NEWS UPDATE :

karena kita tidak sempurna

Rabu, 30 September 2009

"Tidak ada manusia sempurna. Semua memiliki kelemahan dan kekurangan. Demikian pula apabila manusia berkumpul dalam ikatan keluarga atau komunitas, tidak ada keluarga sempurna atau komunitas yg sempurna. Selalu ada kekurangan dan kelemahan selama masih berupa kumpulan manusia. Kesadaran inilah yg kita gunakan sebagai energi utk selalu memperbaiki diri tanpa henti. Selaku pribadi maupun organisasi." [cahyadi takariawan - anggota Majlis Syuro DPP PKS]

Parpol, Mana Aksi Sosialmu?


by Om Wied
Masih ingat bencana Situ Gintung?? Waktu itu saya liat televisi, banyak PARTAI POLITIK bikin tenda bantuan d sekitar lokasi… Nah kmrn waktu ada gempa Tasikmalaya koq tenda-tendanya gak kelihatan lagi ya?? Kelupaan atau sudah hilang keikhlasn membantu sesame…+628572929xxx


Kalimat tsb. adalah kalimat yang saya kutip dari gambar re-pro disamping yang dimuat dalam sebuah surat kabar edisi 19/09/09 atau di penghujung Ramadhan (sebelum Koran tersebut tidak terbit 3 hari karena lebaran). Secara iseng, saya lalu kirim SMS jawaban berharap juga untuk dimuat seperti ‘Hak Jawab’ yang sering dimuat juga dalam kolom “Suara Rakyat”. Bunyi SMS saya begini:

To +628572929xxxx, Gempa Tasikmalaya tak satu tv meliput kiprah PARPOL d sana .. Bukn krn gk ad, tapi memang bnyak media tak mau ‘Kampanyekan PARPOL’ scr gratis d luar pemilu. Silahkan download KIPRAH PKS d Tasikmalaya lwt http://pk-sejahtera.org

Hingga catatan kecil ini aku tulis, SMS itu belum juga naik cetak. Entah karena saking banyaknya SMS yang masuk atau perihal kampanye gratis tadi.

Banyak sekali factor penyebab kiprah Partai Politik hanya terjadi saat menjelang Pemilu berlangsung. Salah satunya, peran media massa yang kalau kita cermati memiliki peran central tanpa menafikkan factor lain.

Pertama, Independensi Media. Demi alasan independensi, banyak media enggan meliput kiprah parpol di luar jadwal kampanye. Media tersebut khawatir di sorot berafiliasi ke partai tertentu. Hal ini karena mayoritas partai peserta pemilu memang hanya ‘partai musiman’ yang berkiprah saat menjelang pemilu. Sehingga muncul asumsi tayang satu tayang semua, atau tidak sama sekali. Ini berbanding terbalik, apabila parpol tersebut melakukan sensasi atau melanggar hokum seperti: konflik dan perpecahan, kader yang melakukan korupsi, dll.

Kedua, Nilai Berita. Liputan yang sama dan berulang serta dilakukan ole seseorang ataupun ormas/orpol akan semakin dianggap biasa dan tidak menarik. Dan tentu akan menimbulkan rasa bosan dari pembaca maupun pemirsanya.

Sedang ketiga, Aspek Bisnis. Sudah dimaklumi, bahwa event lima tahunan itu menjadi lahan bisnis yang mampu menaikkan omzet bagi industri advertising baik cetak maupun elctronik. Diperlukan dana besar untuk memasukkan ‘kiprah positip’ meskipun hanya berdurasi detik.

Menjadi Ironis, menyadari hal tersebut masih banyak aktivis Partai Dakwah enggan merekam kiprahnya. Public yang semakin cerdas akan melihat kiprah wakil mereka. Ada KIPRAH ALEG, KABAR DEWAN, KOLOM KETUA DD, KOLOM KETUA DPC, dll.

Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak mampu masuk ke media (cetak/electronik), bisa direcord di BLOG yang gratis. Tinggal dikirim laporannya ke ADMIN. Dijamin, pasti dimuat. Kelak saat sosialisasi tak perlu antum sampai berbusa tak dipilih pula. Antum semua tinggal bilang, ”Mari kita buka Internet. Sesuai program pemerintah yaitu Internet masuk desa. Disitulah kiprah kami selama ini terekam. Click, click…”(Wied)
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

jeda yang melena


by abuhasan
Ada perjumpaan, pasti ada perpisahan.
Semua kita pasti (pernah) merasakanya. Bahkan Nabi kita, Muhammad SAW pernah dinasehati oleh malaikat Jibril AS:

"Isy Maa Syi'ta Fainnaka mayyit
Wa'mal maa syi'ta fainnaka majziyyun bih
Wahbub man syi'ta fainnaka mufarriqun alaih"

translete:

"Hiduplah sesukamu, tapi ngatlah engkau akan mati
Berbuatlah sesukamu, tapi ingat kamu hanya akan dibalas sesuai perbuatanmu
Dan cintailah (siapa saja) sesukamu, tapi ingatlah engkau akan berpisah dengannya"

Begitulah moment lebaran senantiasa menorehkan 'lukanya' saat perpisahan itu harus terjadi. Namun, bagi para pecinta Tuhan, justru 'luka' itu terjadi sebelum lebaran, kala ramadhan secara perlahan meninggalkannya. Sendirian. Tidak! dia tidak sendirian, malah ditemani 'sang narapidana': Syaithon la'natullah alaih. Betapa pilu menyayat qalbu. Ditinggal kekasih dan ditemani musuh. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.


di perhentian ini tak terhitung kita tergelincir
di etape ini berapa kali azzam menguap
di suasana ini tapak-tapak pengabdian sering lunglai

syawal...
dalam pesonamu terkandung jebakan
dalam keramaianmu tersedia kelalaian
dalam tawamu membuncah kepiluan

faidza faraghta fanshob!

titah ilahi mewanti-wanti
"jika sudah selesai satu urusan,
segera kerjakan urusan yang lain'

"Man shoma ramadhana tsumma atba'ahu sittan min syawwal
kaana kashiyamid dahr"
Nabi agung melengkapi
:lanjutkan puasa ramadhan dengan puasa syawal

bukan pahala intinya
tapi istimroriyatul amal yang dituju
agar 'jeda' itu tidak ada
karena 'istirahat' akan membunuhmu

ramadhan tinggal angan
tarbiyahmu hampa di awan

belum sehari ditinggal mu
sepi shubuh masjid ku
belum sehari iblis dilepas
tahajud tilawah semua bablas

duhai robbi pemilik hati
hanya pada mu kuserahkan urusanku
kasihanilah kami di hari fitri
agar tapak pengabdian bisa kulanjutkan


debong tengah, 5 syawal 1430
al-faqir ila robbihi
----

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Baju Baru

Selasa, 22 September 2009

by abuhasan
Jadi dech, lebaran taon ini pake baju baru. Berkah ramadhan kali ini sungguh berlimpah. Pagi itu, kalo gak salah puasa ke-27, usai itikaf di masjid sampakan, Om wied yang baru mudik dari rantau di Halmahera, memberi hadiah bingkisan lebaran. Sesampai di rumah, langsung dibuka, dan Alhamdulillah baju koko putih, yang terus terang koko yang paling ane demen ya yang warna putih.

Sehari sebelumnya, temen kantor (mas Anggi) ngasih hadiah lebaran berupa sarung Atlas. Wah, beneran lebaran nich.

Dan pagi itu, 1 Syawal 1430 H, saya bangun sebelum shubuh bersiap-siap lebaran. Usai shubuh dan mandi sunah, dengan setelan koko putih dari om wied, sarung dari mas anggi, jas warna gelap hadiah akh didi nganyang plus kopiah hitam modal sendiri, saya berangkat ke Musholla Roudhotul Jannah Debong Tengah, guna memenuhi permintaan ta'mir untuk Khutbah Iedul Fitri. Kampung sini memang nahdiyin tulen, sehingga sholat ied diselenggarakan di masjid dan mushola.

Usai sholat ied, seperti tradisi tahunan, keluarga besar kami (dua puluh tujuh rombongan, dari kakek nenek sampai cucu2nya) keliling kampung ke handai taulan. Dengan wajah ceria (salah satunya karena baju baru, he..he..he...), saya ikut bersama rombongan. Oh ya, umminya hasan pagi itu juga lebih anggun dengan jubah hijau hadiah dari liqo binaannya. Yang paling seneng pastinya anak-anak. Setiap datang ke rumah famili, pasti disuguhi makanan kesukaan anak-anak.


----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Tanah Lahir, Tanah Berkumpul

Senin, 21 September 2009


by abuhasan

Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya untuk Allah azza wa jalla. Syukur ini terlebih atas nikmat syawal tahun ini dimana kami masih diberi nikmat untuk berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman tercinta. Sebuah desa kecil bernama Debong Tengah, kecamatan tegal selatan, kodia Tegal Jateng.

Saya empat bersaudara. Bontot alias ragil. Kakak pertama, mbak Choridah tinggal di dekat rumah ortu dengan empat anak, terbesar masih kuliah di Bogor. Kakak kedua, mas Abdul Wahid tinggal di daerah Bogor, dikaruniai enam anak yang terbesar kelas dua es em a, dosen ui, tengah kuliah di uim program doktoral. Kakak ketiga, mbak Shokhifah tingal bersama orang tua dengan tiga putra putri.

Saya sendiri yang sejak lulus sma merantau kuliah sampai sekarang masih di perantauan juga karena pekerjaan. Sekolah di jakarta 91-94, bekerja di makasar 94-97, dan terdampar di tanah ngayogyokarto sejak 97 (tidak tahu sampai kapan). Karena hobby berkelana ini, lahirlah putra pertama di tanah daeng makassar yang terkenal dengan pahlawan hasanuddin-nya, sebab itu diberi nama Hasan Abdurabbih. Anak kedua lahir di tanah mertua Bekasi, sebagai persembahan buat Palestina, diberilah nama Yasmin Filistin. Anak ketiga lahir saat kami masih kost di dekat kantor Jogja daerah Sleman, agar si anak menjadi wanita yang dipenuhi sifat2 baik, diberilah nama Hanifatun Nisa. Anak ke-empat dan ke-lima lahir di kost2an daerah Bantul. Yang ke-empat diberi nama Ali Abdurabbih, mengambil nama sahabat, plus ada Abdurabbih-nya biar sama dengan kakaknya. Sedang si bontot mendapat hadiah nama Aliyah Syahidah, nama Aliyah biar mirip dg kakaknya (Ali) sekaligus biar kelak mendapat keududkan yang 'tinggi' disisi Allah sebagai Syahidah.

Kegembiraan berkumpul dengan keluarga besar di saat lebaran di kampung tanah lahir memang momen yang tak tergantikan. Sampai lebaran ini, tidak pernah kami melewatkan lebaran kecuali DISINI. Dimanapun kami merantau, kami pasti kembali ke tanah tumpah darah pertama. Berkumpul dengan Abah, Emak, Kakak , keponakan, dan handai taulan. Alahamdulillah, kedua orang tua masih hidup semua.

Di saat momen seperti ini, terselip harapan kuat di dasar sanubari, agar Allah SWT kelak mengumpulkan kami semua (tanpa kecuali) di tanah lahir nenek moyang kami (Nabiyullah Adam alaihis salam), di surga-Nya. Kholidina fiiha abadan. Amin Yaa Mujibas Sailin.



----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Selamat Idul Fitri 1430 H

Sabtu, 19 September 2009


Mudik lebaran bersama anak istri
Sungguh indah bertemu handai taulan


Kami ucapkan selamat idul fitri
Segala salah mohon dimaafkan
***

KELUARGA BESAR DPC PKS PIYUNGAN
MENGUCAPKAN
SELAMAT IDUL FITRI 1430
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
MOHON MAAF LAHIR BATHIN

----
foto: zamrud-khatulistiwa.or.id
pantun: abu hasan

PKS Johor Bagikan Bingkisan Lebaran ke PWK Tegal



Reporter: Abu Hasan Surhim
TEGAL CITY - "Lebaran sebentar lagi.....," dendang anak-anak riang gembira menyambut Idul Fitri yang sudah dinanti. Kegembiraan yang sama dirasakan ibu-ibu PWK (Pos Wanita Keadilan) DPRa PKS Debong Tengah, Kodya Tegal, yang sore H-2 kemarin mendapat 'bingkisan lebaran'.

Admin yang pas mudik di kampoang tanah lahir, mendapat undangan untuk meliput acara yang bertempat di kantor DPC PKS Tegal Selatan, seratusan meter dari rumah admin.

Hari itu, Jumat 18 September 2009 bertepatan 28 Ramadhan 1430, sekira pukul 16.30 ibu-ibu mulai berdatangan. Tawa canda sesama mereka membuat suasana sore jelang buka puasa jadi ceria. Anak-anak yang ikut digendong ibunya juga menambah ramai kantor dpc tegal selatan yang letaknya bersebelahan dengan 'masjid besar' Asy-Syafi'iyah Debong Tengah.

Sore itu, empat puluhan ibu-ibu PWK plus belasan bapak-bapak saksi dan pengurus dpra Debong Tengah mendapat berkah ramadhan dengan mendapat 'bingkisan lebaran' berupa uang 'THR' yang berasal dari PKS Johor Malaysia. Hubungan 'bilateral' antara PKS Tegal dengan PKS Malaysia dijembatani oleh ustadz Abdul Wahid Surhim, putra Tegal yang lagi kuliah program doktoral di UIM Malaysia. Lewat beliau, sejumlah 800 ringgit (setara dua juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) ziswaf malaysia dibagikan kepada 56 orang (ibu-ibu PWK dan saksi PKS).


----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Last Minutes Ramadhan

Rabu, 16 September 2009


Hampir sampai. Waktunya tinggal sedikit lagi. Masih banyak amal belum kita jalani. Masih banyak sunnah belum kita tunaikan dengan kesungguhan hati. Bagaimana kita ini? Selalu saja seperti ini. Hingga saat penghabisan nanti. Jangan sampai menjadi penyesalan saat mati....

[cahyadi takariawan]


--
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

I'tikaf DPC PKS Piyungan di 3 Penjuru

by abuhasan
Sejak malam jumat (10/9) kemarin bertepatan dengan hadirnya awal sepuluh hari (malam) terakhir bulan Ramadhan, kader-kader ikhwan DPC PKS Piyungan mulai melakukan I'tikaf.

Berbeda dengan Program Itikaf tahun lalu yang se-dpc dijadikan satu tempat, maka untuk ramadhan kali ini program i'tikaf berbasis liqo/murobbi. Dengan perubahan ini maka di dpc piyungan ada tiga tempat (masjid) yang menjadi tempat i'tikaf. Ada yang di masjid Al Ikhlas Sampakan, Masjid Kabregan dan Masjid As-Salam Ngijo.

Dengan keterbatasan kondisi para kader yang hampir semuanya bekerja di siang hari, maka kami tidak sempurna dalam menjalankan i'tikaf ini. Praktis kami baru berkumpul di masjid selepas Tarawih sampai sekira pukul enam pagi dengan diakhir Kajian Kitab Ibanatul Ahkam (syarah kitab Bulughul Maram) yang disampaikan oleh al-ustadz Hanafi.

Saya dan rekan-rekan yang kebetulan Itikaf di Masjid Sampakan mendapat support dan dukungan penuh dari Ta'mir masjid setempat. Selain beberapa ta'mir ikutan program itikaf, kami juga mendapat layanan sahur gratis. Sungguh suatu kemudahan dan berkah ramadahan tahun ini begitu melimpah.

Nanti malam tepat tanggal 27 Ramadhan dimana Nabi saw memberitahukan bahwa lailatul qodar kemungkinan terbesar jatuh pada 27 atau 29 Ramadhan. Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesempatan untuk bisa menyambut hadirnya Lailatul Qodar, dimana Allah SWT melimpahkan curahan rahmat dan berkahnya dengan mengutus para malaikatnya turun ke bumi yang dalam riwayat sejumlah kerikil yang ada di bumi.

ALLAHUMMA INNAKA 'AFUWUN TUHIBBUL 'AFWA FA' FU'ANNI

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Raker Tahunan DPRa Srimartani di Bulan Penuh Berkah

Selasa, 15 September 2009


Reporter Abul Aliyah
Ramadhan dalam lintasan sejarah penuh dengan peristiwa-peristiwa jihad dan kemenangan. Dari perang badar sampai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Terisnpirasi dengan momentum Ramadhan ini, DPRa PKS Srimartani menggelar RAKER TAHUNAN.

Acara yang dikemas sederhana ini berlangsung di kediaman keluarga ibu Nurwakidah, Sumokaton pada Ahad kemarin (13/9) 23 Ramadhan 1430. Belasan kader ikhwan akhwat pengurus inti DPRa Srimartani mulai berkumpul sekira pukul 16.30. Tidak menunggu lama acara segera dimulai dengan MC akh Haryadi. Setelah tilawah oleh ustadz Agung dan taujih singkat dari Abu Hasan, acara raker kemudian dipandu akh Dhanie Asy-Syakib.

Dalam acara inti raker ini, dibagikan kepada peserta dua lembar kertas berisi Draft Program Kerja Tahunan yang tiga hari sebelumnya sudah dibahas oleh Tim Kecil DPRa di tempat yang sama. Satu per satu rencana program kerja DPRa Srimartani dibahas, antara lain:

INTERNAL:
- Syuro DPRa (2 pekanan)
- TRP (bulanan)
- Mabit (tri wulan)
- Mentoring Liqo Baru
- Rihlah (semesteran)
- SPP kader (bulanan)
- Kesekretariatan (dokumentasi, publikasi, pelaporan, kearsipan)
- Raker Tahunan

EKSTERNAL:
- Pelayanan Sosial (bulanan)
- Yasinan & Temu Paguyuban Saksi (selepanan)
- Pembinaan PWK (bulanan)
- Silkoh (bulanan)
- Mujahadah Akbar (tahunan)
- Nonbar (insidental)
- Tour Friendly Match
- Sosialisasi & Pendampigan Program Aleg
- Santunan Yatim
- Aksi Ramadhan
- Tebar Qurban
- Pelatihan Wirausaha

Waktu berbuka sudah tiba saat jam menunjuk 17.39. Agenda Raker berhenti sejenak dengan berbuka puasa. Menu kolak plus paket Yogya Chicken menemani para peserta sekaligus mengendorkan kerja otak yang dipicu sepanjang acara. Berhubung pembahasan belum selesai, diputuskan untuk melanjutkan Raker usai sholat maghrib.

Usai yang ikhwan sholat maghrib di masjid terdekat, agenda raker dilanjutkan. Dengan fisik yang lebih fresh dan hati yang lebih hidup, pembahasan raker berjalan dengan lancar.

Alhamdulillah, sekira pukul 18.35 semua draft Raker selesai dibahas. Yang belum didetilkan adalah Time Schedule yang akan dibahas pada syuro rutin DPRa mendatang. Raker kemudian ditutup dengan doa dan harapan semoga Allah SWT sentiasa mencurahkan hidayah, inayah, taufik dan ridho-Nya sehingga apa yang kami rancang bagi kemaslahatan umat ini dapat memberikan hasil yang terbaik.

Kami sadar akan kelemahan dan keterbatasan yang menghimpit kami, tapi kami juga yakin akan janji dan pertolongan dari Robbul Izzati.

Laa Haula walaa Quwwata illa Billahil Aliyil Adzhim.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ifthor Bersama Tokoh Masyarakat dan Paguyuban Saksi DPC PKS Piyungan

Senin, 14 September 2009


Reporter: Sinyo Hariyanto
SANDEYAN - Keberkahan bulan ramadhan seakan tak mau disia-siakan begitu saja oleh dpc pks piyungan. Setelah menjalin silaturohim dengan kader se-dpc dengan Ifthor bersama, mengeratkan jalinan ibu-ibu PWK se-piyungan juga dengan ifthor bersama, maka kali ini dpc menggelar Buka Bersama tokoh masyarakat, simpatisan dan paguyuban saksi se-kecamatan piyungan.

Acara yang berlangsung Sabtu kemarin (12/9) berlangsung di halaman TB Sandeyan. Toko besi terbesar se-piyungan yang sekaligus tempat tinggal keluarga ibu hajjah Ida ini sudah langganan setiap ramadhan menjadi tempat ifthor dpc piyungan.

Selain menu istimewa yang disediakan tuan rumah, sore itu tamu yang hadir juga istimimewa. Selain tamu undangan dari berbagai pelosok dusun se-piyungan, hadir pula Amir Syarifuddin caleg PKS terpilih untuk DPRD Bantul dan Agus Sumartono caleg PKS terpilih untuk DPRD Propinsi DIY.

Makin lengkap dengan kehadiran Kyai Abdurrahman Ketua Ta'mir Masjid Pasar Piyungan yang menjadi penceramah menjelang berbuka. Seusai berbuka, Kyai Abdurrahman mengajak hadirin untuk sholat maghrib berjamaah di masjid pasar Piyungan yang terletak persis di depan TB Sandeyan. Sholat maghrib ini sekaligus menjadi akhir rangkaian acara sore itu.
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ramadhan Nan Ceria di Masjid-ku


by Taniza Sy@miL
Belum genap 10 menit tubuh ini kurebahkan setelah menempuh kurang lebih 8 jam perjalanan dari Indramayu, suara ponsel berdering memaksaku membuka pesan singkat yang baru saja masuk.

"Nduk dah mpe rmh blm? kesel ora?" SMS dari mbk Tanti membuatku bangkit.

"Alhamdllh sampun mbakyu..ya lmyn si, ngntk..." ku balas SMS itu dengan mata terkantuk.

"Q&tmn2 neng masjid klenggotan ki." Rupanya sudah jam 8.40.

Tanpa membalas pesan tersebut, aku langsung bangkit dan meluncur ke Masjid Al Muttaqin. Hari ini DPRa Srimulyo memberikan "training motivasi" pada anak-anak RISMA Al Muttaqin. Tak lupa kubawa bola-bola kecil yang dipesan ketua DPRa lewat SMS saat aku masih dalam perjalanan tadi malam.

Satu per satu personil RISMA pun berdatangan. Tepat pukul 10.00 WIB acara dimulai (kok lama banget ya nunggunya?) maklumlah ternyata hari ahad begini para remaja di tempatku sibuk dengan pekerjaan rumah (nyuci, nyetrika, nyapu+ngepel de el el...).

Kali ini agak istimewa karena yang memandu acara langsung sang ketua DPRa. Diawali dengan perkenalan dari kelompok ikhwan yang berjumlah 9 orang dan dilanjutkan kelompok akhwat yang berjumlah 15 orang. Dari DPRa sendiri menerjunkan 8 pasukan trainernya (pak ketua, Sujono Ragil, Sugino, Eko Partono, Murati Rahayu, Pri Hartanti, Anik Retno, Ketut Tantri).

Usai perkenalan, digelar game yang ringan tapi menantang. Berhubung mulainya agak ngaret, jadi game yang digelar cuma 2 deh. Pertama kami main "lempar target" dengan bola tenis. permainan ini dilakukan secara individu oleh setiap peserta yang ada. Peserta diminta melempar bola hingga mengenai target yang sudah ditentukan (botol air minereal) berdasarkan jarak yang dapat mereka tentukan sendiri. Ada 3 titik pilihan jarak yang bisa mereka pilih berdasarkan kemampuan masing-masing. Permainan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta dalam menentukan dan mencapai sebuah tujuan.

Game kedua dilakukan secara berkelompok. Ada tiga kelompok yang terbentuk, masing-masing diberikan tugas untuk memecahkan sebuah masalah yang disampaikan oleh trainer. Dalam game ini, peserta bukan hanya dituntut untuk mencari solusi dari sebuah masalah namun mereka juga harus bisa bermain peran sesuai dengan cerita yang disampaikan. Seru sih, banyak yang melakonkan perannya dengan ekspresi masing-masing yang (rata-rata) mengundang tawa. Pada putaran ini ternyata tim akhwat yang terbentuk dalam 2 kelompok terbukti lebih jago dari yang ikhwan. Mereka berhasil memecahkan permasalahan yang diajukan meskipun dengan cara yang variatif. Untuk tim ikhwan... cuma menang "ndagelnya" dalam bermain peran. Tapi tetep salut buat mereka karna puasa-puasa begini, (panas-panas lagi...) mereka tetap semangat mengikuti kegiatan yang positif.

Permainan pun usai sejenak sebelum adzan dhuhur berkumandang. Segera kami membasuh jiwa dengan kesejukan air wudhu, bersujud mengagungkan kebesaran Sang Pencipta, Raja dari segala raja yang ada. Tubuh pun kembali fresh setelah tunaikan kewajiban. Acara pun segera dilanjutkan...

Seperti yang sudah dijanjikan, kini saatnya pemutaran film. Ya nonbar (nonton bareng) gitu deh... (gratis pula... hehehe...). Film yang berjudul "Miracle Worker" mampu membius seluruh peserta yang hadir, termasuk para trainer. Memang sih film yang diputar lumayan "jadul" tapi maknanya sangat dalam dan mampu memberikan kesan luar biasa dahsyat yang tak terlupakan. Singkatnya film tersebut mengisahkan sebuah kisah nyata perjuangan hidup seorang anak manusia yang terlahir bisu, tuli sekaligus buta. Yakin deh siapapun yang nonton film ini pasti hatinya berdesir, air mata pun mengalir... (kaya akh Eko yang tak kuasa menahan linangan air matanya hingga harus keluar membasuh muka...).

Pelajaran hari itu adalah:

~ Bagaimanapun keadaan kita saat ini adalah yang terbaik yang Allah berikan, maka
BERSYUKURLAH..!!!
~ Jangan berhenti berusaha, jangan mudah menyerah, BERJUANGLAH..!!!
~ Jangan siakan waktu yang ada, selagi masih muda, banyak kesempatan tuk wujudkan cita-cita,
BANGKITLAH...!!!

---

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Letih Jiwa

Kamis, 10 September 2009


Adakalanya hati merasa letih menjalani rutinitas kehidupan. Adakalanya pikiran merasa jenuh menghadapi serangkaian persoalan. Adakalanya jiwa merasa gersang di tengah terjalnya tantangan. Berhenti sejenak, kontemplasi dan introspeksi. Mengakui kerend...ahan diri di hadapanNya Yang MahaTinggi. Merasai kekotoran diri di hadapanNya Yang MahaSuci. Selamat i'tikaf, raih kemenangan ruhani.
[cahyadi takariawan]

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Fa Aina Tadzhabun, Ya Akhi?

Rabu, 09 September 2009



by Cahyadi Takariawan
*
Kemanapun kita akan selalu bertemu apa yg kita cari. Kalau yg dicari adalah keburukan, di Makkah kita juga akan bertemu keburukan. Kalau yg dicari adalah kebaikan, di Australia kita juga akan mendapatkan. Maka betapa bahagianya hati, di Melbourne berjumpa dgn brothers muslim yg bersemangat menunaikan shalat berjamaah ke masjid, di tengah dinginnya cuaca 5°C. Dinginnya musim tidak mempengaruhi semangat mereka. Mabruk.


*dinukil dari facebook ust cahyadi takariawan, beliau ramadhan ini sedang muhibah da'wah ke negeri kanguru, katanya pulang akhir ramadhan. mabruk, ya ustadz!
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ifthor sekaligus Temu Kangen PWK se-Piyungan

Senin, 07 September 2009


Story by Ummu Zulfa *
---
"Wah bu, ini acara yang kami tunggu-tunggu. Kayaknya udah luama banget kita ndak kumpul-kumpul"

KABREGAN - Ramadhan 1430 sudah separo perjalanan. Biasanya kalo udah jalan juauh nyampe di pertengahan kok muncul perasaan bosen dan penginya leyeh-leyeh. Nah, untuk merefresh biar semangat ramadhan tidak pupus, Ahad 6 September 2009 kemarin yang bertepatan dengan 16 Ramadhan 1430 diadakan Temu Kangen PWK se-kecamatan Piyungan sekaligus Ifthor bersama.

Crew Divisi Kewanitaan DPC PKS Piyungan yang punya gawe sore itu sekira ba'da ashar sudah standby di rumah Bu Harjono dusun Kabregan tempat acara berlangsung. Bagi-bagi tugas dikomando oleh Bu Candra selaku koordinator acara. Ada among tamu, tata-tata ruang, MC, tilawah, konsumsi. Untuk Tim Konsumsi ada yang bertugas delevery order alias menjemput menu utama yang udah dipesan sebelumnya.

Satu per satu rombongan PWK (Pos Wanita Keadilan) dari berbagai dusun berdatangan. Dari DPRa Srimartani hadir PWK Tambalan, Mutihan dan Poitan, 3 PWK ijin (Kemloko, Pos Piyungan, Rejosari) karena barengan acara. Dari DPRa Sitimulyo tampak PWK Gentingsari, Babadan dan Monggang yang hadir (PWK Gempolsari, Gadung dan Ngablak ijin). Sedang dari DPRa Srimulyo yang sekaligus tuan rumah lebih banyak PWK yang hadir, yaitu PWK Kabregan, Klenggotan, Ngangkruk, Kradenan dan Bangkel (2 PWK ijin: Cikal dan Kaligatuk).

Sekira pukul 16.45 acara dibuka oleh Bu Suwartiyah selaku mc yang dilanjut dengan tilawah qur'an oleh Bu Farikhah. Acara ketiga yang mesti ada pada setiap acara yaitu SAMBUTAN, kali ini Bu Nurwakidah selaku Ketua Bidang Kewanitaan DPC Piyungan yang memberi sambutan. Ibu dua putri yang sudah tidak asing bagi ibu-ibu PWK ini menyampaikan terimakasih kepada Bu Harjono selaku tuan rumah dan juga kepada seluruh ibu-ibu PWK yang sudah rela meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir ditengah kesibukan harian selaku ibu rumah tangga.

"Wah bu, kita yang trimakasih sudah diundang ikut acara PWK gabungan se kecamatan ini. Bener lho bu, ini acara yang kami tunggu-tunggu. Kayaknya udah luama banget kita ndak kumpul-kumpul," celetuk ibu-ibu peserta.

Bener juga sich kata ibu-ibu itu, acara kumpul bareng PWK se-kecamatan memang sudah lumayan lama tidak diadain. Terakhir kami mengadakan acara PWK se-kecamatan Piyungan pada momen Hari Ibu 2008. Berarti udah hampir setahun. Dan yang membuat kami bahagia serta menambah semangat dakwah ini adalah respon ibu-ibu simpatisan yang tergabung dalam PWK ini yang ternyata sudah merindukan acara seperti ini.

Usai sambutan, tibalah acara inti berupa Kajian Ramadhan yang dibawakan oleh bu Bidan Marmi (biasa disapa Bu Ami). Tema yang disampaikan sore itu adalah Tinjauan Puasa dari aspek medis. Tidak perlu kenalan lagi, karena bu bidan ini sudah tidak asing bagi Ibu-ibu PWK di wilayah Piyungan. Walaupun namanya cukup singkat 'Marmi' tanpa awalan, imbuhan, sisipan atau tambahan lain tapi kiprahnya sudah sepanjang jalan yang ada di Piyungan. Tak terhitung berapa kali beliau ngalor ngidul, sliwar sliwir, munggah mudun (naik turun gunung) bersama Tim Kewanitaan DPC/DPRa untuk berbagi ilmu dan membina ibu-ibu.

Jam terus berputar. Di saat ibu-ibu PWK asyik mencerna ilmu kesehatan dari Bu Bidan, Panitia malah terganggu pencernaannya. Deg-degan rada stres. Apa pasal? Waktu sudah menunjuk angka 17.30 WIB alias sepuluh menit lagi waktu berbuka tapi Tim Konsumsi yang ditunggu-tunggu belum nongol juga. Bu Arih beserta suami yang bertugas 'mengambil' pesanan menu utama ketika dihubungi ternyata masih dalam perjalanan.

Bagaimana akhir kisah ini? Apakah akan berkesudahan happy ending atau malah sad story? ....

Gimana nich ya? kok bisa begini? padahal planning udah jauh-jauh hari sebelumnya. Mateng banget dech pokoke. Syuro itu bu Arih usul menu yang murah meriah tapi selera kota (maklum, sekali-kali ibu-ibu ndeso disuguhi menu yang rada trendy, tidak cuma kenal tahu tempe saja). Disepakatilah dengan budget yang cekak menu ifthor sore itu berupa paket 'Yogya Chicken'. Satu porsi berisi nasi, paha ayam, caos sambal extra pedas, plus dus yang ada gambar ayam jago plus tulisan yang ada chicken-nya cuma seharga empat ribu lima ratus perak. Pameo 'Man usul mas'ul' (siapa yang usul jadi penanggung jawab) berlaku untuk kasus ini. Bu Arih yang kebetulan punya Black Xenia bersedia meng-handle per-chicken-an.

Detik demi detik berpacu dengan detak jantung semua crew panitia. Gimana ya? Start acara udah mulus, peserta membludak dan semangat-semangat, bu bidan Ami juga oke banget. Tapi kemana chiken-nya nich...?

Derum suara mobil berwarna hitam akhirnya mampu meredam detak jantung dan menghalau galau perasaan panitia. Akhirnya datang juga....

"Maaf, afwan banget. Kitanya udah nunggu di Yogya Chicken dari jam empatan. Tapi tokonya pas agak eror dikit," Bu Arih langsung menghampiri panitia yang lain persis beberapa menit sebelum waktu berbuka.

"Allahuma laka shumtu, wabika amantu, wa'ala rizqika afthortu, dzahabadhzoma-u, wabtalatil uruqu, wa tsabatal ajru insya Allah...."

Ibu-ibu PWK plus anak-anaknya dan semua crew panitia menikmati Yogya Chicken plus korma dan air mineral. Semua yang hadir larut dalam syukur kepada Allah SWT atas rizqi sore itu, atas nikmat ukhuwah di jalan da'wah, atas nikmat ibadah ramadhan, wa ala kulli hal.


NB: admin juga ikut merasakan yang sama. paling tidak ikut merasakan lezatnya Yogya Chicken yang dibawain oleh Ummi yang ikut acara sore itu. he..he..he..
---

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Bertemu Abu Hanifah

Jumat, 04 September 2009

by abuhasan
Tarawih plus witir sebelas rokaat selesai sudah. Setelah berpamitan dengan ta'mir dan bapak-bapak jama'ah, kami bersama akh Heru Jihad berjalan kaki menuju rumahnya.

Sekira seratusan meter dari masjid sampailah kami di rumah sederhana Blok B No. 27 Perum Siraman Sinar Waluyo Kepek Gunung Kidul.

Begitu mempersilahkan tamunya masuk, sang tuan rumah langsung cekatan ke dapur. Tak berapa lama suguhan susu coklat hangat plus korma sudah tersaji menemani obrolan kangen-kangenan kami. Maklum, dulu akh Heru ini mutarobbi dan satu liqo dengan teman-teman yang datang malam itu. Namun setelah mempersunting ukhti Ari Susanti yang bekerja di Rongkop, mereka menetap di Gunung Kidul.

"Bagaimana kabar liqo antum di sini?," ujar akh Dhanie.

"Alhamdulillah, di sini liqonya antar kecamatan. Temen-temen liqo ane ada yang dari Ngawen, dan kecamatan yang lain," cerita akh Heru yang dulu saat liqo di Piyungan teman-teman liqonya cuma satu dpra alias satu desa saja.

"Luar biasa itu semangatnya. Tidak salah kalau orang tua antum memberi nama HERU JIHAD. Ane dulu sebelum jaman partai juga liqonya lintas kabupaten. Ane dari Bantul, teman liqo ada yang dari Sleman, Gunung Kidul dan Kulon Progo," sambung ane buat nyemangati akh Heru.

"Oh ya, anak antum mana nich?" tanya akh Haryadi yang saat Heru menikah dulu jadi pengiring mempelai putra.

Sejurus kemudian akh Heru sudah menggendong bayi mungil yang langsung disambut akh Haryadi berganti menimangnya. Akh Haryadi tampak semangat menimang-nimang bayi berusia lima bulan ini. Maklum juga, beliau pengin cepet-cepet punya momongan.

"Putri cantik ini namanya siapa nich?" tanya teman-teman yang lain.

"Hanifah Rosyidah," balas akh Heru Jihad.

"Wah, malam ini kita ketemu dengan ABU HANIFAH nich," sambung ane memberi kuniyah buat akh Heru Jihad sekaligus mengingatkan kepada ulama besar tabi'in kelahiran Kufah Irak yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), shalat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi'i, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya.

Akh Sinyo bergantian menggendong Hanifah Rosyidah. Putri kelahiran 30 Maret 2009 ini tampak nyaman sekali dalam dekapan hangat tangan besar Abu Zidane.

Belum tuntas kangen-kangenan ini, kami terpaksa berpamitan mengingat waktu. Namun sebelum pulang kami mengudang akh Heru Jihad sekeluarga untuk ikut acara Buka Bersama Kader DPRa PKS Srimartani pada Ahad 13 September di Rumah Makan Gubug Resto.

Usai sudah Safari Ramadhan malam itu. Tak diduga kami dapat berkah ramadhan dengan dipertemukan tiga keluarga walaupun tujuan awalnya cuma satu: keluarga akh Eko Yulianto di RSUD GK, keluarga jamaah tarawih masjid Baiturrohim dan keluarga akh Heru Jihad alias Abu Hanifah.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Futur, Karena Hidupnya Ngelantur

Kamis, 03 September 2009


by Abul Aliyah
--

Futur.
Kenapa ada futur?
Karena hidupnya ngelantur.

Futur tidak akan terjadi apabila kita tetap FOKUS dengan jalan hidup ini.
Karena sesunggunya futur adalah kondisi keberpalingan dari jalan yang lurus.
Suatu situasi dimana hati tergoda untuk melirik dan mencoba-coba jalan lain.

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." [QS Al-An'am : 153]

Futur sesaat, jalan kan tersesat
Futur abadi, hidup kan ngeri
Semua, kerana diri memperturutkan nafsu hewani

"Maka pernahkah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya? Dan Allah membiarkannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" [QS Al-Jatsiyah : 23]


---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Senja nan Indah di Jalan Dakwah


by abuhasan
Santap lezat bebek goreng terasa lebih mak nyus dengan sruputan teh poci gula batu yang menambah hangat senja yang mulai temaram.

Momen indah itu tidak disia-siakan akh Dhanie untuk mengabadikan dengan kamera digitalnya. Sesekali bergantian dengan akh Ecoy. Ane sendiri yang biasanya juru photo, sore itu bisa lebih 'menikmati' acara dengan tidak ribet moto-moto. Sebagai kamerawan memang kudu nenggang rasa, di saat yang lain asyik bersantap (misalnya, dan ini momen yang perlu diambil gambarnya), sang juru photo kudu beraksi jeprat sana jepret sini, makan belakangan.

Usai berbuka di alun-alun wonosari kami melanjutkan perjalanan untuk sholat isya dan tarawih sebelum pulang. Tak berapa lama menyusuri wilayah wonosari, adzan isya berkumandang.

Di suatu jalan terlihat masjid yang terletak persis pinggir jalan. Terpampang dengan jelas nama 'Masjid Baiturrohim' yang setelah bertanya termasuk wilayah desa Siraman, kecamatan Kepek, Gunung Kidul. Teman-teman langsung mengambil wudhu. Saat itulah ada peristiwa yang membuat surprise kami karena tidak diduga-duga.

Ketika kami masih berada di teras masjid secara tak terduga kami dihampiri seseorang yang sudah cukup lama kami tak berjumpa.

"Assalamu'alaikum, dari mana saja ini? Kok bisa sampai sini?" bapak muda yang ternyata orang Piyungan ini menghampiri kami.

"Akh Heru Jihad, antum tinggal disini toh?" saya balas bertanya diantara perasaan kaget, senang dan penasaran.

"Iya, rumah saya di perumahan situ," balasnya sambil menunjuk komplek perumahan yang berjarak sekira seratus meter dari masjid.

"Tadi pas kami berbuka, saya sudah bertanya ke Pak Agung dimana rumah antum sekarang. Tapi Pak Agung tidak tahu. Alhamdulillah, malah kita dipertemukan di rumah Allah SWT ini," balasku

Akh Heru Jihad ini kader aseli Piyungan. Setelah menikah dengan ukhti Ari Susanti (akhwat asal Klaten yang bekerja sebagai PNS di Gunung Kidul), beliau pun hijrah kesana. Sarjana lulusan ISI (Institur Seni Indoensia) Yogyakarta kini menjadi guru di salah satu SDIT di Gunung Kidul.

Obrolan kangen-kangenan kami tunda dulu karena sudah mau iqomat sholat Isya.

Saat rombongan kami memasuki masjid, surprise kedua muncul. Bapak-bapak ta'mir menghampiri kami.

"Mas, nanti ngisi ceramah Tarawih ya?," ujar ta'mir ke saya yang mengenakan baju koko putih plus kopiah hitam.

"Pakai bahasa indonesia atau basa jawa pak?" balasku malah bertanya.

Maksud ane bertanya ini untuk melihat kondisi jama'ah masjid setempat, maklum orang-orang tua di daerah pelosok masih banyak yang kurang faham kalau ceramah dengan bahasa nasional. Tiwas ngomong ngalor ngidul malah gak donk. Setelah dikonfirmasi kalau lebih afdhol pakai bahasa jawa, maka ane menugaskan ustadz dhanie asy-syakib (kader andalan yang boso jowonya luar biasa).

Maka usai sholat ba'diyah isya, akh Dhanie yang kebetulan mengenakan baju seragam PKS naik ke mimbar. Setelah mengenalkan diri dan rombongan beliau menuturkan tentang keutamaan silaturohim dan ukhuwah. Walaupun mendadak, tapi karena sudah biasa ceramah (apalagi bulan ramadhan, hampir tiap hari ngisi pengajian) membuat jamaah masjid terperangah. Isinya bagus, boso jowonya enak didengar. Sepuluh menitan jama'ah mendengarkan dengan seksama, sesekali tersenyum dan tertawa juga ikut nyeletuk karena ceramahanya bergaya interaktif.

[bersambung lagi ya. ceritanya masih panjang. insya Allah akan dilanjutkan]

NB: nah, untuk foto yang terpampang di postingan ini yang moto akh Ecoy.
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ada Cerita di Safari Silaturohmi Ramadhan DPRa Srimartani

Selasa, 01 September 2009


by abu ali
"Kami seklrga m'ucapkn Jzkmlh khairn katsira. Semoga Allah SWT mbls kbaikn tmn2 DPRa Srmrtni dg blsn trbaik. Amien3x. Mhn doany jg smga anak kmi lekas smbuh&kmbli ke rmh. Kel.EkoYulianto"
[sms, 30/08/09 at 20.33]
---

Sudah sebelas hari bayi mungil berbobot 3,5 kg ini tergolek lemah di kotak inkubator kamar melati RSUD Gunung Kidul. Dengan sabar dan telaten pasangan akh Eko Yulianto dan ukhti Ika Riyandari menjaga putra pertamanya ini.

Bayi laki-laki yang belum sempat diberi nama ini terlahir dengan bantuan vakum besar kala pagi masih menggigil Kamis 20 Agustus kemarin. Suara tangis pertama sebagai tanda kehadirannya di bumi yang dinanti sang ibu pun tak terdengar. Seketika sang bayi dilarikan ke RSUD GK.

"Alhamdulillah, suara tangisnya sudah keluar walau masih lemah tidak sekencang bayi umumnya," cerita akh Eko kepada teman-teman DPRa Srimartani yang sore itu berkunjung ke RSUD GK.

Pasangan muda ini (Eko-Ika) memang dua-duanya aselinya berasal dari kampung mBandung Playen Gunung Kidul. Karena kerjanya di Yogyakarta maka mereka kontrak rumah di Perum GTS 2 Srimartani, Piyungan, Bantul sekira setahun yang lalu. Saat melahirkan anak pertamanya, pasangan ini memilih tinggal di kampung halaman, Playen Gunung Kidul.

Dan sore itu (Ahad, 30/8) kami bertujuh (Pak Agung, Dhanie, Haryadi, Sinyo, Eko Heri, Priyanta dan Ane) 'naik gunung' untuk bersilaturohmi. Sekira pukul 16.45 rombongan yang berkumpul di rumah pak Pri meluncur dengan Black Avanza. Sengaja kami memilih waktu sore biar sekalian ngabuburit. Jauh hari sebelumnya teman-teman yang ikut diminta untuk mengatur jadwal ceramah tarawih (kalau pas ada jadwal agar dicari penggantinya).

Setelah menempuh perjalanan tiga puluhan menit ke arah timur melintasi jalan mendaki berkelok-kelok pegunungan, kami sampai di RSUD kabupaten Gunung Kidul. Jam menunjuk angka 17.20 kala rombongan yang dipimpin Pak Agung ini memasuki gerbang RSUD. Kala kami sampai di kamar melati, terlihat sang kakek tengah menemani cucunya yang tengah 'dihangati' di kotak inkubator. Akh Eko yang mengenakan kaos orange menyambut kami dengan senyum khasnya. Kami pun menyapa Bu Ika yang berada di sampingnya.

"Nanti kalau memberi nama, dikasih nama yang ada makna 'kuatnya'. Misal Qowwiy atau Azis atau Aqwam," ujar Pak Agung yang juga naqib dari akh Eko. Teman-teman yang lain manggut-manggut dan sesekali menimpali obrolan sambil bergantian menengok sang bayi.

"Maksimal tiga orang kalau mau masuk ruang inkubator," ungkap akh Eko ketika teman-teman hendak melihat sang bayi.

Dua puluhan menit kami disana. Tidak lama karena memang sunahnya kalau menjenguk orang sakit jangan lama-lama. Yang penting doa dan kalau bisa memberi sesuatu yang bisa meringankan. Kamipun berpamitan setelah sebelunya akh Haryadi yang ditugasi memberi 'amplop' sudah menunaikan amanahnya.

Adzan maghrib tanda berbuka puasa sudah terdengar pas kami keluar dari RSUD. Pak Agung yang sehari-hari bekerja di daerah Wonosari Gunung Kidul megajak rombongan berbuka puasa di daerah alun-alun Wonosari. "Mau sate atau bebek nich?" tawar Pak Agung yang mayoritas menjawab 'bebek'.

Kamipun sampai di warung lesehan 'Rahayu' yang berada di pinggir alun-alun. Setelah menikmati teh hangat dan sambil menunggu menu utama yang masih agak lama, kami menuju Masjid Kodim GK untuk sholat Maghrib. Usai sholat maghrib, bertujuh kami menikmati bebek goreng plus tempe penyet sambil duduk lesehan melingkar. Teman-teman betul-betul menikmati sajian ini. Nasi yang sebaskom ternyata kurang hingga nambah lagi. Maklum, disamping rasa bebek yang lezat juga ada rasa lain yang menambah semangat teman-teman, yakni rasah-mbayar (alias gratis). Pak Agung yang mimpin rombongan bukan saja menjadi guide, tidak hanya yang mbawain dan mbensinin mobilnya, tapi juga sekaligus yang mentraktir rombongan hari itu. Sungguh, senja yang indah di jalan dakwah.

[to be continued. udah rada pegel nulis sejam lebih tapi cuma seberapa baris]

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN