by Dimar AssidiqiSabtu 29 November 2008 Jam 20.00 WIB. Saya memenuhi undangan ‘Rapat Sinoman’ dari salah satu tetangga yang ingin melangsungkan akad nikah adik perempuannya di awal bulan Desember 2008 besuk ini. Tidak ada yang spesial dengan rapat tersebut. Rapat tersebut berjalan seperti biasa dan lancar-lancar saja membahas persiapan Pesta Resepsi.
Yang spesial adalah ketika seorang bapak paruh baya mendekati saya dan pengin ngobrol-ngobrol dengan saya. PakAbidin Dongga namanya, bapak dari 2 orang anak yang bertempat tinggal di RT sebelah tapi masih satu kampung dengan saya.
"Mas Dimar, saya minta kaos PKS nya". Saya kaget sekali atas perkataan beliau tersebut. Belum sempat saya jawab beliau langsung berujar menyambungnya, "Bukan saya lho mas yang pasang bendera-bendera ‘Moncong Putih’ itu di kampung kita. Itu bukan orang sini yang pasang, orang dari dusun sebelah". "Oh..gitu.." jawab saya singkat. Memang benar adanya, dusun Tambalan sekarang tampak memerah karena panyak sekali atribute-atribute moncong putih yang dipasang.
"Ya memang gitu mas. Tapi jangan kawatir walaupun sekarang dusun kita ini tampak memerah (moncong putih-red), tetapi hati kami akan tetap memutih (pilih PKS-red)," tutur beliau. "Tunggu saja tanggal mainnya mas," sambung beliau lagi.
Obrolan singkat di sela-sela Rapat Sinoman malam itu makin menambah semangat kami tuk terus bergerak memenuhi panggilan da’wah yang suaranya makin bergema di seantero pelosok tanah air.
























