NEWS UPDATE :

Menkominfo: Sekarang Bukan Zaman Pengekangan

Sabtu, 21 November 2009

JAKARTA - Sikap arogan polisi memanggil pimpinan media (Kompas dan Sindo_ed) menuai kecaman dari Menkominfo Tifatul Sembiring.

Usai bertemu dengan Pemimpun Umum Harian Kompas Jakob Oetama, Tifatul menyatakan zaman pengekangan pers telah lewat dan saat ini tidak boleh ada lagi penekanan atas kebebasan media.

"Saat ini bukan zamannya lagi melarang ini itu," ujar mantan Presiden PKS itu di kantor Depkominfo di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (20/11/2009).

Sikap berbeda tentu akan dimunculkan Tifatul, apabila sifat surat Polri adalah undangan diskusi dengan pimpinan media massa. Sehingga pihak-pihak terkait boleh datang atau tidak.

"Saya rasa kalau mungkin sifatnya sekadar undangan, ya monggo saja. Tapi kalau soal hukum, silakan diselesaikan," ungkap dia.

*okezone.com
--
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Mensos Salim Dapat Medali King Abdul Azis

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufrie mendapat medali kehormatan King Abdul Aziz kelas 1 dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang diserahkan oleh Raja Abdullah.

Momen itu terjadi saat farewell mission (tugas akhir jabatan) yang dilakukan pada 11-18 November 2009.

"Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tapi untuk bangsa dan pemerintah karena kita dipandang telah meningkatkan kualitas hubungan kedua negara,” katanya.

Salim Segaf mengatakan tugas duta besar bukan hanya basa-basi, tapi mesti berusaha meningkatkan investasi dan kerja sama sosial budaya di negara tempat bertugas.

Di masa Salim sebagai duta besar, investasi Saudi Arabia di Indonesia meningkat dari 3 menjadi 5,9 miliar USD. Jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah S2 dan S3 di sana juga melonjak tajam.

"Saat ini kami sedang mendorong agar negara Timur Tengah dan yang lainnya berpartisipasi dalam berbagai program Kesejahteraan Sosial dengan sistem hibah,” katanya.


*sumber: vivanews.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Jumat, 20 November 2009

Dari Jabir ra bahwa Rasulullah saw. bersabda,
”Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul saw menjawab, ”Tidak akan sama walau dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).”
(HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)

When The Government IS NOT Governed

Rabu, 18 November 2009

Polemik perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian memberikan pengaruh negatif bagi perekonomian Indonesia, terutama di mata investor.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi dan Perhubungan Chris Kanter, menilai, kasus KPK mengindikasikan ketiadaan kepemimpinan di Indonesia.

"Buat investor, tidak penting siapa yang sebenarnya korupsi, apa KPK, Kepolisian, Jaksa atau tiga-tiganya. Yang pasti, mereka melihat korupsi masih ada dan dengan kasus ini mereka menilai, the government is not governed," kata Chris di suatu diskusi tentang imbas kasus KPK terhadap investasi di Jakarta, Rabu, 18 November 2009.

Chris mempertanyakan, sistem penyelesaian kasus tersebut yang terkesan lambat dan bertele-tele. "Pemerintah melihat kasus ini sudah lama sekali dan investor melihat Indonesia sedang mengalami problem yang mendasar," kata dia.

Akibatnya, dia menambahkan, investor akan bertanya, who is governing? "Sebenarnya, ada bosnya tidak? Karena rakyat dan investor itu cara berpikirnya sederhana. Ada masalah, lalu siapa yang menyelesaikan," kata Chris.

Setelah itu, investor akan melihat cara apa yang digunakan untuk menyelesaikan kasus. Dengan dibentuknya Tim 8 atau Tim Pencari Fakta, menurut Chris, justru melemahkan kredibilitas presiden untuk memimpin negara ini.

"Pertanyaannya, apa istimewanya (dua pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah), sehingga harus dibentuk tim. Investor berpikir, nanti kalau ada masalah akan dibentuk tim ini dan itu," ujarnya.

Kesimpulannya, kata Chris, ketentuan yang ada di Indonesia tidak mengatur apa-apa sehingga perlu penguatan kepastian hukum. "Kepastian hukum nomor satu buat investor, siapa yang menentukan salah dan benar, harus jelas," ujarnya.

*sumber: vivanews.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Sutradara '2012' Tak Berani Hancurkan Ka'bah

Jumat, 13 November 2009

Los Angeles - Di film bertema kiamat '2012', semua bangunan simbol keagamaan seperti patung Yesus di Rio de Janeiro, St Peter's Basilica di Vatikan dan kuil di Tibet luluh-lantah. Tapi sang sutradara Roland Emmerich tidak menghancurkan Ka'bah. Kenapa?

Seperti detikhot kutip dari Guardian, Jumat (13/11/2009), sutradara asal Jerman itu enggan untuk menghancurkan simbol suci umat Islam Ka'bah di film garapannya. Ia tak mau filmnya dianggap melecehkan umat Islam.

Awalnya ia memang berniat untuk menampilkan visual kehancuran simbol-simbol penting di dunia termasuk Ka'bah. Namun Roland mendapat peringatan dari penulis naskahnya kalau ia tidak bisa melakukannya dengan simbol yang satu itu.

"Penulis naskah Harald Kloser bilang kalau kamu melakukannya pada simbol itu kamu bisa terkena fatwa," ujar Roland.

'2012' menampilkan bumi yang hancur karena terjadi pergeseran kutub magnet bumi. Berbagai bencana pun melanda bumi, mulai dari gempa dahsyat, gunung meletus hingga tsunami.

*detik.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Lukisan Kehidupan


by Abdullah Haidir*
Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan. Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya. Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.


Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan. Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri. Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan. Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, kini masalahnya bukan lagi apakah kita seorang maestro pelukis terkenal macam Picasso dan Afandi atau bukan, tetapi adalah bahwa -suka atau tidak suka- hasil ‘lukisan’ kita pada akhirnya akan dilihat dan dinilai orang. Kesadaran tersebut jelas akan mendorong naluri kita untuk berkata bahwa ‘lukisan kehidupan’ saya harus terlihat indah dipandang. Dan, selama kesempatan 'melukis' itu masih diberikan, kita masih diberi kebebasan berekspresi untuk memperindah lukisan kehidupan kita; meluruskan guratan-guratan yang kurang harmonis, memperjelas sapuan warna yang buram, mengarahkan segmen gambar yang tak terarah, dst.

Hingga akhirnya, ketika mata ini terpejam dan nafas terakhir telah dihembuskan, itulah saatnya lukisan kita telah usai, lalu dibingkai, dan kemudian siap dipajang di ‘ruang depan rumah kita’. Ketika itu pula kita tinggal menunggu bagaimana komentar orang-orang yang melihat lukisan kita yang secara refleks –tanpa basa basi dan formalitas- akan terlontar dari mulut-mulut mereka. Bagaimana reaksi dan apresiasi yang akan mereka berikan, tentu sangat tergantung dengan kualitas lukisan yang terpampang.. Di situlah salah satu parameter kehidupan kita sedang ditentukan.

Suatu saat para shahabat melihat jenazah yang sedang digotong, lalu mereka memuji kebaikannya, maka Rasulullah saw bersabda, ‘pasti.’ Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, lalu mereka menyebut-nyebut keburukannya, Beliau bersabda, ‘Pasti.’ Umar bin Khattab bertanya, ‘Apanya yang pasti wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Yang kalian sebutkan kebaikannya, pasti masuk surga, sedangkan yang kalian sebutkan keburukannya pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.” (Muttafaq alaih)

Seorang penyair berkata,

Innamal mar’u hadiitsu man ba’dahu
Fa kun hadiitsan hasanan liman wa’aa

Seseorang akan menjadi pembicaraan orang-orang sesudahnya,
Maka jadilah bahan pembicaraan yang baik bagi orang yang mendengarnya.

*Riyadh, Dzulqaidah, 1430H
------
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Hindari Debat, Berbahasalah Yang Bijak


"Yang paling dibenci Nabi dan paling jauh jaraknya dari beliau pada hari Kiamat adalah para penceloteh yang banyak bicara."
---
Salah satu tontonan terbanyak di TV kita saat ini selain ghibah (gossip, red) adalah berdebat. Anggota DPR berdebat dengan LSM, Polisi berdebat dengan pengacara, dan beberapa pihak lain.


Akibat berdebat, baru-baru ini seorang pengacara ternama hampir saja berduel. Gara-gara berdebat pula, tahun 2003, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea “menyerang” dan memukul kepala koordinator ICW Danang Widyoko di sebuah acara Today's Dialog di Metro TV. Tak hanya memukul, sang menteri juga dinilai menghina Danang dengan kata-kata.

Islam mengenal istilah jidal. Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahmad]

Kerap dijumpai di tengah masyarakat, peristiwa yang berakhir saling bunuh atau saling membinasakan. Jika ditelisik lebih jauh, kejadian tersebut bermula dari cekcok dan salah paham. Ini menjadi indikasi bahwa lidah memiliki bahaya besar bila tak dijaga.

Berikut beberapa adab terkait dengan urusan lidah atau bercakap. Islam adalah agama yang sangat rapi mengatur umatnya. Terhadap hal-hal sekecil apapun, Allah SWT sudah mengatur. Dalam Islam, berbicara, berbahasa dan bercakap-cakap harus punya adab dan sopan-santun nya. Di bawah ini adalah adab-adab berbicara dalam Islam yang harus menjadi pegangan kita.

Adab Bercakap

1. Ucapan Bermanfaat

Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, "Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam." (Riwayat al-Bukhari).

2. Bernilai Sedekah

"Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun." (Riwayat al-Bukhari).

3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia

Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesia-siaan dan dosa semata. "Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari Kiamat adalah para penceloteh lagi banyak bicara." (Riwayat at-Tirmidzi) .

4. Tidak Terperangkap Ghibah

"…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (al-Hujurat [49]: 12).

5. Tidak Mengadu Domba

Hudzaifah Radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

6. Tidak Berbohong

"Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung kepada neraka. Dan orang yang suka berbohong niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Riwayat al-Bukhari).

7. Menghindari Perdebatan

Sedapat mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara. Meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin sebuah istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. "Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu." (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani).

8. Tak Memotong Pembicaraan

Suatu hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, ia langsung memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu baru beliau mencari si penanya tadi. (Riwayat al-Bukhari)

9. Hindari Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang buruk

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) . Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan yang lain. Karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) itu. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (al-Hujurat [49]: 11).

10. Menjaga Rahasia

"Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecuali Allah menutupi (pula) rahasianya pada hari Kiamat." (Riwayat Muslim).


*sumber: www.hidayatullah.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Musuh Sejati Adalah Korupsi, Bukan Institusi

Kamis, 12 November 2009

Berlin - Kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Polri dan Kejagung mengundang keprihatinan masyarakat Indonesia di luar negeri. Pelemahan intitusi hukum adalah kemenangan bagi para koruptor.

“Musuh sejati adalah para pelaku korupsi dan konspirasi, bukan institusi yang sah dan dilindungi undang-undang,” kata Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia se-Jerman (FORKOM) Nugroho Fredivianus dalam rilis kepada detikcom, Kamis (12/11/2009).

Kriminalisasi KPK juga menjadi keprihatinan masyarakat Indonesia di Jerman. Menurut Nugroho, KPK seharusnya dijadikan sebagai mitra kerja ideal kedua kakak kandungnya yaitu Polri dan Kejagung.

“Namun masyarakat disuguhi pertikaian dan konflik dari ketiga institusi yang justru sangat dinanti prestasinya,” lanjutnya.

Nugroho menegaskan FORKOM mendesak agar konflik KPK, Polri dan Kejagung segera diakhiri. Semua pihak yang terbukti terlibat dari setiap institusi harus segera diseret ke meja hijau.

“Selesaikan konflik dengan proses hukum yang transparan dan akuntabel agar kepercayaan publik dapat dipulihkan,” pungkasnya.

*detik.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Bermula dari Pin PKS

Rabu, 11 November 2009

by Abdul Wahid Surhim*
Kawasan Simpang Renggam (sekitar 60 km dari Skudai, Johor - Malaysia, tempat tinggal saya) adalah kawasan yang pernah dibuka pada 30 September 2007 (18 Ramadhan 1428H) dalam bentuk acara Buka Puasa Bersama. Rombongan berangkat dengan van PCB (nomor serinya diawali dengan PCB) isi penuh. Dalam acara itu juga dibentuk IKMI Kawasan Simpang Renggam dengan Ketuanya ERIK GUNAWAN. Akan tetapi setelah itu belum pernah lagi berkunjung ke sana.

19 Oktober 2008 (19 Syawal 1429) saya balik ke Johor setelah liburan panjang lebaran. Seperti biasanya, saya naik pesawat air asia. Waktu itu tempat duduk masih bebas alias rebutan. Saya duduk di kursi agak ke depan sendirian, kemudian seorang pemuda minta ijin untuk duduk di samping saya. Tentu saya mengangguk tanda setuju.

Setelah take off, pemuda itu bertanya, "Bapak dari PKS ya?" Wah kok tahu, batin saya. Oh ya, terang saja, karena jaket hitam PGSI hadiah dari Piyungan yang saya pakai ada pin PKSnya. Itu pin hadiah dari salah seorang ikhwah di Bojonggede, Kab. Bogor.

"Ya," jawab saya. Kemudian terjadi dialog yang panjang. Ternyata namanya Setyo Priyono. Pernah tarbiyah waktu di STM. Sudah empat tahun lebih di Simpang Renggam tapi belum nyambung lagi.

Saat tahu bahwa dia dari Simpang Renggam, maka saya tambah bersemangat untuk menjadikan dia sebagai agen IKMI di sana. Ini kesempatan besar karena sudah lama belum tergarap lagi. Maka saya perkenalkan IKMI dan kegiatan-kegiatannya, termasuk acara Halal Bi Halal yang mau diadakan di Kulai. Saya mengundangnya. Tentu segera bertukaran no hp.

Ketika saya tanyakan apa ada yang menjemput, maka dijawab bahwa kakaknya yang akan menjemput. Saya segera juga tawarkan untuk menginap di markas kalau tidak ada yang menjemput. Ternyata dia juga ketika cuti lebaran di Indonesia ikutan masang-masang stiker dan spanduk PKS. "Wah berarti aktif ni orang," batin saya.

Akhirnya kami berpisah di bandara Sultan Ismail Johor karena dia dijemput oleh kakaknya yang bernama Mas Nur.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, ternyata akh Setyo kirim sms menanyakan acara HBH karena dia berniat mau datang. Tentu ini sangat menggembirakan. Dan benar akhirnya dia datang hari sabtu sore dijemput di Sri Putri. Akh Setyo datang dengan membawa surat mutasi dari DPD PKS Boyolali bertanggal JUNI 2004 (sudah lebih dari 4 tahun, tapi masih disimpan, subhanallah). Dia juga membawa oleh-oleh khasnya: nanas, karena bekerja di kebon nanas.

Saya memberi semangat agar dia bisa membuat pengajian yasinan. Dia setuju. Waktu itu targetnya paling lambat Desember 2008 sudah mulai. Awalnya dia mengalami kesulitan karena takut ada hambatan dari pihak keamanan tempat dia tinggal. Sesepuh di situ juga agak keberatan karena masalah ini. Saya tetap memberikan semangat agar mencoba memberikan alasan-alasan yang masuk akal. Alhamdulillah, akhirnya di bulan Nopember 2008 sudah mulai diadakan yasinan dengan 10 orang. Awalnya setiap minggu datang ke sana, tapi setelah itu disepakati bahwa pengajian minggu 1 dan 3. Minggu 2 dan 4 rencananya mau diisi kursus komputer, tapi baru terselenggara 2 kali.

Kunci sukses yang paling besar adalah aktivis di Simpang Renggam (akh Setyo) memang benar-benar berkualitas: aktif dan leadershipnya bagus. Pada pengajian pertama kalau ga salah, dia sudah berani mengatakan kepada yang hadir (dia termasuk yang paling muda) agar tidak pulang dulu karena mau diadakan pembentukan pengurus IKMI. Jadi meskipun muda tapi disegani. Alhamdulillah.

Sekarang yang ikut pengajian sudah 24 orang. Pada bulan ramadhan yang baru berlalu kawasan itu mendapatkan kunjungan para pejabat KJRI (Konsulat Jendral RI) Johor Baru dalam rangka buka puasa bersama. Kehadiran para pejabat itu menambah gairah dakwah di Simpang Renggam. Insya Allah pengajian ibu-ibu juga akan segera dibuka dalam waktu dekat.

Johor - Malaysia, 11-11-09

*Abdul Wahid Surhim, Pelajar S3 UTM Johor-Malaysia.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Saya Juga Cicak

Sabtu, 07 November 2009


Oleh : Zaim Uchrow
i*
Urusan 'cicak versus buaya' mudah-mudahan bakal berakhir manis. Negara akhirnya membentuk tim independen buat mengkaji masalah itu, sebuah langkah penting Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sekaligus mempertegas kualitas kepemimpinannya. Apalagi, Menkominfo Tiffatul Sembiring sebagai pembantunya telah membuat terobosan mempertemukan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dengan media. ''Saya juga cicak,'' kata Kapolri.

Kita tahu 'cicak' cuma sebuah ungkapan. Komisaris Jenderal Susno Duadji, polisi tertinggi di jajaran reserse dan kriminalitas, yang mengungkapkannya. Saat itu, pihak Susno dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terasa bergesekan. Susno menggambarkan kepolisian, tempat ia berada di dalamnya, sebagai 'buaya'. Sedangkan, KPK diibaratkannya sebagai 'cicak'. Baginya, kok berani-beraninya cicak hendak melawan buaya?

Publik terkesima. Bagaimana bisa dua institusi penting yang harus menjaga hukum tegak dan negara bersih itu berseteru? Apakah di dalam kedua atau salah satu dari institusi itu terdapat sosoksosok kotor (yang sama sekali sudah tidak takut pada ancaman neraka) sehingga terjadi benturan kepentingan? Pertanyaan yang kebanyakan orang meyakini 'ya' walaupun belum memiliki bukti. Namun, hingga titik itu, masyarakat hanya mengernyitkan kening. Sampai kemudian, terjadi peristiwa yang mengguncang perasaan publik.

Peristiwa yang mengguncang perasaan itu adalah penahanan Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Keduanya merupakan pimpinan KPK yang berbenturan dengan Susno. Benturan yang mencuat ke permukaan adalah kasus Masaro. Entah kalau ada persoalan lain yang tak terungkap ke publik. Bibit dan Chandra sudah dinonaktifkan setelah dijadikan tersangka oleh polisi. Tapi, publik sama sekali tak menduga kalau keduanya akan ditahan.

Sebagian masyarakat menyikapinya dengan kaidah umum. ''Kalau tak punya salah kan tak mungkin ditahan.'' Namun, sangat banyak yang meyakini bahwa di balik penahanan itu justru ada kebejatan yang harus disingkap. Bibit dan Chandra dipandang sebagai korban: sangkaan yang bergonta-ganti, pencabutan tulus kesaksian yang semula memojokkan keduanya, hingga integritas Bibit selama ini sebagai jenderal polisi sederhana menjadi landasan keyakinan publik yang marah atas penahanan itu. Teknologi informasi, terutama melalui Facebook, menjadi media yang menyatukan keresahan publik menjadi gerakan para cicak melawan buaya. Hal yang bila tak direspons secara baik akan sangat mengganggu program 100 hari pemerintahan sekarang.

Menghadapi keadaan itu, syukurlah, pemerintah mengambil langkah tepat. Pernyataan kapolri yang sejuk ikut menurunkan ketegangan. Cicak dan buaya tak perlu dipertentangkan. Lagi pula, apa salah kedua binatang itu? Samasama reptil, sama-sama suka menerkam, dan melahap mangsa. Lagi pula, KPK bukan cicak dan polisi juga bukan buaya meskipun akan selalu ada yang diistilahkan sebagai 'oknum' bermental buaya dalam pengertian buruk.

Saat ini, ketegangan memang mulai mereda. Bibit dan Chandra sudah keluar tahanan. Namun, persoalan besar bangsa ini belum selesai. Kasus 'cicak vs buaya' mengingatkan bahwa Indonesia memerlukan reformasi hukum secara mendasar. Begitu banyak 'buaya' di lingkungan penegakan hukum. Begitu kental perkawanan antara penegak hukum kunci dan para pengusaha proyek negara. Begitu mudah sosok-sosok seperti Anggoro-Anggodo 'mengakses' para penentu hukum. Begitu rapuh etika yang semestinya menjadi fondasi penegakan hukum. Di tengah iklim politik yang masih berwajahkan 'politik uang' dan juga iklim birokrasi yang bermuka serupa, sempurnalah wajah kotor bangsa ini.

Maka, jangan-jangan ucapan Kapolri Bambang bahwa 'saya juga cicak' tak semata merefleksikan empati pada perasaan publik. Jangan-jangan itu juga pernyataan tulus bahwa tantangan sekarang begitu serius hingga seorang kapolri pun ibarat cicak yang lemah dan tak berdaya kalau harus mereformasi penegakan hukum dari lingkungannya. Bila demikian, siapa yang mau dan mampu mereformasi serta membebaskan hukum kita dari cengkeraman para buaya?


*Republika (06/11/09)
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Menculik Ulama Muslim, 23 Agen CIA Dihukum Penjara

Kamis, 05 November 2009


Milan - Hakim di Italia, Rabu (4/10), memvonis 23 mantan agen Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dihukum delapan tahun penjara atas penculikan seorang ulama muslim. Hukuman tersebut merupakan isyarat penentangan terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat 'membawa' para tersangka teroris.

Ke-23 warga Amerika tersebut disidang in absentia setelah Amerika Serikat menolak mengektradisi mereka.

Para pejuang hak asasi manusia menyambut keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman penjara kepada 23 mantan agen CIA tersebut. Pasalnya, para pejuang HAM tersebut telah lama mengampanyekan penentangan terhadap kebijakan Amerika Serikat yang dinilai melanggar HAM.

Akan tetapi, Hakim Oscar Magi membebaskan tiga warga Amerika lainnya termasuk seorang mantan Kepala CIA Biro Roma atas penculikan ulama kelahiran Mesir, Hassan Mustafa Osama Nasr. Osama Nasr diculik di sebuah jalan di Milan pada 2003 dan diterbangkan ke Mesir untuk diinterogasi.

Hakim Oscar Magi juga membebaskan mantan kepaa intelijen militer Italia Sismi, Nicolo Pollari, dan mantan wakilnya.

Hakim Oscar Magi menghukum mantan Kepala CIA Biro Milan, Robert Seldon Lady, delapan tahun penjara dan 22 mantan agen CIA lainnya masing-masing lima tahun.

Para terpidana tersebut juga diperintahkan untuk membayar 1 juta euro kepada Osama Nasr atau yang lebih dikenal sebagai Abu Omar dan membayar 500 ribu euro ke istri Osama Nasr.

Agen CIA secara diam-diam menerbangkan Osama Nasr dari pangkalan udara Aviano di Italia melalui Ramstein di Jerman menuju Mesir. Osama Nasr mengaku dirinya disiksa dan ditahan sampai 2007 tanpa tuduhan.


*TempoInteraktif.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Menebak Akhir Drama Cicak-Buaya

*Tajuk Republika (04/11/09)
---
Drama cicak-buaya-godzila belum berakhir. Pemutaran rekaman percakapan telepon antara Anggodo Widjojo dengan sejumlah pihak menjadi tontonan rakyat Indonesia. Inilah tontonan nasional paling menghebohkan dan paling kontroversial. Sedih, prihatin, dan makin menguatkan keyakinan bahwa salah satu faktor tersulit dalam pemberantasan korupsi adalah karena sapunya tak hanya kotor, tapi juga rusak serusak-rusaknya.

Pertama, kita menyaksikan bahwa memang benar dugaan kita selama ini. Penyusunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) merupakan sesuatu yang bisa dibisniskan. Dari rekaman itu terlihat bahwa penyidik menyusun BAP dengan didikte dan dikerjakan bersama penjahat. Kedua, Jaksa Agung Muda menjadi 'konsultan' dari rencana jahat. Ketiga, kita melihat bahwa dua institusi penegak hukum benar-benar rusak. Ini terlihat dari nama-nama yang terungkap maupun 'permainan' yang sedang mereka kerjakan. Hal itu juga terlihat dari pernyataan-pernyataan para petingginya sejak kasus ini pertama bergulir hingga hari ini: konsisten dan tak berubah. Pembentukan tim pencari fakta dan pemutaran rekaman belum mengubah konstelasi apa pun.

Rusak serusak-rusaknya. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkannya. Mereka menyoal penyalahgunaan wewenang oleh Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Dan untuk membuktikan itu, mereka melakukannya dengan menyelewengkan amanah dan kewenangan yang ada. Amanah sudah dilanggar karena bukannya memberantas koruptor mereka malah membela koruptor. Atas nama kuasa, mereka bisa seenaknya mengubah-ubah pasal tuduhan dan menahan orang hanya karena melakukan jumpa pers.

Sudah rusak, diacak-acak pula. Kita harus mengakui bahwa institusi kepolisian dan kejaksaan telah rusak. Namun, yang membuat kita prihatin kini mereka menyediakan diri untuk diacak-acak. Buron koruptor Anggoro Widjojo bisa mengaturnya dari Singapura. Saudaranya, Anggodo, bebas berkeliaran ke sana-kemari sebagai operatornya. Polri, Kejaksaan Agung, KPK, dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban diaduk-aduk. Semuanya adalah institusi penegak hukum. Dua orang--mereka bukan siapa-siapa­­-- bisa mengacak-acak empat institusi penting. Dan hingga kini, keduanya bebas berkeliaran. Belum ada perintah penangkapan. Padahal, kita sudah merasakan dampaknya: seluruh energi nasional tersedot. Mestinya kita fokus pada program 100 hari pemerintahan baru, kita justru bertengkar. Mestinya publik dan market menilai masa depan ekonomi, kini justru cemas terhadap rasa keadilan dan keamanan karena perilaku aparatnya. Kita menghadapi ketidakpercayaan yang luar biasa.

Karena itu, cukup sudah pelajaran di Mahkamah Konstitusi ini. Inilah pengadilan rakyat yang sangat bersejarah. Demokrasi yang telah maju bisa runtuh lagi karena penegakan hukum kita yang mampet, kotor, dan bau. Harus ada reformasi total di bidang penegakan hukum. Presiden, DPR, DPD, dan MPR harus melakukan langkah serius. Rakyat yang kali ini menjadi kekuatan sipil yang luar biasa, melalui pers, LSM, facebook. Kini, saatnya kembali ke jalan utama. Jangan biarkan terus tersesat karena mabuk kuasa atau sakit hati dan dendam.

Untuk itu, pertama, bebaskan Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto tanpa harus menunggu kerja tim pencari fakta. Semua sudah jelas dan gamblang. Kedua, ganti semua pejabat tinggi di kepolisian dan Kejaksaan Agung. Ketiga, kembalikan Chandra dan Bibit ke posisi semula di KPK. Keempat, lakukan reformasi menyeluruh di kepolisian dan kejaksaan. Kelima, jangan ganggu segala kewenangan yang dimiliki KPK. Keenam, tempatkan figur-figur bersih, berintegritas, dan bervisi untuk duduk di KPK, Polri, dan Kejaksaan. Mari kita selamatkan demokrasi untuk Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkeadilan.


----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Masihkah kita menjadi pengejar akhirat?

Selasa, 03 November 2009

Akhirat. Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya kehidupan. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang.

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita.

Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.

Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?

Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat?


---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Produser “The Lord of The Ring” Akan Terlibat Pembuatan Film Nabi Muhammad

Senin, 02 November 2009



Qatar - Film Nabi Muhammad akan dibuat. Tak tanggung-tanggung, produser film “The Lord of The Ring” dan “The Matrix” saat ini sedang dalam pembicaraan pembuatan film fenomenal ini. Rencananya, film ini akan berbahasa Inggris dan diharapkan akan ditonton 1,5 miliar Muslim.


Perusahaan Almoor mengatakan, film ini kabarnya akan menelan dana US$ 150 juta. Pembuatannya sendiri baru akan dimuali pada 2011, yang akan diproduseri Barrie Osborne.

Dalam pernyataannya, film ini dipastikan tidak akan menampakkan sosok Nabi Muhammad – seperti dalam pemahaman islam yang tidak boleh menampilkan sosok nabi. Sedangkan pembangunan dan pembicaraan mengenai studio, agen pemain dan para distributor dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris.

Dalam tahun-tahun terakhir, perusahaan film Qatar ini telah menyiapkan peluang ekonomi di dunia hiburan dengan fokus memproduksi film internasional, produksi film-film Arab dan animasi.


*TempoInteraktif.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN