NEWS UPDATE :

Triple S

Selasa, 30 Juni 2009



by dimar sembiring


Desir semilir sang bayu senja...
Melintas menusuk kulit dan tubuh ini...
Semburat sang surya di sisi barat daya...
Menambah indahnya pemandangan di tempat ini...

Yach... di tempat ini, di Pemancingan Mino Lestari, kembali kami berkumpul di sini, dengan wajah yang berseri-seri, meski perut kosong tak terisi...

Itulah gambaran yang tepat dan pas rasanya, situasi yang terjadi di senja tadi, Senin 29 Juni 2009. Di mana kami, DPRa PKS Srimartani mengadakan Acara "Triple S". Yaitu, "Syuro Special Srimartani".

Syuro' dimulai dengan pembahasan program-program ke-DPRa-an, info2 terbaru dan perkembangan update yang terjadi baru-baru ini. Di sore tadi dibahas tentang agenda "Pelayanan Kesehatan" Gratis yang sedianya akan diadakan hari ahad tanggal 12 July 2009 di dusun Rejosari. Pembahasan tersebut meliputi persiapan obat-obatan, peralatan dan tim medis yang akan dibutuhkan.

Selanjutnya dibahas juga tentang kesiapan pengerahan massa untuk Kampanye Terbuka SBY-Boediono yang sedianya akan dilaksanakan sabtu 4 Juli 2009. Untuk hal ini kami benar-benar mempersiapkannya dengan sangat serius, kami memepersiapkan secara detail, bahkan sampai "by name", untuk optimalisasi siapa saja yang akan dikirim "bertempur" ke "medan perang".

Kemudian juga dibahas tentang kesiapan saksi untuk suksesi SBY-Boediono. Alhamdulillah di DPRa Srimartani yang terdiri dari 38 TPS sudah "ready to fight" semuanya. Yang pasti 8 Juli nanti kami siap "habis-habisan" "bertempur" untuk kemenangan SBY-Boediono. LANJUTKAN...!

Adzan maghrib pun tiba. Dan itu tandanya acara "INTI" ke dua segera dimulai. Setelah sekedar membatalkan puasa dengan seteguk minuman, kami pun sholat maghrib jama'ah bersama. Setelah sholat, acara makan bersama pun tak ayal menjadi acara paling meriah di senja itu. Suasana gelak tawa penuh kemeriahan membersamai kami sekeluarga besar PKS Srimartani menikmati lezatnya menu LELE BAKAR khas Mino Lestari, sebagai tanda acara penutup dari agenda special "Triple S".

Namun yang lebih spesial lagi acara sore tadi adalah kehadiran kader sekeluarga yang juga TRIPLE S: Sepuluh Ikhwan, Sepuluh Akhwat plus Sepuluh anak-anak nya.


---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kiprah PWK Sitimulyo di Gunung Sampah

Senin, 29 Juni 2009


Reporter : Akhwat Qowwiy
Ahad, 28 Juni 2009 jam 13.45 WIB. Siang masih terasa garang. Aku dan bu Layla menyusuri ujung kulon Piyungan. Kami memakai motor sendiri-sendiri.

Sampai di jalanan yang menanjak kami disambut dengan sengatan bau tak sedap menusuk hidung. Bau yang seharusnya tidak baik untuk kesehatan. Ya, bau itu adalah bau tumpukan sampah yang bercecaran di lingkungan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Dusun Ngablak Sitimulyo ini memang merupakan lokasi TPA.

Disepanjang jalan kutengok kanan kiri yang ternyata hampir disetiap rumah ada plastik sampah yang sudah dipunguti, dipilah-pilah kemudian dikemas siap dijual ke agen penampungan plastik untuk didaur ulang. Inilah kehidupan mereka sehari-hari.

Aku yang keasyikan mengamati dinamika warga sampai tak mendengar bunyi klakson bu Layla yang menguntit di belakang.

”Ukhti, aku tadi sebenarnya agak takut naik. Tadi anti tak klakson gak denger,” ujar bu Layla usai sampai di rumah Ibu Tri Dusun Ngablak, lokasi cara PWK siang itu.

”Astaghfirullah... afwan, ane pikir njenengan berani jadi ane naik motor sendiri ndak mboncengin anti,” jawabku dengan perasaan bersalah.

"Tapi gak pa pa kok, alhamdulillah sampai dengan selamat,” balas umminya zidane menenangkan aku.

Setelah menunggu hampir setengah jam, tepat pukul 14.30 wib acara dimulai. Alunan sholawat dan doa sapu jagat bergema. Tampak sekira dua puluh limaan ibu-ibu kompak dan semangat melantunkan doa. Subhanallah.

Usai sholawatan, kami dipersilahkan mengisi acara inti. Kali ini kami menyajikan keterampilan membuat peningset masjid. Dengan lincah dan telaten bu Layla Zamzana nendemonstrasikan teknik membuat peningset.

"Sesuk nek punya gawe tak minta tolong sama mbak’e aja ya?" ibu-ibu yang terpesona dengan hasil kreasi bu Layla berkomentar.

"Oke bu," jawabku sepontan.

”Tenan lho mbak, sebentar lagi udah ada yang mo mantu dua tempat,”sahut mbak Tri yang sudah tidak asing bagiku, karena beliau adalah kakak kelasku waktu sekolah.

”Waduh ibu-ibu ternyata serius toh? injih bu, Insya Allah dengan senang hati,” jawabku. Berani berbuat kudu berani bertanggung jawab nich. Apalagi kalau orderan pahala. Jangan ditolak dech!

Jam menunjuk pukul 15.15 WIB. Keterampilan inipun selesai, dan kami segera mengemasi barang-barang kami dan sekalian pamit pulang. (tQ)


---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

P.O.A.C.

Sabtu, 27 Juni 2009

by abuhasan
Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Istilah manajemennya POAC. Prinsip manajemen ini banyak digunakan oleh organisasi dewasa ini untuk memajukan dan mengelola organisasi mereka. Kami pun menyadarinya. 'Rutinitas' syuro DPC PKS Piyungan jadi saksinya.

Maka, di perbatasan sore dan malam ini, usai menghadiri syuro dpc pks piyungan kusempatkan mampir sejenak di warnet langganan.

Sepi, tidak ada pengunjung. Gumamku membatin kala memasuki area parkir Ros-Net yang momplong gak ada motor yang mejeng. "Silahkan mas, pilih mana saja," sapa petugas warnet yang udah gak asing dengan pelanggannya ini. Ada waktu dua puluh menit sebelum kudu nyampe rumah. Ntar bada isya ada tahlilan di tetangga.

Kumasuki bilik nomor 1. Udah nyala komputernya. Wah, cepat juga laju mozilla, sepi je, batinku. Mau nulis pakai 'en-jel' apa ya? Biar gak datar datar amat. Itu pikirin menerawangku sedari tadi sebelum nyampe warnet. Belum ketemu juga. Masak cuma laporin jalannya syuro. Gak seru. Terus apa ya? Not yet any idea! Udah gak usah lama mikir, ntar gak jadi report.

Kubuka mozilla. Seperti biasa, kalau nulis report di warnet yang pertama kalai adalah menjumpai om Google. Ketik: piyungan. Enter! Pasti nongol.... DPC PKS PIYUNGAN di urutan teratas. Just klik! Sampai dech di blog. Nah, selagi nungguin proses loading yang cukup cepat ini, munculah ide nulis tentang POAC: Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Ini lebih untuk diri pribadi biar gak bosen-bosen untuk menghadiri syuro.

"Ah, kayaknya gak ada pembahasan yang penting penting amat. Gak datang juga gak apa-apa. Paling itu itu aja. Udah ada kader lain yang datang. Saya kan bukan orang penting. Gak ada saya juga tetep jalan," ini nich yang jangan sampai membius kealpaan kita. Maka saya cantumkan pentingnya POAC yang salah satu unsurnya adalah syuro agar organisasi kita (baca pks) tetap dinamis dan produktif.

"Wajib hadir pada acara rapat PH PLUS sore ini sabtu 27 juni 09 jam 16.30 WIB tempat bu NUR W"

SMS dari Ketua DPC Piyungan kuterima pagi tadi, jam 09:05 wib. Memang undangan syuro di piyungan cukup SMS. Kan PKS itu ... Partai Kader SMS. Kalau keadaan normal, syuro dpc biasanya hari rabu sore. Nah, ini dimajukan.

Maka sore itu berkumpulah pengurus DPC dan semua ketua dpra. Ada pak Wawan Wikasno ketua dpc, akh Sulistiono ketua dpra sitimulyo, akh Andi tw ketua dpra srimulyo, akh rusdi ketua dpra srimartani. Kalau saya cuma penggembira. PLUS Barisan akhwat yang kelihatan lebih banyak.

Pembahasan sore itu dominan terkait pilpres. Wawan Wikasno Ketua DPC menyampaikan informasi-informasi terbaru. Beliau kemarin baru menghadiri konsolidasi semua ketua dpc se kab-Bantul. Tiga point dari beliau, pertama terkait mobilisasi kampanye terbuka Sabtu (4/7) di Alun-alun Selatan. Kedua, terkait saksi TPS. Ketiga, penggencaran sosialisasi di masyarakat.

Sampai adzan maghrib berkumandang, ketiga point berhasil dituntaskan. Dam karena waktu nge-net nya sudah game over, maka saya cukupkan liputannya. Terakhir saya cuplikan hadits nabi yang pernah saya baca:

"Tafakkarus saa'ah khoirun min ibadatis sanah"

"Berfikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun"



ROS-Net at 18:37 wib.
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Gaza: Training Liburan 60 Hari Cetak 10.000 Hafidz Anak

Jumat, 26 Juni 2009


Berbeda dengan gaya liburan di Indonesia, untuk mengisi liburan anak, halaqoh tahfidzul qur'an menjamur di Gaza.
---
GAZA CITY: Menuju pembentukan generasi Qur’ani, Darul Qur’anul Karim dan as Sunnah di Jalur Gaza hari Sabtu (13/6) menyelenggara kan kemping bertajuk “Tajul Waqar (Mahkota Ketegaran)” dengan tujuan mencetak 10 ribu hafidz dan hafidzoh Al-Qur’an selama 60 hari.

Dr. Abdurrahman al Jamal, Ketua lembaga ini mengatakan bahwa penyelenggaraan program ini dilaksanakan pada saat liburan sekolah di musim kemarau. Dengan tujuan menggunakan masa liburan ini untuk membentuk generasi Qur’ani yang siap dan mampu bertanggungjawab membebaskan tanah air dan kewajiban berdakwah di jalan Allah ta’ala.

Ia menyebutkan bahwa program Mahkota Ketegaran ini serempak diselenggarakan di seluruh penjuru wilayah Jalur Gaza dan berlangsung selama 60 hari, diikuti 10 ribu siswa-siswi yang ingin menghafal Al-Qur’an.

Berkesinambungan

Program mahkota ketegaran ini adalah program lanjutan untuk tahfidzul Qur’an yang digalang lembaga Darul Qur’an dan as Sunnah selama ini. Setelah sebelumnya di kemarau tahun 2007 program yang sama dilakukan selama 60 hari.

Dari program ini di tahun 2007, tercatat ada 400 hafidz dan hafidzoh penghafal Al-Qur’an penuh. Sebagian lain hanya hafal sejumlah juz Al-Qur’an. Kemarau 2008, program ”Tabashir Nasr” digelar yang bisa mencetak sekitar 3 ribu siswa-siswa penghafal Al-Qur’an baru.

Menurut siaran pers yang dikeluarkan Darul Qur’an dan As Sunnah, yang diterima oleh infopalestina, mengatakan bahwa program Mahkota Ketegaran ini adalah program lanjutan yang biasa dilakukan oleh Darul Qur’an dan As Sunnah. Hal ini untuk menciptakan kebiasaan menghafal Al-Qur’an dan berupaya terus agar setiap rumah punya penghafal Al-Qur’an.

Untuk menyukseskan program ini, sudah disiapkan 1100 ustadz dan mutabi’ (pemantau) untuk disebar ke penjuru Jalur Gaza membina generasi Qur’an.

Penyelenggara program menegaskan bahwa Darul Qur’an dan As Sunnah memiliki konsen dalam bidang ini agar siapa saja yang melihat Gaza paham bahwa penduduk Gaza telah memikul kalam Allah dan dididik di atas meja-meja Al-Qur’an serta berperilaku dengan perilaku Al-Qur’an.

Salah satu alasan penting mengadakan program ini adalah terus berlangsungnya penistaan dari orang-orang kafir dan salibis terhadap Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Penistaan semacam ini harus dilawan dengan cara membuat program Mahkota Ketegaran untuk mencetak para penghafal Al-Qur’an dan pemegang teguh manhaj Allah ta’ala.

Mereka menambahkan bahwa program unik dan pengalaman langkah di dunia Islam dan Arab ini, termasuk bentuk reaksi atas perang yang dilancarkan oleh penjajah dan sekutunya dalam merusak moral generasi muda, serta penghancuran terhadap masjid dan markas-markas penghafal Al-Qur’an milik Darul Qur’an dan As Sunnah.

Setiap Rumah Palestina

Dr. Al Jamal menekankan bahwa program mahkota ini bertujuan meletakkan bangunan yang kokoh dalam mencetak generasi Al-Qur’an unik. Di samping itu bertujuan membantu, walau hanya sedikit, menghidupkan perekonomian Palestina berupa penunjukkan sekitar 1100 ustadz dan mentor.

Penyelenggara program juga mengingatkan bahwa program ini membantu menyediakan para imam masjid berupa penghafal Al-Qur’an, serta menggunakan waktu saat liburan dan tidak membuang-buang waktu dengan sia-sia. Sikap ini ingin menjalankan firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an yang artinya; ”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 58).

Sasaran dari program ini adalah para siswa-siswi sekolah tingkat menengah dan atas, yang usianya antara 12 sampai 17 tahun. Di samping para mahasiswa perguruan tinggi dan guru (dosen).

Menurut Darul Qur’an, sudah ada 10 ribu orang telah mendaftar ikut program yang akan dimulai hari ini, Sabtu (13/6). Para pendaftar telah disebar ke 14 cabang secara serentak, dengan setiap cabang ada 714 siswa. Karena selama perang Gaza masjid menjadi target militer Zionis Israel, tempat-tempat penghafalan Al-Qur’an dipindah ke sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jalur Gaza.

Menurut rencana, acara hafal Al-Qur’an dimulai dari sholat Subuh hingga Zuhur. Sholat Subuh merupakan bagian dari agenda program yang tak bisa dipisahkan.

Program mahkota ini merupakan salah satu dari ratusan program dakwah yang mempunyai andil membentuk pribadi muslim dan menampilkan Gaza sebagai wilayah yang tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya. [ifp/www.hidayatullah.com]

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

bahagia memandang mu

Kamis, 25 Juni 2009

by abuhasan
Rembulan membentuk sabit terpampang di ufuk barat, terlihat mempesona di sepanjang jalan raya jogja-wonosari yang kususuri ba'da maghrib semalam. Kulihat sebelumnya di kalender kalau malam ini sudah hari kedua bulan Rajab.

Kunikmati keindahannya sejenak hingga laju motor berhenti di depan sekretariat dpc pks piyungan. Akh Dhanie tengah duduk di bangku bambu depan kantor dpc yang masih tampak gelap, hanya teras yang lampunya menyala. Saya yang selalu bawa kunci duplikat dpc lantas membuka pintu setelah menyalami abinya shofie. Harum aromanya serasi dengan senyum manisnya. Berbarengan dengan itu datang akh Haryadi berboncengan dengan akh Sihono.

Ruang utama berukuran 4x4 sudah benderang dengan dua lampu yang menyala. Tikar lipat segera digelar, tak ketinggalan kipas angin di-on-kan untuk menepis sisa panas seharian tadi. Dengan sigap akh Haryadi ke warung sebelah beli air botol plus gorengan di seberang dpc.

Belum hilang gerah didalam ruangan, hadir sesosok yang tidak asing tapi aneh kelihatan malam itu. Gurat bekas luka tampak menghias wajah gantengnya. Tak ayal seisi ruangan pada bertanya, gerangan apa yang terjadi. "Gak apa-apa, cuma insiden kecil. Bener, ndak apa-apa kok," akh Rusdi menyalami teman-teman yang memborbardir tanda tanya.

"Dimana? Sendirian?," akh Sihono masih penasaran.

"Ya jelas sendirian lah, orang juga masih jomblo!" saya berusaha mencairkan suasana.

"Aduh pak, jangan bikin ketawa dong," Ketua DPRa yang tahu saya suka meledek meringis menahan senyum. Habis kalau mulutnya melebar pasti diiringi rasa sakit akibat kecelakaan sore tadi.

"Wah, kenapa ini?" pak Wied yang baru datang langsung menyalami akh Rusdi dan berbalas serupa, "ndak apa-apa....".

Sambil menunggu teman-teman yang lain, Liqo langsung diawali dengan tilawah. Liqo malam ini memang waktunya dimajukan ba'da maghrib karena ada beberapa kader yang ada acara kampung jam delapanan malam. Ikhwah yang belum datang mungkin kelupaan perubahan jadwal.

Ba'da tilawah, kajian tematik seputar hadirnya bulan Rajab sebagai tanda dimulainya persiapan untuk menyambut tamu yang dirindu sepanjang tahun, bulan Ramadhan. Kajian menitikberatkan pada persiapan ilmu dan ruhiyah. Diantaranya dengan memperbanyak membaca literatur terkait tazkiyatun nafs. Bukan hanya sekedar itu, secara aplikatif persiapan itu juga berupa program buka puasa bersama. Insya Allah, Senin besok akan dilaksanakan di pemancingan Minolestari Sitimulyo.

Sesi berikutnya membahas tentang da'wah dan ke-dpra-an. Liqo malam kamis ini memang pesertanya ikhwan pengurus inti dpra srimartani. Ditengah membahas da'wah, hadir akh Andi dan Sinyo yang terlambat. Ada kabar menggembirakan terkait program rekrutmen dan pencetakkan murobbi. Kami menargetkan tahun ini, liqo muayyid ini semua pesertanya kudu jadi murobbi. Alhamdulillah mayoritas sudah punya binaan. Akh Rusdi liqo dusun Sumokaton. Dhanie di dusun kabregan dan Rejosari. Andi di dusun Piyungan ndeso. Haryadi membina remaja Sanansari. Akh Sinyo rabu depan liqo perum GTS akan dimulai. Pak Wied menangani liqo di rantaunya. Dari delapan, enam sudah punya liqo atau 75 %.

Sesi ketiga berupa Qodhoya war Rowa'i. Masing-masing ikhwah bercerita tentang kondisi sepekan terakhir. Maisyah, keluarga, lingkungan, dll. Hal-hal yang menggembirakan juga problem-problem yang ada.

Akh Dahnie lagi sibuk bikin raport. Utang liputannya belum bisa dilunasi, kata Guru SDIT ini yang beberapa kali ane SMS nagih email.

Akh Rusdi juga sama, guru STM ini hari-hari sekarang sibuk bikin raport. Kecelakaan kecilnya justru disyukuri. Mumpung masih sendirian, katanya. Nanti kalau sudah ada 'yang diboncengin' semoga tidak kecelakaan. Ehm..!

Akh Sihono: lagi bikin kandang kambing buat nambahin ternak bebeknya. "Istri ane juga tadi sore jatuh dari motor. Tapi ndak apa-apa," ceritanya menyambung insiden ketua dpra.

Akh Sinyo: alhamdulillah come back ke dunia lamanya, jualan bakso sembari merintis bisnis kecil-kecilan, jualan pampers multi pakai. Dapat kontrakan gratis di perum cepin.

Akh Andi Susanto: bisnis bengkel elektroniknya lancar, walaupun tidak dalam kategori ramai. Pembinaan remaja di kampungnya sudah berjalan yang putra, untuk putri terkendala teknis. Biasanya kajian malam, tapi kayaknya ndak ada akhwat yang bisa ngisi liqo malam. "Kalau gitu tinggal nungguin antum akhi," sela akh Dhanie. "Solusinya simple dan menyenangkan, tinggal antum cari istri. Otomatis nanti ada akhwat yang membina. Malam juga gak masalah, kan di kampung sendiri." Akh Andi cuma nyengir aja mendengar usulan yang di-amini teman2 yang lain.

Saat tiba giliran akh Haryadi teman-teman yang lain langsung ehm.. ehm. Maklum sekira delapan hari lagi adalah hari berbahagia, yang dinanti oleh para bujangers. Senyum simpul menghias sepanjang cerita. Siapa akhwat yang berbahagia? Tunggu tanggal mainnya, katanya. ehm.. ehm.. dech.

Begitulah persaudaraan. Suka dan duka kita nikmati bersama. Kalaupun ada luka, lebih banyak bahagia yang kami rasa.

Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil quluub
Qadijtama'at ala mahabbatik
Waltaqot alaa tho'atik
Watawahhadat ala da'watik
Wata'ahadat ala nushroti syari'atik
Fawatsiqillahumma ROBITHOTAHA.....



----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

rindu kami pada mu

Rabu, 24 Juni 2009


by admin*
----
“Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana."

"Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampai kanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Hari ini, Rabu 24 Juni 2009 bertepatan dengan 1 Rajab 1430 H. Hadits yang kami kutip di atas merupakan do'a yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya agar kita menyiapkan diri untuk menyambut Syahrul Mubarok Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban.


Jiwa seorang mukmin pasti masih bergantung dengan bulan Ramadhan nan penuh berkah. Kenapa tidak? Karena Ramadhan adalah bulan Al Qur’an, bulan Lailatul Qadr, Bulan permulaan turunnya wahyu untuk misi besar di dunia. Keutamaan bulan Ramadhan masih sangat kuat melekat dalam pikiran setiap muslim atau muslimah.

Sungguh, para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim berdo’a kepada Allah swt agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya. Dan mereka bedo’a kepada Allah swt. selama enam bulan setelahnya agar Allah swt. menerima amal perbuatan mereka. Oleh karena itu, mereka merasakan hubungan yang sangat dekat dengan Ramadhan, sepanjang tahun.

Ramadhan menghendaki adanya keinginan kuat dan persiapan matang sebelumnya, agar kebaikan-kebaikannya dapat diraih. Tak ada yang terlewatkan.

Kalau kita melihat klub sepak bola misalkan, mereka mempersiapkan tim dengan sebaik-baiknya sebelum musim pertandingan tiba. Semakin optimal persiapan itu, maka semakin optimis mereka meraih kemenangan, dan mereka pasti akan menang sebanding dengan usaha mereka.

Begitu juga dengan Ramadhan, bahkan lebih mulia dan lebih utama dibandingkan hanya sekedar permainan bola. Ramadhan menuntut adanya persiapan matang dan bertahap jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga ketika Ramadhan menyapa kita, kita semua telah siap menjemputnya, mengisinya dan memanen keberkahan amal sholih didalamnya.

Adapun orang yang tidak menyiapkan diri untuk menjemputnya, kecuali ketika Ramadhan sudah datang menghadap, boleh jadi dia akan terasing dan tersiksa.

Mari, kita semua mempersiapkan diri secara optimal kemampuan kita dalam peribadatan dan keta’atan, guna menyambut Ramadhan, guna panen kebaikan Ramadhan.

Mari, kita hilangkan sikap malas, futur, leha-leha, dan terlenakan dengan dunia. Kita ganti dengan menebar benih, benih semangat dan tekad kuat.

Untuk mengingatkan Ramadhan yang kita rindu, sedikit nuansa baru blog ini sengaja kami hadirkan.

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat – saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan
Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi
Berilah hamba kesempatan

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
Sekeluarga, sekampung, senegara
Kaum muslimin dan muslimat se dunia
Seluruhnya kumpul di persatukan
Dalam memohon ridho-Nya

[setiap habis ramadhan, Bimbo]


*dari berbagai sumber
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

langkah sunyi

by salwangga
23:45, nyaris dini hari ya. tidak ada jejak kaki yang tidak dicatat sebagai kebaikan, kecuali dengan niatan tulus "berbagi".

butuh kekuatan "semangat" luar biasa untuk begadang sendirian tak tik tak tik didepan monitor warnet selarut ini.

terputus seluruh amalan anak keturunan adam jika meninggalkan dunia fana. hanya tiga perkara yang akan terus mengalir pahalanya. salah satunya adalah amal jariyah.


jangan dikira amal jariyah tuch hanya bikin mesjid saja loh. banyak ragamnya. salah satunya ya nulis kegiatan beginian di blog. jangan takut susunan kata amburadul. jangan resah perkataan tidak sesuai kaidah. karena, segala sesuatu butuh proses. gimana, akur?

coba bayangkan, kalau dari tulisan atau postingan kegiatan di blog ini, lantas ada salah satu atau salah dua, tiga, empat, dst, tergerak hati dan mau berubah. ini, bisa dikategorikan amal jariyah juga.

"serulah saudaramu untuk berbuat kebaikan. paling tidak informasiin lah. maka, jika yang kau seru itu lantas berbuat sebagaimana apa yang kau serukan, kebaikan itu untukmu juga. sama."

contoh aja ada yang nyaris putus asa berdakwah. teringat pernah baca "petualangan akhwat siang bolong", di blog ini, lantas semangatnya nongol lagi. gak jadi dah tuch putus asa. "ah, masak akhwat aja teguh pendirian, mesti nyari walau minim informasi, masak gue kagak!", gitu katanya.

sip!

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Liqo Bersama Ikhwan: Istiqomah itu ... LANJUTKAN!

Selasa, 23 Juni 2009

Reporter: Widodo
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Q.S Fushilat: 30)

Kereta Dakwah akan terus bergerak hingga akhir zaman. Mengajak Ilallah kepada setiap yang berkategori manusia. Ada yang tergabung, ada yang berjatuhan. Bahkan sudah menjadi Sunatullah bahwa oleh ganasnya seleksi alam tak sedikit yang berpaling bahkan menjadi penghalang dan pembangkang.

Untuk menguatkan simpul ikatan jamaah, maka DPC PKS Piyungan menghadirkan Ustadz Ikhwanuddin dalam acara Liqa’ (Ikhwan) Bersama, yang diselenggarakan Senin, 22 Juni 2009 di Masjid Khalid Bin Walid Banyakan, Sitimulyo.

Membawakan Tema “Istiqomah dan Kosekwensinya”, ustadz nahdiyin ini mengupas makalah dengan bahasa yang rileks dan komunikatif. Diawali dengan menyitir Q.S Fushilat: 30, lima puluhan ikhwan mendengarkan tausyiah dengan seksama. Satu demi satu hujjah yang disertai cerita baik dari Shirah maupun pengalaman pribadi dalam menghadapi ringtangan seperti: caci maki, dimusuhi, fitnah dari berbagai sisi sampai kerabat dan keluarga dikemukakan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

“allaa takhaafuu walaa tahzanuu, Tidak perlu kamu takut dan tidak perlu kamu bersedih,” beliau mulai memberi semangat. Dua kenikmatan yang telah menanti di Dunia dan Akhirat bagi orang yang senantiasa istiqomah di jalan dakwah.
1. Nikmat Surga yang telah di Janjikan-Nya.
2. Allah sebagai pelindung. Yang akan menurunkan pertolongan-Nya.

Tepat pukul 22.00, usai tanya jawab dan dialog sesi pertama acara yang dimulai pukul 20.30 ini berakhir. Acara kemudian di-LANJUTKAN dengan pemantapan pemenangan pilpres. Wawan Wikasno, Ketua DPC Piyungan memberi arahan sekaligus membagi oleh-oleh buat peserta yang hadir berupa kaos LANJUTKAN sebagai persiapan mobilisasi massa pada kampanye terbuka SBY-Boediono di Jogjakarta pada hari Minggu (28/6) di stadion Kridosono mulai pukul 13.00.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

mereka menunggu mu


By : TiQu*

Sengatan mentari mulai meredup setelah seharian mencurahkan energinya buat seisi persada. Cuaca membakar hari-hari ini mungkin bagi sebagian orang dikeluhkan, namun tidak demikian bagi ibu-ibu di dusun Monggang Sitimulyo. Makin panas makin puas. Pasalnya sehari-hari mereka mengais rejeki dengan menyulap tanah sawah jadi bata merah yang prosesnya sangat membutuhkan dukungan terik sang surya.

Luar biasanya, ditengah beban ekonomi yang menghimpit sehingga waktu mereka curahkan untuk membantu perekonomian keluarga, ternyata ibu-ibu ini masih sempat meluangkan waktu untuk bekal akhirat. Paling tidak hari Ahad sore dua minggu sekali mereka berkumpul untuk belajar ndarus Al-Quran plus pengajian. Kegiatan ini atas inisiatif dan bimbingan Bu Hida, ummahat kader PKS asal Ponorogo yang terkenal dengan pesantren Gontor-nya. Bu Hida bersama suami dan putri cantiknya ngontrak rumah di dusun ini.

Namun hari Ahad kemarin (21/6/09) bu Hida tidak bisa membersamai karena mudik ke Cilacap, daerah asal sang suami. Sebagai gantinya diisi oleh ibu Suwartiyah, SPd, teman liqo Bu Hida aseli dusun Banyakan Sitimulyo. Dengan telaten ustadzah yang juga guru SDIT ini membimbing lima belasan ibu-ibu yang hadir sore itu. Lantunan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema di rumah ibu Tutik, tempat giliran pengajian sore itu. Dengan suara yang terbata-bata mencoba untuk berhati-hati dalam melafadzkan ayat demi ayat secara bergiliran mereka tadarusan. Ibu-ibu yang lainpun menyimak dengan seksama saat temannya sedang membaca dan sesekali mencoba membenarkan lafadz yang keliru.

Sekitar satu jam membaca Al Qur’an acara dilanjutkan pengajian. Pada kesempatan itu Ummu Lisa membahas tentang ’Tarbiyatul Aulad’ dengan mengutip ayat-ayat dalam surat Lukman.

Semangat dan pengorbanan ibu-ibu yang sebagiannya sudah paruh baya ini menambah antusias ustadzah Warti untuk berbagi ilmu sore itu. Dan saat pengajian ditutup pukul 17.30, jabat erat dan senyum hangat mengantar Ummu Lisa yang berpamitan.(tQ)


*ditulis dari penuturan Ummu Lisa
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Yasinan Senin Legi PKS Srimartani

Senin, 22 Juni 2009

Reporter: abuhasan
Lega sudah. Setelah mengalami beberapa kali perubahan waktu, malam tadi (Ahad, 21/6) kegiatan Ta'lim Rutin Partai (TRP) untuk para saksi dan simpatisan se-DPRa Srimartani terlaksana. Sebetulnya bukan karena 'sekedar' terlaksana saja perasaan 'plong' itu membuncah. Inovasi model TRP yang coba kami tawarkan kepada para simpatisan mendapat sambutan bagus.


Usai gelaran pemilu 2009 kemarin, DPRa Srimartani berusaha menjaga barisan saksi dan simpatisan. Jelas, kami dan mereka butuh wadah yang multifungsi. Sebagai sarana silaturohim, jalur komunikasi, distribusi informasi, dan pemahaman lanjut tentang PKS dan bisa juga untuk klarifikasi isu maupun fitnah. Untuk itu kami memprogramkan TRP periodik selepanan tiap Senin Legi. Menilik kultur masyarakat desa Srimartani adalah nahdiyin, kamipun berusaha mengubah 'tantangan ini' menjadi 'peluang'. Maka format acara TRP sangat kental nuansa tradisional-nya.

TRP Tradisional perdana berlangsung Ahad kemarin (21/6) bertempat di rumah Haji Basiran dusun Daraman. Dipandu oleh akh Eko Heri acara dibuka pukul 20.10 wib. Usai pembukaan, Kyai Slamet tokoh setempat memimpin Yasinan.

"Ila hadrotin nabiyil mustofa shollallahu alaihi wasallam, alfatihah......"

"wa ila arwahi ahlil qubur minal muslimin wal muslimat, lahumul fatihah....."

Empat puluhan hadirin khusyuk membaca surat Yasin. Panitia sebelumnya sudah menyiapkan buku Yasin bersampul hijau. Sekira dua puluh menit gemuruh alunan surat yasin menambah khidmat malam itu.

Usai yasinan, hadirin bersama-sama membaca sholawat nabi yang dipimpin oleh akh Haryadi, kader dari Sanansari.

"sholatullah salamullah ala thoha rosulillah
sholatullah salamullah ala yasin habibillah...."

Lima menitan sholawatan, acarapun berlanjut dengan Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh shohibul bait, Haji Basiran. Beliau ulama setempat yang bergabung bersama PKS semenjak musibah gempa Jogja. Rumah beliau dulu dijadikan base camp PKS Srimartani saat itu. Malam itu beliau mengutip ayat 8 surat al jum'ah yang mengingatkan tentang dzikrul maut. Penyampaian yang lembut dan menyentuh hati. Sangat terasa bagi kami kalau taushiyah ini keluar dari hati sehingga sampai ke hati kami yang mendengarnya.

Usai mauidzoh hasanah, acara break sejenak. Teh hangat dan cemilan menjadi teman ngobrol antar peserta. Disela-sela acara santai, Ketua DPRa memberi kata sambutan. Akh Rusdi menyampaikan latar belakang 'hajatan' malam itu.

"Kami ingin mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa PKS tidak anti tahlilan. Kami, warga nahdiyin yang bergabung dengan PKS juga tetap menjalankan tradisi nahdiyin. Ini bukan saja kebijakan dpra tapi berlandaskan keputusan Dewan Syari'ah Pusat PKS," papar akh Rusdi.

"Insya Allah kegiatan ini akan rutin kami selenggarakan dengan bergilir ke dusun-dusun. Kami ingin membuktikan langsung tidak hanya sekedar memberi penjelasan," jelas Ketua DPRa.

Jam menunjuk angka 21.10, agenda dilanjut dengan acara lain-lain. Informasi pertama berkait dengan arahan pemenangan SBY-B oediono pada pilpres 8 juli mendatang. Pak Fauzani dari dusun Mutihan yang merupakan Tim Sukses non-struktural dengan gaya khasnya yang ger-geran menyemangati hadirin untuk LANJUTKAN..!!!

Tidak kalah surprisenya pengakuan salah satu peserta, yakni Haji Haryono. Bapak berusia enam puluh delapan tahun ini blak-blakan bertutur.

"Terus terang saja, saya ini dulunya PKB tulen. Kenal PKS dan nyontreng PKS ya baru pemilu kemarin. Saya lihat, PKS ini punya potensi yang luar biasa untuk membangun bangsa dan menyatukan umat Islam," suara baritonnya makin memantapkan peserta yang lain.

"Saya setuju dengan acara semacam ini. Tunjukan kalau PKS itu juga milik nahdiyin. Kalau bisa sesekali adakan acara Mujahadahan. Walaupun berat tantangannya di kalangan tradisional, tapi kalau kita konsisten tujuan mulia PKS akan terwujud. Buktinya pada pemilu kemarin, hanya PKS dan PD yang tidak mengalami tsunami. Ini menunjukan potensi PKS yang dahsyat," panjang lebar pak Haji Haryono bertutur. Wah, kader aja kalah semangat sama beliau, batinku.

Rasanya dinginnya malam tak terasa mendengar semangat dari bapak-bapak simpatisan yang baru bergabung. Saya jadi membatin lagi, "gugur satu tumbuh seribu". Ya, kalau ada satu dua kader atau yang mengaku kader sudah tidak mau ber-PKS, ternyata masyarakat makin hari makin bertambah yang mendukung bahkan mengobarkan api perjuangan. Allahu Akbar walillahil hamd! Dakwah ini memang milik Allah, Dia-lah yang akan menjaganya.



ROS-Net 23:50 [22/6] usai acara Temu Kader se-DPC
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Petualangan Akhwat di Siang Bolong

Minggu, 21 Juni 2009

By: Akhwat Qowwiy
Siang-siang bolong jam 14.00 (21/6), diiringi dengan rasa kantuk.. mata semakin menyipit...ehm..(enaknya tidur), kulihat mata sahabatku yang lelah... tapi begitu semangat untuk menunaikan amanah untuk datang di kegiatan PWK.

"Tempatnya dimana ukh ?" tanyaku ditengah perjalanan.

"Waduh gak tahu je !!!" sahutnya enteng.

(Walah..loh kok gak tahu, ane kan nemenin anti ??#*?)

Dua orang yang sama-sama gak tahu inipun melanjutkan petualangan di siang bolong. Yang kami tahu acara PWK ini di dusun Nyamplung Srimulyo. Di rumah siapa? lha ini masalahnya.

Saat masuk dusun Nyamplung, suasana begitu sepi. Tanya sama siapa ya?
"Coba bertanya pada rumput yang bergoyang?" ntar dikira caleg stres blusukan ndeso.
Begitu terlihat sesosok seorang Ibu, kami pun langsung berhenti dan bertanya tempat mangkal kegiatan ibu-ibu PKK. Beliaupun memberi petunjuk dengan menunjuk rumah Ibu RT. Ahh..lega, matur nuwun Ibu.

Sampai rumah bu RT suasana ruamai sekali. Banyak sekali anak-anak kecil yang sedang bercanda. Terlihat pula aktifitas beberapa Ibu-ibu yang sedang menimbang beras. Wah jangan-jangan salah tempat nich. Ini ibu-ibu PKK atau pasar beras nich? Untuk meyakinkan diri kami tak segan tanya kesana-kemari. Oh, ternyata kegiatan di PKK ini tidak hanya arisan uang tetapi juga arisan beras satu orang 1 kg. Subhanallah.... salut..salut..

Sesuai dengan rencana sebelumnya, setelah pertemuan bulan lalu berupa keterampilan membuat peningset berbentuk masjid, pertemuan kali ini mereka ingin belajar keterampilan Peningset Merak /Pesing ’Jarit’. Ibu-ibu yang hadir pun juga sudah siap dengan peralatan yang akan diperagakan.

Ada seorang ibu muda (kelihatan dari bahasanya beliau pendatang) yang begitu antusias saat praktek. Pokoke seneng buanget. Dengan amat sabar memperhatikan dan mengikuti arahan kami. Sesekali minta bantuan. Dan akhirnya saat buatannya kelar, dengan ekspresi riang dia teriak, "Nah.., tukan jadi to..!"

Tak sia-sia si ibu muda ini tekun belajar, buktinya saat itu juga ada ibu-ibu yang mau mantu langsung minta bantuan pada ibu tersebut untuk dibuatkan peningset. "Wah..langsung dapat orderan mbak," canda kami.

Saat praktek peningset selesai, saat itu juga kumandang adzan asar terdengar..!!! Alhamdulillah, semoga berkah.(tQ)


---
nb: diedit dan posting by admin at 23.45 ROS-Net.
Usai menghadiri acara TRP Saksi DPRa Srimartani sempatkan mampir buat nengok blog, siapa tahu ada amanah yang harus ditunaikan. Kalaupun gak ada sekalian mau buatin liputan acara srimartani, cause besok hari kayaknya gak sempet update. Paling siang atau malah malam. Dan ternyata ada satu email dari tQ berisi dua liputan. Walaupun baru kelar satu, paling tidak ada update dech hari ini. Oh ya, syukron kepada tQ yang udah ngirim liputan. Kalau sempat, utk liputan kedua (yg belum dimuat) lebih didetilkan, kami tunggu. Bagi reporter atau penulis lepas lain, kami tetap berharap email coretan pena sejarah antum.



posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Watak

Sabtu, 20 Juni 2009

by ibn surhim

"Maaf pak, lagi gak enak badan. Ijin dulu."

"Maaf lho pak, tadi kecapekan. habis maghrib ketiduran."

Ungkapan tulus yang bagiku terlalu dini muncul dari mereka. Baru dua kali pertemuan liqo, tapi mereka sudah merasa memiliki dan in group sehingga perlu untuk berkirim kabar akan ketidakhadiran mereka malam itu. Kabar 'apapun itu' bagiku sinyal positip. Komunikasi nyambung. Menghilangkan dzon. Apalagi mereka 'orang-orang baru'.

Liqo baru ini pesertanya anak-anak muda, belum menikah. Ada buruh pabrik, pekerja pjka, bengkel kampas mobil, ada juga yang pelajar. Lintas tiga dpra. Kalau datang semua ada sepuluh. Pas buat main futsal. Dan memang setiap malam sabtu liqonya dua babak. In door dan out door.

Membina liqo baru memang selalu menghadirkan tantangan dan juga kesenangan. Saya setuju dengan ungkapan sal "jadikan segala apa yang dijalani sebagai kenikmatan, maka hanya nikmat yang kau rasakan. tapi, jalani apa yang kau lakukan sebagai beban, maka, tertekanlah hatimu." Juga petuah-petuah dari syaikh Abbas Assisi dalam bukunya 'Bagaimana Menyentuh Hati' yang memandu para dai dan murobbi untuk selalu menghadirkan pelangi di hati mutarobbi.

Masih terngiang juga nasehat Murobbi yang sekaligus kakak ku lima belas tahun lalu, "yang penting harus sabar, telaten. Karena manusia itu wataknya lain-lain. Jangan putus asa menghadapi sikap mutarobbi yang beraneka rupa". Begitu kira-kira pesannya
suatu malam ketika aku menginap di rumahnya (tepatnya rumah mertuanya) di gang sempit jalan otista jakarta.

SMS pertama saya balas .. "semoga lekas sembuh" yang langsung berbalas "amin". Sedang kalimat maaf kedua yang terucap di laga futsal usai liqo berbalas "ndak apa-apa, kalau capek memang butuh istirahat. tapi sekarang sudah segar kan?". Si Ihsan yang jago futsal tersenyum. Dia datang liqo pas ronde kedua jam 21.00 - 22.00 berupa futsal. Ronde pertama 'liqo ngaji' absen karena ketiduran.

Mungkin karena liqonya in door dan out door sekaligus sehingga kami cepat akrab. Dan keakraban memang selalu menghadirkan kenyamanan bukan ketertekanan. Taklif syariat memang berat bagi jiwa, oleh karenanya kita harus lembut memasukkannya. Kalau tidak, mereka akan terpikat dengan 'kelembutan nan membius' dari yuwaswisu fii sudurinnas.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS 3:159)

Sebetulnya bukan perkara mudah bagi saya pribadi untuk 'berlaku lemah lembut'. Teman-teman piyungan juga tahu watak saya yang temparamental. Walau berusaha keras namun kadang masih muncul ledakannya. Bahkan pernah dahulu kala ketika jadi panitia ospek (perploncoan mahasiswa baru), di akhir acara saya terpilih sebagai 'Kakak TERGALAK'. Bahkan di rumah pun sekarang, saya sering dijadikan isteri sebagai jurus pamungkas agar anak-anak nurut setelah jurus lain gagal. "Awas, tak panggilin abah lho!" Dijamin 100% ampuh.

Tapi insya Allah, pengalaman lapangan dakwah menambah kematangan dan kedewasaan kita dalam bersikap. Dan yang cukup 'mendewasakan' diri ini adalah 'hasil binaan' yang malah menjadi tauladan. Saya bersyukur diberi kesempatan membersamai kader-kader piyungan yang ..... subhanallah kiprah dan akhlak mereka. Betul-betul mereka menjadi pengingat diri ini. Betul, saya belajar banyak dari mereka.


ROS_Net. sabtu 20/6 9:36 AM.


*menulislah sebelum kau lupa. jangan menunggu hadirnya mood, karena mood itu hanya hadir kalau jari jemari kita sudah menekan tut keyboard. tulislah apa saja, apa yang kau suka, sepanjang itu tidak menyakitkan orang lain atau mendurhakai Allah SWT.

Paragraf ini perlu saya ketikkan karena dua kendala utama saya menulis adalah 'mood' dan 'bagaimana penilaian orang'.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Mengalir

by salwangga
ya emang gitu, saudaraku. kalau lagi belajar nulis, egonya mesti muncul. mesti digedein. "namanya juga belajar", adalah kata senjata paling ampuh untuk membentengi diri. dari apa? ya dari cacian, dari koreksian, dari kekurangan, dari cercaan, atau dari apalah. kritikan, mungkin.

kalau mau nukil hadits lupa, trus mandeg, trus buka nyari literasi, wah, bisa ilang segala yang tersusun rapi dikepala. cara jitu ya begitu itu. tulisa aja sekenanya. "ketika itu shahabat (tanpa disebut nama, karena emang lupa) ketemu rasulullah. berkata...." terusian aja. biarin ngalir dulu tulisannya.

bila perlu, tak perlu pake dilihat lagi. gak perlu dibaca ulang. langsung tancep aja. post! gitu. baru dilihat lagi entar-entaran. atau besok. baca secara teliti, sambil nyambungin beberapa literasi. kalau emang tulisan kurang enak, tinggal delete aja. toch admin punya kuasa. he..he.he.he..

jadikan segala apa yang dijalani sebagai kenikmatan, maka hanya nikmat yang kau rasakan. tapi, jalani apa yang kau lakukan sebagai beban, maka, tertekanlah hatimu. jiwamu. gawat!

pernah ketika itu, aku nanya ke nimas, anakku yang udah kelas 5 sd. ia kena ranking satu. aku tanya, "mbak, ranking satu gimana rasanya?"

apa coba jawab dia. "rasa apaan. biasa aja tuch. ranking dua atau tiga, waktu kelas 4 kemarin juga biasa aja. kan ayah yang ngajarin. yang penting udah belajar, soal ranking urusan belakangan". mantab bener tuch anak. sekolah sebagai ajang bermain. ajang ketemu temen. belajar bukan beban, tapi, berkreasi.

alhasil, ketika jam belajar, ia malah ngapalin quran. ketika seharusnya bermain, ia malah belajar. "suka-suka kamu lah mbak, mana yang enak. yang penting gak jadi beban. hanya, harus tetap dalam jalur", gitu kataku waktu itu.

update blog juga gitu, tiap hari jangankan satu. sehari 4 sampai 5 postingan pun jadi. bahkan satu jam menjadi 3 tema pun jadi. asalkan, biarkan apa yang ada di kepala mengalir dengan alami. gak usah ditahan.

seneng juga sih, baca tulisannya ken sri yang udah makin mengalir gitu. pesannya dapet, apa yang mau disampein tuch nyampe gitu. nah, tulisan model-model gini nih yang bikin kangen. polos. lugu. tapi nyentuh.

kayak atsar sahabat pembuka diawal tulisan ini, keren. "gak tahu persis deh, siapa yang ngriwayatin. pokoknya shahabat nabi", ini tulisan lugu dan enak dibaca.

jadi, jangan pernah vonis diri sendiri ya! "kalau sudah dihati kita bersama, itu jauh lebih bermakna. ketimbang ketemu muka, tapi jiwa melayang kemana." sip! kalau mau dilanjut lagi, "kalau sudah kertas tertoreh pena, tak ada lagi ragu melanda. tulisan ku pun mengalir, bermula tak hendak berakhir. makna kian terkait seiring tersusun kata"

kalau diterusin lagi... ya terusin aja sendiri he..he..he...he...

semoga kian sukses, buat semua rekan di piyungan. salam buat ken sri, semoga ibunda lekas pulih. "yakinlah pada doa anak yang sholihah. yakinlah pada kekuatannya."

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Uhibbukum Fillah (part 2)

Jumat, 19 Juni 2009

by abuhasan
"Ada tiga hal yang kalau itu tidak ada sungguh tidak ada nikmat hidup di dunia ini lagi. Qiyamullail di gelapnya malam, shaum di terik mentari, dan bertemu ikhwah fillah."

Demikian atsar sahabat yang pernah saya baca tapi lupa persisnya dan juga lupa apakah itu dari sahabat Abu Dzar, Abu Darda, Salman al Farisi.

Sungguh benar kata ustadz Chudori guru Madrasah Ibtidaiyah saya dulu yang sering mewanti-wanti .. "Al ilmu fis-sudur laa fis-suthur" ilmu itu adalah apa yang melekat di dadamu bukan yang tertempel dalam tulisanmu.

Ulama-ulama dulu ilmunya terbawa terus kemanapun pergi karena sudah terinstall dalam memori. Coba bayangkan seorang napi yang menelorkan maha karya didalam jeruji besi yang mengurungnya. Dialah Asy-syahid Sayyid Quthub dengan tafsir Fii Dzilal-nya yang luar biasa. Juga HAMKA yang persis sama kondisinya dengan maha karya Tafsir Al-Azhar nya.

Sedang saya yang satu jam lebih terkurung di bilik Ros-Net sangat kesulitan untuk menukil dalil yang pernah dibaca tapi lupa. Sempat terpikir untuk menghentikan menulis terus pulang cari referensi dan kapan-kapan lagi menulis, tapi niatan itu tersentil ungkapan sal yang tidak boleh menunda hanya karena harus evalusasi dulu. Nulis, nulis 5 x baru evaluasi. Iya dech, evaluasi belakangan. Nanti diedit kalo keliru.

Kembali ke atsar diatas. Saya tertarik dengan point ketiga. Yang ternyata berkorelasi dengan hadits nabi tentang halawatul iman, manisnya iman. Yakni mencintai dan membenci karena Allah. Saya dan ikhwah-ikhwah yang lain juga sering bercerita bagaimana kita betul-betul baru merasakan indah dan manisnya ukhuwah ya di jama'ah ini. Ya, hanya di sini. Ini bukan ashobiyah. Ini kenikmatan yang kata para salafussholeh seandainya para kaisar mengetahui kenikmatan ini sungguh mereka akan mencongkelnya dari hati.

Seorang pendiri jama'ah dakwah pernah ditanya kadernya dengan apakah kita menamai jama'ah ini yang baru tumbuh. "Bukankah kita bersaudara? bukankah Islam yang telah mempersaudarakan kita?". "Ya," jawab mereka. "Oleh karenanya kita namakan jama'ah ini ikhwanul muslimun." Begitulah asal muasal penamaan.

Maka saat semalam om wied mengajak ane menemani kader-kader baru di dusunnya main futsal, sungguh berat untuk menolaknya. Siang sebelumnya dokter menyarankan untuk banyak istirahat dulu. "Pak, masih kurang tiga orang nich. Kita baru tujuh," dari seberang sumokaton suara itu terdengar. Walaupun tidak bisa hadir, ane menelpon kader-kader lain untuk nggenepin.

Dan usai jum'atan ini saya kembali sambangi Ros-Net. Sudah lumayan baikan walapun tadi ijin tidak masuk kantor. Tidak seperti kemaren yang mengakibatkan tidak ada update blog hari itu. Ternyata ada dua amanah email yang belum di posting. Dari Ken Sri dan Om Wied. Mudah-mudahan tidak kecewa karena telat.

Saya hanya ingin menyapa antum semua, semoga nikmat ukhuwah masih bisa kita rasakan di tengah upaya mengkerdilkan nikmat ini. Yang setahu saya, nikmat ini hanya bisa dirasakan bagi mereka yang mau berbagi, mau memberi, mau mengerti. Bukan untuk mereka yang maunya diberi, dimengerti. Perlakukanlah orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh orang lain.


ROS-Net. jumat 19/6 1:46 PM
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Hadirlah Cahaya


by wied
*
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.S. Al Balad:10). “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. Asy Syams:8)

Itulah esensi dari perjalanan hidup manusia hingga akhir zaman. Fasiq dan Taqwa, Neraka atau Surgakah? Keduanya akan selalu saling berebut secara bergiliran. Saling menyusup dalam sendi-sendi kehidupan. Watilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainannaas. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).

Membaca ‘Hunting with Ungu’ mengajak hati untuk ‘berontak’. Rasa khawatir jika al-haq mendapat giliran dalam kehancuran. Dan itu berarti kita tak mampu meresapkan ibrah padahal panduannya ada pada kita. Al Qur’an Minhajul Hayyah. Begitukah atau tak memang kita tak mau mengambil pelajaran?

Terkadang “Apabila tangan kanan sedekah, jangan sampai tangan kiri tahu” menjadi alibi untuk berdiam diri. Disembunyinya amal kebaikan dari tempat terang. Masuk dalam petak kamar dan gua gua yang boleh jadi justru memberi ruang gerak kebathilan merajalela. Dan mau tak mau untuk membendungnya harus dengan berbagai cara. Termasuk menggali ‘harta’ kebaikan agar tak terpendam bersama Karun dikabarkan kepada dunia.

Masih ingatkah tulisan ‘Jejak Muhadditsin Blogger’? Belum lagi kering gurat tinta, BIAS itu sangat terlihat nyata. Tidak tanggung-tanggung lagi, karena menimpa Qiyadah dakwah tertinggi kita. Coba simak Bayan Fitnah berikut.

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”

Mengalirlah kemudian analisis yang tendensius.

Coba simak bayanatnya dari SMS Ustadz Tifatul :

Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia (Tempo) tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!”. “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, dia gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?

Ikhwah fillah,

Kalau sudah begitu bagaimana? Memang menyalahkan para musuh dakwah tiadalah akan berguna. Berdiam diri juga bisa membiarkan kesalahan semakin melebar.

Hanya ada satu jalan yang telah di warranty dari Allah. Yaitu dengan mendatangkan Al-Haq seluas luasnya. Di pasar, jalan, kampus hingga parlemen bahkan media, kesemuanya harus mampu menghadirkan kebenaran. Maka jadilah ikhwah sekalian sebagai agen pembawa panji Al-Haq. Kalau untuk memasukkan berita kebaikan ke dalam media professional bernilai mahal kenapa kita tidak memanfaatkan yang murah dan meriah di dunia maya ini. Tulis dan tulislah begitu yang selalu ditekankan.

Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Q.S. Al Israa’:81).



*Home Sweet Home. Sumokaton jumat 07.34.
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

saat cinta terurai jadi laku


by Ken Sri

Jeritan si sweet red tanda panggilan masuk, membuyarkan konsentrasiku yang sedang pijit-pijit. Mencoba redakan kepala yang sedari pagi nyut-nyutan. Kamis 21.46 WIB,

"assalamu'alaykum Bu Nur...," sahutku begitu tahu 'nama' yang nongol di display sweet red.

"wa'alaikumussalam, gimana kabar ibu ukhti?", suara murobbiyahku dari sumokaton sana terdengar.

"Alhamdulillah baik, bu. Lha pripun?", kataku sambil menyimpan heran, ngapain ya bu Nur malem-malem gini nanya kabar ibuku. Tadi sore juga ketemu di liqo, kenapa gak tanya tadi..?

"lha anti sekarang di mana? Ibu dimana?" bu Nur kembali bertanya yang malah menambah heranku.

"saya dirumah, ibu sama bapak lagi pengajian belum pulang," balasku yakin. Sebenernya rada gak biasa juga jam segini belum pulang. Malem-malemnya 21.30 lah. Tapi pikirku mungkin banyak pertanyaan dari jama'ah pengajian, jadi diskusi agak lama.

"lho, katanya ibu jatuh!" pelan saja suara bu Nur.

Blaaarrr....!! Pening kepala langsung buyar berkeping2 tak menyisa. Mak jenggirat!!

"Innalillahi...jatuh gimana bu? Lho kok bu Nur bisa tau!?", tanpa diminta kaki dan tanganku langsung gemetar.

"Saya dikabari ukhti Puji, katanya jatuh gitu. Trus dibawa ke puskesmas Piyungan. Lha tak kira anti sudah disana....," lanju bu Nur

"Belum, bu. Saya belum tau! Ya, ya, matur nuwun. Saya tak segera ke puskesmas."

Honda star butut yang tak bisa lari, kupaksa untuk melesat secepatnya ke puskesmas. Tak ayal, suaranya menderu-deru aleman cari perhatian di jalanan yang mulai lenggang.

Sampai puskesmas, kok sepi?! Ketika kutanyakan pada petugas jaga, ternyata ibu dirujuk ke RSI Hidayatullah. Duh, makin nano-nano rasanya! Separah apakah sampai harus dirujuk ke RS segala? Tak banyak info ku dapat selain bahwa ibu dalam kondisi sadar dan kepalanya membengkak besar. Secepatnya aku balik ke rumah, kasih tau adik yangg belum tau musibah ini, dan segera mengungsikannya ke rumah simbah. Aku minta temeni om tuk ngantar ke hidayatullah. Baru mau berangkat, tiba-tiba ada telpon masuk. Dari pak rusdi ketua dpra srimartani. Pasti ada hal penting sampai beliau telpon malem2 gini (pikirku mungkin tau musibah ini, dan hendak menanyakan kabar ibu).

Dan menang benar, bahkan tak cuma sekedar tau, tapi beliau sudah tiba di RS. Ternyata atas komando bu Nur wakidah, pak Rusdi segera mengecek ke puskesmas. Trus ke Hidayatullah begitu tau dirujuk kesana. Alhamdulillah, aku minta tolong untuk dicarikan info tentang kondisi ibu.

Dalam perjalanan ke RS bu Nur sms, mengabarkan bahwa beliau juga sudah di Hidayatullah. Ibu baru diperiksa, jadi belum tau kondisinya. Gitu kata bu Nur. Meski belum tau kondisi ibu, tapi nyicil ayem. Ada temen-temen disana.

Sampai RS sekitar 22.30. Kujumpai bapak & teman pengajiannya. Ada bu Nur, mbak titi TiQu, pak Rusdi, dan sepasang suami istri yang juga tetanggaku. Kedua bola mata ini memanas, menahan haru. Betapa besar perhatian sodara2 yang tak terikat darah ini...

Belum juga ada info kondisi ibu. Masih di ruang UGD. Saat itulah mengalir kisah dari seorang saksi mata. Sambil berurai air mata bertutur bagaimana kecelakaan terjadi (yang bikin aku makin tak karuan adalah kesehatan ibu yang kurang sip, sedang menjalani rawat jalan atas gangguan jantung & paru2). Dan ternyata sepasang suami istri tetanggaku tadi adalah orang tua penabrak.

23.00-an, mbak puji dengan mata laronnya (ngantuk berat kayanya) datang bersama adiknya.
"ngapain mbak malem-malem gini kesini juga....," sambutku.

"gimana aku bisa tidur, kepikiran ibumu terus...yang sabar ya...," kata teman liqo yang juga tetanggaku ini sambil membelai kepalaku. Ah...ayem rasanya ditemani sodara2 seperti mereka...

23.30-an, kami diijinkan masuk ke ruang UGD. Tubuh ringkih ibu terbaring lemah, dengan 25 jahitan di kepala dan kaki. Malam itu diputuskan rawat inap di RS untuk rontgen dan observasi (ini atas peran bu Nur Wakidah, karna ortu penabrak menginginkan rawat jalan saja. Matur nuwun bu Nur...). Sekitar 24.00, bu Nur, mbak titi TiQu, mbak Puji dan adiknya, pak Rusdi, pamit pulang.

.......

Sampai pagi ini, ibu masih dirawat di Hidayatullah. Dan setiap pagi, mbak titi TiQu mengantarkan bubur untuk ibu serta sarapan untukku. Jazakillah mbak TiQu...

Terimakasih yang terucap hari ini dan hingga kapanpun, tak kan pernah mengimbangi apa yang telah kalian berikan pada kami....

Mohon doanya dari antum semua, agar ibu diberikan kesembuhan yang tiada menyakitkan.


Arafah room. kamis 18/6 07.50 wib

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Mengenal Lebih Dekat KH Hasyim Asy'ari

Menyebut nama KH Hasyim Asy'ari, orang tentu akan berpikir pada pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Tak salah memang, sebab dengan peran sebagai tokoh sentral, NU mampu menjadi organisasi keislaman yang diikuti banyak masyarakat Muslim di Indonesia.

Selain itu, KH Hasyim Asy'ari juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebuireng (Jombang). Namanya juga sangat lekat dengan tokoh pendidikan dan pembaru pesantren di Indonesia. Selain mengajarkan agama pada pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Ia merupakan salah seorang tokoh besar Indonesia abad ke-20.

KH Hasyim Asy'ari dilahirkan pada 14 Februari l871, di Pesantren Gedang, Desa Tambakrejo, sekitar dua kilometer ke arah utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah.

Ayahnya, Kiai Asy'ari, adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang. Sehingga, sejak kecil, ia sudah mendapatkan pendidikan agama yang cukup dalam dari orang tua dan kakeknya. Ia diharapkan menjadi penerus kepemimpinan pesantren.

Mandiri sejak belia
Bakat kepemimpinan Kiai Hasyim sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Ketika bermain dengan teman-teman sebayanya, Hasyim kecil selalu menjadi penengah. Jika melihat temannya melanggar aturan permainan, ia akan menegurnya. Dia membuat temannya senang bermain karena sifatnya yang suka menolong dan melindungi sesama.

Pada 1876 M, tepatnya ketika berusia 6 tahun, Hasyim kecil bersama kedua orang tuanya pindah ke Desa Keras (Diwek), sekitar 8 kilometer ke selatan Kota Jombang. Kepindahan mereka adalah untuk membina masyarakat di sana. Di Desa Keras, Kiai Asy'ari diberi tanah oleh sang kepala desa, yang kemudian digunakan untuk membangun rumah, masjid, dan pesantren. Di sinilah Hasyim kecil dididik dasar-dasar ilmu agama oleh orang tuanya.

Hasyim juga menyaksikan secara langsung cara dan metode Kiai Asy'ari membina dan mendidik para santri. Hasyim hidup menyatu bersama santri. Ia mampu menyelami kehidupan santri yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Semua itu memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertumbuhan jiwa dan pembentukan wataknya di kemudian hari.

Selain itu, sejak kecil Kiai Hasyim juga sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasannya. Pada usia 13 tahun, dia sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar (senior) darinya.

Ia juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandirian yang ditanamkan sang kakek (Kiai Utsman), mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Itu sebabnya, Hasyim selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mencari nafkah dengan bertani dan berdagang. Hasilnya kemudian dibelikan kitab dan digunakan untuk bekal menuntut ilmu.

Pada usia 15 tahun, Hasyim remaja meninggalkan kedua orang tuanya untuk berkelana memperdalam ilmu pengetahuan. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonorejo Jombang, lalu Pesantren Wonokoyo Probolinggo, kemudian Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Trenggilis Surabaya. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Hasyim melanjutkan menuntut ilmu ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan KH Kholil yang dikenal sangat alim.

Setelah lima tahun menuntut ilmu di Bangkalan, pada 1891, Hasyim kembali ke tanah Jawa dan belajar di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, di bawah bimbingan Kiai Ya'qub yang kelak menjadi mertuanya. Ia menimba ilmu di Pesantren Siwalan selama lima tahun.

Semangatnya dalam menuntut ilmu membawa dirinya sampai ke tanah suci, Makkah. Selama di Makkah, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syeikh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Mahfudzh at-Tirmasi (Tremas, Pacitan), Syekh Khatib al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Amin al-Athar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said al-Yamani, Syekh Rahmatullah, dan Syekh Bafaddhal.

Sejumlah Sayyid juga menjadi gurunya, antara lain Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, Sayyid Alwi al-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, dan Sayyid Husain al-Habsyi yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Di antara mereka, ada tiga orang yang sangat memengaruhi wawasan keilmuan Kiai Hasyim, yaitu Sayyid Alwi bin Ahmad al-Segaf, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Syekh Mahfudzh al-Tirmasi.

Pada saat tinggal di Makkah ini, Kiai Hasyim dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram bersama tujuh ulama Indonesia lainnya, seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Selama di Makkah, beliau mempunyai banyak murid yang berasal dari berbagai negara. Di antaranya ialah Syekh Sa'dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India), Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah), Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria), KH Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH R Asnawi (Kudus), KH Dahlan (Kudus), KH Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH Shaleh (Tayu).

Dan, bersama KH Wahab Hasbullah (Tambakberas), KH Bisri Syansuri (Denanyar), serta KH Bisri Musthofa (Rembang), KH Hasyim Asy'ari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), sebagai wujud perjuangan para ulama dalam membimbing umat sekaligus melawan penjajah Belanda. Beberapa saat setelah merdeka, Kota Surabaya yang ingin direbut kembali oleh penjajah, mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Bersama Bung Tomo, KH Hasyim Asy'ari menyerukan perang jihad melawan Belanda.

Dan selanjutnya, melalui organisasi ini pula, nama KH Hasyim Asy'ari berkibar. Ketokohan dan keilmuan yang dimilikinya menempatkannya sebagai ulama teratas di Indonesia. Tak heran pula bila kemudian beliau mendapat julukan sebagai Hadratus Syekh (penghulu para syekh/ulama). dia/sya/berbagai sumber


Menjadi Pendidik Sejati

KH Hasyim Asy'ari juga dikenal sebagai seorang pendidik sejati. Hampir sepanjang hidupnya, dirinya mengabdikan diri pada lembaga pendidikan, terutama di Ponpes Tebuireng, Jombang. Saat ini, Ponpes Tebuireng diasuh oleh cucunya, yaitu KH Sholahuddin bin Wahid bin Hasyim, yang akrab disapa dengan Gus Sholah. Gus Sholah adalah adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden RI keempat.

Awalnya, pada 1899, Kiai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih berjarak satu kilometer. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu sebagai tempat tinggal.

Dari bangunan kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Bagian depan dari bangunan bambu ini digunakan oleh Kiai Hasyim sebagai tempat mengajar dan shalat berjamaah. Sedangkan, bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Pada awal berdiri, jumlah santri yang belajar baru delapan orang, dan tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang.

Selain ahli dalam bidang agama, Kiai Hasyim juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran. Di dunia pendidikan, ia merupakan seorang pendidik yang sulit dicari tandingannya. Ia menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk mengajar para santrinya.

Kegiatan mengajar ia mulai pada pagi hari, yakni selepas memimpin shalat subuh berjamaah. Ia mengajarkan kitab kepada para santri hingga menjelang matahari terbit. Di antara kitab yang diajarkan setelah subuh adalah al-Tahrir dan Al-Syifa fi Huquq al-Musthafa karya al-Qadhi 'Iyadh.

Kemudian setelah menunaikan shalat dhuha, Kiai Hasyim kembali memberikan pengajaran kitab kepada para santrinya. Namun, sesi pengajaran pada waktu ini khusus ditujukan bagi para santri senior. Kitab yang diajarkannya, antara lain, Kitab al-Muhaddzab karya al-Syairazi dan Al-Muwatta karya Imam Malik. Pengajian untuk santri senior ini biasanya berakhir pada pukul 10.00.

Selepas shalat zuhur, beliau mengajar lagi sampai menjelang waktu ashar. Kegiatan mengajar ini, ia lanjutkan setelah shalat ashar hingga menjelang maghrib. Kitab yang diajarkan adalah Fath al-Qarib. Pengajian ini wajib diikuti semua santri tanpa terkecuali. Hingga akhir hayatnya, kitab ini secara kontinu dibaca setiap selesai shalat ashar.

Kegiatan mengajar para santrinya, baru ia mulai kembali setelah shalat Isya. Ia mengajar di masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tasawuf dan tafsir. Di bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Ghazali, dan untuk tafsir adalah Tafsir Alquran al-Adzim karya Ibnu Katsir.

Dalam hal menjalankan praktik ibadah, Kiai Hasyim senantiasa membimbing para santrinya. Ini terlihat dalam rutinitas harian beliau yang kerap berkeliling pondok pada dini hari hanya untuk membangunkan para santri agar segera mandi atau berwudhu guna malaksanakan shalat tahajud dan shalat subuh.

Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng. ''Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, minimal mengajar ngaji,'' demikian isi pesan Kiai Hasyim kepada para santrinya.

Sistem pengajaran
Sejak awal berdirinya hingga tahun 1916, Pesantren Tebuireng menggunakan sistem pengajaran sorogan dan bandongan. Dalam sistem pengajaran ini, tidak dikenal yang namanya jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam). Materinya pun hanya berkisar pada materi pengetahuan agama Islam dan Bahasa Arab. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Jawa dengan huruf pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa).

Seiring perkembangan waktu, sistem dan metode pengajaran pun ditambah, di antaranya dengan menambah kelas musyawarah sebagai kelas tertinggi. Santri yang berhasil masuk kelas musyawarah jumlahnya sangat kecil, karena seleksinya sangat ketat.

Baru kemudian pada 1916, KH Ma'shum Ali--salah seorang menantu Kiai Hasyim--mengenalkan sistem klasikal (madrasah). Mulai tahun itu juga, Madrasah Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan sifir awal dan sifir tsani, yaitu masa persiapan untuk dapat memasuki madrasah lima tahun berikutnya.

Para peserta sifir awal dan sifir tsani dididik secara khusus untuk memahami bahasa Arab sebagai landasan penting bagi pendidikan madrasah lima tahun.

Mulai tahun 1919, Madrasah Tebuireng secara resmi diberi nama Madrasah Salafiyah Syafi'iyah. Kurikulumnya ditambah dengan materi Bahasa Indonesia (Melayu), matematika, dan geografi. Lalu pada 1926, pelajaran ditambah dengan pelajaran Bahasa Belanda dan Sejarah. dia/berbagai sumber


Karya Sang Ulama

Selama hidupnya, KH Hasyim Asy'ari banyak menulis karya, diantaranya :

1. Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial (1360 H).

2. Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’ (1971 M).

3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat.

4. Mawaidz (Beberapa Nasihat). Berisi tentang fatwa dan peringatan bagi umat (1935).

5. Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’lyah Nahdhatul Ulama’. Berisi 40 hadis Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama’.

6. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin (Cahaya pada Rasul), ditulis tahun 1346 H.

7. At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran, tahun 1355 H.

8. Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Risalah Ahl Sunnah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan sunnah dan bid’ah.

9. Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani. Catatan seputar nazam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasir.

10. Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan.

11. Ad-Durrah al Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘Asyarah. Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah. Tahun 1970-an kitab ini diterjemahkan oleh KH Tholhah Mansoer atas perintah KH M Yusuf Hasyim, diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus.

12. Al-Risalah fi al-’Aqaid. Berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya, bekerja sama dengan percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir tahun 1356 H/1937 M.

13. Al-Risalah fi at-Tasawwuf. Menerangkan tentang tashawuf; penjelasan tentang ma’rifat, syariat, thariqah, dan haqiqat. Ditulis dengan bahasa Jawa.

14. Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaih al-Muta’allim fi Ahwal Ta’limih wama Yatawaqqaf ‘alaih al-Muallim fi Maqat Ta’limih. Tatakrama pengajar dan pelajar. Berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik, merupakan resume dari Adab al-Mu’allim karya Syekh Muhammad bin Sahnun (w.256 H/871 M); Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq at-Ta’allum karya Syeikh Burhanuddin al-Zarnuji (w.591 H); dan Tadzkirat al-Saml wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Syeikh Ibn Jama’ah.

Selain kitab-kitab tersebut di atas, terdapat beberapa naskah manuskrip karya KH Hasyim Asy'ari yang hingga kini belum diterbitkan. Yaitu:
1. Hasyiyah ‘ala Fath ar-Rahman bi Syarh Risalah al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari.
2. Ar-Risalah at-Tawhidiyah
3. Al-Qala’id fi Bayan ma Yajib min al-Aqa’id
4. Al-Risalah al-Jama’ah
5. Tamyiz al-Haqq min al-Bathil
6. al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus
7. Manasik Shughra

sumber: republika online
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

setitik tinta dari pena sejarah

Rabu, 17 Juni 2009


by salwangga
saudaraku, bahagia bener baca postingan tulus begini. soal kemampuan bisa dilatih. bisa diasah. modal utama hanya kemauan.

kalau ada yang bilang dimana ada kemauan disitu ada jalan, sal lebih suka bilang, bersama kemauan ada jalan. bersama kesulitan ada kemudahan. bareng, gitu.

tulisan penuh warna memang bukan sesuatu yang mudah. menggaet pembaca sejak paragraf pertama juga bukan hal yang gampang. semua itu cuma satu saja jalan mesti ditempuh. "tulis. evaluasi. tulis. tulis. tulis. dan tulis." nulisnya lima kali, sementara evaluasinya cuma sekali. satu banding lima.

banyak yang terjebak pada evaluasi, sehingga hasilnya itu-itu aja. diotak-atik doang. gak nambah-nambah.

percaya deh, blog ini udah menjadi favorit para bludas-bluduser yang doyan keluar masuk di komunitas dunia maya.

pernah dengar gak kata-kata ini, "Kun 'aliman aumuta'alliman aumustami'an aumuhibban walatakunu khomisan fatahlik."

dadio sirokabeh iku wongseng ngajar yoiku dadi guru ngaji utowo ustadz yen ora biso dadio wongkang ngudi ilmu belajar dadi murid utwo santri nggowo tas nggowo pulpen lang ngowo buku kanggo nulis ilmu kaweruh, yen ora biso dadio wongkan tukang ngrungokake ucapan pitutur bagus kanggo tambahaing ilmu gampange sering melok jama'ah pengajian midangetake nasehati poro ulama' lan kyai. hewo semono ugo durung iso nglakoni dadio simpatisan yaiku seneng karo wonkang alim wongkang ngudi ilmu lan poro jamaah pengajian

kalau pembaca ada yang bingung, admin wajid nerjemahin.

singkatnya, anjuran utama dalam hidup itu jadilah guru. ustadz. maknanya luas. jangan dipersempit. jangan diartikan seorang yang pergi pagi kesekolah atau kemadrasah untuk ngajar di depan murid.

tapi, memberikan nasehat. setiap ilmu yang ditularkan -entah dengan cara apapun, termasuk juga menulis- sudah bisa disebut ustadz.

seseorang yang "mengajarkan walaupun satu ayat", itulah ustadz. pengajar. pembimbing. sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, "sampaikan dariku walau satu ayat", dirangkai dengan ucapan ali bin abithalib, "ikatlah ilmu dengan menuliskannya".

menulis di blog seperti ini, sudah merupakan pengajaran. dan, sal sangat setuju bahkan kangen bener kalau lama gak ada postingan kiprah rekan-rekan pks piyungan. udah gitu, ini juga menjadi indikator bahwasanya, politik itu hanya sekedar numpang lewat doang. sekedar warna 'lain'. intinya mah, dakwah. menyampaikan. menjadi somebody. seseorang yang diperhitungkan. the true moslem.

"sudah saatnya umat islam mewarnai langitnya sendiri. selama ini terlalu sering (pewarnaan langit itu) dilakukan oleh non moslem. dan, islam hanya menajadi buih. atau, akan seperti itu terus?". sengaja paragraf ini sal kasih tanda kutip. karena, maknanya sedikit tersembunyi.

kalau dulu, yang namanya ngajar tuch mesti ketemu langsung. face to face. zaman kian berkembang dan rahasia allah makin banyak terungkap semakin hari. bermacam teknologi dan kemudahan (buat manusia) kian banyak. salah satunya, ya "dunia maya" ini.

banyak pembelajaran bisa dipetik dari postingan reportase bermacam kegiatan seperti ini loh. sesingkat apapun itu. bahkan walaupun sekedar tulisan, "hari rabu, tanggal 24 june 2009, lokasi pasar piyungan. acara, bakti sosial pembagian sembako gratis. total bingkisan 75. acara berlangsung tertib", ini sudah termasuk pembelajaran. hanya saja, "bagi orang-orang yang berfikir" tentu saja.

"darahnya syuhada di medan perang memang mulia. tapi, lebih mulia lagi tintanya ulama", ada yang bilang begitu. karena lupa siapa dan dalam konteks apa, sal asal tulis aja. wafatnya pahlawan di medan laga, syahid insya allah, hanya saja, keutamaan dan kemuliaan itu hanya untuk diri sendiri. sementara, kalau seorang ulama, seorang terpelajar, seorang yang berilmu, seorang yang berwawasan, nulis hal yang baik-baik. hal yang bener. hal yang ngajak pada maslahat. trus, dari tulisan itu menggerakkan hati yang ngebaca. trus, nyang ngebaca jadi tersentuh. trus, jadi tergerak buat nggerakin yang lain lagi. tuch, mulianya disitu.

bintang memang bersinar terang, hanya saja terlalu jauh. walaupun sinar itu berasal dari bintang itu sendiri, tapi, hanya sebatas menyinasi diri sendiri. walaupun rembulan itu hanya memantulkan sinar, toch sinar itu nyampai ke bumi. banyak manusia menikmati. itu analoginya.

yakinlah, postingan segala kegiatan sosial kemasyarakatan maupun religi, sangat di tunggu di blog ini. jadi, apakah masih ragu untuk rajin nulis postingan berbagai repostase lagi?

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Hunting with Ungu

Selasa, 16 Juni 2009

by admin
Kagum. Takjub. Saya kira kata yang tepat untuk membayangkan kehebatan ulama-ulama salafussholeh semisal Ibnu Katsir, Ath-thobari, Imam Annawawi. Atau ulama kontemporer semisal Yusuf Qordhowi, Sayyid Quthub yang mereka semua telah menulis beribu-ribu lembar kitab-kitab yang sekarang dan masa nanti tetap menjadi rujukan dan panduan umat Islam. Berjuta kata telah dirangkai menjadi samudera ilmu yang sangat bermanfaat.

Kekaguman ini perlu saya ketengahkan untuk mengingatkan diri pribadi dan menjadi oase untuk terus merangkai kata di dunia maya. Memang jauh dan tidak bisa seujung kukupun dibandingkan dengan maha karya para ulama. Namun tidak berbuat apa-apa juga bukan pilihan selagi asa tetap ada. Untuk itulah malam ini saya menyempatkan mampir usai acara liqo (usr) ke Ros-Net . Warnet yang terletak di jl wonosari km 10 dekat prapatan sampakan.

Dari ba'da maghrib saya sudah merancang untuk membuat postingan rekap kegiatan DPRa dan DPC. Liputan kegiatan terakhir kami terima dari reporter lapangan adalah kegiatan PWK Srimartani di dusun Poitan (7 Juni) yang diemail oleh Ken Sri, penulis tetap yang rangkaian kata-katanya begitu hidup, mengalir dan enak dicerna (walaupun beliaunya suka rada sebel kalau judulnya diganti oleh admin). So, sudah semingguan lebih belum ada new reporting. Bukan karena tidak ada kegiatan, tapi kayaknya reporternya lagi macam-macam. Maksudnya reason-nya beraneka rupa.

Dari dpra srimulyo, akh andi tw ketua dpra melaporkan kalo internetnya lagi error. Ukhti Taniza SyamiL yang ditugasi juga belum ada infonya. Mudah2an sich sehat aja. Coz, beliaunya pernah laporan kalo soal kesehatan yg sering mengendala. Dari Sitimulyo, TiQu yang suka laporin kegiatan PWK lagi zuper zibux kerjaan di kantor plus di rumah. Afwan jiddan, katanya. Akh BDE yang bagian liputan ikhwan sitimulyo juga absen pas ada kegiatan dpra, jadi? akan diusahakan ngorek info dari yang hadir. Srimartani? Kalo yang ikhwan emang pekan ini belum ada kegiatan. PKWnya? ada kegiatan tapi.... ibunda Ken Sri kemaren kecelakaan. Syafakillah.

Setelah menimbang, mengingat, memperhatikan berbagai konsideran kondisi aktual yang ada maka akhirnya menetapkan bahwa admin membuat rekap kegiatan yang belum sempat dibuat liputannya. Jadilah ba'da maghrib tadi dimulai hunting berita ke nara sumber primer maupun sekunder. via sms dan calling. Kegiatan srimulyo nelpon andi tw ketua dpra. Sitimulyo hubungi akh parman dan TiQu. Srimartani sms bu nur wakidah. Ini dia harta karun yang berhasil diselamatkan.

SITIMULYO:
- Ada TRP (Temu Kader) kayaknya perdana pasca pemilu. bertempat di Minolestari ahad kemarin (14/6). pagi hari. yang hadir tiga puluh sembilan kader.
- PWK juga hari Ahad (14/7) langsung di dua lokasi dengan jam yang sama. Dusun gentingsari dan babadan.

SRIMULYO:
- Temu saksi tapi gabungan dengan sitimulyo. bertempat di balai desa srimulyo. acaranya udah lama hari Jumat malam 5 Juni yang lalu. emang udah bulukan tuh.
- kalo yang gres N fresh ya tadi sore selasa 16 juni. acara pwk di dusun klenggotan. Sebelumnya ahad kemaren (14/6) pwk srimulyo juga ngadain kegiatan di dusun ngangkruk.
- yang juga belum diliput kegiatan yankes (pelayanan kesehatan) Ahad 7 juni 2009 di dusun Bangkel.

SRIMARTANI:
- Hanya ada satu kegiatan teranyar yang belum diliput yaitu pwk di dusun Tambalan hari sabtu 13 juni. Katanya rame bikin kacang atom.

DPC:
- Temu Murobbi ikhwan akhwat yang berlangsung di rumah bu nur wakidah sumokaton pada Sabtu sore 13 juni. Masih tiga agenda pokok: Tarbiyah, Munakahat, dan Perekonomian kader. Info singkat dana qordul hasan 25 jt sudah terserap 90%. Maksimal per kader 2 jt utk pemerataan. Beraneka macam jenis usaha. Mayoritas peternakan. Bebek, gemak, lele. Ada juga usaha percetakan. dan wirausaha yang lain.

Itu tuh hasil perburuan singkat jadi ceritanya juga serba irit. Mudah-mudahan para reporter mau berbagi cerita yang penuh warna. biar tidak terlena oleh dunia.

Jam di hp-ku menunjuk angka 23.21 wib. Tadi mulai ngetik 22.28. Jadi, hanya untuk nulis beberapa kata aja udah ngabisin lima puluh tiga menit. Memang jan-jane bukan bakat nulis. Btw, ngomong-ngomong tentang bakat nulis ternyata setelah ada blog ini paling tidak admin jadi tahu bakat kader-kader piyungan yang luar biasa. Menulis mungkin bukan soal bakat saja (kemampuan), tapi terbesar pada kemauan.

pernahkah kau merasa hatimu hampa
pernahkah kau merasa hatimu kosong

alunan ungu seantero warnet mengiringi bunyi tut keybord. menemani admin yang mencoba tidak lalai menunaikan kewajiban update.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

BLT & Utang Luar Negeri

Senin, 15 Juni 2009

pengantar:
Setelah issue Neolib yang mulai mereda muncul issue baru 'Utang Luar Negeri' turut meramaikan perhelatan Pilpres 2009. Beberapa kalangan menyoroti Utang Negara RI yang semakin bertambah dan juga rumor kalau dana BLT berasal dari Utang Luar Negeri. Rumor ini dipakai untuk menyerang pemerintahan SBY sebagai capres incumben.

Agar pembaca (kader, simpatisan, atau siapapun) lebih 'dong' atau 'ngeh' terhadap problematika indonesia (negara tercinta yang ingin kita perbaiki) dan juga biar tidak kuper serta itung-itung buat nambah tsaqofah baru, berikut kami nukilkan seputar masalah Utang Negara yang kami comot dari tempointeraktif.com.[admin]
---

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto sejak 1999 hingga sekarang terus menurun.

Pada 2000, rasio utang terhadap produk domestik bruto sebesar 89 persen, tapi tahun lalu turun menjadi 33 persen. Untuk tahun ini, rasio itu diproyeksikan turun lagi menjadi 32 persen.

Sri Mulyani kemarin (Sabtu, 13/6) menjelaskan posisi utang Indonesia kepada pers di gedung Direktorat Jenderal Pajak. Utang yang bertambah, menurut dia, tetap aman selama produk domestik bruto meningkat.

Sejak 1997, ia menambahkan, pemerintah melakukan diversifikasi instrumen utang untuk mengurangi risiko melalui pinjaman bilateral, multilateral, dan Surat Utang Negara. Pinjaman-pinjaman itu memiliki persyaratan lunak dan tidak ada agenda politik yang dipersyaratkan pihak kreditor.

Adapun lembaga yang paling banyak memberikan pinjaman ke Indonesia adalah Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank Pembangunan Islam, serta Japan Bank for International Cooperation.

Menurut Sri Mulyani, pinjaman itu masuk ke satu rekening pemerintah di Bank Indonesia, bercampur dengan penerimaan negara lainnya, misalnya pajak.

"Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara nanti yang akan mengeluarkan penerimaan itu untuk kegiatan negara setiap bulan yang rata-rata mencapai Rp 16 triliun," katanya.

Utang, menurut Menteri Sri, merupakan instrumen utama pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara untuk menutup defisit dan untuk membiayai kembali utang sebelumnya yang jatuh tempo.

Pembiayaan melalui utang merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang lazim dilakukan oleh setiap negara.

"Pembiayaan defisit anggaran dengan utang juga merupakan keputusan politik antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat," ujar Sri Mulyani.

Ditanya tentang penghapusan utang, Menteri Sri mengatakan Indonesia tidak bisa meminta opsi itu karena hanya disediakan untuk negara dengan pendapatan kurang dari US$ 600 per kapita atau highly indebted poor countries. Pendapatan Indonesia saat ini US$ 2.246 per kapita.

Sri Mulyani kemarin juga membantah pernyataan yang menyebutkan bantuan langsung tunai (BLT) berasal dari pinjaman luar negeri. Sejak 2005, BLT menggunakan kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak. Untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, barulah pemerintah memakai komponen utang.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di DPR pada Rabu lalu sudah membantah pernyataan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution sehari sebelumnya bahwa pembiayaan bantuan langsung tunai berasal dari utang luar negeri.

Ia menjelaskan, pemerintah tidak bisa membedakan asal uang yang berada di anggaran negara. Sebab, dana dari utang dan penerimaan negara berkumpul dalam satu rekening. Tapi program seperti BLT tidak diambil dari dana pinjaman proyek yang berasal dari lembaga donor internasional.

Calon wakil presiden dari Partai Demokrat, Boediono, juga membantah tudingan bahwa dana bantuan langsung tunai berasal dari utang luar negeri. "Dana itu diambilkan dari dana kompensasi subsidi bahan bakar minyak," katanya di Malang, Kamis lalu.

Menurut Boediono, BLT dirumuskan saat pemerintah menaikkan harga bahan bakar untuk mengurangi subsidi. Hasil dari pengurangan subsidi itulah yang dipakai untuk program BLT.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Kenapa Harus LANJUTKAN?

Sabtu, 13 Juni 2009


by admin
PKS tak keliru untuk berkoalisi dengan SBY. Sebagai partai yang dikenal dengan citra bersih anti KKN (bahkan terbaru fraksi PKS menolak hadiah purnabakti anggota DPR berupa cincin emas), PKS memilik visi dan misi yang sama dengan SBY dalam hal pembentukan pemerintah yang bersih anti KKN.

Pemerintahan yang bersih dan bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme merupakan tujuan yang akan dibangun oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono agar Indonesia dapat menjadi lebih baik.

"Saya telah sampaikan apa yang mesti kita lakukan ke depan, pemerintahan yang baik, bersih, anti-KKN dan bertanggung jawab adalah harga mati karena rakyat ingin dari presiden-wapres dan pejabat pemerintah lainnya adalah pejabat yang baik dan bersih. Jangan kita angan-angan mengubah Indonesia kalau pemerintah tidak bersih dan amanah," kata SBY saat kampanye di GOR Ken Arok Malang, Jawa Timur, Jumat (11/6) sore. [republika, 13/6]

Dikatakannya, negeri ini memerlukan pemerintahan yang bersih dan baik. Di waktu lalu, krisis ekonomi terjadi karena pemerintahan dan praktik kehidupan bernegara diwarnai KKN.

Menurutnya, pemerintahan lima tahun ke depan harus bersih untuk menjamin masa depan bangsa yang semakin maju. "Apabila pejabat pemerintahan melaksanakan bisnis sambil menyalahgunakan kekuasaan pemerintahan, itu tidak punya masa depan yang baik," katanya. SBY menambahkan, tidak salah bila pejabat berbisnis, namun harus mengindahkan aturan yang ada dan tidak merajalela.

Pada safari kampanye pilpres perdana pasangan SBY-Boediono ini hadir pula empat politisi yang mewakili parpolnya masing-masing menegaskan dukungannya. Yakni Presiden PKS Tiffatul Sembiring, Ketum DPP PPP Suryadharma Ali, Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan.

Tifatul Sembiring menegaskan bahwa parpol yang dia pimpin sudah mantap mendukung SBY-Boediono. Penyebab utamanya adalah PKS menolak berkoalisi dengan parpol yang masih kental dengan mental orba.

"Apa itu? Yaitu yang kadernya paling banyak ditangkap KPK. Dia itu menyalahgunakan kekuasannya," tandas Presiden PKS itu.

Anda ingin pemerintahan yang bersih bebas KKN? LANJUTKAN...!!

----

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Oleh Anis Matta*
RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***



*diambil dari buku Anis Matta: 'Menikmati Demokrasi' (cetakan 1, Juli 2002)

nb: Ustadz Anis memang seorang yang briliant, visioner. Jauh lama sebelum 'hiruk pikuk' prahara jama'ah seperti yang sekarang ini, beliau sudah memberi guide bagi jama'ah ini agar tetap eksis, kokoh dalam menghadapi 'segala kemungkinan yang bakal terjadi'. [admin]

---
sumber: http://pkskrukut.multiply.com/journal/item/49
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner