NEWS UPDATE :

Sticker Exclusive LFL 2011 (Liga Futsal Liqo)

Jumat, 31 Desember 2010

LIGA FUTSAL LIQO (LFL) DPC PKSPIYUNGAN 2011

Menyongsong Tahun Baru 2011
Segenap komponen DPC PKS Piyungan menyambutnya dengan PENUH SEMANGAT
Kader ikhwan yang digawangai Bidang Kaderisasi bekerjasama dengan Bidang Kepemudaan
menggelar
Liga Futsal Liqo (LFL)
Yang akan diikuti oleh 16 Tim Liqo Ikhwan se-DPC Piyungan
Termasuk Tim PKS Piyungan Old Crack (para sesepuh pks piyungan)

Acara ini akan dilaksanakan pada Tahun Baru 1 Januari 2011
Jam 06.00 - 11.00 WIB di Rifki Futsal Sampakan Piyungan

"TAHUN BARU, SEMANGAT BARU"

Kabar Keabadian

Oleh: Imam Ibnul Jauzi*
Demi Allah, saya membayangkan masuk surga dan selamanya berada di sana, tanpa sakit, tanpa meludah, tanpa tidur, tak ada penyakit mewabah, dan selalu sehat. Kebutuhan selalu terpenuhi. Kenikmatan silih berganti setiap saat tiada batas. Hampir saya tidak percaya jika syariat tidak menjabarkan dengan jelas dan gamblang keadaan surga.

Perlu disadari bahwa seluruh kedudukan yang akan dicapai di sana sangat tergantung pada kerja keras setiap orang di dunia. Adalah aneh jika banyak orang yang menyia-nyiakan setiap detik waktunya dengan meiakukan hal-hal yang tiada berguna. Sebenarnya, satu tasbih atau pujian kepada Allah saja akan merupakan tanaman kurma dalam surga yang buahnya bisa dimakan sepanjang zaman. Wahai orang yang khawatir kehilangan itu semua, teguhkanlah hati Anda untuk selalu berharap surga.

Wahai orang-orang yang selalu resah dengan datangnya maut, bayangkanlah rasa getir kematian setelah Anda dikaruniai kesehatan. Sesungguhnya, sejak roh Anda dicabut, bahkan sebelum roh itu dicabut, tersingkaplah kedudukan manusia nanti di akhirat.

Akan sangat ringanlah manusia yang telah tersingkap baginya kelezatan yang akan segera ia alami. Ingatlah oleh Anda bahwa rasa takut akan datang saat ajal menjelang. Bersegeralah beramal sebelum sang umur tenggelam dan tak lagi bisa menemani dalam perjalanan abadi.

Merenunglah dan berusahalah melihat perjalanan hidup orang-orang yarig sungguh-sungguh dalam menghadapi kehidupannya. Itu akan banyak memberikan dorongan bagi pikiran untuk memperoleh keutamaan dan taufik. Perlu Anda ketahui juga, andaikata Dia menginginkan sesuatu untuk Anda, pasti Dia akan menyediakannya.

Adapun berteman dan bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu kabar keabadian dan hanya tahu kabar-kabar dunia merupakan sebab utama timbulnya peryakit hati. Oleh karena itu, menjauh dari keburukan-keburukan semacam itu adalah tindakan pencegahan yang akan membuahkan keselamatan.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang tentang kehidupan akhirat mereka lalai” (Ar-Ruum: 7)

فطنٍ بكل مصيبة في ماله
وإذا يصاب بدينه لم يشعر

"ia sangat perasa akan musibah yang menimpa hartanya,
namun tidak sadar tentang musibah yang menimpa agamanya"


*dikutip dari kitab "Shaidul Khathir"
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Tak Ubahnya Seperti Kelelawar

Kamis, 30 Desember 2010

Oleh: DR. Ali Al Hammadi*
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengarahkan pembicaraan lebih khusus kepada para juru dakwah, orang-orang yang berusaha melakukan kebaikan dan memburu pahala dari Allah swt. Juga kepada semua Muslim yang memahami firman Allah swt,

"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, Kami akan menambahkan baginya keuntungannya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan padanya sebagiannya saja dan tidak ada baginya bagian keuntungan di akhirat." (QS. Asy-Syuro: 20)

Sebelum saya menyampaikan kalimat singkat kepada saudara-saudaraku tercinta, para da'i dan para pejuang kebaikan, saya ingin mereka menghayati lebih dahulu firman Allah SWT, "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan melakukan amal shalih lalu mengatakan, "Sesungguhnya aku adalah orang-orang Muslim." (QS. Fushilat : 33).

Imam At Turmudzi meriwayatkan hadits Hasan Shahih, dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. "

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, "Kedudukan dakwah merupakan kedudukan paling tinggi dari seorang hamba."

Dan dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Rasulullah saw bersabda: "Seorang Mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas perlakuan dari mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak mau berbaur dengan manusia dan tidak bersabar atas perlakuan manusia." (HR. Ahmad dan At-Turmudzi).

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah memuji para ulama dan penyeru agama Allah dalam kitabnya, Ar Radd 'ala Zanadiqah wal Jahmiyah: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di setiap zaman di antara celah waktu para Rasul, tersisa orang-orang ahli ilmu yang menyerukan orang yang tersesat untuk kembali pada hidayah, menerangkan siapa yang mengalami derita, menghidupkan orang mati dengan Kitabullah, membangunkan ilmu dengan cahaya Allah. Berapa banyak korban yang telah mati karena Iblis dibangunkannya lagi. Berapa banyak orang yang tersesat ditunjuki kembali. Betapa baik pengaruh mereka di antara manusia, sementara betapa buruk sikap manusia kepada mereka."

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan tentang orang-orang yang meninggalkan amar ma'ruf nahyul mungkar di antara para ahli zuhud dan ahli dzikir:

"Mereka dalam pandangan para ulama adalah orang yang minim agamanya. Agama apakah, kebaikan apakah, dari orang yang melihat keharaman Allah diterjang dan batas-batas syariatnya disia-siakan, agama Allah dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Sementara ia tetap dalam hati yang dingin dan lisan yang terkatup? Syaitan yang bisu. Adakah agama bagi orang yang menyerahkan segala urusan mereka tanpa peduli dengan apa yang terjadi atas agama. Mereka itu, bersamaan dengan terjatuhnya kedudukan mereka dari pandangan Allah dan kemurkaan Allah atas mereka, menerima dunia dengan sangat bangga dan mereka tidak menyadari bila mengalami kematian hati. Hati itu, setiap kali kehidupannya makin sempurna, maka kemarahannya karena Allah dan Rasul-Nya akan lebih kuat dan perjuangannya mendukung agama Allah akan semakin sempurna."

Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzi mengatakan, "Orang-orang zuhud kedudukannya sama dengan kedudukan kelelawar. Mereka mengubur diri mereka sendiri dengan menyendiri dari memberi manfaat kepada manusia, padahal bila mereka berbaur dengan manusia itu akan menjadi kebaikan karena mereka bisa melakukan kebaikan secara berjamaah. Tapi mereka adalah orang-orang pengecut. Adapun orang-orang yang berani, mereka belajar dan mengajarkan manusia. Inilah kedudukan para nabi alaihimussalam."

Seorang faqih asal Kufah bernama Amir Asy-Sya’bi mengatakan, “Ada orang-orang yang keluar dari kota Kufah dan tinggal di pinggiran kota untuk fokus melakukan ibadah. Lalu hal itu disampaikan kepada Abdullah bin Mas'ud ra yang lalu mendatangi mereka. Mereka gembira didatangi oleh sahabat Rasulullah saw. Abdullah bin Mas'ud berkata kepada mereka, "Apa yang kalian lakukan di sini?" Mereka menjelaskan, bahwa mereka ingin keluar dari keramaian manusia untuk melakukan ibadah. Abdullah bin Mas'ud mengatakan, "Jika semua manusia melakukan apa yang kalian lakukan, lalu siapakah yang akan berperang melawan musuh?".

Siapapun yang merenungkan nasehat-nasehat dan kisah di atas akan menyimpulkan bahwa dakwah kepada Allah adalah kemuliaan yang tak mungkin dimiliki kecuali oleh orang yang hidup untuk-Nya dan berkorban di jalan-Nya, hingga mati di atas-Nya. Kewajiban dakwah yang disadari para juru dakwah, menjadikan mereka sebagai orang-orang yang paling banyak bergerak dibandingakan manusia lain. Dan merekalah, orang-orang yang paling besar pengaruhnya terhadap manusia, paling tinggi semangatnya, paling cepat inisiatifnya, paling lapang dadanya.**

---------
*DR. Ali Al Hammadi, Direktur Creative Thinking Center Dubai UEA, seorang da'i sekaligus pakar HRD ternama di Timteng.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Wallahua'lam....

Rabu, 29 Desember 2010

Oleh: Abdullah Haidir, Lc*
Ungkapan wallahua'lam (Allah lebih mengetahui) dalam khazanah Islam sering dijadikan sebagai penutup sebuah pandangan dan pilihan pendapat yang diambil oleh para ulama ketika memberikan pandangan dan pendapatnya.

Kalimat ini semestinya tidak hanya dipahami sekedar dari kata-kata yang terkandung di dalamnya. Tapi lebih dari itu, dia menggambarkan mentalitas ilmiah yang khas dimiliki seorang muslim, terlebih seorang ulama.

Wallahua'lam, berangkat dari keyakinan seorang muslim akan "Kemahatahuan Allah" yang sempurna yang tanpa batas sekaligus menjadi sumber ilmu bagi hamba-Nya (QS. Al-Baqarah: 32). Sementara di sisi lain, Allah sangat menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk memiliki pilar ilmiah yang kuat dalam setiap pandangannya (QS. Al-Isra: 36). Maka, jika kita mendapatkan kata-kata ini di penghujung pendapat seorang ulama, kita dapat menangkap sebuah puncak pencarian ilmiahnya sekaligus sekaligus kerendahhatiannya di hadapan Allah yang Maha Mengetahui hakikat kebenarannya.

Demikianlah kombinasi mentalitas ilmiah yang seharusnya menjadi karakter seorang muslim; Kesungguhannya meraih prestasi ilmiah, tidak melupakannya untuk tunduk patuh dan pasrah kepada Allah yang Maha Mengetahui, sehingga berbuah ketaatan dan ketakwaan. Atau sebaliknya, keimanannya kepada Allah, tidak menghalanginya untuk meraih prestasi ilmiah tertinggi yang dapat dia raih, sehingga berbuah kecerdasan dan kemajuan.

Dari sinilah kita dapat menangkap semangat dari firman Allah Ta'ala, 'Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang berilmu." (QS. Fathir: 28)

Selain itu, ungkapan wallahua'lam, juga mengandung sebuah mentalitas yang sangat dibutuhkan dalam tradisi ilmiah. Yaitu, kesiapan berdialog dan menerima kemungkinan adanya pendapat lain selain pendapatnya. Khususnya pada masalah-masalah yang masih terbuka peluang untuk didiskusikan atau yang biasa dikenal dengan istilah masa'il ijtihadiyah (masalah-masalah ijtihad). Entah karena sumber dalilnya masih diperdebatkan, atau karena berbedanya pemahaman terhadap sebuah dalil yang sama.

Di sini, ungkapan wallahua'lam, menjadi semacam spasi ilmiah yang disediakan seorang muslim untuk menerima dan menampung berbagai kemungkinan pendapat lain yang boleh jadi lebih kuat dari pendapatnya, atau paling tidak dia tetap menghormati pandangan lain yang berbeda, walau menurutnya keliru sekali pun, selama masih memiliki landasan-landasan umum yang sama.

Dengan mentalitas ini, diskusi tentang Islam menjadi sangat hidup, ilmiah dan dinamis, tanpa merusak pilar ukhuwah yang ada. Maka wajar, ketika tradisi ini terbentuk sangat kondusif di tengah umat Islam pada masa keemasannya di abad-abad permulaan, lahirlah prestasi ilmiah yang gemilang, baik dalam kajian syar'i maupun kauni.

Lain halnya ketika tradisi itu mulai redup, berganti dengan fanatisme buta terhadap pendapat kelompoknya dan tidak memberi ruang yang cukup untuk menerima pendapat lain selain tuduhan, stigma dan saling memojokkan. Maka yang ada hanyalah kejumudan, keterbelakangan dan akhirnya perpecahan.

Pada masa sekarang ini, ketika tantangan kehidupan semakin kompleks, dinamika semakin tinggi dan keragaman semakin melebar, mentalitas ini semakin mendesak kita butuhkan. Wallahua'lam.**

*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Songsong 2011, PKS DPRa Srimartani Adakan Raker

Reporter: Adam Ecoy
Jumat pagi yang cerah (24\12\10), sesuai rencana, PKS DPRa Srimartani menggelar rapat kerja dan tea morning. Rumah Ketua DPRa di perbukitan Mojosari, Srimartani, Piyungan jadi pilihan yang pas banget. Jauh dari kebisingan, dan suasana sejuk menghiasi alam sekitar.

Deru supra keluarga Boy Haryadi terdengar pertama kali. Datang bersama istri dan putri mungilnya yang masih balibu (bawah 5 bulan), Syitha. Tak berapa lama menyusul rombongan mobil para akhwat ummahat dan kader DPRa Srimartani yang lain. Tepat pukul 09.00 WIB raker dimulai. Dipimpin sang ketua Eko HP, satu persatu agenda dibahas. Mulai dari reshuffle struktur, program kerja, dsb. Dengan bantuan LCD proyektor, memudahkan para peserta merekam uraian pimpinan raker.

Untuk tataran eksternal, disampaikan Ketua bahwa tahun 2011 DPRa Srimartani akan memperluas daerah layanan masyarakat, menambah jam silaturahmi dengan tokoh masyarakat & kordus. Sedangkan untuk mengokohkan mental dan karakter kader secara internal, ada beberapa program yang dirancang berdasarkan usulan para peserta. Tak lupa, evaluasi program kerja tahun lalu menjadi salah satu acuan.

Satu persatu kader menyampaikan usul cerdasnya untuk kemajuan dakwah di Srimartani. Termasuk bu Siti, kader yang baru-baru ini bergabung. Sebelumnya beliau tinggal di pedalaman Kalimantan mengikuti tugas suami. Namun sekarang tinggal di dusun Wanujoyo. Beliau menyatakan kesanggupannya untuk memback up salah satu Pos Wanita Keadilan (PWK) yang ada di Srimartani.

Dhani asy syakieb, Kabid Kaderisasi DPC Piyungan turut hadir membersamai dan memotivasi peserta raker. "Kita harus saling menjaga ukhuwah, melebarkn sayap dakwah ke segala bidang yang kita mampu, untuk tegaknya Islam di Srimartani. Ingat, tak ada istilah 'cuti' dalam dakwah!", ungkap beliau.

Sembari menikmati hidangan dari tuan rumah, tak terasa waktu menunjukkan pukul 10.30. Alhamdulillah raker selesai. Barisan 20-an org yg berazzam bersama di jalan Ilahi kembali ke kediaman masing-masing, jelang waktu jumatan bagi para ikhwan.
Rumah yang sejuk & damai ini menjadi saksi awal perjalanan dakwah tahun 2011 di Srimartani. Semoga berkah.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Raker Tahunan PKS DPRa Srimulyo: Singkat (tapi) Siap Action!

Selasa, 28 Desember 2010

Reporter: Novi Srimulyani
Selasa sore (21/12), PKS DPRa Srimulyo menyelenggarakan rapat kerja (raker) tahunan dalam rangka mempersiapkan dan menyongsong kerja-kerja dakwah di tahun 2011 yang segera menjelang.

Tidak seperti biasanya, Piyungan yang setiap sore selalu diguyur hujan lebat kali ini cukup cerah sehingga lebih memudahkan kehadiran. Rasa lelah setalah seharian beraktivitas, bekerja, ternyata tidak menyurutkan tekad para pengurus dan kader untuk mensukseskan raker tersebut.

Acara yang dipimpin langsung oleh ketua DPRa Srimulyo, Bapak Winarno Abdussalam ini bertempat di rumah mbak Giyanti yang juga menjabat sebagai bendahara. Musyawarah yang berjalan cukup dinamis ini menghasilkan beberapa hal di antaranya "penyegaran" struktur DPRa untuk periode 2011.

Setelah dilakukan evaluasi kinerja struktural didapat kesimpulan bahwa soliditas struktur kepemimpinan DPRa merupakan pilar utama untuk peningkatan kinerja dakwah ke depan. "Penyegaran" struktur menghasilkan: Mbak Giyanti dan Mbak Desi tetap mengampu bendahara serta Mbak Ketut untuk posisi sekretaris dibantu oleh mbak Yuliatun.

Kaderisasi yang semula dijabat oleh Bapak Aziz kini dipegang oleh akh Ragil. Bapak Aziz sendiri diamanahi untuk memegang kepemudaan dibantu oleh bapak Putut. Bidang lainnya yaitu Pelayanan Masyarakat (YANMAS) diamanahkan kepada akh Gino, dan bidang kewanitaan oleh Ukhti Septi Utami.

Setelah membahas evaluasi struktur, musyawarah yang dihadiri oleh tak kurang 25 kader dan pengurus PKS DPRa Srimulyo ini juga membahas evaluasi program dan kerja periode sebelumnya. Sepanjang tahun 2010 cukup banyak program yang telah terlaksana. Adapun program unggulan yang sukses diselenggarakan antara lain Pos Wanita Keadilan (PWK), Pelayanan kesehatan (yankes), serta Tebar Hewan Kurban di samping agenda rutin internal seperti syuro, Taklim Rutin Partai, silaturahim tokoh (silkoh), dsb.

Tepat adzan maghrib musyawarah usai dan dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah. Meski sudah usai bukan berarti peserta segera pulang meninggalkan kediaman mbak Giyanti. Apa sebab? Ya, tuan rumah telah menyiapkan jamuan soto spesial sehingga acara dilanjutkan dengan santap soto bersama. Mantap, nikmat ,dan hangat. Sehangat kebersamaam yang telah dirasakan benar oleh para pengurus dan kader DPRa Srimulyo.

Dari raker DPRa Srimulyo yang memang tidak terbilang lama ini semua berharap esok akan jauh lebih baik dan membawa banyak perubahan. “Srimulyo memang tidak berlama-lama kalau syuro, yang penting action-nya!” komentar seorang kader di luar forum. SETUJU.....!!!

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Temu Kangen Ibu-ibu PWK di Hari Ibu

Senin, 27 Desember 2010

Reporter: Ummu Zulfa
Menyemarakkan Hari Ibu, Bidang Kewanitaan DPC PKS Piyungan kembali menggelar acara "Temu Kangen" yang memang sangat dinanti oleh ibu-ibu Pos Wanita Keadilan di wilayah Piyungan. Bertemu, bersaparia, berbagi cerita, berbagi pengalaman, plus bonus gratis konseling keluarga.

Bertempat di rumah Ibu Hj. Umi Farida (pemilik Toko Besi Sandeyan Piyungan), Sabtu kemarin (25/12/10), kami mengundang semua perwakilan Pos Wanita Keadilan (PWK) dan tokoh-tokoh perempuan di Kecamatan Piyungan. Subhanallah, ibu-ibu PWK para simpatisan ini sangat antusias menyambut acara ini. Berduyun-duyun mereka berdatangan dari dusun Tambalan, Klenggotan, Ngankruk, Cikal, Kradenan, Bangkel, Gempolsari, Gentingsari. Bahkan ibu-ibu PWK dari daerah pegunungan juga tak ketinggalan seperti dari dusun Duren, Gondang, Kaligatuk. Total PWK di DPC PKS Piyungan ada 16 PWK.

Tema acara yang dipersiapkan oleh Tim yang dikomandani Ibu Prapti Suwarni (istri Ketua DPC Piyungan) ini mengambil tema “Ibu, madrasah Pertama bagi anak” dengan menghadirkan Ibu Trianawati Nunung Bintari seorang konsultan Keluarga yang juga merupakan istri dari anggota DPRD I DIY dari Fraksi PKS Bp Arif Rahman Hakim.

“Begitu besar peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, maka tidak dapat dipungkiri, bahwa ibu adalah madrasah pertama…,” bu Nunung mengawali tausiahnya.

“Proses pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Emosional dan watak seorang ibupun dapat ditularkan melalui perilaku seorang ibu selama mengandung dan mengasuh. Jadi ibu-ibu…, kalau anak-anak kita marah-marah dengan gayanya, coba kita perhatikan pasti mirip atau bahkan sama dengan gaya kita saat memarahinya…," lanjutnya yang dibalas senyum tersipu-sipu ibu-ibu yang hadir.

“Yen tak piker-pikir, hooh je, anakku nek nesu podho karo aku nek nesu..," kata seorang ibu muda.
*(kalau dipikir-pikir, bener juga, anakku kalau marah persis sama dengan aku kalau marah)

Tak terasa, tausiah dari bu Nunung sudah harus diakhiri, dan acara dilanjutkan dengan sharing.

Diawali oleh bu Padmi dari pedukuhan Ngijo Srimulyo yang menyampaikan keinginannya untuk dibentuk Pos WK di kampungnya.

“Sudah lama lho Mbak kita kepengin didampingi. Kepingin diajari ketrampilan itu lho membuat peningset (hantaran pengantin)," kata Bu Padmi yang merupakan Pengurus PKK dusun Ngijo.

"Mbak, tempatku wis kawit bar lebaran kok rung diparani maneh? Wis pada kangen materi-materinya," Ibu Pardi dari Bangkel nggak mau ketinggalan.
*(mbak, di tempatku sejak lebaran kok belum didatangi PWK lagi? padahal kami sudah kangen mendapat bimbingan)

“Ok bu, insya Allah akan segera kami tindak lanjuti,” jawab Mbak Novi sebagai MC mewakili teman-teman.

Sekira pukul 12.00 acarapun diakhiri dengan senyum puas ibu-ibu dan tentu saja panitia karena Alhamdulillah acara berjalan dengan lancer.

Kami jadi tersadar betapa ibu-ibu dusun sangat menanti-nanti kehadiran kita. Mereka membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari PWK. Alhamdulillah, dan terimakasih ibu-ibu, kami masih diberi kesempatan untuk berbagi ilmu pada ibu-ibu. Insya Allah, amanah ini akan kami jaga.***

nb: usai acara kelar, crew panitia tak lupa mengabadikan momen spesial ini. klik!


*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Cahyadi Takariawan: Tidak Ada yang Sia-sia dari Kerja Dakwah Kita

Minggu, 26 Desember 2010

Reporter: Abuhasan Surhim
Sungguh beruntung dan berbahagia, di pagi hari Ahad yang cerah tadi (26/12), kami ikhwan akhwat DPC PKS Piyungan bisa bertemu dan mendapat energi harokah yang berlimpah dari ustadz Cahyadi Takariawan. Selalu kami mendapat ilmu yang baru, semangat yang makin membara, keyakinan yang bertambah kuat dalam menapaki jalan dakwah ini setiap kami bertemu dan mendapat taushiyah dari beliau.

Memang spesial Kajian Ahad Pagi yang merupakan tatsqif rutin bidang Kaderisasi PKS Piyungan di Ahad tadi. Kajian rutin setiap Ahad jam 05.00 - 06.00 yang bertempat di masjid Al-Ikhlas Sampakan tadi dihadiri seratusan ikhwan akhwat.

Kami juga merasa berbahagia untuk bisa berbagi taujih ustadz Cahyadi Takariawan yang tadi kami rekam (audio). Memang akan lebih mengena kalau secara utuh kita mendengar suara ustadz Cahyadi dibanding hanya kami tulis ringkasannya.

"TIDAK ADA YANG SIA-SIA DARI KERJA DAKWAH KITA", demikian tema besar taushiyah Ustadz Cahyadi kali ini. Beliau bertutur lika-liku dakwah beliau dari mulai dakwah ketika masih kuliah di UGM yang pernah membina 12 kelompok liqo (atau rata-rata 2 liqo per hari). Keajaiban pertolongan Allah yang beliau rasakan selama 15 tahun jadi "kontraktor" ngontrak rumah yang setiap akhir masa kontrak beliau bingung bagaimana "memperpanjang" kontrakan karena keterbatasan ekonomi. Sampai cerita pengalaman beliau 9 bulan menimba ilmu di Lemhannas yang baru selesai 16 Desember 2010 kemarin. Ada lucu, ada haru, adaaaa aja dech.... It's amazing! Pokoke, luar biasa!

Selengkapnya rekaman audio beliau dapat didownload disini:
http://www.ziddu.com/download/13130115/cahyadi_ahadpagi26-12-2010.WAV.html

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Belajar Bersatu

Sabtu, 25 Desember 2010

Oleh: Anis Matta
Ketika kekalahan, tragedi, kelaparan, dan pembantaian mendera jasad Islam kita, kita selalu saja menyoal dua hal: konspirasi Barat dan lemahnya persatuan umat Islam. Tangan-tangan syetan Yahudi seakan merambah di balik setiap musibah yang menimpa kita. Dan kita selalu tak sanggup membendung itu, karena persatuan kita lemah.

Mari kita menyoal persatuan, sejenak, dari sisi lain. Ada banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: aqidah, sejarah dan bahasa. Tapi semua faktor tadi tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang sering mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar.

Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyorot masalah persatuan. Tapi di sisi lain yang sebenarnya mungkin teramat remeh, ingin ditampilkan di sini.

Persatuan ternyata merupakan refleksi dari ’suasana jiwa’. Ia bukan sekedar konsensus bersama. Ia, sekali lagi, adalah refleksi dari ’suasana jiwa’. Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud dalam suasana jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan terciptanya persatuan, harus ada pada skala individu dan jamaah.

Tingkatan ukhuwwah (maratibul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah SAW, mulai dari salamatush shadr hingga itsar, semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ’permadani’. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan yang besar, alim dan awam, remaja atau dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ’merangkul’ dan ’menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.

Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk ’kemahahebatan’, ’kamahatahuan’, ’keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain.

Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ’narsisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang dapat ia berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ’inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut.

Salah satu kehebatan tarbiyah Rasulullah SAW, bahwa beliau berhasil melahirkan dan mengumpulkan manusia-manusia ’besar’ tanpa satupun di antara mereka yang merasa ’terkalahkan’ oleh yang lain. Setiap mereka tidak berpikir bagaimana menjadi ’lebih besar’ dari yang lain, lebih dari mereka berpikir bagaimana mengoptimalisasikan seluruh potensi yang ada pada dirinya dan mengadopsi sebanyak mungkin ’keistimewaan’ yang ada pada diri orang lain.

Umar bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah SAW yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak ’menghalangi’ beliau untuk berambisi menjadi ’sehelai rambut dalam dada Abu Bakar’. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ’kemahahebatan’.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Hari Bakti PKS

Jumat, 24 Desember 2010

Reporter: Ikik & Ecoy
Hari Minggu adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Karena minggu adalah hari libur. Libur dari kesibukan berburu dunia. Dan biasanya, di hari Minggu para kader PKS dimana saja berada akan memanfaatkannya untuk berburu kebajikan, mumpung lagi tidak direcoki dunia. Hal itu juga yang dilakukan para kader PKS DPRa Srimartani, yang hari minggu kemarin (19/12) menyelenggarakan Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan Gratis.

Setelah pagi-pagi jam 5 sarapan ruhiy & fikri dengan mengikuti Kajian Rutin (Tatsqif) di Masjid Sampakan Piyungan, para kader akhwat ummahat PKS DPRa Srimartani dengan dibantu akhwat ummahat dari DPRa tetangga berbondong-bondong ke dusun Poitan (desa Srimartani, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul, Ngayogyokarto Istimewa) tempat bakti sosial (baksos). Kebanyakan kader yang ikut baksos adalah akhwat ummahat karena kader ikhwan Piyungan dikerahkan ke lereng Merapi untuk aksi rehabilitasi korban Merapi.

Baksos dimulai pukul 10.00 WIB dengan menyiapkan segenap peralatannya, sementara meja dan kursi telah penuh ditempati antrian warga Poitan. Lebih dari 40 orang mendaftarkan diri menjadi "pasien", diregister oleh ibu Ketua DPRa Anik Retnawati, SPd, dengan dibantu ukhti Nurul Nur Hayati yang sehari-harinya menjaga swalayan di Piyungan.

Sebelum mulai melayani pasien, baksos dibuka secara seremonial oleh Eko Heri Purwanto Ketua DPRa Srimartani. Dalam sambutannya, Ketua DPRa menyampaikan bahwa baksos akhir tahun ini adalah media silaturahim PKS sekaligus dalam rangka membumikan pentingnya memelihara kesehatan.

Pelayanan kesehatan kali ini meliputi cek golongan darah, tensi darah, asam urat, dan gula darah. Warga yang sudah antri menunggu langsung mendapat pelayanan begitu usai acara seremonial.

"Mbak, aku arep cek asam urat. Karo gulo sisan (gula darah maksudnya). We lha golongan darah barang, aku wis lali je..!", ujar mbah Samto.
*(mbak, saya mau cek asam urat sama cek gula darah. sekalian cek golongan darah juga, sudah lupa saya).

Mbah Samto ini (mantan) dukun beranak. Biar udah sepuh tapi masih trengginas. Sambil diperiksa, sambil berkisah tentang masa jayanya dulu sebagai penolong persalinan para Ibu. Sesekali Bu Ita yang memeriksa, turut menimpali sambil tak lupa memberi 'wejangan' biar kadar asam urat dan gula darah tetap dalam batas normal.

Dibelakang mbah Samto masih berderet antrian panjang para pasien. Sementara dari kejauhan, Wulan dan teman-teman SD-nya pada pasang muka pringas-pringis. Gak berani dekat-dekat sama area pemeriksaan. Jebul mereka pada ngeri lihat jari mbak, bapak, ibu & simbah yang dicoblas coblos tuk diambil darahnya. Padahal mereka sebenarnya penasaran sama mereka punya golongan darah. Tapi takut dicoblos.

Akhwat yang tugas di pos golongan darah tau betul gimana cara menggaet mereka. Bujuk saja anak yang paling kecil dari mereka. Nah, tul kan! Setelah berhasil membujuk Bunga, balita usia 4th, anak-anak laen langsung pada kemruyuk, ngantri...
Oalah bocah, malu mereka kalo kalah brani sama anak yang lebih kecil.

Pasien yang udah kelar diperiksa, pamit pada kami satu persatu. Sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badan (tradisi orang jawa). Sampe segitunya ekspresi terima kasih mereka. Padahal kami merasa apa yang kami berikan tidaklah seberapa.

Alhamdulillah, sampai sekira jam 13.00 semua "pasien" sudah mendapat pelayanan. Selesailah acara "weekend" yang kami rindukan kehadirannya setiap pekannya. Weekend yang penuh suasana ukhuwah karena bertemu dengan para ikhwah, weekend yang menyenangkan karena bisa berbagi kepedulian, weekend yang tak tergantikan karena hanya ridho-Nya yang kami dambakan.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

HUMOR PKS


by: seorang akhwat*
---
Disela-sela Tim Baksos PKS Piyungan melayani warga yang rata-rata berumur lanjut alias mbah-mbah nan sepuh, terjadilah dialog 'segar'...


RONDE SATU
Seorang kakek yang sudah berusia lanjut datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Dia mendekati petugas pendaftar. Terjadilah percakapan di antara mereka,

Petugas : Asmane sinten mbah?
Kakek.. : Rejo
Petugas : Yuswonipun pinten?
Kakek.. : Opo...?
Petugas : Umur Mbah.
Kakek.. : Opoooooo....??
Petugas : UMUR. UMUR. UMUUUUR... mbah?!
Kakek.. : ooo…he.he.he (terkekeh sejenak)
yo... wis luwih seko sepuluh tahun!
Petugas : ..??????? (ya iyalah mbah, masak ya iya donk!)
<> he.he.he.he..

*klo ada yang kurang ngerti bahasa prabu, ini translatenya :
petugas: namanya siapa kek (kakek)?
kakek..: rejo (rejo ini nama orang ya)
p: umurnya berapa?
k: apa? (pendengarannya kurang)
p: umur kek?
k: apaaaa..? (makin kenceng)
p: oalah.. umur, umur... kek!
k: oooh, he..he..he..(terkekeh sejenak) umur sudah lebih sepuluh tahun, mbak!
p: ...???


RONDE DUA

Sekali lagi percakapan lucu terjadi ketika seorang ibu mendaftar untuk melakukan pemiraksaan gratis,

Petugas : Yuswonipun pinten bu?
Ibu.... : he.he.he manut mawon mbak.
Petugas : Yuswo kok manut to bu. 40 tahun nggih?
Ibu.... : weh, yo luwih no mbak..!
Petugas : la pinten, 50 nggih?
Ibu.... : ojo! wis luwih.
Petugas : la, 60 nopo?
Ibu.... : Udu...!
Petugas : nggih, 70 mawon nopo bu?
Ibu.... : Yoh, 70 yo ra po po.
Petugas : ?????????? ( umur kok nyang nyangan )

*translete:

Petugas : umurnya berapa bu?
Ibu.... : he.he.he nurut aja mbak.
Petugas : umur kok nurut to bu. 40 tahun aja yah?
Ibu.... : loh, ya lebih to mbak..!
Petugas : lah, berapa? 50 ya?
Ibu.... : jangan! udah lebih.
Petugas : loh, 60 atau gimana?
Ibu.... : bukan..!
Petugas : ya udah, 70 aja ya bu?
Ibu.... : iya deh, 70 juga ga pa pa.
Petugas : ?????????? ( umur kok tawar-menawar )


*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Permainan Taqdir

Kamis, 23 Desember 2010

Oleh: Anis Matta
Fir'aun mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kotak kecil berisi bayi Musa yang mengapung di sungai dan merapat ke istananya adalah sebuah surat. Itu pesan bahwa ketika ia menginstruksi pembunuhan bayi laki-laki, tanpa sadar ia sedang bermain dengan takdirnya sendiri. Permainan baru saja dimulai!

Seharusnya Fir'aun sadar bahwa isi kotak ini mutlak masuk dalam daftar bayi yang harus dibantai. Dia tidak boleh membuat pengecualian. Tapi Fir'aun membuat pengecualian. Bayi ini dikeluarkan dari daftar target pembunuhan. Dan itulah awal dari semua bencana yang menimpanya kelak.

Pengecualian itu dibuat dengan logika yang sangat lugu dan naif. Istrinyalah yang memberi ide, bayi itu mungkin bermanfaat atau diangkat sebagai anak. Kaum megaloman seperti Fir'aun biasanya menunjukkan kuasa dengan menebar kasih. Maka ia mengabulkan permintaan istrinya, toh semua masih dalam kendali.

Dari celah jiwa itulah Allah memberlakukan kehendakNya. Sang Rasul tumbuh besar dalam istana, dengan fasilitas istana. Perlindungan yang sempurna. Dari waktu ke waktu bayi itu menunjukkan gelagat berbahaya, tapi kasih sayang mengubah sikapnya. Ia melakukan "pembiaran", semua dalam kendali.

Begitulah Allah mempermainkan Fir'aun. Dimulai dengan mimpi yang menganggu pikirannya dan melahirkan kecemasan luar biasa, lalu bayi mungil itu. Sebuah dinasti raksasa diruntuhkan dengan cara yang sangat sederhana. Dari ide-ide kecil yang diselipkan Allah dalam benak Fir'aun. Itulah permainannya.

Permainan kecil itu hanya ingin menyampaikan pesan sejarah bahwa kendali bukanlah di tangan manusia, termasuk atas pikiran-pikirannya sendiri. Para konspirator selalu ditipu oleh dendam dan megalomania, diyakinkan oleh kedigdayaannya bahwa semua kendali ada di tangan mereka. TIDAK nyatanya!

Sumber optimisme kita dari situ, dari fakta bahwa kendali tidaklah di tangan manusia, kendali tetap di tangan Allah. Dia yg mengendalikan game ini!

Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya!

Allah yang mengontrol seluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangann terlalu khawatir!

Semua ilmu manusia tentang masa depan hanya sampai pada zhan (dugaan). Mereka bisa membaca tren, tapi tidak mengendalikannya. Itu seperti meramal cuaca, bisa diduga-duga tapi tidak bisa dikendalikan. Jadi jangan percaya pada propaganda bahwa ada kekuatan yang tak terkalahkan di dunia ini!

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Menikmati Kelelahan

By : Abu Izzuddin
---
Seorang kawan berkata kepadaku,
"Aku meminta kepada الله sekuntum bunga yang indah nan harum mewangi, tapi الله memberiku sebatang kayu yang berduri"
"Akupun minta kepada الله seekor kupu-kupu yang bersayap indah nan cantik. Akan tetapi الله memberiku seekor ulat yang berbulu, menakutkan dan menjijikkan".
"Akupun meminta kepada الله suasana indah dengan rona pelangi warna-warni menyelimuti, tapi الله menjadikan suasana mendung dan hujan menyiram bumi".

Aku marah dan protes kepada ROBBI, betapa tidak adilnya ini…
Katanya الله maha kaya, maha memberi, maha mengabulkan permintaan hamba-Nya. Tapi kenapa permintaanku tak dikabulkan, harapanku tak dipenuhi.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah batang yang berduri tersebut kutanam, kusirami, dan kurawat sebaik mungkin, maka mulai keluarlah kuncup-kuncup daun dan ranting, kian lama kian banyak dan tumbuh semakin subur. Dan akhirnya keluarlah bunga yang harum semerbak wangi, indah di lihat nan menyenangkan hati.

Seiring berjalannya waktu, setelah hidup dengan memakan dedaunan, ulat itupun lama kelamaan berubah bentuk menjadi kepompong. Dari kepompong itulah, pelan namun pasti muncul seekor kupu-kupu dengan warna sayap yang sangat indah. Terbang kian kemari menari-nari, hinggap di atas bunga-bunga.

Saat hujan reda dan suasana menjadi cerah, kulihat pelangi menghiasi langit, indah warna-warni.

Sahabat, ternyata الله sedang mengajari hamba-Nya ini untuk memahami makna sebuah proses. Ternyata untuk meraih suatu kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan keuletan. Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, kita harus melaksanakan ikhtiar selain do’a yang jelas harus kita panjatkan dengan segenap kesungguhan. Sungguh, bisa saja الله langsung mengabulkan setiap permintaan kita. Tapi kita diciptakan sebagai sebuah makhluk yang diberikan kewajiban dan juga hak, tugas dan imbalan, amanah dan pahala serta azimah dan rukshah.

Sahabat semua, adakalanya kita merasa sudah berusaha sungguh-sungguh, namun الله tak juga mengabulkan keinginan kita. Atau mungkin sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai harapan kita. Pasti perasaan kita akan kecewa, dongkol atau bahkan marah. Tapi itu takkan menyelesaikan masalah. Justru masalah kita kian bertambah. Cobalah kita menyendiri dan merenung, lalu husnudzon pada الله. Mungkin الله belum memberikan sesuatu yang kita minta karena sesungguhnya kita memang belum siap menerimanya.

Mungkin juga الله ingin menyempurnakan kebaikan kepada kita di dunia ini.

Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama sehat tatkala dirinya pernah sakit.
Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama kaya tatkala dirinya pernah miskin.
Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama keberhasilan tatkala dirinya pernah menemui kegagalan.
Bukankah orang akan merasakan nikmatnya makan dan minum jika dia berpuasa.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“ (Qs. Al-Insyirah: 5-6)

Dan kemenangan dakwah tercinta inipun memerlukan proses yang panjang. Ia harus diperjuangkan dengan kader dan jundi yang memiliki maknawiyah terbaik, waktu, tenaga dan pikiran terbaik, harta terbaik, keikhlasan terbaik, pengorbanan terbaik, keistiqomahan terbaik, semangat bekerja terbaik dan segala sesuatu yang terbaik. Insya الله sang pemilik agama inipun akan memberikan kemenangan terbaik. Dan bahwa kemenangan dakwah itu tidak akan bisa tercapai tanpa pengorbanan yang sungguh-sungguh dan melaui proses yang sangat panjang.

Jika tak bisa engkau berikan hartamu pada dakwah ini, maka berikanlah waktumu, jika tak bisa maka berikanlah fikiranmu, jika tak bisa berikanlah jasadmu, jika tak bisa, berikanlah jiwamu... Jika tetap tak bisa... apalagi yang bisa engkau ajukan sebagai bukti cintamu pada-Nya...???

Ikhwah fillah, menunggu kemenangan dengan tetap mengalir dan menelusuri proses ini adalah sebauh keharusan bagi seorang jundi dakwah. Liqo kita, aksi sosial kita, mukhoyyam kita, shoum kita, tilawah kita, qiyamulail kita, dan semua kerja-kerja dakwah kita adalah proses menuju kemenangan itu.

Lelah, sakit, terluka, sedih, bangga dan gembira adalah warna dalam menapaki proses ini. Jika pada akhirnya kemenangan hakiki yang akan kita raih, apakah lelah itu sesuatu yang menyusahkan…? Tentu saja, bukan. Tapi kelelahan ini adalah interupsi dari kenikmatan dan kebahagiaan.... insya الله .

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Masihkah berdiam diri

by: abuhasan surhim
---
Kalau Allah sudah jadi tujuan
Kalau RidhoNya adalah harapan
Kalau Surga adalah dambaan
...masihkah berdiam diri...?!
***

Bagi yang menonton pertandingan semifinal AFF Indonesia vs Pilipina pasti mengenal seorang pemain yang paling "mencolok" pandangan mata. Pemain satu ini memang mudah dikenali karena memakai "kostum" yang berbeda, dia memakai "sorban" (perban) yang melilit kepalanya.

Dialah Mohammad Nasuha. Bek kiri Timnas kelahiran Tangerang yang bermain heroik dengan determinasi sangat tinggi. Meski kepalanya bocor karena beradu dengan seorang pemain lawan, ia tetap ngotot bermain dengan kepala dibalut-balut perban. Walaupun berdarah-darah, dia meminta tim dokter untuk melakukan apa saja supaya dia bisa terus main.

"Nasuha mengalami luka robekan di kepala, cukup panjang. Nasuha langsung meminta agar luka ditutup. Dia bilang kalau perlu dijahit, jahit saja, Dok. Saya mau main lagi," ungkap dr. Aditya Wahyudi, salah satu tim dokter timnas.

Indonesia pun akhirnya berhasil memenangkan duel dengan Pilipina. Dan salahsatu kontributor kemenangan itu adalah pengorbanan "perban" Mohammad Nasuha.

***

Begitulah kalau orang sudah meyakini sebuah cita-cita (apapun cita-cita itu). Dia tidak rela berdiam diri. Dia akan melakukan apa saja, mengorbankan apa saja, memberikan apa saja, untuk memastikan terwujudnya cita-cita itu. Bagi dia, tidak ada rintangan yang tak dapat dilalui, tidak ada hambatan yang tak dapat diatasi. Karena dia sudah "mengalahkan" hambatan terbesarnya: diri sendiri!

Saya jadi teringat dengan kisah heroik Amru bin Jamuh. Di usianya yang sudah uzur dan kakinya yang pincang dia tetap ngotot untuk ikut berpartisipasi pada perang Uhud. Walaupun Nabi saw sudah memberi izin dispensasi, dia tidak mau pasrah mengalah begitu saja, "Ya Rasulullah, izinkan aku untuk turut serta bersamamu. Sesunguhnya saya ingin merebut surga dengan kakiku yang pincang ini!" tegas Amru bin Jamuh yang akhirnya dizinkan untuk ikut berperang dan dia berhasil menggapai cita-citanya: merebut surga sebagai syuhada!

Ikhwah fillah, itulah dua contoh sosok-sosok manusia yang sudah mengalahkan dirinya sendiri, sehingga tidak ada lagi yang bisa mengalahkannya untuk menggapai cita-cita. Percaya atau tidak, hambatan terbesar untuk mencapai puncak kesuksesan adalah diri sendiri. Senjata paling ampuh yang paling banyak kita gunakan untuk melegalisasi berbagai jenis kegagalan adalah "EXCUSE" atau "ALASAN" atau "DALIH PEMBENARAN".

"EXCUSE" membuat kita kalah dengan mudah, membuat kita merasa sah untuk menyerah, membuat kita merasa terhormat ketika terhina, membuat kita merasa wajar untuk gagal.

Ikhwah fillah, peluang dan medan amal terbentang luas di hadapan kita. Sungguh beruntung kita tergabung dalam jamaah ini yang membuka pintu-pintu kebajikan untuk menambah pundi-pundi amal kita. Ada amal berupa syuro, liqo tarbiyah, mukhoyam, latsar, mabit, dauroh, kajian, tatsqif, ta'lim. Ada ibadah berupa pelayanan, baksos, aksi kepedulian, yankes, PWK, silaturohim, jaring aspirasi. Berjuta ladang amal terpampang dan tersedia di depan kita, di DPRa kita, di DPC kita, di DPD, DPW, DPP.

Dan untuk merengkuh itu semua, langkah awal adalah "mengalahkan" diri sendiri. Jangan lagi berlindung dibalik A2 (afwan akh), A4 (afwan akh anak ane...), ABC (afwan baru capek), ACDC (afwan cuaca dingin cekali), ALAY (afwan lagi asyik yanglain), AU (afwan ujan), AL (afwan lupa), ALS (afwan lagi sibuk), ALTEB (afwan lagi tidak enak badan). Bedanya orang gagal dan sukses adalah: orang gagal mencari alasan untuk berhenti, sedang orang sukses berhenti mencari-cari alasan.

فَقُلْ لِمُرَجِّيْ مَعَالِيَ الْأُمُوْرِ، بٍغَيْرِ اِجْتِهَادٍ: رَجَوْتَ الْمُحَالَ

"Katakan kepada orang yang ingin menggapai hal-hal yang luhur:
Tanpa bersusah payah, kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil."

Kalau Allah sudah jadi tujuan
Kalau RidhoNya adalah harapan
Kalau Surga adalah dambaan
...masihkah berdiam diri...?!

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ibu, dengan apa ku membalas....

Rabu, 22 Desember 2010

By: Seorang Akhwat*
---
Bicara Ibu, adalah bicara tentang separuh kehidupan kita. Ato bahkan lebih. Kita tak kan pernah bisa menghitung apa saja yang telah Ibu lakukan dan korbankan untuk kita. Tapi kita bisa mengingat dengan mudah apa-apa yang pernah kita berikan dan lakukan untuk beliau. Ya, karna apapun yang terbaik yang kita persembahkan untuk beliau, tak kan pernah sebanding dengan samudra kasih sayangnya.

Ibu adalah sosok serba bisa yang selalu siap siaga. Tak satupun dari kita yang ingat bagaimana Ibu tertatih dengan beban di rahim yang kian hari kian berat saat mengandung kita. Juga sesaat setelah melahirkan, beliau langsung 'melayani' anaknya. Lelah tak dirasa, letih tak digubris. Bersama kelahiran kita, hadir pula telaga cinta Ibu yang tak kan pernah kering.

Ingat masa kanak-kanak dulu. Dua tahun di bangku TK, Ibu selalu menyiapkan penampilan terbaik untuk gadis kecilnya. Juga mengantar jemput setiap hari, bahkan waktu udah kelas 1 SD. Juga saat aku sakit, Ibu selalu menemani dan merawatku dan menjadi orang yang paling repot, meski aku hanya masuk angin biasa. Pernah juga ketika aku SMP, pulang sekolah Ibu jemput naik sepeda. Temen-temen pada ketawa. Anak dua SMP masih dijemput ibunya, pake sepeda pula...! Hey, kalian pada gak tau ya..?! Ini wujud cinta seorang ibu yang khawatir pada anaknya karena baru sembuh dari sakit. Khawatir anaknya kenapa-napa di jalan saat pulang. Meski sebenarnya aku sendiri merasa sudah sangat sehat. Trimakasih Ibu.....

Ah, itu hanya secuil kisah dari sekian juta kasih sayangmu, Ibu...

Tujuh tahun terakhir ini Ibu mulai sakit-sakitan. Serangan terakhir bulan kemarin, dobel, kata dokter Dispepsia dan CHF (congestive heart failure). Udah sebulan lebih tubuh ringkihnya terbaring di tempat tidur. Miris banget saat menyeka tubuhnya dengan air hangat pagi dan sore. Ya Alloh.... kurus banget Ibu, 27 kg dengan tinggi 145 cm. Bahkan beberapa waktu lalu saat masih dirawat di RS, temenku tak kuasa membendung air mata menyaksikan betapa lemah dan kurusnya beliau.

Alhamdulillah Ibu adalah sosok yang tegar dan tabah. Meski kondisinya lemah, dhuha dan tahajjud tak pernah ditinggalkan. Dan juga tetap ngotot untuk sholat sambil duduk, meski sambil berbaring pun sangat maklum untuknya. Aku sering malu, kalah sama beliau...

Ibu, maafkan anakmu ini yang jauh dari sempurna dalam merawat dan melayanimu...
Maafkan aku yang belum pernah menyeka air matamu, karna aku pun belum pernah menyaksikan tangismu...

Ya Alloh, sayangilah Ibu melebihi sayang yang ia curahkan pada hamba selama ini...
Ya Alloh, berilah kesembuhan segera pada Ibu. Atau kapanpun sesuai kehendak MU.. Kami selalu yakin, skenario Alloh adalah yang terbaik...

Piyungan, 22 Desember 2010
"Selamat Hari Ibu"


*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Membaca Taqdir

Oleh: Anis Matta
Diantara manfaat iman kepada takdir adalah bahwa kita menemukan ruang tak terbatas untuk menafsir semua kelemahan dan keterbatasan kita. Tapi, di balik itu tetap ada harapan dan optimisme bahwa Allah selalu berkehendak baik kepada kita. Apapun peristiwa yang ditimpakan kepada kita.

Iman kepada takdir mempertemukan dua kutub ekstrim dalam diri kita. Kepasrahan dan optimisme. Ketergantungan pada Allah dan rasa percaya diri. Itu yang memberi kita keseimbangan jiwa. Akhir dari semua kerja keras kita adalah kepasrahan. Ujung dari semua kelemahan kita adalah optimisme.

Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar. Kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Karena itu kita berucap “Allah telah menetapkan. Semua yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan. Yang terbaik itu apa yang ditakdirkan Allah”.

Takdir adalah ide tentang bagaimana kita menafsir kekuatan dan kelemahan kita sebagai manusia. Juga ide tentang skenario kehidupan, dimana Allah adalah pusatnya.

Lihatlah perjalanan hidup kita. Bagaimana ia sangat dipengaruhi banyak faktor. Tapi semuanya tidak dalam kendali kita. Orang tua, suku, waktu dan tempat kelahiran, orang-orang yang sezaman dengan kita, orang-orang yang kita temui dalam perjalanan hidup, semua tidak kita tentukan. Pengaruhnya? Adalah semata karena rahmatNya ketika Ia memberi kita kesempatan untuk memilih beriman atau tidak beriman. Tapi akibat pilihan kita adalah takdirNya.

Kisah Nabi Yusuf bermula dari sumur dan penjara. Berujung di istana dan berkumpulnya keluarga. Sebuah skenario kehidupan yang sempurna. Tapi ujung cerita itu adalah pernyataan bahwa “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut (dalam mencapai) apa yang Ia kehendaki”.

Membaca takdir Allah adalah upaya yang tak boleh berhenti untuk memahami kehendakNya. Belajarlah menitipkan kehendak kita dalam kehendakNya. Mempertemukan kehendak kita dengan kehendakNya itulah yang disebut tawfiq. Pertemuan yang menciptakan harmoni kehidupan. Damai dan tenang tiada henti.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab-sebabnya dan terjadilah semua takdirNya. Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan oleh goncangan hidup apapun. Kita merasa lebih pasti.

Orang yang tidak beriman pada takdir selalu berada pada 2 kutub jiwa yang ekstrim. Merasa hina waktu lemah, sombong dan melampaui batas waktu kuat.

Waktu kalah dalam perang Uhud, Allah melarang kaum muslimin merasa lemah dan sedih. Mereka harus tetap merasa kuat, sebab ini belum berakhir. Kita jadi kuat di ujung kelemahan manusiawi kita karena kita percaya pada kekuatan Allah yang tidak terbatas. Di ujung kelemahan kita selalu ada optimisme.

Dari 99 nama dan sifat Allah ada 4 yang paling banyak mendasari semua takdirNya: Al ‘Ilm, Al Qudroh, Al Rahmah, dan Al ‘Adl.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ('Ilm). Maha Mampu bertindak dan melakukan apa saja yang Ia kehendaki (Al Qudroh). Tapi juga Maha Penyayang dan Maha Adil. Jadi walaupun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mampu melakukan apa saja, tetap saja kasih sayang dan keadilanNya mengalahkan angkara murkaNya. Itu sebabnya Allah tidak akan pernah menzalimi hambaNya. Walaupun Ia bisa kalau Ia mau. karena Ia terlalu Pengasih dan terlalu Adil.

Itu yg menjelaskan mengapa seluruh takdirNya adalah kebaikan semata. Termasuk semua musibah yang menimpa hambaNya, itu pertanda cinta. Memadukan keperkasaan dan kasih sayang. Kekuatan dan keadilan. Adalah sifat Allah yang menciptakan harmoni dan keseimbangan dalam takdirNya.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Taqdir Politik

Oleh: Anis Matta
Ayat-ayat tentang takdir ini paling banyak diturunkan pada konteks politik dan kekuasaan, karena dalam pergulatan itulah iman kita pada takdir paling banyak diuji.

Dalam pertempuran dan pertarungan politik iman kita pada takdir paling banyak diuji, karena dalam kondisi itu kita gampang labil dan tergoncang secara batin. Itu sebabnya panyak tentara yang pergi cari jimat sebelum bertempur. Atau penguasa cari dukun untuk memastikan kesinambungan kekuasaannya.

Tentara dan penguasa terlibat dalam banyak pertempuran dan konflik, hidup dalam ketidakpastian dan goncangan tanpa henti. Mereka mudah jadi rapuh. Tentara dan penguasa butuh sandaran spiritual lebih besar dan kokoh. Sayangnya mereka sering mencarinya di luar Allah.

Bekerja dalam dunia politik tanpa iman yang kokoh pada takdir membuat kita labil dan rapuh, mudah mengalami disorientasi dan tersesat di tengah jalan.

Musa berkata kepada kaumnya: "Mintalah pertolongan dari Allah dan bersabarlah, sungguh Dia akan wariskan bumi ini kepada hamba yang dikehendakiNya".

Diantara Fir'aun dan Musa, Allah memberlakukan takdirNya: shifting of power (pergiliran kekuasaan-ed). Itulah pengaturannya. Terlalu halus memang, dan tak terbaca.

Iman pada takdir membuahkan keyakinan yang kokoh dan kesabaran yang panjang. Itulah kunci dari karakter para pemenang: keyakinan dan kesabaran.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kami adalah milik kalian

By: Abu Hasan Surhim
Panas yang membakar coba ditepisnya dengan mengipaskan selendang. Namun si bungsu dalam gendongannya sesekali masih menangis. Mungkin karena hawa panas atau menahan sakit akibat batuk dan pilek yang sudah dideritanya empat hari ini. Usia satu tahun memang belum bisa mengungkapkan perasaan dengan bahasa kata.

Siang terik itu Marjiyem rela berjalan kaki menggendong anak ketiganya melintasi dusun tetangga. Dia mendengar kabar kalau akan ada pengobatan gratis dari PKS di dusun Wanujoyo Kidul, Piyungan, Bantul. Untuk menahan sengatan mentari, kepala putri kecilnya itu ditutupi topi kuncung merah-biru. Dia sendiri tidak bertutup kepala, hanya kaos pendek putih berlengan hijau, kaos ‘kenang-kenangan’ pemilu 2009 dari caleg PKNU nomor urut 5. Dusun sini dan sekitarnya memang basis nahdhiyin di kecamatan Piyungan.

Sudah banyak mbah-mbah dan ibu-ibu yang berkumpul di rumah Pak Dukuh tempat acara pengobatan gratis yang digelar PKS Piyungan saat ibu tiga anak ini sampai disana. Terpampang jelas spanduk kecil ‘Pos Pelayanan Kesehatan PKS’ di teras rumah Pak Dukuh. Akh Sugeng yang bertindak selaku ‘among tamu’ langsung mengantar dan mempersilahkan ibu ini untuk mendaftar dulu.

“Sinten ingkang sakit, bu?” (siapa yang sakit, bu?) sapa akh Haryadi yang bertugas di loket pendaftaran.
“Niki lare kulo, Tri Utami,” (anak saya, Tri Utami) sang ibu membelai si bungsu yang tergolek lemas.
“Oh, dik kecil. Yuswo nipun pinten bu?” (anaknya umur berapa?)
“Setahun, mas”
“Sakit nopo, bu?” (sakit apa?)
“Watuk pilek. Pun kawan dinten.” (batuk pilek sudah empat hari)
“RT pinten bu?”
“Kulo saking Wanujoyo Lor RT tigo”
“Oh njih, monggo lenggah rumiyin”. (Silahkan duduk dulu bu)

Sambil duduk dan kadang berdiri bila si kecil rewel, bu Marjiyem berkumpul bersama ibu-ibu dan mbah-mbah yang lesehan mengantri panggilan pak dokter. Jumlah pasien siang itu memang membludak. Sama membludaknya dengan kader ikhwan akhwat yang datang bahu membahu melayani warga.

Dua hari setelah aksi pelayanan kesehatan di Wanujoyo Kidul, akh Sugeng yang merupakan kader asli wanujoyo bersilaturohim ke rumah ibu Marjiyem. Senyum dan keramahan menyambut kedatangannya.

“Alhamdulillah, lare kulo pun mendingan. Watuk pilek pun sudo. Matur suwun saestu, mas,” (Alhamdulillah, anak saya sudah membaik kondisinya. Batuk pileknya sudah berangsur hilang. Terimakasih banyak, mas) ujar Pak Suroto suami bu Marjiyem yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan.

Lega kami mendengar kabar dik Tri Utami yang sudah baikan. Mudah-mudahan amal kecil itu bisa sedikit meringankan beban hidup keluarga bu Marjiyem dan ibu-ibu lain yang kami sendiri tidak mengenalnya. Kami sadar tidak bisa menuntaskan segala problem mereka. Tapi kami juga tahu bahwa kami harus berbuat sekecil apapun yang bisa.

"Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti itu selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya pasrah oleh keputusasaan."

"Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian." [Hasan Al-Banna]

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kepanduan Tak Ada Matinya

Selasa, 21 Desember 2010

Reporter: Abuhasan Surhim
Rata tak berbekas, tertimbun lahar. Betul-betul tidak ada tanda-tanda kalau di area itu dulunya berdiri rumah-rumah warga. Sepanjang mata memandang hanya debu, pasir, abu vulkanik, dan timbunan lahar yang sudah memutih yang terlihat. Pemandangan itu yang kami lihat di pedukuhan Pagerjurang Kepuharjo Cangkringan yang berjarak 10 km dari puncak Merapi.

Salah satu yang menjadi korban timbunan lahar merapi sekaligus saksi hidup kedahsyatan bencana merapi adalah akh Lanjar, yang rumahnya sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Atap pun tidak terlihat. Rata tertimbun lahar Merapi.

Ikhwah yang dulunya kerja di perkebunan tanaman hias lereng Merapi ini sekarang tinggal sementara beserta istri dan satu anaknya di pengungsian (shelter) yang dibangun ACT di Dusun Gondang Legi, Padukuhan Pandan Puro, Desa Hargo Binangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Ada 140 unit shelter di lokasi itu dengan ukuran bangunan sekira 3 X 6 m2 dengan dinding terbuat dari anyaman bambu dan atap seng.

Akh Lanjar sekarang masih menganggur lantaran perkebunan milik Gusti Pembayun tempat dia bekerja juga rata tertimbun. Sedang istri beliau masih mengajar di TKIT Baitussalam Cangkringan.

Walau demikian, wajah tegar dan senyum ramahnya tidak hilang, kala kami bertemu dengan beliau di pedusunan Alas Gede Kepuharjo, sekira 2 kilometer dari "bekas" rumahnya yang sudah tertimbun. Di dusun Alas Gede inilah beliau akan pindah rumah menempati lahan milik orangtuanya, karena di tempat rumah lama tidak mungkin bisa ditinggali lagi.

Beberapa waktu lalu, JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Yogyakarta sudah menawarkan kepada beliau rumah kayu dari Gunung Kidul yang siap huni, tinggal dipindah ke lokasi tanah beliau di Alas Gede, area 12 km Merapi.

Maka hari itu, Ahad 19/12/10, kami melakukan kerja bakti untuk mempersiapkan lahan yang akan menjadi tempat tinggal keluarga akh Lanjar, keluarga kakaknya, dan mbah Puji Wiyono (orantua akh Lanjar). Lahan di Alas Gede masih berupa kebon semak belukar dengan pohon-pohon sengon dan tanahnya tidak rata.

Enam puluhan anggota Kepanduan PKS Piyungan Bantul dan Kepanduan PKS Berbah Sleman bahu membahu babat alas untuk untuk membersihkan lahan dan meratakan tanahnya. Dengan peralatan cangkul, parang, kapak, dll yang kami bawa dari rumah, kerja bakti ini dimulai sekira jam 9 pagi.

"Kepanduan...!!!", teriak Didi Darmadi yang mengkomandoi kerja bakti.

"Siap kerja bakti.....!!!", lantang teman-teman kepanduan yang lain membalas.

Akh Haryadi yang sehari-hari biasa ngarit untuk mencari pakan sapinya, terlihat sangat sigap bermain dengan parangnya dibantu kakak dan geng sanansari. Srak.. sruk... krek... semak belukar pun minggat.

Akh Usman dan teman-teman Kaligatuk tampak asyik memainkan cangkulnya meratakan tanah yang bergunduk bergunjal. Para ikhwah yang sehari-hari bertani ini tak kesulitan untuk menaklukan tanah liat. Walau deras keringat bercucuran, mereka masih bisa mancangkul sambil bercanda ria.

Ustadz Dani Asy-Syakib, Bahtiar sang dosen, Parman BMT, Abu Uwak bakul bakso, secara bergotong royong mengangkuti tanah hasil paculan. Dengan menggunakan karung goni secara berdua-dua mereka mengangkut tanah untuk diratakan.

Akh Didi Darmadi sang komandan regu, tanpa ragu merobohkan satu demi satu pohon-pohon sengon dibantu oleh teman-teman yang lain seperti Kasan "Sang Rocker 70-an", Arif Penjahit, Pakde Mujiran sopir angkot, Agus distributor retail gula, Wahyu Aji peternak ayam, Pak Pitoyo tukang service elektronik, dan Pak Haji Supratmin pengusaha kayu.

Kehadiran Pak Haji yang baru beberapa hari pulang dari menunaikan haji kemarin ini membuat semangat rekan-rekan kepanduan makin menggelora. Biarpun usianya sudah diatas 50-an, Pak Haji yang sudah setahun ikut Liqo ini tampak semangat ikut kerja bakti Kepanduan. Seragam kepanduan yang dikenakannya makin menambah gagah penampilan di usia senjanya. Pak Haji ini betul-betul totalitas berjuang di jalan ini, baik dengan harta maupun tenaganya. Ruarrr biasa.......

Lahan yang dulunya semak belukar inipun dalam waktu singkat sudah menjadi lahan siapa huni, tinggal menunggu kiriman rumah dari JSIT. Kerja bakti berlangsung sampai pukul dua siang dengan diselingi istirahat sholat dzuhur berjamaah di Masjid Al-Basithu yang tak jauh dari lokasi.

Begitulah suasana meriah kerja bakti Kepanduan PKS Piyungan dan PKS Berbah hari Ahad kemarin di kaki Merapi sebagai salahsatu upaya rehabilitasi korban Merapi. Kekompakan dan semangat yang luar biasa dari teman-teman kepanduan. Semua bekerja, semua berkeringat, dan semua bergembira, karena semua merasa senang kalau mereka bisa membantu orang lain.**


*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Andai Kader PKS seperti Okto

Senin, 20 Desember 2010

by: deni sunardi
---
"Wuiiih Okto punya sodara kembar," komentar kang Komeng.
"Hebatnya lagi mereka maen bareng dalam satu tim," lanjut Komeng yang bikin bingun 50an penonton lain yang memadati area nonbar PKS Srimartani.

"Kebayang ga' kalo di timnas Indonesia ada lima Okto atau malah ada banyak? pasti bisa menang besar," bergaya komentator Komeng meneruskan ulasannya.

"Coba liat sama tuh si Okto kalau bermain. Dari sayap kiri mendadak ada di kanan, ehh pas Indonesia diserang si Okto sudah ada dibelakang, kayak dimana ada bola ada Okto disitu," pungkas kang Komeng yang mendadak jadi komentator top di acara nonbar (nonton bareng) semifinal Indonesia vs Pilipina yang diprakarsai DPRa PKS Srimartani Piyungan tadi malam, Minggu (19/12), bertempat di dusun Sanansari.

Di antara ‘pemain asing’ yang menjadi bintang di Piala AFF 2010, satu nama lokal yang namanya paling mencuat adalah Okto Maniani. Alfred Riedl dan timnas beruntung mendapat satu mutiara dari Papua.

Sebelum perhelatan Piala AFF 2010, mungkin belum banyak yang mengenal sosok Oktovianus Maniani. Namun kini pesepakbola berusia 20 tahun yang selalu tampil ngotot dan energik tak kenal lelah untuk mengejar dan menggiring bola itu jadi bintang yang bersinar di antara nama-nama lain seperti Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim.

Dakwah membutuhkan tipe kader seperti Okto yang tampil ngotot setiap beraksi. Alangkah indahnya kalau semua kader PKS dalam kiprah dakwahnya "all out" memberikan yang terbaik. Dimana ada seruan kebajikan, disitu ada dia. Saat tatsqif, dia datang sebelum kajian dimulai dan tekun menyimak sambil mencatat. Saat datang waktu sholat, dia yang jadi muadzin atau bersegera ke masjid. Saat ada panggilan aksi pelayanan & kepedulian, dia bergegas walau sekedar bantu angkat junjung peralatan, atau sekedar jaga parkir. Saat diundang syuro, dia disiplin tepat waktu dan sudah bawa catatan ide-ide inovatif dan kreatifnya. Saat bertemu ikhwah yang lain, dia menyapa duluan menjabat erat tangan saudaranya, senyum mengembang menghiasi wajah teduhnya, serius menyimak penuturan sahabatnya. Saat mengetahui ada ikhwah yang sakit, dia menjenguknya. Dan saat malam menggelap, dia bersimpuh di hadapan rabbnya, khusyu di mihrabnya, berlinang air mata penyesalan akan kelemahan dirinya..

Dia selalu ada bersama kebaikan, dan kebaikan selalu ada bersama dia. Dan dia melakukannya dengan sepenuh jiwa, memberi yang terbaik. Dia pun tidak rela untuk tertinggal atau kehilangan kesempatan beramal, sebagai apapun perannya, sekecil apapun kontribusinya. Sampai kelelahan "lelah" mengejar dia. Karena dia hanya ingin istirahat di akhirat. Karena dia ingin bertetangga dengan Baginda Nabi, junjungan tercinta.**

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Gonzales Tahajud

by: abuhasan
---
‎"Alhamdulillah bisa menang dan masuk ke final," ucap Gonzales usai pertandingan kepada para wartawan. (detik.com)

Spektakuler! ya, gol indah semata wayang yang dilesakkan Gonzales menit ke-42 ke gawang Pilipina pada semifinal AFF 2010, Minggu (19/12/10), telah mengantarkan timnas Indonesia melaju ke babak final.

Lebih berkesan lagi adalah ungkapan syukur dari seorang El Loco, seorang mualaf kelahiran Uruguay, atas nikmat gol dan nikmat menang yang dilimpahkan kepadanya. Alhamdulillah, ya, hanya Allahlah yang patut untuk dipuja dan dipuji atas keberlimpahan nikmat yang kita dapat.

"Ini gol saya persembahkan untuk rekan-rekan saya dan para suporter Indonesia. Kemenangan ini ada karena kerja keras tim," lanjut Gonzales.

Cristian Gonzales mengajarkan kepada kita (baca: jama'ah dakwah) bahwa kesuksesan akan didapat manakala syarat 'kerja keras' dan 'kolektifitas' (amal jama'i) sudah terwujud pada jamaah itu. Kerja keras setiap individu jamaah, masing-masing kader ikhwah mengeluarkan segenap potensinya, memahami peran dan memiliki ruhul masuliyah (rasa memiliki dan karenanya bertanggung jawab), dan semua kader berpartisipasi aktif berkontribusi dengan ikhlas, tenanan tidak manja, serius ora leda lede, totalitas tidak alakadarnya, dalam bingkai kerja jama'i. Sungguh kalau itu sudah ada di DPC anda, DPRa kita, maka masalah nasrumminallah hanyalah persoalan waktu.

Selain tipe pekerja keras, "El Loco" juga pemain dengan kepercayaan diri tinggi dan pantang menyerah. Bagaimana tidak, dalam 20 menit awal, Gonzales membuang tiga peluang emas. Seorang striker kacangan pasti mentalnya jatuh jika mengalami hal tersebut. Tapi, tidak Gonzales. Dengan kerja keras ia terus bersemangat. Tak pernah ada kata menyerah dalam kamusnya.

Begitu juga seorang ikhwah kader dakwah dalam melakukan aktifitas dakwah. Ketika seruannya tidak didengar, ditolak, mentok, belum banyak ada perubahan dari mad'u, masyarakat atau negara, dia tidak menyerah dan tinggalkan arena. Mencoba dan mencoba. Satu cara tidak berhasil, cari dan gunakan pendekatan lain. Variatif, inovatif dan kreatif.

Gonzales juga tipe pemain yang tidak mudah terprovokasi lawan. Bisa dilihat bagaimana setiap kali "El Loco" menguasai bola, dua hingga tiga pemain "The Azkals" langsung mengepungnya. Ia juga terus menerima provokasi dari pihak lawan. Namun, "El Loco" tak terpengaruh. Ia tetap fokus pada targetnya, menjebol gawang Filipina. Alhasil, kerja keras ini akhirnya terbayar melalui tendangan maut di menit ke-42.

Dalam dakwah kita sering mendapat tantangan maupun provokasi baik dari kalangan internal yang "kecewa" maupun dari pesaing yang khawatir kita berhasil dengan menebarkan opini menyudutkan. Kalau kita sudah yakin dengan jalan dakwah ini, maka fokus pada target dakwah, dan kalaupun ada yang "mengganjal" di hati atau pikiran segera tabayun dengan jajaran qiyadah, murobbi, naqib.

Kekuatan Do'a & Ibadah

"Tadi malam saya suami sekeluarga tahajud, berdoa semoga suami saya mencetak gol pada pertandingan nanti," tutur Eva Siregar istri Gonzales dalam sebuah tayangan infotainment di sebuah TV swasta usai pertandingan semifinal leg pertama.

Sungguh indah, manakala kita menyadari bahwa betapa lemahnya ikhtiar kita tanpa ditopang doa dan ibadah ekstra.

Kesuksesan Gonzales mencetak gol tak terlepas dari berkah shalat tahajud yang dilakukan sehari sebelum pertandingan krusial tersebut. Menurut Eva, striker berusia 34 tahun yang memutuskan masuk Islam pada 9 Oktober 2003 atau sejak menikah dengan Eva itu sangat taat beragama. Gonzales juga telah membangun sebuah masjid di wilayah Gresik.

"Sekarang, setiap main saya selalu ingatkan dia baca Al Fatihah. Lucu juga dengar logatnya. Saya juga yang ajarin dia shalat," tutur Eva saat ditemui di Hotel Sultan sebelum pertandingan.

Kalau Gonzales saja tahajud, tentu bagi kita para kader dakwah harus lebih rajin qiyamullail untuk membuka pintu-pintu kemenangan. Ditambah rajin puasa sunah, menghiasi lisan dengan dzikrullah, membiasakan tilawah Al-Quran 1 juz per hari, tidak melewatkan ma'tsurat, selalu sholat berjamaah di masjid, tidak lupa dhuha sebelum kerja, sunah rowatib juga tidak ditinggalkan.

"Dan pada sebahagian malam hari, sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (17:79)

***

NB: Biro Perjalanan Haji Maktour memberikan hadiah Umrah gratis untuk Gonzales dan istrinya menyusul penampilan gemilang Gonzalez bersama skuad Merah Putih. Gonzalez pun sangat berterima kasih. Ia memang mengaku sudah sejak lama ingin menjalankan ibadah umroh. "Terima kasih, saya sangat senang karena memang ingin menjalankan itu," ujarnya dalam acara telewicara di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu setelah mengantarkan timnas menang semifinal leg pertama.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

keraguan

Minggu, 19 Desember 2010

by: admin
alhamdulillah, hanya karenaMu ya Allah, kembali kami dapat meng-update blog pkspiyungan ini, menit menit sebelum berakhirnya hari ini, ahad 19 desember 2010. tidak akan kita temui lagi hari ahad 19 desember 2010 selain hari ini. ahad besok bukanlah ahad sekarang. dan belum tentu kita masih dipertemukan dengan ahad besok, atau besok pagi, atau huruf setelah ini....

alhamdulillah, kesehatan-kesempatan dan kemampuan diberikan olehNya sejak terbangun tidur. seusai shubuh dan ma'tsurot alhamdulillah bisa menghadiri tatsqif kajian rutin ahad pagi jam 5. jam 7, alhamdulillah bisa bersama-sama kepanduan pkspiyungan kerjabakti ke merapi. pulang ashar, alhamdulillah sehat wal afiat, ada capek, disriam mandi dan sholat ashar jadi lebih seger. jam 3.30 bada ashar, alhamdulillah bisa bersama-sama kader inti se-dpc pks piyungan dalam syuro majlis syuro dpc sampai maghrib. ba'da maghrib, memenuhi permintaan simpatisan menggelar nonbar semifinal indonesia vs pilipina. gol gonzales, mualaf yang mengantarkan kemenangan indonesia, menjadi hiburan yang memotivasi untuk terus berkarya.

alhamdulillah, hari ahad ini dpc pks piyungan berlimpah kesempatan beramal. ada tholabul ilmu yang pahalanya tak terhingga, ada peduli merapi yang mudah-mudahan bisa mengantarkan menjadi khoirunnas bagi ikhwan, sedang bagi akhwat ada aksi pelayanan kesehatan di dusun poitan dengan iming-iming ajrumminallah yang sama, ada syuro dpc yang semoga termasuk tafakkarus saa'ah khoirun min ibadatis sanah, dan ada kesempatan bertemu berinteraksi dengan para simpatisan di tiga titik (dusun) yang minta acara nonbar semifinal indonesia pilipina.

terakhir, saya tidak tahu apakah ini riya atau bukan. keraguan itu selalu muncul manakala harus menulis tulisan seperti ini. dan hanya istighfar yang bisa dilakukan sembari tetap menulis walau keraguan itu tetap tidak hilang.

di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepada-Mu
yang terindah dalam hidupku... (opick-rapuh)

alhamdulillah, hujan kembali hadir saat mengakhiri tulisan ini.

piyungan, 19 desember 2010 pukul 23.25 wib

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kuncinya: Totalitas

Reporter: Abu Hasan
Pagi gerimis. Seusai sholat shubuh, hujan mengguyur bumi Piyungan, ahad tadi (19/12). Alhamdulillah, walaupun sekira lima menit, rahmat Allah berupa hujan ini menyadarkan akan berlimpahnya nikmat Allah yang tak hentinya tercurah bagi manusia.

Pagi di hari ahad, menandakan hadirnya kembali kesempatan bagi ikhwan akhwat kader PKS Piyungan untuk berkumpul dalam naungan ukhuwah dan tholabul ilmu di acara Tarbiyah Tsaqofiyah (Tatsqif) di masjid Al-Ikhlas sampakan mulai pukul 05.00-06.00.

"Dua hal yang harus senantiasa diwaspadai bagi kita adalah mandegnya proses nasma'u (menyimak/memperhatikan) dan na'qilu (berfikir)," ujar ustadz Eko Novianto mengawali kajian.

"Kalau proses menyimak dan berfikir mengalami kemandegan maka itulah awal dari bencana, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Mulk ayat 16. Ikhwah apalagi aktifis dakwah harus senantiasa mengasah kefahaman, salahsatunya kefahaman akan dakwah. Faham terhadap tujuan dan balasan, faham terhadap jebakan-jebakan dan tantangan-tantangan, faham terhadap kondisi dan dinamika dakwah," lanjut kader senior DPD Bantul dalam uraian kajian Fiqih Da'wah padi tadi.

Selanjutnya beliau menguraikan pelajaran da'wah (fiqih da'wah) bercermin dari nabiyullah Nuh as seperti yang diabadikan Allah SWT dalam al-Quran surat Nuh.

"Salahsatu pelajaran dalam da'wah Nabi Nuh adalah bahwa ada hukum pasti (aksiomatik) dalam kaedah dakwah, bahwa jika da'i sudah mengerahkan segenap kemampuan dengan totalitas maka Allah akan menurunkan kemenangan yang tidak hanya dirasakan oleh juru dakwah tapi bahkan segenap penduduk kaum itu, seperti tercantum di ayat 8-12 surat Nuh," tegas ustadz Eko Novianto.

"Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian Sesungguhnya aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (rizqi yang banyak). Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."

Pukul 06.05 kajian rutin (tatsqif) ahad pagi yang diselenggarakan bidang Kaderisasi DPC PKS Piyungan berakhir.

Diluar forum, kami sempat mengobrol dengan ustadz Eko Novianto. Beliau minta maaf datang terlambat 15 menit karena 'kebanan' ban motornya bocor kena paku di tengah jalan. Beliau sudah berusaha berangkat habis subuh tit dari rumahnya yang berjarak 20 km dari lokasi tatsqif di tengah hujan deras. Beliau lalu mengontak sahabatnya untuk dijemput di lokasi ban bocor dan minta diantar ke Piyungan.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Saya Beruntung Bergabung dengan Jama'ah ini

Sabtu, 18 Desember 2010


Oleh: Abuhasan Surhim
---
"Saya sangat bersyukur sekali ditakdirkan untuk bisa bergabung dengan jama'ah ini," suara pelan namun mantap dari akh Didi Darmadi menaungi para ikhwah yang melingkar bersila di masjid Al-Ikhlas Piyungan usai dzikir ma'tsurat ba'da shubuh.

"Sering saat saya di jalan, melihat orang-orang yamg hanya sibuk urusan dunia, saya berfikir kalau saya tidak ikut liqo, tidak bertemu dengan para ikhwah, tidak tahu akan seperti apa saya jadinya sekarang. Saya juga dulu sama seperti mereka, tidak mengenal hakikat dan tujuan penciptaan manusia, tidak punya arah hidup, hanya ngalor ngidul urusan dunia," lanjut ikhwah kelahiran Pagar Alam Sumatera Selatan ini.

"Dalam kehidupan sehari-hari mencari rizqi pun saya tersadar akan keberkahan da'wah. Beberapa kali, ketika ada acara da'wah berbenturan dengan urusan bisnis, saya mendahulukan bisnis. Ternyata, bisnis dikejar malah gak dapet. Pas acara buka bersama liqo atau tatsqif kemarin, saya malah ngantar barang dagangan ke warung. Eh, ternyata warung itu sudah disetor oleh pedagang lain. Sudah meninggalkan akhirat malah ditinggal dunia juga," urai ikhwah yang menekuni bisnis distributor gula dan beras skala kecil ini. Sehari-hari beliau mengambil barang dan mengantar dagangan ke warung atau pasar dengan motor roda tiganya.

"Dari pengalaman ini saya lebih yakin kalau ibadah dan dakwah yang kita lakukan akan berdampak dengan urusan dunia sehari-hari. Ke depan, saya akan mendahulukan dakwah kalau pas berbenturan dengan urusan-urusan dunia. Urusan dunia atau bisnis bisa ditunda kalau waktunya bersamaan dengan kegiatan-kegiatan dakwah," tutup ikhwah yang sebelas hari lagi genap dua puluh sembilan tahun, mengakhiri sesi kultum liqo pagi tadi, Sabtu yang cerah.

Kami, teman-teman liqo yang mendengar kultum akh Didi Darmadi, salahsatu kader muayyid DPC PKS Piyungan, mendapat taushiyah nyata dari pengalaman hidup yang makin menguatkan keyakinan atas sabda Nabi dan janji-janji Allah SWT.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَ جَمَعَ لًهُ شَمْلَهُ أَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةُ
وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلًيْهِ شَمْلَهُ وَلًمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا اِلَّا مَاقَدَرَلًهُ

"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, prioritasnya akhirat maka Allah menjadikan kecukupan dihatinya, mengumpulkan (memudahkan) urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar -pent). Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, prioritasnya dunia, maka Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kecuali sekedar yang ditentukan untuknya." (HR Tirmidzi, dinilai shohih oleh al-Albani)

Liqo yang dimulai sejak pukul tiga dinihari dengan qiyamullail jama'i ini pun ditutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ زَيِّنَا بِزٍيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

"Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat petunjuk dan menunjukkan yang lain."
--**--


*(foto atas: didi darmadi)
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Melayani Simpatisan

Jumat, 17 Desember 2010

Reporter: Deni Sunardi
---
"Mas aku tukar jam, maen malam aja," pinta Rudi malam itu.

"Waduh ga bisa dong, kalo semua pengen maen malam, diundur aja semua," sahut Supri.

"Udah-udah, sekalian aja besok kita nonbar di sini," kata pak Robi selaku panitia turnamen bulutangkis se-kecamatan Piyungan. Beliaupun mengontak PKS Piyungan untuk bisa menggelar nonton bareng semifinal Indonesia vs Pilipina.

Euforia kebangkitan timnas sepak bola di AFF Suzuki Cup 2010 yang melanda seantero negeri dirasakan juga di bumi Piyungan. Demi menyaksikan Okto Maniani sayap mungil dari Sriwijaya Fc, panitia kejuaraan bulu tangkis se-kecamatan Piyungan rela menggeser waktu tanding. Layaknya pertandingan final aja, malam itu (Kamis, 16/12/10) GOR Munggur di timur Piyungan dipadati penggemar pasukan Garuda.

"Wuuaah..!," jerit Wahyu sambil berdiri ketika tendangan keras Firman Utina sedikit melenceng.

"Ooooee..., duduk mas, biasa aja kale," seru Joni melihat Wahyu menghalangi pandangan.

Ya, malam itu sungguh luar biasa suasana nonbar dadakan, betapa ga' sore kemaren hape pengurus DPC PKS Piyungan bedering, "mas, PKS punya LCD proyektor ga?, sekalian operatornya, nonbar di GOR, bisa ya..??, maksa nich, he..he..he..," seru panitia turnamen badminton yang merupakan simpatisan PKS Piyungan. Alhamdulillah, DPC PKS Piyungan punya inventaris LCD, kamipun menyanggupi.

Maka, seusai acara Buka Bersama Puasa Asyuro yang bertempat di rumah om Bachtiar, kami meluncur ke lokasi yang berjarak 7 km dari rumah om dosen.

Gooooooooll.... gool.... gool gool...susana mendadak meledak di menit ke-32 tatkala sundulan Cristian Gonzales ke tiang jauh tak mampu dihadang Neil Etheridge kiper timnas Filipina.

"Wah ga percuma neh gonzales jadi WNI," celetuk kang nardi mengomentari bomber timnas yang udah memeluk Islam tersebut.

"Saya senang Gonzales yang bisa bikin gol. Ini berkah al-fatihah yang selalu dibaca Gonzales setiap mau bertanding," timpal yang lain.

Ya, seperti yang diberitakan detik.com kemarin, atas dukungan Eva Nurida Siregar, sang istri, Gonzalez tak pernah melupakan pesannya untuk selalu melafalkan surat Al Fatihah setiap kali hendak bertanding.

"Saya selalu mengingatkan pada dia untuk tidak lupa membaca Al Fatihah sejak dulu. Saya pun yang mengajarkan cara shalat dan lain-lain. Ia sekarang sudah terbiasa melafalkan salam, Insya Allah dan Alhamdulillah. Yang penting Gonzales tak selalu lupa untuk berdoa," tutur Eva kepada wartawan di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (15/12/2010) sore WIB.

Setelah pertandingan usai dengan hasil 1-0 untuk Indonesia, kami pun memberesi perlengakapan dengan perasaan bangga dengan timnas Indonesia dan rasa puas bisa melayani permintaan simpatisan.

"Mas besok tanggal 19 nonbar lagi ya..," pinta warga saat kami berpamitan.

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Da'wah yang enak dan gurih

Oleh: Wawan Wikasno
Menyambut intruksi bidang kaderisasi DPC PKS Piyungan, bahwa pada 10 Muharom dimohon kepada seluruh muroby mengadakan iftor di masing-masing liqo’ nya, menjadikan diri ini yaqin akan geliat da’wah yang mulai merona lagi di tlatah piyungan ngayogyokarto hadidingrat ini.

Maka jelas seruan ini pun kami sambut dengan harapan menjadikan momentum Muharom ini peningkatan jiddiyah da’wah khususnya di kader-kader liqo’………. Seperti tulisan dalam majalah tarbawi yang belum lama terbit "hanya momentum yang bertemu kesiapan, yang akan melahirkan keberuntungan".

Bagi para bapak-bapak memang acara seperti ini mikirnya pun praktis simple, yang kebayang adalah warung makan. Sayang pikiran kader Piyungan selama ini hanya ada satu rumah makan favorit yakni pemancingan "Mino Lestari", selain murah, tempat luas, pinggir jalan, pokoknya segala bentuk kemudahan yang melekat pada yang namanya Mino Lestari.

Cuma bagi liqo’ kami punya pengalaman yang akhirnya menjadi catatan, dimana kita pernah mengadakan acara buka bersama di tempat itu, waktu sudah tanda buka, ternyata makanan yang dipesan belum selesai di masak, praktis kita harus terlambat buka, bahkan hampir isya’ kita baru makan. Bagi saya pribadi pengalaman ini baik karena bisa membuka wacana kader untuk mencoba alternatif warung makan lain di piyungan. Akhirnya kami pun memberanikan diri buka bersama di RM MURAH MERIAH, maklum dari namanya aja sudah mengidentifikasikan kalau murah harganya, tapi ternyata ruang makanya hanya ada satu kalau akan digunakan untuk acara yakni VIP (Very Important Person ), jadilah kita makan disana, yang tentunya ini menjadi pengalaman pertama buat akh Haryadi, yang kata dia sampai gak bisa hitung lagi berapa kali makan di Mino Lestari.

Acara dibuka dengan berdo’a dan dilanjutkan dengan pembacaan mengenai fadhilah puasa asyuro dan bulan muharom, banyak komentar dari acara ini, yang ternyata sesuai dengan keinginan sang muroby agar kemudian teman-teman liqo bisa terbuka wacananya.

Salah satunya dari Akh Maryono, bos MAESTRO MOBIL ini baru tahu rupanya kalau ada ruang exclusive ini, bahkan dia langsung bilang ke saya, "Tolong kumpulin para pengurus DPC PKS Piyungan pak, besok kalau rapat di sini aja, saya yang bayar, tapi saya nebeng presentasi...". Usulan ini langsung disambut pak Hari yang juga kerjaanye presentasi asuransi syariah.

Belum lagi pak Totok yang juga pengin ngumpulin teman-temannya di ruang ini, maklum liqo kami ini isinya para J U R A G A N. Jadi ternyata tidak salah saya membawa mereka disini ya, sekalian mempertemukan para aghniaya dan fuqoro, agar tdk ada jurang diantara merekan. Walhasil ketika akh Gino yang adalah bendahara liqo hendak membayar tagihan bilang ke saya, "pak uangnya kurang," belum sempat saya jawab tiba-tiba pak Maryono bilang, "kurange piro? nanti saya yang bayar".

Akhirnya selesailah acara ini dengan ditutup sholat magrib berjama’ah di mushola yang terletak timur rumah makan.

Mudah-mudahan cerita ini bisa membangkitkan optimisme kita bahwa geliat da’wah bisa dilakukan di tempat manapun dan menjadikan ikhwah Piyungan (khususnya) tidak hanya merasakan dinamika da’wah yang identik dengan onak dan duri tapi sesekali dakwah yang enak dan gurih.... ^_^

*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN