NEWS UPDATE :

"Harmonisasi Dakwah"

Minggu, 12 Mei 2013


"Harmonisasi Dakwah"


oleh : Diana Nurhazah

Setiap kita pernah mendengarkan lagu/musik atau senandung apapun, mengapa kita bisa menikmatinya? jawabnya adalah karena ada harmonisasi dalam nada lagu yg dimainkan.

Adakah hubungan antara musik dengan dakwah? Kalau da’wah kita ingin produktif, kita bisa belajar dari ketiga jenis alat musik: piano, gitar,  dan angklung.

Piano, secara bahasa artinya lembut. Artinya dakwah yang kita sampaikan harus dengan cara yang lembut, sehingga nyaman diterima.

Ketika kita memainkan musik maka kita akan dapati yg disebut dengan tanda dinamik. Ada keras, tegas, lembut, perlahan keras, dst

Kalau kita bermain piano atau keyboard, maka kita pasti paham apa yg disebut soft touch. Ada nada-nada tertentu yang cara kita memainkannya berbeda. Ada yang harus ditekan dengan keras, ada juga yang cukup dengan sentuhan lembut. Demikianlah da’wah ini. Tidak bisa selalu lembut dan tidak harus selalu keras.

Bagaimana dengan Gitar?

Gitar adalah salah satu alat musik bernada, yang bisa ‘memuat’ puluhan nada dengan berbagai oktaf. Umumnya, gitar terdiri dari enam senar. Dari yang kecil hingga yg besar. Masing-masing senar memiliki tugas dan fungsi. Senar kecil tidak bisa dijadikan utk nada rendah (bass), karena memang bukan untuk itu ia ada. Pun sebaliknya, masing-masing harus berperan sesuai fungsi dan posisinya. Dan biasanya pemilik gitar men-stemp dulu gitarnya agar nyaman didengar.

Ketika senar paling bawah harus berposisi sebagai nada 'MI' dengan oktaf tinggi, maka ia harus tetap di posisi tsb. Tidak boleh ia naik ke nada yg lebih tinggi lagi, meski ia mampu melakukannya. Sebab jika ia naik ke yang lebih tinggi, maka akan terjadi dis-harmoni. Dan tentunya akan merusak alunan yang dihasilkan.

Ketika senar tsb setia dalam posisinya, maka akan terciptalah harmonisasi. Sehingga akan menghasilkan keindahan dan kenikmatan, baik bagi yang memainkan, maupun yang mendengarkan.

Demikian dengan da’wah ini, masing-masing sudah punya posisi dan peran. Ketika semuanya memainkan peran dengan baik, maka akan terciptalah harmonisasi. Sehingga akan menghasilkan keindahan dan kenikmatan.

Lalu, bagaimana dengan angklung?

Memainkan angklung adalah potret harmonisasi dan amal jama’i yang sempurna. Sebagaimana kita tahu, bahwa angklung hanya ada atau menghasilkan satu nada. Untuk memainkan sebuah lagu, kita tidak bisa hanya memainkan satu angklung saja. Sebab memang tidak ada lagu yg terdiri dari satu nada. Secanggih apapun sebuah angklung, tetap saja ia hanya menghasilkan satu nada saja.

Dalam sebuah ensambel atau kelompok musik angklung, biasanya satu orang hanya bertanggung jawab atas satu nada. Dia harus fokus konsentrasinya.

Begitulah da’wah, saudaraku...

Sehebat apapun kita, maka kita tidak bisa berbuat banyak karena kita hanya bisa memainkan satu nada. Kita juga tidak bisa seenaknya sendiri memainkan nada tersebut, karena bisa merusak tatanan yang ada.

Kita butuh komunitas atau jamaah untuk bisa menciptakan harmonisasi. Karena harmonisasi tidak akan pernah tercipta dengan single fighter. Pastinya, setiap kita berharap agar da’wah ini kan tetap langgeng dan terus berkembang. Tapi kita juga menyadari, bahwa hal tersebut tidak bisa secara tiba-tiba terjadi. Sebab, persoalan-persoalan internal maupun eksternal seringkali menjadi duri dalam da’wah.

Disinilah kematangan tarbawiyah kita diuji, yaitu bagaimana kita menyikapi dengan bijak persoalan yg terjadi, menyelesaikannya tanpa menimbulkan masalah yang baru. Kita harus melakukan apa yg disebut part of solution, bukan part of problem.

Untuk itu, harmonisasi mutlak dibutuhkan.Sebaik apapun sebuah pergerakan, jika diantara unsurnya terdapat friksi-friksi yang ‘liar’, maka pergerakan tersebut bisa menjadi retak.

Kita harus melakukan harmonisasi sebagai upaya mengoptimalkan potensi masing-masing lini da’wah dan mengefektifkan sinergi antar lembaga. Harmonisasi mencakup pembagian atau kerjasama peran, bidang garap, isu, obyek da’wah dan hal-hal lain, sehingga tercegah kondisi tumpang tindih, kesenjangan atau saling memperlemah antar elemen da’wah. Ketika kita sibuk, bukan kuantitas amanah yang mesti dikurangi, tetapi kualitas dirilah yang harus dibenahi.

Demikian prinsip harmonisasi yang mesti ada di setiap diri kita.



:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Share on :
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner