NEWS UPDATE :

Konsolidasi Personal | Kolom Cahyadi Takariawan

Kamis, 14 Februari 2013

Dalam dinamika dakwah, ada kegiatan yang harus selalu dilaksanakan, yaitu konsolidasi. Di seluruh tahapan dan mihwar, di seluruh fase perjalanan dakwah, konsolidasi sangat diperlukan untuk menjaga gerakan tetap solid dan tidak melemah apalagi terpecah belah. Konsolidasi akan menjamin tetap utuhnya semua potensi dalam dakwah. (Cahyadi Takariawan)

Ada sangat banyak jenis konsolidasi, di antaranya adalah konsolidasi personal, konsolidasi struktural, dan konsolidasi amal. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas satu bagian saja, yaitu konsolidasdi personal yang merupakan aset terbesar, aset terpenting, dan aset termahal dalam gerakan dakwah.

Dalam konteks kekinian, konsolidasi personal sangat diperlukan agar seluruh potenbsi bisa efektif bekerja mencapai tujuan dakwah. Konsolidasi personal meliputi konsolidasi spiritual,  konsolidasi konsepsional, dan konsolidasi moral.

Konsolidasi Spiritual

Konsolidasi spiritual bertujuan untuk semakin mengikatkan anggota gerakan dakwah  dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka harus memiliki orientasi Rabbani dalam setiap aktivitas hidupnya. Pada saat yang sama, diharapkan akan muncul ruh berjama’ah yang  kian kokoh.

Asy Syahid Hasan Al Banna dalam risalah beliau Da’watuna fii Thuru Jadid Bainal Amsi wal Yaum menjelaskan, “Ciri misi kami yang paling spesifik adalah sifat Rabbaniyah dan syumuliyah. Mengenai sifat Rabbaniyah, karena asas yang menjadi pusat seluruh tujuan kami ialah agar umat manusia mengenal Tuhan mereka. Dari limpahan berkah hubungan ini mereka dapat memperoleh keruhanian yang mulia yang akan mengangkat jiwa mereka dari kebekuan dan kekotoran materi kepada tingkat kesucian, keindahan serta kemanusiaan yang mulia. Kami berseru dengan segenap hati kami : Allah tujuan kami”.

Madrasah ruhaniyah yang dibangun Rasul saw menandakan perhatian (tarkiz) beliau terhadap konsolidasi spiritual ini. Diktum asasi yang berlaku dalam dakwah adalah, ketinggian kinerja dakwah sebanding dengan ketinggian spiritualitas pelakunya. Ayat-ayat Makiyah mendukung keabsahan diktum tersebut, bahwa nilai-nilai spiritualitas menjadi pokok bahasan yang berulang-ulang di dalamnya. Ayat-ayat awal Al Muzammil dan Al Mudatsir memberikan penekanan pada pembersihan dan pengokohan spiritualitas. Selain itu, ayat-ayat Makiyah banyak mengulang-ulang kisah surga dan neraka untuk menjadi pengingat dan berita gembira secara ruhaniyah bagi kaum muslimin.

Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam kitab Ruhaniyatud Da’iyah menjelaskan posisi ruhaniyah sebagai berikut, “Kini kita akan menuju terminal dimana anda bisa menghirup nafas keimanan dan menambah bekal ketaqwaan. Di sana jiwa anda akan memantulkan pancaran ruhani. Anda akan menjadi seorang yang shalih, seorang insan yang penuh keikhlasan. Bahkan tatkala anda melanjutkan perjalanan, langkah akan terasa lebih ringan, kata-kata akan berpengaruh, tingkah laku akan menjadi tauladan, penampilan menjadi penuh daya tarik, serta sorotan mata anda akan memancarkan semangat dan optimisme”.

Konsolidasi Konsepsional

Konsolidasi konsepsional bermaksud untuk memperkuat keterikatan dan penguasaan konsepsional setiap personal bagi keperluan dakwah. Pengkayaan pemikiran dan berbagai konsepsi akan terjadi dalam suasana kebersamaan, sehingga syura dan diskusi-diskusi ilmiah lebih hidup dan segar. Gerakan dakwah akan terjaga kesinambungan ide dan konsepsinya dengan langkah ini, serta terjaga dari bahaya penyimpangan tujuan.

Syaikh Musthafa Masyhur dalam Qadhaya Asasiyah ‘ala Thariqid Da’wah menjelaskan perlunya ar ru’yah al wadhihah (pandangan atau konsep yang jelas) dalam konteks gerakan dakwah sebagai berikut, “Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang da’I adalah pandangan yang jelas terhadap jalan dakwah, mengenal pasti petunjuk-petunjuknya serta seluruh yang terkait dengannya. Ini adalah qadhiyah paling penting bagi setiap orang yang berjalan di atas jalan dakwah”.

Lebih lanjut belaiu mengungkapkan, “Mengapa hal itu sangat diperlukan? Sebab ketiadaan pengetahuan yang jelas terhadap karakter perjalanan tidak jarang menyebabkan seseorang menjadi ragu dan sangsi terhadap keselamatan perjalanannya. Bahkan sering menyebabkan seseorang dilanda kegoncangan yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan dan takut meneruskan perjalanan”.

Kelemahan pelaku dakwah dalam memahami dan menguasai konsep-konsep pergerakan akan menyebabkan kelemahan pula dalam mencapai tujuan dakwah. Kebijakan-kebijakan produk pergerakan dakwah tidak akan menghasilkan apapun apabila tidak dikuasai dengan baik oleh setiap pelakunya. Bisa jadi seseorang merasa telah melakukan kegiatan yang sedemikian tinggi ritmenya, akan tetapi sama sekali ternyata tidak mencapai sasaran yang ditetapkan. Allah Ta’ala memberikan penggambaran kondisi orang-orang yang tertipu, dalam ungkapan ayat-Nya:

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Al Kahfi: 103 – 104).

Konsolidasi konsepsional akan menghindarkan pelaku dakwah dari bentuk ketertipuan semacam itu. Dr. Yusuf Al Qardhawi menjelaskan, “Masyarakat Islam diwarnai oleh pemikiran dan pemahaman yang menetukan pandangannya terhadap segala persoalan, peristiwa, tingkah laku seseorang, nilai dan hubungan…. Islam sangat memperhatikannya untuk meluruskan pemahaman pengikutnya, sehingga pandangan dan sikap mereka terhadap permasalahan hidupnya menjadi lurus dan tashawur umum mereka terhadap sesuatu dan nilai tertentu menjadi jelas. Islam tidak membiarkan mereka memandang sesuatu dengan pemikiran yang dangkal, sehingga menyimpang dari orientasi yang benar dan tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu Al Qur’an dan As Sunnah selalu meluruskan pemahaman-pemahaman yang menyimpang, pemikiran-pemikiran keliru yang tersebar di masyarakat” (Lihat: Dr. Yusuf Al Qardhawi, Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan As Sunnah, Citra Islami Press, Solo, 1997).

Konsolidasi Moral

Konsolidasi moral adalah upaya kristalisasi nilai-nilai akhlaq karimah dalam diri setiap pelaku dakwah. Tak bisa dipungkiri, salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasul dan para sahabat justru terletak pada ketinggian akhlaq mereka. Klaim negatif yang berkaitan dengan kepribadian Rasul senantiasa tertolak secara alami, lantaran keluhuran budi pekerti Rasul bukan saja disaksikan dan diakui para sahabat beliau, namun juga musuh-musuh beliau sekalipun.

Kerendahan moralitas adalah kondisi paradoks terhadap tujuan dakwah. Artinya, semakin rendah moralitas pelaku dakwah, semakin jauh pula mereka dari tujuan. Demikian pula berlaku sebaliknya.

Tatkala pasukan Islam di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk setempat menulis surat kepadanya berbunyi, “Saudara-saudara kami kaum muslimin,  kami lebih bersimpati kepada saudara-saudara daripada orang-orang Romawi meskipun mereka seagama dengan kami, karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih terhadap kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil. Pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami”.

Sejarah juga telah mencatat penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Hiraklius serta lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin daripada tekanan dan sikap tidak adil orang-orang Yunani (Lihat: Thomas W. Arnold,  Sejarah Dakwah Islam, Wijaya, Jakarta, 1977).

Kelembutan, kasih sayang terhadap ummat adalah sebagian kecil dari tuntutan moralitas bagi para pelaku dakwah:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…” (Ali Imran : 159).

Sejarah mencatat pula kejayaan dakwah yang amat gemilang, karena faktor moralitas ideal yang ditawarkan Islam. Thomas W. Arnold dalam Preaching of Islam mencatat dokumen berikut :

“Demikianlah keadaan perasaan di Syria selama kampanye tahun 633 hiungga 639, pada waktu bangsa Arab secara berangsur-angsur mengusir pasukan Romawi dari propinsi itu. Dan ketika Damaskus pada tahun 637 memberikan teladan dengan menjalin hubungan dan mengadakan perjanjian dengan bangsa Arab sehingga berhasil mendapatkan kekebalan terjamin dari tindak perampasan harta benda, dan syarat-syarat lain yang menguntungkan, maka kota-kota lain di Syria langsung mengikutinya. Emessa, Arethusa, Heliopolis dan kota-kota lain juga memasuki perjanjian sehingga mereka menjadi daerah-daerah kekuasaan bangsa Arab muslim. Bahkan kepala kota Jerussalem menyerahkan diri dengan syarat-syarat perjanjian yang mirip. Rasa takut akan paksaan agama dari sang Kaisar yang memerintahkan hal-hal bid’ah dalam agama mereka, menjadikan janji Islam akan adanya toleransi lebih menarik bagi mereka daripada berhubungan dengan kekaisaran Romawi”.

Ketika para pelaku dakwah menampilkan akhlaq yang mulia, pasti akan menimbulkan simpati dan rasa suka secara alami dari masyarakat. Sebaliknya, jika dakwah ditampakkan dengan cara-cara yang tidak memenuhi standar akhlaq mulia, justru akan menjauhkan masyarakat dari lingkungan dakwah. Sudah semestinya seluruh personal dalam dakwah selalu berusaha menjaga ketinggian akhlaq, kemuliaan sikap, kelembutan hati, kesantunan komunikasi, sehingga akan memberikan nilai positif yang menyebabkan masyarakat mudah menerima seruan dakwah.

Wallahu a’lam.

*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=3050
________________________________________________________
PKS PIYUNGAN - BLOG BERITA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Share on :
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner