecil balas jasa atas peran besar Mesir mengakui dan menggalang dukungan kemerdekaan Indonesia. Aneh dan egois jika pemimpin negeri ini hanya berucap prihatin atas krisis di Mesir. Bukankah Bung Karno selalu  menggaungkan etika JASMERAH ( Jangan sekali-kali melupakan Sejarah)? Semoga Presiden SBY segera sadar dan tanggap mengambil momentum untuk menunjukkan kekuatan geopolitik Indonesia agar disegani dunia internasional. []

*http://islampos.com/kudeta-mesir-dan-geopolitik-indonesia-66866/


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Share on :
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner