NEWS UPDATE :

Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu...

Minggu, 13 Januari 2013


17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. 

“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”. 

Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.

Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasika­n diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.

Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu. Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.

Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bond­ong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang­ bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.

Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.”

Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.

Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.

Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-kepon­akanmu pun sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”

Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.

Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.

Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.

Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakt­erku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku­. Terimakasih telah memahami diriku.

Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.

Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis­ ta’lim untuk menunjang dakwahmu.

Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.

Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.

Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya.­ Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.

Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.

Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu­ kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.

Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.

Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan­ teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetang­ga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.

Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”

Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau­ kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya sudah pake uang aku aja.”

Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.

Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka selamat.

Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu, ”Cep­at sembuh, anak-ana­k kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angg­uk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.

Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”

Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.

Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.

Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan, "Sahabat-sahabat­nya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.

Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.

Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.

Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu­ di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.

Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya.

Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.

Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu. Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....



Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Yang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,
Abu Muhammad




_____________________
*Cahyadi Takariawan: Kepergian Dua Ummahat Senior Itu Mengejutkanku  

Share on :

70 komentar :

9ethuk mengatakan...

Subhanallah. Sukron Jazakallah Katsiron Postingannya Ustdz.

Anonim mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fuanhaa...wa wasi' madkholahaa...wanshurhaa...wa akrim nuzulahaa....

Ade Safitri mengatakan...

Subhanallah...

Anonim mengatakan...

Ingin seperti beliau ϒɑ̲̮̲̅͡ñԍ ∂ί cintai semua ☺яα̲̅πğ..sedih ß⌣ªª⌣ªªÑgêt ..4ubhanallah sedikit perempuan ϒɑ̲̮̲̅͡ñԍ seperti Ĩ†ΰ pada zaman sekarang

Ariffkmunhas Dullah mengatakan...

aku tak bisa berkata apa2 lagi.... T_T

Ahmad Zia Robbany mengatakan...

Subhanallah, kisah yang mengharu biru...

Ummu Syauqillah mengatakan...

Tak terbendung air mata ini
Semoga semua kebaikannya dan keridhoan suaminya akan menghantarkan belaiu ke JannahNya, dan semoga yang ditinggalkan tabah menghadapinya.

Siti NurjannahFaqoth mengatakan...

Allahu akbar Allahu akbar,,
sungguh trasa kbahagiaan syurgawi ditengah2 kluarga yg bgtu harmonis,,
barakallahu fiikum

@dr_piprim mengatakan...

Izinkan sy utk menangis saat baca ini...

Ardiansyah Al-Ausath mengatakan...

Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya...semoga banyak khadijah khadijah yang lain yang mengikuti jejak militan beliau..أَمِِيْن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Neni Nana Husain mengatakan...

menangis membaca ini.....Subhanallah...sebagai kader dakwah rasanya masih sangat jauh sekali diri ini..semoga Allah menempatkan engkau wahai mujahidah dakwah di surga Allah....amiin

La Ode Tarfin Jaya mengatakan...

Subhanalloh..teladan yang menginspirasi sepanjang zaman

Nurus Syahadah mengatakan...

Berlinang air mata saat membaca tulisan ustadz juga ketika ust.cahyadi menulis syahidnya ukhti robi...Ya Allah jadikan hamba istri yg sholihah...

Femilia Ekarista mengatakan...

Subhanalah, Speechless... Sungguh mmbaca inipun, sy yg tdk mengenalnya sgt terinspirasi..betapa seringnya sy merasa lelah,ketika jamaah memberikan amanah..jzklllh ukhti,bahagialah engkau berkumpul dgn org2 sholeh (ust Rahmat Abdullah,usth yoyoh dll)

@el_rosadi mengatakan...

lebih dahsyat dari habibi-ainun...

Enny Musfiroh Setyarini mengatakan...

Banjir air mata ini membaca kisah almarhumah yang luar biasa,, Yaa اَللّه,, Izinkan hamba menjemput syahidah pula,, Aamiin,,

AnjarUna Sholehah mengatakan...

Subhanallah., smg sang mujahidah telah merasakan nkmtny surga.. sungguh menginspirasi u jd lbh baik lg..

Farida Syamsiah mengatakan...

سُبْحَانَاللّهُ, teladan bagi ummahat lainnya

Imron Sutiono mengatakan...

wa amitha ala syahadati fi sabilik... ya Allah karuniakanlah kematian kami dalam dekapan syahid..

PKS DPC Baguala mengatakan...

Teriring doa kami, smg amal sholihah dan kebaikannya terwariskan pada kita semua. Allahummaghfirlaha...

PKS DPC Baguala mengatakan...

Tak terasa air mata gugur membaca,menghayati perjalananya. Kami yg blm pernah bersua turut merasakan kebaikan-kebaikannya. Ya Allah tempatkanlah ia dikedudukan yg engkau muliakan, jadikan kami generasi-genarisa yg mewarisi dan mengamalkan kebaikannya.

Rina Virdianingsih mengatakan...

Can't stop crying reading this. . . :'(

Nurhayati Gunawan mengatakan...

Subhanallah...!ya robb.. Matikan aku sbg syahidaah.amin yra

Nurkhamidah Suseno mengatakan...

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.... subhannallah, bangga, mngharu biru, bnjir air mata

Rina Fauzia mengatakan...

aduhhhh...tak berhenti air mata ini membacanya sampai habis....izin share ya ustadz

Wulan Mardikaningrum mengatakan...

subhanallah, smg bsa meneladani blio.

Helmi Indra mengatakan...

Tak terbendung Air Mata ketika membacanya....Allahuakbar...!!

Femilia Ekarista mengatakan...

Kaulah sejatinya Bidadari Surga itu...

Suryo Jumajitin mengatakan...

Trophy "syahadah" itu akhirnya dia dapatkan...

Hilal Toxx mengatakan...

Cerita yang sungguh sayang bila terlewatkan. Ini tentang KHADIJAH abad ini...!

Sofi mengatakan...


سُبْحَانَ اللّهُ وَاَلْحَمْدُلِلّهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ. اَللّهُ اَكْبَرُ ..mudahkan kami utk bs meneladani beliau ya Robb

Ummu Shafiyah Binti Huyay mengatakan...

gak sadar sampai menetes air mata bacanya..
masyaAllah..

Shakina Daulika mengatakan...

Subhanallah kisah muslimah aktivis Dakwah yang sangat menginspirasi...

Ayi Martina mengatakan...

Subhanalloh......Allahumaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa' fuanha, Amiiin Yaa Allah

abi jasmin mengatakan...

subhanalloh allahu yarhamk

Anonim mengatakan...

subhanallah... kisah kesekian yg membuatku merasa semakin beruntung menjadi bagian jamaah suci ini. semoga allah makin menyatukan hati2 kita.

anggra mengatakan...

allahu akbar...
masyaallah.tampakx sy jauh dr layak.trimakasih tlah mw berbagi.smoga yng mnulis,berjuang utk mnshare tulisan ini dan yng mmbca meninggal dlm keadaan syahid.aamiin

ina mengatakan...

Aslm. izin copy yah,
tar mau dibaca. spertinya kisah yg super dahsyat.
jzk

iis istiqomah mengatakan...

Smga cerita ini dpt menjadi amal solih utk almarhumah. Kisah ini adalah ilmu yg bermanfaat utk kita

dias bundamutia mengatakan...

Air mata ini tak kunjung berhenti ktka mbaca kisah ini,, Subhanallah,,semoga kta bisa meneladani Almarhumah, dan juga smga Allah berkenan melimpahkan kesabaran & kelapangan untuk Ustadz & anak2 yang ditinggalkan, ini tidak mudah tapi insya Allah kasih sayang Allah yg akan menguatkan..salam ukhuwah dari kami..

Anonim mengatakan...

Subhanallah Bidadari langit yang turun kedunia itu kini telah kembali kelangit lagi.Berbahagialah ibu ibu yang menauladani kehidupan belaiu, saya tidak kenal aja merasa kehilangan apalagi ustads Abu Muhammad, semoga Anda menemukan Bidadari lain untuk meng urus anak anak yang ditinggalkan. Ikut duka yang dalam

merry sabed mengatakan...

Masya Allah...
semoga menjadi syahidah disisi Allah...
Betapa amal2 kebaikannya menjadi penutup akhir kehidupannya
Husnul khotimah
Sepanjang membaca ini terharu dan basah hati ini dengan air mata
Semoga dapat meneladani beliau menjadi istri dan ibu di rumah tangga ini

fitria zulaikha mengatakan...

Semoga Allah menempatkamu di syurgaNya, aamiin...

Lihin mengatakan...

Barakallahu Fiik :)

Anonim mengatakan...

Subhanallah, semoga kehidupannya dpt menginspirasi para kaum hawa, izin share ya ust.

Anonim mengatakan...

Subhanalloh...

Firda mengatakan...

Tauladan untuk smua

Anonim mengatakan...

T_T

novida eny mengatakan...

subhanallah...speechless

Muhammad Abdul Aziz mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fu'anhaa...wa wassi' madkholahaa...

Mohamad Mushaffi mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fuanhaa...wa wasi' madkholahaa...wanshurhaa...wa akrim nuzulahaa....

Anonim mengatakan...

SubhanAllah. Semoga beliau diberikan tempat yg mulia disisi Allah...

laskar pelangi mengatakan...

subhanallahu...smg Allah karuniakan syahid & kumpulkan beliau bersama orang shaleh di jannahNYA, dan smg antum sekeluarga yg ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan iman hingga kelak dapat berkumpul dalam jannahNYA yg abadi

Anonim mengatakan...

:'(

majah alidrus mengatakan...

masya allah jayyid jiddan hatta abkii....amiiin.......................

Anonim mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fuanhaa...wa wasi' madkholahaa...wanshurhaa...wa akrim nuzulahaa....

Anonim mengatakan...

Allahummaghfirlaha warhamha wa afihi wafu anha,semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah,dan dijadikan keteladanan bagi kita semua dan juga semoga diberi kekuatan dan kasabaran untuk yang ditinggalkan

budi mengatakan...

subhanallahu...smg Allah karuniakan syahid & kumpulkan beliau bersama orang shaleh di jannahNYA.. aamiin

simba_sembiring@yahoo.co.id mengatakan...

Subhanallah, sangat menyentuh, sangat inspiratif bagi kita semua. Semoga Almarhumah ditempatkan di sisiNya, diampunkan segala dosa-dosanya. Kepada Ustaz dan anak-anak, bersabarlah, kepergian Ustazah tidak sia-sia, sampai.... kisah inipun sangat bermanfaat bagi umat Islam di dunia ini. Aminn

Nurhayati mengatakan...

Subhanallah...

Anonim mengatakan...

Subhanallah :'(

sofiaty syarnubi mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fuanhaa...wa wasi' madkholahaa...wanshurhaa...wa akrim nuzulahaa....

sofiaty syarnubi mengatakan...

Subhaanallaahu...smg Allah karuniakan syahidah..Aamiin Ya Robbal 'Aalamiin...

siti Khadijah mengatakan...

Allahummaghfirlaha warhamha wa'fu anha....
Subhanalloh sy masih jauh sperti beliau aplgi bunda khadijah T_T tp semoga aku mampu mengikuti jejakmu dan meneladani bunda khadijah yg terkasih..

Andrea Citra mengatakan...

Tetesan air mata ini tak terbendung... Sungguh seorang wanita shalihah.. Ya Allah ... Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu'anha...

Anonim mengatakan...

Semoga Allah memuliakan antum ustadz, dan mengampuni segala kesalahan dan khilaf almarhumah..
Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'afihaa wa' fu'anhaa..

Kodiron mengatakan...

Allahummaghfirlahaa... warhamhaa...wa'aafihaa wa'fuanhaa...wa wasi' madkholahaa...wanshurhaa...wa akrim nuzulahaa....

JIM mengatakan...

ya Allah... air mata benar2 tumpah membacanya, dan beberapa kali hati bergetar, sadar akan dosa-dosa, rasanya jiwa ini belum ada apa-apanya...
semoga beliau mendapatkan tempat di sisi-NYA... Amin..

sungguh beruntung sekali seseorang yg bisa mendapatkan istri se-sholehah itu...
berharap juga bisa mendapat istri semacam itu, tetapi oleh karenanya, terlebih dahulu harus memperbaiki diri dulu..

@yashfkua13 mengatakan...

SUBHANALLAH.. kisah hidup beliau hingga akhir syahid khusnul khotimah telah mengispirasi saya untuk menjadi lebih baik.. Barokallah, semoga saya bisa bertetangga dengan Almarhumah di Surga Kelak.. Aamiin..

Nur Majdi Azraqi mengatakan...

سبحان الله
اللهم اغفر لها و ارحمها و عافها و اعف عنها
اللهم لا تحرمنا أجرها و لا تفتنا بعدها و اغفر لنا و لها
أمين

Poskan Komentar

 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN