NEWS UPDATE :

Indahnya Buka Bersama Kader DPC PKS Piyungan

Senin, 31 Agustus 2009



Reporter: Abul Aliyah
KABREGAN - Jam menunjuk pukul 16.30 wib kala satu persatu kader dpc piyungan mulai berdatangan di rumah bapak haji harjono dusun kabregan, srimulyo, piyungan. Sore itu (Sabtu, 22/8) dpc piyungan menggelar buka puasa bersama untuk kader se-dpc.

Sudah menjadi tradisi tahunan setiap ramadhan pengusaha puyuh ini 'menjamu' kader-kader pks piyungan. Pun sore itu, rumah besarnya dipenuhi ikhwan akhwat dan anak-anak ikhwah yang berbondong-bondong datang.

Saat acara formal sudah dimulai, wawan wikasno ketua dpc piyungan yang punya hubungan dekat dengan sohibul bait mengungkapkan rasa terima kasih kepada tuan rumah. "Kami hanya mampu membalasa dengan do'a semoga Pak Har sekeluarga senantiasa mendapat limpahan rahmat, barokah dan hidayah Allah SWT," ungkap Pak Wawan yang duduk bersebelahan dengan sohibul bait.

Acara selanjutnya adalah Pengajian Jelang Buka yang disampaikan oleh Kyai Abdurrohman. Kyai berjenggot lebat dengan gaya blak-blakan ini membuat suasana tambah meriah. Uraian tentang hal-hal yang membatalkan 'pahala puasa' pun dibumbui dengan contoh-contoh perilaku keseharian yang sangat pas dan membuat semua hadirin seolah bercermin terhadap dirinya sendiri.

Sangking hanyutnya dalam untaian hikmah sang kyai, tak terasa waktu berbuka yang jatuh pukul 17.40 wib ini telah tiba. Sajian kurma, air mineral dan kotak nasi dengan menu spesial pecel gemak disajikan tuan rumah. Bukan hanya para kader yang mendapat salah satu 'fartain' (kegembiraan saat berbuka), anak-anak kader pun terlihat lahap bersantap dengan abi umminya.

Ramadhan memang terlalu indah untuk dilupakan, terlalu mahal untuk di-cuek-kan, terlalu berharga untuk disia-siakan. Sepertiga ramadhan sudah berlalu, sisanya mari kita penuhi dengan mutiara amal, tangis tahajud, senyum sedekah, dan indahnya berbagi dan bersilaturohmi.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Main Bola dan Mengajari Anak-anak London Mengaji

Jumat, 28 Agustus 2009


Manchester – Namanya Kolo Toure, lahir di Pantai Gading, 19 Maret 1981. Sebagai pemeluk Islam yang taat, mantan pemain Arsenal yang kini membela klub terkaya di Inggris, Manchester City juga menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini seperti halnya pemeluk Islam lainnya di seluruh antero dunia.

Bek tengah yang tangguh ini memiliki kekuatan, serta fisik yang luar biasa. Tidak heran, ketika The Citizens menggaetnya dari Arsenal, Kolo Toure langsung menjadi idola baru di Stadion Kota Manchester, seperti halnya pemain Man City lainnya, Emmanuel Adebayor dan Carlos Tevez.

Kolo Toure merupakan kakak dari gelandang Barcelona Yaya Toure, dan kakaknya yang paling tua bernama Ibrahim Toure yang kini bermain untuk Al Ittihad.

Di bulan Ramadhan tahun ini, bersamaan dengan digulirkannya Liga Primer musim ini, tentu saja Kolo Toure menjalankan ibadah puasa, seperti yang sudah sering dilakukan bila Ramadhan tiba.

Namun, ada kesibukan lain bagi Kolo Toure saat ini, meski telah pindah ke Manchester, namun Kolo Toure tidak melupakan anak-anak asuhnya yang berada di London. Usut punya usut, Kolo Toure sejak berada di London, mengajari anak-anak Islam yang tinggal di dekat Masjid London membaca Al Quran.

Masjid London sendiri letaknya di dekat kandang The Gunners, Emirates. Meski sudah pindah ke Manchester, Kolo Toure di sela-sela kesibukan ketika tidak bermain membela Man City, mengendarai mobilnya, ke London, dengan tugas mulia mengajari anak-anak kecil yang beragama Islam, mengaji. Sungguh pekerjaan yang mulia, bermain bola, tapi tidak melupakan dakwah.

*inilah.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Cerdas Cermat Antar Liqo se-DPC piyungan

Kamis, 27 Agustus 2009


Reporter: Abu Hasan
SUMOKATON - Hari ke-2 ramadhan 1430 (Ahad, 23/8) terasa meriah dan semangat di piyungan. Setelah 'dichase' dengan taushiyah 'full spirit' oleh ustadz cahyadi takariawan, para kader liqo ikhwan akhwat se-dpc langsung 'bertarung'.

Pagi itu bertempat di asjid al-muttaqin sumokaton untuk pertama kalinya digelar Turnamen Liqo dengan cabang tunggal lomba Cerdas Cermat Antar Liqo (CCA). Dalam CCA perdana ini diikuti sebanyak 24 Tim, yang terdiri dari 16 Tim liqo akhwat dan 8 Tim liqo ikhwan. Masing-masing Tim terdiri dari 3 orang.

Materi yang diujikan CCA meliputi: Al quran, Hadits, Aqidah, Siroh, Siroh sahabat, Fiqih, Sejarah Islam, Kisah nabi-nabi, dan seputar PKS.

Lomba CCA dibagi menjadi dua babak: BABAK PENYISIHAN dan FINAL.

Dalam babak penyisihan, peserta CCA mendapat ujian TERTULIS sebanyak 18 soal dengan TOTAL POIN maksimal 79. Untuk ujian tulis yang berlangsung selama 20 menit ini, peserta Tim ikhwan menempati ruang utama masjid 'BARU' al Muttaqin sedang peserta Tim akhwat ujian tulis bertempat di bangunan 'LAMA' masjid al-muttaqin yang berada disamping selatan masjid baru.

Sesuai aturan yang dibuat panitia CCA, dari hasil UJIAN TERTULIS ini akan diambil 2 Tim ikhwan nilai tertinggi dan 2 Tim akhwat nilai tertinggi untuk menjadi FINALIS CCA.

Dan akhirnya, yang berhasil keluar sebagai FINALIS CCA kali ini adalah:

1- Tim akhwat srimulyo (anik, pri hartanti, rati)= SKOR 72
2- Tim akhwat sitimulyo (veny, darsih, elok) = SKOR 65
3- Tim ikhwan srimartani (dhanie, priyanta) = SKOR 63
4- Tim ikhwan srimulyo (gino, eko, andi) = SKOR 59

Dalam ujian tertulis ini untuk menseleksi 2 FINALIS AKHWAT terjadi persaingan yang super ketat antara ranking 2,3 dan 4 dengan selisih angka cuma beda satu poin.

Babak Final pun digelar dengan menampilkan 4 Tim. Para supporter masing-masing tim tampak antusias memberi semangat tim kesayangannya masing-masing. Applaus meriah membahana saat acara final cca dimulai.

Babak final dibagi menjadi dua tahap, pertama SOAL WAJIB-LEMPARAN (masing-masing terdiri atas 10 soal) dan kedua SOAL REBUTAN (15 soal).

Bertindak sebagai pembaca soal merangkap juri adalah abu hasan dengan dibantu andi tw dan wargito. Sedang petugas pencatat nilai adalah sulistio dibantu ragil sujono.

Selama sekira dua jam FINAL CCA berlangsung dengan riuh, lucu dan meriah (ini tidak terlepas dari bejibunnya para tifosi yang memadati arena dan bikin 'gaduh'). Kejar mengejar dan susul menyusul dalam perolehan angka pun menambah deg-degan para Finalis dan teman liqonya yang jadi suporter.

Dan akhirnya, sebagai JUARA PERTAMA Lomba CCA antar liqo se-dpc piyungan adalah..... TIM IKHWAN SRIMARTANI. Disusul juara dua Tim Akhwat Srimulyo. Di posisi tiga bertengger Tim Ikhwan Srimulyo dan penghuni urutan empat adalah Tim akhwat sitimulyo.

Masing-masing juara akan mendapat hadiah berupa 'Uang Pembinaan' sebesar:
JUARA 1 Rp 300.000,-
JUARA 2 Rp 200.000,-
JUARA 3 Rp 100.000,-
JUARA 4 Rp 50.000,-

Hadiah akan diberikan pada acara BUKA BERSAMA KADER se-dpc piyungan yang akan digelar pada hari Sabtu 29 Agustus 2009 bertempat di rumah bapak Harjono dusun Kabregan Srimulyo Piyungan.

Selamat buat sang juara, para finalis, peserta dan para suporter mania.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ich liebe dich....PKS

by Dimar Sembiring
----
Bagai dawai gitar yang dipetik
Semerdu itu pulalah da'wah ini
Bagai tetesan embun di pagi hari
Sesejuk itu pulalah da'wah ini
Bagai panorama pedesaan nan asri
Seindah itu pulalah da'wah ini

Semakin aku mendekat
Semakin aku terpikat
Semakin aku merapat
Semakin aku tertambat dengan da'wah ini

Terima kasih Allah
Engkau biarkan diri yang dungu
Mendekati da'wah yang begitu merdu

Terima kasih Allah
Engkau biarkan diri yang terpuruk
Merapat dalam da'wah yang begitu sejuk

Terima kasih Alah
Engkau biarkan diri yang lemah
Melekat dalam da'wah yang begitu indah



---
admin: ini postingan jaman pemilu kemaren yg di-reposting. bukan karena gak ada lagi liputan baru, tapi kayaknya gelora semangat di Syahrul Mubarok Ramadhan ini, perlu juga kita ungkapkan kesyukuran atas nikmat iman, nikmat islam dan nikmat berjama'ah dalam da'wah mubarokah ini.

'Kekosongan' Yang Melenakan (Taujih Ust. Cahyadi)

Selasa, 25 Agustus 2009


Reporter: Abu Hasan
---
"Fa idzaa faroghta fanshob"
Maka ketika engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah urusan berikutnya.

Ayat ke-7 surat Alam Nasyroh diatas menjadi sentral dari taujih yang disampaikan ustadz Cahyadi Takariawan pada acara Pembekalan Kader Da'wah DPC PKS Piyungan yang diselenggarakan pada Ahad 2 Ramadhan 1430 (23/8) di masjid Al-Muttaqin Sumokaton, Sitimulyo, Piyungan.

"Kondisi yang akan menjadi sebab kefuturan adalah adanya situasi 'kekosongan' yang dalam istilah al-quran disebut dengan FAROGH. Ada dua kekosongan (farogh) yang perlu diwaspadai, yaitu kesongan spiritual dan kekosongan aktifitas. Oleh karenanya sebagai upaya prefentif terjadinya degradasi di kalangan penggerak dakwah maka Allah SWT memberi solusi dengan kalimat 'FANSHOB'. Teruslah beraktifitas. Teruslah bergerak! Karena diam berarti MATI!" urai ustadz yang juga salah satu petinggi DPP PKS yang diamanahi sebagai Ketua Wilayah Da'wah Indonesia Timur.

Dalam siroh terdapat contoh, seusai melakukan peperangan khondaq yang menggetarkan jiwa, para sahabat yang belum juga sempat beristirahat langsung 'digerakkan' menuju wilayah yahudi bani quraizhoh yang berkhianat. Sungguhpun pihak muslimin sudah begitu payah akibat pengepungan yang dilakukan qurays dan ghathafan dalam perang ahzab (khondaq), namun para sahabat langsung bergegas menuju medan perang lagi.

Contoh lainnya, beberapa sahabat anshor termasuk Abu Ayyub al-Anshoriy pada suatu saat berniat 'cuti sebentar' dari aktifitas da'wah dalam rangka memperbaiki kondisi ekonominya yang morat-marit. Maka apa jawaban atas permintaan ini? Allah swt langsung menurunkan ayat 195 surat al-baqoroh:

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Abu Ayyub mengisahkan asbabun nuzul ayat ini: "Ketika Allah telah memuliakan agama-Nya dan sudah banyak pendukungnya, kami berkata di antara sesama kami secara sembunyi-sembunyi, ‘Sesungguhnya harta kita telah hilang. Andai kata kita tinggal (berdiam, tidak ikut berjihad sementara) dan memperbaiki apa yang telah hilang itu tentu lebih baik (maksudnya, mengumpulkan harta benda dan menyibukkan diri dengannya).’ Maka Allah pun menurunkan ayat ini. Jadi, maksud kebinasaan di sini adalah tinggal (berdiam, berhenti) seperti yang kami maksud itu.’”

Ayat ini menegaskan bahwa berhenti dari aktifitas dakwah dan jihad fi sabilillah sama saja dengan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.

Sejarahpun mencatat bahwa sepanjang hidupnya Abu Ayyub adalah seorang mujahid yang aktif. Bahkan sampai akhir hayatnya beliau masih 'AKTIF' dalam jihad. Perang terakhir yang diikutinya adalah penaklukkan konstantinopel. Kholifah Muawiyah saat itu mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh putranya sendiri, Yazid bin Muawiyah.

Pada masa itu Abu Ayyub adalah seorang lanjut usia yang berumur 80-an, sehingga Abu Ayyub tidak dapat lama bertempur. Dia menderita sakit yang mengharuskannya istirahat. Yazid sebagai panglima menjenguk dan bertanya, “Adakah Anda memerlikan sesuatu, Abu Ayyub?”. Dia menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada seluruh kaum muslimin….”.

Abu Ayyub juga berpesan agar pasukan terus maju ke daerah musuh dan membawanya bersama mereka. Bila nanti dia wafat di medan perang, hendaknya jenazahnya dibawa dan dimakamkan di bawah dinding konstantinopel.

Tak lama setelah itu, Abu Ayyub pun wafat. Pasukan muslimin melaksanakan amanat sahabat Rasulullah ini. Mereka terus bertempur dengan gagah berani. Ketika mencapai dinding batu konstantinopel mereka memakamkan jenazah Abu Ayyub dibawahnya.

Paparan sejarah yang diurai dengan jelas dan bernas oleh ustadz yang akrab disapa Pak Cah ini makin memantapkan kader ikhwan akhwat yang memenuhi masjid al Muttaqin pagi itu.

"Ayat Allah swt diatas bagi kita sangat inspiratif untuk terus berkarya dan beramal. Makanya Allah swt dan Nabi-Nya memberi instrumen berupa amal sholih yang bervariatif agar tidak terjadi kebosanan dalam beramal," urai ustadz yang tinggal di kecamatan banguntapan (sebelah barat piyungan) ini.

"Kalau pun kita mengalami masa 'kekosongan' yang diindikasikan dengan munculnya rasa malas dalam beramal maka solusi yang paling tepat dan cepat adalah dengan 'pemaksaan'," lanjutnya.

Pemaksaan yang paling efektif adalah yang berasal dari diri kita sendiri. Kalaupun tidak ada 'energi pemaksaan' dalam diri maka dibutuhkan 'pihak lain' yang harus memaksa kita kalau kita ingin keluar dari rantai kemalasan.

Banyak hal dari isi taujih yang belum sempat kami catat dalam liputan ini. Kesalahan kami adalah tidak merekam (audio) isi ceramah yang berlangsung dari pukul 06.15 - 07.30 ini.

Kesempatan bertatap muka dan bermujalasah dengan ustadz Cahyadi memang kesempatan yang sangat berharga. Tokoh senior PKS Yogkarta ini walaupun bukan berlatar belakang ilmu-ilmu keagamaan (karena beliau lulusan farmasi UGM) namun dalil-dalil dari Al-Quran maupun hadits yang lancar mewarnai isi taushiyah menambah mantap dan berkualitas.

Beliau juga termasuk ustadz yang gampangan. Dalam arti, asal beliau pas ada di rumah (tidak sedang dakwah diluar kota) dan ada waktu, pasti beliau bersedia hadir walaupun dengan undangan mendadak via telpon. Sebetulnya pekan ini beliau dijadwalkan sudah di Australia untuk mengisi beberapa Dauroh untuk kader di sana, namun karena pengurusan visa ada keterlambatan, maka beliau baru akan ke Australia Ahad malam (23/8).

"Alhamdulillah ada keterlambatan, sehingga saya bisa bertemu dengan kader-kader dpc piyungan yang semangat-semangat. Ini bukan kebetulan, karena semua yang terjadi adalah by design dari Allah (ala qudrotillah)," papar ustadz yang baru menerbitkan buku baru berjudul Menyongsong Mihwar Dauli terbitan eraintermedia.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Menyongsong Mihwar Daulah


Judul Buku : Menyongsong Mihwar Daulah
Penulis : Cahyadi Takariawan
Penerbit : Eraintermedia
Hal : 224 halaman
Tahun : 2009

Tarbiyah sudah sampai di mihwar daulah. Setelah sukses melewati mihwar tanzhimi, sya'bi, dan muassasi, sekarang tarbiyah mantap untuk berpartsipasi di dalam kelembagaan negara. Suasana, kondisi, medan, dan mad'u yang dihadapi di mihwar daulah tentu saja lebih kompleks dan majemuk dibanding tiga mihwar sebelumnya. Untuk itu, diperlukan kesiapan dan persiapan menyongsong mihwar daulah.

Persiapan apa yang perlu dilakukan untuk berperan aktif dalam mihwar daulah? Persiapan itu, antara lain adalah persiapan ruhiyah, persiapan karakter, persiapan fikriyah, persiapan jasadiyah, persiapan kompetensi, dan persiapan maliyah.

Tarbiyah dan kadernya dalam berdakwah di mihwar daulah dituntut memiliki semua persiapan tersebut, agar tidak kontraproduktif. Artinya, apabila tarbiyah ingin membersihkan pemerintahan dari KKN, misalnya, ia harus sudah mempersiapkan kader yang anti KKN, agar bisa menjadi teladan dan panutan. Apabila tarbiyah ingin melakukan perbaikan kondisi dalam pemerintahan, berarti tarbiyah harus sudah memiliki konsep yang jelas mengenai sistem kenegaraan, agar perbaikan itu terarah dan tepat sasaran. Begitu seterusnya.

Buku ini didedikasikan untuk insan tarbiyah, dalam rangka membersamai ikhwah melangkah di mihwar daulah, demi tercapainya cita-cita bersama: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Bab 1. membahas tentang dakwah, metode dakwah, dan aspek-aspek dalam dakwah
Bab 2. membahas tentang mihwar dakwah, mulai dari tanzimi sampai ke daulah
Bab 3. membahas tentang persiapan-persiapan aktivis dakwah yang mesti dilakukan untuk menyongsong mihwar daulah
Bab 4. berisi metode-metode pembersihan jiwa
Bab 5. membahas tentang peranan akhwat dalam berdakwah


---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kajian Kitab Ibanatul Ahkam DPC PKS Piyungan

Senin, 24 Agustus 2009

Reporter: Abu Hasan
SAMPAKAN - Hari Senin 3 Ramadhan 1430 (24/8) DPC PKS Piyungan memulai kegiatan Kajian Kitab yang bertempat di Masjid Al-Ikhlas Sampakan. Kegiatan yang ditujukan untuk kader ini akan digelar rutin tiap pagi selama satu jam mulai pukul 05.30 s/d 06.30 sampai akhir ramadhan.

Kitab yang dikaji adalah kitab "Ibanatul Ahkam" karya Syaikh Alawy Abbas Al-Maliki dan Syaikh Hasan Sulaiman An-Nuri. Kitab terbitan Al-Haramain Jeddah ini merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Bulughul Maram. Kitab Bulughul Maram merupakan salah satu kitab klasik paling populer dalam dunia Islam. Kitab yang memiliki keberkahan dan manfaat. Kitab yang berisi himpunan hadits hukum yang melingkupi aktifitas ibadah seorang muslim yang disusun oleh Imam besar Ahli Hadits Ibnu Hajar Al-Atsqalani -rahimahullah-. Imam Ibnu Hajar menyandarkan hadits-hadits yang terkumpul didalam kitab ini, berasal dari kitab Induk hadits Kutubussittah, dan juga kitab hadits lainnya.

Alhamdulillah, kader-kader dpc piyungan mendapat keberkahan ilmu dari kitab Ibanatul Ahkam yang diulas dan disampaikan dengan sangat baik oleh Ustadz Hanafi, salah satu kader dewasa yang memiliki kafa'ah syariyah. Bukan saja keluasan ilmu dari beliau, tapi gaya dan teknik penyampaian yang disampaikan ustadz dari kecamatan pleret ini (tetangga kecamatan piyungan) betul-betul membuat kader ikhwan akhwat yang hadir pagi tadi sangat betah mengikuti kajian bahkan waktu satu jam terasa sangat singkat.

Banyak kelebihan yang dimiliki kitab Ibanatul Ahkam. Disamping penjelasan per hadits yang detil, juga ditambahi uraian tentang "Mabadiu Ilmil Hadits" dasar-dasar ilmu hadits, yang sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu tingkat awal.

Pada pertemuan perdana yang dihadiri dengan antusias puluhan kader ikhwan akhwat tadi pagi, dibahas salah satu topik dari "Bab Shifatus Sholah". Bab ini dimulai dengan hadits berikut:

Dari Robi'ah bin Malik Al-Aslamy ra berkata: Nabi saw bersabda kepadaku: "Pintalah sesuatu kepadaku." Aku menjawab: "Aku meminta kiranya aku bisa menemanimu di surga (as-aluka murofaqotaka fil jannah)." Nabi saw berkata: “Adakah permintaan yang lain?”. Aku berkata: “Tidak ada yang lain, hanya itu, wahai Rasul. (huwa dzaaka)” Maka Nabi berkata: “Jika demikian, maka bantulah aku (guna memperoleh permintaanmu itu) dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

*Robi'ah bin Malik atau sering dipanggil Abu Firâs adalah seorang sahabat yang seringkali melayani Rasul saw. Karena seringnya, maka suatu ketika Rasul saw. bermaksud membalas budinya, dengan memberinya sesuatu yang bersifat material dan dalam jangkauan kemampuan beliau. Tapi, apa yang diminta Abu Firas? sungguh mencerminkan pribadi yang unggul.

Dalam Kitab Ibanatul Ahkam ini hadits tersebut diuraikan secara terperinci.

Yang pertama dari sisi 'Al Ma'ani al ijmali' atau kandungan global hadits tersebut.

"Seorang mu'min yang sempurna adalah yang himmah-nya (obsesinya) tinggi (-al mu'minul kamil himmatuhu saamiyah-), tidak cenderung kecuali pada pencarian sesuatu yang mulia (--laa yumilu illa ila asyrofil matholib). Tidak mengejar kecuali pada kedudukan yang tinggi (wa laa yathlubu illa a'alal marotib). Tidak tergoda/terpesona dengan dunia dan perhiasannya (laa taghuruhud dunya wa zakhorifuha). Karena sesungguhnya dia tidak akan mencari kecuali kepada sesuatu yang bersifat kekal (liannahu laa yathlubu illa maa yabqo), dan memandang rendah pada sesuatu yang bersifat fana (wayatarofa'a 'amma yafni)."

[demikian hasil translete per kata dari kitab Ibanatul Ahkam. Gimana cara nulis arab di blogspot ya?]

Sahabat ini (Abu Firas) merupakan sahabat yang mulia, salah satu dari ahlus sufah. Ahlus Sufah adalah sahabat yang tinggal di masjid karena tidak punya tempat tinggal (umumnya kaum muhajirin, yang karena hijrah dari Makah ke Madinah tidak membawa harta apa-apa). Namun dalam kondisi serba kekurangan (secara materi) seperti itu, ketika disuruh untuk meminta sesuatu, dengan reflek spontan menjawab kalau yang dipinta hanyalah surga. Jawaban spontan ini mencerminkan karakter aseli dari sahabat yang mulia ini. Dunia sudah tidak mampu mempesonanya.

Demikian kurang lebih penjelasan yang baru muqodimah dari hadits di atas. Belum tuntas karena keterbatasan waktu. Insya Allah akan dilanjutkan besok pagi. Bagi kader yang tidak hadir tentu akan sangat merugi sekali. Kajiannya betul-betul bermutu, tidak garing. Disampaikan dengan 4 bahasa: arab, indonesia, jawa dan english. Sangat kaya dengan penjelasan yang multi disiplin ilmu. Ditanggung bisa mengobati dahaga ilmu kita.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ramadhan Ceria Buat Remaja GTS


by Ken Sri
Just kabar singkat. Meski ngirimnya telat. Moga tetap manfaat. Yang baca juga jadi semangat (para reporter maksudnya. Yang masih pada punya utang liputan, ayo ndang dilunasi... Kabar dari kalian dinanti muslim sedunia lho...!)
---

Perumahan GTS I, dusun poitan, srimarnani, piyungan, tahun ini jadi dusun binaan romadhon ikhwan-akwat srimartani. Program ini diperuntukkan para remaja. Kamis malam jumat kliwon 29 sya'ban 1430 H (atau malam terakhir sya'ban), jadi pilihan untuk menggelar grand opening. Berupa kajian multimedia jelang romadhon, plus game seru, tak ketinggalan juga full doorprize.

Ba'da maghrib, ikhwan akhwat laskar srimartani mulai bermunculan di lokasi, masjid al-mujahid. Setting tempat, dan nyiapin segala thethek bengek pendukung acara. Ba'da isya', remaja putra putri mulai berdatangan dari berbagai blok. Awalnya kami rada pesimis, apa peserta nyampe 30 orang? Segitu emang targetnya, karna menurut kader asli stempat, mbak layla, angka remaja di GTS I ya sekitar itu.

Tapi ternyata, antusias mereka melebihi kiraan kami. Selain mereka datang gasik, jumlahnya pun mencapai 39. 14 putri, 25 putra. Ternyata nih, acara beginian, ngaji remaja di masjid lah intinya, ya baru diadain kali ini...! Padahal masjidnya udah ada lebih dari 3 taon lho!

Peserta diantar masuk ke acara oleh mc kocak bergaya narsis (pokoke klop lah sama selera remaja), akh ecoy yang sekjen dpra srimartani. Mengawali acara, pak Mutahid selaku ketua takmir masjid al-mujahid memberikan sambutan.

Acara inti, diramu dikemas dan disampaikan dengan apik oleh ustadz dhanie asy-syiakieb. Dingin yang mengigit-gigit serta kantuk yang harusnya udah dateng, dengan sendirinya menyingkir. Materinya ringan, seputar hal2 yg bikin romadhon jadi sia2 juga apa2 yg bikin tabungan pahala makin menggunung. Dengan metode yg interaktif, peserta terbetot sepenuhnya oleh sang ustadz. Didukung slide-slide yg bikin melek mata berupa beberapa cuplikan film yg sarat makna.

Acara kemudian dilanjut dengan game out door yg seru. Lumayan bikin ngos ngosan, tapi para peserta tetep setel semangat tegangan tinggi lho!

10.15 AM, seluruh rangkaian acara usai. Follow up dari kegiatan ini akan berlanjut setiap hari sabtu ba'da tarowih berupa kegiatan mentoring. [alhamdulillah, kegiatan mentoring perdana sudah terlaksana sabtu kemaren plus pembentukan kepengurusan RISMA -admin]



The Crew :
dhanie, dimar, sinjoue, si boy, ecoy
nurul, watik, layla, may, choir, kensri.

NB: kpada mr. Admin, bnyak skali timbunan hilaf ane slama ini, perilaku glenyengan, ukoro tlonya tlonyo. Mugi panjenengan kerso paring pangapunten. Matur nuwun njih..

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Marhaban Yaa Ramadhan

Jumat, 21 Agustus 2009

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci pun segera hadir

Ada luka yang pernah terukir
Ada khilaf yang sempat tergulir

Hadir dari ketulusan hati
Kami mohon maaf lahir & batin

Marhaban Yaa Ramadhan
Selamat menjalankan ibadah puasa
Moga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin. [admin pkspiyungan]

Sambut Ramadhan DPRa Srimartani Blusukan ke Pasar


Reporter: Abu Hasan
KEMBANGSARI (21/8) - H min 1 Ramadhan 1430 Jum'at pagi ini dimanfaatkan DPRa PKS Srimartani untuk bersilaturohmi dengan ibu-ibu, simbah-simbah yang berjualan dan berbelanja di pasar kembangsari desa srimartani.

Kegiatan yang sudah jadi tradisi tahunan dpra srimartani ini memang salah satu moment istimewa bagi kami. Jauh sebelum hari ini, kami sudah menyiapkan 'kado' istimewa yang akan kami bagi buat pedagang dan pengunjung pasar satu-satunya di desa kami. Diva Srimartani (Divisi Akhwat) membuat rangkaian bunga warna-warni dengan seuntai 'pesan ramadhan'. Yang ikhwan kebagian menyiapkan perkap (mobil bak terbuka buat panggung, sound, bendera pks, kelistrikan, de el el) plus dua rim jadwal imsyakiyah terbitan dpd pks bantul.

Udara dingin yang masih tersisa di penghujung sya'ban tak menghambat kader ikhwan akhwat mulai berdatangan ke rumah pak agung daraman yang kami jadikan base camp. Sekira pukul enam pagi ketua dpra akh rusdi martono sudah standby rapi berjas pks putih hitam kuning. Akh Eko Heri, sekjen dpra datang dengan menyopiri mobil bak terbuka milik om-nya. Akh Haryadi datang berboncengan dengan istrinya, si ukhti kecil. Bu Nur dengan si kecil muthia terlihat bersama akhwat-akhwat yang lain.

Pukul 06.20 kami meluncur ke pasar kembangsari.

"Ini nich yang ditunggu-tunggu udah datang. Cucu saya ngingetin terus kalau sehari sebelum ramadhan pasti dapat bunga dari pks," seorang ibu-ibu langsung menghampiri rombongan dpra srimartani yang lagi persiapan tempat.

Karena persediaan bunga masih buanyak (kami membawa 800-an ikat bunga), maka dengan leluasa si ibu bisa milih-milih warna yang disukai, tidak cukup satu tapi minta lebih.

Melihat antusiasme pengunjung pasar, pasukan akhwat langsung bergerak cepat menyebar walaupun MC dan orator belum secara resmi membuka jalannya acara. Dengan berdua-dua, diva srimartani menyusuri lorong-lorong pasar membagikan 'kado ramadhan' berupa jadwal imsyakiyah plus sekuntum bunga cantik.

"Sugeng enjang ibu-ibu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.....," akh Eko yang sudah berdiri di atas bak mobil membuka dan mulai menyapa pedagang, pengunjung dan yang lalu lalang di pasar. Tidak seperti hari biasanya, sehari jelang ramadhan ini pasar lebih ruamai penuh sesak.

"Mas, minum teh dulu ya?" seorang nenek-nenek menghampiri mobil yang disulap jadi panggung acara dpra pagi itu dengan membawa nampan berisi enam gelas teh hangat.

"Matur suwun saestu mbah," sambut akh Haryadi yang nemenin akh Eko diatas mobil.

Begitulah pagi jelang ramadhan di pasar kembangsari. Setengah jam-an kami berbagi dengan ibu-ibu, simbah-simbah, mbak-mbak, bapak-bapak dan adik-adik yang meramaikan pasar. Senyum ceria mewarnai kami semua. Jadwal imsyakiyah dan rangkaian bunga aneka warna nyaris habis. Sengaja tidak kami habiskan buat kenang-kenangan kami di rumah.

Setelah berpamitan dengan ibu-ibu pasar kamipun berfoto bersama.

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN 1430 H.


----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ramadhan Berbunga di Srimartani (foto)









---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

“Connecting Kader” via blog

Kamis, 20 Agustus 2009

by admin
---
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ba'da salam dan shalawat. Ana Qory, dari DPC Lakarsantri, Surabaya bermaksud untuk belajar dari DPC Piyungan. Ana mendapat rekomendasi dari Ketum ana Pak Sun'an untuk mengunjungi web ini. Insya Allah DPC kami akan mengadakan raker pada 21 Agustus 2009 mendatang. Ana pribadi memohon bantuannya agar DPC Piyungan bisa memberikan deskripsi tentang proker sekretaris dan amanah yang harus diembannya. Bantuan antum sangat kami perlukan untuk perbaikan DPC kami.

Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Jazakumullah khairan katsira

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Sekretaris DPC Kecamatan Lakarsantri
Qory Adibdyani

.......

Assalamu'alaikum wr. wb.

Salam kenal dari kami dpc pks ilir timur 2 Palembang, kami baru membuat web, terinspirasi dari web pks piyungan, dengan alamat :
http://dpc-pks-ilirtimur2.blogspot.com

Kami mohon share ilmu dan triknya, agar tampilan web kami bisa semenarik dan seindah punya piyungan.
Ada beberapa point :

1. Comment apa yang perlu ditulis, untuk memunculkan

[+/-] Selengkapnya ...
dan
[+/-] Ringkasan saja ....

Sehingga berita yang ditampilkan tidak terkesan terlalu panjang.

2. Bagaimana untuk menambahkan sidebar disebelah kiri, karena default template dari blogspot, hanya ada satu sidebar sebelah kanan.

Atas bantuan dan sharing ilmunya, kami ucapkan Jazakallahu khairan khatsiro.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
DPC PKS IT2
Abu Ihsan

....

Dua email diatas baru saja kami terima dari saudara se-iman seperjuangan yang kami cintai fillah. Kami pun sudah mengirim email balasan ke masing-masing. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Dalam serba keterbatasan yang kami miliki, sedikit pengalaman (khususnya dalam mengelola blog pks dan kesekretariatan) kami senang untuk SALING berbagi ilmu, berbagi semangat dan mudah-mudahan berbagi keteguhan di jalan ini. [kata SALING perlu dikapitalkan karena memang kami sendiri tersuport untuk tetap eksis mengudara di dunia maya].

Dunia maya sesungguhnya mendatangkan manfaat yang berlimpah bagi da'wah. Namun sayangnya masih ada struktur pks (dpc, dpd) yang belum mengoptimalkannya. Saya pribadi punya pengalaman terbaru terkait dengan itu.

Ceritanya, teman kantor ane pengin sekali untuk ikut liqo tarbiyah. Namun sayangnya dia tidak bisa mendapat info person atau kantor pks yang bisa dihubungi di daerahnya (dpc atau dpd). Diapun minta tolong ke ane. Karena saya sendiri tidak punya kontak person kader di kabupaten/kecamatan tempat tinggal teman itu maka saya pun 'mencarinya' dengan bertanya ke Om Google. Hasilnya? NIHIL. DPD dan DPC nya tidak punya website atau blog, otomatis tidak ada alamat (kantor dpd atau dpc) yang bisa dicari atau nomor kontak yang bisa dihubungi. Akhirnya, sampai sekarang teman saya belum bisa ikut liqo. Kalau ikut liqo di wilayah dpc piyungan terlalu jauh.

Orang lain pasti terheran-heran.. "Hari gini gak online?", "Hari gini nyari alamat kantor dpc/dpd susah?". Apa kata dunia? Bagaimana mau jadi USTADZIYATUL ALAM?

Kalau boleh usul (barangkali ada orang dpp/dpw yang baca tulisan ini), tolong diwajibkan bagi semua struktur pks sampai dengan tingkat dpc untuk memiliki website (atau blog). Disitu ada alamat dan kontak person. Insya Allah, dimana saja kita berada kita bisa 'ter-conect' dengan struktur terdekat. Kita pun bisa mengikuti geliat dan perkembangan dakwah di daerah itu.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Dear Muslimah, Karena Engkau Seperti Permata

by Evyta Ar *
Dear muslimah, bagaimana kabar hari ini? Aku hanya ingin mengabarkan kepadamu, akan datang sebuah bulan yang tak pantas kita sia-siakan. Yang dengannya kita memiliki kesempatan membuat bidadari surga cemburu, ya…cemburu. Tahukah engkau bulan apa itu? Ah, tentu engkau tahu, pasti tahu. Sebab ia selalu didengung-dengungkan oleh para musafir iman.


Ramadhan duhai muslimah, ya…Ramadhan. Bulan yang pantas kita perjuangkan untuk saling berlomba. Engkau suka berlomba bukan? Berlomba-lomba dalam kebaikan tentunya, seperti yang telah Allah torehkan di dalam surat cinta-Nya “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” (QS. Al-Muthafifin:26)

Dear muslimah, karena engkau ibarat permata. Batu mulia yang begitu indah dan kokoh. Seperti itu juga lah kiranya engkau. Lembut, indah, tetapi kokoh dalam iman. Sudah sepantasnya ada persiapan yang harus kita upayakan saat menyambut bulan penuh keagungan itu. Ramadhan ibarat cahaya, engkau ibarat permata, permata bila bertemu dengan cahaya akan memantulkan pendar yang indah dan mempesona. Maukah engkau?

Gembira dan Menggembirakan

“Telah datang kepadamu Bulan Ramadhan, bulan nan penuh berkah. Di bulan itu Allah akan menaungimu; menurunkan rahmat dan menghapus dosa-dosa, mengabulkan doa dan memperhatikan bagaimana kamu sekalian saling berlomba-lomba (dalam kebaikan) pada bulan itu. Allah pun membanggakan dirimu di hadapan para malaikat-Nya. Maka perlihatkanlah (wahai kaum Muslimin) segala kebaikan pada dirimu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang kehilangan rahmat Allah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani)

Rasulullah saw senantiasa menggembirakan sahabatnya menjelang datangnya Ramadhan. Akan kah engkau membawa kabar gembira ini kepada saudaramu? Memberikan kegembiraan ke dalam diri orang lain tentang keindahan Ramadhan. Ini adalah persiapan pertama kita, bergembira dan menggembirakan orang lain akan kedatangan Ramadhan.

Memohon dan Memohon

Aku tak tahu sampai kapan usiaku berhenti di dunia ini. Tapi tahukah engkau muslimahku? Betapa takutnya aku kehilangan nyawa sebelum mencicipi Ramadhan kali ini. Bukan, bukan karena aku takut mati, tapi semata-mata aku takut kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang bayi yang baru lahir. Putih…bersih…aku takut kehilangan kesempatan bertemu malam terindah yang Allah berikan pada hamba-Nya sebelum ajal menjemput. Konon lebih baik dari ibadah seribu bulan lamanya. Aku takut kehilangan kesempatan membangun istanaku di surga. Engkau mau kah tinggal di gubuk reyot nanti? Bila aku hidup di gubuk reyot di dunia ini, tak apa. Jika di akhirat nanti, aku tak sanggup.

Aku, engkau, kita, alangkah sombongnya bila enggan memohon dan memohon. Mohon lah agar kita dipertemukan dengan Ramadhan. Mohon agar diberikan kesehatan untuk beribadah nanti. Betapa banyak mereka yang menantikan Ramadhan, tapi ajal telah menjemput. Betapa banyak mereka yang merindukan Ramadhan, tapi tak sanggup memaksimalkannya karena sakit. Tahukah engkau? Kekuatan harapan dan doa ada bersama orang-orang yang ikhtiar.

Baca, Fahami, Amalkan

Ada banyak muslimah yang kutemui tidak mengetahui hukum-hukum seputar puasa Ramadhan. Semangat saja tak cukup duhai muslimahku. Semangat harus diikuti dengan ilmu dan amal yang benar, hingga ia menjadi satu dalam wujud ibadah.

Membaca kitab seputar Ramadhan, mengajarkannya kepada orang terdekat kita, dan mengamalkannya bersama-sama. Ada banyak orang yang kehilangan keluarganya hingga tak bisa bersama-sama melewati Ramadhan. Aku pun begitu, aku tak mau kehilangan keluargaku sebelum aku membimbing mereka ke jalan cahaya, seperti yang aku rasakan dulu. Apakah engkau juga?

Tekad dan Perencanaan

Sudah begitu banyak Ramadhan yang kita lalu tanpa mengambil manfaat darinya. Coba kita hitung usia hidup kita, sebanyak itu pula lah kesempatan Ramadhan terlewati. Mari kita pikirkan dan rencanakan amal yang istiqamah untuk merebut kemuliaannya. Agar derajat taqwa itu layak melekat pada diri kita.

Ah…banyak sekali yang ingin aku sampaikan, tapi cukup lah sudah. Saatnya kita beramal, karena engkau seperti permata. Bukan begitu?



*dinukil dari sini: http://diary-ramadhan.evytaar.com/dear-muslimah-karena-engkau-seperti-permata
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ramadhan Bulan Tebar Hadiah buat Kader dari DPC PKS Piyungan

Rabu, 19 Agustus 2009

by admin
Momentum Ramadhan 1430 H akan dioptimalkan oleh DPC PKS Piyungan sebagai Syahrut Tarbiyah. Beberapa program pun telah dimatangkan dalam memperkokoh ma'nawiyah dan meningkatkan kualitas iman, ilmu dan amal para kader.

Demikian arah kebijakan yang lahir dalam Syuro DPC PKS Piyungan yang berlangsung Senin kemarin bertepatan dengan 17 Agustus 2009. Syuro sore hari itu seperti biasa bertempat di 'Markaz Da'wah' Sumokaton dihadiri seluruh jajaran DPC ikhwan akhwat.

Ramadhan kali ini juga akan dijadikan ajang 'bagi-bagi hadiah' buat kader-kader piyungan yang sudah all out memenangkan da'wah dalam ajang pileg dan pilpres kemarin. Pihak Panitia Ramadhan DPC Piyungan sudah menyiapkan uang jutaan rupiah bagi kader-kader ikhwan akhwat dalam rangka fastabiqul khoirot.

Beneran nich? Tumben-tumbennya kader 'dapat hadiah'? kan biasanya kader yang ...... Yup, Ramadhan kan bulan full berkah (istilahnya almarhum mbah surip). Jadi DPC Piyungan juga akan tebar hadiah plus ada juga yang serba gruatis.. tis... CATAT ya:

- Disediakan hadiah uang seratus ribu rupiah buat siapa saja yang bisa hafal surat Ar-Rahman di bulan Ramadhan ini (ntar ada tes nya, hafalan lancar dan tajwidnya oke)

- Bagi yang bisa khatam Al-Quran 3 X selama ramadhan diganjar hadiah lima puluh ribu rupiah, dan yang khatam terbanyak dapat seratus ribu rupiah.

- Lomba CCAA (Cerdas Cermat Agama Antar liqo) dengan hadiah juara pertama 300 ribu, Juara II 200 rb, Juara III 100 rb dan juara harapan 50 rb.
Untuk CCAA ini dengan ketentuan:
1. Satu Tim terdiri dari 3 orang
2. Satu liqo mengirim semua anggotanya yang terbagi jadi beberapa Tim sesuai jumlah anggotanya
3. Acara akan berlangsung di Masjid Al Ikhlas depan Pasar Wage, Ahad 23 Agustus 2009 pukul 08.00
4. Babak penyisihan akan diikuti semua Tim secara serentak dengan metode pertanyaan lisan dan jawaban tertulis. Dua tim ikhwan terbaik nilainya dan dua tim akhwat terbaik nilainya akan langsung maju sebagai FINALIS.
5. Babak Final akan menggunakan dua model. Tahap 1: Wajib - Rebutan, Tahap 2: Rebutan Murni.
6. Materi yang diujikan meliputi materi umum ke-Islaman: Al Quran, Hadits, Siroh, Fiqih, Kontemporer.

Nah, itu diantara acara Tebar Hadiah DPC. Yang untuk serba gruatis, diantaranya Buka Bersama Kader se-dpc yang insya Allah akan berlangsung Sabtu 29 Agustus 2009 di rumah Pak Harjono Kabregan.

Buka Bersama Saksi & Simpatisan akan berlangsung di rumah ibu hajjah Ida Sandeyan, Sabtu 5 September 2009.

Buka Bersama PWK se-piyungan, Ahad 6 September 2009. Tempat menyusul.

Itu dulu liputannya. Yang pasti, jadikan Ramadhan ini tak terlupakan dengan optimalisasi amal sholeh. Fastabiqul Khoirot ya akhi ya ukhti......

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

‘Tarhib Ramadhan’Pos WK Gentingsari Sitimulyo


Reporter: tiQu
GENTINGSARI: Setelah beberapa kali pertemuan PKK libur, Ahad Legi (16/08/09) atas ijin Allah kembali kami dipertemukan dalam pertemuan rutin tersebut. Sengatan Sinar mataharipun tak lagi kami hiraukan… dengan semangat kami menyambangi kediaman ibu Nganti.

Saat kami datang ibu-ibu sudah berkumpul dan duduk dengan rapi, ternyata ada bapak-bapak yang sedang mempromosikan panci dan alat-alat memasak lainnya… sehingga acaranyapun menjadi agak mundur.

Waktupun sudah sore…acara tetap diteruskan, karena sebentar lagi magrib ibu-ibupun membahas agenda selanjutnya untuk buka puasa bersama di masjid, tak ketinggalan kamipun diberi kesempatan beberapa menit untuk menyampaikan beberapa hal sebelum Ramadhan :

1. Persiapan Ruhiyah
2. Fisik; dengan pola hidup dijaga
3. Fikriyah; baca buku tentang ramadhan
4. Melunasi hutang
5. Silaturahim ketetangga & meminta maaf jika ada salah dan khilaf

Acarapun berubah menjadi haru terasa kebersamaannya…ibu-ibu saling meminta maaf dan saling memberi maaf, untuk memasuki bulan Ramadhan. Dan ibu-ibu pulang dengan Insya allah perasaan lega plong… dan kamipun pulang dengan perasaan juga plong/lega…

Kami atas nama Pos Wanita Keadilan DPRa Sitimulyo mengucapkan :

Marhaban Yaa Ramadhan.
Semoga bulan Ramadhan tahun ini dapat kita jalani dengan penuh hikmah dan Rahmat dari Allah SWT. Amin

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Saling Memaafkan Sebelum Puasa


Oleh: Ustadz Sarwat, Lc

---
Apakah ada dalilnya saling bermaafan sebelum Ramadhan dan kala Idul Fitri?

Sepanjang apa yang kami ketahui, sampai saat ini -wallahu a'lam- kami masih belum menemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya pada saat menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Entahlah barangkali ada ustadz atau ulama hadits yang menemukan dalilnya. Tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun perlu untuk melakukannya.

Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengn masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini:

Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah: 109)

Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 132-133)

Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat taqwa. Dan taqwa adalah tujuan dari kita berpuasa.

Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Baqarah: 237)
Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah wajib 'ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A'raf: 199)

Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah.

Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nuur: 22)

Meski pun seorang yang dizalimi dibenarkan untuk membalas, namun memaafkan jauh lebih baik, di mana Allah akan memberi ganjaran dan pahalatersendiri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah.

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.(QS. Asy-Syura: 40)

Even untuk Saling Memaafkan

Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.

Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?

Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.

Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.

Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid'ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.

Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid'ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i'tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid'ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?

Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.

Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid'ah. Isnya Allah niat baik mereka baik dan luhur.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


*sumber: http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=539
----

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Menjinakkan Hati yang Liar


Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) tengah berada di masjid. Saat itu, beliau dikelilingi para sahabatnya. Tidak berapa lama, seorang Badui (penduduk Arab pegunungan) datang dan meminta barang-barang berharga dari beliau.

Sambil berdiri, Si Badui menyampaikan hajatnya. Nabi memberinya sesuatu ala kadarnya. Namun Si Badui merasa kurang. Tidak hanya itu, bahkan berkata kasar dan keji terhadap Nabi. Menyaksikan pemandangan tersebut, para sahabat naik pitam. Mereka nyaris bertindak kasar terhadap orang yang tak tahu sopan itu. Untunglah, Nabi cepat mencegah aksi mereka.

Esoknya, Nabi mengajak Si Badui itu ke rumahnya, dan menambahkan sejumlah pemberian lain untuknya. Hari itu, Si Badui menyaksikan dari dekat keadaan Nabi yang ternyata tidak sama dengan keadaan pemimpin-pemimpin lain yang pernah dilihatnya. Di rumah Nabi, dia tidak mendapati harta yang banyak. Melihat itu, Si Badui merasa cukup dan mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Nabi.

Di lain hari, Badui ini kembali datang ke masjid. Di depan para sahabat yang nyaris bertindak kasar kepadanya, Badui ini menyampaikan sekali lagi rasa terimakasihnya kepada Nabi. Menyaksikan perubahan besar sikap Badui itu, semua sahabat tertawa.

Rasulullah SAW kemudian menghadap sahabat-sahabatnya dan berkata: “Antara aku dan orang semacam ini bagaikan seorang yang terlepas untanya dari pemiliknya. Semua orang mengejar unta itu sambil berteriak, tapi unta itu justru terus berlari semakin jauh. Kemudian pemilik unta itu berkata: ’Aku lebih tahu bagaimana harus menjinakkan unta itu. Kalaulah kemarin aku biarkan kalian bertindak sesuka hati tentu Si Badui ini bisa mati dalam keadaan yang celaka (keadaan kufur). Tapi aku larang kalian, dan aku menjinakkannya dengan lemah lembut dan kasih sayang.”

Menghadapi orang yang berhati liar, kurang ajar, apalagi kelewat atas, sering kita terpancing marah dan reaktif. Terasa nyeri di dada yang tak tertahankan untuk diledakkan. Itu pula yang dirasakan sebagian sahabat. Begitu Badui mengata-ngatai dengan kasar kepada Nabi, mereka terpancing berbuat kasar, guna memberi pelajaran setimpal. Namun, Nabi telah memberikan pelajaran kepada kita dengan tindakan yang lebih patut kita teladani: menjinakkan hati yang liar.

Menahan Diri

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak mudah menyikapi orang yang liar dan memancing marah seperti itu. Emosi yang meluap membuat kita bertindak spontan tanpa pikir panjang. Rasanya, saat itu tak ada pilihan lagi kecuali melampiaskan kemarahan hingga terpuaskan.

Benarkah demikian? Sesaat setelah melepaskan amarah, boleh jadi jiwa terasa enteng, dan lega. Kenyataannya, bersikap dan bertindak emosional bukan menyelesaikan masalah, tapi malah membuat keadaan semakin keruh. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara sederhana, justru semakin rumit.

Untuk merespon tindakan bodoh orang lain, tidak perlu emosional. Cara paling tepat adalah menahan diri. Dengan menahan diri, emosi yang berkecamuk akan reda. Pikiran yang semula keruh berangsur jernih. Air kolam jiwa, yang semula bergolak dan keruh, akan berangsur tenang dan teduh. Bukankah kita hanya bisa bercermin diri pada air yang tenang? Persoalan yang ada, bisa kita lihat apa adanya, bukan dikotori perasaan kita yang sedang berkecamuk itu.

Pada kenyataannya, kemampuan menahan diri akan banyak menyelesaikan masalah. Mereka yang mampu menahan diri, lebih sukses dalam profesi maupun kehidupan sehari-hari daripada yang reaktif. Mereka bisa menjalin komunikasi dengan orang lain lebih selaras dan harmonis.

Kalau dahulu orang gandrung dengan IQ (kecerdasan intelektual), sekarang bergeser pada EQ (kecerdasan emosi). Bahkan tren terakhir, ada kecerdasan yang lebih menentukan lagi, yaitu SQ (kecerdasan spiritual). Rasul dalam teladan di atas menggambarkan bagaimana beliau amat cerdas secara emosional dan spiritual. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang terkendali seperti beliau?

Ramadhan, mestinya bisa membuahkan pribadi yang mampu menahan diri. Karena dalam puasa, kita dilatih mengendalikan hawa nafsu. Saat ada orang yang memancing kemarahan, Rasul memberikan tuntunan; katakanlah: “Sesungguhnya saya orang yang berpuasa.” Kita tidak melayaninya dengan emosional tetapi bersikap sabar dan teguh. Tidak reaksioner. Inilah puasa yang diajarkan Rasul. Tidak sekedar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan segala sikap dan perilaku yang tidak senonoh.

Berbahagialah orang yang telah meraih buah puasa ini. Karena dia menjadi insan unggul yang memiliki kecerdasan emosional itu. Dan itulah salah satu wujud nyata dari takwa.

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imron [3]: 134).

Tindakan Kasih Sayang

Secara fitrah, setiap orang memiliki potensi nilai-nilai kasih sayang. Cobalah bersikap tenang dan rileks. Maka respon kita terhadap sekeliling kita akan dengan mudah bisa memancarkan sifat kasih ini. Dengan bibir tersenyum, nilai kasih sayang itu serasa mengalir begitu saja. Kita terasa ringan menolong sesama dan menikmatinya. Seperti suasana Idul Fitri, dalam keadaan tenang dan jernih nilai-nilai fitrah kasih sayang itu terasa mudah mengalir dan menyegarkan suasana. Orang dengan mudah berlapang dada saling bermaaf-maafan.

Tapi, kita tidaklah selalu menghadapi keadaan yang kondusif seperti itu. Hidup ini adalah ujian dengan segala persoalannya. Di sinilah dinamika hidup nan dinamis. Tiba-tiba muncul di depan kita persoalan yang menyulut amarah. Dalam keadaan demikian itu, apakah kita masih bisa tetap bertindak dengan kasih sayang? Saat demikian inilah kualitas diri kita sedang diuji. Asalkan hati ini tetap tenang dan dapat menahan diri, kita masih bisa melihat dasar fitrah hati. Namun kalau hati bergolak, tentu akan membuatnya keruh. Yang tampak adalah endapan kotoran emosi. Itulah yang akhirnya meledak tidak karuan.

Pengalaman dan kesan selama latihan menahan diri dalam Ramadhan, dapatlah kita jadikan sebagai bekal meniti perjalanan hidup lebih bermakna. Menghadapi persoalan lebih tenang dan jernih. Terbukti cara Rasulullah menghadapi Si Badui dengan tenang dan kasih sayang, bisa menjadi alternatif tindakan yang lebih baik dari pada membalasnya dengan kasar. Rasul justru mengundangnya ke rumah dan memberi Badui itu segala keperluan meskipun saat itu sebenarnya beliau tidak banyak harta yang dimiliki.

Percayalah, sekeras- keras orang, dalam lubuk hatinya masih bisa menangkap pancaran kasih sayang. Begitu menangkap pancaran kasih sayang itu, tali kecapi hati mereka akan tersentuh. Fitrah kasih sayang dalam hati mereka pun tergetar. Kisah di atas telah memberikan gambaran yang sangat jelas. Badui yang semula bertindak kasar itu menjadi luluh. Pancaran kasih sayang dari hati Nabi itu telah menjinakkan hati yang liar itu.

*[Hanif Hannan/SAHID/www.hidayatullah.com]

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

45 Anggota DPRD Bantul 2009-2014 Dilantik, PKS Paling Diuntungkan

Rabu, 12 Agustus 2009

by admin
Sebanyak 45 calon anggota DPRD (karena belum resmi dilantik) Kabupaten Bantul periode 2009-2014 (hasil pemilu 2009) akan dilantik di Pendapa Parasamya Pemkab Bantul, Kamis besok (13/8).

Dari gambar tabel bisa dilihat ada 9 partai politik yang akan mewarnai DPRD Bantul ke depan. Di urutan pertama masih PDIP dengan 11 kursi namun periode ini terjadi penurunan yang cukup tajam dari 16 kursi menjadi 11 kursi. PAN yang stabil dengan 7 kursi menduduki posisi kedua. Sedang posisi tiga besar dengan 5 kursi ditempati tiga partai: PKS, Golkar dan Demokrat.

Dari komposisi 45 anggota DPDR Bantul masa bakti 2009-2014 ini juga menunjukan tidak ada partai yang mendominasi wajah DPRD Bantul. Namun dari 45 anggota DPRD Bantul periode 2009-2014 ini terdapat delapan wajah lama: 4 dari PKS, 3 Golkar dan 1 dari PDIP. Sisanya sebanyak 37 orang merupakan muka baru. Data ini (dengan sudut optimisme) bisa diartikan kalau PKS yang menempatkan 4 aleg wajah lama paling siap dan berpengalaman dalam 'mengelola' DPRD Bantul periode sekarang.

Untuk periode ini 5 wakil PKS Bantul yang berdakwah di parlemen adalah kader-kader terbaik PKS Bantul yang akrab disapa 5-A, karena semua namanya berawalan huruf A, mereka adalah:

1. Agus Effendi (Dapil I: Kec. Bantul, Bambanglipuro, Jetis)
2. Arif Haryanto (Dapil II: Kec. Pajangan, Kasihan, Sedayu)
3. Agung Laksmono (Dapil III: Kec. Banguntapan, Sewon)
4. Amir Syarifudin (Dapil IV: Kec. Piyungan, Pleret, Imogiri, Dlingo)
5. (Akh) Jupriyanto (Dapil V: Kec. Pundong, Sanden, Kretek, Srandakan, Pandak)

Dari lima aleg ini, empat diantaranya merupakan aleg periode 2004-2009. Satu aleg wajah baru adalah ustadz Arif Haryanto, Ketua DPD PKS Bantul yang menggantikan Agus Sumartono (aleg DPRD Bantul 2004-2009) yang 'berpindah tugas' terpilih menjadi aleg DPRD Propinsi D.I. Yogyakarta periode 2009-2014.

Mudah-mudahan kondisi 'lebih berpengalaman' ini bisa dioptimalkan aleg PKS Bantul untuk sebesar-besar kemaslahatan rakyat. Amin.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

BULAN PUASA, BULAN INSPIRASI BUAT NON-MUSLIM

Selasa, 11 Agustus 2009


by saykoji.blogdetik.com*
---
Sebelum pada salah persepsi, gue jelaskan baik-baik dulu ya.

1. gue kristen, dan bukan islam
2. tulisan ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat toleransi antar umat beragama, jadi bacalah dengan hati tenang, dan pikiran terbuka

Okey, cukup jelas kan?

Buat gue (SAYKOJI) setiap bulan puasa dan lebaran semakin mendekat, gue sebetulnya seneng banget…

Di satu sisi, antrian makan siang di mana-mana jadi berkurang.. hehe, tapi di sisi lain, gue belajar BANYAK HAL BAGUS dari teman-teman yang muslim.
Gue percaya, apapun kepercayaan yang dianut masyarakat INDONESIA, masing-masing punya kebaikan yang layak untuk dipelajari. Dan di bulan puasa yang semakin mendekat ini, gue punya beberapa poin yang layak diperhatikan, kalau perlu dicoba dari teman-teman yang muslim.

1. DISIPLIN
Umat muslim sejati sudah pasti nomor satu perihal yang satu ini. Baik dari sholat 5 waktu, ketertiban dan khusyuknya saat Sholat Jumat (walau penuh sesak, tapi tetap khidmat!).
Apalagi waktu di bulan puasa, baik dari bangun pagi untuk sahur, tahan diri sepanjang hari, dan jadwal berbuka puasa di sore hari yang dilanjutkan dengan Taraweh.
Gue sendiri yg kristen sering telat kalo mau ke gereja, udah gitu masuk nya sesak2an, rebutan kursi…

2. KESEDERHANAAN
Perhatikan kawan-kawan muslim saat beribadah. Baju yang mereka kenakan itu sederhana. Bukan baju untuk gaya-gayaan, bukan untuk tampil eksis. Yang pria pakai sarung dan peci, dan yang wanita pakai mukena, menutupi seluruh tubuh dan nggak keliatan di dalam nya pakai baju merk apa kek. Ini pun salah satu karakteristik yang layak dipuji.

3. KETULUSAN
Entah dalam memberi sedekah, dalam bersyukur (sering gue denger temen bilang ALHAMDULILAH), atau sebelum memulai segala sesuatu dimulai dengan BISMILLAH.
Luar biasa, gue melihat teman-teman muslim sejati, adalah orang-orang yang hidupnya penuh dengan ketulusan! Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa kita banggakan, mereka TULUS karena mereka sadari bahwa segala sesuatu di dunia ini ada di bawah kendali TUHAN.

Well, sejauh ini tiga point di atas yang jadi persepsi gue. Selamanya gue bakal jadi orang kristen, percaya akan keselamatan dari Yesus Kristus. Tapi selamanya juga gue akan jadi orang yang salut dan menghargai nilai-nilai ISLAM.

Jadi buat temen-temen yang non muslim, mari kita dukung saudara-saudara yang akan berpuasa selama sebulan ke depan ini. Mereka sedang menjalankan ibadah nya dengan sepenuh hati. INDONESIA tidaklah seharusnya didasarkan pada keseragaman, tapi dalam perbedaan yang saling menghormati, bangsa ini akan MAJU LUAR BIASA!!

BHINNEKA TUNGGAL IKA!

catatan: gue percaya kalau teroris laknat yang caper tukang ngebom itu bukan orang yang ngerti ajaran islam yang sejati…


*dikutip dari: http://saykoji.blogdetik.com/2009/08/10/bulan-puasa-bulan-inspirasi-buat-non-muslim/
---

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Renungan Indah W.S. Rendra

Jumat, 07 Agustus 2009

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
mengapa Dia menitipkan padaku???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???...

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Renungan Indah
WS Rendra


*sumber: TEMPOinteraktif.com
---

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Rendra Disantuni Wali Kota Depok Rp 2 Juta


Depok - Pemkot Depok memberikan santunan kematian bagi penyair almarhum WS Rendra sebesar Rp 2 juta. Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang juga mantan Presiden Partai Keadilan (kini PKS) ini menyerahkan santuan itu secara langsung.

"Setiap warga Depok yang meninggal mendapat santunan kematian Rp 2 juta, sesuai dengan Perda," kata Nur Mahmudi usai melayat di rumah duka, Bengkel Teater, Jalan Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8).

Dituturkan dia, setiap warga Depok yang meninggal akan mendapatkan santunan, kecuali meninggal karena melakukan tindakan kriminal, terkena HIV/AIDS, dan bunuh diri. "Selain ketiga hal tersebut, baik kaya maupun miskin semua dapat santunan Rp 2 juta," jelasnya.

Selain mendapat santunan Rp 2 juta, Nur juga menyerahkan bantuan uang tunai secara pribadi. "Nilai nominalnya tidak perlu disebutkanlah," elaknya.

Nur mengaku mengenal baik Rendra sejak lama. Ketika sebelum memimpin Depok, ia juga sering bertemu dan bertukar pikiran dengan Rendra. Rendra merupakan seniman yang konsisten dengan pikirannya, pekerja keras, dan sangat inovatif. Ia juga selalu konsisten dengan keberpihakan kepada masyarakat.

Di Bengkel Teater tersebut, kata Nur, dirinya sering menjadi Imam pada waktu shalat. Proses perjalanan menyentuh Islam beliau juga sangat luar biasa. Nur menceritakan bahwa Rendra yang dikenal dengan julukan "Si Burung Merak" sangat tersentuh dengan pengalamannya di AS pada sekitar tahun 60-an.

Ketika itu, kata Nur, ia menyaksikan seorang pedagang buku di sebuah masjid diludahi tanpa memberikan pembalasan, ia berpikir agama apa ini yang mengajarkan kesabaran. Selanjutnya ia mempelajari agama Islam dan menjadi penganut yang taat. [*/sss]

*inilah.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

"Tuhan, Aku Cinta Padamu.." Puisi Terakhir WS Rendra


Sastrawan dan penyair W.S Rendra meninggal dunia malam jumat (6/8/2009) sekitar pukul 22.15 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat.

W.S Rendra lahir di Solo 7 Nopember 1935. Nama W.S Rendra aselinya singkatan dari Willybrodus Surendra Broto. Setelah masuk Islam tahun 1971 berganti menjadi Wahyu Sulaiman (W.S.) Rendra .

Di penghujung usianya, sang penyair tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

"Tuhan, aku cinta padamu..." demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009

*sumber: detik.com


hidup adalah proses menuju kematian,
dan kematian adalah proses menuju kehidupan yang kekal dan abadi.

selamat jalan mas RENDRA,semoga engkau mendapatkan jalan yang mudah menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.... AMIN.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Doktor Beragama Hindu Masuk Islam Hingga Mampu Jadi Imam Sholat


Pada suatu kali aku bertanya kepada Dr. Najat, "Bagaimana perasaanmu sekarang setelah engkau memeluk agama Islam dan dapat membaca al-Quran?" Ia menjawab, "Sebenarnya aku tidak mungkin membandingkan antara hidayah dan kebaikan yang aku dapat dalam Islam dengan kegelisahan dan kesia-siaan yang aku rasakan ketika dahulu memeluk agama Hindu dan Nasrani. Demikian juga ketika aku mendengar al-Quran dibacakan, sangat banyak mempengaruhi jiwa dan hatiku."
---
Dr. Najat lahir di India, ia tumbuh dewasa kemudian menuntut ilmu di negara kelahirannya itu. Setelah berhasil meraih gelar Insinyur dari sebuah universitas, ia bekerja sebentar. Lalu pergi ke Kanada untuk melanjutkan studi di Akademi Tinggi Arsitektur.

Najat bukanlah nama aslinya, nama aslinya tidak dapat aku tuliskan dan aku ucapkan. Aku tidak mengetahui tentang nama aslinya itu melainkan nama itu adalah tradisi yang diberikan keluarga penganut Hindu yang fanatik kepada anak-anak mereka. Keluarga ini berupaya menanamkan dasar-dasar agama Hindu dan menjadikannya seorang militan yang teguh mempelajari agama tersebut. Demikianlah perjalanan hidupnya dalam sebuah masyarakat yang terisolir di negaranya.

Namun setelah ia berangkat ke Kanada, ia menemukan komunitas masyarakat yang berasal dari beragam budaya dan pemikiran yang berbeda. Di kampus ia menemukan suasana keterbukaan yang memungkinkan dirinya untuk membuka dialog dan diskusi di segala bidang. Apalagi ia seorang pemuda yang cerdas dan pintar, ia mulai memikirkan agama yang sedang dianutnya. Ia membahas tentang kebenaran agama tersebut. Dengan cepat ia mengambil kesimpulan bahwa keyakinan dan syiar agama Hindu adalah batil. Lantas ia mencari penggantinya dalam kitab Injil, kitab agama Nasrani. Agama inilah yang pertama kali terlintas dalam benaknya, karena ia berada dalam lingkungan masyarakat Nasrani.

Dan nyatanya, ia pun memeluk agama Nasrani, karena agama ini ia anggap lebih benar dibandingkan dengan agamanya dulu yang penuh kesesatan. Namun selang beberapa waktu, ia mengetahui bahwa agama Nasrani mengandung sedikit ilmu dan tidak mampu menjawab apa yang sedang ia cari. Ia menjumpai dalam agama ini perkara yang kontradiktif dan perkara-perkara batil lainnya yang mustahil untuk dikatakan sebagai sebuah agama yang benar. Kemudian mulailah ia mempelajari dan mendalami agama Islam. Peristiwa itu terjadi pada saat ia masih dalam proses meraih gelar doktor di bidang teknologi.

Suasana pemikiran kampus yang bebas memberikan pengaruh besar terhadap diri Najat dalam mengenal Islam lebih dalam. Kampus tempat ia belajar berkali-kali mensponsori dialog antar penganut agama yang berbeda, khususnya penganut agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Dialog tersebut dilakukan dalam suasana yang hangat dan tenang serta tidak melewati batas kode etik.

Ketika ia mulai membanding-bandingkan agama-agama tersebut, jelaslah baginya adanya kontradiktif dalam agama Nasrani yaitu seseorang yang mengambil tiga Tuhan sekaligus.

Bahkan agama Hindu mempunyai Tuhan lebih banyak. Kemudian fitrah suci yang sesuai dengan jiwa yang sehat dan dapat diterima akal yaitu hanya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Selain Dia adalah makhluk. Dia Yang Maha Esa dan hanya Dia yang berhak untuk disembah. Tanpa pikir panjang lagi, hati dan akalnya sudah mantap memilih Islam lalu dengan suka rela ia memeluknya.

Kemudian ia menukar namanya yang berbau Hindu dengan nama Islami yaitu Najat sebagai bukti atas selamatnya ia dari kekufuran menjadi seorang yang beriman. Ia mengetahui bahwa memeluk agama Islam itu sangat mudah, namun untuk konsisten membutuhkan ekstra kesabaran dan pembiasaan. Ia juga mengetahui kewajibannya untuk berumah tangga secepat mungkin untuk menjaga dirinya dan kematangan hidupnya.

Ia memilih seorang gadis dari keluarga muslim yang terhormat di kota Winzar dan pestanya dilangsungkan di masjid kota itu. Keberhasilan hidupnya semakin sempurna setelah ia meraih gelar Doktor yang merupakan tingkat disiplin ilmu yang ia idam-idamkan. Kemudian ia mendapat pekerjaan di pabrik mobil Ford Company yang terletak di kota Detroit Amerika.

Iapun pindah ke kota yang terdekat dengan pabrik tersebut karena di situ ada masjid tempat ia melakukan shalat. Di masjid inilah awal pertemuan dan perkenalanku dengannya.

Setelah beberapa kali pertemuan, aku bertanya kepadanya apakah ia dapat membaca al-Qur’an. Bagai disambar petir aku mendengar bahwa ia belum dapat membaca al-Qur’an, padahal ia sangat ingin dan mampu untuk mempelajarinya.

Sebenarnya hal ini merupakan problematika kita sebagai kaum muslimin. Kita sering berdialog dan memberikan bantahan, membicarakan hal-hal yang wajib dan yang tidak wajib namun sedikit sekali yang mengamalkannya.

Walau banyak saudara-saudara muslim kita yang telah mengenal seorang yang baru masuk Islam ini, namun tak seorang pun yang peduli dengan kebutuhan dan kondisinya. Aku pernah mempertanyakan hal itu kepada istrinya sebagai sindiran untuknya, "Mengapa anda tidak ajarkan suami anda membaca al-Qur’an dengan huruf Arab, padahal kalian telah lama berumah tangga.?" Tetapi istrinya tidak memberikan jawaban. Namun aku dapat membaca bahwa ketidak pedulian dan kurang perhatian merupakan jawaban dari pertanyaan tersebut dan juga merupakan jawaban terhadap orang-orang yang lalai dan tidak mengindahkannya. Tentunya hal ini sangat disayangkan...

Kemudian aku katakan kepada Najat agar menyediakan waktunya setiap minggu di hari libur, agar aku dapat mengajarkannya membaca al-Qur’an dengan izin Allah. Kami bertemu dan duduk beberapa jam sehabis shalat Shubuh setiap minggu pada hari libur. Selang beberapa waktu kemudian ia sudah mampu membaca al-Qur’an.

Aku juga memberi tahu beberapa ikhwan lain tentang pelajaran kami, sehingga mereka juga datang mengikuti pelajaran tersebut. Setiap yang mampu membaca al-Qur’an dengan huruf Arab ditugaskan untuk mengajar satu orang yang belum mampu membacanya. Para ikhwan menjadi terbiasa berkumpul belajar al-Quran setiap pagi hari Sabtu dan Ahad, kemudian ditutup dengan menyantap sarapan pagi bersama di masjid.

Setelah kemampuan Najat membaca al-Quran meningkat dan sanggup membaca semua surat-surat dalam Juz Amma, ia belajar kepada orang yang mempunyai kemampuan lebih dariku, yaitu seorang Syaikh (Guru) dari negeri Syiria, sehingga ia dapat mengucapkan huruf Arab dan membaca al-Quran dengan lebih baik. Semangat dia dan gurunya semakin bertambah sehingga mereka bertemu setiap hari setelah shalat Shubuh.

Setiap hari Najat keluar dari rumah sebelum masuk waktu shalat subuh, lalu shalat di masjid dan belajar dengan gurunya hingga mendekati jam kerjanya. Dari sana ia tidak kembali ke rumah, tetapi langsung menuju kantornya.

Ia juga datang bersama keluarganya ke masjid setiap shalat Isya. Najat dan gurunya (semoga Allah memberi mereka ganjaran yang baik) tetap rutin melaksanakan proses belajar mengajar ini walaupun cuaca sangat dingin dan turun salju serta angin dingin yang menusuk tulang.

Gurunya yang berasal dari Syiria itu sangat bangga dengan muridnya tersebut. Terkadang ia bergurau kepadaku, "Sekarang Najat mampu menyebutkan huruf Arab dan membaca al-Quran lebih baik darimu." Bahkan ia sanggup membaca al-Quran di surat manapun. Di samping belajar membaca al-Quran, ia juga membaca maknanya dalam bahasa Inggris sehingga pemahaman dan ilmunya semakin dalam. Ia juga sudah memulai menghafal al-Quran hingga mampu menghafal kurang lebih setengah dari juz Amma.

Mereka yang bekerja di masjid kaum muslimin yang berada di negara barat dapat merasakan kesulitan untuk menjalankan urusan-urusan masjid, karena tidak ada yayasan Islam resmi yang memberikan subsidi. Jadi dana operasional ditanggung oleh jamaah masjid sendiri. Dan urusan-urusan tersebut kebanyakan dilaksanakan secara sosial karena tidak ada sumber dana tetap untuk masjid tersebut kecuali dari bantuan-bantuan yang diberikan oleh jamaah sendiri. Demikian juga sangat sulit mendapatkan ikhwan-ikhwan yang bekerja secara suka-rela dengan kesungguhan, keikhlasan dan tekun tanpa menimbulkan problem dan tidak banyak membantah.

Banyak kaum muslimin di antara kita berkomentar miring terhadap kaum muslimin yang datang dari berbagai belahan dunia Islam. Mereka datang ke negara barat ini dengan membawa penyakit malas dan sedikit beramal, namun banyak memberikan komentar terhadap apa yang dikerjakan orang. Ini masalah yang sangat banyak kita temui. Hanya saja Dr. Najat dengan suka rela menyelesaikan urusan masjid tanpa diminta oleh siapapun. Ia adalah orang yang sering membukakan pintu masjid untuk pelaksanaan shalat subuh. Karena dialah yang datang paling awal padahal tempat tinggalnyalah yang paling jauh di antara kami. Pada musim dingin, ia membersihkan jalan menuju masjid dari bongkahan salju dan menaburkan garam untuk mencairkan es agar orang yang melintas tidak tergelincir dan jatuh. Ini merupakan pekerjaan yang teramat penting, bukan hanya menghindari orang agar tidak tergelincir, tapi juga untuk menjaga masjid, agar tidak membuat orang lain yang melintas di depannya tergelincir sehingga ia memperkarakan masalah ini ke pengadilan dan meminta ganti rugi. Kasus seperti ini sering terjadi di negara ini.

Dr. Najat juga banyak membantu urusan operasional madrasah Islam di masjid tersebut yang aktifitasnya di buka setiap akhir pekan. Ia membuka pintu masjid sebelum shalat Zhuhur dan membersihkan salju serta menaburkan garam sebelum murid dan guru datang. Ia juga bertugas mengutip uang sekolah dari orang tua murid yang terdaftar di sekolah tersebut. Ia yang membeli makanan ringan untuk para murid, membersihkan dapur dan lemari es dengan rapi. Jika melihatnya engkau akan merasa seolah-olah ia lakukan itu untuk rumahnya sendiri. Ia membersihkan dan memelihara kebun yang ada di sekeliling masjid. Ia membeli pupuk dan garam dengan uangnya sendiri dan ia juga yang memupuk tanaman kebun dan mencabuti tumbuhan dan rerumputan yang merusak tanaman. Semua ini ia lakukan dengan sangat tekun dan penuh perhatian, sebagaimana ia juga ikut andil menebang pohon tua yang terdapat di sekitar masjid bersama ihkwan lainnya.

Pada bulan Ramadhan, ia mendatangkan hidangan berbuka puasa dari rumahnya, sebagaimana ikhwan lain juga ikut memberikan bantuannya untuk berbuka di masjid setiap hari. Dan ia juga ikut membantu ikhwan lain dalam menertibkan dan mempersiapkan makanan berbuka setiap hari. Semuanya ia lakukan sendiri dengan tenang dan tidak banyak bicara dan juga tidak menyuruh orang lain atau meminta bantuan orang lain.

Adapun pada hari raya ia mempersiapkan apa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan shalat Ied dan layanan setelah shalat Ied. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, setiap selesai shalat Ied keluarga Dr. Najat banyak diundang oleh keluarga-keluarga lain ke rumah mereka.

Pada suatu kali aku bertanya kepada Dr. Najat, "Bagaimana perasaanmu sekarang setelah engkau memeluk agama Islam dan dapat membaca al-Quran?" Ia menjawab, "Sebenarnya aku tidak mungkin membandingkan antara hidayah dan kebaikan yang aku dapat dalam Islam dengan kegelisahan dan kesia-siaan yang aku rasakan ketika dahulu memeluk agama Hindu dan Nasrani. Demikian juga ketika aku mendengar al-Quran dibacakan, sangat banyak mempengaruhi jiwa dan hatiku."

Terkadang Doktor Najat mengimami shalat jamaah jika orang yang bacaannya lebih baik dari bacaannya tidak hadir. Lelaki yang tadinya beragama hindu setelah Allah memberikan hidayah Islam dan kebenaran kepadanya, kini mengimami shalat jamaah. Seorang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling takwa dan yang terbaik membaca al-Quran dengan tanpa melihat asal-usul, warna kulit dan negara asalnya. Kita bermohon kepada Allah semoga memberikan kita ketetapan hati dalam kebenaran dan menambah kebaikan kita.

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN KARYA MUMAHAMMAD BIN SHALIH AL-QATHATHANI dengan sedikit perubahan)

dikutip dari: http://renilightofeyes.cybermq.com/post/detail/1365/doktor-beragama-hindu-masuk-islam-hingga-mampu-jadi-imam-shalat
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom

Oleh: Arya Gunawan*
Adapun "dosa" nomor tiga adalah hal yang sudah lama menjadi keprihatinan saya dan telah berulang kali pula saya suarakan, yaitu kemalasan media untuk mencari alternatif versi cerita di luar apa yang disorongkan oleh lembaga resmi.
----
Dua pekan berlalu sejak bom kembar mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, namun gegap-gempita laporan media massa terkait dengan peristiwa tersebut tampak belum menyurut. Nyaris tak ada media berita yang absen melaporkan perkembangannya setiap hari. Sebuah kenyataan yang wajar, mengingat peristiwanya masih terus berkembang dan menyisakan sederet tanda tanya, termasuk mengenai belum tersingkapnya teka-teki pelaku dan motifnya.

Di satu sisi, "kehebohan" yang berlangsung di kalangan media ini tentu perlu disambut hangat, karena ini menunjukkan bahwa media tengah menjalankan fungsi dan menunaikan tugas mereka sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Dengan kata lain, media tengah melayani khalayak untuk memenuhi salah satu hak asasi khalayak, yaitu hak untuk mendapatkan informasi.

Namun, pada sisi lain muncul juga situasi yang mengundang keprihatinan ditinjau dari sudut disiplin ilmu dan praktek jurnalisme, sebagaimana tecermin dari judul yang dipakai untuk tulisan ini. Sebelum melangkah lebih jauh, saya hendak menegaskan bahwa apa yang saya maksudkan dengan "dosa" dalam konteks ini semata-mata untuk memberikan efek penguatan, bukan diniatkan untuk menjadikan media sebagai pesakitan.

Tulisan ini juga tidak bermaksud menunjukkan secara terperinci kasus per kasus, dan tidak pula hendak menuding secara spesifik media mana yang telah melakukan perbuatan "dosa" tadi. Tulisan ini lebih sebagai sebuah gambaran umum, dengan niat agar bisa dijadikan alat becermin dan mawas diri bagi para pemilik, pengelola, dan pekerja media, untuk melakukan langkah-langkah koreksi dan pembenahan di masa datang.

Tiga "dosa" yang dimaksudkan di sini hampir selalu menghantui dan dapat memerangkap media jika berhadapan dengan peristiwa pengeboman seperti yang terjadi di Mega Kuningan ini. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya perangkap tersebut, antara lain "perlombaan" mengejar kecepatan dan eksklusivitas berita sehingga mereka tak terlalu awas lagi terhadap nilai-nilai yang dikedepankan oleh etika jurnalisme (misalnya saja pentingnya akurasi, juga sikap untuk selalu mengupayakan kepatutan/decency). Di tengah perlombaan yang dipicu oleh iklim kompetisi sangat ketat semacam ini, yang lebih tampil adalah hal-hal sensasional, yang bermuara pada aspek komersial, dan tersingkirkanlah nilai-nilai ideal. Faktor lainnya adalah "kemalasan" wartawan untuk melakukan verifikasi guna menawarkan sebuah kontra-teori atas apa yang disampaikan oleh lembaga-lembaga resmi (dalam kasus bom Mega Kuningan, yang mendominasi adalah versi resmi dari pihak kepolisian).

"Dosa" pertama yang dilakukan media dalam konteks laporan bom Mega Kuningan ini adalah pengabaian terhadap asas kepatutan. Ini tampak nyata, terutama pada media televisi, di mana gambar-gambar yang seharusnya tidak patut ditampilkan (misalnya saja gambar yang menunjukkan bagian-bagian tubuh yang telah terpenggal terkena bom) tetap terpampang. Keprihatinan yang serius telah disuarakan oleh Dewan Pers begitu tayangan tersebut muncul. Sebagian besar media kemudian mendengarkan kritik ini, namun sebagian lainnya masih sempat berlenggang kangkung, business as usual.

"Dosa" kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias "seorang pewawancara yang amat kasar"). Inilah yang dengan mencolok diperlihatkan oleh sejumlah stasiun televisi saat para reporternya melakukan wawancara terhadap sejumlah anggota keluarga atau kerabat dari nama-nama yang diduga oleh pihak kepolisian terlibat dalam aksi pengeboman itu. Para sanak keluarga dan kerabat ini seperti tengah mengalami mimpi buruk: hidup yang semula barangkali aman-tenteram, seketika terusik oleh kehadiran para juru warta yang dengan agresif berupaya mendapatkan keterangan--apa pun bentuk keterangan itu--dari mereka.

Media tentu boleh-boleh saja mencari informasi dari mereka, namun harus dengan pertimbangan masak, setidaknya untuk dua hal: (a) relevansi (misalnya, apakah seorang paman dari salah seorang yang disebut-sebut terlibat dalam aksi itu cukup relevan untuk dijadikan narasumber, apalagi sang paman kemudian mengaku sudah 10 tahun tak pernah lagi berhubungan ataupun mendengar kabar mengenai keberadaan sang keponakan); dan (b) cara mengorek informasi. Untuk butir terakhir ini, yang hadir ke hadapan khalayak adalah kesan bahwa pihak yang diwawancarai ditempatkan seolah-olah sebagai pesakitan. Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain.

Masih terkait dengan "dosa" nomor dua ini, perkembangannya kemudian malah kian runyam, yakni ketika tiba-tiba pihak berwajib menyebutkan bahwa nama-nama yang semula diduga terlibat dalam aksi pengeboman itu ternyata keliru. Tidak tampak rasa bersalah, apalagi permintaan maaf terbuka, dari kalangan media yang sebelumnya telah menjalankan peran inkuisitor tadi. Padahal para sanak keluarga dan kerabat itu telah terpapar begitu terbuka ke publik, telah menjadi buah bibir di mana-mana dan bukan tak mungkin telah dijauhi oleh lingkungannya. Damage has been done, dan seakan tak ada upaya dari pihak yang merusak untuk menata kembali kerusakan itu.

Untuk "dosa" pertama dan kedua, obat penawarnya adalah pemahaman terhadap nilai-nilai dan praktek penerapan etika jurnalisme. Setiap lembaga media perlu menerbitkan pedoman internal penerapan etika jurnalisme ini. Setiap wartawan wajib mempelajarinya dan memahami isinya, bila perlu dengan membuat pelatihan khusus mengenai etika dengan berbagai studi kasus yang konkret bagi setiap wartawan baru. Bila perlu, ditambahi pula dengan kontrak kerja yang mencantumkan bahwa si pemegang kontrak wajib mematuhi etika jurnalisme, dan bisa dikenai sanksi tegas jika mengabaikannya. Dengan segala cara ini, nilai-nilai etika jurnalisme menjadi terinternalisasi alias melekat pada diri setiap wartawan, sehingga mereka tahu persis apa yang mesti dilakukan jika diperhadapkan dengan berbagai dilema yang terkait dengan etika jurnalisme dalam tugas mereka sehari-hari.

Adapun "dosa" nomor tiga adalah hal yang sudah lama menjadi keprihatinan saya dan telah berulang kali pula saya suarakan, yaitu kemalasan media untuk mencari alternatif versi cerita di luar apa yang disorongkan oleh lembaga resmi. Untuk mendapatkan versi alternatif ini, tentu saja diperlukan upaya ekstrakeras dari media untuk terus menggali informasi dari berbagai sumber, untuk melakukan verifikasi tanpa bosan, untuk tetap skeptis alias tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima, termasuk--tepatnya, apalagi--yang datang dari pihak resmi. "Dosa" ketiga ini sebetulnya terkait dengan "dosa" kedua. Jika media melakukan pertobatan untuk sekuat tenaga menghindar dari "dosa" ketiga ini, hampir pasti media juga akan terhindar dari "dosa" kedua. Sebab, media pasti tidak akan terburu-buru menggeruduk sanak keluarga dari mereka yang dituduh terlibat dalam aksi pengeboman itu, sebelum diperoleh petunjuk sangat kuat yang mengarah pada nama-nama tersebut .

Sebetulnya, perangkap tiga "dosa" seperti ini tak perlu lagi terjadi dalam kasus bom Mega Kuningan ini, karena bukan pertama kalinya media di Indonesia melaporkan peristiwa pengeboman. Namun, mungkin media luput menarik pelajaran penting dari kasus-kasus sebelumnya. Atau, kalaupun sempat melakukan perenungan dan memetik hikmah dari kejadian terdahulu, ia masih tinggal sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang diterapkan pada tataran praktis.*

*Arya Gunawan, pemerhati media, mantan wartawan Kompas dan BBC London. Kini bekerja di UNESCO Jakarta, dan menjadi dosen tidak tetap di Jurusan Jurnalisme FISIP Universitas Indonesia


sumber: http://tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/08/05/kol,20090805-95,id.html
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN