NEWS UPDATE :

Ibu-ibu PWK Dusun Munggang: Semangat Belajar Al Qur'an di Hari Tua

Senin, 31 Oktober 2011

Ahad, 30 Oktober 2011 ini adalah ahad kesekian kalinya ibu-ibu ta'lim PWK (Pos Wanita Keadilan) dusun Munggang Sitimulyo Piyungan belajar membaca Al Qur'an. Selama bulan ramadhan kemarin libur total karena ada acara takjilan di masjid setiap sore. Seminggu setelah hari raya idul fitri - saya selaku penanggungjawab baru saja pulang dari mudik - para peserta sudah minta aktifitas dua pekanan sekali ini dimulai. Ahad kemarin adalah pertemuan ke-4 pasca idul fitri.

Taklim ibu-ibu binaan Bidang Kewanitaan PKS Piyungan yang sudah berjalan lebih dari 4 tahun ini berjumlah 20 orang. Pesertanya stabil, tidak nambah tidak berkurang. Sudah diupayakan mengajak yang lainnya, tapi belum ada perubahan. Tingkat kehadiran hampir selalu 100% dan selalu on time. Apabila ada yang terpaksa berhalangan hadir, pasti mereka menyampaikan ijin sebelumnya.

Bertempat di rumah bu Sulastri, tepat pukul 16 acara dimulai. Salah satu perubahan yang positif adalah, pemandu acara alias MC dilakukan secara bergantian. Namanya juga latihan, masih banyak lucu-lucunya. Bahkan Bu Minten yang usianya diatas 50 tahun, dua minggu sebelumnya sudah minta dibuatkan teks dan berlatih tiap hari dengan anaknya. Subhanalloh, luar biasa bertanggungjawab akan amanah yang akan diembannya, dengan melakukan persiapan sebaik-sebaiknya.

Setelah tadarusan selesai, hidangan dari tuan rumah disajikan. Sambil menikmati snack dan teh anget, saya menyampaikan materi tentang "Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah" dengan sumber www.pkspiyungan.blogspot.com :)

Melihat logo partai pada layar bagian atas, seorang ibu disamping saya bilang : "PKS pinter yaa bu. Masuk internet"

Saya hanya menjawab "Alhamdulillaah budhe..." Lha, kalau dijawab panjang malah membuat si ibu bingung.

Menjelang adzan Maghrib, acara hari ini pun usai. Insyaallooh, dua pekan lagi bertemu di majelis yang sama di rumah bu Giyarti dengan MC bu Lastri.***

*)Reporter: Hida Nur Hidayah

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Bukan Hanya Amerika, Kitapun Sering Menerapkan Standar Ganda

Oleh: Cahyadi Takariawan*
Kisah berikut ini hanya anekdot, dan sudah sering ditulis di berbagai web atau milis. Namun sungguh sangat menggelitik untuk dijadikan bahan renungan. Mohon maaf bagi para ibu, jangan tersinggung oleh kisah rekaan ini. Sekali lagi, ini hanya kisah rekaan saja, so, jangan terlalu serius menanggapinya.

Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring di dapur, sementara ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring pecah, sebentar kemudian sunyi senyap. Tidak terdengar suara lagi.

Si putra memandang ayahnya dan berkata, “Pasti ibu yang memecahkan piring itu.”

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Ayah.

“Karena tak terdengar suara dia memarahi orang lain,” sahut anaknya.

Maaf beribu maaf. Ini bukan soal gender, bukan soal ibu atau ayah yang mencuci piring. Namun kisah ini tentang ketidakadilan kita dalam melihat sebuah peristiwa.

Penerapan Standar Ganda

Kita terbiasa menggunakan standar yang berbeda dalam menilai perbuatan orang lain dan perbuatan diri sendiri. Seringkali kita menyalahkan orang lain atas sebuah perbuatan yang dilakukan, tetapi ketika giliran kita sendiri yang melakukan perbuatan serupa, ternyata kita menjadi sangat pemaaf. Inilah yang disebut sebagai standar ganda.

Suatu saat si ibu dalam kisah di atas memarahi anak lelaki atau anak perempuannya, karena memecahkan piring. Ibu mengomel tidak habis-habisnya, hanya karena perkara piring pecah. Namun saat dirinya memecahkan piring, ia tidak mengomeli dirinya sendiri seperti ia mengomeli anak-anak yang memecahkan piring.

Orang Jawa menyebut hal itu sebagai “wit gedhang uwohe pakel, omonge gampang nglakoni angel”. Betapa mudah kita menyalahkan orang lain, atau memandang negatif perbuatan orang lain, atau memberikan penilaian jelek kepada orang lain atas perbuatan tertentu yang telah dilakukan orang tersebut. Namun kita cenderung memperlakukan diri sendiri dengan sepenuh toleransi, saat kita ternyata melakukan perbuatan yang sama. Kita maafkan diri kita sendiri untuk kesalahan yang bahkan lebih besar.

Ini juga berlaku dalam konteks kelompok, apakah ormas atau parpol atau bahkan “kelompok dalam kelompok”. Sering kita kritik dan kita persoalkan perilaku kelompok lain karena kesalahan kecil yang mereka lakukan, namun cenderung diam dan tidak mempersoalkan kesalahan sama yang dilakukan kelompok kita. Bahkan apabila kelompok kita melakukan kesalahan yang lebih besar lagi, mudah sekali kita memaafkan dan tidak mempersoalkan.

Dalam perspektif hubungan internasional, standar ganda ini sering dilakukan oleh negara-negara adidaya terhadap negara-negara yang dianggap lemah. Siapa yang dikatakan sebagai teroris dalam konflik antara Israel dengan Palestina ? Siapa yang dikatakan teroris dalam invasi Amerika di Iraq ? Siapa yang sesungguhnya teroris saat Amerika melakukan invasi ke Afghanistan ? Itu adalah contoh penerapan standar ganda.

Dalam perspektif organisasi atau perusahaan, seorang pemimpin mudah terjebak ke dalam standar ganda. Sebuah tindakan ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh anak buah, bisa berbuntut pemberian sanksi dan bahkan pemecatan. Namun apabila pemimpin yang melakukan ketidakdisplinan serupa, lebih mudah untuk dimaafkan. “Terserah saya mau apa, ini kan perusahaan saya”, begitu jawaban sang pemimpin saat ditanya mengapa ia melakukan ketidakdisiplinan.

Dalam konteks kenegaraan, para pemimpin mudah menuntut perilaku tertib, jujur, disiplin, kerja keras, penuh dedikasi, semangat mengabdi, dan seterusnya, kepada para bawahan. Mereka yang menjadi bawahan harus melaksanakan semua tuntutan tersebut, karena jika tidak, akan mudah terkena peringatan, sanksi ataupun mendapatkan apresiasi negatif dari pemimpin. Namun giliran para pemimpin yang berperilaku tidak tertib, tidak jujur, tidak disiplin dan seterusnya, tidak mendapatkan perlakuan apapun.

Pemimpin yang Kehilangan Eksistensi

Akhirnya, para pemimpin yang suka menerapkan standar ganda, akan mudah kehilangan simpati dan kepercayaan dari anak buah atau masyarakat. Saat pemimpin menegur anak buah yang terlambat masuk kerja, anak buah ini demikian ketakutan. Berkali-kali ia meminta maaf agar tidak dihukum atau dipecat. Namun dalam hatinya tidak ada rasa hormat sama sekali kepada sang pemimpin.

Karena ia tahu, bahwa orang yang paling sering terlambat masuk kerja di perusahaan adalah sang pemimpin itu sendiri. Bagaimana ia bisa hormat dan respek kepada pemimpin jika selalu menerapkan standar ganda ? Mudah marah dan menegur bawahan atas pelanggaran yang dilakukan, namun saat ia melakukan pelanggaran yang sama, tidak mendapat teguran apapun.

Apakah pemimpin memang tidak pernah bersalah walaupun jelas-jelas ia melakukan kesalahan ? Apakah semua pemimpin selalu benar, walaupun nyata-nyata ia melakukan tindakan yang tidak bisa dibenarkan berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku ? Mengapa hanya anak buah atau bawahan atau masyarakat yang salah dan disalahkan ?

Pemimpin seperti ini telah kehilangan eksistensi kepemimpinan. Ia tidak sedang memimpin, namun sedang berkuasa dan menguasai. Wajar jika anak buah atau masyarakat tidak bisa memberikan respon simpati kepadanya. Anak buah hanya tampak takut di permukaan, hanya menampilkan sikap hormat yang kamuflase saat bertemu pemimpin. Namun tidak ada ketulusan penghormatan dalam hati sama sekali.

Maafkan Ibumu Saat Ia Memecahkan Piring

Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring di dapur, sementara ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring pecah, sebentar kemudian sunyi senyap. Tidak terdengar suara lagi.

Si Ayah memandang putranya dan berkata, “Sekarang kita tidak tahu siapa yang memecahkan piring itu.”

“Benar, kita tidak tahu”, jawab sang putra.

Ya, maafkan saja ibumu jika ia memecahkan piring, karena ia memecahkan piring itu tidak sengaja. Namun mintalah ibumu untuk tidak memarahimu saat secara tidak sengaja engkau melakukan hal yang sama.

Turuti perintah ayah yang melarangmu merokok, namun beritahukan kepada ayahmu agar ia juga berhenti merokok.

*)http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/31/bukan-hanya-amerika-kitapun-sering-menerapkan-standar-ganda/

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Tatsqif Pekanan PKS Piyungan: "Keteladanan Nabi Ibrahim AS"

Di awal bulan Dzulhijah tahun 1432 H ini, tepatnya, Ahad, 30 Oktober 2011, Bidang Kaderisasi DPC PKS Piyungan mengadakan Tarbiyah Tsaqofiyah (Tatsqif) yang bertema “Menggali keteladanan keluarga Nabi Ibrahim as”.

Bertempat di Masjid Al-Ikhlash jl.Yogya-Wonosari km.10 Sampakan, waktu menunjukkan pukul 05.45 WIB, nampak berdatangan para remaja, pasutri dengan jundi jundiyah mereka . Acara ini memang punya arti tersendiri bagi para kader PKS Piyungan, selain pematerinya adalah ust Abdulloh Sunono yang merupakan salah satu figur di DPW PKS Yogyakarta, juga karena tema tatsqif hari ini memang sangat penting dan menarik, bukan hanya bagi kader yang sudah membina bahtera rumah tangga, namun juga bagi para kader yang belum menikah, tentu tujuan adalah mampu mengambil keteladanan pada keluarga nabi Ibrahim untuk diterapkan di keluarga masing-masing.

Diawali dengan lantunan ayat Al Quran oleh ust Nono abdussalaam dan dilanjutkan dengan acara inti yang disampaikan oleh ust Abdullah Sunono. Dilanjutkan dengan pengantar, meski tiap tahun umat muslim merayakan hari raya Idul Adha, namun tentunya tak ada bosan dan habisnya mengkaji tentang kisah Kholilulloh, Nabiyulloh Ibrahim as. Begitupun dengan kita sebagai manusia biasa bahwa kealpaan dalam menjalani hidup ini adalah keniscayaan dan dengan semangat mengkaji keteladanan yang baik serta upaya untuk menjadikannya dalam kenyataan adalah keniscayaan juga untuk kehidupan yang lebih baik. Semangat untuk terus mengkaji inilah yang harus ada pada tiap kader dakwah, agar kebaikan selalu dominan dan bisa mengalahkan ketidakbenaran.

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. 60:4).

Ayat inilah yang menjadi titik tolak pada tatsqif pekan ini, Uswah Hasanah pada figur Ibrahim as pun juga orang-orang yang bersama beliau (ismail dll). Tidak hanya sebatas sosok seorang hamba, Keteladanan ini beliau tunjukan bagi umat setelahnya, namun juga sosok ayah bagi putranya, sosok suami bagi pasangannya, sosok kepala rumah tangganya dll.

Terlebih di masa saat ini, tak sedikit keluarga yang ada hanya karena tujuan dunia semata. Tak heran jika sering terjadi keretakan hubungan dalam bahtera keluarga, bukan hanya dengan pasangan namun juga dengan anak keturunan, na’udzubillah. Keluarga yang ideal (baik) bukanlah keluarga yang TANPA MASALAH, namun keluarga yang baik justru yang ada masalah. Letak perbedaannya adalah pada penyelesaian masalah. Rumah tangga yang baik, dengan dinamika permasalahan yang di rumah tangga, menjadikan rumah tangga semakin kokoh, harmonis dan tentunya sakinah, mawadah, rohmah dan barokah.

Hal ini sudah dicontohkan oleh keluarga nabi Ibrahim as, ketika nabi Ibrahim as bermimpi perihal perintah ALLOH untuk menyembelih putranya, ismail, beliau tidak lantas melaksanakan perintah tersebut segera, namun sebagai seorang ayah, suami dan kepala rumah tangga, beliau mengajak putranya, ismail, untuk membahas perihal mimpi tersebut.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Q.S. Ash-Shafaat :102).

Inilah karakter ayah dan kepala keluarga yang sholeh, selalu mengedepankan musyawarah untuk membahas persoalan kelauarga agar tercapai ketentraman.

Meski materi tentang kisah mulia dari keluarga nabi Ibrahim as belum bisa tuntas tersampai dalam tatsqif pekan ini, namun bagi kami, kader dakwah di Piyungan, sudah cukup untuk menjadikan titik tolak kami agar selalu meneladani keluarga nabiIbrahim as. Wallahu A’lam Bis Shawab.

*)reporter : dhanie

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Suatu Hari Bersama Nabi


Kultwit #Nabi
Salim A. Fillah
Dewan Syariah PKS Kota Jogja
Pembina Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokariyan Jogja


  1. Suatu malam menjelang kedatangan pasukan Ahzab ke Madinah, demikian Sa’d ibn Abi Waqqash berkisah, keadaan demikian mencekam. #Nabi
  2. Sungguh tepat apa yang digambarkan Allah; tak tetap lagi penglihatan kami & hati serasa naik menyesak ke kerongkongan. (QS 33: 10)
  3. Malam itu aku terbangun dan ingat akan RasuluLlah. Atas keinginan sendiri, aku beranjak, lalu berjaga di dekat kediaman beliau.
  4. Saat aku di sana, RasuluLlah bersabda dengan suara agak dikeraskan. “Adakah lelaki Shalih yang malam ini sudi menjaga kami?”
  5. Maka aku segera menjawab, “Labbaika Yaa RasulaLlah! Di sini Sa’d ibn Abi Waqqash berjaga untukmu!"
  6. "Sesungguhnya yang paling kusukai dari sabda beliau adalah kata-kata 'Lelaki Shalih', semoga itu menjadi doa bagi diriku."
  7. Beliau keluar menemuiku dengan senyum tulusnya. Setelah memberikan arahan & memesankan nasehat, beliau masuk kembali.
  8. Di larut itu, tiba-tiba kudengar bunyi keras menderu-deru dari ujung kota. Bergegas kunaiki kudaku dan kutuju arah asal suara.
  9. Aku memacu kudaku. Sampai di satu tempat gelap, dari arah berlawanan muncul bayangan penunggang kuda. Kusiapkan busur & panahku.
  10. Ketika mendekat, aku terkesiap. Ternyata dia RasuluLlah! Aku bertanya, “Dari mana engkau ya #Nabi? Sungguh aku khawatir atas deru tadi!”
  11. “Aku khawatir, pasukan musuh dalam jumlah besar datang untuk menyerang Madinah. Mohon pulanglah, dan izinkan aku memeriksanya.”
  12. RasuluLlah tersenyum padaku & bersabda, “Tenangkan dirimu hai Sa’d. Aku telah memeriksanya. Dan itu hanya suara angin gurun.”
  13. Aku terperangah, takjub & malu. Aku, si peronda, telah didahului oleh Sang Nabi yang kujaga dalam memeriksa kemungkinan bahaya.
  14. Kisah Sa’d ini menjadi pembelajaran indah. Bahwa Sang #Nabi meminta dijaga bukan karena manja atau suka dilayani pengikutnya.
  15. Kesiagaan & kegesitan beliau bahkan lebih tinggi daripada Sa’d yang meronda. Permintaan dijaga itu ternyata pendidikan maknanya.
  16. Sungguh menakjubkan; pemimpin ini adalah pembawa kedamaian, tak cuma dalam kata. Tapi dengan tindakan yang didasari ketulusan.
  17. Dan; kasih sayang agung yang membuat seluruh hidupnya terabdi tuk melayani, tak menghalangi beliau dalam mendidik sahabatnya.

*)https://twitter.com/#!/salimafillah


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Revolusi Arab Bisa Pudarkan Hegemoni AS

Sabtu, 29 Oktober 2011


Oleh: Musthafa Abd Rahman*

TEWASNYA mantan penguasa Libya, Moammar Khadafy, Kamis (20/10), memperpanjang daftar pemimpin Arab yang tersingkir akibat gelombang revolusi, atau sering disebut pula Musim Semi Arab (Arab Spring).

Ini dimulai dari revolusi Tunisia yang memaksa Presiden Zein Abidine Ben Ali lari tunggang langgang ke Arab Saudi pada Januari lalu. Kejadian serupa menimpa Presiden Mesir Hosni Mubarak yang dipaksa lengser pada Februari lalu dan kini dalam proses pengadilan di Kairo.

Salah satu isu yang kini terus menjadi sorotan, bahkan menjadi polemik, adalah tentang peran asing, khususnya AS, di balik revolusi Arab itu. Tentu tidak bisa dimungkiri dukungan kuat AS dan Barat terhadap revolusi Arab.

Presiden AS Barack Obama, misalnya, secara tegas meminta Presiden Hosni Mubarak mundur saat revolusi Mesir pada Februari. Obama kini juga meminta Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur.

Andil AS dalam penumbangan rezim Khadafy di Libya tak kalah besar. AS tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk operasi militer bagi perlindungan warga sipil di Libya. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir ini, AS mengerahkan pesawat tanpa awak, Predator, untuk memburu pasukan loyalis Khadafy.

Dukungan AS dan Barat terhadap revolusi Arab itu bukan tanpa pamrih. AS dan Barat yang selama ini dikenal pendukung kuat rezim-rezim diktator Arab tiba-tiba berubah arah. AS dan Barat tampaknya segera menyadari, percuma mempertahankan kapal yang sudah mau tenggelam.

Mereka pun segera membonceng gerakan revolusi rakyat, yang dimulai dari Tunisia, diikuti Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah. Tujuannya adalah agar AS dan Barat tidak kehilangan pengaruh di kawasan strategis itu (Timur Tengah).

Akan tetapi, banyak analisis di Timur Tengah menyebutkan, perubahan sikap AS dan Barat itu sangat spekulatif. Belum tentu pemain-pemain baru Timur Tengah yang lahir dari hasil pemilu demokratis nanti bersedia menjalin hubungan istimewa dengan Barat, khususnya AS.

Pasalnya, sistem pengambilan keputusan Pemerintah Arab baru mendatang akan berubah total. Opini publik akan menjadi barometer dalam pengambilan keputusan. Adapun opini publik di dunia Arab justru cenderung melihat negatif peran AS selama ini. Arab tidak simpati kepada AS lewat isu Palestina, dan prahara terorisme yang dianggap berlebihan sejak peristiwa serangan 11 September 2001 di AS.

Karena itu, mulai muncul analisis tentang kemungkinan mundurnya peran AS dan Barat di dunia Arab pascarevolusi. AS tampaknya sudah mengantisipasi tentang risiko kemerosotan pengaruhnya di kawasan strategis itu.

AS pun kini melakukan pertarungan dengan melobi kekuatan-kekuatan internal di Tunisia, Mesir, dan Libya agar mereka bersedia menjadi bumper bagi kepentingan AS di negara- negara tersebut.

Dekati media besar

Di Mesir, AS mendekati media massa berpengaruh, seperti beberapa televisi satelit dan media cetak milik pengusaha yang dekat dengan AS, serta sejumlah politisi pro-Barat. Bahkan, AS juga melakukan kontak intensif dengan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslimin) yang diperkirakan akan menjadi salah satu pemain utama di pentas politik Mesir mendatang.

Untuk Libya, Pemerintah AS segera mencairkan pula aset- aset Libya di AS yang sebelumnya dibekukan, yakni sebanyak 1,5 miliar dollar AS. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam kunjungannya ke Tripoli, Selasa (18/10), juga berjanji akan menggelontorkan bantuan 40 juta dollar AS untuk mendukung program keamanan di Libya.

Di Suriah, AS memilih berada di belakang Turki untuk mendukung gerakan revolusi rakyat melawan rezim Presiden Bashar al-Assad. AS berada di balik manuver-manuver oposisi Suriah yang sebagian besar bertitik tolak dari Turki. Pembentukan Dewan Transisi Nasional Suriah, misalnya, dideklarasikan di Istanbul, Turki, pada akhir September. Deklarasi ini juga mendapatkan dukungan penuh dari AS.

Meski demikian, manuver- manuver AS itu tetap belum menjamin terlindunginya kepentingan AS di Timur Tengah, seperti terjadi pada era kepemimpinan para rezim diktator.

AS dituntut harus mengubah kebijakan makro di Timur Tengah, terutama menyangkut isu Palestina, jika kepentingannya di kawasan itu tetap terpelihara. Kemarahan opini Arab terhadap AS sudah luar biasa. Ini adalah akibat dukungan tanpa batas AS terhadap Israel sejak negara Israel berdiri pada tahun 1948 hingga saat ini.

Keunggulan militer Israel secara mutlak hingga bisa memenangi semua perang melawan Arab hanya terjadi lantaran dukungan tanpa batas AS kepada Israel itu. AS kini lagi-lagi berusaha dengan segala cara untuk menghentikan program nuklir Iran agar Israel tetap memegang hegemoni dalam persenjataan nuklir di Timur Tengah.

AS dan Barat, bahkan Israel, harus sadar bahwa perubahan besar telah terjadi di Timur Tengah saat ini. Kasus serangan massa Mesir terhadap kantor Kedubes Israel di Kairo pada pertengahan September menunjukkan adanya perubahan besar di Mesir saat ini.

Pernyataan Perdana Menteri (PM) Mesir Essam Sharaf kepada televisi Turki dan Mesir pada pertengahan September lalu tentang perjanjian damai Camp David juga merupakan peringatan terhadap Israel.

Sharaf saat itu menegaskan, perjanjian damai Camp David pada tahun 1979 antara Mesir dan Israel bukan hal yang sakral. Perjanjian itu masih bisa didiskusikan kembali dan diamandemen untuk kepentingan perdamaian.

Bisa dibayangkan, PM Sharaf hanya seorang PM yang ditunjuk dewan agung militer yang berkuasa di Mesir. Namun, dia berani mengeluarkan pernyataan seperti itu. Jika pemerintah baru kelak terpilih secara demokratis, tentu pemimpin akan lebih berani melakukan apa saja, termasuk membekukan perjanjian damai Camp David, jika hal itu menjadi tuntutan rakyat Mesir.

Kasus hubungan Turki-Israel adalah contoh lain. PM Turki Recep Tayyip Erdogan berani menurunkan tingkat hubungan Israel-Turki hingga tingkat paling rendah, yakni tingkat sekretaris II. Turki melakukan ini setelah Israel menolak meminta maaf atas kasus penyerangan kapal Mavi Marmara bulan Mei tahun lalu.

Pemerintahan di negara-negara Arab mendatang yang lahir dari revolusi rakyat pasti akan berani mengambil keputusan besar terhadap AS ataupun Israel. Keberanian akan memuncak jika AS ataupun Israel tidak mengubah kebijakan klasik yang cenderung keras dan suka mendikte.

Oleh sebab itu, tak ada pilihan bagi AS, kecuali harus mengubah kebijakan makro di Timur Tengah, khususnya yang menyangkut isu Palestina, jika tak ingin kehilangan segalanya di Timur Tengah pasca-revolusi.

Tercapainya transaksi Gilad Shalit pekan lalu antara Israel dan Hamas merupakan percikan kecil yang positif akibat perubahan sikap Israel ke arah yang lebih lunak. Transaksi tersebut adalah menukarkan serdadu Israel, Gilad Shalit, yang disekap Hamas sejak tahun 2006 dengan 1.027 tahanan Palestina. Tercapainya transaksi tersebut tentu tak lepas dari adanya perubahan situasi di kawasan akibat revolusi Arab.

Tuntutan berikutnya adalah kesediaan Israel untuk bersikap atau menjadi lebih lunak dalam perundingan damai dengan Palestina. Perundingan ini perlu untuk membuka jalan bagi berdirinya negara Palestina di atas tanah tahun 1967 dengan ibu kota Jerusalem Timur.

Dalam hal ini, AS bisa berperan dengan menekan Israel demi terwujudnya negara Palestina tersebut. Dengan demikian, AS berharap kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah tetap terjaga pascarevolusi.***

*)KOMPAS.com


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Pemerintah Tetapkan Idul Adha 6 November, Semua Ormas Sepakat

Jumat, 28 Oktober 2011

JAKARTA - Pemerintah secara resmi menetapkan perayaan hari raya Idul Adha jatuh pada 6 November. Penetapan ini tanpa ada perbedaan dari organisasi Islam.

"Dari hasil sidang itsbat penetapan awal Zulhijah hari ini yang dihadiri oleh perwakilan ormas maka ditetapkan I Zulhijah jatuh pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2011 sehingga Idul Adha jatuh pada hari Ahad 6 November 2011," kata Sekjen Kementerian Agama, Bahrul Hayat di Jakarta, Jumat (28/11).

Berdasarkan data hisab yang dihimpun Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama dari berbagai sumber, Bahrul mengungkapkan, ijtima menjelang awal Zulhijah 1432 H jatuh pada Kamis (27/10). Keputusan rukyat hilal ini telah dilihat oleh dua orang perwakilan dari Jawa Timur.

"Mereka telah melihat hilal dan masing-masing telah disumpah oleh hakim pada pengadilan agama setempat," ujar sekjen.

Sementara itu pada sidang istbat ini muncul pula keinginan dari sejumlah ormas agar pemerintah bisa lebih tegas menjalankan fatwa MUI. Fatwa tersebut berkaitan dengan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal yang sebaiknya dilakukan pemerintah.

Terkait dengan adanya desakan tersebut, Bahrul mengaku fatwa MUI itu bukanlah hukum positif yang bisa digunakan untuk meminta sejumlah ormas tidak melakukan pengumumannya sebelum sidang itsbat dari pemerintah.

"Tetapi fatwa MUI yang notabene sebagai representasi umat Islam, sebaiknya bisa dipahami oleh ormas-ormas. Dan kita hanya bisa mengimbau agar ormas bisa menahan diri," pintanya.

Sementara itu dalam sidang itsbat 1 Zulhijah ini tidak semua perwakilan ormas hadir. Dari data absensi, terlihat perwakilan dari Muhammadiyah tidak hadir. Sedangkan ormas yang hadir dalam sidang itu di antaranya PB NU, MUI, Persis, PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Dewan Dakwah Islam Indonesia, dan Al Washliyah.

*)http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/10/28/ltrrjl-pemerintah-tetapkan-idul-adha-6-november

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Buku Harian Dakwah Bernama “PKS PIYUNGAN”

Oleh: Abdul Wahid Surhim

Kalau sehari tidak nengok PKS PIYUNGAN, rasanya rindu. Setiap mau klik, langsung muncul rasa penasaran, “Ada info baru apalagi ya?!” Biasanya mata langsung terpusatkan pada judul paling atas. Biasanya terpuaskan. Karena hampir selalu ada yang baru. Bukan hanya baru, tapi klop dengan apa yang ingin dicari! Ah, mungkin bagi yang kurang akrab dengan PKS PIYUNGAN ini dianggap lebay. Tapi bagi yang setia…. Memang begitu!

Diam-diam saya jadi merasakan bahwa PKS PIYUNGAN itu menjadi semacam diary (bukuharian) bagi perjalanan dakwah di seantero dunia. Kenapa begitu? Dari dusun, kampung, desa, sampai ke Palestina pun ada di sini. Saya jadi ada ide, “Gimana ya kalau RIBUAN tulisan itu dipilih-pilih lalu dirapikan, sehingga bisa jadi buku harian dakwah yang dicetak dan bisa dinikmati oleh yang lain?” Tapi kadang kala ada kekhawatiran, “Mungkin biarkan aja seperti apa adanya di dunia maya, biar nilai ikhlas sang admin dan konco-konconya lebih terjaga. Bisa jadi, dibukukan malah jadi ge-er (bahasa arabnya, ghurur, terpesona dan terpedaya).” Tapi kekhawatiran ini bisa disiasati dengan niat menyebarkan kebaikan lebih luas.

Sebentar, tadi saya menyebut bahwa tulisan-tulisan yang ada di PKS PIYUNGAN itu jumlahnya ribuan. Bener segitu banyaknya? Ga terasa. Coba perhatikan tabel di bawahini (sampai 28 Oktober 2011 Jam 14.30).


Subhanallah. Ada 2.270 (dua ribu dua ratus tujuh puluh) tulisan! Tidak mudah untuk membuat tulisan sebanyak itu. Tentu ada yang copas, tapi banyak sekali yang memang tulisan asli produk admin dkk serta kontributor lainnya.

Semoga buku harian dakwah ini bisa menjaga umat dari tipu daya syaitan dan menggelorakan semangat dakwah di jagatraya. Teruslah menjaga PKS PIYUNGAN agar tetap menjadi yang terbaik.

Wallahua’lambishshawab

Bogor, 28 Oktober 2011


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Skripsi Tak Halangi Akhwat PKS Bina Ibu-ibu Dusun

Catatan Admin: Ditengah kesibukan skripsi, ukhti Novi Srimulyani tetap menjalankan amanah dakwahnya sebagai PJ/pembina PWK (Pos Wanita Keadilan) dusun Duren Kaligatuk Piyungan. Dusun yang terletak di perbukitan Piyungan bagian selatan. Jalanannya terjal berliku. Setelah skripsi selesai, akhwat Pertanian UGM ini baru bisa membuat LPJ/liputan kegiatan PWK dusun Duren selama periode Juli-Oktober 2011. Berikut penuturannya yang semalam di-email ke redaksi blog PKS Piyungan.
----

Flash Back PWK Duren: Juli-Oktober 2011

RIHLAH SERU DI PANTAI KWARU…..

Bermula dari kemunculan Bu Fajar yang saat itu sebagai pemateri di pengajian ibu-ibu PWK Duren, yang selesai memberikan materi, ternyata ummahat yang super enerjik ini mampu menghipnotis ibu2 sehingga terlibat dalam diskusi dan sharing program PWK bagi ibu2. “Ibu-ibu kegiatannya tidak harus melulu materi/pengajian di dalam ruangan. Sesekali bolehlah diadakan acara refreshing ke manaaa gitu!”.

Beliau kemudian menceritakan suksesnya salah satu kegiatan PWK di dusun yang beliau bina, dusun mBanyakan, yang diadakan di luar yaitu: piknik ke pantai Kwaru!. Dengan gayanya yang heboh beliau menuturkan serunya kegiatan tersebut. Tak ayal lagi bahwa hal itu membuat ibu2 Duren pun kepincut. Akhirnya diputuskanlah untuk diadakan kegiatan serupa.

Tapi,…o-ow, niat hanya memberikan masukan saja, ternyata bu Fajar didaulat langsung oleh ibu2 Duren yang dikomandani oleh ibu Pur agar sekaligus menjadi EO alias panitianya. Ukhti Novi, yang saat itu membersamai bu Fajar hanya bias cengar-cengir. Jika ibu2 yang meminta, sepertinya bu Fajar susah berkelit. Akhirnya beliaupun mengiyakan.
***


Ahad, 24 Juli 2011

Hari yang sangat dinantikan setidaknya oleh ibu2 PWK Duren. Pagi cerah menjelang pukul 07.00 wib. Ibu-ibu yang beberapa membawa anggota keluarganya, anak-anak, telah bersiap menunggu jemputan di pinggir jalan dekat gardu Duren. Subhanalloh, tradisi yang luar biasa: tepat waktu, yang membuat tim EO menjadi rada malu. Ada miskom antara kru EO, ukhti Ketut dan Ukhti Novi dengan bu Fajar, sehingga tak segera naik ke Duren, malah saling menunggu di bawah. Tapi semua itu terbayarkan sudah dengan segera tibanya kendaraan yang hendak mengantar. Truk!. Meski harus berdesak2an (ibu2 dan anak2,muhrim, jadi aman2 saja), tapi tak jadi masalah. Matahari yang mulai sedikit menyengat seolah dikibas oleh sejuknya angin sepanjang perjalanan.

Beberapa kilometer sebelum memasuki kawasan pantai Kwaru, rombongan ibu2 Duren berpapasan dengan rombongan lain yang menggunakan kereta kelici yang jika dibandingkan dengan truk, tentu lebih prestisius. Masa sih? Meski sempat ditertawakan, ibu2 PWK Duren tetap hepi. Tak perlu dirisaukan karena indahnya panorama Kwaru sudah menyambut di depan mata.

Benar saja. Belum selesai panitia mengkondisikan acara, beberapa peserta, terutama anak2, telah mulai berhambur seolah tak sabar hendak memeluk pantai. Ibu2 yang sudah sepuh pun tak ketinggalan. Beberapa peserta lain yang nampaknya belum sempat sarapan membuka perbekalannya. Tak lupa mereka menawarkan dan membagikan kepada peserta lainnya. Benar-benar terasa keluarga sendiri. Semoga sampai akhirat nanti

Puas dengan keasyikan masing-masing, panitia mulai mengkondisikan peserta. Game2 seru yang semula dirancang memang tidak sepenuhnya terlaknsana. Tapi bukan berarti hal itu mengurangi serunya acara. Hanya satu game saja saja yang dimainkan, balon naga, yang tiap kelompoknya berjumlah 4 orang, sudah membuat hari itu kian seru, bahkan sangat mungkin membuat pengunjung lain merasa iri.

Tiap kelompok yang bertanding berusaha untuk menusuk balon lawannya, berusaha menang, bahkan ibu-ibu sekalipun tak mau mengalah terhadap anak2nya, yang sekaligus menjadi lawannya. Berjatuhan ke pasir, berbasah-basahan, tak lagi mereka indahkan. Bagaimanapun, mereka berupaya agar kubu mereka menang!

Belum lagi ide ‘nyleneh’ dari sang komandan Ibu2 Duren, bu Pur, yang menceburkan satu per satu peserta ke pantai. Entah sarapan berapa puluh piring nasi ibu ini hingga memiliki energy yang luar biasa untuk mengangkat dan menarik ‘korban’ tercebur kuyup di pantai. Bahkan kru EO pun tak luput dari sasaran. Teriakan dan minta tolong tak membuat beliau berbelas kasihan. Benar-benar tiada ampun!.

Tapi, ternyata diam-diam peserta yang telah menjadi korban keganasannya akhirnya bersepakat untuk gantian menceburkan sang komandan ke pantai. Hmm!!!
Dengan bobot badannya yang lumayan wow, tidak mudah memang untuk membuat beliau terangkat dan sampai ke pantai. Tapi berkat kegigihan peserta tadi, jadilah akhirnya beliau terlalap juga oleh air pantai. Nampak senyum puas dan penuh kemenangan dari para ‘korban’.

Matahari semakin meninggi hingga tibalah azan dzuhur. Meski agak berat untuk beranjak meninggalkan pantai, namun para peserta tetap lebih mengindahkan seruan Alloh. Tak mungkin berlama-lama di situ sementara waktu salat telah tiba.

Setelah menyempatkan sebentar untuk ber-pose ria (poto2), satu per satu peserta menaiki truk yang sudah setia menunggu. Meski begitu, tak lantas truk berangkat. Peserta belum lengkap. Ke mana kah? O-ow….ternyata dimana-mana ibu2 sama saja: suka belanja!. “Tadi ada yang masih milih-milih ikan, Mbak!” kata seorang peserta dari dalam truk.Hhh…

PWK Duren 07 Agustus 2011:
Hidup Sehat Dan Bersemangat, Puasapun Nikmat!




Siang itu kegiatan PWK Duren terasa berbeda. Pasalnya, mereka kedatangan seorang narasumber yang lain dari biasanya yaitu seorang dokter muda yang cantik lagi ramah. Dokter Miranti Dewi dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII).

Dengan ditemani oleh sang adik, Ilham, dan PJ PWK Duren, Ukhti Novi, dokter yang pandai berbahasa jawa itu dengan lihai menjelaskan tips-tips bagaimana agar tetap bersemangat selama berpuasa. “Santapan sahur harus menyajikan cadangan kalori dan protein yang cukup. Dengan begitu, rasa lapar tidak akan cepat dirasakan oleh tubuh nantinya. Apa saja makanan yang mengandung protein dan lemak, diantaranya adalah nasi, telur, rendang, daging, ikan, sayuran dan sebagainya!”

Meskipun di luar nampak sangat panas, dan peserta dalam kondisi berpuasa, namun tak lantas membuat peserta yang didominasi oleh ibu-Ibu itu mengantuk. Sebaliknya antusias dan penuh keingintahuan yang nampak dari wajah-wajah mereka. Hal itu terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dokter Dewi selaku mereka bias jawab dengan penuh semangat. “Jadi Ibu-ibu, ketika sahur hendaknya makan buah dan saur yang banyak atau sedikit?”. Dengan kompak Ibu-ibu pun menjawab,”Banyaaaak!”

Meski acara sudah ditutup namun bukan berarti dokter alumni FK UGM itu lantas dapat meninggalkan lokasi. Selesai melafazkan hamdalah, satu per satu mereka menkonsultasikan berbagai permasalahan kesehatannya meskipun sama sekali tidak berkaitan dengan tema. Dari borok di kepala, kaki pecah-pecah, sampai sulit mendapatkan keturunan. Meskipun dokterDewi sudah diburu waktu karena ada jadwal mengisi acara di salah satu masjid, beliau tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sabar.

Subhanalloh…..Ternyata, betapa dibutuhkannya sosok seorang dokter seperi beliau. Sampai-sampai kehadiran beliau yang sekali itu dimanfaatkan benar oleh ibu-ibu untuk berkonsultasi atas permasalahan yang selama ini barangkali dialaminya dan belum mendapatkan jawaban apalagi penanganan. Semoga segera akan lahir dewi-dewi yang lain yang siap untuk mengabdikan diri untuk masyarakat dan tentu, untuk agama ini. Allohu akbar!

11 September 2011:
Jangan sia-siakan subuh kita….



Setelah bulan sebelumnya yang diisi materi kontemporer, PWK bulan September ini kembali diisi dengan siraman rohani (istilah Bu Pur untuk menyebut ‘pengajian’). Bu Lela yang menjadi narasumber pada agenda PWK tersebut banyak menuturkan keistimewaan-keistimewaan waktu subuh dibandingkan waktu-waktu yang lain.

Meskipun harus membawa serta seorang putrinya yang masih balita, Dina, beliau tetap khusyuk menyampaikan materi. Ukhti Novi yang menemani beliau beralih profesi sementara menjaga si kecil Dina agar tak sampai membuyarkan kekhusyukan sang Bunda yang tengah mengisi acara.

Usai acara, setelah sempat menghabiskan beberapa buah bakwan, Bu Lela beserta Ukhti Novi langsung pamit mengingat ada agenda berikutnya yang menanti: ngajar TPA. Meskipun demikian, ketiganya berusaha untuk menyempatkan diri menjenguk Ummu Yumna, salah seorang kader setempat, yang baru saja melahirkan anak ke-duanya.

Subhanalloh, siang yang hampir mengkerontangkan jiwa seolah sirna oleh lantunan ayat suci Al Quran ang terdengar dari kediaman beliau dan seolah menyambut kedatangan Bu Lela dan Ukhti Novi. Pantas saja meskipun tengah musim kemarau, rumahnya tetap sejuk. Mau rumah nan sejuk juga? Yuk kita hias dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an.:). TIAP HARI!!!

Ahad, 16 Oktober 2011
Kehangatan mereka hilangkan lelah ini...


Tak ada teman bukan berarti meniadakan niat dan semangat. Begitulah prinsip yang dipegang oleh Ukhti Novi yang juga PJ PWK Duren yang saat itu sekaligus menjadi pembicara. Kehadirannya yang seorang diri karena akhwat lain yang biasa menemani tengah disibukkan dengan agenda lain yang tidak kalah penting, disambut hangat oleh ibu-ibu PWK Duren. Subhanalloh…..jika sudah begitu, akhwat yang periang ini sudah tak bisa lagi merasakan apa itu lelah, takut, dan semisalnya. Yang ada hanya dipenuhi pikiran agar bagaimana sambutan yang hangat itu dapat dibalasnya dengan kehadirannya yang optimal.

Karena baru bisa datang pada pukul 13.30, maka materi yang disampaikan oleh Ukhti Novi sekaligus menjadi acara terakhir sebelum penutupan. Setelah dipersilakan untuk istirahat beberapa menit dan menikmati sajian the manis+hangat serta beberapa gigit bakwan, akhwat yang berasal dari Bintaran Wetan itu mulai membawakan materi yang diperolehnya dari mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan oleh SALIMAH DIY. Dahsyatnya kerusakan otak akibat pornografi adalah tema yang beliau angkat dan sampaikan untuk Ibu-ibu.

Beliau memulai dengan membeberkan panjang lebar fakta-fakta yang belakangan terjadi akibat pornografi. Meskipun sudah sering mendengar, para peserta tetap berusaha antusias dan tidak melewatkan satupun kata dari pembicara.

Pada kesempatan itu pembicara tak henti-hentinya mengingatkan Ibu-Ibu untuk senantiasa menjaga anak-anaknya dari tontonan dan bacaan yang tidak menyehatkan. “Anak-anak kita punya potensi untuk menjadi orang besar. Menjadi pejabat, presiden, menteri, dokter, ulama, guru, dan sebagainya. Namun semua itu hanya akan menjadi impian belaka jika mereka telah menjadi korban pornografi!”

Ditambahkan oleh pembicara bahwa pornografi menyebabkan seseorang menjadi orang yang tidak dewasa dan berpikir matang karena otak depan yang seharusnya bekerja untuk mengatur hal tersebut mengecil dan rusak. Oleh karena itu tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban pornografi bahkan telah menjadi pecandu pada akhirnya memiliki masa depan yang memprihatinkan.

“Korban dari penyalahgunaan narkoba bisa dipulihkan. Tapi tidak degan korban ponografi. Narkoba merusak tiga bagian otak sedangkan pornografi merusak lima bagian otak. Lebih membahayakan!” tambah Ukhti Novi. Hal itu membuat Ibu-ibu terperanjat dan semakin antusian mengikuti materi yang disampaikan.

Acara yang berakhir menjelang asar itu ditutup dengan lafaz hamdalah setelah sebelumnya diadakan sesi Tanya jawab. Ibu Tutik yang bertindak sebagai MC pada acara tersebut kembali mengingatkan agar para orang tua benar-benar mejaga putra-putrinya. ***


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Kamis, 27 Oktober 2011



Bulan Dzulhijjah, bulan ke-12 bulan penutup kalender hijriyah sudah di depan mata (insya Allah mulai besok Jumat 27/10). Berikut kami sampaikan keutamaan dan tuntunan amal di bulan dzulhijjah.



Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR al-Bukhari)

Dari Jabir bin Abdullah Rosulullah bersabda: “Hari yang paling utama di dunia adalah hari sepuluh Dzulhijjah”. (Shohihul Jami’)

Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.

Amal sholih yang dianjurkan:

1. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah. Kecuali Hari ke-10 (Idul Adha).

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun." [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Puasa Arafah, adalah puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ.

Dari Abi Qotadah ra, Rosulullah saw bersabda: "Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya". (HR. Muslim no. 196, Tirmizdi no.749 dan Ibnu Majah no 1756)

2. Memperbanyak membaca Tahlil, Takbir dan Tahmid

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد

"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".(HR. Ahmad)

Imam Bukhari menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka.

Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzulhijjah

اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian"

Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

Allah berfirman:

وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al-Baqarah: 185).

3. Berkurban

Berkurban adalah ibadah kepada Allah dengan menyembelih seekor kambing atau sepertujuh onta atau sapi pada hari Idul Adha dan tiga hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah menurut jumhur ulama. Ibadah kurban bukan kewajiban sekali seumur hidup, tetapi sunnah yang dianjurkan setiap tahun jika dirinya mampu, bahkan Rasulullah saw ketika di Madinah beliau selalu berkurban setiap tahunnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَال : ضحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا ( متفق عليه

Dari Anas ra berkata: “Nabi saw berkurban dengan dua kambing yang mulus dan bertanduk yang disembelihnya dengan tangannya sendiri ambil mengucapkan takbir, beliau meletakkan kakinya di leher kambingnya. (Muttafaq Alaihi)

4. Sholat Idul Adha

Dianjurkan untuk menghadiri sholat Idul Adha dan mendengarkan khutbah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Di antara para ulama yang membenarkan pendapat bahwa sholat Ied adalah wajib kecuali adanya uzur yang menyebabkan tidak bisa menghadiri sholat ied seperti hujan adalah Imam Ibnu Taimiyah berdasarkan firman Allah: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2)

Kaum wanita yang sedang mendapatkan haidh dan berhalangan dianjurkan juga untuk menghadiri sholat ied untuk mendengarkan khutbah. Di anatara hikmah disyariatkannya hari ied karean hari itu adalah hari kebaikan dan kesyukuran. Wallahu a’alam bisshowab.

5. Banyak beramal shalih, berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma’ruf-nahi munkar dan lain sebagainya.

Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

*)dari berbagai sumber

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Ghanusi Persembahkan Kemenangan Pemilu Tunisia Untuk Palestina

PM Palestina Ismail Haneya melakukan komunikasi via telephone dengan Syeikh Rashid Ghanusi, Ketua Partai An-Nahdhah Tunisia, dan menyampaikan selamat atas nama rakyat dan pemerintah Palestina atas kemenangan bagi revolusi Tunisia dan peralihannya kepada demokrasi, perubahan ini semoga bisa bermanfaat bagi persoalan Palestina.

PM Palestina memaparkan harapannya kepada Tunisia semoga cepat meraih kemakmuran, kemajuan dan stabilitas seperti yang diamanatkan pemilu yang menginginkan kebebasan bagi rakyat Tunisia.

Dilain pihak, Ghanusi mempersembahkan kemenangan ini untuk Palestina, Al-Quds, Gaza dan rakyat Palestina. Ia menganggap bahwa perjuangan kepahlawanan Gaza mempunyai dampak positif bagi umat di setiap tempat.

Ghanusi menyebutkan bahwa ada dua hari raya, pertama pembebasan tawanan dari penjara Israel dan respon Israel terhadap kehendak rakyat Palestina. Apa yang terjadi di kawasan menggetarkan hati Israel dan menuntutnya tunduk kepada kehendak rakyat Palestina dan bangsa Arab untuk membebaskan tawanan, sementara hari raya kedua adalah kemenangan pemilu demokratis di Tunisia.



* Tunisian supporters of the moderate Islamic party Al Nahda celebrate as they claim victory at the party’s headquarters in Tunis on Tuesday.





*)http://www.infopalestina.com

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Temu Rutin Bulanan Keluarga Besar DPRa PKS Sitimulyo Edisi Oktober

Rabu, 26 Oktober 2011

Ahad, 23 Oktober 2011 DPRa Sitimulyo kembali mengadakan pertemuan rutin bulanan yaitu Temu Kader Partai (TKP) bertempat di kediaman bapak Sarojo dusun Banyakan Sitimulyo Piyungan Bantul. Meskipun cuaca sedikit mendung, (Alhamdulillah siangnya Jogja diguyur hujan..) tak mematahkan semangat kehadiran kami pada sore itu. Pukul 16.00 WIB para kader sudah mulai berdatangan, tak ketinggalan pula jundi-jundi kecil yang semakin memeriahkan suasana pada sore itu.

Jam 16.15 acara dimulai dengan pembukaan dan pembacaan Al-Qur'an oleh akhuna Didi Darmadi. Dilanjutkan penguatan kader yang disampaikan oleh sesepuh kita ustadz Juhadi, beliau ini merupaan ketua DPC pertama di DPC PKS Piyungan (dulunya masih PK) beliau menyampaikan banyak hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang kader dakwah. Beliapun wanti-wanti “Meskipun kegiatan dakwah kita diluar banyak satu hal yang harus diingat oleh setiap kader yaitu jangan lupakan kehidupan di masyarakat/kampung sendiri agar bisa seimbang dalam berdakwah” beliau juga menyampaiakan diantaranya:

1. Adab Bermasyarakat
2. Orang yang kaya justru pada hatiny, tanda-tanda hati kaya :
- Mengerjakan sesuatu dengan iklhas
- Ketika mengamalkan sesuatu diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan
- Merasa butuh pada Allah lebih banyak waktunya
- Toleransi tinggi
- Memiliki jiwa besar, mudah memaafkan kesalahan orang lain

Kemudian dilanjut laporan oleh Pak Suparman Ketua DPRa PKS Sitimulyo, beliau memaparkan info seputar kedeperaan, Laporan rencana pendistribusian Hewan Qurban, diantaranya Dusun Ngablak (PWK), Gempolsari (PWK), Indrokilo Banyakan, Nganyang sebagai wujud pembinaan pada daerah-daerah terbina.

Di ujung TKP, acara yang juga sudah dinanti adalah 'pembukaan arisan'... dan yang mendapat arisan adalah P’Widodo+B’Nur Wakidah, sehingga acara TKP bulan November depan bertempat di rumah beliau di dusun Somokaton.

Demikian liputan kegiatan bulanan Silaturohim kader se-DPRa Sitimulyo yang selesai pukul 17.15 WIB. (Reporter: Ukhti Tiqu)


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Ipar Tony Blair Bicara Pada Seminar PKS di Belanda

Lauren Booth, ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, menjadi salah satu pembicara kunci dalam seminar bertema Harmonisasi Islam dan Budaya Barat menuju satu Era Baru yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Belanda, di Leiden, 20 Oktober 2011.

Booth yang dikenal sebagai penulis dan wartawan ini berbicara tentang perjalanan spiritual sehingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam pada Oktober tahun lalu, demikian keterangan panitia seminar PKS kepada ANTARA London, Selasa.

Ia juga menyinggung perlunya komunitas Muslim untuk menunjukkan cinta dan kepercayaan diri ketika berdialog dengan elemen-elemen masyarakat lain di negara-negara Barat. Selain Booth, berbicara pula aktivis antiperang dan mantan anggota parlemen Inggris George Galloway, Presiden Akademi Eropa untuk Kajian Islam Sheikh Ahmed Amir Ali, aktivis Islam Jerman Dr Ibrahim El-Zayat, dan Dubes RI untuk Belgia Arif Havas Oegroseno.

Dari PKS, hadir Sekjen Anis Matta, anggota Komisi I yang juga mantan Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid, Ketua Fraksi PKS di DPR Mustafa Kamal, dan Ketua PKS Belanda Deden Permana. Anis mengatakan, komunikasi Islam dan Barat memburuk sejak serangan 11 September 2011 sehingga dibutuhkan interaksi yang lebih baik melalui dialog dan komunikasi yang mutual.

Dalam seminar sehari ini Galloway Memuji PKS yang ia sebut berpikir di luar kerangka konvensional dan peduli dengan persoalan-persoalan dunia. Terkait dengan hubungan antara Islam dan Barat, Galloway yang sangat menentang invasi pimpinan Amerika Serikat ini mengatakan kalangan Muslim tidak ingin mendikte Barat. Sebaliknya, kalangan Muslim juga ingin Barat tidak lagi mendikte banyak hal ke orang-orang Islam.

Halloway mengatakan agar harmoni antara Islam dan Barat bisa dicapai, maka Barat harus mendukung sepenuhnya pembentukan negara Palestina, mengakhiri semua perang di negara-negara Muslim, dan tidak lagi membuat "pemimpin boneka" di negara-negara Muslim. Dr Hidayat Nur Wahid mengatakan sebaiknya tidak ada halangan antara Islam dan Barat untuk saling belajar satu sama lain.*** (Republika.co.id)


Ringkasan Konferensi Internasional tentang “Harmonisasi Peradaban Islam dan Barat menuju Era Baru”


Berikut ini merupakan ringkasan dan cuplikan dari presentasi yang disampaikan sepanjang acara Konferensi Internasional tentang “Harmonisasi Peradaban Islam dan Barat menuju Era Baru”, 20 Oktober 2011.

Konferensi ini diselenggarakan di Hotel Holiday Inn, Leiden, Belanda, pada pukul 09.00 waktu setempat. Pertemuan dimulai dengan pidato pembuka yang disampaikan oleh Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan (Selanjutnya disebut PIP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Belanda, Deden S. Permana. Mewakili PIP PKS di Belanda, Inggris, dan Jerman. Deden di dalam pidato pembukanya menekankan bahwa Konferensi ini membawa pesan perdamaian dan dialog, dan juga niat baik dari PKS untuk berkontribusi dalam proses transformasi peradaban dunia menuju keadaan yang lebih baik dan era baru yang penuh dengan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan untuk semua. Kemudian sambutan pembuka juga disampaikan oleh Mustafa Kamal, ketua fraksi PKS di Dewan Perwakilan Rakyat yang berbicara mengatasnamakan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.

Di dalam sambutannya, Mustafa Kamal menyebutkan bahwa tidak ada satupun negara yang bebas dari masalah, baik itu dalam hal ekonomi, sosial-politik, budaya ataupun masalah kerekatan sosial. Termasuk juga Indonesia. Oleh karena itu, setiap negara, bahkan setiap peradaban memerlukan pembelajaran dari praktek-praktek terbaik yang dijalankan oleh negara atau peradaban lainnya. Kebutuhan untuk saling memahami dan bekerja sama pada tingkat internasional menjadi tidak terelakkan. Konferensi ini juga merupakan bagian dari rangkaian aktivitas serupa yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat PKS melalui Badan Hubungan Luar Negeri (BHLN) dan secara teknis dieksekusi oleh PIP di sejumlah negara. Pada Januari 2011 acara serupa diselenggarakan di London, dan pada rencana yang akan datang diharapkan bisa juga diselenggarakan di negeri lainnya.

Diskusi panel pertama kemudian diselenggarakan setelah sesi pembukaan, perhatian dipusatkan pada tema “Barat dan Islam: Refleksi Nilai-nilai Unggul dari masing-masing Peradaban”. Terdapat empat pembicara pada sesi ini, mereka yaitu: Dr. Hidayat Nur Wahid (Anggota DPR, Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat), Anis Matta (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat) dan George Galloway (Koalisi anti-perang di Inggris, Mantan Anggota Parlemen Inggris) dan Syeikh Ahmed Amir Ali (Presiden dari Akademi Studi Islam Eropa, di Inggris).

Dua issu dibahas oleh Anis Matta:

1. Krisis, ekonomi dan politik yang melanda dunia Barat dan dunia Islam.
2. Solusi yang memungkinkan untuk mengatasi masalah yang ada

Anis Matta menyebutkan bahwa peristiwa 11 September telah memperburuk proses komunikasi Barat dengan Islam, dan oleh karenanya perlu diingatkan kepada semua muslim akan pentingnya interaksi melalui dialog dan komunikasi dua arah yang baik.

“Arab Spring” (Musim Semi bagi demokrasi di dunia Arab) telah terjadi, sehingga perlu dicari model baru dari peradaban, negara, pemerintahan dll. Namun, dunia Islam tampak kehilangan narasi peradabannya setelah kejatuhan para diktator di Tunisia, di Mesir dll. Oleh karenanya, penting bagi mereka untuk segera menyusun narasi baru peradabannya dengan pemimpinnya yang baru.

Anis menyatakan bahwa dunia Islam harus memulai narasinya bukan dari titik di mana Barat memulainnya melainkan seharusnya dari titik ketika barat mengakhirinya. Sehingga dia seharusnya merupakan sebuah kelanjutan dan bukanlah sebuah awal yang sama sekali baru.

Ketika ada seorang bertanya tentang bagaimana caranya untuk merealisasikan gagasannya, Anis Matta menjawab dengan menyentuh tiga hal:

1. Masalah Komunikasi, misalnya: Sentimen segelintir elit di Eropa tidak menggambarkan pandangan masyarakatnya demikian juga sebaliknya di dunia Islam.
2. Bagaimana kita bisa menaruh isu ekonomi di dalam perspektif kemanusiaan, hal ini merupakan issu bersama.
3. Bagaimana kita bisa meninjau ulang kurikulum pendidikan kita, sehingga mampu untuk menjauhkan rasa takut, benci sedini mungkin.

Sementara itu, George Galloway mengapresiasi PKS untuk kemampuannya berfikir di luar kebiasaan, dan kepeduliannya dalam permasalahan-permasalahan dunia.

Dia setuju dengan pembicara sebelumnya (Anis Matta) bahwa tidak semua pandangan elite mewakili masyarakatnya. Bush (George W Bush) dan Blair (Tony Blair) ketika mengirimkan pasukan untuk menyerang Iraq. Masyarakat Inggris, dan sekitar dua juta orang di tahun 2003, keluar untuk menentang kebijakan perang.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, dia tidak pernah bertemu seorang muslim pun yang berperilaku anti bara seperti anti pohon natal. Galloway melihat bahwa yang Muslim inginkan adalah 1) Tidak mendikte Barat 2) Tidak didikte Barat. Galloway pun mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi jika Harmonisasi ingin dicapai.

1. Kemerdekaan absolut untuk Palestina
2. Menghentikan perang berkepanjangan di negeri-negeri Muslim
3. Menghentikan penciptaan dan dukungan pemimpin dan pemerintahan boneka di negeri­ negeri Muslim. Jika hal-hal tersebut masih terjadi maka tidak akan ada hubungan yang normal antar peradaban.

Akhirnya demokrasi harus berlaku untuk seluruh manusia dan seluruh belahan bumi, tidak boleh ada standard ganda ataupun hipokrasi yang digunakan di dalam kebijakan dari pemerintahan manapun.

Dalam paparannya, Dr. Nur Wahid menyimpulkan bahwa seharusnya tidak ada sekat bagi Muslim untuk belajar dari non-Muslim dan begitu pun sebaliknya. Baik Islam maupun Barat harus memainkan perannya dalam membawa kesejahteraan kepada seluruh dunia secara aktif, dan bertanggung jawab. Keduanya perlu untuk menemukan pendekatan yang efektif dan metode yang tepat untuk mencapai tujuan bersama.

Pada kesempatannya berbicara, Syeikh Ali mempertimbangkan bahwa merindukan nilai­-nilai fundamental dari Islam dan juga sebaliknya. Dia mengakui bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam proses komunikasi kedua peradaban, dan kesalahpahaman tersebut disebabkan oleh kesalahan orang per orang pada kedua belah pihak.

Sesi panel yang kedua, konferensi dimulai setelah istirahat makan siang, di bawah sub-tema “Mempercepat hadirnya Era Baru: Upaya menekan Korban dari Kontraksi dan Kontradiksi antar Nilai Budaya”. Empat pembicara berbagi gagasannya dalam sesi ini, mereka adalah Laureen Booth (Seorang Jurnalis dan Pembawa Acara dari Inggris), Dr. Ibrahim El-Zayat (Ketua dari Sejumlah Organisasi Muslim dan Masjid di Jerman), Arif Havas Oegroseno (Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luxemburg dan Uni Eropa) dan Mustafa Kamal (Ketua fraksi PKS di DPR RI).

Laureen Booth, yang memeluk Islam pada tanggal 19 Oktober 2010 memulai presentasinya dengan berbagi pengalaman dalam pencarian panjang akan kebenaran, dimulai dari interaksinya dengan Muslim dan berubah-ubahnya persepsi yang dia miliki tentang Islam. Booth menceritakan kisahnya yang cukup inspiratif hidup sebagai seorang perempuan Muslim di Barat, bagaimana dia tetap mempertahankan keimanannya dan bagaimana juga mayoritas Muslim berintegrasi dengan baik dengan sistem sosial di Barat. Dia kemudian menyebutkan urgensi bagi Muslim untuk menunjukkan kasih sayang dan memelihara kepercayaan diri sebagai Muslim dengan cara berdialog dengan masyarakat dimana mereka tinggal.

Pada kesempatan kedua Dr. El-Zayat mengeksplorasi apa yang terjadi baru-baru ini di dunia Arab yang memiliki kekuatan untuk membantah sikap prejudice terhadap Arab dan Muslim bahwa mereka adalah diktator, penuh kekerasan, menekan perempuan, dan terasosiasikan dengan aktivitas ekstrim. El-Zayat menyentuh kegagalan dari sistem ekonomi kapitalis yang membuat semua orang mencari sistem ekonomi alternatif. El-zayat juga memandang bahwa nilai-nilai dari institusi keluarga yang merupakan nilai mendasar dari ajaran Islam merupakan kunci pembentukan masyarakat yang sehat, yang mampu diperkenalkan secara menarik, aktual dan berkelanjutan hingga tercapai era baru.

Dubes Oegroseno menyajikan narasinya yang berjudul: “The New Era – Now – Beyond”. Dimulai dengan bertanya kepada audiens pertanyaan sebagai berikut ini: Apakah Eropa berada pada “jalur yang benar”, dan apakah Eropa sedang menurun? Kemudian Oegroseno menyajikan sebuah prediksi bahwa Asia pada tahun 2050 memiliki kemungkinan untuk mengendalikan 51% dari aktivitas ekonomi dunia, sementara itu Amerika hanya 25% dan Eropa harus puas dengan 10% saja. Mesin pertumbuhan di Asia, termasuk Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand. Kunci menuju dialog dalam era baru adalah: Evaluasi diri, menghindari Stereotype, Integrasi Sosial dan Fasilitasi Ekonomi.

Mustafa Kamal, menyarankan agar kedua peradaban mengubah caranya dalam menulis sejarah. Lanjutnya, narasi sejarah kita pada umumnya ditulis dengan pendekatan konflik, dimana konflik diambil sebagai pusat dari penulisan sejarah. Sementara itu pendekatan baru dalam penulisan ulang sejarah yang berbasiskan harmoni harus mulai diperkenalkan dan diajarkan kepada generasi muda, sehingga ide harmonisasi antar peradaban ini tidak hanya dinikmati di ruangan konferensi ini akan tetapi juga kita bisa meyakinkan bahwa semangatnya tertular kepada generasi kita berikutnya.

Keseluruhan sesi panel ini dimoderasi oleh Novrizal Bahar, dan dihidupkan dalam suasana diskusi.

Sebagai penutup rangkaian acara pada konferensi ini, pidato penutup disampaikan oleh Dr. Hidayat Nur Wahid. Hidayat menekankan bahwa diskusi penting seperti ini harus dilanjutkan, gagasan-gagasan dan pemikiran penting yang disajikan sepanjang konferensi harus disebarluaskan atas keyakinan bahwa terlalu banyak yang bisa dibagi bersama-sama oleh kedua peradaban, dan atas keyakinan akan pesan dari ajaran Islam “Wata’awanu ‘alal birri wa taqwa, wa laa ta’awanu ‘alal itsmi wal udwaan”, yakni, bahwa setiap kita butuh berkoordinasi dan bekerja sama dalam hal-hal yang positif. Ini adalah tradisi, ajaran, moralitas dan nilai dasar dari ajaran Islam.

Konferensi ditutup pada pukul 16.30 waktu setempat.

*)dakwatuna.com



*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Partai Islam Menangkan Pemilu Tunisia

Selasa, 25 Oktober 2011

Partai Islam moderat Tunisia, Partai Ennahda, mengklaim kemenangan dalam pemilu demokratis pertama di negeri itu, Senin 24 Oktober 2011, setelah hasil penghitungan pendahuluan menunjukkan partai itu memenangkan bagian suara terbesar.

Hasil penghitungan resmi diperkirakan baru akan diumumkan hari ini (Selasa 25/10) waktu setempat, namun hasil penghitungan suara terpisah menunjukkan Ennahda menang dengan suara terbanyak dan berpeluang menang mutlak.

Pejabat Partai Ennahda memperkirakan partainya memperoleh paling sedikit 30 persen dari 217 kursi dalam konstitusi baru. Perkiraan lainnya menempatkan suara partai itu mendekati 50 persen.

Saingan utamanya, partai sekuler kiri tengah, PDP, telah menyatakan menerima kekalahan.

Pengamat internasional memuji pemilihan tersebut sebagai pemilihan yang bebas dan adil. Mereka menekankan partai-partai dalam pemerintahan baru harus bekerja sama dan menjaga hak-hak perempuan.

Menurut Sekjen Komisi Pemilihan Boubaker Bethabet, lebih dari 90% dari 4,1 juta pemilih terdaftar memberikan suaranya.

Pemilu kali ini diikuti lebih dari 100 partai, belum termasuk calon independen.

Jalannya pemilu ini disambut gembira warga yang dengan bangga menunjukkan jari mereka yang kehitaman bekas tercelup tinta pemilu.

Ibu Mohamed Bouazizi, laki-laki yang membakar diri bulan Desember lalu sehingga memicu revolusi dunia Arab dan Tunisia, mengatakan bahwa pemilu ini adalah kemenangan untuk martabat dan kebebasan warga setempat.

"Sekarang saya senang karena kematian anak saya telah memberi jalan untuk mengatasi rasa takut dan ketidakadilan," kata Manoubia Bouazizi.

Dalam setengah abad sejak kemerdekaannya dari Prancis tahun 1956, Tunisia praktis menjadi negara satu partai hingga rakyat Tunisia mengusir Presiden Zine El Abidine Ben Ali pada Januari setelah sebulan pemberontakan rakyat. Sembilan bulan dilanda kerusuhan, demonstrasi, dan perdebatan politik di negara berpenduduk 10 juta itu, mendahului pemilu yang baru digelar.

Pemimpin Ennahda menjanjikan nantinya akan membentuk Tunisia menjadi negara dengan banyak partai, demokrasi, bukan negara Islam.

"Warga Tunisia memberi suara pada partai yang dianggap konsisten menyuarakan perlawanan menuju demokrasi dan menentang kediktatoran Ben Ali," kata seorang juru bicara partai ini, Yusra Ghannouchi.

Sebagian besar rakyat Tunisia gembira menyambut pemilu setelah rezim Ben Ali usai.

Ghannouchi mengatakan partai Ennahda berada di barisan depan rakyat, dan karena itu sejak awal mereka yakin akan mendapat banyak suara.

Anggota dewan terpilih (217 anggota) akan memiliki peran sangat penting dalam membangun demokrasi yang baru di Tunisia. Mereka tidak hanya akan menunjuk pemerintah sementara (presiden sementara) yang baru, tapi juga menulis konstitusi yang akan menentukan bagaimana negara itu akan berjalan.***

*)dari berbagai sumber


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Taqdir dan Ikhtiyar




Oleh: Ust. Musyafa Ahmad Rahim, MA
Ketua Kaderisasi DPP PKS



Makna Ikhtiyar

Diantara kosa kata yang sangat populer, khususnya saat berbicara tentang taqdir, adalah kata ikhtiyar, yang sudah kadung dimaknai sebagai “usaha”, misalnya: “ada taqdir ada ikhtiyar”, maksudnya “ada takdir ada usaha”.

Menurut pamahaman saya yang dangkal, kata ikhtiyar sebenarnya ada hubungan erat dengan kata khair yang artinya adalah sesuatu yang terbaik. Dan ikhtiyar artinya memilih yang terbaik diantara sekian banyak pilihan yang ada atau pilihan yang tersedia. Dan dalam konteks pembahasan taqdir, maksud-nya adalah ada perbuatan atau sesuatu di mana manusia tidak dapat lagi berkehendak, memilih dan terlebih lagi menentukan, misalnya: seseorang dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Dia, sebagai sang lelaki atau sang perempuan, tidak ada kehendak, pilihan dan terlebih lagi kemampuan untuk menentukan pilihannya sendiri. Inilah yang biasa disebut takdir. Namun, ada banyak urusan, manusia itu mempunyai kehendak, pilihan dan diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk “menentukan” apa yang terbaik bagi dirinya, terbaik menurut sudut pandang manusia, dan terbaik menurut sudut pandang Allah SWT.

Karena Ada Ikhtiyar, Maka Ada Penilaian Terhadapnya

Karena ada “pilihan” inilah maka urusan itu disebut ikhtiyar. Misalnya, seorang lelaki, kelahirannya sebagai lelaki, dia tidak ada pilihan, dan biasa disebut, sudah takdir. Namun, sikap dia terhadap kenyataan bahwa dia seorang lelaki, antara bersyukur dan kufur, dia diberi kehendak dan pilihan oleh Allah SWT untuk “menentukannya”, dan berdasar pada pilihan inilah dia “dinilai”, baik oleh sesama manusia, atau pun oleh Allah SWT. Jika dia bersyukur, maka sesama manusia (manusia lainnya, selain dirinya), akan mengatakan ikhtiyar-nya itu baik, dan Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan kepada kalian [kenikmatan-Ku]”. Sebaliknya, jika si lelaki tersebut kufur, maka manusia lainnya akan menilainya dengan cara mencelanya, mencacinya, menghukumnya dan bahkan bisa jadi membunuhnya. Dan Allah SWT memberi penilaian: “Dan sungguh jika kalian kufur, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat keras”.

Begitu juga halnya bagi manusia yang “berhadapan” dengan “kelelaki-lakian” seseorang. Tentang keberadaan seseorang sebagai lelaki, kan sudah taqdir dari sononya. Namun ada hal yang bersifat ikhtiyari terkait dengan “kelelaki-lakian” seseorang. Misalnya, ia memujinya, atau mencelanya. Maka hal yang bersifat ikhtiyari ini, ada konsekwensi “penilaian” dari sesama manusia dan dari Allah SWT.

Singkatnya, jika urusannya taqdir, maka manusia tidak dinilai, baik dengan reward ataupun punishment, namun, jika urusannya ikhtiyar, maka manusia dinilai, baik dengan reward ataupun punishment.

Penilaian Manusia Terhadap Ikhtiyar Orang Lain, Adalah Bagian Dari Ikhtiyar Si Penilai

Yang perlu juga ditegaskan adalah saat seseorang melakukan penilaian terhadap orang lain dan terhadap ikhtiyar-nya, baik atau pun buruk penilaiannya itu, maka penilaiannya itu adalah ikhtiyar seseorang tersebut yang juga berhak mendapatkan penilaian dari Allah SWT dan juga dari manusia-manusia lainnya lagi. Artinya, penilaian dia terhadap ikhtiyar orang lain juga berhak dinilai oleh Allah SWT dan oleh sesama manusia lainnya dengan diberikan reward atau punishment.

Misalnya, si bungsu yang suka tidur di saat belajar. Tidurnya si bungsu di saat belajar adalah ikhtiyar-nya yang berhak dinilai oleh bapak atau ibu guru yang mengajarnya, dan juga berhak dinilai oleh teman-teman di kelasnya. Misalnya saja, karena suka tidur di saat belajar ini, lalu si bungsu dinilai “ngaco” oleh salam seorang temannya yang duduknya terdekat dengannya. Karena dianggap “ngaco” inilah maka si bungsu dicubit oleh temannya tadi. Dalam hal ini, penilaian temannya bahwa si bungsu “ngaco” merupakan ikhtiyar darinya. Begitu juga “cubitan” yang dilakukannya, juga merupakan ikhtiyar darinya pula. Dua ikhtiyar dari sang teman ini juga berhak dinilai oleh bapak atau ibu guru yang mengajar di kelas itu, dan juga berhak dinilai oleh teman-teman sekelasnya, termasuk si bungsu itu. Dan tentunya, dua ikhtiyar ini juga berhak mendapatkan penilaian dari Allah SWT. end

Semoga bermanfaat, amin.


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

KulTwit @SalimAfillah : Catatan untuk Aktivis


Salim A. Fillah
Dewan Syariah PKS Kota Jogja
Pembina Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokariyan Jogja


  • Kuperhatikan ahli ibadah; ia lelah & menangis. Tapi rasa nikmat & pancaran ketenangannya tak habis-habis. #NtMS
  • Lalu kuperhatikan diri sendiri; berburu senang dalam dosa, mencari tawa dalam sia. Tapi pedih & gelisah yang terasa. #NtMS
  • Bisa jadi saat kau berteriak membelanya, diam-diam kebenaran beringsut meninggalkanmu; malu melihatmu kehilangan akhlaq mulia. #NtMS
  • Saat kau mengutuk melaknatnya, bisa jadi kejahatan sedang tersenyum merasukimu sebab kau jumawa, merengkuh muasal segala dosa. #NtMS
  • Jika hanya dunia yang jadi tujuan, agama bisa jadi peralatan. Jika sekedar kaya yang jadi impian, surga bisa dijadikan agunan. #NtMS
  • Tapi jika menolong agama Allah yang jadi kegelisahan & tekad membara, maka kita akan siap berletih-letih berjuang dalam namaNya. #NtMS
  • Biarlah yang besar itu karyamu, bukan dirimu. Biarlah yang tinggi itu prestasimu, bukan hatimu. #NtMS

#NtMS: Note to My Self

*)https://twitter.com/#!/salimafillah

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Keprihatinan Seorang Nabi

Senin, 24 Oktober 2011

Oleh: Ust. Musyafa Ahmad Rahim, MA
Ketua Kaderisasi DPP PKS
---
Di suatu waktu, terdengarlah "desah" nabi Zakariya - 'alaihis-salam -: "Ya Allah Rabb-ku, sesungguhnya tulang belulangku sudah rapuh, kepalaku sudah menyala putih karena uban dan istriku mandul. Namun, ada satu hal yang membuat diriku khawatir, takut, cemas dan bersedih, yaitu, belum jelasnya seorang penggantiku, pelanjutku dan pewarisku, dan aku tidak pernah berputus asa untuk terus memohon dan memohon kepada-Mu, berikanlah kepadaku seorang pelanjut, seorang pengganti dan seorang pewaris, yang melanjutkan misi dan risalahku, misi keluarga besar nabi Ya'qub - 'alaihis-salam -, pewaris yang akan membimbing, membina dan mendidik Bani Israil, membimbing dan membina mereka kepada ajaran-Mu".

Bukan Soal Harta dan Kedudukan
Apa yang menjadi keprihatinan dan kepedihan nabiyullah Zakariya - 'alaihis-salam - bukanlah soal masa depan makanan dan logistik Bani Israil, sebab ia yakin betul bahwa rizki, makanan, dan logistik Bani Israil sudah dijamin dan ditanggung Allah SWT.

Bukan pula soal jabatan dan kedudukan duniawi mereka, sebab mereka pasti akan menentukan pilihan mereka sendiri seandainya tidak ada ketentuan dari Allah SWT, dan sepertinya peminat dalam hal ini sangatlah banyak.

Bukan pula soal perjodohan laki dan perempuan diantara sesama mereka, sebab fitrah dan naluri mereka telah cukup untuk menggerakkan mereka dalam hal ini.

Bukan pula soal perhiasan-perhiasan dunia lainnya, sebab semua manusia telah tercipta dengan membawa kecenderungan terhadapnya.

Namun, yang menggelisahkan, mengkhawatirkan dan memprihatinkannya adalah soal statusnya sebagai juru dakwah, sebagai murabbi, sebagai pembimbing dan sebagai pembawa masyarakat kepada jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul, jalan para shiddiqin, syuhada dan shalihin, jalan yang telah digariskan Allah SWT untuk dititi dan dirambah umat manusia.

Dan pada kenyataannya, peran dan fungsi seperti inilah yang sedikit sekali peminatnya, berbeda dengan peminat harta, tahta dan jabatan, sehingga, meskipun pintu pendaftaran telah dibuka seluas-luasnya, berbagai bentuk targhib (penggemaran dan iming-iming bagi yang mau melakukan) serta tarhib (pemaparan hal-hal yang menakutkan bagi yang tidak mau melakukan) sudah dikemukakan, reward and punishment sudah dipaparkan, pada kenyataannya, yang mendaftarkan diri secara sukarela tetap saja sedikit, minim dan tidak sebanding dengan para peminat dan pendaftar peran dan fungsi lainnya.

Kenyataan seperti inilah yang membuat prihatin nabiyullah Zakariya - 'alaihis-salam -

Untuk itulah, beliau sampaikan keprihatinan ini kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Mendengar, Dzat yang Maha Mengabulkan, Dzat yang Maha Pengasih, Penyayang dan yang Maha Kuasa, Pencipta dan Pengatur seluruh alam.

Bukan Hanya Sekali Dua Kali

Penyampaian keprihatinan seperti ini bukan hanya sekali dua kali disampaikan nabi Zakariya - 'alaihis-salam - kepada Allah SWT, tetapi, berkali-kali, sering dan terus menerus. Dan meskipun tanda-tanda terkabulkannya tidak segera kunjung tampak, namun dia terus menerus sampaikan keprihatinan itu, tidak ada kata putus asa, tidak pernah pupus dan sirna harapannya "walam akun bidu'aika Rabbi syaqiyya".

Bukan hanya tidak berputus asa, tetapi, selalu memanfaatkan waktu, tempat dan moment-moment istijabah untuk mengulangi dan mengulangi lagi penyampaian keprihatinan dan permohonannya. Oleh karena itu, pada suatu hari, saat ia memasuki mihrab Maryam, dan dia dapati di sisi Maryam ada makanan dan minuman, dan setelah dia mendapatkan kepastian bahwa makanan dan minuman itu datang dari Allah SWT, yang berarti, kemungkinan besar, saat itu dan di tempat itu baru saja turun rahmat Allah SWT, dan sangat mungkin rahmat itu belum beranjak dari situ, maka seketika itulah sekali lagi ia panjantkan keprihatinan dan permohonannya kepada Allah SWT, agar Dia memberikan keturunan kepadanya, keturunan yang shalih, keturunan yang baik, yang akan mewarisi dan menjadi pelanjut dari misi dan tugasnya. "hunalika da'a Zakariyya Rabbahu ...".

Ia tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya yang tua renta, tidak peduli lagi dengan kondisi istrinya yang mandul, yang secara teori tidak mungkin lagi memiliki keturunan, sebab ia yakin, rahmat dan kekuasaan Allah SWT jauh di atas semua teori tadi.

Berqudwah Kepada Nabi Zakariya

Al-Qur'an menceritakan kisah nabi Zakariya - 'alaihis-salam - bukan sekedar menjadi hiburan, namun, untuk dijadikan ibrah, dan diikuti nilai-nilai ke-qudwah-annya.

Pos-pos jabatan struktural, alhamdulillah telah terisi secara cukup dan bahkan memadai.

Pos-pos jabatan publik, alhamdulillah banyak sekali yang berminat.

Namun, berapa banyak yang bermimpi dan berminat menjadi juru dakwah? Berapa besar pula minat dan animo masyarakat untuk menjadi murabbi? Siapakah dan berapakah yang menyambut seruan banyak ikhwah di daerah, di kampus, sekolah dan lainnya: "mana juru dakwah? mana murabbi? silahkan datang ke sini!".

Tidakkah situasi ini mendorong kita untuk prihatin? bersedih? dan lalu mengadukannya kepada Allah SWT?

Tidakkah kenyataan ini mendorong kita untuk bekerja bersungguh-sungguh dalam menyiapkan dan memperbanyak jumlah juru dakwah dan murabbi? sambil terus menerus dan tidak henti-hentinya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar memberikan ketegaran dan keteguhan (tsabat) kepada kita dalam meniti jalan dakwah serta memudahkan segala urusan dakwah dan tarbiyah ini?

"wa inni khiftul mawaliya min wara-i... fahab li min ladunka waliyyan yaritsuni...".

Barakallahu li walakum fil Qur'anil azhim wanafa'ani waiyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, amiiin.

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar Dakwah

Jumat, 21 Oktober 2011

Oleh : Cahyadi Takariawan
Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena reshuffle ?

Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata. Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.

Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan

Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi yang prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya. Oleh karena itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan tamparan dan menjadi momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian dengan Kang Harna. Mantan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini menganggap posisi menteri adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian utuh dari proses dakwah, ia siap ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa menjadi lahan baginya untuk berkontribusi secara optimal.

Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari Istana Negara bahwa dirinya akan diganti, ia langsung menyiapkan segala sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim Menristek yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada Rapim tersebut, Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera diganti oleh personal lain yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh karena itu Kang Harna menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di lingkungan kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari Presiden SBY terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian yang merasa tidak percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan sang menteri maupun kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik saja, tidak ada masalah atau kasus apapun yang layak dipersoalkan. Bahkan ada banyak kemajuan serta prestasi di Kementrian Ristek selama dipimpin Kang Harna.

Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah ada kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah dengan laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya aman-aman saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit Kang Harna sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek.

Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian Ristek. Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa mereka dan berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna sudah pamit padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada kepastian apakah Menristek diganti atau tidak.

Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu untuk bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek di hari terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan meneteskan air mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera meninggalkan mereka.

Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu hanya amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle Menristek itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia, seperti undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya. Untuk itulah Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin profesional bersama menteri baru nantinya.

Telah Selesai Berkemas

Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas. Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat ada isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf untuk berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.

Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada barang pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011, packing sudah selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi dan tinggal membawa pergi.

Pulang Dengan Mobil Pribadi

Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18 Oktober 2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas Menristek beliau parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan mobil sudah dititipkan kepada pegawai yang berwenang.

Para pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah pamitan. Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.

Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin selalu menikmati bahkan memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak dikembalikan, walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader senior PKS ini. Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang santun, beradab dan bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan seorang pejabat negera setingkat menteri.

Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau sudah mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian. Maka, siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat, seorang Menteri yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya, dengan sempurna.

Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan, sikap kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia harus mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di republik ini.

Mengembalikan Rumah Dinas

Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ? Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya, Kang Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti kondisi rumah, dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada dalam kondisi rapi. Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan ruangan dengan detail. Jangan ada barang-barang milik dinas yang terbawa, dan jangan ada barang milik beliau yang tertinggal.

Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun meninggalkan rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah dinas tersebut besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar biasa, sebuah sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas diteladani oleh semua masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat negara.

Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan peristiwa ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh level, agar bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.

Mengganti KTP

Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata beliau mengurus pergantian KTP.

Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua selesai pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada pengumuman resmi reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP baru dengan identitas yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah bukan Menteri.

Lega. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang berbeda dari KTP tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP beliau, sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.

Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau tidak ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok pagi. Maka tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas “Menteri”. Beliau ingin tampil dengan identitasnya yang asli, “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.

Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya

Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua urusan Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian Ristek. Sudah mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan merapikan rumah dinas. Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua urusan sudah dibereskan. Rasanya tidak ada yang tersisa.

Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.

Keluarga Menyambut Gembira

Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia menerima pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan “pemberontakan” atau “perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di media yang menyatakan bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau diganti, atau semacam itu. Tidak, sama sekali tidak.

Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak beliau. Apa respon anak-anak atas berita itu ?

“Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.

“Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !” jawab anak kedua. Ya, semua keluarga menyambut gembira.

Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.

Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang bertemu keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua pejabat, pegawai dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja harus bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat Subuh beliau sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau sudah berada di ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di ruang kerja kementrian.

Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa Kang Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang ditunjuk Presiden SBY. Coba perhatikan respon spontan ini, “Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !”

Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil reshuffle. Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru, Gusti Muhammad Hatta.

Kinerja Kementrian

Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja. Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus. Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP selama dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat tahun ini.

Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini audit lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion), “Tidak Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse). Maka dengan melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua tahun di bawah kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek tidak ada masalah.

Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan ternyata Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak bertanya, atas dasar apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi”, jawab Kang Harna.

Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti terkait pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengucapkan syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada negara”.

"Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun ini," kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan menteri dan wakil menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).

Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna enggan menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden sepenuhnya. Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

"Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi," ujarnya singkat.

Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke PKS dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi disampaikan Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut mengurangi jatah kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan Kompas.

Bahkan, saat acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian, Kang Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting naik Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang sangat nyata. Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Kang Harna di Mata Saya

Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang jajaran qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam kehidupan. Kader senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal, menghantarkan dakwah dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang kenegaraan. Dan beliau sendiri mencontohkan bagaimana sikap seorang negarawan.

Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi maupun dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi salah seorang calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua mengetahui bahwa beliau keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada lebih banyak kader dakwah yang tepat pada posisi kementrian. Namun, beliau juga memberikan contoh bahwa amanah harus dilaksanakan dengan segenap kemampuan.

Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut”.

Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja, dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat mengalami masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya menjadi pejabat negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat biasa. “Wiraswasta”, begitu pilihan identitas di KTP-nya.
Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.

Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa Kang Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh para kader, tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi, tentang konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar, tentang sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi yang terang benderang, tentang platform pembangunan Indonesia yang jelas.

Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior yang satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki senior yang memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya. Semoga semakin banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN