NEWS UPDATE :

Semarak Gembira Menyambut Idul Adha!

Sabtu, 05 November 2011


Oleh: Ust. Hatta Syamsuddin*

Hari raya Idul Adha sudah ada dihadapan, namun suasana teramat jauh berbeda dibanding saat menyambut lebaran idul fitri. Ada yang tahu sebabnya?

Apapun sebab bisa kita kemukakan, namun sayangnya tak ada dalil secuilpun yang mengistimewakan salah satu dari kedua Hari raya mulia ini. Bahkan realitanya, di beberapa negara seperti Mesir dan Iran, Hari raya Idul Adha jauh lebih meriah dan semarak dibanding Idul Fitri. Di Mesir Hari raya Idul Fitri disebut dengan ‘Ied Shogir’ atau lebaran kecil, sedangkan Idul Adha disebut dengan ‘Ied Kabir’ lebaran besar. Sebenarnya istilah ini juga kita kenal dalam kalender Jawa yang menamakan bulan Dzulhijjah dimana di dalamnya ada idul Adha dengan istilah ” Besar “. Karena Idul adha adalah hari raya “besar” maka berarti harus ada sesuatu yg diagungkan bukan? Nah, Mari kuatkan tekat untuk menyambut Hari raya sepenuh suka cita, teramat banyak dalil yang menguatkan bahwa keduanya sama-sama istimewa dan tiada beda.

Lalu bagaimana kita memaknai dan mengisi Hari raya? Setidaknya ada tiga hal yang harus kita perhatikan untuk kita wujudkan dalam sebuah hari raya, masing-masing : Kegembiraan, Semarak dan Amaliyah Sunnah. Mari bersama kita cermati.

Pertama : Hari raya harus Gembira

Hari raya harus identik dengan kebahagiaan dan keceriaan, tidak boleh ada kesan susah di hari anugerah itu, buktinya dalam terserak begitu banyak dalam riwayat shahih. Rasulullah SAW memberikan panduan kebahagian begitu jelas dalam sabdanya : “Ied adalah hari makan-makan, minum-minum & mengingat Allah (dg takbiran).” (Fiqh Sunnah : I/598)

Hari raya itu adalah momentum kegembiraan, anugerah kebahagiaan yang disetting dari atas langit sana. Maka menjalani kelaparan baik sengaja maupun tidak sama-sama terlarang. Lapar sengaja berarti berpuasa di hari mulia itu, dan hal tersebut jelas diharamkan dalam syariat kita yang luwes nan indah. Adapun Lapar karena kondisi dalam arti kemiskinan, maka harus dihindari dicegah oleh kaum muslimin lainnya. Karenanya ada syariat zakat fitrah saat idul fitri, dan menyembelih hewan qurban saat idul adha. Jadi secara sederhana bisa kita pahami, bahwa pensyariatan zakat fitrah dan penyembelihan qurban, plus larangan berpuasa di hari raya, menunjukkan secara signifikan tepatnya isyarat Rasulullah sebelumnya bahwa hari raya adalah momentum makan-makan !.

Riwayat tentang kegembiraan yang terpancar dalam suasana hari raya begitu banyak terserak. Salah satunya bisa kita lihat begitu gamblang dari kisah Aisyah dan Rasulullah SAW yang menonton bersama di hari mulia itu. Aisyah berkata, “Pada suatu hari raya, ketika rombongan orang-orang Habasyah memperagakan pertunjukan tari-tarian tombak di halaman masjid, Rasulullah menawariku, ‘Ya Humaira, apakah engkau mau menonton mereka?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau, dan beliau merendahkan bahunya agar aku dapat melihat dengan jelas. Kuletakkan daguku di atas bahu beliau sambil kusandarkan wajahku ke pipi beliau, aku menonton lewat atas pundak beliau, dan beliau menyeru yang di depan agar merendah. Beliau berkata kepadaku, ‘Ya Aisyah, apakah engkau sudah puas?’ Aku menjawab, ‘Belum’. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam riwayat lain dari Aisyah r.a. disebutkan : sesungguhnya Abubakar pernah masuk kepadanya, sedang di sampingnya ada dua gadis yang sedang menyanyi dan memukul gendang pada hari Mina (Idul Adha), sedang Nabi s.a.w. menutup wajahnya dengan pakaiannya, maka diusirlah dua gadis itu oleh Abubakar. Lantas Nabi membuka wajahnya dan berkata kepada Abubakar Biarkanlah mereka itu hai Abubakar, sebab hari ini adalah hari raya (hari bersenang-senang).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Walhasil, dari isyarat kedua riwayat shohih di atas kegembiraan & bersenang-senang saat Hari raya bukan lagi sebuah kewajaran, namun anjuran yang harus diupayakan, terlebih bersama keluarga tercinta.

Kedua : Hari raya harus Semarak dan Meriah

Setelah kegembiraan, unsur penting kedua yang harus kita wujudkan dalam sebuah hari raya adalah kemeriahan dan semarak. Mengapa semarak? Karena hari raya termasuk kategori syiar dan simbol dalam agama kita, yg harus diagungkan. Firman Allah SWT : Barang siapa yg mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itulah bukti ketakwaan dalam hati (QS Al-Haj 32). Maka Hari Raya adalah Syiar yang memeriahkan dan menyemarakkannya menjadi standar ketakwaan tersendiri.

Hari raya sebagai syiar harus terlihat semarak dan meriah, dan semestinya nyaris tak perlu ada beda antara idul fitri maupun idul adha. Semarak dan kemeriahan hari raya tersirat begitu jelas dalam banyak riwayat. Salah satunya tentang bertakbir (mengagungkan asma Allah SWT) yang biasa disebut dengan istilah takbiran.

Takbiran dilakukan dengan semarak dan meriah, karena para ulama bersepakat untuk mengeraskannya, khususnya saat berangkat menuju lapangan untuk menunaikan sholat Ied berjamaah. Disebutkan dalam riwayat : “Nabi keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”. (HR.Al-Baihaqy ).

Jika kita sepakat salah satu yg membuat kita terkesan & tergetar saat Hari raya adalah takbiran, maka idul adha mestinya lebih semarak. Bandingkan takbiran idul fitri yg hanya semalam saja,sementara peluang untuk bertakbir di Hari raya Idul Adha bisa mencapai lima hari berturut-turut, dari shubuh arofah hingga akhir hari tasyriq atau 13 Dzulhijjah.

Semarak Hari raya bisa kita lihat dlm syariat sholat di tanah lapang, tak lain tak bukan adalah untuk ’show of force’ ukhuwah muslimin. Semarak Hari raya kita dapati juga dalam ajakan ramai-ramai mengajak semua untuk berangkat menuju tanah lapang, bahkan wanita haid pun tak ketinggalan.

Dari Ummu Atthiyah : “Rasulullah SAW memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: ” Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”. Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya”. (HR Bukhori Muslim)

Maka setiap hari raya hrs diupayakan semarak bersama, Rasulullah SAW pun telah mengisyaratkan dalam sabdanya : “Idul Fitri adalah hari dimana orang-orang bersama berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana orang-orang menyembelih hewan qurban”. Semarak hari raya semakin terasa saat kita dianjurkan untuk menempuh rute pulang yang berbeda selepas sholat Ied. Hal ini tidak lain dan tidak bukan agar kemeriahan itu semakin meluas dampaknya.

Ketiga : Hari raya dipenuhi Amal Sunnah

Setelah hari raya kita isi dengan kegembiraan dan kemeriahan, maka jangan lupa unsur yang ketiga yaitu : mengoptimalkan amaliyah sunnah di dalamnya. Amalan hari raya tak jauh berbeda antara idul fitri dan idul Adha. Dari mulai anjuran untuk mandi, memakai wangian dan menggunakan pakaian terbaik. Inilah sunnah yang indah dalam kita berhari raya sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, antara lain :

Dari Al-Hasan As-Sabt ra, ia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan pada dua hari raya, agar kami memakai pakaian yang terbaik yang kami punya, dan memakai wewangian yang terbaik yang kami punya, dan juga untuk berkurban dengan harga paling tinggi yang kami mampu” (HR Ibnu Hakim).

Adapun yang dilaksanakan secara berbeda antara dua hari raya antara lain : Anjuran ulama untuk mengakhirkan waktu pelaksanaan sholat Idul Fitri agar pembagian zakat fitrah bisa terselesaikan, sementara waktu Idul Adha justru disegerakan agar penyembelihan bisa segera ditunaikan. Begitu pula Rasulullah SAW biasa memakan kurma sebelum sholat Idul Fitri, namun sebaliknya beliau tidak memakan apapun pada idul Adha sampai selesai menunaikan sholat Ied . Dari Buraidah ra : Nabi SAW tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adha beliau tak makan sampai beliau kembali”. (HR. Ibnu Majah)

Sahabat, mari kita lengkapi kebahagiaan dan kemeriahan pada setiap hari raya dengan hal yang dijalankan para sahabat, yaitu saat bertemu mereka mengucapkan tahniah (selamat) dan saling mendoakan agar amal diterima dengan lantunan...

“Taqobbalallahu minna wa minkum”, semoga Allah menerima amal kami dan kalian.

Akhirnya, selamat merayakan Hari raya Idul Adha 1432 H dengan sepenuh kegembiraan, semarak yang meriah, dan tentu saja dengan menjalankan amaliyah sunnah di dalamnya. Wallahu a’lam bisshowab


*)http://www.indonesiaoptimis.com/2011/11/semarak-dan-gembira-di-hari-raya-bagian.html


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Share on :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner