Reporter: Abuhasan Surhim
Satu persatu ikhwan Piyungan mulai berkumpul di masjid Al-Ikhlas Bintaran Kulon selepas Isya. Ghiroh dakwah dan pancaran ukhuwah jelas terlihat di wajah mereka. Sapaan, senyum dan canda menambah hangat malam yang mulai temaram. Di masjid. Ya, di masjid hati kita menyatu untuk menimba ilmu, merajut ukhuwah, menegaskan azzam.
Agenda rutin bulanan yang digagas Kaderisasi DPC PKS Piyungan semalam, Senin (29/11), bertitel 'Liqo Bersama'. Seluruh kelompok liqo ikhwan di Piyungan dengan jumlah limapuluhan kader berkumpul. Ini juga merupakan sarana dan forum nyata menjaga soliditas.
Pukul 20.15 acarapun dimulai. Al-akh Suparman Abdurrahman, Ketua DPRa Sitimulyo, malam itu menggawangi acara. Usai pembukaan dan penyampaian susunan acara, giliran Ketua DPRa Srimulyo, al-akh Winarno Abdussalam, mengumandangkan ayat-ayat al-Quran. Tajwid dan tartilnya tidak diragukan lagi karena beliau merupakan ustadz TPA belasan tahun di kampungnya.
"Tantangan dan peluang dakwah yang makin meningkat menghajatkan kesiapan kader untuk meningkatkan nilai-nilai tarbawi. Untuk itulah, bidang Kaderisasi DPC Piyungan siap membersamai dan mengawal kader-kader Piyungan agar terus meningkat sisi fikriyah dan ruhiyah dengan berbagai program-program. Tentu saja, itu semua tidak akan berjalan tanpa dukungan dan partisipasi semua kader," terang al-akh Dhanie Asy-Syakib selaku Kabid Kaderisasi dalam sambutannya.
Usai sambutan dan pemaparan program Kaderisasi, agenda bergulir ke acara inti. Acara inti pada Liqo Bersama ini adalah Taushiyah Qiyadah. Beruntung kami malam itu dikunjungi oleh Ketua DPD PKS Bantul yang baru dilantik dua pekan kemarin, ustadz Jupriyanto.
"Kekokohan dakwah kita disamping sebanding dengan tingkat kekokohan kita sebagai individu, juga sangat ditentukan oleh kekokohan rumah tangga kita sebagai basis dan benteng dakwah," ustadz Jupriyanto mengawali taushiyahnya.
"Saya sering dapat pesanan dari para ummahat agar kepada para ikhwan disampaikan tentang materi keikhwanan," lanjut ayah dari Mumtaz Taqiyurrahman (8), Zaky Shofiyurrahman (7) dan Yazid Taufiqurrohman (1) dengan senyum mengembang yang disambut tawa para ikhwan penuh penasaran.
"Maksudnya apa? Pertama, bagi ikhwan yang masih sendirian perlu diingat bahwa antum sudah ditunggu para akhwat yang sudah siap mengarungi biduk dakwah bersama. Kedua, bahwa membina keluarga dan mendidik anak-anak menjadi generasi penerus merupakan tugas bapak-bapak juga. Sesibuk apapun para ikhwan dengan agenda maisyah dan amanah dakwah, tidak boleh melupakan untuk mendidik dan membersamai putra putrinya," terang alumni MIPA Kimia UGM angkatan 93 ini.
Suami dari ibu Supartiningsih, M.Hum, ini kemudian menguraikan salah satu potret keluarga dakwah yang bisa dijadikan cermin, yaitu keluarga Hasan al-Banna. Beliau selanjutnya mengurai sisi 'kebapakan' sang da'i seperti diterangkan detil dalam buku 'Cinta di Rumah Hasan Al-Banna'.
Al-Banna rahimahullah dirumahnya adalah seorang ayah yang kebaikannya begitu mengesankan anggota keluarga, ia memberi contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil. Beliau dikarunia 6 orang anak (Wafa, Ahmad Saiful Islam, Dr.Tsana, Ir.Roja’, Dr.Halah, Dr.Istisyhad)
Diantara kesan seperti dituturkan putra-putri beliau adalah...
- Makan bersama yang menjadi prioritas
- Tak ada suara keras di rumah kami
- Perhatian yang begitu besar terhadap anak-anak dan kebutuhan keluarga
- Menasehati tidak secara langsung
- Ayah Menemani Kami saat bermain
- Ayah Memberi kami hukuman
Tradisi lemah lembut dalam mengelola keluarga mempunyai banyak manfaat. lemah lembut akan menambah ikatan batin antara anggota keluarga dan memperkuat pertalian keluarga.
Putri beliau, Tsana, yang berusia 11 tahun kala sang ayah syahid, mengatakan, ”Jarang sekali ayah menghukum kami kecuali bila ada suatu yang memang dianggap kesalahan berat atau terkait dengan pelanggaran perintahnya yang sebelumnya sudah diingatkan kepada kami. Aku mendapat hukuman 2x dari ayah, kali pertama ketika aku keluar tanpa memakai sandal dan kedua ketika aku memukul pembantu di rumah. Suatu ketika aku duduk diatas tangga dan melihat ayah datang dari kejauhan. Aku segera bangun dan menghampirinya tanpa menggunakan sandal. Padahal ayah sudah mempersiapkan sandal untuk bermain dan sepatu untuk ke sekolah. Ketika itu ayah melihatku sebentar saja, hanya sepintas, dan saat itu pula aku sadar bahwa pasti aku akan mendapatkan hukuman, aku segera kembali ke rumah. Setelah para ikhwan pulang, ayah masuk ke ruang makan dan memanggilku. Aku datang dengan langkah lambat karena takut. Ayah berkata, “Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu". Ayah lalu memukulku dengan penggaris pendek. Masing-masing kaki dipukul 10x. Tapi terus terang sebenarnya aku ingin tertawa, karena pukulannya pelan sekali sampai aku tidak merasakannya. Ayah hanya ingin membuatku mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan.”
Begitulah sekelumit cerita tentang 'kebapakan' seorang pemimpin dakwah yang memiliki kesibukan dan amanah dakwah begitu besar tapi begitu besar pula perhatian beliau terhadap tarbiyah anak-anaknya.
Sekira pukul sepuluh kurang sepuluh, Ketua DPD PKS Bantul mengakhiri taushiyahnya. Acara kemudian ditutup dengan doa kafarotul majlis dan hamdalah.
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
Agenda rutin bulanan yang digagas Kaderisasi DPC PKS Piyungan semalam, Senin (29/11), bertitel 'Liqo Bersama'. Seluruh kelompok liqo ikhwan di Piyungan dengan jumlah limapuluhan kader berkumpul. Ini juga merupakan sarana dan forum nyata menjaga soliditas.
Pukul 20.15 acarapun dimulai. Al-akh Suparman Abdurrahman, Ketua DPRa Sitimulyo, malam itu menggawangi acara. Usai pembukaan dan penyampaian susunan acara, giliran Ketua DPRa Srimulyo, al-akh Winarno Abdussalam, mengumandangkan ayat-ayat al-Quran. Tajwid dan tartilnya tidak diragukan lagi karena beliau merupakan ustadz TPA belasan tahun di kampungnya.
"Tantangan dan peluang dakwah yang makin meningkat menghajatkan kesiapan kader untuk meningkatkan nilai-nilai tarbawi. Untuk itulah, bidang Kaderisasi DPC Piyungan siap membersamai dan mengawal kader-kader Piyungan agar terus meningkat sisi fikriyah dan ruhiyah dengan berbagai program-program. Tentu saja, itu semua tidak akan berjalan tanpa dukungan dan partisipasi semua kader," terang al-akh Dhanie Asy-Syakib selaku Kabid Kaderisasi dalam sambutannya.
Usai sambutan dan pemaparan program Kaderisasi, agenda bergulir ke acara inti. Acara inti pada Liqo Bersama ini adalah Taushiyah Qiyadah. Beruntung kami malam itu dikunjungi oleh Ketua DPD PKS Bantul yang baru dilantik dua pekan kemarin, ustadz Jupriyanto.
"Kekokohan dakwah kita disamping sebanding dengan tingkat kekokohan kita sebagai individu, juga sangat ditentukan oleh kekokohan rumah tangga kita sebagai basis dan benteng dakwah," ustadz Jupriyanto mengawali taushiyahnya.
"Saya sering dapat pesanan dari para ummahat agar kepada para ikhwan disampaikan tentang materi keikhwanan," lanjut ayah dari Mumtaz Taqiyurrahman (8), Zaky Shofiyurrahman (7) dan Yazid Taufiqurrohman (1) dengan senyum mengembang yang disambut tawa para ikhwan penuh penasaran.
"Maksudnya apa? Pertama, bagi ikhwan yang masih sendirian perlu diingat bahwa antum sudah ditunggu para akhwat yang sudah siap mengarungi biduk dakwah bersama. Kedua, bahwa membina keluarga dan mendidik anak-anak menjadi generasi penerus merupakan tugas bapak-bapak juga. Sesibuk apapun para ikhwan dengan agenda maisyah dan amanah dakwah, tidak boleh melupakan untuk mendidik dan membersamai putra putrinya," terang alumni MIPA Kimia UGM angkatan 93 ini.
Suami dari ibu Supartiningsih, M.Hum, ini kemudian menguraikan salah satu potret keluarga dakwah yang bisa dijadikan cermin, yaitu keluarga Hasan al-Banna. Beliau selanjutnya mengurai sisi 'kebapakan' sang da'i seperti diterangkan detil dalam buku 'Cinta di Rumah Hasan Al-Banna'.
Al-Banna rahimahullah dirumahnya adalah seorang ayah yang kebaikannya begitu mengesankan anggota keluarga, ia memberi contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil. Beliau dikarunia 6 orang anak (Wafa, Ahmad Saiful Islam, Dr.Tsana, Ir.Roja’, Dr.Halah, Dr.Istisyhad)
Diantara kesan seperti dituturkan putra-putri beliau adalah...
- Makan bersama yang menjadi prioritas
- Tak ada suara keras di rumah kami
- Perhatian yang begitu besar terhadap anak-anak dan kebutuhan keluarga
- Menasehati tidak secara langsung
- Ayah Menemani Kami saat bermain
- Ayah Memberi kami hukuman
Tradisi lemah lembut dalam mengelola keluarga mempunyai banyak manfaat. lemah lembut akan menambah ikatan batin antara anggota keluarga dan memperkuat pertalian keluarga.
Putri beliau, Tsana, yang berusia 11 tahun kala sang ayah syahid, mengatakan, ”Jarang sekali ayah menghukum kami kecuali bila ada suatu yang memang dianggap kesalahan berat atau terkait dengan pelanggaran perintahnya yang sebelumnya sudah diingatkan kepada kami. Aku mendapat hukuman 2x dari ayah, kali pertama ketika aku keluar tanpa memakai sandal dan kedua ketika aku memukul pembantu di rumah. Suatu ketika aku duduk diatas tangga dan melihat ayah datang dari kejauhan. Aku segera bangun dan menghampirinya tanpa menggunakan sandal. Padahal ayah sudah mempersiapkan sandal untuk bermain dan sepatu untuk ke sekolah. Ketika itu ayah melihatku sebentar saja, hanya sepintas, dan saat itu pula aku sadar bahwa pasti aku akan mendapatkan hukuman, aku segera kembali ke rumah. Setelah para ikhwan pulang, ayah masuk ke ruang makan dan memanggilku. Aku datang dengan langkah lambat karena takut. Ayah berkata, “Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu". Ayah lalu memukulku dengan penggaris pendek. Masing-masing kaki dipukul 10x. Tapi terus terang sebenarnya aku ingin tertawa, karena pukulannya pelan sekali sampai aku tidak merasakannya. Ayah hanya ingin membuatku mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan.”
Begitulah sekelumit cerita tentang 'kebapakan' seorang pemimpin dakwah yang memiliki kesibukan dan amanah dakwah begitu besar tapi begitu besar pula perhatian beliau terhadap tarbiyah anak-anaknya.
Sekira pukul sepuluh kurang sepuluh, Ketua DPD PKS Bantul mengakhiri taushiyahnya. Acara kemudian ditutup dengan doa kafarotul majlis dan hamdalah.
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com































