Energi Ketulusan


Rusdy Haryadi

Sebelum membincang jauh tentang tema ketulusan, izinkan penulis memulainya dengan satu nama "Sir Edmund Hillary".

Namanya melegenda seiring kesuksesannya menaklukan keangkuhan mount everest, sebagai gunung tertinggi di planet bumi. Maka tercatalah namanya sebagai manusia pertama yg berhasil menembus keganasan mount everest dengan selaksa  mitos keangkeran yang menyelubunginya, setelah hampir ratusan nyawa melayang di ranah peruntungan ini. Tak kurang seorang Ratu Elizabet II pun yang sejenak saja naik tahta Britania Raya menganugrahinya gelar kebangsawanan, "Sir" kepada Edmund Hillary.

Tapi ada keunikan lain dibalik cerita sukses seorang Edmund Hillary. Kala para kolega yang mengucapkan selamat dan jurnalis yang mengabadikan gambar mengerumuninya sesaat turun dari pendakian, sesosok lelaki duduk tersandar. Dari wajahnya nampak jelas guratan-guratan kelelahan yang sangat. Sesekali menghela nafas dalam-dalam melepaskan rasa hati puas sambil tersenyum menyaksikan ekspresi  selebrasi di depannya. Siapakah dia? Tenzing Norgay. Ya, lelaki Sherpa, sebuah suku yang tinggal di kaki gunung everest di wilayah hukum Tibet,  itulah nama lain dibalik kisah penaklukan Mount Everest itu. Mengapa? Karena dialah pemandu dalam misi pendakian itu. Ia bercerita tatkala selangkah lagi mencapai puncak tertinggi Everest, ia mempersilahkan Edmund Hillery untuk berjalan di depan. Padahal jika saja ia mau, tentu namanya-lah yg tercatat dalam sejarah penaklukan Mount Everest karena  berjalan di depan sebagai pemandu. Mengapa itu tak ia lakukan? "Kebahagiaan bagi saya adalah menghantarkan orang kepuncak Everest dengan selamat. Tidak yang lain". Meski dengan sikapnya itu, tak ada yang "engeh" padanya, apatah lagi kelebat blit kamera mengabadikan gambarnya.

Cerita kontras justru dipertontonkan  orang-orang di negeri ini. Para Dermawan tanpa rasa risih memanggungkan amal-amal kebaikannya sembari tertawa lebar melihat jejalan Dhu'afa bergulat dengan rasa malu dan harga diri yang compang-camping, mengais rasa iba demi selembar uang zakat atau sekerat daging qurban. Di tempat lain, para pejabat negeri ini berkoar tentang keadilan hukum, tentang kesejahteraan bagi rakyat, tentang anti korupsi, tentang "kesederhanaan" hidup, tentang keberpihakkan terhadap orang-orang kecil. Tapi sayang itu hanya berhenti di depan kamera, hanya selubung tipis keshalihan dibalik  coreng-moreng wajah buruk berkelindan kemunafikkan, sepi dari rasa ketulusan.

Andai saja Imam Al-Mawardi  (364-450 H) sudi berbagi cerita pada kita tentang pertarungannya dengan ego diri dan rasa sum'ah (menunjukkan kelebihan diri agar mendapatkan pujian). Ia wafat dipelukan seorang sahabat. Sedetik sebelum ajal menjelang ia berpesan, jika tangannya menggenggam erat tangan sahabatnya itu, pertanda ia sudah mengikhlaskan kitab-kitab karangannya untuk disebar-luaskan. Tetapi jika sebaliknya, maka ia meminta sahabatnya itu membuang buku-buku karangannya ke sungai Dajlah. Dan akhir ceritanya adalah ...... beliau meninggal dalam kondisi tangannya menggenggam erat tangan sahabatnya. Pertanda rasa tulus dan ikhlas telah memenangkan pertarungan,  di pelataran hati Sang Imam. Hingga akhirnya sampailah pada kita buah fikirannya yang berharga semisal Al Ahkam As-Sulthaniyah, Adabud Dunya wa Ad-Din, dll. Rasanya kita menemukan kebenaran ungkapan dari Al-'Abid Al-Haramain Fudhail bin Iyadh; "Tak ada amal yang paling sulit aku lakukan di dunia ini selain ketulusan".

Disini kita perlu berhenti dan merenung sejenak tentang energi ketulusan. Untuk sekedar menenangkan hati dari kegaduhan politik yang memekakan telinga, dari tikungan-tikungan tajam arah pergerakan yang terkadang membuat limbung idealisme dan ketulusan kita dalam kerja-kerja dakwah dan amal-amal siyasah. Sembari terus berkarya untuk negara, berkhidmat pada umat, meski media luput meliput dan kamera alfa mewarta. Hingga akhirnya amal itu sendiri yang  bersaksi di mahkamah ilahi. Nanti...!

Wallahu a'lam bii shawab.


:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA :: 
Klik Download App BB | Klik Download App Android