NEWS UPDATE :

TAUJIH SYAR’I: Landasan Syar'i Koalisi PKS

Jumat, 29 Mei 2009




Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.

----


TAUJIH SYAR’I

MENIMBANG KEMASLAHATAN LEBIH BESAR

1. Dinul Islam tidak semata-mata diturunkan melainkan untuk kemaslahatan semesta, sebagaimana firman Allah SWT tentang missi Rasul saw.

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya: 107)

Dan firmanNya:

“…Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al Maidah: 6)

2. Apabila kemaslahatan untuk semua orang tidak dapat dicapai, maka perintah syara’ adalah agar mengupayakan kemaslahatan yang lebih besar. Sebagaimana firman Allah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.“ (Al baqarah: 217)

Ayat ini mentoleransi atau bahkan mendispensasi untuk melancarkan peperangan di bulan haram, padahal status hukum asalnya haram, tapi untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi da’wah Islamiyah (bahkan umat manusia) maka mengambil inisiatif menyerang sekalipun adalah langkah yang dibenarkan oleh syara’. Kemaslahatan yang lebih besar itu berupa dapat dilumpuhkan atau dihancurkannya kekuatan yang menghalangi da’wah fisabilillah. Zhuhurnya institusi kekufuran, penodaan terhadap tempat suci al Masjidil Haram, pengusiran kaum muslimin dari rumah dan kampung halaman mereka. Dan secara umum setiap bentuk upaya memesongkan manusia dari ‘aqidah Islamiyah merupakan “Fitnah” yang lebih dahsyat dari membunuh musuh di bulan terlarang.

3. Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.

Adalah Rasulullah saw manakala diberi pilihan antara dua perkara yang halal, tidak mengandung dosa di dalamnya, maka beliau memilih mana yang lebih maslahat, lebih ringan baik tenaga, waktu atau biayanya. Sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah:

“Tidaklah Rasulullah saw. memilih antara dua perkara kecuali ia memilih yang paling ringan selama bukan dosa".

4. Apabila kewenangan untuk mempertimbangkan dan memilih mana yang diperhitungkan akan dapat lebih membawa maslahat itu dimandatkan kepada seseorang melalui TAUKIL atau WAKALAH, maka pihak wakil berhak dan tidak boleh dipersalahkan ketika menjatuhkan pilihan tertentu yang masih dalam lingkup wakalahnya.

Ini berlaku untuk pemberian mandat khusus ataupun mandat umum, meskipun pihak penerima mandat sebagai perseorangan. Terlebih apabila mandat itu diberikan kepada suatu tim, satu majmu’ah atau grup dan struktur yang berposisi sebagai pemimpin (qiyadah) yang terpilih. Ijtihad individual/fardi dari anggota tidak boleh menjadi alternatif bagi ijtihad qiyadah, apalagi melikwidasinya. Di atas otoritas wakalah tersebut, ijtihad dan pilihan yang diambil qiyadah dalam menimbang (muwazanah) antara kemaslahatan, diperkuat pula dengan otoritas kewajiban ta’at (wujubul tha’ah) kepada ulil amri yang diperintahkan Al Quran Surah Annisa, ayat 59.

5. Kemaslahatan itu ada yang berupa khasiat/manfaat sesuatu yang kita pakai atau konsumsi secara fisik, hal ini dipertimbangkan berdasarkan empiric dan keahlian atau spesialisasi.

Taujih al Quran menegaskan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw:

“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al A’raf: 157)

6. Pilihan yang dibuat sering harus diberlakukan juga antara beberapa kemungkinan yang bakal terjadi, melalui analisis konsekwensi atau dampak kedepannya atau kajian “Fiqh al Maalat”. Perbuatan yang jaiz bahkan ada kebaikannya ternyata dilarang oleh al Quran jika berdampak langsung (dzari’ah) menimbulkan hal hal yang jauh lebih merugikan, lebih mafsadat atau madharat.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Al An’am : 108)

Dalam hal keniscayaan mempertimbangkan apa yang bakal atau diperhitungkan terjadi di masa yang akan datang, pembenaran terhadap tindakan Khidir dalam al Quran adalah relevan untuk dikemukakan.

“Dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (Al Kahfi: 80 81)

Dalam konteks siyasah syar’iyah, imam Ibnu Taimiyah merekomendasikan pilihan figure untuk suatu pos jabatan public, baik berupa pasangan atau satu pos tertentu. Ia minta agar mencontoh pasangan para khularaurrrasyidin yang mendapat taufiq Allah. Sosok Abu Bakar yang lembut lebih maslahat berpasangan dengan sosok Umar yang streng. Model Umar yang strik lebih maslahat berpasangan dengan Abu Ubaidah, bukan dengan Khalid bin Walid. Untuk posisi qadhi ia menyarankan sosok ‘alim yang berani meskipun agak kurang amalan sunatnya, untuk mufti ‘alim yang wari’ meski kurang berani. Sedang untuk seorang panglima atau komendan mengajukan orang yang kuat pemberani meskipun kurang ke’aliman dan amalan sunatnya.

7. Contoh dari Ibnu Taimiyah di atas sekaligus cocok untuk wawasan tentang
mempertimbangkan mana yang dampaknya pribadi dan mana yang berdampak umum.
Kesalehan yang berfsifat pribadi maslahatnya terbatas untuk diri pribadinya, sedang
kesalehan atau kethalehan (ketidak salehan) yang akan berdampak umum harus lebih
dipertimbangkan. Ini sesuai dengan arahan Rasulullah saw tentang shalat dan jihad
bersama seorang imam betapapun juga akhlaqnya.

Jangan tinggalkan shalat berjama’ah bersama seorang sulthan meski ia seorang yang
tidak baik (fajir), karena bagi ma’mum tetap untung tidak ada ruginya. Sebab kefajiran pribadi Sulthan dalam hal shalat jama’ah- bisa jadi pengurang pahala bagi dirinya, sedang kemaslahatan serta pahala shalat jama’ah tetap didapat oleh ma’mum tanpa berkurang. Sama halnya dengan jihad besama Sulthan yang fajir, kefujurannya merugikan dirinya sedangkan kemaslahatan jihad melumpuhkan musuh da’wah adalah untuk umum.

Karena itu, fuqaha membuat kategorisasi antara kebaikan yang terbatas (al khairul qashir) dengan kebaikan yang berdampak luas (al khairul muta’addi). Dalam konteks
kemaslahatan umum yang luas “al khairul muta’addi” yang harus lebih dipertimbangkan,
sedangkan “al khairul qashir” kalau ada ya tentu lebih baik dan memperelok. Jika tidak terpenuhi kedua-duanya, kebaikan pribadi mungkin bisa diupayakan/didorong dengan perjalanan waktu bahkan bisa ditoleransi. Tidak demikian halnya dengan yang berdampak umum, kepositipan atau kenegatipan, bukan perkara yang bisa ditoleransi dan diserahkan kepada proses waktu.

8. Dalam menapaki “al jihadu sabiluna” menuju “Allahu ghayatuna”, ada keharusan
selalu memadukannya dengan do’a, sebaliknya do’a harus berpadu upaya. Di sektor
siyasah maka jihad siyasi yang kita tempuh dengan sabar punya target idaratul daulah (memperbaiki negara). Memang ada kesamaan dengan kekuatan politik lain, tapi kita wajib memastikan bahwa jihad siyasi ini berbeda. Sebagaimana arahan Kitabullah SWT:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Assajdah: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa imam adalah sulthan, sulthan adalah imam.
Keteladanan sebagai imam dalam hal bersih peduli dan professional, kita bina dengan segala kesabaran, untuk mampu membawa masyarakat pada kehidupan yang yang berjalan menurut guidance Allah, sehingga Allah ridha kepada kita dan kitapun ridha kepadaNya.

"Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

---
sumber: pk-sejahtera.org

*format PDF aseli dari sumbernya silahkan klik ini.

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

berbagi tiada tepi


by salwangga
enak bener ya, dapat julukan baru 'mbak pks', he...he..he... tanpa tumpeng pula. wah, bisa tenar dengan nama baru tuch.

'torama', istilah bikinan siapa tuch. terserah aja dah, mau dinamain apa. pokoknya makanan gitu kan?

lagi pula yang namanya tomat tuch diolah bagaimanapun tetap saja namanya tomat. soal citarasa, terserah lidah masing-masing. enak itu relatif. kalau lapar, apa aja jadi enak. tapi, kalau pembuatannya dengan cinta, waduh, tidak bakalan ada yang ngalahin rasanya.

berbagi itu juga pertanda cinta loh. jangan dibelokin dengan cinta kayak disinetron gitu ya. asumsinya disini -cinta- ialah kekerabatan. berbagi. ya pengalaman, ya keterampilan.

sal setuju tuch, hanya orang yang gemar berbagi yang jiwanya tak pernah mati. lihat aja, tuch pohon kurma.

ketika itu, masa-masa turunnya islam dan awal kenabian rasulullah. dalam suatu majelis bersama para shahabat, beliau berucap, "pohon apa yang paling baik"

para sahabat diam, ada juga yang mencoba menjawab. tapi, salah. kemudian rasulullah saw bersabda,"pohon korma. tidak ada yang dipersembahkan olehnya kecuali kebaikan. manfaat."

kalau dipikir, bener juga tuch. coba lihat aja ketika ada anak kecil nimpuk tuch pohon. bukan dibales sama timpukan malah dikasih buah. kalau manusia ditimpuk, lantas bagaimana?

ya tergantung. kalau akhwat pks yang ditimpuk, palingan di kasih senyum. tuch, hebatnya akhlak islam. hasil dari gemar berbagi. tapi, kalau nimpuknya keterlaluan,ya wajib dibales. soal harga diri ini mah.

"balaslah dengan setimpal", kata rasulullah, "dengan mengikhlaskannya dan bersabar, itu lebih baik bagimu". gitu kan terusannya.

jadi, semakin ramai tulisan tentang kiprah -keterampilan- di blog ini, makin bagus tuch. berbagi, emang tiade matinye!

tulis, tulis, tulis, tulis, dan tulis. pokoknya tulis! berani?
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Bayanat DPP PKS Tentang Pilpres 2009

BAYANAT
NOMOR : 01/B/K/DPP-PKS/VI/1430
TENTANG
PILPRES 2009

1. Sidang Majelis Syuro PKS ke XI pada tanggal 25-26 April 2009 memutuskan :
a. Untuk berkoalisi dengan SBY dan Partai Demokrat dalam Pilpres 2009, APABILA kontrak politik dapat disepakati bersama
b. PKS Memperjuangkan Cawapres dari Internal dalam amplop tertutup, namun cawapres bukanlah merupakan syarat koalisi.
c. Jika syarat minimal koalisi (termasuk kerjasama berbasis platform dalam kabinet dan parlemen) tidak dipenuhi secara proporsional maka DPTP berhak mengambil kebijakan sesuai dengan kemaslahatan dakwah,umat, bangsa, dan Negara.

2. Kesalahpahaman sebelumnya terjadi karena tersumbatnya komunikasi dengan SBY paska pemberitahuan bahwa SBY memilih Boediono sebagai Cawapres. Sementara kita mengusulkan adanya keterwakilan umat.

3. Hasil pertemuan PKS dengan SBY pada tanggal 15 Mei 2009 di Bandung telah diklarifikasinya isu-isu seputar Boediono dan disepakatinya kontrak politik dengan SBY dan Partai Demokrat. Kontrak Politik berlandaskan platform terlampir.

4. Terkait pribadi Prof. Boediono, beliau adalah seorang muslim dan tidak berpandangan Neolib, bahkan Undang-Undang Perbankan Syari’ah dan Undang-undang Sukuk (Obligasi Syari’ah) digulirkan semasa ybs menjabat Menko Ekuin.

5. Atas dasar keputusan Majelis Syuro PKS ke XI, dan tercapainya kesepakatan dengan SBY dan PD, maka diwajibkan kepada seluruh kader memperjuangkan kemenangan pasangan SBY-Boediono untuk kemaslahatan dakwah,ummat, bangsa, dan Negara.

Jakarta, 1 Jumadil Akhir 1430 H
25 Mei 2009 M

PRESIDEN
IR. TIFATUL SEMBIRING

----
sumber: pk-sejahtera.org



posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Indonesia Jembatan Dunia Islam dan Barat

Oleh Asro Kamal Rokan
Posisi Indonesia strategis. Inilah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, moderat, demokratis, dan terbebas dari pusaran konflik—tidak seperti dialami Timur Tengah, Afrika, dan Asia selatan. Di Indonesia, demokrasi tumbuh dan berkembang. Partai dan pemimpin Islam menjadi tokoh kunci dalam perkembangan demokrasi ini. Tidak ada benturan dan kesalahpahaman.

Kondisi ini memungkinkan Indonesia memainkan peran penting menjembatani hubungan Barat dan Islam, yang hingga kini masih dibayangi kecurigaan. Pengalaman Indonesia telah menjelaskan bahwa Islam, demokrasi, dan modernisasi sesungguhnya dapat tumbuh bersamaan.

Ulama terkemuka, Dr Yusuf Al Qardhawi, mengakui posisi Indonesia itu. Ketika bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun saat ceramah di Masjid Istiqlal, Mei 2006 lalu, Qardhawi bahkan meminta Indonesia memperkuat peran di dunia Islam dan internasional.

Menurutnya, suara Indonesia lebih mudah didengar dan diikuti dunia Islam dan internasional.

Dalam beberapa tahun ini, Indonesia memainkan peran penting tersebut, melebihi dari sebelumnya. Melalui Resolusi DKPBB Nomor 1747, Indonesia memajukan pasal perubahan, di antaranya dicantumkannya Timur Tengah sebagai zona bebas nuklir.

Indonesia juga memberikan prioritas pada masalah perdamaian di Palestina, termasuk membantu proses rekonsiliasi Hamas dan Fatah untuk kemerdekaan Palestina.

Pada KTT OKI di Dakkar, 2007, Indonesia mendorong terjadinya perubahan. Isu demokrasi—suatu yang sebelumnya dianggap sensitif bagi sebagian besar anggota— akhirnya masuk dalam Piagam OKI, selain menghapus Islamofobia, penghormatan atas hak asasi manusia, serta penghormatan hakhak perempuan dan anak-anak.

Dalam isu nuklir Iran, Indonesia satu-satunya anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, yang tidak menginginkan hukuman tambahan pada negara itu. Bahkan, sepekan setelah Resolusi PBB 1803 itu, Presiden SBY mengunjungi Iran—yang saat itu dalam sorotan internasional.

Surat kabar Iran News, menulis dengan judul besar: Tehran, Jakarta Strong Supporters of Global Peace.

Ketika ketegangan akibat karikatur Nabi Muhammad di surat kabar Jyllands-Posten, Denmark, Indonesia memprakarsai Global Inter-Media Dialogue, di Bali, September 2006 lalu. Dialog ini, selain mendorong pemahaman, terutama bagi ratusan wartawan dan editor media seluruh dunia yang hadir, juga menjelaskan perasaan umat Islam yang sering kali diperlakukan tidak adil oleh media Barat.

*sumber: Resonansi Republika (27/5/09)
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Berebut Kekuasaan

Kamis, 28 Mei 2009

Oleh: ADMIN
---
“jangan ikut berebut kekuasaan agar orang tetap percaya pada perjuangan kader PKS terutama di daerah2.”


Demikian bunyi salah satu isi ‘Buku Tamu’ di blog ini atas nama umar assidiq yang saya baca pagi ini (28/5).

Kesan yang langsung timbul dari ‘membaca’ pesan diatas adalah ‘rasa heran’. Kenapa?

Pertama, perlu difahami bahwa da’wah bertujuan untuk melakukan ‘perubahan’ ke arah yang lebih baik.

Kedua, perubahan tidak akan mungkin bila dilakukan tanpa ‘kemampuan’. Itulah kenapa hadits Nabi menyuruh kita untuk merubah kemunkaran prioritas pertama adalah ‘biyadihi’ (dengan ‘kekuasaan’). Karena diam adalah ad’aful iman. Selemah-lemahnya iman.

Ketiga, semakin besar perubahan yang kita ingin lakukan maka semakin besar ‘kemampuan’ yang dibutuhkan. Dan misi Islam adalah ‘rahmatan lil alamin’ (melakukan perubahan di dunia ini) bukan sekedar merubah individu walaupun individu adalah tangga pertama dalam perubahan dunia. Tapi tidak boleh berhenti hanya disitu.

Keempat, di pihak lain ada kelompok dzolim yang tidak akan setuju atau tidak mau terhadap ‘perubahan’ yang hendak kita lakukan dan mereka tidak akan membiarkan begitu saja kita melakukan perubahan. Mereka akan mencegah, melawan, dan mempertahankan ‘status quo’ kedzoliman. Dua pihak yang berbeda ini akan tetap terjadi hingga akhir zaman. Keduanya akan saling berebut dominasi.

Oleh karenanya kita baca sejarah Nabi dan pengikutnya penuh dengan ‘perebutan’ kekuasaan. Ibrohim vs Namrud. Tholut vs Jalut. Musa vs Firaun. Nabi Muhammad saw juga harus ‘berebut kekuasaan’ dengan kafir qurays dalam berbagai episode peperangan. Assiro’ bainal haq wal bathil akan terus terjadi hingga kiamat. Tinggal medan dan bentuknya yang mungkin berbeda, tidak melulu ‘fisik’ tapi bisa ‘politik’. Apakah berarti Nabi salah dengan terjun dalam ‘perebutan kekuasaan’? apakah tidak sebaliknya, orang-orang yang diam atau lari dari ‘medan perebutan kekuasaan’ perlu dipertanyakan ‘ghiroh’ din-nya.

Intinya adalah tidak akan mungkin terjadi kedzoliman menyerahkan begitu saja ‘kekuasaan’ yang mereka kuasai. Itu semua harus melalui episode ‘perebutan’. Jadi kalau dikatakan ‘jangan berebut kekuasaan’ itu adalah kalimat yang bias. Maksudnya apa? Kita serahkan orang-orang dzolim mengatur ‘kehidupan rakyat ini’? dan disisi lain biarkan orang-orang baik cukup tinggal di masjid-masjid, sibuk dzikir dan ta’lim saja, tidak usah ikut ‘mengatur’ kehidupan berbangsa dan bernegara? Biarkan politisi korup yang menguasai negeri ini? Mau???

Yang salah bukan pada ‘berebut kekuasaan’ tapi pada strategi yang ‘menghalalkan segala cara’ dan penyalahgunaan kekuasaan untuk mendzolimi rakyatnya. Tapi kalau strategi yang dipakai tidak ada yang melanggar kaedah syar’i dan kekuasaan yang diperoleh digunakan untuk sebesar-besar kemaslahatan rakyat maka ‘berebut kekuasaan’ yang seperti itu yang akan menuai ridho ilahi. Insya Allah surga menanti di negeri abadi.

"Sehari seorang raja (penguasa) yang bertindak adil,lebih besar pahalanya daripada seorag ahli ibadah yang beribadah selama 60 tahun." [HR Ahmad]

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

'Yang Segar' dari PWK Gadung Sitimulyo

By: Ummu Lisa*
---
Ahad Pahing, 24 Mei ’09 pukul 16.00 WIB kami (Bu Warti, Ukh. Faiz & Ummu Najwa) kembali menyusuri bukit Gadung sesuai dengan agenda bulanan. Suasana yang sunyi, sepi tenang... udara sore yang segar dan dengan cuaca yang agak mendung mengiringi perjalanan kami. Mendung yang menggantung tidak mengurungkan niat kami untuk menghadiri kegiatan PWK Gadung Nganyang Sitimulyo. Mendung di langit ceria di hati. Yup!

Jam 16.30 kami sampai di lokasi acara yang bertempat di rumah Ibu Warni. Ternyata ibu-ibu sudah menanti kedatangan kami. Saat kami masukpun nampak segurat wajah kebahagiaan dan seulas senyum menyambut kedatangan kami. Ada perasaan lega...bahagia dengan melihat senyum mereka.

Pada pertemuan kali ini kami menghadirkan Ukhti Ketut Tantri, yang akan berbagi ilmu tentang pembuatan susu kedelai yang tak kalah gizinya dan enaknya dengan susu sapi. Dengan detail dan telaten beliau menyampaikan dan mempraktekkannya didepan ibu-ibu. Ibu-ibu pun memperhatikan dengan antusias bahkan ada juga ibu-ibu 'relawan' yang ikut membantu/praktek langsung. Suasanapun semakin serius dan sesekali ada slentingan kecil dari salah seorang ibu yang membuat ketawa karena saking seriusnya.

Susu ini bahan utamanya kedelai makanya dinamakan susu kedelai, kemudian direbus dengan air+gula pasir dan diambillah air rebusan tersebut dengan diperas pake serbet (karena rongga serbet sangat kecil). Komposisi : ¼ kg Kedelai bersih (yang sudah direbus) + 1 ℓ air matang + Gula pasir secukupnya (sesuai selera).

Susu kedelai ini baik untuk kesehatan dan yang jelas made in sendiri tanpa bahan pengawet baik dikonsumsi untuk keluarga, terutama anak-anak bisa dikonsumsi sehari-hari. Agar anak semakin tertarik juga bisa ditambahkan dengan essen atau campuran berbagai macam rasa (rasa strowberry, mocca, coklat.. de-el-el yang pasti yammie’). Pokoke segerrrr dan bergizi.

Acarapun semakin mengasyikkan, sampai tak terasa cuaca diluar rumah semakin gelap..dan tanda hari sudah petang..pukul 17.20 WIB acara pun selesai...

*pengirim : AkhwatQowwiy

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

ngayal

by salwangga
wah, meriah habis dah pokoknya. ini jujur nih. udah jam satu. dan perut juga udah lapar. tapi, saking bahagianya masuk blog ini, gak afdhol kalau gak ninggalin komentar.

ibarat, makan cuma nasi doang. tanpa sayur, tanpa lauk, apalagi buah. pokoknya, tingkatin terus dah reportase segala kegiatannya.

banyak yang mengidolakan blog ini. bener loh. sal sendiri kalau baca postingan-postingan alami begini. sependek apapun. sesederhana apapun. rasanya seperti terlibat langsung.

dan, jangan lupa. banyak orang piyungan 'kesasar' sampai pelosok negeri.

ini, sal cuma di bekasi doang. dan, memang udah beranak pinak disini. tapi, kerinduan akan kiprah di kampung tak diragukan lagi. hanya saja, masih nurutin egoisme pribadi. disamping itu, anak-anak juga udah menyatu dengan iklim dan lingkungan di bekasi. untuk beradaptasi dari awal, kasihan juga mereka.

jujur. sekali lagi, jujur. sal tuch udah pengin bener bergabung (secara nyata) dengan kiprah para kader disana. terlibat dalam dakwah. walaupun 'apa sih yang sal bisa?' gitu kata ayam mah, semangat itu masih ada.

ya, siapa tahu, namanya kehendak atau cita-cita itu kan tertanam kuat dibawah ambang sadar. begitu usia diatas 40, trus, tiba-tiba dibelokkan harus berkiprah di tanah kelahiran sendiri, trus jadi tokoh masyarakat, trus jadi caleg, trus jadi aleg, trus....

wah kebanyakan ngayal ya....

bekasi, 27 mei 2009
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

New Experience in My Life

Rabu, 27 Mei 2009

By Dimar Sembiring
---
Bagaikan setetes embun...
Tarbiyah ini telah menghilangkan dahagaku...
Bagaikan secercah pelita...
Tarbiyah ini telah menerangi kegelapan hidupku...
Bagaikan seorang guru...
Tarbiyah ini telah mengajari banyak hal kepadaku...

Sungguh, banyak sekali hal baru yang telah aku dapatkan dari dunia Tarbiyah ini. Hal baru yang kadang semula terasa sangat sangat asing sekali bagiku, tetapi lama-kelamaan itu menjadi sesuatu yang jelas dan sangat bermanfaat bagi hidupku. Hal baru yang menjadi pengalaman dan cerita baru dalam hidupku. Hal baru yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi dalam hidupku. Hal baru yang sungguh-sungguh baru dan baru sekali...

Dan sekarang. Dipertemukan dengan kelompok Liqo remaja Sumokaton dan diamanahi menjadi pendamping (murobbi) mereka adalah menjadi bagian dari Hal Baru dan Pengalaman Baru dalam cerita hidupku.

Sudah saatnyakah aku jadi murobbi?
Layakkah?
Sungguh aku ragu.

Coba dulu aja. Anggap antum yang sedang 'belajar' bukan mereka (binaan). Dorongan sang murobbi menepis keraguanku. Memang sudah lima tahun aku ikut liqo. Kadang 'ditugasi' ngisi ta'lim remaja. Kalau ramadhan juga dijadwal ceramah tarawih. Tapi ngisi liqo? Jadi murobbi? Gimana ya rasanya. Tugas murobbi kan macam-macam bukan sekedar transfer materi.

Namun malam itu, aku datang juga dalam lebatnya hujan. Wah, baru mau ngisi liqo perdana ujian hujan lebat menghadang. Harga itu terlunasi dengan sapa hangat anak-anak remaja Sumokaton yang hadir. Mereka anak-anak remaja yang semangat. Rata-rata usia sma sebagian smp. Dari sembilan orang, dua orang smp sisanya sma/stm. Ada Ikhfan kelas 2 SMA, Agung (3 STM), Eva (1 STM), Feri (3 STM), Sambera (3 STM), Ridwan (2 STM), Mega (3 STM), Yuda (3 SMP), dan Bayu (2 SMP).

Alhamdulillah sekali, kami dipertemukan dan di "KLIK" kan dengan mudah. Karena memang kami mempunyai banyak kesamaan. Dari sekian banyak kesamaan dari kami adalah: sama-sama Laki-laki, sama-sama masih Muda (ngarepnya demikian) dan sama-sama punya hoby Futsal. Nah alasan terakhir inilah yang bisa membuat kami bisa langsung "KLIK" dalam waktu yang "SEIPRIT".

Terhitung sudah 2 kali pertemuan Liqo' baru ini kami lalui bersama. Ini adalah Liqo' "PLUS", yaitu agenda Liqo' ngaji plus Futsal setelahnya. Agenda yang diawali dengan Tadarus Al-quran dan sedikit kultum sebagai "makanan" Akal dan Hati. Kemudian dilanjut dengan Olah raga Futsal sebagai makanan Raga ini agar selalu bugar. Liqo' "PLUS" tersebut dilakukan, karena memang mengingat manusia terdiri dari 3 bagian. Raga, Akal dan Hati. Ketiga bagian dari manusia tersebut harus selalu kita jaga dengan selalu memberi makanan kepadanya masing-masing.

Raga manusia diberi makanan dengan makanan yang bergizi dan cukup olahraga agar selalu bugar. Tanpa itu semua raga manusia akan lemas dan tak punya kekuatan lagi.

Akal manusia diberi makanan dengan ILMU. Tanpa ilmu Akal manusia akan menjadi lemah dan tak memiliki pengetahuan yang lebih dan terkini. GapTek ataupun Oon menjadi sebutannya.

Hati manusia diberi makanan dengan Dzikrulloh. Dengan selalu mengingat Alloh di setiap kesempatan, di setiap kejadian. Tanpa Dzikrulloh, hati manusia tidak akan menjadi Qolbun Hayyun, tetapi mungkin akan mejdai Qolbun Mariid atau bahkan menjadi Qolbun Mayyit.

Dan malam itu (malam Jum’at 21/5) seusai liqo, kami langsung meluncur ke Rika Futsal, tempat futsal satu-satunya yang terdekat. Teman-teman kader pks sudah saya kontak untuk ‘mitra tanding’ dengan anak-anak liqo-ku. Ada akh Arief, Bimo, Iwan, Ridwan, mr. Admin, dkk. Biasanya saya gabung dengan Tim PKS, namun kali ini aku harus ‘melawan’ mereka demi ‘membela’ Laskar Liqo Sumokaton.

Seru dan asyiknya pertandingan membuat kami menambah jadwal yang satu jam menjadi satu setengah jam, dari 20.30 -22.00 wib. Melihat antusias ‘binaan baru’ main futsal akhirnya kami membooking jadwal tetap futsal tiap Kamis jam 20.30 -21.30. Jadwal paten itu sekarang milik Liqo Sumokaton, sehingga kami tidak perlu khawatir ada tim lain yang memakai gedung futsal di jam itu.

Semoga Liqo' "PLUS" ini bisa menjadi "makanan" bagi: Raga, Akal dan Hati-hati kami.

Dan sungguh ini benar-benar menjadi Pengalaman yang baru dalam hidupku...
New Experience in My Life...!

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Laskar Pemburu Receh

by Abu Hasan
---

“tek tek tek…. tek tek…. “

Suara nyaring diluar rumah menghentikan sejenak obrolan kami. Saya yang tengah menemani istri nyetrika seketika keluar rumah.

“Pak… sini…,” kupanggil tukang siomay yang lewat depan rumah.
“Siapa yang mau siomay..?” tawaran yang langsung diserbu anak-anak.
“Berapaan ini pak?” tanyaku.
“gangsalatus satunggal (lima ratus satu),” jawab tukang siomay sambil menstandar sepeda ontelnya. Bronjong berisi aneka siomay yang ditaruh di bagian belakang sepeda kiri kanan segera dibuka.

“anak-anak seribu lima ratusan ya?” serentak empat kakak beradik mengangguk riang. Hari libur tanggal tua jadi gak bisa ngajak anak-anak jalan-jalan.

“aku kentang dua, satunya bakso,” Aliyah yang terkecil mendapat giliran pertama memilih menu siomay yang dibungkus plastik.
“aku sama dengan aliyah,” sahut Ali kakaknya.
“kentang satu, tahu basah satu, satunya lagi bakso,” kali ini giliran Hanifah.
“aku kentang satu, baksonya dua,” Yasmin menimpali.

Kuminta anak-anak mengambil dua piring untuk siomay aku dan istriku dengan porsi dobel anak-anak.

Sambil mengulurkan uang dua belas ribu kumulai membuka taaruf dengan tukang siomay. Pria lajang kelahiran Wonosobo ini ternyata baru sebulan ‘terdampar’ di Jogja.

“Pokoknya bermodal nekat saya ke Jogja,” ujar mas Musitip ketika kutanya asbabunnuzul ke Jogja.

“Jam enam pagi saya naik bus dari Wonosobo sampai di Terminal Jogja sekitar pukul sepuluh pagi,” lanjutnya.

“Memang punya keluarga atau ada pekerjaan di Jogja?” selaku.

“Ndak ada. Pokoknya nanti cari kerjaan apa saja sesampai di Jogja. Di rumah sudah pusing tidak ada pekerjaan. Paling ngarit cari rumput,” beber pria kelahiran ’85 ini.

“Sampai jam sepuluh malam saya belum dapat pekerjaan. Bingung juga mau tidur dimana,” ceritanya saat kutanya kok dapat pekerjaan jualan siomay keliling.

“Pas lagi bingung ada tukang siomay lewat. Langsung saya hadang,” sambungnya. Tanpa sungkan dia bertanya apa ada lowongan kerjaan jualan siomay di tempat mangkalnya.

“Wah kalau di tempat saya sudah penuh. Tapi, kayaknya di tempat teman saya ada lowongan,” ujar Musitip menirukan ucapan ‘juru selamat-nya’ malam itu. Singkat kata malam itu juga dia dibawa ke tempat Pangkalan tukang siomay milik mas Har dari Purbalingga. Sejak itulah pria drop-outan kelas 4 sd ini tinggal disitu dan bekerja menjajakan siomay keliling bersepeda dengan keuntungan seratus perak per biji siomay.

“Ya lumayan. Kalau lagi rame bisa dapat dua puluh ribu sehari. Tapi kalau lagi sepi paling tujuh ribu,” ujarnya sambil mengeluarkan botol air putih dari bronjongnya saat kutanya berapa penghasilannya. Sehari-hari keliling berjualan, Musitip hanya berbekal sebotol air putih plus sebungkus sigaret. Urusan makan dia hanya mengenal dua waktu. Pagi sebelum berangkat dan nanti malam hari kala balik ke pangkalan. Untuk jatah makan ini ditanggung oleh juragan.

Anak sulung tiga bersaudara ini senang kerja jualan siomay karena bisa dapat uang tiap hari. Beda dengan kalau dikampung, baru bisa ‘megang’ uang kalau panen. “Lumayan bisa buat beli rokok dan dikit-dikit ditabung,” tambahnya sambil mengepulkan gudang garam filter yang barusan diambil dari laci kecil bronjong.

“Terus, sholatnya gimana mas?” tanyaku setelah lumayan akrab.

“Wah terus terang nggih pak, jujur saja saya ngak mau bohong, saya masih bolang-bolong. Terutama shubuh. Pulang kerja jam sepuluh malam ngontel seharian badan capek banget. Bangun-bangun sudah jam setengah enam pagi,” jujur dan polos Musitip menjelaskan. Pasti capek lah keliling berpuluh kilometer dari jam sebelas siang sampai sepuluh malam, batinku. Berpuluh kilometer? Betul. Jarak tempat mangkalnya yang berada di jalan imogiri 1 dengan rumah tempat tinggalku lebih sepuluh kilometer.

“Kalau kita bangun kesiangan jam berapa saja bangunnya kita masih boleh sholat shubuh. Daripada tidak dikerjakan. Insya Allah kalau kita rajin sholat rejeki kita barokah.," ujarku dengan tersenyum. "Kalau lagi keliling juga mampir ke mushola atau masjid begitu terdengar adzan”. Kulihat Musitip serius mendengarkan.

“Insya Allah pak. Matur suwun.” Ujarnya mantap.

Alunan adzan ashar dari mushola mengakhiri obrolan kami. Dengan sigap Musitip mengayuh sepedanya. Kulihat dibagian kiri bronjongnya tertulis jelas dengan cat merah “Laskar Pemburu Receh”.

----

Hari berikutnya (Senin, 25/5) saya kaget ketemu lagi dengan Musitip. Kulihat sepeda siomainya sudah terparkir di depan mushola. Kusapa dan berbalas senyum ceria sambil dia bersiap-siap wudhu.

“Allahu Akbar,” takbirotul ihrom sholat maghrib berkumandang.
Musitip khusyu bebaris di shof pertama dari dua shof laki-laki.



Wahai Tuhan jauh sudah
Lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinarmu

Wahai Tuhan aku lemah
Hina berlumur noda
Hapuskanlah …..
Terangilah Jiwa di hitam jalanku

Ampunkanlah aku
Trimalah tobatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha pengampun dosa

Ya robbi ijinkanlah
Aku kembali padamu
Meski mungkin takkan sempurna
Aku sebagai hambamu

Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali ..
Kembali kepadamu
Dan meski tak layak sujud padamu
Dan sungguh tak layak aku….

['Tobat' – opick]

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

PKS Setia. PAN, PPP, PKB Berkhianat.

by ADMIN
Selasa 26 Mei kemarin, secara alot rapat paripurna DPR akhirnya menyepakati hak angket DPT dalam Pemilu Legislatif 2009. Cuma Fraksi Demokrat dan PKS saja yang tidak setuju.

Demikian salah satu headline di situs berita maya hari ini (Rabu, 27/5).
Sebuah berita yang semakin menegaskan 'hanya' PKS yang jujur dan lurus dalam berkoalisi. Tidak ada istilah 'berkhianat' dan 'main di dua tempat'. Ketika PKS sudah memutuskan 'berkoalisi' dengan SBY dan PD maka komitmen itu harus dipegang.

Hal yang kontras berbeda terjadi pada peserta koalisi lain. PAN, PKB, PPP justru mendukung Hak Angket mengikuti 'skenario' PDIP dan Golkar. Padahal Hak Angket ini kental beraroma politis kepentingan PILPRES. Kubu PDIP dan Golkar berusaha mencitra negatifkan pemerintah sekarang (baca SBY). Boleh dibilang ini bukan sekedar Hak Angket tapi mengarah ke Negative Campaign.

Ini juga semakin memperjelas kenapa SBY ngotot berkoalisi dengan PKS. Karena hanya PKS yang bisa dipegang janjinya. Yang lain cuma pragmatis tidak punya komitmen.

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, jika hak angket ini nantinya sukses mengarah bahwa amburadulnya DPT adalah tanggung jawab pemerintah, berarti PKB, PPP dan PAN berkhianat kepada Demokrat.

"Kalau partai peserta koalisi sekarang (PKB, PAN, PPP) setuju membelokkan kesalahan ke pemerintah, berarti mereka berkhianat kepada koalisi," kata Arbi Sanit kepada detikcom, Rabu (27/5/2009).

Padahal persoalan kisruh DPT adalah tanggung jawab KPU sebagai penyelenggara pemilu bukan pemerintah.

Sebelumnya Ketua FPD Syarif Hasan mengaku kecewa terhadap sikap PAN, PPP dan PKB yang mendukung hak angket DPT disetujui. Setali tiga uang, tim sukses SBY-Boediono Ruhut Sitompul mengatakan PAN Cs telah berdosa. "Harusnya mereka itu saling introspeksi lah. Kita doakan saja kemenangan ada di tangan kita, nantinya SBY jadi tidak terbebani soal kursi di kabinet buat tiga partai itu. Karena hal-hal seperti itu sebenarnya kita catat sebagai daftar-daftar dosa koalisi," ujar Ruhut Sitompul.

Di tempat terpisah fungsionaris Fraksi Partai Demokrat DPR Sutan Batoegana kepada INILAH.COM, Rabu (27/5) di Jakarta menyatakan salutnya kepada PKS. "Kita salut sama PKS yang tetap di barisan kita. Sedangkan partai lainnya sedang coba-coba". "Saya melihat sembilan partai kecuali PDIP, seharusnya tetap konsisten untuk tidak mendukung hak angket. Karena hak angket salah sasaran," imbuhnya.
----

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Mengukur harga diri da'wah kita dalam PILPRES ini

catatan: Kami dapat tulisan ini dari kiriman email pandu langsa. Ada beberapa yang kami edit. Memang agak terlambat, sudah seminggu lebih, namun tetap hangat untuk para kader PKS.
---

Oleh Syukri Wahid [Ketua DPD PKS Balikpapan]

Assalamu alaikum wr wb
Ikhwah fillah, sekarang saya tidak sedang menulis sebuah puisi, namun ini adalah refleksi jiwa dan pikiran saya dan tulisan ini sekedar untuk turut berpartisipasi pikiran dalam menjelaskan apa yang sedang terjadi disekitar dunia da’wah, lebih khusus lagi adalah “ijtihad siyasi” partai kita.

Beberapa “kader” atau simpatisan sms ke saya atau menelpon, bahwa kurang sreg dengan “kelakuan” beberapa ustad kita, seperti ustad Fahri dan ust Anis, yang menurutnya terlalu menggebu-gebu dan terlalu merendahkan harga diri. Spontan kita ada yang mengatakan “demi harga diri kita, sudahlah tinggalkan SBY”, masih ada calon yang lain, yang lebih islami (setidaknya itu yang kelihatan dari simbol calon yang lain). Kemudian muncul beberapa gangguan ketsiqohan kita terhadap kebijakan para Qiyadah dan personal qiyadahnya. Latar belakang itulah yang mendorong saya untuk sedikit menuangkan “kegelisahan” didalam jiwa.

Maka ijinkan dari penjelasan singkat ini saya sampaikan, sebagai bagian dari cara memandang ijtihad dan ini bukanlah bayanat dari partai.

a. Karena kita ber “musyawarah”
Sebenarnya jika kita sederhanakan persoalan ini, maka apa yang membuat kita mengeluarkan kebijakan ini, maka jawabannya karena kita bermusyawarah atau syura’. Maka itu sudah cukup bagi kita yang ingin menegakkan prinsip kehidupan berjama’ah.

Arah koalisi sudah sesuai dengan keputusan Musyawarah Majlis Syuro XI PKS, sedang para asatidz yang duduk di Majlis Syuro adalah “penjelmaan” semua kader. Karena tidak mungkin semua kader rapat bersamaan disatu tempat. Bayangkan saja 1 juta kader rapat kayak apa tuh jadinya rapat. Mungkin malah tidak efektif. Maka disitulah kita menyerahkan kewajiban musyawarah kolektif kita kepada musyawarah perwakilan, yang istilah syariat “ahlu halli wal ‘aqdi”. Jadi kita semua telah menjalankan kewajiban musyawarah dengan cara “menitip” kewajiban kita tersebut kepada “wakil” kita yang bersuara di forum tersebut. Kalau dari kaltim (1 suara) adalah beliau fadhilatul ustadz Hadi Mulyadi. Mereka adalah orang yang kita pilih secara sadar karena pertimbangan- pertimbangan kualitas mereka, jumlahnya sekitar 90an orang.

Sekarang, mungkinkah para asatidz kita dalam musyawarah itu bersepakat untuk menjerusmuskan kita dalam kebathilan? mungkinkah para asatidz kita juga sepakat untuk bermaksiat dalam politik? Mengeluarkan kebijakan tanpa pertimbangan demi maslahat da’wah? Semua yang keluar pasti melewati kaidah-kaidah syariat yang ketat dan panjang.

Setidaknya yang saya sampaikan disini adalah salah satu prinsip musyarokah tersebut adalah “muhtamal roojih fauzuhuu” mengutamakan siapa yang lebih kuat peluangnya untuk menang. Kenapa harus memilih yang menang? karena memang kita pada posisi “harus memilih”. Dan yang kedua, kalau berada di pusat kekuasaan dan melakukan kebaikan didalamnya lebih utama dari pada 5 tahun kita tidak berpartisipasi untuk ummat ini. Karena kita 8 persen, maka kita harus “sadar” mencari peluang untuk masuk ke pusat kekuasaan.

Menebar keadilan melalui kompetensi kepemimpinan itu jauh lebih berharga. “Sehari kehidupan pemimpin atau penguasa yang adil lebih baik daripada ibadah seorang ‘abid selama 60 tahun” demikian hadits nabi. Para generasi salaf mengatakan, “jika kami para ulama memiliki satu doa yang pasti dijawab oleh Allah SWT, maka kami akan meminta pemimpin yang Adil”. Jadi berada di pusat kekuasaan lebih afdhal ikhwah fillah. Sebagaimana Allah SWT menceritakan “kebijakan” politik da’wah Nabiullah Yusuf as.

Nabi Yusuf as, melakukan musyarokah dengan raja Aziz di Mesir. Jangan lihat “tidak islaminya” raja Aziz saat itu, istrinya aja menggoda nabi Yusuf as. Namun lihatlah “kerajaan” yang telah memasukannya kedalam penjara tidak menyebabkan dendam dan bahkan beliau turut berpartisipasi dalam menyelamatkan Negara dan rakyat dari krisis pangan (ekonomi) berkepanjangan. Jadi berbuat kebaikan lebih diutamakan dalam semua kesempatan. Bukankah Nabi Yusuf ngotot minta jabatan “perdana menteri & keuangan” (coba lihat kisahnya di surat yusuf). Bukti bahwa telah terjadi bargaining politik antara Raja dan Yusuf as.

b. Harga diri kita sesungguhnya ada disini
Mungkin ada diantara kita yang mengatakan, wah segitukah kualitasnya harga diri partai Islam terbaik di Indonesia? Akhirnya mau juga, setelah ngotot-ngotot… setidaknya itu salah satu sms yang saya terima dari seseorang. Saya terfokus dengan kalimat harga diri. Lantas ada apa dengan harga diri kita? Apakah jatuh? Apakah hina? Apa itu semua yang antum rasakan???. Saya justru merasa bangga dan memiliki ‘izzah harga diri partai kita mulia, Allahumma amiin. Kenapa ikhwahfillah?

1. Membangun “izzah politik juga bagian dari ‘izzah da’wah
Ustad Fahri Hamsah, Ust Mahfudz siddiq dan ust Anis Matta, mengkritik pola interaksi komunikasi SBY atau Demokrat yang tidak elegan dan selalu bersifat satu arah dalam forum komunikasi koalisi, dan ini memberikan efek “pelecehan” hak dan institusi politik kita, tidak dianggaplah bahasa kasarnya.

Ikhwah fillah, saat Nabi Yusuf as didalam penjara, ketika ada dua pidana yang sedang menunggu hasil vonis Negara dan tinggal bersama satu sel dengan Nabi Yusuf, terjadilah interaksi da’wah disana. Suatu saat mereka berdua bermimpi, kemudian mereka ceritakan mimpinya itu kepada Nabi Yusuf as. Dijelaskan oleh Yusuf as tentang makna dari ta’wil mimipinya dan benar terjadi sesuai “ramalan” Nabi Yusuf atas dua orang tersebut. Maka sampailah informasi ini kepada sang raja, kemudian sang raja “mengutus” beberapa negosiator untuk menghadap Nabi Yusuf perihal mimpi sang raja. Nabi yusuf as menyampaikan minta rajamu ketemu denganku. Dan itulah yang terjadi bertemunya beliau dengan sang Raja dengan kedudukan yang sama secara politik. Dan disitu juga sudah ada “take and give” antara raja dan Nabi Yusuf as.

Bukankah itu adalah karena sebuah harga diri. Saya berpendapat, bahwa lebih tepat “kemarahan” ustad-ustad kita adalah bagian dari hisbah atau kontrol “da’wah” kepada SBY dan PD. Pesan yang ingin kita sampaikan adalah, “jangan seperti itulah pola komunikasi anda!”.

Hari kamis DPP “menolak” utusan SBY di gedung DPP (Hadi P, Sudi S dan Hatta Rajasa). Disinilah kita menghormati harga diri partai kita, “bilang sama SBY, kami ingin ketemu langsung”, kalau tidak yah cukup sampai disini. Ini setidaknya yang saya tangkap, pesan harga diri kita. Dan bisa antum bayangkan esoknya Jum’at jam 5 sore, SBY langsung datang menemui para ustad kita di Bandung.

Ikhwah fillah, coba renungkanlah, kita cuma 8 % suara dan 10 % kursi, itu kecil secara kekuatan politik, namun apa yang bisa kita lakukan ikhwah fillah? seorang “SBY” harus DATANG ke PKS. Bukankan itu adalah bukti harga diri kita begitu tinggi. Didalam “siasat perundingan”, pihak yang datang dan yang mendatangi juga bagian dari kemenangan politik. Pesan yang ingin kita bangun adalah jangan samakan PKS dengan yang lain, partai lain mungkin cukup mengirim utusan, dijelaskan kemudian kasih jatah menteri, selesai masalah. PKS tidak seperti itu. Tidak sesederhana itu kita berkoalisi, ini bukan masalah kita dapat apa dan SBY dapat apa dari kita. SBY lah yang “mengalah” ikhwah fillah, karena cuma PKS yang perlu dia datangi dan menjelaskannya langsung atas permintaan kita, tanpa perantara. Sedangkan untuk PAN cukup menurunkan Anas dan akhirnya SB mau menandatanganinya. Walaupun Amin Rais menolak cawapresnya, namun apakah SBY perlu mendatangi Amin Rais? Muhaimin Iskandar juga demikian, senyumannya sudah meperlihatkan kursi menteri yang bakal PKB dapat.

Lantas kenapa kita merasa dilecehkan harga diri partai? Fakta-fakta diatas justru membuktikan bahwa dimata SBY dan PD, kita adalah kekuatan. Itu yang harus kita lihat. Itu baru 8%. Itulah yang terjadi di perjanjian Hudaibiyyah, ada pertemuan sejajar dan dua arah antara Quraisy Makkah dengan Muhammad SAW.

2. Jika kita telah ber’azam
Terus ada sms masuk ke HP saya, “kenapa petinggi PKS datang ke acara deklarasi di Bandung. Kenapa tidak seperti partai lain saja, kirim wakilnya sajalah”.

Ikhwah fillah, tidak ada yang menjadi sorotan dalam acara malam itu, melainkan semua mata menuju PKS. Bahkan salah satu pembawa acara televis mengatakan, seolah-olah gedung ini adalah acaranya PKS. Kenapa ikhwah fillah? Seminggu lalu media menyoroti PKS yang terkesan menyerang SBY dan koalisi, namun malam itu hadir ustad Hilmi (ketua Majlis syura), pak Tifatul dan Anis matta. Itu adalah representasi utuh PKS. Mereka disambut dengan “senyuman” dan tepukan “kehormatan”, karena memang kita layak mendapatkannya.

Apa hikmah untuk SBY dan PD malam itu? “wahai SBY dan PD, anda melihat kami yang garang mengkritisi dasar koalisi kita, namun harga diri kami mengatakan, jika kami sudah mendukung, maka luar dan dalam kami menerima semuanya, semua akan all out memenangkan anda”.

Begitulah Islam mengajarkan, kalau sudah muswawarah, maka berazam dan bertawakkal. Begitu terhormatnya kita secara institusi dihadapan mereka, ini baru koalisi yang berkualitas. Ada beberapa partai yang sekjennya yang datang, bahkan menghadiri juga deklarasi pasangan yang lain. Apakah itu harga sebuah harga diri? Justru dimata SBY dan PD mereka dianggap “tidak punya” komitmen dan harga diri dijual ke semua pasangan.

3. Melatih ketaatan dan ketsiqohan
Jangankan kita, para sahabat yang mulia pernah mengalamai erosi ketsiqohan terhadap kebijakan Rasulullah saw di perjanjian Hudaibiyyah. Umar bin Khattab secara emosi selama tiga hari bahkan dalam riwayat mengkritisi kebijakan Rasul, sampai keluar statmen “bukankah engkau Rasul?”, kenapa harus menghinakan diri kepada mereka???!!! sambil menyodorkan naskah perjanjian Hudaibiyah yang 4 butir. Menurut Umar “tidak” tepat semuanya. Kenapa engkau menerima poin yang mengatakan “jika ada penduduk Makkah yang pindah dan bergabung ke Madinah, maka dia harus dipulangkan ke Makkah kembali, namun jika dari Madinah ke Makkah, maka dia tidak boleh dikembalikan”?

Dengan kedalaman analisa politik Rasulullah SAW, Syaikh Munir Ghadban (dalam bukunya ‘Manhaj Haroki’) menjelaskan, “Apakah dengan poin itu akan ada dari kalangan para sahabat yang telah beriman kepada Rasulullah SAW di Madinah akan memilih kekufuran? dan dia akan bergabung ke Makkah? Mungkinkah itu akan terjadi bagi orang yang telah beriman? Itu tidak akan terjadi. Lantas kenapa engkau marah? Sebaliknya justru poin ini akan mempermalukan Quraisy, karena justru banyak yang ingin kepada keimanan menuju Madinah. Artinya itu akan mencitrakan buruk secara politis, ternyata mereka tidak solid.

Insya Allah kebijakan koalisi ini terbaik menurut hasil ijtihad masyayikh kita. Jangan ragu apa lagi sampai hengkang, na’udzubillah min dzaalik. Jadi ikhwah fillah, mari kita kembali mengedapankan “tsiqoh ilal qiyadah wal qororoot”. Karena bagaimana jika posisi para qiyadah itu kita yang gantikan, kira-kira apa yang akan kita lakukan?.

4. SBY akan mengedepankan “system presidensial”, posisi wapres murni sebagi pembantu dan dalam beberapa hal sesuai komitmennya, wapres hanya akan menjadi ban serep saja. Jika kita menganut prinsip amal yang berkualitas, maka salah satu faktornya adalah “pengaruh amal” kepada orang sebanyak-banyaknya. Karena itu antum pilih mana, wapres tapi menteri dikit, atau menteri banyak tanpa wapres. Tidak ada kepwapres (surat keputusan wapres), yang ada cuma keppres (keputusan presdien) dan juga kepmen (keputusan menteri). Jadi apalah artinya satu wapres kedepan “yang hanya” berfungsi sebagai ban serep. Lebih baik menteri yang banyak, terutama kementerian departemen yang pengaruhnya ke orang banyak, contoh mentan, betapa kebhijakannya dirasakan orang banyak.

Jadi saya berpendapat untuk saat ini lebih baik kita mengambil menteri yang banyak, karena disanalah lebih riil kontribusi kita terhadap rakyat. Koalisi Islam dan nasionalis tidak terjadi di formulasi Capres dan Cawapres, namun terjadi di koalisi cabinet. Jadi kabinet kedepan “Islam-Nasionalis” akan terbentuk: PKS, PAN, PPP dan PKB akan memberikan kadernya untuk menteri.

Wallahu a'lam

Senin, 18 Mei, 2009, 6:31 AM
Balikpapan, gang Depag

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Ini dia 57 aleg DPR RI 2009-2014 dari PKS

Ahad malam (24/5) lalu KPU telah menetapkan Anggota DPR RI terpilih tahun 2009-2014 di Jakarta. PKS telah dinyatakan berhasil meraih 57 kursi di Senayan.

Presiden PKS, Tifatul Sembiring terpilih untuk mewakili wilayah Sumatra Utara. Mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid juga dinyatakan berhasil meraih kursi di senayan mewakili masyarakat Jawa Tengah.

Sekjen PKS Anis Matta dan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault terpilih mewakili Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Untuk Anggota Legislatif perempuan dari PKS, diwakili oleh Yoyoh Yusroh dari Banten, Ledia Hanifa dari Jawa Barat, dan Herlini Amran dari Kepulauan Riau.

Berikut susunan nama-nama aleg terpilih dari PKS berikut perolehan suaranya

NO DAPIL NAMA CALEG Jml SUARA
1 Nangroe Aceh Darussalam - 01 M. Nasir Djamil (L) 44.039
2 Nangroe Aceh Darussalam - 02 Raihan Iskandar, Lc (L) 17.487
3 Sumatera Utara - 01 Tifatul Sembiring (L) 99.348
4 Sumatera Utara - 02 Iskan Qolba Lubis, MA (L) 32.692
5 Sumatera Utara - 03 Ansory Siregar, Lc (L) 43.288
6 Sumatera Barat - 01 Irwan Prayitno, DR (L) 57.199
7 Sumatera Barat - 02 Refrizal, Drs (L) 27.214
8 Riau - 01 Chairul Anwar, Drs., Apt. (L) 50.914
9 Kepulauan Riau - 01 Herlini Amran, MA. (P) 26.659
10 Sumatera Selatan - 01 Musthafa Kamal (L) 31.293
11 Sumatera Selatan - 02 Bukhori Yusuf, MA (L) 40.484
12 Bengkulu - 01 H. M. Syahfan Badri Sampurno, Drs. (L) 27.362
13 Lampung - 01 Almuzzammil Yusuf (L) 46.205
14 Lampung - 02 Abdul Hakim, Ir. MM (L) 55.258
15 DKI Jakarta - 01 Ahmad Zainuddin, Lc (L) 46.179
16 DKI Jakarta - 02 M. Sohibul Iman, Dr. (L) 42.553
17 DKI Jakarta - 03 Adang Daradjatun (L) 119.287
18 DKI Jakarta - 03 Ahmad Relyadi (L) 22.094
19 Banten - 02 Zulkiflimansyah (L) 58.478
20 Banten - 03 Yoyoh Yusroh (P) 36.911
21 Banten - 03 Jazuli Juwaini (L) 87.946
22 Jawa Barat - 01 Suharna Surapranata (L) 36.515
23 Jawa Barat - 01 Ledia Hanifa (P) 28.228
24 Jawa Barat - 02 Ma'mur Hasanuddin (L) 40.472
25 Jawa Barat - 03 Eki Awal Muharam (L) 24.750
26 Jawa Barat - 04 Yudi Widiana Adia (L) 37.114
27 Jawa Barat - 05 Sunmanjaya Rukmandis (L) 29.071
28 Jawa Barat - 06 Mahfudz Abdurahman (L) 72.409
29 Jawa Barat - 07 Arifinto, Drs. (L) 38.871
30 Jawa Barat - 08 Mahfudz Sidik, Drs., M.Si. (L) 36.583
31 Jawa Barat - 09 Nur Hasan Zaidi, S.Sos.I (L) 33.223
32 Jawa Barat - 10 Surahman Hidayat, Dr. (L) 42.446
33 Jawa Barat - 11 Kemal Stamboel (L) 35.165
34 Jawa Tengah - 01 Zuber Safawi (L) 36.556
35 Jawa Tengah - 03 M. Gamari, Dr. H. (L) 18.242
36 Jawa Tengah - 04 M. Martri Agoeng (L) 28.775
37 Jawa Tengah - 05 M. Hidayat Nur Wahid, Dr. (L) 106.521
38 Jawa Tengah - 07 Sugihono, Ir (L) 26.233
39 Jawa Tengah - 08 Tossy Aryanto (L) 26.592
40 Jawa Tengah - 09 Suswono, Ir., MMA (L) 33.934
41 DI Yogyakarta - 01 Agus Purnomo (L) 31.533
42 Jawa Timur - 01 Sigit Sosiantomo, Ir. (L) 19.294
43 Jawa Timur - 02 Misbakhun, Ak. (L) 35.980
44 Jawa Timur - 05 Luthfi Hasan Ishaaq, MA. (L) 29.819
45 Jawa Timur - 07 Rofi' Munawar, Lc. (L) 37.718
46 Jawa Timur - 08 Memed Sosiawan, Ir. (L) 22.310
47 Jawa Timur - 11 Abdul Aziz Suseno (L) 71.020
48 Kalimantan Barat - 01 H. Rahman Amin (L) 27.078
49 Kalimantan Selatan - 01 Aboe Bakar Al Habsyi (L) 57.253
50 Kalimantan Selatan - 02 Nabiel Fuad Al Musawa, Ir, M.Si . (L) 31.390
51 Kalimantan Timur - 01 Aus Hidayat Nur (L) 51.338
52 Nusa Tenggara Barat - 01 Fahri Hamzah, SE (L) 105.412
53 Sulawesi Selatan - 01 M. Anis Matta, Lc. (L) 88.407
54 Sulawesi Selatan - 02 Tamsil Linrung (L) 77.250
55 Sulawesi Selatan - 03 Andi Rahmat, SE (L) 30.355
56 Sulawesi Tenggara - 01 H. Yan Herizal, SE. (L) 18.930
57 Sulawesi Tengah - 01 Adhyaksa Dault, Dr. (L) 82.873

sumber: pk-sejahtera.org
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Uhibbukum Fillah

Selasa, 26 Mei 2009


by ADMIN


maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu
dalam dada kuharap hanya dirimu yang bertahta

---

Kalau anda membuka blog pkspiyungan hari ini ada nuansa yang berbeda. Backsound yang menemani kenyamanan anda berselancar kali ini kami ambilkan dari album Ya Rahman milik opick. Bait diawal tulisan ini bisa anda dengar dari lagu bertitel ‘Rapuh’.

Bukan tanpa asbabul wurud opick menghiasi blog ini. Lagu ini betul-betul tidak sekedar menyentuh tapi menggetarkan hati kami sepanjang perjalanan dua jam ‘rihlah’ ke Wonogiri Sabtu petang kemarin (23/5).

Sore itu kami janjian dengan ikhwan Srimartani untuk menjenguk bapaknya akh Dhanie yang tengah dirawat di RSUD Wonogiri. Akh Dhanie memang aseli Wonogiri. Beliau merantau ke Jogja diawali nyantri di pesantren Ibnul Qoyyim. Setelah lulus langsung mengabdi jadi ustadz di ponpes yang sama. Menyunting akhwat Piyungan beliau dikaruniai satu puteri yang cantik.

Akh Rusdi yang mengkoordinir teman-teman sudah hadir duluan saat saya sampai di rumah Pak Agung. Selain tuan rumah tampak pula akh Haryadi. Menyusul kemudian akh Sugeng. Beberapa ikhwan yang ‘dihubungi mendadak’ tidak bisa ikut. Jadilah kami berlima ‘rihlah mendadak’ ke Wonogiri ditemani Xenia Silver-nya Pak Agung. Kalau tidak karena ‘musibah itu' mungkin kami belum berkunjung ke tanah kelahiran saudara kami. Dalam hati kami ‘bersyukur’ cara Allah SWT yang tak terduga untuk mengeratkan ukhuwah diantara kami.

Sekira pukul 16.45 kami meluncur. Dua kilometer berjalan mobil transit di pom bensin jalan Piyungan-Prambanan. Dari situ perjalanan berlanjut ke arah Prambanan. Perjalanan sore itu kami manfaatkan juga untuk membahas ‘ke-dpra-an’. Suasana sore sepanjang perjalanan makin terasa indah dengan iringan lantunan opick lewat album 'Ya Rahman'. Meski album lama, nasehat opick terasa fresh menyentuh hati terutama lagu ‘Taubat’, ‘Rapuh’ dan 'Husnul Khotimah'.

Satu jam perjalanan diiringi opick dengan bersandar di jok nan empuk full AC membuat teman-teman yang duduk di belakang sopir tertidur pulas. Hujan lebat yang mengguyur kota Delanggu menambah nyenyak mereka bertiga. Tinggal saya menemani Pak Agung yang tangkas membawa Xenia-nya menembus hujan. Xenia baru memang sangat nyaman. Beberapa kali saya dan rekan-rekan juga dipinjami untuk keperluan keluarga. Tak canggung atawa sungkan karena sang empunya orangnya entengan, sangat ramah, akrab dan low profile. Dalam diam saya bersyukur dan bahagia ada ikhwah yang dikarunia ‘kelebihan’ rizki oleh Allah sehingga kami juga bisa turut ‘menikmatinya'.

Setelah dua jam lebih melewati liku-liku jalan dengan berpuluh kali tanya sana sini akhirnya kami sampai di RSUD Wonogiri. Jam menunjuk angka 19.15. Memasuki area RSUD pertama kali yang dituju adalah masjid. Berbeda dengan RSUD yang lain, disini masjidnya terletak diluar area rumah sakit. Masjid Asy-Syifa dengan halaman luas terasa nyaman. Saat kami masuk kedalam terlihat akh Dhanie tengah di masjid usai sholat isya berjamaah.

“Ahlan wa sahlan di wonogiri…,” sambut akh Dhanie setelah kami bersalaman. Berbaju black pks ‘seragam ikhwan dpra srimartani’ akh Dhanie terlihat segar. “Tadi rombongan Sitimulyo Srimulyo baru saja balik ke Jogja,” tutur akh Dhanie. Sebelum kami tiba teman-teman dari dpra lain sudah datang duluan dengan Xenia Black-nya Pak Abdillah. Ada pak Arief Kyoto, akh Putut, Sunar, Jono, Andi S dan BDE. Mereka sudah kembali lagi ke Jogja sebelum maghrib.

Obrolan terhenti karena kami segera sholat. Pak Agung yang suaranya merdu mengimami sholat jama’ maghrib-isya. Usai sholat kami dipandu akh Dhanie menuju kamar rawat inap. “Tadinya bapak dirawat di ruang khusus. Alhamdulillah kondisinya sudah membaik sehingga sebelum maghrib tadi dipindah ke ruang ini,” tutur akh Dhanie disisi bapaknya yang tertidur. Bapak berumur 73 tahun ini tampak kurus tubuhnya. “Bapak tidak doyan makan sudah hampir tiga minggu,” lanjut akh Dhanie. “Insya Allah satu dua hari besok sudah pulang dirawat di rumah saja.”

Kami kemudian diperkenalkan dengan keluarga akh Dhanie yang turut jaga. Ada mbakyu-nya akh Dhanie dengan suaminya. Sambil lesehan menggelar tikar di lorong depan kamar rawat inap kami mengobrol. Keramahan dan kehangatan kekeluargaan kami rasakan. Keripik singkong, kacang, biskuit turut menemani keakraban kami. Hampir satu jam kami bercengkrama. Tak lupa sebelum pulang Pak Agung mewakili teman-teman menyampaikan keprihatinan dan doa untuk Pak Sukiman yang tengah dirawat dan juga buat keluarga agar sabar mendampingi.

Jam delapanan malam kami berpamitan. Memang sayang tidak bisa berkunjung ke rumah akh Dhanie. Masih sepuluhan kilometer dari RSUD, kata akh Dhanie. Mudah-mudahan kapan-kapan kami bisa main ke kampungnya akh Dhanie.

“Yuk kita cari makan sambil jalan,” ajak Pak Agung yang dari tadi ‘menahan diri’. Kami memilih jalur alternatif yang berbeda. Jalanan lebih sepi. Sesekali berhenti untuk tanya sana-sini. Tak dijumpai apa yang dicari. Setelah separo perjalanan akhirnya yang dicari ketemu: nasi goreng spesial mas uka. Sambil lesehan di pinggir jalan kami menikmati lezatnya makan bareng dalam balutan ukhuwah. Ukhuwah fillah memang tak tergantikan.

Separo perjalanan lagi menuju Jogja kami nikmati dengan alunan ‘taushiah’ opick. Sesekali kami (terutama akh Rusdi) turut bergumam menirukan suara merdu opick....

Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka
Tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Diantara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata
Kupersembahkan kepadamu
yang terindah dalam hidupku

Meski ku rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadamu
Namun cinta dalam jiwa hanyalah padamu

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dada kuharap hanya dirimu yang bertahta

[ ‘Rapuh’ by opick ]

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

TRP & Temu Kader DPRa Srimulyo [edisi perdana]

Reporter: Andi TW
--
PAYAK - Ahad 24 Mei 2009 seluruh kader DPRa Srimulyo berkumpul untuk pertama kalinya setelah pemilu bulan April kemarin. Sesuai dengan keputusan rapat rutin pengurus tiap hari jumat, temu kader kali ini bertempat di rumah Joni Endro K dusun Payak.

Kader DPRa srimulyo berdatangan dari berbagai penjuru untuk konsolidasi dan merapatkan kembali barisannya. Acara tersebut juga dihadiri ketua DPC Wawan Wikasno dengan memberikan semangat baru untuk para kader Srimulyo agar bersiap-siap lagi menyambut hari-hari ke depan dengan bekal ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah karena tugas da’wah akan semakin banyak bukan semakin berkurang.

Pak Ketua DPC juga menyampaikan info dan program ke DPC-an. Salah satunya adalah program Pemberdayaan Ekonomi Kader. Kepada kader yang mempunyai usaha atau mau mengembangkan usaha bisa mengajukan proposal karena DPC dapat amanah untuk mengelola bantuan dana pinjaman lunak khusus untuk kader piyungan.

Usai pengarahan oleh Ketua DPC acara dilanjutkan dengan Arisan. “Hayo yang nunggak banyak segera dilunasi,” seloroh akh Putut selaku PJ arisan sambil bercanda. Setelah dikocok Arisan kali ini yang dapat adalah Akhuna Yusuf dari Jolosutro. Otomatis tempat ta’lim dan temu kader bulan depan di dusun Jolosutro. Begitulah rumusnya: yang dapat arisan ketempatan bulan depan.

Di penghujung acara ta’lim ini adalah ramah tamah dan menikmati soto special dari Payak. Juga informasi terkait kegiatan DPRa yaitu tanggal 27 mei diadakan Nonbar Final piala Champion di pegunungan Kaligatuk dan Ahad 7 Juni Yankes di dusun Bangkel.

Selesai acara sebagian kader akhwat persiapan untuk Pos WK di Kaligatuk dan yang lain kembali ke pos masing-masing.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Merajut Ukhuwah di Bukit Kemloko

by ADel
---
Duh, tak terasa. Hampir 1,5 taon lamanya laskar Srimartani (full team) tak 'bertandang' ke salah satu rumah di bukit yang indah ini. Kalo untuk agenda PWK sih tiap bulan ada (tempatnya di gedung serba guna). Tapi untuk ajang peng-ghodog-kan agenda-agenda dakwah, terakhir kami duduki tikar di rumah ini pada Januari 2008. Makanya ukhti ini ngebet banget agar forum ukhuwah+syuro dua pekanan digelar di rumahnya.

Tak banyak perubahan kondisi jalan menuju rumah ukhti Choiriyah. Berliku, curam, dan teng gronjal (susah mentranslete istilah 'teng gronjal' ke basa nasional.. Tau kan maksudnya?). Jalanan yang begini ini bikin pemakainya kudu ekstra hati-hati. Bagi yang tak biasa, lumayan bikin tegang. Ngebut? Siap-siap mblandang ke jurang! Hehe... Gitu lah gambaran jalan menuju arena syuro di bukit Kemloko petang kemarin, Senin (25 Mei '09).

Kelar pileg, tiga DPRa di Piyungan belum ngadain PKS (Pelayanan Kesehatan gratiS) lagi. Srimartani sudah kangen betul dengan aktifitas satu ini. Oleh karena itu petang kemarin dibahaslah agenda 'PKS'. Forum sepakat 'PKS' akan digelar di dusun Wanujoyo Kidul, Ahad 31 Mei '09.

Selain itu, kami bahas juga agenda PWK. Ini dia jadwalnya :
- PWK Rejosari, 7 Juni '09 : training perawatan jenazah
- PWK Poitan, 7 Juni '09 juga : praktek bikin kripik belut cara hemat (belut diganti daun singkong...). Istilah kerennya kripik belut nabati.
- PWK Tambalan, 13 Juni '09 : rencananya pelatihan 'merakit' bom atom (karena bom berbahaya, maka diganti pake kacang. Alias kacang atom. Hehe...). Ini kami lagi nyari orang yang ahli bikin kacang atom. Bagi siapa saja yang dikaruniai keahliaan ini, bisa kah bantu kami?

Matahari udah pulang ke sarang, adzan maghrib berkumandang. Laskar Srimartani pamit dulu, mo ke masjid...


NB: Af1 jiddan. Acara kemaren undangan gak nyampe jadi gak tahu. Btw, kalo pun tahu juga agak susah ngejar jadwal soale pulang kerja jam 5 sore lebih dikit. Perjalanan lima belas sampe dua puluh menit. Maghrib sekarang jam 17.30 tit. Dulu waktu acaranya hari sabtu bisa ikutan. Tapi sabtu sore ketua dpra gak bisa krn kudu ngejar s1-nya. [admin]
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Amanat

Senin, 25 Mei 2009

by ibn surhim
Hujan lebat ba’da ashar mengguyur wilayah Piyungan Ahad kemarin (24/5). Saya yang sudah bersiap-siap dengan istri untuk berangkat tertunda sejenak. Setelah reda kami segera meluncur dengan Spin merah ‘punya istri’. Berdua kami menikmati sore segar berbalut hawa dingin. Hijau sawah di sepanjang jalan kampung menambah rasa syukur. Betapa damai dan nyaman suasana pedesaan.

Kurang dari sepuluh menit kami sampai lokasi. Tampak Ketua DPC, Sekjen dan Pak Agung. Ummahat yang terlihat bu Nur sohibul bait, bu candra, bu prapti, bu ikah, bu lela dan istriku. Sore sebelumnya via SMS kami mendapat undangan Syuro PH DPC dari Ketua DPC Piyungan.

Teh hangat plus jeruk dan gorengan yang tersaji langsung dinikmati sambil membahas tiga agenda. Ketiga agenda semua berkait dengan kader. Pertama, pemberdayaan ekonomi kader. Kedua, ‘perjodohan’ kader. Dan ketiga, tarbiyah kader.

Kami membahas ‘perekonomian’ kader terkait amanah dari salah seorang ‘pengunjung’ blog pkspiyungan yang menitipkan qordul hasan dana modal 25 juta untuk pengembangan/pengentasan maisyah kader. Pekan sebelumya, Ahad (17/5) pengurus DPC Piyungan sudah bertemu dengan sang muhsinin yang ber-nickname ‘imad_aql’ di Masjid Kampus UGM. Dalam silaturohim itu disepakati MoU ‘pengembangan ekonomi kader’ dengan sistem qordul hasan dana 25 juta selama setahun. Syuro sore itu kami membahas ‘skema’ pengucuran dana agar tidak ada ‘kredit macet’ namun tepat sasaran dan tepat guna.

Pembahasan kedua makin menarik. Saya ragu juga untuk ‘membocorkan’ hal yang seharusnya ‘top secret’. Soalnya ini urusan sensi (alias sensitif). Sebagai gambaran umum, di dpc piyungan ada unit non-formal yang bernama ‘forum melati’. Disinilah dibahas urusan pra-munakahat kader piyungan. Kami para murobbi/murobbiyah yang salah satu tugasnya untuk ‘mencari solusi’ segenap permasalahan kader termasuk ‘munakahat’ sesungguhnya ini amanat berat. Namun demikian ‘forum melati’ hanyalah sebagai ‘unit pembantu’ yang sekedar menawarkan ‘solusi munakahat’ bagi para kader yang ‘menitipkan amanah-nya’. Kata ‘menawarkan’ perlu digarisbawahi karena yang menentukan ‘ya tidak-nya’ adalah kader yang bersangkutan. Bagi kader yang akan menempuh ‘jalur swasta’ juga tidak ada larangan. Hanya tugas murobbi/murobbiyah adalah memberi arahan, rambu-rambu syar’i dan sharing pengalaman. Karena toh yang akan mengarungi samudera rumah tangga adalah para kader ybs.

Sangking banyaknya ‘amanah munakahat’ waktu terkuras hingga adzan Maghrib mengakhiri syuro yang masih menyisakan satu agenda yaitu pembahasan tarbiyah kader. Sebetulnya agenda terakhir ini berupa laporan dan sinkronisasi antara rencana program kaderisasi ikhwan yang sudah dibahas pada Senin kemarin (18/5) dengan program kaderisasi akhwat yang juga sudah dirakerkan pada Ahad lalu (17/5).

Sebelum pulang, kami mampir ke masjid terdekat untuk sholat maghrib berjama’ah. Do'a tak lupa kami panjatkan agar Yang Maha Kuasa menguatkan langkah kami, memudahkan urusan kami, memberkahi usaha kami. Sungguh berat amanat ini padahal baru level dpc. Kami jadi sadar, betapa berat 'beban' para qiyadah kami di level DPP dan Majlis Syuro yang harus memikul amanat berjuta kader.

Allahumma afrigh alaina shobron wa tsabit aqdamana wanshurna alal qaumil kafirin.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

iris-iris saji-saji icip-icip PWK Srimartani

by Ken Sri
---
Berbagi itu nikmat lho! Kecuali bagi orang yang pelit selangit. Cuma mereka yang jiwanya selalu merasa dalam kekurangan aja lah yang tak mudah untuk berbagi. Sebaliknya, kalo jiwa orang tuh penuh dengan kecukupan dan kelimpahan, maka berbagi akan terasa mudah dan ringan baginya.

Berbagi toh tak hanya terbatas pada materi. Ilmu, keterampilan, pengalaman jauh lebih panjang manfaatnya kalo ditularkan ke orang lain. Keterampilan yang kita miliki, bila kita jeli merabanya, akan selalu kita temui ladang untuk bersedekah. Berbagi keterampilan juga bisa membuka sedikit celah penghidupan buat orang lain. Rugi kan kalo kita punya seabrek keterampilan cuma disimpen sendiri? Beruntunglah bagi orang yang tak terjangkit mental enggan berbagi.

Makanya, PWK Srimartani tak ingin ketinggalan momen bersama ibu-ibu binaan dusun Poitan. Mereka pepingin banget belajar bikin TORAMA (tomato rasa kurma). So, pada pertemuan rutin bulanan Mei ini kami menggandeng Bu Muji (kader aseli Srimulyo yang nyemplung di Srimartani) untuk menularkan resep torama-nya pada ibu-ibu PWK Poitan.

Dengan bahan-bahan yang kami siapkan, segera Bu Muji memulai aksinya. Begitu kertas resep dibagi, peserta terlihat komat-kamit (baca gitu) sembari menyimak wejangngan sang koki. Baru juga mulai tapi dengan kejamnya mereka menyela demo Bu Muji.
“Bu, tomatnya dicoblos-coblos biar apa?”
“Bu, ntar digoreng ato di apain?”
“Dikasih injet biar apa, Bu?”

Disela begitu, terang aja koki yang lagi asyik mendemokan step by step mesti menghentikan sejenak aksinya. Dengan diplomatis beliau menyahut,
“Sekedap nggih ibu-ibu, setiap proses nanti saya jelaskan segamblang-gamblangnya. Sekarang kan baru nyampe gimana cara milih tomat yang bagus....”

Tak lupa kami juga bawa torama yang sudah jadi. Sambil nunggu si calon torama dimasak, ibu-ibu terlihat icip-mengicip. Berhubung persediaan terbatas, sebiji buat rame-rame dech!
“Kurmanya dimasukin dalam sini?” kata seorang ibu sambil menunjuk bagian dalam torama. Oalah.... Si ibu ngantuk kali ya waktu demo masak berlangsung! Wong tak diperlukan secuil kurma pun untuk bikin torama, kok.

Di akhir acara Bu RT sempat berbisik pada kami,
“Maaf ya mbak, PKS belum bisa menang disini...”
Kami menanggapi dengan senyum. Maklum, banteng selalu 'ngamuk' di daerah ini sejak puluhan tahun lalu. Yang pasti, hal itu tak lantas menghentikan tapak langkah kami di dusun merah ini.

---oOo---

Yuk, sekarang kita beranjak ke Kampung Tambalan! Setelah bulan lalu ibu-ibu PWK Tambalan pada belajar kanker payudara, maka bulan ini mereka penasaran cara bikin susu kedelai. Pasalnya, kata bidan Amey susu kedelai merupakan bahan yang ampuh untuk mencegah kanker. Ternyata kandungan gizi susu kedelai juga hampir setara susu sapi. Sip, kan! Bahannya murah, bikinnya mudah.

Untuk training pembuatan susu kedelai ini, kami hadirkan langsung istri ketua DPC PKS Piyungan. Bu Farikhah. Susu kedelai racikan Bu Farikhah ini terkenal amboi rasanya! Seperti biasa, bahan-bahan untuk praktek selalu kami sediakan dari rumah. Proses pembuatan susu ini agak lama. Yakni kedelai harus direndam 10 jam dan direbus sampai empuk. Jadi proses merendam dan merebus kami kerjakan di rumah.

Meski siang itu cuaca lumayan membakar, tapi suasana ceria tetap mendengung di kediaman mbah Tris, tempat berlangsung acara. Apalagi aksi dapurnya Bu Farikhah tak kalah sedap dengan kepiawaian Sisca Soewitomo (itu tuh, ratu dapur tayangan AROMA di Indosiar). Beliau ini juga lumayan kocak, tambah seger dech suasana.
“Jangan lupa kasih sedikit jahe waktu mBlender ya ibu-ibu. Buat ngilangin rasa langu kedelainya” tutur beliau.

Hasil olahan siang itu langsung dapat mereka icipi. Hmm.... Nikmatnya menyeruput susu kedelai rasa pandan yang masih hangat kebul-kebul....!

“Wah, enak! Sueger tuenan!” komentar seorang ibu.
“Ternyata gampang ya buatnya?! Nek beli seplastik kecil aja seribu je!” imbuh ibu yang lain.

---)8(---

Sejumput doa terucap, semoga kita dapat memelihara semangat berbagi kapan pun, dimana pun. Di iringi tulus dan ikhlas....

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Karena Wanita tak sekedar "ingin dimengerti "

by : Ummu Zidane Zahary
Sudah menjadi sebuah kewajiban setiap organisasi, untuk merngadakan rapat kerja serta mengevaluasi hasil kerja selama kurun waktu tertentu. Begitu juga dengan PKS PIYUNGAN yang tgl 17 Mei 2009 kemaren mengadakan Rapat Kerja Akhawat, khusus membahas Bidang Kewanitaan yaitu bidang yang bekerja dan berjuang untuk wanita, termasuk anak-anak dan remaja putri.

Raker yang dihadiri kurang lebih 30 orang ini, dimulai pukul 09.00 hingga 12.00 dilaksanakan di rumah Ibu Harjono, pemilik Ruko Anthurium di Kabregan Piyungan. Meski turut dimeriahkan oleh tangisan serta jeritan anak-anak dan bayi, acara tetap berlangsung hidmat. Perjuangan bukan hanya bagi akhawat yang masih lajang, namun ibu-ibu dengan segala kerepotannya, tetap berusaha hadir dan memberikan sumbangsih dalam RAKER tsb.

Dalam RAKER ini kami membahas tentang kebutuhan kewanitaan. Secara internal Kewanitaan DPC PKS PIYUNGAN memiliki program memperbaiki kualitas kadernya, dengan mengadakan training, daurah serta kajian-kajian yang kelak menjadi bekal kami dalam berdakwah dan berkarya. Sedangkan secara eksternal, kami berkewajiban untuk mendampingi ibu-ibu PKK, meningkatkan kualitas mereka, melejitkan potensi yang ada serta terus membina POS WK yang ada agar lebih produktif, baik sebagai istri, ibu, maupun anggota masyarakat, juga menjadi wanita mandiri yang bisa dibanggakan oleh suami keluarga serta masyarakat di sekitarnya. Sebagaimana wanita didikan Rasulullag dan para sagabatnya.

Bidang Kewanitaan PKS PIYUNGAN tetap semangat mengusung dakwah ini dengan semangat juang dan harapan adanya perubahan yang baik bagi peradaban Indonesia. Kami Wanita PKS siap membersamai wanita Indonesia untuk mengarungi dunia ini... membelah samudra dengan ilmu dan persaudaraan. Semoga kami akan terus diberi kekuatan oleh Allah untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas kami, sebagai wanita, sebagai pejuang demi BUMI yang kami cintai ini.

Kami berdo'a kelak anak-anak kami akan siap menggantikan kami dengan kualitas yang lebih baik, karena sedari kecil mereka telah kami ajak serta dalam barisan ini, susah senangnya berjuang kelak kan menjadi keseharian mereka, semangatnya sedari kecil akan mendarahdaging dan kelak menjadi bombardir bagi musuh-musuh bangsa ini.
selamat berjuang para Umi dan calon Umi...
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Jejak Muhadditsin 'blogger'

by Om Wied
Baru seratus ribu, kelak akan meningkat satu juta, delapan juta. Terus bertambah dan bertambah. Itupun baru pengunjung, belum lagi peminat apalagi pegiat. Tidak jarang yang hadir adalah para penghujat. Karena rumah ini tak berpintu. Wong siapa aja bisa bludas-bludus tanpa kulonuwun. Begitu istilah dari Ken Sri.

Masih banyak yang perlu dilakukan tidak hanya menjelang, terlebih pasca pemilu. Kebun dakwah mesti terus tersebarluas dan terawat. Jalan ini masih panjang sepanjang usia jaman yang dihuni manusia. Tidak hanya sepanjang angan angan yang mampu menembus batas ajalnya. Onak dan duri akan tetap mengiringi maka teruslah menulis agar engkau bisa menangkis.

Di zaman kini, tak ada kiprah positif yang (dianggap) bernilai berita hingga dijamin tak akan diliput media. Apalagi itu dilakukan oleh sebuah partai politik. Partai dakwah yang setiap saat menebar kebaikan. Dibutuhkan dana besar untuk kiprah positif yang tertayang meski berdurasi detik. Namun, bila negative akan segera booming menjadi headline di sana sini. Tengok saja sejenak, hanya karena kurang baik dalam ‘polling’ diulas ‘ber-aura negative’. Bacaan Al Fatihah dicetak ‘tema jualan kampanye’ lebih ekstrim lagi ‘menunggangi korban bencana untuk meraih kekuasaan’.

Juga untuk saling mengingatkan bahwa arah perjuangan kita tidak berubah. Seperti mutiara kata yang pernah saya dapat entah dimana saya lupa. ‘Jangan bilang tidak mungkin karena akan menutup kemungkinan. Jadilah engkau seperti jari jemari meskipun berbeda beda tetapi tetap bersatu (berjamaah-pen) dalam mengerjakan sesuatu’. Tak perlu lagi saling curiga yang akan membuat kita mudah mendapat was-was. Apalagi sampai hilang tsiqah pada para Qiyadah.

Masih dibutuhkan lebih banyak lagi sosok seperti Abu Hurairah, Aisyiah dan juga Umar Ibnu Khattab. Meski liputannya tidak se-Shohih Bukhori atau se-Hasan Turmudzi. Namun setidaknya bukan sesuatu yang dhoif (palsu).

Maka kabarkanlah ia padaku tentang sekumpulan pemuda yang istiqomah di medan dakwah. Agar tiada bias informasi, juga tak ada salah persepsi, apalagi disorientasi.(Wied)

Halmahera Utara, 23-05-09

Sang Musafir
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Acara Inti & Acara Untu

Sabtu, 23 Mei 2009

Oleh: Abu Hasan
Hujan masih rintik-rintik kala dia datang. Mengenakan raincoat biru bergaris hijau pupus dengan tergesa-gesa dia mengetok pintu. “tok tok tok.. assalamu’alaikum…”. Saya yang sudah menunggu dari tadi langsung membuka pintu kala jam menunjuk angka 20.40.

Sebelum berangkat dering hp berbunyi.
“Antum dimana? Tempatnya pindah ke minolestari,” terdengar suara dari seberang.

Malam pekat diiringi gerimis yang turun sejak Maghrib tadi belum reda. Pertengahan bulan mei (tepatnya tgl 18) cuaca masih seperti musim penghujan. Berboncengan kami menyusuri jalan Jogja-Wonosari. Diperempatan sampakan kami belok kiri melintasi jalan utama desa sitimulyo. Sekira 2 km dari situ di kanan jalan tampak plakat ‘Minolestari: Pemancingan & Griya Dahar’. Lokasi yang sudah familiar bagi kader pks piyungan.

Di parkiran sudah mejeng belasan motor. Kami sampai lokasi berbarengan dengan akh Akhid Munggur, kader ADK yang sudah lama gak ketemu. “Assalamu’alikum,” sapaku dengan seulas senyum dan jabat tangan erat. Raincoat yang masih basah kami sandarkan di motor lalu bergegas kami melangkah.

Hujan sesorean membuat licin jalan setapak yang membelah petak-petak kolam ikan. Di ujung jalan tampak beberapa ikhwah sedang asyik ngobrol sambil duduk lesehan di salah satu gubuk. Ada enam gubuk bermacam ukuran. Kami memilih ukuran sedang karena peserta hanya perwakilan dari dpra-dpra.

Wawan Wikasno, ketua DPC PKS Piyungan sudah hadir. Kader sitimulyo yang sudah tampak akh didi, pakde, parjo, bde, tio, sulis, dan sunar. Dari srimulyo hadir akh andi tw, jono, dan gino. Srimartani ada akh eko heri, eko yuli, si boy, dan kami bertiga. Saat acara mau dimulai beberapa kader datang menyusul. Akh parman dan sarojo dari sitimulyo serta akh dhanie dari srimartani. Total 20 kader ikhwan.

Sekira pukul 21.15 pak sekjen membuka acara Raker Kaderisasi DPC PKS Piyungan. Akh jono (Sujono Ragil Sentono) melanjutkan dengan melantunkan surat ash-shof. Sambutan sekaligus memimpin jalannya raker oleh ketua dpc.

Seusai pengarahan dari ketua dpc, masing-masing dpra mempresentasikan hasil raker kaderisasi tingkat dpra. Akh Rusdi ketua dpra srimartani mendapat giliran pertama. Sembari membagikan lembaran ‘peta’ rencana kaderisasi srimartani kepada hadirin, akh Rusdi menyampaikan sepuluh kelompok liqo baru dari usia remaja sampai bapak-bapak yang dihasilkan dari urun rembug syuro ikhwan dpra srimartani yang berlangsung malam jumat sebelumnya. Di kertas yang dibagikan sudah tertera sepuluh kelompok liqo lengkap nama calon peserta, calon murobbi dan waktu liqo. Dari sepuluh liqo ada dua yang belum diplot murobbinya. “Karena keterbatasan sdm lokal, kami minta murobbi dari luar srimartani untuk dua liqo yang masih kosong murobbinya,” urai akh rusdi menutup presentasi.

Raker kaderisasi dpc ini memang dirancang untuk sinkronisasi program kaderisasi dpra. Salah satunya masalah ‘penugasan’ murobbi lintas dpra. Karena baru sesi presentasi, masukan dan masalah yang ada ditampung dulu.

Kesempatan presentasi kedua dari dpra sitimulyo. Akh sulis memaparkan hasil ‘teropongan’ calon-calon yang mau diliqokan di sitimulyo. Berbeda dengan srimartani yang sudah ‘built up’ di kertas kerja, dpra sitimulyo ‘belum sempat’ mendesain ‘survey calon peserta liqo’. Hanya sebatas nama calon peserta yang bertebaran, belum dikelompokkan, belum ada rencana plot siapa murobbinya apalagi rencana hari liqonya. Hal yang sama juga pada dpra srimulyo. Akhrinya pimpinan raker memberi waktu setengah jam untuk masing-masing dpra mematangkan rencana perliqoan dalam bentuk ‘grouping peserta’ dan plot murobbinya.

Setengah jam berjalan. Pleno kembali lagi dengan hasil yang lebih terukur. Dpra sitimulyo mencatat ada enam kelompok liqo baru plus calon murobbinya. Dpra srimulyo melaporkan ada tujuh kelompok liqo baru. Sedang permasalahan ‘calon murobbi’ dua liqo dpra srimartani terselesaikan. Satu liqo yang dihuni eks panitia badminton pks piyungan cup karena pesertanya lintas dpra untuk murobbinya diampu ketua dpc langsung. Sedang satu liqo lagi akan dimintakan dipegang ustadz Mutakhid, kader piyungan yang ‘ditugaskan’ di kecamatan dlingo (daerah pegunungan tetangga kecamatan piyungan).

Satu setengah jam berembug total menghasilkan 23 liqo baru ikhwan di dpc piyungan plus sepuluh murobbi baru.

Usai menguras pikiran, hidangan pecel lele bakar yang sudah tersaji sepuluh menitan langsung diserbu. “Ayo pakde bangun…!” ledek akh BDE yang melihat pakde dari tadi lendetan merem melek. Cengar cengir khas pakde kalau diledek menjadi ‘hiburan’ tersendiri bagi peserta yang lain. BDE itu memang suka mencandai pakde kalau di liqo. Ane yang sudah hafal polah kader ikut tersenyum. Pakde itu panggilan akrab teman-teman kepada akh Mujiran. Sopir di toko material ini posturnya paling tinggi. Spesialis masang spanduk dan atribut lain yang pake panjat memanjat.

Sekira jam 23.10 acara inti dan acara ‘untu’ selesai sudah.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Temu Saksi DPRa Srimartani

Reporter: Dimar Sembiring
Sabtu, 9 Mei 2009 jam 20.00 WIB bertempat di Pemancingan Mino Lestari, Pengurus DPRa PKS Srimartani, saksi-saksi PEMILU se-Desa Srimartani berbaur menjadi satu untuk menggelar Syukuran PEMILU Legislatif yang telah berlalu. Ajang inipun menjadi ajang kangen-kangenan dan makin mempererat sillaturohim di antara kami. Memang sudah agak beberapa saat kami belum bisa bersua, tepatnya setelah terakhir kami "bekerja sama" di 9 April 2009, praktis ini adalah kali pertama kami ketemuan lagi.

Sebelum masuk ke acara inti, yaitu "Makan Bareng" lele bakar khas Mino Lestari, kamipun saling ngobrol dan saling bertukar informasi terkait hasil perolehan suara yang telah kami raih, dan informasi-informasi perkembangan terkini tentang perpolitikan di negeri kita ini. Kebetulan juga pada malam tersebut hadir pula Amir Syarifuddin caleg PKS DPRD II Bantul yang berhasil lolos dan Agus Sumartono caleg PKS tingkat propinsi yang juga lolos jadi aleg. Beliau berdua banyak menyampaikan perkembangan- perkembangan terkini tentang PKS dan juga rencana PKS ke depan, rencana koalisi di Pilpres, dll.

Setelah jam 10-an malam, acara intipun "datang". Kami pun segera menjalankan acara inti tersebut dengan suka ria, larut dalam keakraban dan kemesraan sillaturohim yang semakin erat terjalin...

Kemesraan ini..... Janganlah cepat berlalu......

----
NB: walau udah bulukan [udah 2 pekan baru bikin liputan] .... yang penting gak dilupakan [ed]

posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Biar Liqo Serasa Coklat

Jumat, 22 Mei 2009

by Ortega
----
Libur nasional Kamis kemarin (21/5) boleh dikata full sport action. Dalam sehari ADMIN dkk (akh Dhanie, Dimar Sembiring) pagi-malam menemani main futsal anak-anak remaja kampung yang baru bersentuhan dengan ‘dunia liqo’.

Akh Dhanie yang mruput duluan dari jam 6.30 bersama sepuluh binaan dari dusun Kabregan dsk (dan sekitarnya). Saya sendiri ‘berpapasan’ dengan akh Dhanie sekira jam 6.00. “Tit tit tit….,” bunyi klakson motor Akh Dhanie dari arah belakang melewati ane yang lagi jogging sendirian di jalan Jogja-Wonosari. Paling akh Dhanie dari masjid Kabregan ngajar tahsin liqonya, batinku. Beliau pernah cerita kalau setiap Minggu/hari libur ada ‘ekstrakulikuler’ liqo dengan sholat shubuh berjama’ah di masjid dan dilanjut tahsin.

Jam 7.20 bersama rombongan lima anak kampungku, kami sampai di lapangan futsal. Terlihat akh Dhanie tengah menjadi wasit jalannya futsal. Ane hitung ada sepuluh pemain yang terbagi dalam 2 tim. Sambil sesekali melepas tawa, anak-anak liqo akh Danie sangat enjoy menikmati pagi dengan futsal. Setahu saya baru dua kali mereka main futsal. Rata-rata usia sma. Beda dengan ‘bawaan’ ane yang usia smp (bahkan ada yang baru kelas enam sd).

Sepuluh menit saya ikut menikmati ‘kegembiraan’ adik-adik binaan akh Dhanie main futsal. Namun akhirnya peluit panjang terpaksa menghentikan ‘suka ria’ mereka. Satu jam main futsal memang terasa kurang. Ini memang bukan sekedar futsal. Futsal hanyalah media untuk mengakrabkan sekaligus mencairkan ‘formalitas liqo’ sehingga anak-anak merasa mengalir mengikuti dinamika dakwah. Step by step. Dalam Fiqih Da’wahnya syaikh Jum’ah Amin Abdul Azis disebutkan beberapa Kaedah Da’wah diantaranya yang pertama, mengakrabkan sebelum memahamkan.

Ronde kedua futsal dimulai pukul 7.30. akh Dimar yang datang duluan membawa anak-anak kampungnya yang baru pertama kali main futsal. Anak-anak usia smp sebagian sd. Mereka akan main tanding dengan anak-anak dusunku. Karena baru sekali ini main futsal, masih terlihat ‘kekakuan’ dan terpaksa menyerah 10-3. Namun mereka bisa menikmati permainan futsal. Hal ini terlihat ketika sudah mau pulang mereka masih ingin terus main futsal sesama mereka.

Jam 8.30 ronde ketiga futsal berlanjut antara Pemuda dusun Tambalan melawan kader-kader PKS. Satu jaman hanya menonton dan jadi wasit, ini saatnya cari keringat. Anak-anak muda dusun Tambalan yang ‘dibawa’ akh Dimar sudah sering kami bertemu. Mereka simpatisan pks. Satu diantaranya (Ketua Pemuda) baru gabung ikut liqo yang kebetulan ane pegang.

Tentu karena sudah sama mengenal, permainan futsal berjalan penuh keakraban. Kalau sesekali ada takcling keras hal itu semata reflek manusiawi. Tak terasa satu jam bergulir. Keringat bercucuran. Memang masih belum puas kalau hanya satu jam. Futsal memang asyik banget. Saya jadi teringat sehari setelah pencoblosan, akh Dimar pernah bercerita anak-anak pemuda kampungnya minta hadiah ‘futsal gratis’ setelah di TPS mereka PKS menang telak. Tentu kami dengan sangat senang sekali memenuhi permintaan mereka.

Session I futsal pagi selesai jam 9.30. Malam hari (malam jum’at) kami juga sudah ‘booking’ tempat futsal untuk anak-anak liqo baru dusun Sumokaton binaan Akh Dimar Sembiring. Bagaimana jalan ceritanya? Lebih seru. Jadwalnya satu jam tapi bertambah jadi satu setengah jam. Insya Allah biar akh Dimar sendiri yang bertutur. Lagian sudah lama anak ini gak nongol di blog.

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Blog PKS ndeso diantara 100.000 visitors

Oleh Abdul Wahid Surhim*
100.000 pengunjung dalam 374 hari (1 tahun lebih 8 hari). Itu berarti sekitar 267 pengunjung per hari (ini perkiraan bahwa 100.000 pengunjung itu akan dicapai 3 hari lagi). Prestasi yang patut disyukuri. Apalagi dengan sebaran pengunjung yang merata, bukan hanya merata di tanah air, tapi juga di luar negeri. Prestasi ini tentu berkat kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas tim pengelola blog ini. Terutama ADMIN dan para reporternya. Barakallahu lakum.

Blog PKS Piyungan diam-diam telah menjadi ikon dari semangat juang kader secara umum dan secara khusus kader di perkampungan. Kenapa ana sebut perkampungan? Karena ana sendiri beberapa kali berkunjung dan menginap di Piyungan dan sempat bertemu dengan ikhwan dan akhawat di sana. Dari nama-nama tempat yang sering disebut dalam berita pun jelas sekali: kampung rejosari, kampung kemloko, dusun poitan, dusun mutihan, desa srimartani, desa sitimulyo, dan desa srimulyo. Wah, kampung, dusun, dan desa di Piyungan sudah menasional bahkan mendunia.

Kenapa PKS Piyungan menjadi daya tarik bagi para pengunjung? Pertama, tampilannya memang ok banget. Pemilihan warna, penempatan foto dan fitur-fitur, dan layout yang eye catching. Ini menunjukkan designer-nya memiliki jiwa seni yang bagus.

Kedua, upto date. Beritanya hampir selalu baru setiap hari (meskipun beberapa hari belakangan agak telat update-nya). Ini memerlukan kerja keras dari tim pengelola blog ini. Ini juga menunjukkan daya juang para penggerak PKS Piyungan memang subhanallah.

Ketiga, beragam atau gado-gado enak. Informasi penting apa saja hampir bisa didapatkan dari blog ini. Ini memerlukan mata yang selalu awas dalam memantau berita di mana saja, yang layak diketahui oleh para pengunjung. Dengan ini pengunjung seakan dimanjakan dengan suguhan berita yang sekali klik tapi dapat banyak.

Keempat, memberi motivasi. Seakan bagi kader yang puyeng dengan berbagai media yang kadang miring beritanya terhadap sepak terjang PKS, maka dengan mengklik blog ini akan segera mendapatkan motivasi baru dan pencerahan baru.

Dan terakhir, sangat khas. Ini karena banyak menampilkan berita-berita aktivitas kader di Piyungan dengan berbagai seluk-beluk para tokohnya, para warganya, kondisi kampungnya, dan lain-lain.

Wajar kalau kita bisa mengatakan bahwa blog ini adalah blog yang terbaik saat ini. Bukan hanya karena memiliki lima keunggulan seperti telah ana paparkan. Tapi bisa kita lihat juga dari menu beritanya. Ada 38 menu berita seperti tertera di bagian kiri blog, dengan 1.092 berita yang telah dirilis (sampai tulisan ini dibuat). Menu Pemilu Pilkada menempati ranking tertinggi (140 berita), disusul dengan Kiprah PKS Nasional (127 berita), Kiprah DPRa Srimartani (96 berita), Serba Serbi PKS (83 berita), dan Catatan Harian Ikhwan (66 berita). Ini sekedar untuk meranking lima menu berita yang paling banyak dirilis.

Semoga tim pengelola blog ini tidak kecapean mengurus blog yang baik ini. Tetap semangat. Tetap ikhlas. Tetap cerdas. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada antum semua dan menjadi karya ini sebagai amal jariyah yang selalu mengalir pahalanya. Aamiin...

Wallahu a'lam bishshawab


*Abdul Wahid Surhim
Pelajar S3 UTM Johor-Malaysia
------
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN