NEWS UPDATE :

Akhir "Status Quo" Timur Tengah?

Senin, 31 Januari 2011

DIAM-DIAM dunia Barat menikmati status quo di negara-negara yang dipimpin tiran atau diktator selama kepentingan mereka dilayani dan diuntungkan. Pelanggaran hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi—yang selalu mereka tentang—dibiarkan terjadi di negara-negara itu.


Di permukaan, negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, terus menyerukan penegakan hak asasi manusia, kebebasan berekspresi, dan demokrasi. Namun, saat kesadaran akan hak-hak tersebut benar-benar bergaung di negara sestrategis Mesir, AS dan sekutunya dihadapkan pada dilema.

Demonstrasi menentang rezim Presiden Hosni Mubarak, yang dianggap otoriter, telah memasuki hari keenam. Lebih dari 100 orang tewas dalam bentrokan antara petugas keamanan dan demonstran di seluruh Mesir.

AS harus membuat pilihan sulit, mendukung perjuangan demokrasi demonstran atau membela sekutu kuncinya selama 30 tahun. Beberapa hari terakhir, Presiden AS Barack Obama telah mengeluarkan pernyataan keras yang mendesak Mubarak segera melakukan reformasi politik dan ekonomi serta menghentikan kekerasan terhadap demonstran.

Namun, AS juga terlihat hati-hati menentukan sikap terhadap Mubarak. Sebab, setiap indikasi meninggalkan Mubarak akan menimbulkan risiko yang tidak kecil bagi AS dan sekutu-sekutunya di Eropa.

Mesir adalah sekutu AS paling penting di Timur Tengah. Di bawah Presiden Anwar Sadat, Mesir adalah negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David, AS.

Bagi Israel, perjanjian damai dengan Mesir itu sangat besar artinya. Di satu sisi Israel tak perlu lagi risau akan risiko perang dengan Mesir, seperti pada 1948, 1956, 1967, dan 1973.

Di sisi lain, Mesir juga menjadi satu-satunya jembatan bagi Israel untuk berdialog dengan dunia Arab dan berperan besar dalam membatasi ruang gerak kelompok garis keras Hamas di Jalur Gaza.

Itu sebabnya, dalam pernyataan publik pertama sejak krisis Mesir pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu (30/1), menekankan pentingnya menjaga perdamaian dengan Mesir dan bagaimana mengembalikan stabilitas dan keamanan di kawasan itu.

”Mimpi terburuk geopolitik bagi Israel adalah ada negara Arab berpenduduk terbesar dalam kondisi instabilitas politik berada tepat di depan pintu. Ini mengubah seluruh perimbangan kekuatan di Timur Tengah,” tuturnya.

Kemungkinan lengsernya Mubarak juga membuka peluang bangkitnya kelompok anti-Israel, seperti Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood). Lembaga pengamat intelijen Stratfor Global Intelligence bahkan mengeluarkan Tanda Bahaya Merah, Sabtu, untuk mengingatkan saat ini banyak anggota Hamas (salah satu cabang Ikhwanul Muslimin) masuk ke Mesir dari Gaza untuk memperkuat demonstrasi anti-Mubarak.

Kemungkinan Mesir dikuasai rezim anti-Barat juga membuka risiko lebih mengerikan, yakni ditutupnya Terusan Suez, urat nadi perekonomian dunia yang menghubungkan Eropa-Asia.

Menlu Inggris William Hague mengatakan, siapa yang akan memerintah Mesir tak ditentukan oleh masyarakat di luar Mesir. Namun, ia menegaskan, ”Tentu saja kami tak ingin ada pemerintahan yang berbasis pada Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin).”

Namun, membela mati-matian Mubarak untuk bertahan pun berisiko besar. Selain membuktikan kemunafikan retorika Barat tentang HAM dan demokrasi, mereka juga akan ditentang Mesir dan dunia Arab.

”AS dan Eropa hanya bisa menunggu perkembangan situasi dan berusaha untuk tak terlalu memusuhi siapa pun yang akan keluar sebagai pemenang (di Mesir),” ungkap Nigel Inkster, mantan Wakil Kepala Dinas Intelijen MI6 Inggris, yang menjadi pengamat di International Institute for Strategic Studies, London.

Dengan demonstrasi menuntut mundurnya penguasa juga terjadi di Yaman dan Jordania, terancamnya posisi Presiden Palestina Mahmoud Abbas pasca-kebocoran Dokumen Palestina di Al-Jazeera, terbentuknya pemerintahan baru yang diduga pro-Hezbollah di Lebanon, dan kebuntuan perundingan soal nuklir dengan Iran, kiranya status quo sudah berakhir di Timur Tengah. (Reuters/AFP/AP/DHF)

*sumber: kompas.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Di Ujung Penentuan Masa Depan Mesir

Biasanya, hari Sabtu adalah awal pekan yang sibuk di Mesir. Tapi, alih-alih bekerja, ribuan orang justru tumpah di Lapangan Tahrir Square, yang terletak di pusat kota Kairo, Sabtu 29 Januari 2011.

Hari itu adalah hari kelima di mana warga Mesir melakukan aksi unjuk rasa besar untuk menuntut 'lengsernya' rezim otokratik yang telah berkuasa selama 30 tahun terakhir, Presiden Hosni Mubarak.

Kehadiran beberapa tank militer di lapangan tak membuat kerumunan di lapangan itu buyar. Para demonstran jutsru ramai-ramai menaiki tank-tank tadi. Para pengunjuk rasa bahkan terlihat bersahabat dengan tentara yang bertugas, menawarkan jeruk, rokok, juga botol minuman.

"Kami, bersama rakyat," ujar salah satu tentara bernama Ahmed, seperti dikutip dari Washington Post. Saat para tentara tak keberatan tank mereka dinaiki oleh para demonstran, mereka seakan semakin yakin, bahwa ini adalah saat kemenangan rakyat Mesir.

"Ini adalah saatnya kebebasan,'' kata Abdel Nasser-Awad, seorang pengusaha Mesir yang berusia 40 tahun. "Kini Mubarak akan pergi. Namun, pertanyaannya adalah kapan?" katanya.

***

Apa yang terjadi di Mesir saat ini tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi ketika Presiden Suharto lengser pada 1998. Selama 30 tahun di bawah kepemimpinan Mubarak, rakyat Mesir telah lama hidup tertekan di bawah rezim yang kejam dan korup. Diperparah lagi dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Kepemimpinan Mubarak diwarnai dengan begitu banyak skandal dan penyiksaan. Di bawah pemerintahannya, sering terjadi kasus raibnya jurnalis dan aktivis, kekejaman dan kekerasan di tahanan, penyiksaan tanpa pengadilan, pengakuan secara paksa, dan pelanggaran HAM lainnya.

Menurut organisasi HAM Mesir pada tahun 2007, terdapat 4000 orang yang ditahan tanpa melalui proses peradilan terlebih dulu. Mereka dituduh telah melakukan kejahatan politik, dan sebanyak 1000 diantaranya adalah anggota Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi politik Islam yang dinyatakan terlarang di Mesir.

Hosni Mubarak sendiri adalah presiden ke-4 di Mesir yang berkuasa sejak 1980. Dia adalah presiden terlama yang menjabat di Mesir sejak Muhammad Ali Pasha. Pria bernama lengkap Muhammad Hosni Sayyid Mubarak, itu lahir pada 1928 di kota Al-Monofeya, Mesir utara.

Mubarak merupakan jebolan Akademi Militer Mesir dan Akademi Angkatan Udara, dan berhasil menjadi kepala staf AU. Selama karirnya di kemiliteran, Mubarak mendapat penghargaan karena dinilai telah memajukan AU Mesir, setelah dikalahkan Israel pada Perang Timur Tengah 1967.

Dia dinilai sukses sebagai seorang ahli strategi dalam Perang Yom Kippur, yang menghasilkan perjanjian damai dengan Israel dan dikembalikannya wilayah Sinai kepada Mesir. Pada 1975, Mubarak diangkat menjadi wakil presiden (Wapres) dan tiga tahun kemudian menjadi Wakil Ketua Partai Nasional Demokrat.

Setelah Presiden Anwar Sadat terbunuh pada 1981, sebagai Wakil Presiden, Mubarak otomatis terpilih menjadi Presiden Mesir. Kemudian, ia berhasil melanggengkan kekuasaannya pada pemilu 1987, 1993, 1999 dan 2005. Ini sekaligus membuat Mubarak menjadi presiden terlama di antara pemimpin lain di negara-negara Arab.

***

Masyarakat Mesir boleh saja memiliki harapan yang tinggi untuk segera melengserkan Mubarak. Namun, mengingat kepiawaiannya dalam memimpin selama puluhan tahun, bisa dipastikan ia tak akan menyerahkan kekuasaannya dengan mudah.

Apalagi, hingga kini Amerika Serikat, Eropa, dan Israel, masih tidak secara tegas menyatakan posisi mereka untuk mendukung aspirasi mayoritas masyarakat Mesir yang hendak menumbangkan rezim diktator ini.

Menurut Mark LeVine, seorang Professor sejarah pada UC Irvine, sejak 30 tahun, pemerintahan Mubarak memang menjadi aliansi tradisional dan salah satu pilar dari kebijakan luar negeri AS di kawasan ini.

Paling tidak, hal ini dikarenakan Mesir memiliki perjanjian damai dengan Israel. Tumbangnya Mubarak dikhawatirkan bakal membuat Ikhwanul Muslimin atau kelompok Islam lain, mengabaikan perjanjian yang dulu ditandatangani oleh pendahulu Mubarak, Anwar Sadat.

Tak heran bila kemudian bocoran terbaru dari WikiLeaks bahkan mengungkapkan bahwa pemerintahan Obama sempat menutupi kritisisme publik terhadap Mubarak.

Kabarnya, Kedubes AS untuk Mesir juga menasihati Menlu Hillary Clinton agar sama sekali tidak menyebut-nyebut bagaimana Mubarak memenjarakan dan menyiksa Ayman Nour, bekas kandidat presiden penantangnya di pemilu sebelumnya.

Maka tak heran, kendati ribuan pengunjuk rasa di Chicago telah meminta agar Presiden Barack Obama bersikap tegas untuk meminta Mubarak mundur, namun Obama hanya minta agar Mubarak agar tidak mengambil langkah-langkah kekerasan terhadap masyarakat yang tidak bersenjata.

Namun, ungkapan Obama itu seperti tidak memiliki impak apapun. "Para pengunjuk rasa yang melihat AS sebagai pendukung rezim otoriter, tak akan menganggap seruan Washington yang menyarankan penghindaran kekerasan. Sementara rezim otoriter yang telah berkuasa selama beberapa dekade itupun tidak akan serta-merta berubah hanya karena pernyataan dari Washington," kata Marina Ottaway pengamat dari Carnegie Endowment for International Peace.

Washington, kata Ottaway, mestinya harus berani memilih apakah akan memilih untuk mendukung demokrasi, atau terus mendukung rezim represif atas nama kepentingan strategis yang buruk. "Pesan-pesan yang beredar di Internet saat ini akan terkesan bahwa AS sekali lagi akan mendukung otoritarianisme."

***

Setelah enam hari berjalan, unjuk rasa rakyat Mesir ini sendiri telah memakan lebih dari 100 korban jiwa. Dengan berbagai cara, pemerintah Mesir berupaya untuk membungkam kaum oposisi termasuk dengan memblokir jejaring sosial Facebook, Twitter, bahkan akses internet dan SMS.

Kini mereka beralih dengan memanfaatkan radio amatir, faksimili, dan berbagai teknologi alternatif lain. Bahkan aktivis internet internasional dan kelompok hacker Anonymous membangun access point yang bisa menghubungkan jaringan telepon kabel (landline) Mesir agar terhubung dengan internet.

Namun, kian hari kondisi kian memanas. Kekacauan menyebar ke berbagai kota, pembakaran gedung dan penjarahan di mana-mana. Mesjid-mesjid berubah fungsi menampung korban-korban yang terluka dalam aksi. Bahkan kerusuhan di beberapa penjara memicu ribuan tahanan kabur entah ke mana.

Tak heran bila kemudian pemerintah AS memerintahkan warganya di Mesir untuk segera meninggalkan negara itu secepatnya. Diplomat-diplomat yang tak begitu esensial serta keluarga semua karyawan kedutaan juga hengkang dari Mesir. Ini merupakan kelanjutan dari langkah AS Jumat lalu yang telah mengeluarkan travel warning.

Langkah yang sama juga ditempuh oleh pemerintah Inggris dan pemerintah India, kendati pemerintah Indonesia belum menempuh langkah serupa.

Ada kekhawatiran yang beredar, bahwa pemerintah Mesir baru benar-benar berlaku keras terhadap para demonstran setelah warga negara barat benar-benar telah meninggalkan Mesir.

Kekhawatiran itu didasari oleh semakin diperbesarnya jumlah militer yang mengawal unjuk rasa di lapangan Tahrir Square, Ahad 30 Januari 2011. Situs resmi Ikhwanul Muslimin, IkhwanWeb, melaporkan bahwa militer Mesir telah menerima perintah untuk menembak para demonstran untuk 'melindungi' pemerintah.

Pesawat jet F-16 juga beberapa kali melintas di atas kerumunan demonstran di Tahrir Square. Di saat yang sama, situs Guardian melaporkan sesuatu yang selama ini dinanti banyak orang, yakni kehadiran tokoh oposisi yang dihormati, penerima penghargaan Nobel Mohamad ElBaradai, di antara lebih dari 20 ribu demonstran.

ElBaradai sendiri telah diberi mandat oleh lima kelompok besar oposisi termasuk Ikhwanul Muslimin untuk bernegosiasi seputar pembentukan 'pemerintahan penyelamatan nasional'.

Dalam pidatonya di depan para pengunjuk rasa, ElBaradai mengatakan agar rakyat Mesir bersabar karena menurutnya, perubahan akan datang dalam beberapa hari ke depan.


"Anda semua telah mengambil kembali hak Anda dan apa yang telah kita awali ini tidak bisa mundur lagi... Kita hanya punya satu permintaan - berakhirnya rezim lama dan awal dari sebuah fase, yakni Mesir yang baru," kata ElBaradai.

*sumber: vivanews.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

sak karepmu..!!

Minggu, 30 Januari 2011

Reporter: Abuhasan Surhim
---
"Kamu mau hidup sesukamu, silahkan..... tapi ingat kamu akan mati.
Kamu mau berbuat semaumu, silahkan.... tapi kamu hanya akan dibalas sesuai perbuatan mu. Kamu mau mencintai apasaja siapa saja, silahkan... tapi kamu pasti akan berpisah dengannya."

Demikian nasihat Malaikat Jibril kepada baginda Nabi Muhammad saw suatu saat.

"sak karepmu", kata orang jawa. "up to you" versi english-nya, "sore wa anata shidaidesu" kata naruto.

Hidup adalah pilihan. Dan manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan menentukan pilihan hidupnya. Setiap saat, detik, menit, hari, beragam pilihan hidup menghampiri kita. Tentu ujung pilihan itu adalah suatu konsekwensi (bukan pilihan lagi).

Bagi kita orang yang beriman, hidup yang begitu singkat dan dunia yang begitu kerdil, haruslah membuat pilihan yang menguntungkan di kehidupan yang abadi.

Tidak ada masalah yang lebih besar di dunia ini daripada beramal untuk bekal hidup setelah mati. Semua urusan dunia itu kecil dan kerdil selain urusan amal.

Demikian ringkasan taushiyah yang disampaikan Kang Makhroji pada kajian ahad pagi tadi (30/1/11) di masjid Al-Ikhlas Sampakan Piyungan.

Sepanjang satu jam membersamai ikhwan akhwat kader-kader DPC PKS Piyungan, ustadz yang sangat khas tiada duanya ini mampu membuat hadirin terhenyak. Sesekali tak terasa menetes air mata.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta anugerahkanlah kepada kami keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami adalah yang terjadi pada agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi kecenderungan kami yang paling besar dan jangan jadikan ilmu pengetahuan kami hanya sekedar dunia, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah, jadikanlah amal terbaik kami pada penutupnya, jadikan sebaik-baik umur kami pada saat kami mengakhirinya, dan jadikan hari terbaik kami pada saat kami bertemu dengan-Mu.

Ya Allah berilah taufik kepada kami semua untuk senantiasa berbuat kebajikan dan menjauhi kemungkaran-kemungkaran.

Amin...

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Pokoke Tsiqoh..!!!

Jumat, 28 Januari 2011

Reporter: Tiqu Wijayanti
Ahad, 23 Januari 2011. Sejak pagi sinar matahari sudah tak muncul, hujanpun turun dengan riangnya. Sehingga langkah kakipun terasa kaku untuk bergerak, terlebih ketika hujan semakin deras.. Tapi ini tiada mengurungkan niat kami untuk menghadiri acara Temu Kader Partai (TKP) DPRa PKS Sitimulyo.

Ahad itu, agenda rutin bulanan DPRa Sitimulyo ini bertempat di rumah pak Didi Darmadi. Dan diiringi guyuran hujan, satu persatu kader memadati rumah beliau di dusun Nganyang Sitimulyo Piyungan.

“Wah..., hujannya deres banget basah semua dech," kata Bu Titi Banyakan yang datang bersama putrinya.

Ada juga yang sms pamitan kalo datang terlambat karena hujan juga. Alhamdulillah sekitar pukul 14.00 wib acara dimulai dengan dihadiri 25 kader ikhwan dan akhwat Sitimulyo tak ketinggalan pula jundi-jundiyah para kader yang selalu ikut memeriahkan suasana dalam setiap acara.

Menu acara TKP ini beraneka rupa, ada taujih (pengarahan) dari Pak Lurah (Ketua DPRa) Sitimulyo, ada Taushiyah (nasehat) dari Kabid Kaderisasi DPC Piyungan, dan ada juga arisan yang makin membuat acara TKP ini seperti manisan.... (manis ukhuwahnya gitu lho! )

Pada sesi taushiyah, Ustadz Danie Asy-Syakib (Kabid Kaderisasi DPC PKS Piyungan) menyampaiakan tentang Tsiqoh.

Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dalam hal ini, memberikan kalimat yang indah, beliau mangatakan: "Yang saya maksudkan dengan tsiqah [kepercayaan] adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan."

Tsiqoh merupakan penguat dari bangunan dakwah ini. Tsiqoh pada pemimpin, ia menjadi syarat memasuki gerbang dakwah ini. Tanpanya tidak tercipta kekuatan shaf dan jamaah. Tsiqoh juga bisa diterapkan kepada teman dan keluarga. Dengan lemahnya tsiqoh ini maka akan selalu diikuti dengan su’udzon (berprasangka buruk) dalam menafsirkan dan menerjemahkan setiap ucapan dan tindakan yang keluar dari mereka. Hal ini, pada akhirnya menyebabkan saling membenci, saling memutus hubungan, dan berpecah. Yang berakibat pada lemahnya shaf barisan dakwah, dan gagal menghadapi tantangan musuh.

Demikian ringkasan taushiyah ustadz Dhani Asy-Syakib secara lugas yang dikaitkan juga dengan realita di tataran DPRa (hubungan antara Ketua DPRa dan seluruh kader DPRa secara timbal balik), agar DPRa (Sitimulyo khususnya) lebih solid dan lebih dinamis dalam kinerja dan kerja-kerja dakwahnya di tengah-tengah masyarakat.

Semoga kita selalu istiqomah dan tsiqoh dalam jalan dakwah ini. Allahu Akbar..!!!

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Syeikh Al Azhar: "Penyakit Umat Islam adalah Perpecahan"

Kamis, 27 Januari 2011

Syeikh Al Azhar, Dr. Ahmad At Thayyib menyatakan bahwa pengkafiran dan pemfasikan adalah perkara penyebab rusaknya masyarakat Muslim. Hal itu beliau sampaikan dalam sesi pembukaan "Forum Alumni Al Azhar VI," yang mengangkat tema tentang persatuan dalam komunitas Ahlu Sunnah, demikian lansir onislam.net, (25/1).

Selain itu, Dr. Ahmad Thayyib juga menyatakan, “Penyakit umat Islam adalah perpecahan dan perselisihan intern. Ini adalah penyakit yang buruk, yang merupakan titik lemah yang dimanfaatkan oleh para penjajah, yang masih menggunakan strategi belah bambu.”

Masalah perpecahan juga berpengaruh kepada umat Islam khususnya para pemuda. Menurut beliau, para pemuda Muslim saat ini terlibat perselisihan kuat di antara mereka karena madzhab. Perselisihan ini memalingkan perhatian mereka dari masalah al-Quds, serta penyerangan Amerika terhadap Iraq, Afghanistan serta Sudan.

Dr. Ahmad At Thayyib juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang jelas-jelas “mempermainkan” fiqih madzhab imam empat dan menggantinya dengan fiqih baru dan mewajibkannya kepada masyarakat.

Beliau juga memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.”

Syeikh Al Azhar juga berpesan bahwa umat mestinya belajar bagaimana mereka toleransi kepada sesama mereka dan Al-Azhar pada waktu yang akan datang di forum ulama Ahlu Sunnah akan membahas tema, ”Ikhtilaf dalam Bingkai Persatuan”, yang juga akan membahas masalah takfir dan perseteruan.

---

Al-Qaradhawi: "Jangan Dengar Dukhala Ilmi!"

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam pembukaan Forum Alumni Al Azhar VI, yang mengangkat tema tentang "Persatuan dalam Komunitas Ahlu Sunnah" juga memperingatkan bahwa pengkafiran dan penyesatan sesama umat Islam membuat umat ini akan terpecah-belah.

Dalam sesi mudakhalat (masukan) Syeikh Dr. Yususf Al Qaradhawi, selaku Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional memperingatkan adanya usaha kelompok fanatik yang menyesatkan Al-Asy’ariah (pengikut theologi Sunni yang banyak dianut ulama madzhab As Syafi’i dan Al Azhar sendiri).

"Kalau umat Islam berjalan di belakang kelompok fanatik ini, maka ummat akan lenyap dan terpecah-belah.”

Beliau juga memperingatkan agar umat tidak perlu mendengar mereka yang bukan ahli ilmu, “Tidak sepatutnya umat Islam melakukan pengkafiran dan tidak perlu mendengar dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya).”

Beliau juga memberikan masukan dalam forum agar memberikan pencerahan kepada umat dengan pengetahuan yang membuat mereka bersatu. Dan para ulama bertanggung jawab dalam menyatukan umat.

"Maka kita perlu melakukan upaya untuk mendekatkan kelompok yang terpecah belah untuk menyatukan mereka."

Ulama yang menetap di Qatar ini optimis bahwa perbaikan umat juga akan datang dari Al-Azhar, karena alumninya menyebar di berbagai wilayah dunia Islam.

*sumber: hidayatullah.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Liqo Sensasi Delight

Selasa, 25 Januari 2011

by: abuhasan surhim
---
"mau pesen apa..?" tanyaku.

"bingung pak, terserah aja dech. tsiqoh kita pak," kompak para ikhwah menjawab setelah lima menitan membolak-balik daftar menu yang malah makin bingun.

"tapi, khusus mas Ndut pesennya pokoke yang ada nasinya...," canda akh sunardi yang langsung disambut tawa yang lain.

"iya bro, di gunung kidul adanya cuma tiwul," balas mas Ndut sambil senyam-senyum.

"sudah siap pesen, kak?" tanya pramusaji berjilbab rapi.

"mbak, kita pesen 3 paket ber-4 stuffed crust sensasi delight dengan toping sosis dan keju plus salad. minumnya blue ocean. tambahannya 2 pan pizza super supreme personal dan 1 lagi tambahan minum blue ocean."

"salad iki opo toh..?" polos akh haryadi bertanya pada pramusaji.

"salad pondoh.... itu akhi..," ledek akh wargito yang bikin geerrr tak terkecuali mbak pramusaji.

ini memang malam spesial. rutinitas liqo senin yang biasanya bergiliran dari rumah ke rumah, khusus kemarin (senin, 24/1/11) mencicipi suasana lain outlet pizza di ambarukmo plaza. 13 ikhwah piyungan ndeso mlebu kuto di jantung jogja.

"gak pernah ke bayang bisa kesini. kayak di dunia mimpi, pak," mas Ndut masih tak percaya walo sudah duduk di kursi empuk.

sekira tiga menit pramusaji kembali datang menghidangkan 13 minuman blue ocean plus 3 porsi garlic breed sebagai menu pembuka. dan sekejap, garlic breed yang gurih hangat langsung ludes tak bersisa. maklum, tadi maghrib ikhwah buka puasa hanya meneguk air mineral kecil, lalu sholat maghrib jamaah di masjid sebrang mall. baru usai ba'diyah maghrib kita ke outlet pizza.

lima menit kemudian barulah hidangan utama tersajikan.

"sendoknya mana nich. kok cuma garpu sama pisau?" tanya akh agus yang baru pertama kali ikutan acara beginian.

"liat aja itu pakde yang udah ahli makai pisau dan garpu," ujar akh parman ketua dpra pks sitimulyo sambil liat pakde mujiran yang memang keliatan sudah ahli. sopir toko bangunan ini memang sudah pengalaman ketika buka puasa bersama liqo di waroeng steak sekira tiga bulan yang lalu.

"alhamdulillah.....," koor para ikhwah usai menyantap habis tak bersisa.

"wah, tukang cuci piringnya bakalan seneng nich gak usah repot-repot nyuci piring kita," celetuk akh sinyo melihat gelas dan piring semuanya bersih.

"kita nanti sholat isya berjamaah di masjid sampakan piyungan," ujar ane usai ke kasir.

oh ya, bukan ane lho yang nraktir para ikhwah. buka puasa bersama liqo sensasi delight ini sponsor utamanya adalah akh bachtiar sebagai tasyakuran atas diterimanya beliau jadi pns.

tengkyu pak dosen. jazakallah khairon. pasti Allah akan memberi balasan yang lebih baik.

“Sesungguhnya Allah berkata pada hari Kiamat, ‘Dimanakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? pada hari ini, Aku akan melindunginya, ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim)

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Sekejapku bersama Izrail (Kisah Nyata Ikhwah)

Senin, 24 Januari 2011

Reporter: Dhanie Asy-Syakib
Tarbiyah Tsaqofiyah yang menjadi program unggulan Bidang Kaderisasi DPC PKS Piyungan tahun ini, terus hadir dengan menyajikan tema-tema menarik untuk dikaji dan digali, tentu dengan menghadirkan para pemateri (baca: Ustadz) yang kafa’ah di bidangnya.

Begitupun pada hari, Ahad, 23 Januari 2011, bertepatan dengan Ahad Legi (nama “pasaran” orang Jawa digunakan untuk memudahkan para peserta Tatsqif, yang mayoritas memang berada di masyarakat pedesaan). Tatsqif di pagi hari itupun kembali hadir menyapa para perindu syurga dengan tema besar “Pengalaman Mati Suri”.

Tema yang sekilas “menakutkan”, namun ternyata penting bagi para kader dan simpatisan PKS Piyungan, terlebih mereka yang memang ber-azzam hidupnya berujung dengan husnul khotimah kelak, dengan bekal amal sholeh yang banyak dan berkwalitas. Subhanalloh, terbukti peserta yang hadir di kajian pagi itu cukup banyak, seluruh ruangan di Masjid Al-Ikhlas Sampakan, penuh terisi para pencari ilmu.

Memang kematian, sebuah keniscayaan, yang pasti akan dialami bagi setiap yang bernyawa, termasuk kita manusi. Nah, by the way, kematian bukan butuh pengalaman, namun justru yang dibutuhkan adalan PERSIAPAN menghadapi kematian dan bekal sudahnya. Karena juga, orang yang pengalaman kematian (baca: sudah mengalami mati), tentu tidak semua orang. Kalaupun toh itu ada, tentu juga karena Karunia besar dari ALLOH dan sebagai ibroh yang diberikan oleh ALLOH kepada si hamba agar semakin taat kepada KHOLIQnya. Mengingat kematian sebagai salah satu ikhtiyar kita untuk bekal kita kelak. “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Materi ini lebih menarik karena yang menyampaikan sudah mengalami peristiwa tersebut, yakni mati suri. Beliau adalah Ust Juni Al-Jundi, seorang aparat di Dinas Pertanian yang tinggal di wilayah kecamatan Depok, Sleman, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Didampingi moderator, akh Eko “Adam’ HP, Ketua DPRa PKS Srimartani, yang juga seorang host dan penyiar radio ternama di Yogyakarta, Kisah “pengalaman” beliau ini berawal dari sakit yang diderita beliau yang berkenaan dengan kulit tangan yang terluka. Suatu hari, beliau yang masih sakit, bersih-bersih di sekitar rumahnya, yang ternyata tak sedikit dijumpai tikus. Beliau membersihkan lingkungannya tersebut hanya dengan menggunakan tangan tanpa kaos tangan, sehingga tanpa disadari, beliau memegang dan membersihkan air kencing tikus, yang ternyata mengandung virus membahayakan (Virus Leptosira), jika masuk ke peredaran darah manusia. Terlebih beliau memang sedang sakit luka dikulit tangannya, sehingga virus dari tubuh tikus melalui air kencing tikus tersebut masuk ke peredaran darah beliau.

Singkat cerita, beliau mengalami demam tinggi dan masuk ke IGD sebuah Rumah Sakit di Yogyakarta, dan beliau memang divonis mengalami virus yang disebabkan dari tikus. Kondisi beliau tak sadarkan diri samapai 13 hari. Selama tak sadarkan diri itulah beliau mengalami peristiwa-peristiwa yang sangat penting dan menjadi ibroh bagi beliau, terlebih ALLOH memberikan karunia hidup kembali.

Urgensi dari pengalaman mati suri, papar beliau, adalah ikhtiyar kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian dan bekal sesudahnya. Sebagai tadzkiroh kita agar kita bisa selalu INGAT kematian(sebagaimana dalam kitab At-Tadzkirah karya Imam Qurtubi, tambah ust Jundi), adalah dengan mengetahui tanda-tanda peringatan kematian tersebut, yakni ; Sakit (demam), Rambut yang sudah beruban/putih dan Kematian di sekitar kita.

Ya, kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap yang bernyawa, termasuk kita manusia. Karenanya hikmah yang bisa petik adalah, upaya kita untuk menjadi orang yang “cerdas”, sesuai dengan hadits Nabi ; “ Orang Cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah matinya”.

Lantas, untuk menyelaraskan maksud kita diatas, tentu segenap peluang yang kita punyai akan kita manfaatkan sebaik mungkin agar kematian benar-benar menjadi pintu keberkahan kita, perjumpaan seorang hamba yang merindukan kekasih sejatinya, ALLOH SWT. Apapun yang telah dianugerahkan ALLOH kepada kita, anugerah jasmani ma’nawi, maliyah da’wiyah dll tentu akan kita dedikasikan kepada ALLOH sebagai bekal kita sesudah kematian kita kelak.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…”. Dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat) Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Wallohu a’lam.
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Sekejapku bersama Izrail

Minggu, 23 Januari 2011

by: Herlia Annisa*
---
Aku tak tahan, aku mau mati saja! Sepertinya hidup sudah tak lagi punya muatan, kosong dan hampa. Kiri, kanan, depan, belakang yang terlihat hanya tembok-tembok yang menjulang tinggi. Menghalangi pandanganku, gelapkan mataku akan hayal, angan, dan nyata.

Arghhhh,, aku ingin matiiii…!!!” jeritku.

“Benarkah?” tanya seseorang tiba-tiba.

Aku terperanjat, seorang laki-laki berjubah kelabu terduduk di sampingku. kepalanya ditutupi oleh tudung jubah yang juga kelabu. Yang terlihat hanyalah sebagian rambut yang terjuntai hingga menutupi pelipisnya.

“Siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba ada disampingku? Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?”

Aku memberondong pria misterius itu dengan pertanyaan bertubi. Tentu saja aku heran. Bagaimana orang ini bisa masuk kedalam kamar lalu duduk disampingku tanpa aku sadari. Sementara pintu kamar semenjak tadi siang telah kukunci rapat-rapat.

“Hey, tenang! Pelanlah sedikit, tak usah terburu-buru seperti itu. Perkenalkan.... aku Izrail.” jawabnya sambil berdiri lalu membuka tudung kepalanya.

Aku melompat karena kaget. Bukan hanya karena dia menyebut nama Izrail tapi lebih karena melihat seraut wajah mempesona yang sempat tersembunyi dibalik jubah kelabunya tadi. Ya Tuhan, siapakah makhluk misterius ini? Benarkah dia Izrail sang malaikat maut? Aku tak percaya! Makhluk ini adalah seorang laki-laki yang terlalu tampan untuk menyandang predikat sebagai pencabut nyawa.

“Heh!!! Jangan ngarang kamu. Mustahil kamu Izrail!” cibirku sinis.

“Kenapa! Kamu tidak percaya?”

“Tentu saja tidak. Selama ini aku selalu dijejali cerita tentang sosok Izrail yang menyeramkan.”

“Hey, hey, kamu pikir malaikat maut itu harus seram dan buruk rupa ya? Sungguh sebuah pemikiran yang dangkal.” ujarnya sambil tersenyum simpul penuh misteri.

Aku terkesiap menatap senyumnya. Ah, tidak! Terpesona lebih tepatnya.

“Tentu saja harus menyeramkan. Izrail itu kan berprofesi sebagai pencabut nyawa. Melihat sosokmu yang menawan seperti ini bagaimana mungkin manusia takut menghadapi kematian.” aku terkekeh.

“Bagaimana bila kubuktikan kalau aku memang sang pencabut nyawa!” dia menantangku.

“Oh, silahkan, silahkan, aku tak percaya.” jawabku sambil tertawa lepas.

“Lihatlah kemari. Sesungguhnya bukan wujudku yang membuat kalian -para manusia- ketakutan menghadapi mati, tapi ini!” makhluk itu berbicara dan lalu merentangkan kedua tangannya yang tertutupi jubah.

Susana berubah mencekam seketika. Angin dingin serta merta menghadirkan perasaan tak menentu dalam diriku. Lalu tiba-tiba kamarku dipenuhi kabut putih yang tebal, entah darimana kabut itu berasal. Aku tak mengerti! Tak berapa lama kabut pun memudar berganti merah. Tampak api yang tengah menyala-nyala menjilati sesosok tubuh perempuan yang menggeliat-geliat bagai daun kering yang terbakar. Dia tampak begitu kesakitan, jeritannya membahana memenuhi rongga kepalaku.

“Itu, itu seperti aku?” tanyaku sambil menunjuk ketengah kobaran api.

“Iya, itu kamu yang sedang terpanggang di neraka karena dosa-dosamu.”

“Dosa-dosaku?”

“Tentu saja. Dosa-dosamu yang bertumpuk hingga melebihi tingginya gunung. Kamu tentunya belum lupa kan apa saja dosa-dosamu itu?” setengah berbisik dia bertanya padaku.

“Bersiaplah! Aku akan mengambil nyawamu sekarang!” makhluk itu berujar seraya mendekatkan wajahnya padaku.

Aku bergidik, tak lagi terpesona. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu. Antara takut, seram, ngeri, heran, dan tak percaya. Entah rasa seperti apa yang menjadi penguasa dalam hatiku sekarang ini. Ya Tuhan! Ternyata dia memang benar Izrail.

“Bagaimana, kamu sudah siap?” Izrail sekali lagi mengajukan pertanyaan kepadaku.

“Aku..., aku...”

Aku tak sempat menjawab, Izrail telah lebih dulu mencengkeram leherku. Mencekiknya dengan erat sembari mengangkat tubuhku hingga tak menapaki bumi. Aku sesak, tak mampu bernafas. Sekuat tenaga kaki dan tanganku meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Izrail.

“Stop..., hentikan..., sakit...!!!”

Aku berusaha tuk berkata-kata, tapi suaraku tercekat ditenggorokan. Diantara keremangan malam dan kesadaran yang mulai menurun kulihat Izrail tertawa-tawa penuh rasa puas. Tiba-tiba Izrail melonggarkan cengkeramannya dan lalu melepaskan tangannya dari leherku. Aku megap-megap bagai ikan yang kekeringan. Dengan napas tersenggal aku berusaha menghirup sebanyak mungkin oksigen untuk memenuhi rongga paruku yang tadi sempat kehilangan udara.

“Kenapa kamu minta berhenti? Bukankah tadi kamu menjerit-jerit inginkan mati.” Izrail bertanya padaku.

“Aku.., aku belum siap. Aku tak sanggup menahan rasa sakitnya.” jawabku.

“Itu belum seberapa. Mati jauh lebih sakit. Lain kali jangan sesumbar ingin mati. Kamu pikir bercengkrama denganku itu enak ya?” cibir Izrail penuh kemenangan.

“Dan satu lagi! Jangan pernah memanggil-manggil kematian sebelum waktunya. Aku tidak suka!” lanjut Izrail.

Kemudian perlahan Izrail dan segala kengerian yang tadi sempat ditimbulkannya menghilang dari hadapanku. Meninggalkan berbagai pertanyaan yang mungkin tak kan pernah terjawab.

*dicuplik dari: cerita fiksi kompasiana.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Aliansi Suporter Sepak Bola Audiensi dengan F-PKS

Jumat, 21 Januari 2011

[Tempointeraktif.com] - Aliansi Save Our Soccer (SOS) mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jumat (21/1). Gabungan dari suporter, mahasiswa dan lembaga masyarakat ini akan melakukan audiensi dengan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), siang ini.

"Kami ingin meminta dukungan DPR terkait persoalan sepak bola Indonesia," kata Emerson Junto, Wakil Koordinator ICW (Indonesia Corruption Watch) yang tergabung dalam aliansi SOS, kepada Tempo, Jumat (21/1).

Dalam aksi ini, kata Emerson, ada tiga poin yang ingin disampaikan. Pertama, menuntut DPR agar meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit keuangan PSSI. Kedua, lanjut Emerson, terkait fungsi penganggaran dana oleh DPR dan DPRD. "Kami meminta DPR dan DPRD menyetop aliran dana yang mengalir ke klub-klub sepak bola di daerah,"katanya.

Poin terakhir, adalah mengimbau DPR dan politisi fokus menangani apresiasi rakyat dengan membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat. "Jangan mencampuri urusan sepak bola," tegas Emerson. Menurutnya, adanya keterlibatan politikus di kepengurusan PSSI menjadi salah satu penyebab buruknya prestasi sepak bola Indonesia.

Kali ini, aliansi baru akan menemui Fraksi PKS karena merekalah yang saat ini mempunyai waktu dan bersedia menerima mereka. Usai dari DPR, aliansi SOS akan melakukan audiensi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, sekitar pukul 13.30 WIB.

*sumber: tempointeraktif.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Membaca Revolusi Tunisia

Oleh: Musthafa Luthfi*
Para pemimpin, analis, media Arab pada awal tahun baru 2011 ini sejatinya disibukkan oleh sejumlah isu yang lebih "panas" serta menyedot perhatian dan tenaga yang lumayan besar terutama terkait krisis politik di Libanon yang dapat menjurus ke perang saudara dan terpisahnya Sudan Selatan yang dapat mengancam keamanan regional Arab.

Tidak ada yang menduga, letupan di Tunisia yang dimulai sejak bulan Desember tahun lalu akhirnya dapat menumbangkan Zine El Abidine Ben Ali, sang rezim diktator yang juga anti terhadap segala bentuk kehidupan yang berbau Islam. Ben Ali yang oleh kebanyakan warga Tunisia biasa dijuluki Ben A Vie (dari bahasa Prancis yang berarti seumur hidup), sebagai bentuk ejekan karena ingin berkuasa seumur hidup di negeri berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu.

Ben A Vie yang sejak muda mendapat didikan Prancis tersebut menjadi Presiden Tunisia kedua sejak negara itu merdeka dari Perancis pada 1956 setelah mundurnya Presiden pertama Habib Bourguiba karena sakit-sakitan akibat penyakit tua renta pada 7 November 1987. Ben A Vie yang diharapkan mengadakan perubahan dari rezim diktator pendahulunya ternyata lebih parah, termasuk yang terkait dengan kehidupan yang berbau Islam yang menjadi agama 99 % rakyat negeri itu.

Di era keterbukaan yang mewarnai dunia Islam pada umumnya di akhir 1990-an atau pada awal abad 21, rezim diktator Ben A Avie sama sekali tidak peka. Selain terus memperkuat kekuasaan dengan menumbangkan tokoh oposisi, sang Presiden yang sudah berkuasa selama 23 tahun itu juga benar-benar berusaha terus "membuang" Islam dari tubuh negeri yang pernah ikut berjasa menyebarluaskan Islam ke seantero Afrika dan Eropa itu.

Sekularisme mutlak menjadi rujukan dan tidak boleh ada yang berbau agama termasuk pakaian penutup aurat terutama bagi kaum Muslimah dan ta`mir (menyemarakkan) masjid dimana pada masa kekuasaanya pelaksanaan shalat di masjid sangat dibatasi juga larangan mutlak wanita Muslim menggunakan hijab di luar rumah. Tunisia pada masa kekuasaan Ben Avie seolah-olah lebih eropa dari negara-negara Eropa sendiri.

Meskipun penulis belum sempat menginjakkan kaki di negeri Zaitun itu selama masa kekuasaan Ben A Avie sehingga kemungkinan besar tidak dapat membedakan secara langsung dengan masa pasca tumbangnya rezim ini bila ada kesempatan berkunjung dalam waktu dekat, namun dari penuturan banyak mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di negeri itu, sedikitnya memberikan gambaran betapa bencinya sang penguasa tirani itu atas ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Penulis sebenarnya masih penasaran (setengah percaya) dengan penuturan rekan-rekan mahasiswa tersebut, hingga akhirnya bertemu teman, seorang dosen Tunisia di Yaman. Ia ternyata teman se-almamater saat melanjutkan S3 di Universitas Omm Darman Khartoum, Sudan yang sekarang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Yaman. Ia memilih meninggalkan negerinya setelah sempat beberapa lama mengajar di beberapa perguruan tinggi negara asalnya karena merasa tidak nyaman dengan kondisi negerinya yang sangat parah terutama terkait akhlak dan tadayyun (semangat melaksanakan ajaran agama).

"Apa yang Anda dengar tentang kondisi masyarakat negeri kami bukan bualan, tapi kenyataan yang sangat menyedihkan sehingga saya memilih meninggalkan Tunisia dan mengajar di Yaman," kata Dr. Ali suatu ketika. "Sebagai contoh, saya yang mengajar Studi Islam di depan mahasiswi-mahasiswi yang kami ajar dengan pakaian yang sangat tidak masuk akal sebagai mahasiswi Islam, misalnya dengan hanya pakai celana pendek dan pakaian yang mempertontonkan lekuk-lekuk aurat".

Merasa kondisi seperti itu sudah hampir tidak mungkin diubah, ia memboyong keluarganya ke negeri Sheba dan menetap sejak 6 tahun lebih. Sebagaimana halnya dengan sejumlah tokoh Muslim, akademisi dan pakar Tunisia lainnya yang menetap di luar negeri, Ali juga kemungkinan besar akan segera balik ke negeri tercinta setelah tumbangnya rezim diktator anti Islam tersebut.

Terlepas dari perebutan kekuasaan antar kalangan parpol di negeri itu setelah tumbangnya rezim diktator pada 14 Januari lalu, yang jelas wajah Islam dan tadayyun
(semangat melaksanakan ajaran agama) akan kembali mewarnai negeri itu setelah sempat dipasung selama setengah abad sejak rezim Bourguiba hingga Ben A Vie. Hampir dipastikan bahwa roda sejarah tidak akan berputar lagi ke belakangan di salah satu negeri Arab yang dekat dengan daratan Eropa itu, bahkan saat ini sedang dibahas amandemen konstitusi yang akan menghapus pemasungan kebebasan melaksanakan syariat, parpol yang berlandaskan Islam dan berbagai pemasungan lainnya.

"Tunisia saat ini telah melepaskan diri dari fase gelap masa kekuasaan Ben Ali di semua tingkatan mulai politik, sosial dan pelaksanaan ajaran Islam. Tadayyun adalah bagian yang tak terpisahkan dari rakyat Tunisia yang Muslim namun sempat mengalami pemudaran pada masa Ben Ali," papar Dr. Nur el-Din Mukhtar al-Khademi, Ahad (16/1).

Seorang pakar Muslim Tunisia ini dalam wawancaranya dengan salah satu situs Islam menjelaskan bahwa tadayyun akan lebih kokoh dan meluas di masa mendatang. "Sebagai contoh, begitu Ben Ali melarikan diri, rakyat Tunisia bebas melaksanakan shalat di jalan-jalan dan masjid-masjid tanpa perlu menunjukkan kartu," paparnya lagi.

Sebagaimana diketahui, pada masa kekuasaan sang diktator, setiap warga harus membawa kartu khusus ijin shalat di masjid tertentu yang ditandatangai petugas saat masuk dan saat keluar agar tidak segera meninggalkan masjid. Tentang akan maraknya kembali kaum Muslimah yang menggunakan hijab, al-Khademi mengatakan bahwa hijab sebenarnya tidak pernah lepas dari kaum Muslimah Tunisia dan bagian dari kesadaran beragama.

Pertama di Arab

Kejadian dramatis tumbangnya rezim Tunisia akibat revolusi rakyat tersebut merupakan pengalaman pertama di dunia Arab karena berbagai alih kekuasaan yang terjadi di berbagai negara Arab selama ini berlangsung lewat kudeta (baik kudeta berdarah atau kudeta putih/damai) atau sang penguasa didahului ajal sebelum masa kekuasaannya berakhir.

Sebagai contoh revolusi para personil AB Mesir terhadap dinasti Raja Farouk pada 1952, kemudian diikuti oleh puluhan kudeta di negara-negara Arab lainnya. Revolusi pertama kali dan serupa dengan kejadiaan di Tunisia itu untuk kawasan Timur Tengah terjadi di Iran pada 1979 yang menjatuhkan Sah Reza Pahlevi, sang diktator pendukung kuat Zionis Israel.

Menggambarkan kejadian di Tunisia, seorang analis Arab Saudi, Abdurrahman al-Rashid dalam kolomnya di harian al-Sharq al-Awstah, Ahad (16/1), menyebutkan bahwa sejarah menulis banyaknya revolusi di Arab, namun tak satu pun berbentuk revolusi sesungguhnya dengan kata lain revolusi rakyat. ``Semuanya karena kudeta atau alih kekuasaan secara paksa, karenanya revolusi di Tunisia membukukan sejarah baru sebab berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya,`` paparnya.

Dia menggambarkan situasi di negeri dengan luas sekitar 163 ribu km2 atau 1,2 dari luas Pulau Jawa itu sebagai diluar jangkauan radar para pengamat dan hampir semua analis melihat bahwa kerusuhan hanya bersifat sementara dan aparat beserta tentara pasti akan segera memadamkannya. Pandangan ini banyak benarnya mengingat Ben Ali yang memiliki ribuan pasukan keamanan khusus dapat bertindak dengan tangan besi.

Sebelumnya banyak pihak yang berpendapat bahwa kerusuhan di negeri Zaitun ini lebih bersifat ekonomis karena banyaknya pemuda yang menganggur. Asumsi ini didasari karena letupan tersebut bermula dari unjuk rasa karena kesulitan ekonomi dari kota wisata, Sidi Bou Said yang meluas ke seantero negeri menimbulkan korban lebih dari 60 orang tewas.

Namun sejatinya yang terjadi adalah krisis politik yang lebih luas dibandingkan dengan masalah ekonomi dan pengangguran. Dengan kata lain, permasalahan utamanya adalah kebencian yang demikian memuncak terhadap pemerintahan diktator Ben Ali dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintahannya.

"Intinya pengangguran adalah satu-satunya yang tersisa sebagai sarana untuk menggugat pemerintah dan menunjukkan ketidakpercayaan terhadapnya. Pelaksanaan Pemilu selama ini hanya sebatas drama politis untuk melanggengkan kekuasaan tangan besi," ujar sejumlah analis lainnya.

Kondisi ekonomi memang buruk namun tidak seburuk kebanyakan negara Arab lainnya. Angka pengangguran misalnya 13 % bandingkan dengan Yaman yang mencapai 30 %, kemudian daya beli rakyat lebih tinggi dibandingkan tetangganya Libya yang penghasil minyak, sementara angka pertumbuhan ekonominya lebih tinggi dari tetangga lainnya, Aljazair yang menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia.

Meskipun Tunisia miskin sumber alam dan hanya menggantungkan pendapatan di sektor pertanian dan pariwisata, namun berada di urutan teratas di dunia Arab dalam urusan pendidikan warganya. Negara ini masuk nomor 18 seluruh dunia yang paling banyak anggaran pendidikannya dan masih bertahan di urutan pertama di dunia Arab.

Apapun alasan jatuhnya Ben Ali atau Ben A Vie itu yang jelas rakyat Tunisia telah membukukan sejarah dan berhasil mengubah status quo di dunia Arab yang seolah-olah tidak mungkin diubah. "Rakyat Tunisia telah berhasil keluar dari kegelapan dan mengubah status quo yang seolah-olah tidak akan pernah bisa diubah," papar Zahir Majid, seorang analis Arab, Senin (17/1).

Pesan

Rakyat Tunisia yang meskipun jumlahnya kecil namun besar ditinjau dari pengorbanan dan harapan mereka, juga telah membuktikan diri sebagai sosok yang kuat dalam memerangi kezaliman, penguasa tiran dan memperjuangkan suatu keadilan.

Begitu juga dengan angkatan bersenjata negeri itu yang akhirnya memihak kepada rakyat dan menolak memuntahkan peluru senjata mereka ke warga sipil tak berdaya. Bahkan saat ini mereka sedang bentrok melawan pasukan keamanan khusus Presiden terguling (diperkirakan berjumlah 6 ribu personil), yang masih mencoba untuk membalikkan jarum sejarah.

Karena itu, kejadian di Tunisia itu bisa jadi sebagai pesan bagi para penguasa lainnya terutama di dunia Arab sebab tidak menutup kemungkinan dapat meluas ke negara-negara Arab lainnya. Paling tidak ada dua pesan penting dari letupan Tunisia, menurut Al-Rashid lagi, yang pertama bahwa masalah ini bukan hanya khusus bagi Tunisia tapi pelajaran bagi Arab lainnya, dan yang kedua persoalan ekonomi tidak bisa diatasi dengan pendekatan ekonomi semata.

Pelajaran lainnya, menurut Abdul Bari Athwan, pengamat Arab yang mukim di London adalah sikap tentara Tunisia yang patut dicontoh tentara-tentara Arab lainnya. "Tentara Tunisia telah menolak menjadi alat penindas oleh para penguasa untuk melanggengkan kekuasaan dan tindak korupsi korupsi mereka," tandasnya.

Karena itu, tidak berlebihan bila muncul kekhawatiran letupan itu akan meluas ke negara-negara Arab lainnya terutama yang masih tetap ingin melanggengkan status quo. Terlepas dari kekhawatiran tersebut, yang jelas hengkangnya Ben A Vie akan membuka lembaran baru bagi salah satu negeri Arab Maghribi ini terutama yang terkait dengan bangkitnya kembali semangat melaksanakan ajaran agama (tadayyun) setelah dua rezim berkuasa berusaha memadamkannya lebih dari setengah abad. [Sana`a, 14 Safar 1432 H/hidayatullah.com]

*Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com, kini tinggal di Yaman
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Sampai kapan penegak hukum mempermainkan kasus Gayus?

Kamis, 20 Januari 2011


Sampai kapan penegak hukum mempermainkan kasus Gayus Halomoan Tambunan? Inilah pertanyaan yang muncul di benak banyak orang setelah kemarin (19/1/11) Gayus divonis 7 tahun penjara. Sudah dua kali Gayus divonis, tapi kasus bekas pegawai pajak ini bukannya semakin terang, tapi malah semakin keruh.

Publik mungkin kecewa terhadap putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu. Hukuman yang mereka jatuhkan jauh di bawah keinginan jaksa, yang menuntut terdakwa dengan hukuman 20 tahun penjara. Tapi yang perlu disoroti sebenarnya bukanlah putusan hakim, melainkan dakwaan. Sungguh sulit hakim menjatuhkan hukuman yang berat jika Gayus hanya didakwa dengan pasal yang ancaman hukumannya ringan.

Gayus hanya didakwa memberi keterangan palsu dan menyuap penegak hukum. Kalaupun jaksa menjeratnya dengan Undang-Undang Pemberantasan Korupsi, tudingan buat terdakwa amat ringan. Ia cuma dituduh menguntungkan PT Surya Alam Tunggal ketika menangani pajak perusahaan ini. Kerugian negara pun relatif kecil, hanya Rp 570 juta. Adapun duit miliaran rupiah yang dimiliki Gayus tak diusut, baik oleh polisi maupun jaksa.

Penegak hukum seolah mengulangi kesalahan yang sama. Dalam kasus sebelumnya, Gayus dijerat antara lain dengan delik pencucian uang karena memiliki rekening mencurigakan--saat itu baru terungkap Rp 28 miliar. Ditutupi dengan rekayasa seolah-olah rekening ini hasil transaksi bisnis yang wajar, ia akhirnya diputus bebas pada Maret tahun lalu. Setelah persekongkolan yang melibatkan penegak hukum ini dibongkar oleh Susno Duadji, Gayus diseret lagi ke pengadilan.

Orang tak habis pikir karena persoalan utama tetap tidak disentuh dalam kasus Gayus episode kedua itu. Misteri duit Gayus--jumlahnya yang terungkap sudah lebih dari Rp 100 miliar-- tetap tak dibongkar. Bahkan kali ini ia bukan dijerat dengan delik pencucian uang dan tidak pula dituduh menerima suap. Padahal Gayus sendiri pernah mengaku mendapatkan duit tersebut antara lain dari tiga perusahaan Grup Bakrie.

Masalah itu bahkan tetap gelap setelah kasus Gayus masuk pada episode ketiga, yakni seputar kepergiannya ke Bali dan luar negeri saat ia ditahan. Publik semakin heran karena penegak hukum seolah tak ingin menyentuh penyuap Gayus. Urusan ini dibiarkan mengambang sekalipun pemimpin Kepolisian RI telah berganti. Buktinya, sejauh ini Gayus hanya dibidik dengan pasal gratifikasi alias menerima hadiah. Belum ada tanda-tanda pula polisi akan memeriksa pihak yang diduga menyuap.

Sebagian khalayak berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan untuk membongkar skandal Gayus. Tapi harapan ini sulit terwujud karena polisi terkesan berkeras mengurusnya setelah mendapatkan data pajak perusahaan-perusahaan yang pernah berurusan dengan Gayus. Apalagi sejauh ini KPK belum memegang data serupa.

Kami berharap penyidik kepolisian tidak mempermainkan kasus Gayus untuk kesekian kalinya. Menutup-menutupi persoalan utama skandal besar ini dengan berbagai cara hanya akan memperkuat anggapan bahwa aparat hukum kita tak mampu menegakkan keadilan.

*sumber: opini tempointeraktif.com
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Celah Pembebasan

Rabu, 19 Januari 2011

Oleh: Anis Matta
Apakah yang dilakukan sebuah ummat, ketika krisis menjadi hantu besar yang melingkupi semua sisi kebaikannya? Apakah yang mungkin dilakukan sebuah ummat, ketika sejarah menjadi begitu pelit untuk membuka pintu-pintu rumahnya bagi umat itu untuk berteduh dari keterhimpitan yang menyengat tubuhnya? Apakah yang mungkin dilakukan sebuah ummat, ketika semua umat memusuhinya, dan apa yang ada hanya dirinya, sementara realitas dirinya sendiri justru menjadi anak panah di busur musuhnya?

Pertanyaan seperti ini seringkali hinggap dalam benak kita, para du’at dan Mushlihin. Dalam keadaan tanpa jawaban, sering pula kita kehilangan kesesimbangan jiwa, sesuatu yang kemudian menimbulkan rasa tidak berdaya (al-'ajz) dan merasa seakan realita dan tantangan lebih besar dari kapasitas internal kita untuk menjawabnya, apalagi menyelesaikannya.

Yang lebih parah lagi, rasa tidak berdaya itu kadang sampai begitu kuat, sehingga tanpa sadar kita bersikap negatif terhadap problema yang melingkupi kita, untuk kemudian mencoba melakukan langkah ‘pengunduran diri’ dari gelanggang kehidupan sosial (al-insihab al-ijtima’i).

Terkadang pengunduran diri ini disertai sejumlah pembenaran rasional, setelah rasa tidak berdaya itu mendorong kita mempertanyakan beberapa aksioma ideologi dan prinsip perjuangan, yang mungkin dianggap terlalu ideal dan tidak mungkin dipertemukan dengan realita?

Sesungguhnya itu tidak perlu terjadi, kalau saja kita mau merenungi kembali, bagaimana Allah SWT dalam Al Qur’an telah membuka begitu banyak celah pembebasan yang dibuka Allah SWT kepada kita, saat semua jalan masuk ke rumah sejarah telah tertutup.

Pertama, harapan. Harapan adalah matahari di langit jiwa. Tak ada sesuatu yang sangat kita butuhkan saat reruntuhan kekalahan menghimpit jiwa kita, selain harapan yang dapat mengembalikan rasa percaya diri kita untuk bangkit kembali. Begitulah Allah SWT mengembalikan harapan itu ke dalam jiwa sahabat-sahabat Rasulullah SAW, setelah kekalahan pada perang Uhud.

Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih, sebab kamulah yang lebih tinggi (unggul) jika kamu beriman. Jika kamu tersentuh luka (musibah), maka luka (musibah) yang sama juga menimpa kaum yang lain. Dan begitulah hari-hari (kemenangan) kami pergilirkan diantara manusia.” (QS. Ali Imran : 140)

Dalam keadaan selemah apapun juga, ketika kita mendengar pernyataan sakral seperti itu, pasti ia akan mengembalikan kekuatan jiwa kita untuk melakukan lompatan ulang dalam sejarah. Pada ayat diatas, Allah SWT tidak sekedar memberi harapan, tapi juga menambah kekuatan harapan itu dengan membuka celah sejarah melalaui hokum ‘siklus menang-kalah’ dalam sejarah peradaban manusia sepanjang zaman.

Bahwa kekalahan dalam hokum itu, tidak boleh menjadi titik awal menuju kepunahan historis. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan pada lompatan awal, kedua, atau ketiga, dalam perjalanan sejarah. Watak sejarah, dengan begitu tidaklah niscaya (deter-minant), sebagaimana manusia yang tumbuh dari kecil, besar, tua, lalu mati. Sunnatut Tadawul (hukum perputaran) itu memungkinkan ketuaan untuk sebuah peradaban dijungkirbalik menjadi kemudaan, sekaligus menghentikan, secara tiba-tiba, arus realitas ketuaan berjalan menuju muara kematian historis.

Kedua, taghyirul dzat (merubah diri). Bila celah sejarah pertama tadi meupakan celah eksteren, maka celah sejarah kedua ini merupakan celah interen. Ada syarat-syarat internal yang harus dipenuhi untuk dapat memanfaatkan peluang historis tersebut. Yaitu merubah seluruh instrument kepribadian kita, mulai dari bagian terkecil, diri, hingga bagian terbesar, masyarakat. Pada diri pun dimulai dari instrument yang paling halus; hati, perasaan, emosi, akal hingga raga.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaaan suatu kaum, kecuali bila kaum itu yang merubah apa-apa yang ada dalam dirinya.” (Q.S. Ar-Ra’du, 14-11).

Sesungguhnya pada dua celah sejarah ini, tersimpan kunci dinamika gerak sejarah kehidupan manusia, yang tak pernah mati hingga kiamat. Ini adalah ‘kemungkinan-kemungkinan’ yang dijadikan Allah SWT sebagai peluang bagi kita untuk hadir kembali di gelanggang sejarah. Masalahnya, maukah kita memanfaatkan peluang itu?

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

akhir dari kelelahan

Selasa, 18 Januari 2011


by: abuhasan surhim
---
"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami.
Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang atas karunianya telah menempatkan kami dalam tempat yang kekal di surga. Didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu...." <35:34-35>

duhai, betapa bahagianya andai diri ini salahsatu yang mengucapkan kata-kata itu..
itu adalah kalimat yang terucap oleh penghuni surga
terbayar sudah jerih payah kelelahan ibadah dan dakwah semasa di dunia

..siapa yg berlelah-lelah di dunia maka dia akan bersantai-santai di akhirat
..siapa yg bersantai di dunia, dia kan kelelahan di akhirat.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Pembekalan & Pelatihan Tim Baksos PKS

Senin, 17 Januari 2011

Reporter: Sunardi Zalika
---
Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat, DPC PKS Piyungan menggelar "Pembekalan & Pelatihan Tim Yankes". Acara berlangsung hari Ahad 16 Januari 2011 bertempat di Masjid Cholid bin Walid Piyungan.


Masjid yang menyatu dengan Kampus KB-TKIT AR ARAIHAN tersebut pagi itu dipenuhi kader PKS se-kecamatan Piyungan yang merupakan perwakilan Tim Yankes (Tim Pelayanan Kesehatan) dari utusan DPRa PKS Sitimulyo, Srimulyo dan Srimartani.

Untuk memberi pembekalan kepada Tim Yankes, Panitia pelatihan menghadirkan dr Ika Farikhah yang keseharian praktek di sebuah rumah sakit ternama di Yogyakarta. Materi pelatihan meliputi cek gula darah, cek asam urat, cek golongan darah, tak ketinggalan cara mengukur dan membaca tensi darah.

Dengan minimnya ketersediaan obat-obatan, maka untuk tetap bisa melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, DPC PKS Piyungan untuk saat ini tidak melakukan Aksi Pengobatan Gratis, sebagai gantinya dilakukan dengan Aksi Sosial Pelayanan Kesehatan Gratis, yang meliputi cek gula darah, cek asam urat, cek tensi darah dan cek golongan darah.

Dari pengalaman yang sudah dilakukan dua bulan terakhir, jenis baksos Yankes ini sangat diminati masyarakat, sehingga permintaan untuk mengadakan Yankes ini sangat banyak namun terkendala kurang mencukupinya kader yang punya kemampuan. Maka dengan diadakannya "Pembekalan & Pelatihan Tim Yankes" diharapkan kendala itu akan terkurangi sehingga kami bisa lebih optimal melakukan pelayanan kepada masyarakat.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Warisan Kenabian

Minggu, 16 Januari 2011

Reporter: Abuhasan Surhim
Pagi di hari Ahad medio Januari 2011 ditandai dengan keberkahan hujan yang mengguyur Piyungan dan sekitarnya. Keberkahan inipun disambut ikhwan akhwat kader-kader PKS Piyungan dengan berduyun-duyun mendatangai masjid Al-Ikhlas Sampakan, tempat dibagikannya "harta warisan" kenabian.

Dikisahkan, ada seorang shahabat Rasulullah yang keluar dari masjid Rasulullah dan berjalan menuju pasar. Rasulullah belum lama meninggal dunia. Sesampainya di persimpangan pasar, ia melihat orang-orang yang sedang duduk di pinggir jalan. Ia kemudian menghampirinya.

“Apakah kalian tidak hendak ke masjid, padahal di sana warisan Rasulullah sedang dibagi-bagikan?” Tanya shahabat itu. “Benarkah?” jawab mereka. Segera terlintas dalam benak mereka harta kekayaan seperti dinar, unta dan istana. Segera mereka bergegas menuju masjid Rasulullah, sedangkan shahabat tadi tetap tinggal di pasar.

Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke pasar dan menemui shahabat tadi sambil menggerutu. “Apakah engkau ingin mempermainkan kami?” sergah mereka. “Memangnya kenapa? Apa yang kalian dapatkan di masjid Rasulullah?" Tanya shahabat. "Di sana kami tidak menemukan harta warisan Rasulullah yang sedang dibagi-bagikan” jawab mereka. “Lantas apa yang kalian temui di sana?” Tanya shahabat lagi. “Di dalam masjid kami hanya menemui orang yang sedang membaca Al Quran dan ada orang yang sedang mengkaji Al Islam.” Jawab mereka lagi. “Lho, bukankah itu warisan Rasulullah?” Tanya shahabat menyadarkan. Seketika tersadarlah mereka. Warisan kenabian itu tiada lain adalah ilmu.

Maka di tengah hujan yang membasahi bumi ahad pagi tadi (16/1/11), para ikhwan akhwat PKS Piyungan usai sholat shubuh langsung bergegas berlomba-lomba mendapatkan "harta warisan" kenabian. Dengan berlindung dibawah mantrol (jas hujan) mereka memacu motornya menyibak rintik hujan dan dinginnya pagi menuju masjid al-Ikhlas.

Pagi ini, Kajian (tatsqif) rutin pekanan Kaderisasi DPC PKS Piyungan ini mengupas tentang Fiqih Da'wah. Ustadz Eko Novianto menyampaikan tema "Amalud Da'wah".

Da'wah adalah proyek besar yang harus dilakukan secara sistematis tidak sporadis, terencana tidak asal kerja, terukur tidak ngawur. Pekerjaan besar da'wah memiliki marhalah atau tahapan-tahapannya dari tabligh, ta’lim, takwin, dan tanfidz. Pada setiap tahapan ini terdapat aktivitas dakwah dan target dakwah.

Dengan kata lain,
dakwah itu ada itung-itungan-nya kata orang matematik,
ada strategi-nya kata orang kostrad,
ada peta-nya kata orang geodesi
ada resep-nya kata koki
ada irama-nya kata bang haji Rhoma
dan ada tujuannya kata pak sopir .....

Kefahaman kita atas semua hal-hal ini yang akan membuat pelaku (aktivis) dakwah mampu beramal dengan optimal, optimis, dan tetap tegar di jalan dakwah. Sebaliknya, ketidakfahaman akan "fiqih dakwah" ini hanya akan membuat sang aktivis bersikap reaktif, isti'jal alias tergesa-gesa, dan ujung-ujungnya bisa menyebabkan sang aktivis jadi ekstrimis atau malah pesimis. Dua ujung yang sama-sama berakibat kehancuran.

Jelas, lugas dan ber-nash, uraian ustadz Eko Novianto. Terlebih uraian ustadz kader senior "assabiqunal awwalun" DPD Bantul ini dihiasi contoh-contoh aktual aplikatif dakwah era kekinian, yang membuat para kader ikhwan akhwat PKS Piyungan pun makin luas kefahaman dan makin kokoh keyakinan pada pilihan jalan dakwah ini.

Tepat pukul 06.15, kajian yang dimulai jam 05.00 inipun berakhir.

Setelah sejenak bercengkrama dengan menikmati teh hangat usai kajian, kader-kader PKS Piyungan pulang dengan membawa "harta warisan" kenabian. Usai sejenak istirahat di rumah, merekapun segera bersiap-siap mengamalkan "warisan kenabian" dengan segudang aksi dakwah di hari ahad penuh berkah.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kerjasama Pemerintah dan PWK PKS Piyungan

Sabtu, 15 Januari 2011

Reporter: Nuryani
---
Di siang yang terik, kamis (13/1/11), ibu-ibu yang udah berdandan rapi mulai memadati rumah asri milik mbah Trisno di dusun Tambalan, Srimartani, Piyungan. Selain agenda internal, ibu-ibu yang tegabung dalam Kelompok Tani Tri Rejeki juga hendak mengikuti penyuluhan kesehatan yaitu tentang penyakit TBC. Penyuluhan ini terselenggara berkat kerjasama Pos Wanita Keadilan (PWK) PKS Srimartani dengan Tim dari Puskesmas Kecamatan Piyungan.

Sebagai penyuluh adalah ibu Siti Nuriyah. Materi penyuluhan menjelaskan mengenai pengertian, tanda dan gejala penyakit TBC, cara penuran, penanganan, dan pentingny pengobatan secara benar.

"TBC merupakan salah satu penyakit yang menular melalui udara dan dapat berakibat fatal apabila tidak di obati secara benar.", urai bu Siti.

"Penyakit ini merupakan infeksi yang disebkan oleh bakteri mikrobakterium tuberkulosa.", lanjut beliau.

Sekitar 25 ibu-ibu yang hadir tampak tekun menyimak. Beberapa balita putra putri para peserta yang ikut serta karna gak ada yang momong di rumah pun ikut-ikutan 'belajar' meski belum dong (paham).

Beberapa pertanyaan meramaikan sesi tanya jawab. Selain serba serbi tentang TBC, juga ada beberapa pertanyaan berkaitan dengan penyakit DBD dan cikungunya. Ternyata di dusun tambalan terjadi kasus yang cukup banyak untuk kedua penyakit tadi.

Di akhir acara bu Siti menghimbau kepada masyarakat, khususnya dusun Tambalan, agar segera memeriksakan diri ke puskesmas bila mengalami gejala-gejala penyakit TBC. Dan juga untuk penyakit penyakit yang lain tentu saja. Agar terhindar dari resiko fatal akibat penyakit yang terlambat didiagnosis dan tidak segera ditangani.

Alhamdulillah, acara penyuluhan berjalan lancar. Sampe jumpa lagi dengan PWK Tambalan tanggal 13 bulan depan.... (^_^)

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Liqo yang bikin betah di Jalan Dakwah

Jumat, 14 Januari 2011

by: abuhasan surhim
---
Rame, penuh canda, full smile, pokoke asyik dan yang pasti "ngangeni". Itulah, kalo qta udah ngumpul dengan temen-temen satu geng "liqo". Itu jua yang kami rasakan kemaren, Kamis (13/1/11), pas qta rame-rame "reuni" liqo di rumahnya akh wied abu afnan.


Sebetulnya ini acara rutin liqo "ifthor keliling" tiap kamis sore. Yang bikin spesial "kamis manis" kemarin, pertama: sohibul bait alias tuan rumah. Karena tidak setiap hari abu afnan ada di piyungan. Suami ibu bendahara DPC PKS Piyungan ini lebih banyak di tanah rantau halmahera utara berkutat dengan "dunia tambang". Jadi, pas kebetulan beliau lagi mudix qta jadian kumpul di rumah "mewah" beliau. (mewah: mepet sawah)

Spesial kedua: pesertanya yang "lintas generasi". Disamping peserta reguler, kami mengundang juga ikhwah-ikhwah lain. Ada yang senior kayak Abu Izzuddin sang komandan kepanduan piyungan, dan ada mas Ndut "sang mantan preman calon komandan kepanduan" yang baru bergabung ikut liqo sepekan ini. Karena acaranya disetting asyik, maka kami sengaja mengundang mas Ndut ikutan agar makin tahu asyiknya gabung dengan liqo pks. Dan karena beliau new comer di dunia liqo, sore itu kami hanya mengajak mas Ndut untuk ikut acara "buka puasa bersama" dan tidak harus ikutan puasa kamis (kami takut akan jadi beban berat buat beliau). Tapi...... subhanallah, beliau juga ternyata puasa sunah kamis! wah... kader senior harus lebih rajin puasa sunah nich.

Acara dibuka dengan lantunan nan merdu surat az-zumar 53-63 yang dibawakan Abu Izzuddin (komandan kepanduan) dan diteruskan pembacaan terjemahannya oleh mas Ndut (calon komandan kepanduan)...

"Katakanlah: "hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya....."

Taushiyah sore itu mengulas rangkaian ayat-ayat diatas, ayat-ayat cinta dari Sang Maha Cinta. Siapa yang tidak jatuh hati pada panggilan syahdu nan melembutkan hati ini? siapa yang tidak tergerak untuk bersegera merengkuh kasih sayang Sang Maha Sayang? Siapa yang masih berputus asa atas gelapnya masa silam?

Ustadz Anis Matta bilang, "... walaupun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mampu melakukan apa saja, tetap saja kasih sayang dan keadilanNya mengalahkan angkara murkaNya. Itu sebabnya Allah tidak akan pernah menzalimi hambaNya. Walaupun Ia bisa kalau Ia mau. Karena Ia terlalu Pengasih dan terlalu Adil."

Tak terasa waktu menunjuk pukul 18.08 saat adzan Maghrib di wilayah Yogyakarta. Suasana berganti meriah dengan hidangan berupa puding dan martabak mini. Sebanyak 13 ikhwah berdoa bersama sebelum menyantap hidangan ifthor.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله

“Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah.”

Alhamdullillah, syukur kami pada-Mu Ya Allah atas nikmat yang tak tergantikan ini...
Kamis sore yang manis, dengan teh manis, puding yang manis, dan manisnya senyum para ikhwah yang berpadu di jalan dakwah....

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Life is a Fading Shadow

Kamis, 13 Januari 2011

اِنَّمَا هٰذِهِ الحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَاِنَّ الْاَخِرَةَ هِيَ دَارُالْقَرَار

“Sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah kesenangan sesaat sedangkan akhirat adalah yang kekal nan abadi.” (40:39)

Umar bin Abdul Aziz berkata dalam pidatonya:

"Dunia ini bukan tempat tinggalmu yang kekal, karena Allah telah mentaqdirkan bahwa dunia akan berakhir dan penduduknya bakal meninggalkannya. Banyak orang yang membangun dan mendirikan apa-apa yang sesaat dan pasti akan rusak binasa. Banyak sekali penduduk dunia ini yang merasa nyaman tinggal di atasnya padahal mereka akan segera meninggalkannya. Karenanya, semoga Allah melimpahkan ampunan-Nya kepadamu. Persiapkanlah perjalananmu dengan menggunakan bekal yang paling baik yang kau temukan. Bekalilah dirimu dengan bekal yang memadai, dan sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. Karena dunia ini bukanlah tempat tinggal yang abadi, maka seyogyanya seorang mukmin menjadi seperti orang asing di sebuah negeri asing, mencurahkan segala perhatiannya untuk kembali ke kampung halamannya. Atau dia berlaku sebagai seorang musafir yang tidak tinggal di suatu tempat yang tetap, tetapi dia senantiasa berjalan siang dan malam menuju kediamannya yang tetap."

إقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُعْرِضُوْنَ

"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling daripadanya." (21:1)

Rasulullah saw bersabda:

إقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَلَايَزْدَادُالنَّاسُ عَلى الدُّنْيَا إلَّاحِرْصً وَلاَيَزْدَادُوْنَ الله إلَّا بُعْدًا

"Hari kiamat telah dekat, tetapi manusia semakin rakus terhadap dunia dan semakin jauh dari Allah." (HR Al-Hakim)

Hasan al-Basri berkata:

"Jauhilah segala aspek hidup yang melengahkan, dan sesungguhnya, hidup ini memiliki segudang aspek yang melengahkan. Manusia yang terjerumus didalamnya lalu mengisi hidupnya dengan itu, maka pintu yang telah dia buka akan membuka sepuluh pintu lagi dari aspek yang melengahkan tersebut."

Sa'id bin Mas'ud berkata:

"Jika kamu melihat seorang hamba yang merasa puas tatkala hartanya bertambah sedangkan amal akhiratnya berkurang, ketahuilah bahwa dia adalah orang yang tertipu yang mukanya sedang diperolok, tetapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya."

Salafus sholeh yang lain berkata:
"Dunia ini laksana ingar-bingar pasar yang hanya berlangsung sebentar saja, dan setelah itu berubah menjadi sunyi dan sepi."

Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakekat yang tetap, padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia juga sangat mirip dengan fatamorgana. Orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapai sesuatupun.

*dikutip dari buku "Life is a fading shadow"
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Liqo (mantan) Preman

Rabu, 12 Januari 2011

by: ibn surhim
--
Bagi yang pernah membaca tulisan "Wajah Lain PKS" di blog ini pasti sudah kenal dengan sosok Apriyanto atau yang akrab dipanggil mas Ndut. Mantan preman ini awal bersentuhan dengan PKS lewat teman-teman kerjanya di sebuah percetakan di Piyungan.

"Awalnya teman-teman tidak ada yang mengajak saya untuk sholat. Kalau istirahat siang, saya biasa nongkrong di warung, makan, udut (merokok), lalu tiduran. Kalau teman-teman PKS (teman kerjanya) begitu jam istirahat mereka langsung ke masjid untuk sholat jamaah," tutur mas Ndut malam itu.

"Namun setelah beberapa pekan, ketika saya kemudian diajak untuk ikut sholat, alhamdulillah akhirnya saya tergerak untuk sholat bersama-sama mereka," lanjutnya.

"Sekarang, kalau terdengar adzan saya langsung ke masjid/mushola untuk sholat berjamaah. Karena kalau sholat sendirian malah saya ndak bisa, karena saya belum tahu bacaan-bacaan sholat, kalo sholat jamaah jadi makmum kan yang penting ngikut saja," cerita mas Ndut dihadapan rekan-rekan "barunya" yang melingkar duduk bersila.

Malam itu, Jumat (7/1/11), untuk pertama kalinya mas Ndut mengikuti Liqo (halaqoh) bersama teman-teman barunya hasil rekruetmen PKS Piyungan pada event Liga Futsal Liqo yang diselenggarakan tepat tahun baru 2011. Dan agenda awal liqo malam itu adalah ta'aruf, semua bercerita tentang kehidupan dan latar belakangnya.

Terpancar dari raut wajah mereka semangat untuk memperbaiki diri, terlihat kuat kemauan mereka untuk menjadi lebih baik.

"Sampai rumah nanti jam berapa nich, mas Ndut?", tanya Pak Sulis (suaminya Bu Titi Banyakan) yang juga baru malam itu ikut yang namanya liqo (walaupun udah lama didorong-dorong oleh istrinya yang sudah terlebih dahulu ikut liqo).

"Perjalanan sekitar 40 menit," balas mas Ndut yang rumahnya di daerah Gunung Kidul sekira 30 km dari Piyungan tempat dia ikut Liqo.

"Nanti istri gak marah pulang larut malam?," kali ini mas Agus menimpali.

"Ya, memang pertama kali saya keluar rumah diluar jam kerja istri saya sangat curiga. Jangan-jangan balik ke dunia hitam lagi. Maklum lah, terlanjur dicap seperti itu. Pas kemarin tahun baru saya bilang ke istri mau ikut kegiatan PKS (liga futsal), istri awalnya juga ndak percaya. Ah, paling mau hura-hura tahun baru, pikirnya. Tapi, begitu pak Sunar membuat tulisan tentang saya di blog PKS Piyungan ("Wajah Lain PKS"), saya kemudian mengajak istri ke warnet untuk saya tunjukan tulisan itu sebagai bukti kalau saya tidak bohong. Alhamdulillah, sekarang istri sudah percaya sama saya, kalau saya ada kegiatan diluar kerja insya Allah itu kegiatan yang baik-baik. Seperti malam ini, saya juga sudah bilang ke istri, nanti habis kerja tidak pulang dulu tapi mau ngaji sama PKS, pulang mungkin jam sebelas malam sampai rumah," panjang lebar mas Ndut bercerita.

....

"Wah, aku sekarang punya teman-teman yang asyik. Ternyata ngaji sama PKS tidak menakutkan," cerita mas Ndut kepada akh Sunardi (Kabid Kepemudaan PKS Piyungan) yang telah mengajaknya untuk ikut liqo. Awalnya mas Ndut tidak mau karena takut terlalu berat bagi dia. Disuruh ini, tidak boleh itu, dll.

"Ikut dulu aja, nanti liat sendiri seperti apa pengajiannya. Kalau nanti merasa berat, besok gak ikut lagi juga gak apa-apa," bujuk akh Sunardi saat itu.

Alhamdulillah, sudah dua kali pertemuan liqo mas Ndut ikuti. Beliau tampak enjoy dengan "dunia barunya", terlebih habis liqo kegiatan disambung dengan futsal yang makin menambah keakraban dengan teman-teman liqonya.

Semoga kami semua diberi keistiqomahan di jalan ini.

---
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Santri PKS Rajin Mengaji

Selasa, 11 Januari 2011

by: abuhasan surhim
---
"Akhi, sekarang pesertanya sudah tambah banyak sekali ya?" komentar ustadz Hanafi usai beliau mengisi Tarbiyah Tsaqofiyah (tatsqif) Ahad pagi kemarin (9/1/11).

"Alhamdulillah ustadz. Mudah-mudahan bisa konsisten," balas kami yang duduk bersila melingkar bersama ustadz Hanafi sembari menikmati hangatnya teh.

Sudah sebulan (baca: baru sebulan) program kajian rutin (tatsqif) digulirkan oleh bidang Kaderisasi DPC PKS Piyungan berbarengan dengan pencanangan Tahun Hijriyah 1432 sebagai tahun kebangkitan ilmu, iman dan amal.

Tatsqif perdana, Ahad 5 Desember tahun lalu (2010), diisi oleh ustadz Hanafi dengan materi kajian kitab "Shofwah At-Tafasiir" karya Asy-Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni. Alhamdulillah, dengan konsistennya panitia menggelar tatsqif rutin, maka jumlah peserta kian hari semakin bertambah. Materi kajian juga berfariasi, ada tafsir tematik, fiqh dakwah, fiqih kontemporer, aqidah, akhlak, sesekali mengupas peristiwa atau topik yang lagi hangat di masyarakat lokal maupun interlokal (internasional).

Tatsqif yang rutin digelar tiap Ahad pagi mulai jam 5 pagi tit sampai jam 6 ini bertempat di masjid Al-Ikhlas Sampakan Piyungan. Masjid yang berada di perempatan jalan utama Piyungan ini menambah nilai lebih tatsqif sebagai syiar Ilmu karena masyarakat luas tiap ahad pagi disajikan pemandangan indah keramaian "Santri PKS Piyungan" yang rajin mengaji. Belum lagi deretan motor dan (beberapa) mobil yang parkir berjejer sepanjang jalan di "jantung Piyungan" benar-benar sangat terasa syiar Islam tiap ahad pagi. Ditambah sound masjid yang terdengar siapa saja yang melintasi jalan, tukang ojek perempatan pun bisa mendapat ilmu sambil menunggu datangnya pelanggan.

Selain sisi ilmu dan syiar, tatsqif ini juga sangat berpengaruh terhadap kuatnya ikatan ukhuwah diantara kader Piyungan. Hal ini tak lain karena tiap pekan, semua kader ikhwan akhwat Piyungan berkesempatan COD alias copdar bertemu langsung, saling sapa, saling tukar info, bercengkerama sejenak sambil minum teh hangat usai selesainya kajian sebelum pulang. Kalau ada yang berhalangan hadir bisa dicari info: sakitkah ia? kalau iya, maka bisa langsung dijadwalkan menjenguknya. de el el....

Selain itu juga (kebanyakan selain nich), tatsqif bisa dipakai untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan DPC atau DPRa (dan sekaligus memobilisasi). Sehingga semua kader tahu dinamika DPC dan DPRa yang mendorong mereka untuk bahu membahu mensukseskan agenda-agenda dakwah. Tak satupun yang ingin ketinggalan menabung kebaikan. Tak satupun yang rela berpangku tangan. Karena, tak satupun yang tidak ingin bersama-sama menggapai kebahagiaan.

Alhamdulillah, tiap ahad pagi kami mendapat limpahan nikmat yang begitu banyak. Nikmat ilmu, nikmat ukhuwah, nikmat dakwah. Sungguh indah terasa hidup di jalan dakwah.....

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Suatu Sore di Taman Surga

Senin, 10 Januari 2011

Reporter: Abuhasan Surhim
---
Ahad sore, 9 Januari 2011, kader-kader ikhwan akhwat DPC PKS Piyungan berkumpul di Rifki Futsal Sampakan. Ikhwan akhwat mau futsal..?? Ooo..., bukan ternyata. Dua mobil avanza sudah "ready" terparkir manis, mereka janjian mau JJS (jalan jalan sore). Pelesiran..?? Rihlah..?? Ooo.., bukan juga. Mereka kumpul jam 5 sore itu setelah mendapat SMS DPC dua jam sebelumnya terkait agenda DPC untuk menjenguk ibunda salah seorang kader PKS Piyungan yang tengah dirawat di rumah sakit.

Pukul 17.10 meluncurlah dua avanza ke arah selatan. Avanza hitam dikomandoi akh Wied Abu Afnan yang baru dua hari tiba dari perantauan. Ada bu Nur bendahara DPC yang setia mendampingi sang suami mengemudi. Ada pak haji Supratmin pemilik Rifki Futsal yang duduk di belakang didampingi Pak Santos juragan bakso sampakan. Ada juga Pak Parman Abdurrahman lurah Sitimulyo (Ketua DPRa Sitimulyo) yang dikawal Pakde Mujiran.

Sedang avanza krem dikendalikan Pak Priyanta yang menjadi warga Piyungan cuma kalo sabtu-ahad, selebihnya nomaden keliling wilayah Jateng memasarkan produk elektronik. Duduk manis disampingnya akh Didi juragan gula. Di belakang ada Dhanie Asy-Syakib Kabid Kaderisasi, Pak Dosen Bachtiar, Pakde Jo, Pak Boy, Abu Izzuddin komandan kepanduan piyungan dan terakhir reporter.

Menyusul di belakang dua pasangan yang lengket kayak perangko gak mau pisah, Pak Sarojo beserta istri dan Pak Sulistio sekjen DPC beserta istri yang menikmati perjalanan dengan sepeda motornya. Sedang Pak Andi TW, Ketua DPC, menyusul karena harus mengikuti rapat DPD PKS Bantul.

Kurang lebih 25 km perjalanan kami ke RSUD kabupaten Bantul. Cuaca cerah berselimut mendung tipis tanpa gerimis. Sambil mendengarkan MQ FM (tapi jangan ngomongin Aa lho!) avanza hitam melaju mulus sesekali ditimpali canda ikhwah yang menambah hangat sore itu. Setengah jam perjalanan kami sudah sampai.

Akh Deni Sunardi, Kabid Kepemudaan DPC Piyungan, sudah standby di depan RSUD menyambut kami. Kamipun diantar beliau menyusuri lorong RSUD kemudian naik ke lantai 3 dan sampailah di Ruang Cempaka. Di kamar nomor 6 kami bertemu dengan ibu Musradi yang terbaring di ranjang didampingi sanak keluarganya. Ibunda dari akh Deni Sunardi ini sudah tiga hari opname dirawat di RSUD. Di usianya yang sudah 77 tahun, beliau sore itu sudah mulai membaik tampak segar dan sumringah menyambut kehadiran kami.

"mbah, betah teng ngriki nopo pun kepengin arep manthuk...?" sapa bu Nur Wakidah.

"njih, pengin cepet-cepet manthuk," jawab bu Musradi dengan senyum manisnya yang menghiasi wajah berbalut kerudung hijau.

Alhamdulillah, kondisi beliau sudah membaik dan insya Allah Senin bisa boleh pulang. Doa pun kami panjatkan untuk kesehatan dan kebaikan beliau.

Karena adabnya tidak boleh berlama-lama ketika menjenguk orang sakit, sekira lima belas menit kamipun berpamitan. Akh Parman Abdurrahman yang mewakili rombongan menyampaikan "titipan" munashoroh dari kader-kader DPC yang terkumpul sore itu sekaligus meminta ijin pamit dengan harapan bu Musradi lekas sehat dan bisa pulang ke rumah.

Saat kami keluar, adzan Maghrib terdengar. Sebelum pulang, kamipun sholat jamaah di masjid yang terletak di seberang RSUD.

“Apabila seorang muslim menjenguk saudaranya yang sakit, ia terus menerus berada dalam taman surga dan akan diliputi rahmat. Kalau menjenguk pagi hari, ia dishalawati (dido’akan) tujuh puluh ribu malaikat hingga sore. Dan kalau menjenguk sore hari, ia dishalawati tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi).

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN