Oleh: Abu ZalfaaSore itu, Minggu Pahing (19/4), meski badan masih terasa belum fit setelah diterpa flu, kami berencana untuk menyapa (silaturahmi) ke warga. Ada kampung Rejosari dan Kemloko yang menjadi target agenda kami sore sampai malam kala itu. Bertiga, Ane, akh Sihono dan akh Sugeng janjian di simpang tiga Lapangan Petir.
Sepekan pemilu legislatif telah lewat, namun selama sepekan tersebut ada saja saudara-saudara kami dari kedua kampung tersebut yang hilir-mudik , entah via sms ataupun telpon, menanyakan bagaimana perolehan suara untuk para CAD PKS.
Walaupun bagi orang lain dianggap hal yang biasa, namun bagi kami, warga yang dengan rela kontak dengan kami merupakan atensi yang luar biasa. Karenanya, kami merasa seperti diingatkan, bahwa kami tidak boleh hanya diam saja dirumah, duduk-duduk santai apalagi tidur seharian. Then, kami berupaya agar atensi mereka, kami jadikan penyemangat untuk terus mendakwahkan PKS di bumi Srimartani ini. Desa yang kami cintai dan mencintai kami.
Makanya sore itu kami berupaya untuk mendatangi satu-persatu warga maupun kordus PKS (kontak dusun, simpatisan aktif) di dua dusun tersebut. Kamipun mulai menyusuri jalan menuju dusun Rejosari terlebih dahulu.
Sore hari, warga sudah mulai pulang dari sawah. Seperti biasa, tegur sapa keakraban menghiasi setiap kami berpapasan dengan warga. Kamipun singgah terlebih dahulu di rumah Bapak Lanjar (sesepuh warga Rejosari). Sembari menunggu Bapak Lanjar pulang dari sawahnya, kami menuju kandang sapi ternak milik Bapak Lanjar. Dua ekor sapi diantaranya adalah sapi ternak gaduhan yang ‘kami usahakan via jaringan PKS’ pada waktu yang lalu bersama warga yang lain dalam satu kelompok ternak sapi.
Dan sampai hampir 4 bulan lebih program penggemukan ternak sapi-sapi tersebut berjalan sukses, terbukti dua ekor sapi di kandang itu bisa bertambah berat dagingnya rata-rata 1,6 kg per hari ( dari target pemodal 0,8 kg per hari ).
Ternyata bukan itu saja yang membuat kami bangga dari program penggemukan ternak sapi. Diseberang kandang sapi ada tumpukan plastik 25 kg, Subhanalloh, ternyata itu adalah pupuk organik yang diolah dari kotoran sapi-sapi ternak di kandang tersebut. Kotoran sapi yang telah dicampur dengan E4, daun-daunan, gamping dll sehingga menjadi pupuk organik alternatif bagi para petani di sekitar piyungan. Apalagi pupuk organik yang dikelola sendiri oleh Bapak Lanjar dengan anaknya dan warga lainnya itu dikemas menarik dan harganya juga sangat terjangkau oleh masyarakat.
Senja semakin temaram, Bapak Lanjar yang kami tunggupun akahirnya datang sembari membawa “oleh-oleh” khas dari sawah. Seraut wajah yang nampak kelelahan, namun tersungging senyuman tulus yang diberikan menyapa kami yang sudah menunggu beliau.
Setelah membersihkan badan, beliau mengajak kami menuju ruang tengah untuk sekedar ngobrol sambil melepaskan dahaga dengan minum teh hangat dan gethuk makanan khas warga Rejosari (Bagi temen-temen yang menginginkan gethuk ternyata warga menerima pesanan juga).
Kisah dan cerita beberapa warga Rejosari (yang selalu meminta pendapat kepada Bapak Lanjar terlebuh dahulu) yang mendapat bingkisan amplop yang berisi uang ketika detik-detik menuju ke TPS, mengawali obrolan beliau.
Hasil pemilu legislatif di TPS 35-36 Rejosari, beliau benar-benar minta maaf kepada kami dan teman-teman serta Bapak Amir Syarifudin (aleg yang juga caleg PKS). Karena menurut beliau dukungan suara warga Rejosari yang belum maksimal untuk PKS. Padahal menurut beliau juga, perjuangan ALEG PKS di DPRD Bantul, Amir Syarifuddin dkk telah nyata hasilnya bagi warga Rejosari, namun hanya karena iming-iming “bingkisan” amplop yang berisi uang pilihan mereka bisa goyah.
[sebagai catatan, di TPS 35-36 Rejosari PKS berhasil menjadi pemenang nomor satu, suaranya sekitar 70-an per TPS. Afwan, data pastinya gak kebawa, ntar diedit lagi. Juara duanya adalah ‘suara gugur’ yang jumlahnya sekira 50-an. Hasil ini bagi DPRa PKS Srimartani sudah sangat memuaskan, namun bagi sesepuh dusun dianggap belum memuaskan -ed]
Tanpa dikomando, kami hampir saja serempak menjawab keluhan Pak Lanjar. Akhirnya salah satu dari kami menyampaikan akan hal tersebut, “Saking lebeting manah lan andaping asor, kawulo lan rencang estu saget nampi kawontenan kados puniko. Lan kawulo nyuwun, ampun ngantos perkawis puniko dados awrating penggalihan panjenengan lan kadang warga Rejosari. Mugi-mugi kanthi kadadosan puniko kawulo lan rencang langkung estu anggenipun nglampahaken amanah lan bekti dateng warga, soho wasanaipun sedanten warga Rejosari ugi nampi PKS kanthi estu mranani ing penggalih”.
Maksud jawaban yang disampaikan rekan kami itu “Dari dalam hati dan kerendahan hati kami, kami dan teman-teman benar-benar bisa menerima hasil pemilu tsb. Dan kami mohon hal itu jangan menjadi ketidaknyamanan hati, perasaan, kekeluargaan, persaudaraaan di dusun Rejosari. Semoga dengan kejadian itu kami benar-benar semakin gigih dalam menjalankan amanah dan pengabdian kepada warga, dan akhirnya semua warga bisa menerima PKS dengan ketulusan dan kerelaan hati”.
Obrolan-obrolan pun terus berlanjut semakin hangat. Menyinggung program penggemukan sapi, Pak Lanjar merencanakan lagi untuk tahap kedua akan lebih dimaksimalkan. Bahkan beliau sudah punya planning untuk 'menularkan' program ini kepada dusun-dusun binaan PKS selain Rejosari.
Adzan Maghrib berkumandang, kamipun bersiap-siap untuk berpamitan, ketika itu ternyata diluar hujan turun sangat deras, kamipun segera ke Masjid terdekat untuk berjama’ah sholat Maghrib.
( To be continued , agenda selanjutnya )
-----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com