NEWS UPDATE :

Bercermin dari Ketangguhan Akhwat Pemulung

Sabtu, 30 Agustus 2008

Ramadhan sudah didepan mata.
Puasa akan melatih kita hidup sederhana tanpa berkeluh kesah.
Berikut kami kutipkan kisah nyata seorang akhwat yang sudah terbiasa hidup apa adanya tanpa berkeluh kesah.
--------------------
Namanya Ming Ming Sari Nuryanti. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa terpandai di kelasnya.

Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. "Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.." Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)

Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.

Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan.. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.

Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu.. (can you imagine it ?)

Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.

NB:
Ming Ming Sari Nuryanti, Pangilannya Muna. Ia lahir di Jakarta, 28 April 1980 sebagai putri pertama dari tujuh bersaudara pasangan Syaepudin (45) dan pujiyati (42). Syaepudin, ayahnya, adalah seorang karyawan di sebuah tempat hiburan di daerah ancol, Jakarta Utara. Setiap hari ia mengumpulkan bola bowling . Sementara ibunya Pujiyati adalah seorang ibu rumah tangga sederhana. Lisa, adiknya yang pertama, duduk dibangku kelas 3 SMU Negeri I Rumpin. Melati, adiknya yang kedua, duduk dibangku kelas 2 di SMU yang sama. Kenny, adiknya yang ketiga, duduk dibangku kelas 6 SD Sukajaya. Sementara tiga adiknya yang lain juga masih sekolah disekolah yang sama. Romadon di kelas 5, Rohani di kelas 4 dan Mia di kelas 1.
------------
Ini adalah cerita nyata yang aku saksikan dalam tayangan berita MATAHATI di DAAI TV sore kemarin (26/5/2008). Sungguh episode yang membuat bulu kuduku merinding dan mataku berkaca-kaca.
------------
sumber:
http://pksmalang.wordpress.com/2008/05/29/inspirasi-dakwah-akhwat-pemulung/
http://www.dtjakarta.or.id/content/view/262/66/
http://apadong.com/2008/08/19/ming-ming-mengais-harapan-dari-tumpukkan-sampah/


PKS Sitimulyo Gelar Aksi Kesehatan di SD Muhammadiyah

Jumat, 29 Agustus 2008

Reporter: Didi Darmadi
KARANGPLOSO SITIMULYO - Bertempat di halaman SD Muhammadiyah Karangploso Sitimulyo Piyungan Bantul, DPRa PKS Sitimulyo membuka stand Pelayanan Kesehatan Gratis pada event Karangploso Ramadhan Ekspo.

Aksi kali ini sebagai respon atas permintaan muda-mudi dusun Karangploso yang meminta secara resmi kepada DPRa PKS Sitimulyo untuk ikut meramaikan ekspo menyongsong Ramadhan 1429 H.

Maka pada Senin 25 Agustus 2008, Tim Medis PKS Sitimulyo dengan dibantu dr Ami dari DPD PKS Bantul menggelar pelayanan kesehatan gratis bagi warga dusun Karangploso. Selama tiga jam, mulai pukul 15.30-18.30, sekitar empat puluhan pasien yang berhasil ditangani.

Seusai acara, sebagai bentuk terima kasih panitia Ramadhan Ekspo memberikan sejumlah uang kepada DPRa PKS Sitimulyo. Uang pemberian tersebut oleh DPRa PKS Sitimulyo langsung disumbangkan kembali kepada kumpulan muda-mudi dusun Karangploso.

TAK PUAS SUSUNAN DAFTAR BACALEG SLEMAN ; Kantor DPD PDIP DIY Digeruduk 14 PAC

YOGYA (KR) - Kantor Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDIP) DIY, Jalan Badran digeruduk puluhan kader dari perwakilan 14 Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Sleman, Kamis (28/8). Mereka mengungkapkan ketidakpuasan atas penyusunan daftar bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) Sleman, karena dianggap melanggar AD/ART dan Surat Keputusan DPP, 210/KPTS/DPP/V/2008.

Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor dan membawa bendera PDIP. Kedatangan diterima Wakil Ketua DPD PDIP DIY, Nuryadi dan Wakil Sekretaris Bambang Dwiratno. Ketidakpuasan mereka terkait dengan diisinya nomor urut kecil oleh kader yang tidak mengakar.

Sedangkan ketua dan sekretaris PAC justru dilempar ke nomor urut yang lebih besar. Ke-14 PAC tersebut, Ngaglik, Sleman, Pakem, Cangkringan, Ngemplak, Kalasan, Turi, Berbah, Prambanan, Depok, Mlati, Gamping, Godean dan Minggir.

Menurut salah seorang juru bicara PAC-PAC, Ito Suyarto dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, pihaknya mempertanyakan penyusunan daftar Bacaleg untuk Sleman oleh Dewan Pengurus Cabang (DPC) yang ternyata tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Ada kecenderungan, penyusunan nomor urut, terkesan seenaknya sendiri.

Mereka minta kepada DPD untuk berbuat agar ada perubahan nomor urut Bacaleg, sehingga sesuai dengan ketentuan. “Kami berharap agar DPD memperhatikan tuntutan ini,” ujar Ito Suyarto.

Jika ternyata DPD tidak mampu mengambil keputusan, maka para pengurus PAC mengancam akan istirahat, tidak ikut dalam proses memenangkan PDIP. Namun demikian, pihaknya tidak pindah partai karena masih mencintai PDIP.

Ketua PAC Prambanan, Handoko juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, dalam penyusunan caleg seharusnya menggunakan aturan yang berlaku. “Kami ingin ada peninjauan ulang,” ujarnya.

Sedangkan Ketua PAC Ngaglik, Sumono Hadi Susilo, sesuai dengan SK DPP 210, maka ketua dan sekretaris DPD, DPC dan PAC mendapat prioritas nomor kecil. Untuk PAC prioritas bagi yang berhasil meraih suara terbanyak. “Tetapi kenyataan yang terjadi justru tidak,” ujarnya.

Menghadapi tuntutan itu, Nuryadi akan meminta kepada Ketua DPD DIY, H Djuwarto untuk segera menggelar rapat terkait dengan tuntutan ini. Selain itu, akan menggelar pertemuan dengan DPC PDIP Sleman terkait dengan upaya penyelesaian daftar Bacaleg. Jika memungkinkan, akan menghadirkan pengurus DPP PDIP untuk dapat menjelaskan SK 210, sehingga penafsiran terhadap isi tidak diragukan. “Untuk mengubah daftar Bacaleg saya pikir masih ada kesempatan. Kami sendiri tidak ingin penyusunan daftar dibuat seenaknya,” ujar Nuryadi.

Dalam kesempatan itu, perwakilan 14 DPC PDIP se-Sleman menyerahkan berkas mengenai fakta-fakta tentang ketidakbenaran penyusunan daftar Bacaleg kepada Nuryadi. Mereka memberikan waktu 7 hari kepada DPD untuk segera mengambil sikap.
(Jon)-f

sumber: koran KR (29/8/2008)

Sehari, Muncul Dua Lembaga Kajian untuk Kawal Pemilu

JAKARTA - Mendekati pergantian kepemimpinan lewat Pemilu 2009, tidak hanya parpol yang muncul seperti cendawan di musim hujan. Para akademisi dan sejumlah tokoh nasional juga beramai-ramai mendirikan lembaga yang mereka klaim sebagai pengawal perubahan kekuasaan lima tahunan di Indonesia itu.

Dalam sehari kemarin, setidaknya, dideklarasikan dua lembaga berbeda. Yaitu, Majelis Kebangsaan Indonesia (MKI) dan Institute for Democracy and Legal Empowerment (Ideal). Dua lembaga tersebut memiliki napas sama, yakni mengawal produk Pemilu 2009.

MKI dimotori sejumlah tokoh. Antara lain, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, mantan KSAD Jenderal (pur) Ryamizard Ryacudu, mantan cawapres Salahuddin Wahid, dan ekonom kerakyatan Sri-Edi Swasono.

Menurut Rizal, persoalan yang paling mengkhawatirkan menjelang Pemilu 2009 adalah krisis kepemimpinan. "Kami ingin memanfaatkan forum ini untuk menjawab krisis tersebut," ujarnya, di sela acara pendeklarasian MKI, di Balai Kartini, Jakarta, kemarin (28/8).

Hal itu dilakukan dengan menjadikan MKI sebagai wadah untuk memikirkan cita-cita bangsa. "Lantas, kami juga akan ajak semua komponen bangsa untuk bergabung mewujudkannya," tandasnya.

Menurut dia, Pemilu 2009 tidak hanya mencari presiden atau anggota DPR. Yang lebih penting adalah memunculkan sosok pemimpin yang punya jiwa negarawan. "Ini agenda yang mendesak untuk menjawab permasalahan terkini," tuturnya.

Di tempat berbeda, juga dideklarasikan lembaga Ideal yang mengaku siap mengawal partai politik dalam konteks penegakan hukum. Lembaga yang berisi kalangan profesional tersebut dipimpin oleh Jazuni, seorang doktor bidang hukum.

Saat pendeklarasian, sejumlah akademisi lain turut hadir. Mereka, antara lain, Denny Indrayana (pengamat politik dan hukum UGM) dan Fajroel Rahman ( dosen UGM). Datang pula, anggota Komisi III DPR dari FPKS Fachry Hamzah. "Tidak bisa tidak, parpol memang harus dikawal dengan kepastian penegakan hukum," ujar Denny saat memberikan sambutan. (dyn/tof)

sumber: jawapos (29/8/2008)

Mengharamkan Rokok tanpa Fatwa (?)

Oleh: Joni Murti Mulyo Aji*
Kedatangan Kak Seto ke MUI untuk meminta lembaga tersebut menerbitkan fatwa haram buat rokok pun patut dimaklumi. Hal itu mengingat, Kak Seto memahami, persoalan menghentikan kebiasaan merokok, termasuk penularannya, bukanlah persoalan gampang.
----------------
Debat soal hukum (me)rokok kembali menyeruak. Berawal dari keluhan Kak Seto yang datang ke kantor MUI pertengahan Agustus lalu, agenda pembahasan soal fatwa haram merokok akhirnya bergulir. Menteri agama pun mengamini. Jika tak ada halangan, pembahasan serius tentang fatwa merokok itu dilaksanakan selepas Ramadan.

Sebagai ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), wajar Kak Seto geram dan khawatir terhadap fenomena meningkatnya jumlah anak Indonesia yang memiliki kebiasaan merokok belakangan ini.

Betapa tidak, menurut catatan KPAI, selama lima tahun terakhir, jumlah anak Indonesia yang merokok pada usia empat hingga sembilan tahun meningkat sembilan kali lipat, yakni dari 0,4 persen pada 2003 menjadi 3,6 persen pada 2008. Jika jumlah anak pada rentang usia tersebut saat ini 20 juta jiwa, sedikitnya ada 720 ribu anak Indonesia berusia di bawah 10 tahun yang merokok.

Padahal, sebagian besar di antara kita, bahkan perokok sekalipun, mafhum pada bahaya merokok. Karena itu, sudah seharusnya keprihatinan Kak Seto tersebut juga menjadi keprihatinan kita semua. Kedatangan Kak Seto ke MUI untuk meminta lembaga tersebut menerbitkan fatwa haram buat rokok pun patut dimaklumi. Hal itu mengingat, Kak Seto memahami, persoalan menghentikan kebiasaan merokok, termasuk penularannya, bukanlah persoalan gampang.

Perda soal larangan merokok yang diberlakukan di beberapa wilayah, termasuk DKI, pun tidak terlihat efektif. Di mana-mana terlihat orang merokok, tak peduli di tempat yang dilarang merokok. Pemandangan remaja berseragam sekolah yang merokok di tempat umum pun sudah menjadi bagian dari keseharian kita, sehingga kita telah menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Karena itu, bila akhirnya Kak Seto minta tolong kepada MUI, itu juga tak berlebihan. Sebab, dia berharap fatwa tersebut akan menjadi senjata ampuh dalam memerangi wabah merokok yang telah menjangkiti negeri ini.

Persoalan Mendasar

Belum juga fatwa dikeluarkan, penolakan terhadap fatwa haram untuk rokok pun mulai membahana. Pengusaha, karyawan pabrik, serta petani tembakau protes dan menolak rencana pemberlakuan fatwa itu. Beberapa tokoh dan ulama pun menyarankan agar MUI ekstracermat dalam memfatwakan rokok tersebut. Sebab, persoalannya akan panjang dan berdampak sangat besar.

Jika rokok diharamkan, banyak orang berpendapat konsumsi rokok akan menurun drastis dan pabrik rokok pun gulung tikar. Kebangkrutan pabrik rokok akan menyebabkan PHK dan pengangguran yang berujung pada munculnya berbagai persoalan sosial.

Lebih dari itu, kalau rokok itu haram, petani tembakau dan bekerja di pabrik rokok pun menjadi haram. Lantas, bagaimana nasib mereka? Karena itu, pengharaman rokok secara tiba-tiba sudah barang tentu bukanlah hal sepele. Diperlukan kearifan dalam menyikapi persoalan tersebut.

Mereka Tak Kenal Fatwa

Jika ditilik lebih jauh, kegeraman Kak Seto dan kemunculan ide fatwa haram untuk rokok tersebut berawal dari kegagalan sistem sosial dan hukum (baca: negara) kita dalam mengendalikan peningkatan jumlah perokok. Persoalan yang sebenarnya bukan hanya monopoli milik bangsa Indonesia, melainkan juga di sebagian besar negara sedang berkembang (developing countries), termasuk India dan Tiongkok.

Sementara di negara-negara maju konsumsi rokok cenderung menurun, jumlah konsumen rokok di negara sedang berkembang terus mengalami peningkatan (FAO, 2005). Pada 2010, share konsumsi rokok negara maju diperkirakan turun menjadi hanya 29 persen, dari sebelumnya 34 persen (1998), sehingga share negara sedang berkembang saat itu mencapai 71 persen.

Dari sisi asupan, konsumsi tembakau di negara berkembang pada 2010 diperkirakan meningkat 1,7 persen per tahun menjadi 5,09 juta ton dari 4,2 juta ton pada 1999. Selain peningkatan pendapatan masyarakat, longgarnya aturan serta rendahnya pajak rokok ditengarai menjadi penyebab pergeseran konsumsi rokok dari negara maju ke negara sedang berkembang ini. Di sinilah sebenarnya letak akar permasalahan yang kita hadapi.

Keberhasilan negara maju dalam mengurangi jumlah konsumsi rokok di negaranya tidak terlepas dari campur tangan pemerintah. Ketatnya aturan, tingginya pajak, dan kepedulian pemerintah dalam membantu perokok untuk berhenti merokok telah terbukti berhasil.

Mereka (baca: negara maju) tak pernah mengenal fatwa. Tapi, harga rokok sangat mahal (misalnya, sebungkus rokok isi 20 batang di Australia berharga tak kurang dari Rp 80.000). Larangan merokok terpampang di mana-mana. Iklan rokok tak pernah tampak di penjuru mana pun, tak ada di baliho, tak ada di spanduk, apalagi di radio atau di layar kaca. Bahkan, penjual rokok, selain didenda jika menjual rokok kepada anak di bawah 18 tahun, hanya diperbolehkan memperlihatkan rokok tak lebih dari 0,5 m2 di tokonya.

Selain itu, pemerintah menyediakan ''Quit Line'', sebuah layanan berhenti merokok yang dibiayai dari hasil pajak (cukai) rokok. Karena itu, tak heran jika akhirnya jumlah perokok pun kian hari kian turun.

Sementara di negara kita, meski aturannya sudah ada, upaya mengendalikan dan mengurangi jumlah perokok belum tampak serius. Meminjam istilah Taufik Ismail, pemerintah masih membiarkan ''benda sembilan centi'' itu dituhankan. Perusahaan rokok masih bebas membujuk kita dan anak-anak kita untuk merokok. Bahkan, mereka sengaja memakai ''kendaraan yang disuka kawula muda'' seperti konser musik dan tontonan olahraga sebagai alat propaganda mereka. Bagi pengusaha, semakin dini anak-anak kita merokok, keuntungan yang mereka dapatkan akan semakin panjang. Mereka tak mau tahu akan ke mana anak bangsa ini nanti. Lantas, mengapa kita tidak serius mulai sekarang?

---

Joni Murti Mulyo Aji, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, kandidat doktor di University of Queensland, Australia, mantan perokok.

Pembekalan Kader PKS Arab Saudi Hadapi Pemilu 2009

Kamis, 28 Agustus 2008

Reporter: Abdullah Haidir*
Riyadh - PIP PKS Arab Saudi Komisariat Riyadh (Jumat, 15/8/2008) kembali menggelar kegiatan Tatsqif (Tarbiyah Tsaqofiyah) yang diikuti sekitar 110 kader. Tema yang diangkat adalah ‘Soliditas kader dalam meraih kemenangan Dakwah’.

Salah satu yang istimewa dalam acara kali ini adalah hadirnya Ust Tulus Mustafa MA, ketua IKADI Yogyakarta dan dosen di Universitas Islam Nasional Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau yang sedang sibuk mengikuti daurah di Universitas Ummul Qura, Makkah menyempatkan diri untuk hadir memenuhi undangan pengurus PKS Komisariat Riyadh untuk menyampaikan taujihat (arahan) pada acara tatsqif tersebut.

Kader dakwah yang memiliki kualitas pribadi unggul yang siap melebur untuk bersinergi secara terorganisir, siap memimpin dan dipimpin (Ash Shaff: 4) adalah syarat utama kemenangan dakwah. Karenanya, tarbiyah merupakan kebutuhan mendasar untuk membentuk Pribadi Unggul, Keluarga Unggul, Masyarakat Unggul sampai akhirnya Negara yang unggul. Demikian di antara paparan Ust. Tulus Mustaffa, MA, seorang dai yang mendapat gelar sarjana dari Al Azhar mesir dan gelar master di Khourtum Sudan ini.

Dalam sesi kedua, Koordinator Bidang Kaderisasi PIP PKS Komisariat Riyadh, mempresentasikan geliat kader dakwah PKS di Indonesia beserta capaian capaian dan strategi dalam menghadapi PEMILU Legislatif 2009. Melihat bagaimana kerja keras kader di tanah air diharapkan dapat membangkitkan semangat kepada kader dakwah di Arab Saudi ini dan mencapai puncaknya menjelang PEMILU April 2009 nanti. Tak lupa beliau juga memperkenalkan susunan pengurus TPPLN (Tim Pemenangan Pemilu Luar Negeri) serta mempresentasikan langkah-langkah yang sudah disusun bagi kader PKS untuk ikut berpartisipasi mengusung program ini.

Sebagai penutup Ust Abdullah Khaidir kembali menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari amal sholeh selagi kita ikhlas karena Allah dan bertujuan membawa misi Islam seraya mengharapkan pahala dari Allah SWT.

Semoga dengan adanya kegiatan kegiatan yang berkesinambungan dari PIP PKS Arab Saudi Komisariat Riyadh, dakwah semakin bersinar di Arab Saudi, dan Allah SWT membuka kemenangan dakwah bagi kita. Aamiin. (AA)

---------
* Abdullah Haidir seorang kader PKS Arab Saudi

Pembekalan Da'i Ramadhan PKS Piyungan

Reporter: Abu Hasan Surhim
BANYAKAN SITIMULYO: “Jangan sampai aktivis kelelahan mengurus umat sehingga melupakan mengurus ruhiyah dan maknawiyahnya sendiri,” terang Ustadz Eko Novianto ketika memberi taujih Pembekalan Da’i Ramadhan yang diselenggarakan DPC PKS Piyungan, Senin 25 Agustus 2008.

Acara yang sebetulnya berupa Liqo Bersama ini dihadiri sekitar empat puluhan kader ikhwan. Bertindak selaku penanggung jawab acara adalah DPRa PKS Srimatani dengan petugas MC akh Dhanie Asy-Syakib dan tilawah Al-Qur’an dibawakan oleh akh Haryadi.

“Oleh karenanya semua kader harus mengoptimalkan bulan Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah dzatiyah. Minimal kita memenuhi target-target amaliyah yang telah dicanangkan struktur kaderisasi. Namun demikian, jangan sampai terjadi pendikotomian antara aktivitas tarbiyah dzatiyah dengan aktivitas pelayanan umat. Kedua-duanya harus berjalan beriringan tidak boleh ada yang diabaikan,” sambung Ustadz Eko pada acara yang berlangsung di masjid Cholid bin Walid dusun Banyakan Sitimulyo Piyungan.

Dikotomi Islam-Nasionalis Sudah Usang

pkspiyunganonline: JAKARTA (Republika) - Partai Kea dilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menegaskan bahwa tidak ada lagi dikotomi antara nasionalis dan Islam. Sebab, yang harus sekarang dilakukan adalah membangun kebersamaan untuk menyejahterakan rakyat.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDIP, Taufiq Kiemas, dan Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, ketika berbicara dalam dialog kebangsaan bertema, Nasionalisme di Tengah Arus Perubahan, di Jakarta, Selasa (26/8). Selain mereka, hadir pula Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Taufiq Kiemas dalam forum tersebut mengatakan tidak ada perbedaan untuk menyejahterakan masyarakat kecil secara bersama-sama.

Sekalipun dalam tempat yang berbeda. Dijelaskannya, kalau PKS memperjuangkan kaum dhuafa, PDIP memperjuangkan wong cilik atau kaum marhaen.

Namun, keduanya punya makna yang sama. ‘'Tugas kita sama, yakni harus memberdayakan kedua kaum ini,'‘ ungkap Taufik.

Dalam upaya menyejahterakan rakyat, Taufik mengajak agar elemen bangsa selalu bersama-sama berkomunikasi. Hanya dengan silatu rahmi persoalan bangsa akan bisa diselesaikan. ‘'Silaturahim harus dijalin dengan siapa pun, dengan semua anak bangsa. Tidak mungkin membicarakan sesuatu hal di negara ini sendirian.'‘ Tak berbeda dengan Taufik Kiemas, Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, juga menegaskan persoalan dikotomi nasionalis dan Islam sudah selesai. ‘'Saya dan Taufik Kiemas sering bertemu, saling ngobrol-ngobrol, hasilnya adalah kita tidak berpandangan dikotomi antara nasionalis dan Islamis,'‘ ungkap Hilmi.

Dalam pembicaraannya dengan Taufik, menurut Hilmi, masyarakat sering kali terjebak dalam paradigma lama.

Kalau ada pihak yang bicara tentang keumatan, mendapat tudingan sebagai ekstrem kanan.

Sementara, yang berbicara tentang persoalan kerakyatan dianggap ekstrem kiri. ‘'Kalau yang moderat baru dikatakan kebangsaan,'‘ ujarnya. Padahal, objek perjuangannya sama, yaitu masyarakat. Sudah selayaknya PKS dan PDIP maupun elemen lainnya bisa bekerja sama dalam memperjuangkan rakyat. Kerja sama yang lintas budaya, sosial, maupun hal lainnya.

Dalam pandangan Hilmi, persoalan rasa cinta Tanah Air adalah fitrah manusia.

‘'Dengan demikian, masalah nasionalisme dan kebangsaan sebenarnya itu sudah selesai karena merupakan fitrah manusia,'‘ ungkap Hilmi.

Modal dasar membangun kebersamaan, menurut dia, adalah selalu berpikir positif.

Dengan membangun semangat, akan bisa melakukan perencanaan yang cerdas.

Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan, ada pergeseran arti nasionalisme. Dulu, kata dia, nasionalisme sangat erat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dalam konteks sekarang, nasionalisme harus diarahkan untuk mengurangi kebodohan dan kemiskinan.

Islam dan Nasionalisme Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman, menyatakan ada perbedaan mendasar dalam formasi nasionalisme di Eropa dan Asia. Dalam pengalaman Eropa, munculnya nasionalisme berbarengan dengan pudarnya pengaruh agama. Sedangkan, di bagian dunia yang lain, seperti Asia, ketika nasionalisme bergerak dan menyelimuti wilayahwilayah ini, isu agama juga bergerak ikut maju.

Di Indonesia, kebangkitan nasionalisme sulit dipisahkan dari peran Islam. Dalam situasi ketika kehidupan masyarakat sipil dalam konteks seperti di Eropa-belum berkembang, kebutuhan akan adanya sebuah komunitas, ajaran moral, dan panduan kehidupan publik dipenuhi, terutama oleh jaringan komunitas keagamaan.

‘'Oleh karena itu, ketika kolonialisme menimbulkan sengsara kehidupan masyarakat, reaksi pribumi untuk melakukan perlawanan difasilitasi, diberi isi dan tujuan oleh komunitas-komunitas keagamaan, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Hasanuddin, dan lainnya,'‘ tegas Irman. dwo/bin

sumber: republika

PKS Merambah Suku Osing

Seperti yang dilakoni suku osing (Banyuwangi) yang harus memikul belerang 70-100 kg tiap hari dengan 2 pikulan melewati jalanan yang terjal dan berliku,
pun dakwah juga demikian!


-----------
(Subhanallah, langitnya biru, bersih, jalannya terjal dan garang, tapi gambar kaosnya menyejukkan dan memberi harapan..... -ed)

sumber: galerikeadilan.net
fotografer: ombak

Seminar PKS: Nasionalisme untuk Menyejahterakan

Rabu, 27 Agustus 2008

Memaknai 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 63 Tahun Kemerdekaan RI, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengadakan acara dialog kebangsaan di Jakarta, Selasa (26/8).
Dialog bertema "Spirit Nasionalisme dalam Pewarisan Generasi" dan "Spirit Nasionalisme Menghadapi Tantangan Global" dihadiri berbagai tokoh sekaligus pembicara dalam dialog tersebut (dari kiri ke kanan) Taufik Kiemas dari PDI-P, Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin, mantan Gubernur Lemhannas Sayidiman Suryohadiprojo, Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama.
-------------
Jakarta, Kompas - Nasionalisme harus bisa memberi makna aktual dan relevan pada faham dan sikap bangsa, selain harus bisa menyejahterakan. Artinya, nasionalisme menjadi refleksi kerangka pemikiran falsafah yang sudah disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Hal ini disampaikan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama pada sesi pertama Dialog Kebangsaan, Nasionalisme di Tengah Arus Perubahan, Selasa (26/8) di Jakarta. Selain Jakob, sesi ini juga menghadirkan mantan Gubernur Lemhannas Sayidiman Suryohadiprojo, Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Taufik Kiemas dari PDI-P, dan Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin sebagai pembicara.

Menurut Jakob, nasionalisme selalu diasosiasikan pada perjuangan membebaskan rakyat, kebebasan bertanggung jawab, dan mengusahakan keadilan serta kesejahteraan rakyat. Nasionalisme juga diasosiasikan sebagai faham dan sikap yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.

”Itu sebabnya nasionalisme harus dikaitkan dengan kondisi bangsa dan negara saat ini. Kita bersyukur sudah ada prestasi perubahan dari otokrasi ke demokrasi,” ujarnya.

Namun, menurut Jakob, demokrasi masih membutuhkan pendewasaan dan pertanggungjawaban. Selain itu, juga membutuhkan pengorbanan untuk rakyat.

”Kita saat ini masih tertinggal dalam banyak hal, seperti kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Kita masih tertinggal dari Malaysia dan Vietnam meski Tuhan sudah memberikan alam yang memiliki keunggulan komparatif dan selektif. Bangsa ini juga memiliki tradisi kebajikan yang bisa dijadikan pegangan bersama dan sekaligus masih memiliki kemauan bersama untuk maju,” ujarnya.

Sultan menambahkan, pemahaman nasionalisme itu selalu bergeser, bergantung pada jiwa, situasi, dan posisi seseorang.

”Bagi pemahaman saya, nasionalisme itu adalah bagaimana usaha untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, penyalahgunaan wewenang, dan korupsi,” ujarnya.

Hilmi mengingatkan, bangsa ini jangan mau terjebak pada beragam dikotomi yang merugikan, seperti kelompok nasionalis yang ingin berjuang untuk rakyat, sedangkan yang agama ingin berjuang untuk umat. (MAM)

Aksi Kesehatan DPRa Sitimulyo Diserbu Warga Banyakan

Reporter: Didi D
Banyakan Sitimulyo - Bertempat di rumah ibu Asih Amina dusun Banyakan III Sitimulyo Piyungan, Ahad (24/8/08) DPRa PKS Sitimulyo mengadakan Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan gratis.

Dengan dikomandani langsung Ketua DPRa Sitimulyo, Akhid Nugroho, Tim Aksi memberi pelayanan berupa pemeriksaan dan pengobatan serta cek golongan darah.

Untuk pemeriksaan dan pengobatan ditangani langsung oleh dr Muromi dari Tim Dokter DPD PKS Bantul. Sedangkan cek golongan darah, yang rata-rata peminatnya anak muda, ditangani oleh Tim Medis kader DPRa Sitimulyo.

Antusiasme masyarakat dusun Banyakan III bisa terlihat dari banyaknya yang datang untuk mendapat layanan kesehatan. Sekitar tujuh puluhan pasien yang berhasil ditangani. Namun mengingat waktu yang terbatas, ada beberapa warga yang datang terlambat tidak bisa mendapat layanan kesehatan.

Sebelum pulang, Tim DPRa PKS Sitimulyo yang mendapat giliran mendapat pelayanan. Kali ini tuan rumah yang menjamu Tim DPRa dengan makan siang, sebagai rasa terima kasih kepada Tim DPRa PKS Sitimulyo yang telah bersedia berkunjung dan mengadakan layanan kesehatan.


PKS Memang Pilihan Rakyat

By Thofansa Andallas*
--------------------
Wakil rakyat Harus merawat
Pikiran rakyat Agar terawat
Energi dibutuhkan ber mega watt
Supaya Indonesia tidak gawat

Untuk itulah sobat
Aleg dibutuhkan rakyat
adalah yang kuat
Presiden pun dibutuhkan rakyat
adalah yang kuat

Kuat dalam ibadat
agar selamat dunia akhirat
Kuat dalam bersahabat
Agar jadi bangsa bermartabat
Kuat berkeringat
Agar rakyat tidak melarat

Supaya Indonesia hebat
Supaya rakyat tidak melarat
Supaya rakyat bangkit merawat

Indonesia butuh aleg dan presiden sehat
Agar keuangan Negara bisa di hemat
Agar uang tidak banyak untuk berobat
Tapi agar uang untuk kesejahteraan rakyat

PKS siap Bantu rakyat
Insya Allah Sodorkan pilihan rakyat
caleg dan capres berkwalitas sehat,
siap karya, beribadat, dan tidak khianat
Semoga wakil rakyat PKS merakyat
PKS memang pilihan rakyat
Harapan itu masih ada sobat!!

--------------
*Mustofa Sarbini (dpra menteng atas kec. setiabudi Jakarta Selatan)

PKS: Pengobral Aset Negara Bukan Nasionalis

pkspiyunganonline: Jakarta - Nasionalisme sejati bisa diukur dengan tidak mengobral aset negara dengan harga murah. Banyak aset negara yang nilainya sangat berguna bagi masyarakat dijual oknum-oknum pemerintah dengan alasan tidak jelas. Seperti LNG Tangguh yang dijual ke China hanya dengan nilai US$3,3/mmbtu.

"Nasionalisme sejati adalah tidak menjual kekayaan negara dengan harga murah," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring saat dialog bertema ‘Nasionalisme dan Tantangan Global’ di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (26/8).

Kontrak LNG Tangguh sendiri disetujui pemerintah kepada inevstor China pada 2002. Dari harga yang ditetapkan sebesar US$3,3/mmbtu, selama 25 tahun negara berpotensi menelan kerugian ratusan miliar pertahun.

Selain itu, menurut Tifatul, nasionalisme sejati juga tidak melakukan tindakan korupsi ataupun memeras seorang calon ketika mengikuti fit dan proper test. Baik itu di pemerintahan ataupun sektor swasta. "Selain tidak akan korupsi, seorang nasionalis juga berusaha untuk berempati pada kesusahan rakyat," ujarnya.

Pada dialog yang banyak dihadiri tokoh nasional tersebut, Tifatul menambahkan, nasionalisme juga berkaitan erat dengan patriotisme kita untuk memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa. Dengan harapan agar bangsa ini lebih sejahtera dan bermartabat.

Guna mencapai itu semua, ia menjelaskan, modal bangsa ini sebetulnya sangat besar. Mulai dari national character building, pekerja keras, jujur, tangguh dan juga karakter masyarakat yang penyabar. "Jadi seluruh elemen dan seluruh stakeholders negeri ini harus siap bersinergi guna memajukan bangsa ini," pungkasnya. [R2]

sumber: inilah.com

Pengamat: Koalisi PDIP-Golkar untuk Hambat Laju PKS

Selasa, 26 Agustus 2008

pkspiyunganonline: Jakarta - Pemilihan presiden (pilpres) masih setahun lagi, tapi PDI Perjuangan sudah mengajak Partai Golkar berkoalisi.

Ajakan itu disampaikan secara langsung dan terbuka oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP , Taufiq Kiemas, pada Silaturahim Nasional Dewan Penasihat (Silatnas Wanhat) Golkar, Senin (25/8).

Taufik mengatakan PDIP dan Golkar punya banyak persamaan, sehingga pantas bersatu. ‘'PDIP tidak mungkin menang sendirian, begitu juga Golkar,'‘ kata Taufiq disambut tepuk meriah ratusan peserta Silatnas.

Analisis Pengamat
Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani, menilai koalisi PDIPGolkar akan terhalang sikap PDIP yang sudah menetapkan Megawati sebagai capres. ‘'Koalisi harus setara,'‘ katanya.

Pengamat politik, Indria Samego, melihat yang dilakukan PDIP dan Golkar hanya manuver politik. ‘'Mereka masing-masing masih sibuk melakukan pemenangan pemilu legislatif,'‘ katanya.

Pengamat politik, Fachry Ali, menduga pertemuan PDIP-Golkar merupakan kelanjutan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

‘'Ini untuk mengimbangi gerakan PKS. Mereka harus bersatu untuk bisa mengimbangi PKS,'‘ katanya.

Dia mengatakan PKS dianggap sebagai partai yang paling konsisten mendekati rakyat. Mereka bisa bergerak kencang, karena kader-kader PKS membiayai dirinya sendiri. Tak seperti kader PDIP dan Golkar yang mandeg tanpa uang. ¦ djo/evy/dwo/ant

sumber: rfepublika

Hidayat Nurwahid Dipinang SBY?

Jakarta - Lirak-lirik capres dan cawapres menjelang Pilpres 2009 mulai bergeliat. Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) pernah melansir duet SBY-Hidayat Nurwahid paling populer. Diam-diam, SBY menjajaki pinangan kepada Hidayat?

"Ya memang saya pernah dengar, ada upaya komunikasi dari SBY kepada PKS," kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di sela dialog kebangsaan 'Nasionalisme di tengah arus perubahan' di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (26/8).

PKS, lanjut dia, mengapresiasi hal tersebut. Namun yang terpenting bagi PKS adalah pada sisa 1 tahun masa pemerintahan, SBY harus menunjukkan kinerjanya.

"Karena itu akan sangat mudah, sehingga PKS pun akan mudah mendukungnya. Dan yang terpenting, kami akan selalu merespons bagaimana pemerintah meningkatkan kinerjanya dengan baik," kata Mahfudz.

PKS, sambung dia, melihat ada sejumlah keberhasilan, meskipun persepsi masyarakat mengenai kinerja pemerintahan masih lemah.

"PKS juga akan sangat terbuka, tidak hanya kepada SBY. Memang ada banyak nama. Tapi PKS belum mengerucut pada satu nama," ujar Mahfudz.

Hasil survei, menurut dia, hanya sebagai salah satu pertimbangan. Sedangkan soal koalisi, akan mudah dilakukan jika kepentingan masyarakat terpenuhi.

Kans Sri Sultan HB X menjadi cawapres PKS? "Dia tokoh yang penting. Dia memiliki visi kebangsaan yang kuat dan mendapat dukungan publik yang kuat. PKS masih memikirkan konstelasi politik Pemilu 2009. Jadi belum bicara person dalam partai yang bisa didengungkan," pungkas Mahfudz.[L3]

sumber: inilah.com

Saat Cinta Mendera Ketua DPRa

Puisi by: Someone Van Tambalan*

Sesuatu...

Aku mendamba sesuatu
Tapi aku tak mempunyai sesuatu
Aku impikan sesuatu
Tapi aku tak berdaya atas sesuatu

Aku terpesona akan sesuatu
Tapi aku tak layak atas sesuatu
Aku terpikat sesuatu
Tapi aku tak pantas atas sesuatu

Duhai sesuatu...
Apakah kamu akan datang padaku?
Wahai sesuatu...
Ataukah kamu akan meninggalkanku?

Ya Alloh...
Jagalah hamba-Mu ini dari sesuatu yang buruk
Ya Robb...
Berilah hamba-Mu ini untuk sesuatu yang baik

Hanya dari-Mu segala sesuatu akan datang
Dan hanya kepada-Mu segala sesuatu akan kembali

Tambalan, 25-08-08
--------
*Van Tambalan adalah satu-satunya Ketua DPRa di wilayah DPC PKS Piyungan yang masih betah sendiri.

Kala Cinta Menyapa DPRa Srimartani

by: Admin
Bergeraklah karena diam itu mematikan!
Semboyan itu yang ingin terpatri kuat pada setiap kader PKS. Begitupun yang ingin dilakukan kader-kader DPRa PKS Srimartani. Usia mereka masih sangat muda. Kalaupun sudah menikah, rata-rata adalah rumah tangga baru dengan anak yang masih balita. Ekonomi mereka masih jauh dari kategori mapan. Jangan coba untuk bertanya berapa tabungan mereka, tapi tanyalah berapa hutang mereka?

Apakah mereka berhenti dari jalan da’wah? Apakah mereka berhenti berinfaq? Apakah mereka mengeluh atas ‘kesusahan’ hidup? Terpikirkan saja tidak.

Tataplah wajah-wajah mereka. Senyum dan tawa itulah yang menghiasinya. Telisiklah lebih dalam, takkan kau dapati kesusahan hidup menggayuti mereka.

Dan wajah-wajah ceria penuh aura kemenangan itulah yang akan engkau lihat kala mereka bertemu membahas agenda da’wah di sebuh rumah indah keluarga Priyanta-Lusiyana pada Sabtu sore 23 Agustus kemarin. Rumah yang terletak seratus meter dari bangjo pertigaan pasar Piyungan itu akan menjadi saksi betapa da’wah begitu indah. Betapa… berada dan melangkah di jalan da’wah adalah rahasia kebahagiaan hidup. Da’wah tidak membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan da’wah.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:97)
-------

Afwan kalo judulnya rada gak nyambung (emang sengaja biar menarik aja.. he..he..)

Kucoba Mencari Jawaban Kenapa PKS Kalah Pilkada

Letter from PKS Lover
(Hakim AbuIzzat PT. MITSUYOSHI MFG. INDONESIA)
Bekasi, Senin 25/8/2008 18:07

Assalamu’alaikum, w. w.

Semoga Admin pkspiyungan selalu dalam keadaan sehat dan mendapat limpahan Rahmat ALLAH SWT.
Semakin hari blog pkspiyungan semakin digemari dan semakin banyak visitornya. Pengunjungnya bukan hanya lokal daerah Bantul saja tapi sudah menasionalisasi, bahkan sebagian juga ada dari luar negeri. Saya salut dengan kerja keras Admin yang sungguh-sungguh dalam mengelola website ini walupun hanya dalam bentuk blog. Berita-beritanya tiap hari selalu up-date sehingga bagi saya pribadi sudah menjadi kewajiban untuk mampir dulu di pkspiyungan sebelum berselancar ke mana-mana. Sungguh suatu kerja dakwah yang luar biasa, yang diharapkan bisa menjadi teladan atau contoh nyata yang baik bagi website-website PKS yang lainnya, termasuk juga mungkin untuk website DPP.

Dalam beberapa minggu ini PKS kalah di Pilkada beberapa daerah. Yang paling mengejutkan seperti Pilkada Kodya Bandung. Kemarin saya lihat running teks di TV ONE, kandidat PKS dapat nomer buncit, malah kalah dari calon independent. Saya tidak tahu itu Pilkada di mana, mungkin Pilkada di Aceh barangkali. Kita lihat bila PKS kalah di Pilkada maka hampir tidak pernah beritanya muncul di website DPP-PKS, apalagi di website DPD, DPC, bolg PKS dsb. Bila menang, baru hasil quick-count saja sudah di muat.

Maksud tulisan saya ini adalah, bagaimana bila pkspiyungan membuat berita analisa kenapa PKS kalah dalam Pilkada tersebut. Faktor dominan apa yang menyebabkan kita tidak berkutik di suatu daerah. Semoga berita-berita kekalahan seperti ini bisa menjadi referensi bagi kita di masa depan. Saya pengen menulis surat ini ke website DPP tapi tidak tahu alamatnya, dan di samping itu di website DPP juga sekarang sudah tidak bisa lagi tulis komentar. Jadi harapan tinggal pada pkspiyungan@blogspot.com karena cakupannya yang sudah bisa dibilang nasional, dan Adminnya yang care dengan visitornya.

Demikian uneg-uneg saya, mohon maaf bila ini memberi kerja tambahan bagi Admin, tapi ini semua untuk kemajuan Kerja Dakwah di masa depan. Aamiin . . . .

Jazakallah khair.
Wassalamu’alaikum, w. w . . . .

hakim.abuizzat
PT. MITSUYOSHI MFG. INDONESIA
Tel : 62-21-8936251
Fax : 62-21-8936249
Website: http://www.mitsuyoshi-net.com.

(Notes : Saya bukan kader PKS dalam arti duduk secara struktural, tetapi hanya simpatisan berat yang jatuh cinta kepada PKS karena melihat kerja Dakwah kader-kadernya yang luar biasa dan ikhlas. Insya ALLAH).

Hidayat Resmikan GEMERLAP INDONESIA

Reporter: Dhanie Asy-Syakib
pkspiyunganonline: SOLO - Ahad, 24 Agustus 2008, kami dari KAPMEPI DIY ( Kader Pengembang Moral dan Etika Pemuda Indonesia ) tepat pukul 09.00 WIB berangkat dengan menggunakan 2 bis PUSKOPKAR dari Balai Kota Yogyakarta untuk menghadiri Launching dan DEKLARASI : GEMERLAP INDONESIA (Gerakan Membangun Moral dan Etika Pemuda Indonesia) yang bertempat di Balai Kota SOLO, Jawa Tengah.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai organisasi kepemudaan dan lembaga formal, non formal di wilayah surakarta. Dihadiri pula oleh Ketua MPR RI Ustadz Dr. Hidayat Nur Wahid, M.A., Staf MENPORA, Gubernur Jateng yang baru, namun sayang, beliau belum bisa hadir ( masih sibuk dengan tugas barunya kali !, kata ustadz HNW ) dan segenap pejabat kota Solo dan undangan.

Acara yang mengusung, kebangkitan pemuda indonesia untuk Indonesia yang Maju dan berakhak mulia. Gemerlap acarapun sejak awal sudah dihentak dengan berbagai macam atraksi anak-anak, pemuda Solo. Disambut dengan teriakan yel-yel selama acara berlangsung: Narkoba, SIKAT ! ; Pornografi, SIKAT !; Pornoaksi, SIKAT !; Judi, SIKAT !; KORUPSI, SIKAAAT !, dan tak kalah semangat, rekan-rekan KAPMEPI DIY pun meneriakkan yel juga ; Pemuda, Maju !, Olah raga, Jaya !, siapa kita, INDONESIA.. !

Gemuruh semangat untuk menjadi pemuda sebagai aset utama, garda terdepan dalam memberangus kemungkaran, untuk harapan kemuliaan Indonesia tercinta terus menggema selama acara berlangsung. Terlebih tampilnya opera atraktif dari salah satu komunitas bela diri di Solo, bahwa Pemuda jangan tinggal diam, hanya berpangku tangan, tapi Pemuda harus bergerak, berani untuk maju melawan JUDI, NARKOBA, dan kemungkaran yang lain.

Dalam orasi pada deklarasi ini, Ketua MPR RI, Dr Hidayat Nur Wahid, M.A. menyampaikan bahwa Bangsa ini membutuhkan pemuda yang tidak gandrung akan hedonisme, gemerlapnya dunia, tapi pemuda yang gandrung akan moral, etika, akhlaq yang mulia. Harapan itu tentunya masih ada, dengan pemuda yang komitmen maju, berjuang, untuk kemuliaan dan kejayaan bangsa Indonesia.

Yah, memang, Bung Karno pernah menyampaikan,dengan 10 pemuda bisa untuk membangun bangsa ini. Tetapi sekarang kita, bukan hanya 10 namun berkali lipat kuantitas pemuda yang ada, akan tetapi benarkan pemuda yang ada dan hadir di bumi pertiwi ini mampu menjadi solusi negeri ini ? Bukan hanya sekedar menjaga izzatun-nafsi namun terlebih kita harus menjaga dan menjunjung tinggi kemuliaan, harga diri negeri ini. ALLOHU MUSTA’AN.

Senayan Terancam Jadi Panggung Lawak

pkspiyunganonline: JOGJA CITY - Akhir akhir ini, partai politik tampaknya semakin berebut artis, baik itu penyanyi, pemain sinetron, maupun pelawak, untuk dijadikan calon anggota legislatif. Menurut pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Sofyan Effendi, kondisi itu justru akan semakin menurunkan kualitas anggota dewan hasil Pemilu 2009 mendatang.

Bahkan, menurut mantan rektor UGM ini, panggung politik di Senayan atau di kantor dewan nanti akan berubah menjadi pasar lawak.

Hal ini karena saking banyaknya artis yang jadi anggota dewan. ‘'Akibatnya, Senayan pasti akan jadi pasar lawak,'' tegasnya di Yogyakarta, Jumat (22/8).

Diakuinya, dalam sistem demokrasi dengan pemilihan langsung, partai politik memang memanfaatkan figurfigur orang yang sudah dikenal masyarakat untuk menjadi caleg. Karenanya, banyak parpol yang mencalonkan artis, termasuk komedian untuk menjadi caleg.

Namun begitu, pengajuan caleg dari kalangan artis karena ketenarannya tersebut tidak dibarengi dengan kualitas artis itu sendiri dalam penguasaan ketatanegaraan.

‘'Pelawak kerjanya kan melupakan kesengsaraan orang dalam sesaat. Kalau nanti di Senayan juga begitu, bagaimana rakyat kita. Bisa saya bayangkan bagaimana nasib bangsa Indonesia pasti tidak lebih baik dari Republik Mimpi,'' terangnya.

Karenanya, menurut Sofyan, Indonesia sebenarnya tidak tepat menganut paham demokrasi pemilihan langsung. Menurutnya, paham demokrasi bukan hanya pemilihan langsung semata. Untuk masyarakat heterogen, seperti Indonesia, paham pemilihan langsung kurang tepat dijalankan.

‘'Orang nantinya hanya diberikan pilihan untuk memilih caleg berdasarkan popularitasnya saja. Dan, itu juga tak cocok diterapkan dalam sistem pemilihan langsung,'' tambahnya.

Dengan kondisi seperti itu, Sofyan memperkirakan kepercayaan rakyat untuk memilih caleg khususnya akan semakin berkurang. Bahkan, diprediksi jumlah golput juga akan meningkat. Apalagi, tentu dengan kondisi itu menyebabkan ketidakpuasan dan kecemburuan bagi para kader yang sudah lama beraktivitas di parpol.

‘'Saya rasa, golput akan meningkat dalam pemilu besok. Dan, solusinya, ya amandemen UUD 1945 yang kelima, baik untuk sistem pemerintahannya maupun sistem pemilunya,'' tegasnya.

Menurut Sofyan, keberanian parpol menggandeng artis untuk jadi caleg merupakan ledekan besar di panggung politik Indonesia. Padahal, panggung politik Indonesia adalah panggung untuk membuat keputusan politik yang menyangkut nasib masyarakat Indonesia.
-----------------
sumber: republika

PKS: Budaya Kami adalah Pluralitas

Senin, 25 Agustus 2008

Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku tetap akan mengusung isu “pluralitas”. Pluralitas sesuai dengan Piagam Madinah, katanya
------------------
Hidayatullah.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tetap mengusung kader-kader nonmuslim pada pemilu 2009. Langkah itu sejalan dengan nilai-nilai pluralitas yang dikembangkan partai untuk mewujudkan Indonesia yang adil. Pernyataan tersebut dikemukakan Presiden PKS, Tifatul Sembiring ketika bersilaturahmi dengan jajaran redaksi Suara Pembaruan di Jakarta, Jumat (22/8).

Kehadiran kader nonmuslim di jajaran legislatif, bukan hal baru bagi PKS. Di Nabire, Papua, ada kader PKS yang nonmuslim duduk sebagai anggota DPRD. "Semangat menerima perbedaan sudah dilakukan sejak Pemilu 1999. Ada dua anggota DPRD PKS di Papua yang Kristiani. Mereka mewakili suara umat Kristiani di sana," ujarnya.

Tifatul memaparkan semangat mengusung pluralitas sesuai dengan Piagam Madinah yang menjadi kiblat PKS. Di Madinah, ada berbagai macam agama dan kepercayaan, namun masing-masing pemeluk agama dan kepercayaan bisa secara bebas melaksakan ibadahnya. Selain itu, setiap orang juga harus menyelesaikan permasalahanm, tanpa menggunakan kekerasan. "Budaya kami adalah pluralitas dan paham keberagaman. Kami tidak harus membenarkan keyakinan orang lain, namun menghargai keyakinan, Semangat Piagam Madinah adalah semangat pluralitas," tegasnya.

Pada pemilu mendatang, PKS tetap akan mengusung nilai-nilai pluralitas dalam upaya menciptakan Indonesia yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Keadilan, katanya, menjadi salah satu isu yang sangat kuat dalam reformasi. Apalagi belakangan ini, bangsa Indonesia sering mendapat sorotan dari negara-negara lain

Calon Presiden

Menyinggung calon presiden yang bakal diajukan PKS, Tifatul menyatakan sejauh ini partainya belum membahas masalah itu. Namun secara internal partai, telah ada kesepakatan bahwa PKS akan mengajukan calon presiden atau wakil presiden sendiri, apabila mampu meraih 20 persen suara pemilih. "Kalau mencapai 20 persen, kita akan mencalonkan capres atau cawapres dari kader sendiri," katanya.

Mengenai sosok presiden dan wakil presiden mendatang, Tifatul menyatakan faktor-faktor kombinasi, antara lain suku Jawa-non-Jawa, nasionalis-Islam, serta sipil-militer, tetap harus dipertimbangkan. Selain itu, presiden-wakil presiden juga harus paham betul potensi yang ada, sehingga mampu membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. "Bagi kami, presiden yang layak bukan hanya tebar pesona dan pasang iklan, ia harus mengerti integritas dan mengarahkan negara ini untuk lebih baik lagi. Karena itu, kami tetap memperhatikan isu yang terbesar, yaitu pertumbuhan ekonomi yang harus dibenahi, yang menyangkut kesejahteraan rakyat," ucapnya. [sp/www.hidayatullah.com]



Pergantian Ketua DPRa Srimulyo

Reporter: Tri Wuryani
JASEM SRIMULYO - Bertempat di rumah Ukhti Prihartanti dusun Jasem desa Srimulyo kecamatan Piyungan, DPRa PKS Srimulyo mengadakan temu kader rutin (TRP) Ahad 24 Agustus 2008 kemarin.

Acara yang dihadiri duapuluhan kader ikhwan akhwat ini membahas agenda Ramadhan DPRa Srimulyo. Salah satunya adalah Tebar Imsyakiyah yang direncanakan akan digelar Ahad depan (31/8) di pasar Piyungan jam 5.30 pagi.

Dalam kesempatan itu hadir Ketua DPC PKS Piyungan, Wawan Wikasno, yang mensosialisasikan agenda-agenda DPC.

Di penghujung acara, ada pengumuman dari Ketua DPC yang cukup menyedot perhatian kader Srimulyo, yaitu pergantian ketua DPRa PKS Srimulyo. Andi Tri Widodo yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua DPRa diangkat menjadi Ketua DPRa menggantikan Nugroho Slamet Raharjo.

Sekolah Caleg PKS Jogja Didatangi KPK



Reporter: Tri Wuryani
Pkspiyunganonline: YOGYAKARTA- PKS tidak akan ‘main-main’ dalam pengelolaan negara jika nantinya diberi kepercayaan rakyat. Sehingga profesionalisme pengelolaan negara adalah suatu keharusan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Maka disaat pemilu 2009 sudah menggelinding, PKS tidak hanya memikirkan bagaimana memenangkan pemilu tapi sekaligus juga menyiapkan bagaimana ‘mengelola’ kemenangan.

Untuk itulah, DPW PKS D.I. Yogyakarta mengadakan Sekolah Calon Anggota Dewan pada Sabtu 23 Agustus 2008 bertempat di Hotel UIN Sambilegi Sleman Yogyakarta. Dengan dihadiri 300-an caleg PKS Yogyakarta tingkat DPR RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, kegiatan ini sebagai pembekalan bagi para caleg agar memiliki kapasitas keilmuan yang kuat dilengkapi dengan kepekaan sosial dan kemampuan komunikasi yang handal.

Ada tiga materi utama yang disampaikan:
1.Memantapkan semangat bersih dan peduli untuk membangun Indonesia adil dan sejahtera (oleh: Ustadz Tulus Musthofa Anggota Dewan Syuro DPP PKS yang berasal dari Yogyakarta)
2.Menutup pintu bagi korupsi (menghadirkan nara sumber dari KPK)
3.Peran politik dalam Membangun clean and good governance (oleh DR. Pratikno dan Revrisond Baswir, Fisipol UGM)
Kegiatan yang berlangsung sampai pukul 17.00 ini diakhiri dengan penandatanganan Kontrak Politik Caleg se-DIY.

PKS Akan Rilis Kabinet Bayangan pada Pemilu 2009

Jakarta - PDIP membuat terobosan dengan menyiapkan nama daftar menteri yang akan menduduki kursi kabinet jika Megawati Soekarnoputri terpilih jadi presiden pada Pemilu 2009. Tidak mau kalah, PKS juga akan membuat kabinet bayangan apabila target 20 persen kursi di DPR terpenuhi.

Bahkan, pembentukan kabinet bayangan itu sudah dilakukan PKS pada saat Pemilu 2004 yang lalu. Demikian dikatakan Ketua FPKS Mahfudz Siddiq, kepada detikcom, Minggu (24/8/2008) malam.

"Untuk 2009 yang jelas PKS sedang konsentrasi untuk memaksimalkan pemenangan legislatif agar target 20 persen terpenuhi. Kalau PKS bisa dapat 20 persen atau terlibat koalisi, hal yang sama (membuat susunan kabinet bayangan) akan kita lakukan di tahun depan," kata dia.

PKS, kata Mahfudz, akan merilis nama capres, cawapres, hingga calon-calon menteri yang akan duduk di kursi kabinet sebelum pilpres digelar. "Kita akan me-launching ke publik capres dan cawapres juga menteri-menterinya untuk dinilai publik. Kemudian bisa kita ukur akseptabilitasnya," jelasnya.

Menurutnya, publikasi ke publik adalah konsekuensi dari koalisi saat pilpres. Dengan adanya rilis ini, masyarakat diberi kesempatan untuk menilai semua calon. "Kita ingin menteri-menteri diterima masyarakat juga, tidak hanya capres dan cawapres yang kita dukung," imbuhnya.

Keputusan tentang rilis kabinet bayangan, lanjut Mahfudz, ditentukan oleh Majelis Syuro PKS yang bertanggung jawab untuk memanajemen penanganan pemilu.

sumber: detikcom

Analisis: Caleg Suara Terbanyak Mengebiri UU Pemilu

Sabtu, 23 Agustus 2008

Oleh Slamet Hariyanto*
--------------
Memperhatikan ketentuan tersebut, maknanya, parpol yang menetapkan caleg terpilih hanya didasarkan pada suara terbanyak nyata-nyata telah melanggar empat ketentuan dalam pasal 214 UU No 10/2008. Parpol yang dimaksud adalah PAN, PG, PD, dan PBR atau parpol mana pun yang bakal mengikuti jejak empat parpol tersebut.

-----------
Masa penyusunan daftar caleg pada beberapa pekan terakhir ini diwarnai perkembangan politik yang cukup menarik. Ada tiga parpol yang merencanakan menerapkan sistem suara terbanyak bagi calegnya untuk menduduki legislatif 2009. Tiga parpol itu adalah Partai Golkar (PG), Partai Demokrat (PD), Partai Bintang Reformasi (PBR).

Perkembangan politik tersebut mengingatkan publik pada Partai Amanat Nasional (PAN) yang secara internal pada jauh hari mencanangkan sistem suara terbanyak bagi caleg terpilih dalam Pemilu 2009. Bahkan, dengan bangga Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir menyebut parpolnya sebagai pelopor sistem suara terbanyak untuk menentukan caleg terpilih. Faktanya, kebijakan politik internal parpol itu kini ditiru PG, PD, dan PBR.

Dari segi politik praktis, publik sudah maklum sistem suara terbanyak bisa meredam konflik internal terkait dengan rebutan nomor urut kecil. Faktor meredam konflik itu sebenarnya menjadi alasan utama parpol tiba-tiba memilih sistem suara terbanyak. Sedangkan alasan lain seperti mengedepankan unsur demokratis hanyalah pelengkap belaka.

Dirunut dari proses pembahasan RUU Pemilu yang kemudian disahkan menjadi UU No 10/2008 tentang Pemilu Legislatif, publik pun masih ingat apa saja sikap politik fraksi-fraksi di DPR terkait dengan pasal-pasal penetapan calon terpilih. Tarik-ulur kepentingan politik dari masing-masing parpol melalui fraksi-fraksi tersebut akhirnya menghasilkan kompromi berupa rumusan pasal 214 UU No 10/2008.

Pasal yang terdiri atas lima huruf (a hingga e) itu merupakan produk hukum sebagai hasil kompromi politik. Sebagai sebuah produk hukum yang bersifat mengikat bagi semua pihak, tentu tidak ada perlakuan istimewa untuk tidak mematuhinya. Jika ternyata ada parpol yang merasa mampu menyiasati makna hukum yang termaktup dalam UU No 10/2008, masih ada persoalan lain yang harus dipikirkan para elite parpolnya.

Ketaatan terhadap UU harus dimaknai dari dimensi yang lebih luas. Menghormati peraturan perundang-undangan yang berlaku merupakan bagian penting dari penegakan supremasi hukum. Elite parpol yang melakukan penyimpangan terhadap aturan hukum tentu secara moral bisa dianggap mencederai dua dimensi edukatif. Yakni, mengabaikan pendidikan politik dan pendidikan hukum bagi rakyat banyak.

Dalam konteks ini, parpol mana pun yang melakukan penyimpangan terhadap UU No 10/2008 adalah sebuah pelanggaran terhadap konstitusi yang menjadi payung hukum pelaksanaan Pemilu 2009. PAN, PG, PD, dan PBR sudah melubangi payung hukum tersebut untuk kepentingan internal parpol masing-masing.

Perilaku politik semacam itu menunjukkan adanya ketimpangan yang serius. Tragisnya, pencipta UU telah menjadi monster pelopor pelaku pelanggaran terhadap produk hukum yang dibuatnya. Meski ditonjolkan sebagai kebijakan politik di internal parpol, semua itu punya resonansi besar terhadap faktor eksternal. Resonansi besar tersebut berupa pengebirian UU No 10/2008 tentang Pemilu.

Peristiwa tersebut bertentangan dengan filosofi yang dikedepankan Thomas Jefferson bahwa ''melaksanakan peraturan perundang-undangan lebih penting daripada membuatnya''. Pesan yang disampaikan presiden ke-3 Amerika Serikat itu masih relevan sampai kini. Apa pun alasannya, termasuk anggapan lebih demokratis, penentuan caleg terpilih sudah sepatutnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan UU Pemilu.

Nomor Urut

Pasal 214 UU No 10/2008 menegaskan, ketentuan caleg terpilih adalah caleg yang memperoleh suara 100 persen dari bilangan pembagi pemilihan (BPP) mutlak dinyatakan sebagai caleg terpilih. Prioritas caleg terpilih berikutnya adalah caleg yang memperoleh suara minimal 30 persen dari BPP.

Selebihnya, caleg terpilih diakomodasi dengan mengutamakan nomor urut terkecil. Hal itu berlaku pada beberapa kondisi perolehan suara untuk masing-masing caleg. Pertama, bila caleg yang memperoleh suara minimal 30 persen dari BPP ternyata lebih banyak daripada jumlah kursi yang diperoleh, kursi diberikan kepada caleg yang memiliki nomor urut lebih kecil di antara caleg yang memenuhi ketentuan perolehan suara minimal 30 persen dari BPP.

Kedua, bila terdapat dua caleg atau lebih yang memenuhi ketentuan perolehan suara minimal 30 persen dari BPP dengan perolehan suara yang sama persis, kursi diberikan kepada caleg yang memiliki nomor urut lebih kecil.

Ketiga, bila jumlah caleg yang memperoleh suara minimal 30 persen ternyata kurang dari jumlah kursi yang diperoleh parpol yang bersangkutan, kursi yang belum terbagi diberikan kepada caleg berdasar nomor urut. Keempat, bila tidak ada caleg yang memperoleh suara minimal 30 persen dari BPP, calon terpilih ditetapkan berdasar nomor urut.

Melanggar

Memperhatikan ketentuan tersebut, maknanya, parpol yang menetapkan caleg terpilih hanya didasarkan pada suara terbanyak nyata-nyata telah melanggar empat ketentuan dalam pasal 214 UU No 10/2008. Parpol yang dimaksud adalah PAN, PG, PD, dan PBR atau parpol mana pun yang bakal mengikuti jejak empat parpol tersebut.

Pelanggaran serupa dilakukan PDIP yang merencanakan pengebirian UU Pemilu dalam bentuk lain. PDIP secara internal akan menetapkan caleg terpilih dengan ambang batas perolehan suara caleg minimal 15 persen dari BPP.

Dilihat dari segi kualitas pelanggaran terhadap UU Pemilu, posisinya sebagai pelanggar adalah sama saja antara PDIP dengan PAN, PG, PD, dan PBR. Kelima parpol itu secara sistematis telah mengebiri UU No 10/2008 dengan cara memanfaatkan segi teknis penggantian caleg terpilih sebagaimana diatur dalam pasal 218 ayat (1) huruf (b), yakni calegnya mengundurkan diri.

Dalam penjelasannya, pasal 218 ayat (1) huruf (b) menyatakan bahwa pengunduran diri (secara tertulis) caleg terpilih dinyatakan dengan surat penarikan caleg terpilih oleh parpolnya. Pemanfaatan segi teknis pengunduran diri caleg terpilih itulah yang dijadikan pijakan parpol untuk melaksanakan ambisinya dalam menentukan caleg terpilih berdasar suara terbanyak. Teknis yang sama dipakai PDIP untuk menetapkan secara internal ambang batas perolehan suara caleg minimal 15 persen dari BPP.

Kebijakan politik, meski secara internal semacam itu, tetap merupakan pengebirian UU Pemilu. Sebab, selama belum diamandemen, UU No 10/2008 tentang Pemilu tetap berlaku.

* H Slamet Hariyanto, mahasiswa S-2 Ilmu Hukum Universitas Airlangga Surabaya

sumber: jawapos

DPRa Srimulyo Catat Sejarah Juara Olimpiade PKS Piyungan

Jumat, 22 Agustus 2008

Reporter: Abu Hasan Surhim
Olimpiade antar DPRa yang digelar DPC PKS Piyungan 18 Agustus 2008 menobatkan DPRa PKS Srimulyo sebagai The Champions. Dengan meyakinkan, kontingen DPRa Srimulyo menyabet lima medali emas dari 10 cabang yang dipertandingkan.

Sedangkan The Dream Team DPRa Srimartani kalah tipis dengan DPRa Sitimulyo dalam perebutan juara kedua. DPRa Srimartani mengantongi dua medali emas dan lima perak, sementara DPRa Sitimulyo mampu mengkoleksi tiga medali emas dan lima perak.
Namun kalau ada kategori DPRa Terkompak dan Terheboh maka DPRa Srimartani layak untuk jadi juaranya.

Aura kemenangan DPRa PKS Srimulyo sudah terlihat tatkala kontingen kader Kaligatuk Srimulyo full team turun gunung meramaikan olimpiade yang baru pertama kali digelar DPC PKS Piyungan di lapangan Tegalyoso. Bahkan total jumlah peserta dan suporter DPRa Srimulyo jauh melebihi kontingen DPRa yang lain. Kombinasi antara kualitas (rata-rata kontingen ikhwan DPRa Srimulyo ber-otot besar) dan jumlah masa yang banyak menjadi kunci kemenangan DPRa Srimulyo.

Berikut daftar lengkap peraih medali emas dan perak Olimpiade 2008 DPC PKS Piyungan:

Kategori Ikhwan:
- Tarik tambang ( EMAS: Srimulyo PERAK: Sitimulyo)
- Lari Kelereng (EMAS: Azis – Srimulyo, PERAK: Widodo – Sitimulyo)
- Futsal (EMAS: Srimulyo, PERAK : Srimartani)
- Balap Karung (EMAS: Sarojo –Sitimulyo, PERAK: Haryadi Si Boy – Srimartani)
- Gulung Stagen (EMAS: Hari Sinyo – Srimartani, PERAK: Pak Agus – Srimartani)
- Volly Plastik (EMAS: Sitimulyo B, PERAK: Sitimulyo A)

Kategori Akhwat:
- Tarik Tambang (EMAS: Sitimulyo, PERAK: Srimartani)
- Lari Kelereng (EMAS: Sumini-Srimulyo, PERAK: Eva-Sitimulyo)
- Balap Karung (EMAS: Tri Lestari-Srimulyo, PERAK: Maemunah-Srimartani)
- Tumpeng (EMAS: Srimartani, PERAK: Sitimulyo)

Menulis Hingga Nafas Berakhir

“Kerja saya sehari-hari ya menulis. Kini ada lebih dari 40 buku telah diterbitkan. Belum lama saya telah menyelesaikan satu manuskrip yang sangat tebal tentang Kehidupan Rasulullah SAW.
------------
Ruqayyah Waris Maqsood dilahirkan pada tahun 1942 di kota London, Inggris. Ruqayyah merupakan salah satu penulis buku-buku Islam paling produktif. telah menghasilkan lebih dari 30 buku berkenaan dengan Islam. Buku-bukunya termasuk best seller dan menjadi referensi serta rujukan di berbagai negara. Awalnya dia dibesarkan dalam lingkungan Kristen Protestan. Nama asalnya ialah Rosalyn Rushbrook. Dia memperoleh ijazah dalam bidang Teologi Kristen dari Universitas Hull tahun 1963. Pengetahuan Kristennya begitu mendalam hingga dia menulis beberapa buah buku, tentang Kristen.

Tapi rupanya, karena pengetahuannya yang begitu mendalam tentang Kristen pula yang menyadarkannya. Ia dapati ajaran Kristen telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep Trinitas. Akhirnya tahun 1986, diusia 44 tahun, dia memeluk Islam. Tahun 2001 dia dianugerahkan Muhammad Iqbal Awards karena sumbangannya yang tinggi dalam pengembangan metodologi pengajaran Islam. Bahkan Maret 2004 Ruqayyah terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia.

Lebih dekat dengan Ruqayyah klik disini
---------
sumber: hidayatullah.com

Al-Aqsa akan Kembali Jika Umat Islam Bersatu

JAKARTA -- Masdjid Al-Aqsa dapat dikembalikan ke umat Islam dari kekuasaan Israel kalau umat Islam bersatu menjalankan dengan sungguh-sungguh segala perintah dan larangan Allah, kata Sekretaris Jenderal Solidaritas Palestina Ferry Noer dalam seminar antarbangsa Al-Aqsa di Jakarta pada Kamis (21/8).

Ferry Noer mengatakan sedang disiapkan kelompok kerja, yang akan bertugas mengerahkan kekuatan membebaskan Al-Aqsa dari Israel dan salah satu kegiatannya adalah mengumpulkan satu juta tanda tangan umat Islam di Indonesia.

Ia menambahkan, kegiatan lain adalah mengadakan "tabliq" akbar, membuat laman dan menyebarkan berita di buletin tentang semua kejadian di Palestina, terutama di daerah sekitar Al-Aqsa.

Pembicaran utama dalam seminar itu, Dutabesar Palestina untuk Indonesia Fariz N Mehdawi mengatakan bahwa secara historis, Al-Aqsa memunyai nilai sejarah sangat penting, dengan kisah nyata antara lain peristiwa "isra" dan "mi`raj".

Dutabesar Palestina menambahkan bahwa tujuan Israel adalah menghancurkan Al-Aqsa, sehingga tidak ada lagi tempat suci umat Islam di Al-Quds (Yerusalem) dan membunuh orang Palestina agar tidak bisa bersaing dalam mempertahankan hak atas tanah dan bumi di Palestina.
Al-Aqsa dipolitikkan oleh Isarel untuk kepentingan mereka dan negara itu sedang mengadakan penggalian di dekat teras Al-Aqsa, yang disebut dengan proyek ilmu purbakala, tambah dutabesar Palestina.

Dr Ramli Abdul Wahid MA, dekan Fakultas Usuluddin Universitas Sumatera Utara, sebagai pembicara dalam seminar itu mengatakan bahwa pada 1897 diselenggarakan konferensi pertama Yahudi di kota Phal, Swiss, yang menetapkan piagam Zionis antarbangsa untuk mewujudkan negara Israel dan mendirikan berbagai lembaga serta badan politik dan ekonomi untuk menjalankan amanat undang-undang dasar tersebut.

Pada 1907 dimulai pewujudan keputusan konferensi itu dengan berpindahnya warga Yahudi secara teratur ke Palestina dan dimulailah masa penjajahan Zionis atas bumi Palestina.
Pada 1927, rombongan hijrah Yahudi ke Palestina terus bertambah dan kelompok itu menguasai banyak tanah Arab dengan cara membeli dan merampas dengan bantuan penjajah Inggris, kata Ramli.

Ramli mengatakan bahwa berjihad dengan harta dan nyawa untuk mengembalikan Palestina dari Israel dan membersihkan dari penjajah adalah wajib bagi seluruh muslim, tapi harus dibarengi dengan jihad melalui jalur politik dan diplomasi dari pemerintah resmi.

Pembicara lain, yaitu Hj Abd Ghani Samsudin, Presiden Sekretariat Himpunan Ulama Asia Tenggara, mengatakan bahwa Al-Aqsa pernah menjadi kiblat pertama umat Islam selama tiga tahun, sehingga masjid itu jelas suci bagi umat Islam.

Ia mengatakan pembebasan Palestina dari Israel bukan perkara mudah, karena menuntut umat islam bersatu dan dengan kekuatan akidahnya tidak membiarkan saudaranya terus dirundung malang dan harus bijaksana dalam melakukan usaha membebaskan Al-Aqsa itu. (ant/ah)

sumber: republika

Ramadhan: Download Sabar & Delete Dosa

Kamis, 21 Agustus 2008

presented by: Abkary from Cairo

Assalamu alaikum...
Ikhwah fillah.... mari kita Senantiasa Setting NIAT, Upgrade IMAN, Download SABAR, Delete DOSA, Approve MAAF dan Hunting PAHALA. Agar Kita Getting GUEST LIST Masuk SURGA-Nya.

Pulang ke kampung SURGA Yuuukkk!!!! Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, Dengan Sopir KEIKHLASAN,Lewat Jalan IMAN, ..eiettt Jangan Lupa bawa Peta QUR'AN & SUNNAH, juga Bekal TAQWA..... Semoga Qta ketemu disana.

Kini Ramadhan akan, dengan kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan. MARHABAN YA RAMADHAN.
"Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya'bana Wa Balligna Ramadhan"
Selamat mempersiapkan diri tuk sambut ibadah puasa 1429 H. Mari kita kuatkan Iman, bersama menyongsong Bulan penuh Rahmah, Maghfirah dan Berkah.


Keadilan FC Tekuk Persada 5-4

Reporter: Dhanie Asy_Syakib
PIYUNGAN: Dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan NKRI ke-63 dan mempererat ukhuwah antar elemen masyarakat di kecamatan Piyungan, Tim Keadilan FC dari DPC PKS Piyungan, selasa, 19 Agustus 2008 mengadakan pertandingan persahabatan dengan Persada Ngijo.

Meskipun, badan terasa pegal, capek bahkan sakit, karena sudah beberapa hari melakukan berbagai rangkaian kegiatan OLIMPIADE GEBYAR AGUSTUS, (apalagi kemarinnya, harus berjibaku di tarik tambang sampai jatuh bangun, futsal dibawah terik panas matahari, dll) namun Manejemen club Keadilan FC tidak begitu memperdulikan kondisi tersebut. Bahkan guna mensolidkan tim, manejemen club mengadakan pertandingan persahabatan dengan Persada Ngijo.

Sore itu, selasa, 19 Agustus 2008, pertandingan persahabatanpun tetap digelar meski pertandingan tersebut tanpa suporter dan penonton. Tim Keadilan FC yang hanya dihadiri pemain-pemain inti saja (hehe yang lain masih pegal-pegal badannya), tetap bersemangat untuk bermain sportif.

Dengan pemain yang pas-pasan, hanya 11 pemain, maka strategi yang dipakai adalah dengan formasi 3-5-2. Di awal-awal babak pertama Keadilan FC sudah mencoba mendobrak pertahanan Persada, dengan dipunggawai play maker widoyo, sentuhan bola tik tak cukup merepotkan pertahanan lawan, namun sampai 15 menit babak pertama belum bisa menembus gawang Persada yang dijaga keeper yang tangguh.

Bahkan Persada bisa mencuri gol terlebih dahulu di pertengahan babak pertama, memanfaatkan kelengahan pemain belakang ketika para pemain Keadilan FC fokus menyerang. Bahkan sampai peluit panjang babak pertama, tendangan-tendangan bola ke gawang para pemain Keadilan FC belum bisa menghasilkan gol. Skor 3-0 untuk Persada.

Memasuki babak kedua, Keadilan FC meningkatkan tempo permainandan fokus pada pertahanan juga. Al hasil kebuntuan pun terpecahkan dengan gol atraktif Rusdi di awal babak kedua. Tidak beberapa lama juga, striker Keadilan FC, Hanung melesakkan bola ke gawang Persada. Disusul kemudian gol Rusdi yang kedua yang menjadi inspirator permainan Keadilan FC sore itu, 3-3. Meski banyak peluang tercipta dibabak kedua, namun, Keadilan FC belum juga bisa menambah gol. Beruntung Persada bisa menambah 1 gol berawal dari serangan balik Persada yang akurat, ketika terjadi kemelut di depan gawang Arif Kyoto, Pemain belakang Keadilan FC, Andi menyentuh bola di kotak pinalti.

Ketinggalan 3-4, pemain Keadilan FC terus menggedor pertahanan lawan. Dan hasilnya, Akka dan Hanung, masing-masing menyumbangkan 1 gol. Hingga peluit panjang babak kedua kedudukan 5-4 untuk kemenangan Keadilan FC.
------

Tim Keadilan FC Piyungan are:
Coach: Wawan Wikasno
Pemain: Arif kyoto, Andi Susanto, Akhid Nugroho, Dhanie Asy-Syakib, Pangga, Rusdi M, Andri, Sugeng Widoyo, Putut Budi, Muhammad Akka, Hanung

'Rohmat Irama' Hibur Gebyar Keadilan PKS Piyungan



Reporter: Abu Hasan Surhim

PIYUNGAN - “MERDEKA..!! ALLAHU AKBAR…!!” teriakan lantang Ketua DPC PKS Piyungan, Wawan Wikasno, memecah dinginnya angin malam. Ratusan hadirin sontak menyambut dengan gemuruh bersaing dengan deru kendaraan yang bersliweran. Malam itu DPC PKS Piyungan punya hajat besar mangayubagyo Agustusan sekaligus menyongsong Ramadhan, tak ayal kalau dua kata di awal menjadi yel-yel yang bergema sepanjang acara Gebyar Keadilan.

Gebyar Keadilan yang digelar di halaman TB Sandeyan tadi malam (20/8) mampu menyedot antusiasme kader, kordus (koordinator PKS tingkat dusun) dan simpatisan. Hadir juga Danramil serta Sekcam (Sekretaris Camat) kecamatan Piyungan.

Di awal acara, peserta dibikin tercengang dengan penampilan Rohmat ‘Irama’ yang melantunkan satu tembang dari Bang Haji Rhoma Irama. Dengan mengubah syair lagu berisi ajakan ber-PKS-ria, para kader dan hadirin terbuai sambil sesekali tertawa menikmati lantunan suara Rohmat Irama yang mirip banget dengan aselinya. Bahkan Pak Sekcam dalam sambutannya terheran-heran, kok kader PKS bisa dangdutan juga.

Suasana makin hangat ketika tiba pengumuman juara Olimpiade PKS Piyungan. Sebelum dibacakan hasil akhir klasemen, para hadirin disuguhi Film Dokumenter Olimpiade PKS Piyungan. Film yang berdurasi 17 menit produksi Media Center DPC PKS Piyungan mampu membuat para kader mentertawai diri mereka sendiri yang tampil di layar lebar. (to be continued…. Afwan udah ditunggu kerjaan.. he..he…)

PKS Malaysia Sapa TKI TKW Kawasan Saleng

Reporter: Wahid Surhim*
JOHOR – Malaysia (17/8/08). Di mana banyak orang Indonesia berkumpul, di situ PKS hadir. Barangkali ungkapan itu tepat untuk peristiwa Ahad malam di sebuah hostel pekerja Indonesia, kawasan Saleng, Johor, Malaysia. Lebih dari 100-an laki-laki dan perempuan hadir dalam rangka melepas kepulangan ke Indonesia salah seorang pekerja Indonesia, Sugeng Riyanto. Dia adalah salah seorang anggota muda PKS, penggerak dakwah, dan Ketua Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Kawasan Saleng.

DPC SSK (Senai, Saleng, Kulai) memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mengenalkan PKS. Bulletin Nusantara yang diterbitkan PKS Johor sudah dibagikan ke yang hadir. Tidak tanggung-tanggung, boks makanan yang disuguhkan kepada semua yang hadir ditempel di atasnya gambar PKS, nomor 8, dan tulisan kecil: “Bila Anda setuju dukunglah kami. Bila Anda ragu, kami tetap akan memperjuangkan hak Anda”. Bukan itu saja, pengurus DPD PKS Johor pun diberi waktu untuk memperkenalkan PKS.

Hadir dengan membawa layar gulung, LCD projector, dan laptop, pengurus DPD PKS Johor memperkanalkan PKS dengan memutar film tentang PKS. Dijelaskan pula tatacara pemilihan yang baru yang berbeda dengan pemilu sebelumnya. Pada pemilu sebelumnya menggunakan paku untuk mencoblos, tapi pemilu 2009 akan menggunakan alat tulis untuk mencontreng (mencentrang) yang dipilih.

Rupanya ini membuat hadirin bertanya. Salah seorang dari yang hadir mengatakan bahwa dia akan memilih PKS. Tapi bagaimana caranya bisa ikut memilih? Pertanyaan ini pun dijawab dengan memuaskan.

Setelah acara ditutup dengan doa oleh Ketua DPD PKS Johor, Ustdaz H. Tengku Azhary Jaelani, Lc. maka DPD memanfaatkan waktu berkumpul ini untuk launching DPC PKS SSK. Jajaran pengurus DPC SSK diperkenalkan kepada hadirin. Pengurus inti DPC PKS SSK: Ali Fakhrudin (ketua) dan Firlan (sekretaris).

*Mahasiswa Program Doktoral UTM

DPD PKS Bantul Daftarkan Calegnya ke KPUD

Rabu, 20 Agustus 2008

pkspiyunganonline: BANTUL (KR) - Dua partai politik, masing-masing Partai Patriot dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Bantul, Selasa (19/8) secara resmi mendaftarkan bakal calon legislatif (bacaleg) ke KPUD setempat. Kedatangan pengurus DPD kedua parpol ke KPUD cukup menarik, yaitu naik becak dari kantor DPRD ke KPUD.

DPD PKS Bantul yang menggunakan 8 becak, sesuai dengan nomor urut partai ini, mendaftarkan 54 bacalegnya. Dari seluruh bacaleg yang didaftarkan ke KPU, seluruhnya masih berusia muda, atau maksimal 40 tahun. Selain itu, PKS juga mengusung bacaleg perempuan yang diikutsertakan dalam pendaftaran yang persentasenya lebih dari yang ditetapkan.

Ketua DPD PKS Bantul, Arif Haryanto SSi, mengungkapkan pengembalian berkas sebagai wujud kesiapan dan keseriusan PKS dalam pelaksanaan pemilu 2009 mendatang. Sesuai peraturan perundangan, PKS mengisi 120 % dari kuota yang ada. ”Komposisi caleg kita 34 orang pria dan 20 orang wanita (37 %), semuanya sudah siap untuk turun dan bekerja bersama masyarakat,” lanjutnya.

Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar lulusan sarjana (S1) sebanyak 33 orang (60 %), S2 satu orang, D3 6 orang dan sisanya 14 orang lulusan SMA. Sementara berdasarkan umur, caleg PKS rata-rata berusia muda, di bawah 40 tahun. Diharapkan pada periode mendatang akan lebih progresif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Bantul.

Hingga kemarin (19/8), jumlah parpol yang telah mendaftarkan calegnya yakni Partai Pelopor 6 orang caleg, PDIP 48 caleg, Partai Damai Sejahtera (PDS) 8 caleg, Partai Indonesia Baru (PIB) 1 caleg, Partai Demokrat 28 caleg, PKS 54 caleg, Partai Patriot 16 caleg dan Partai Barisan Nasional (Barnas) 5 caleg.(Can/Fie)-z

sumber: Kedaulatan Rakyat (20/8/2008)

Yang Heboh di Olimpiade PKS Piyungan

Selasa, 19 Agustus 2008


Reporter: Abu Hasan Surhim
pkspiyunganonline: DPRa manakah yang berhasil menyabet gelar juara umum olimpiade pks piyungan 2008? Pertanyaan ini yang sekarang santer beredar di kalangan kader pks piyungan setelah hari Senin (18/8) kemarin untuk yang pertama kalinya digelar olimpiade antar DPRa sekecamatan Piyungan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63.

Walaupun sudah beredar rumor dan sruwing-sruwing akan jawaban pertanyaan itu, panitia olimpiade pks piyungan sendiri rencananya hari ini baru akan merapatkan hasil akhir olimpiade. Yang pasti, pengumuman gelar juara umum dan penyerahan medali akan dilakukan Rabu (20/8) pada acara Malam Gebyar Keadilan yang bertempat di TB Sandeyan, Srimulyo, Piyungan.

Agustusan kali ini memang menjadi momen yang spesial bagi DPC PKS Piyungan. Mesin pemilu 2009 yang sudah panas sejak beberapa bulan yang lalu memang membutuhkan perawatan dan penjagaan ‘suhu’ agar tidak melempen menghadapi puncak target 2009. Untuk itulah DPC PKS Piyungan menggelar Olimpiade antar DPRa dengan beraneka lomba yang dipertandingkan.

Olimpiade berlangsung Senin (18/8) kemarin di lapangan Tegalyoso, Srimulyo, Piyungan Bantul Yogyakarta. Sejak pukul 6 pagi kontingen DPRa sudah mulai berdatangan. Diantara rombongan peserta yang tampak paling mencolok dan membuat ‘keder’ peserta lain adalah kontingen dari dusun Gunung Kaligatuk. Maklum, mereka rata-rata berbody kekar khas orang gunung. Nyatanya, tim dusun kaligatuk dengan mudah menyabet medali emas tarik tambang ikhwan dalam olimpiade kali ini.

Olimpiade yang berakhir jam 13.00 WIB mempertandingkan 10 cabang lomba. Enam lomba untuk ikhwan dan empat lomba untuk akhwat. Berhubung pengumuman peraih medali emas dan perak serta gelar juara umum baru akan dilakukan pada Rabu (20/8) besok, maka liputan kali ini belum bisa (tidak boleh-ed) memaparkan jalannya lomba dan pemenangnya.

Yang pasti, olimpiade antar DPRa sekecamatan Piyungan belangsung heboh, seru, menegangkan, mengharukan sekaligus menyenangkan. Siapapun yang menjadi juara umum, semua peserta sudah menjadi juara dengan keterlibatan mereka pada olimpiade kali ini.

Tim Surabaya Raih Juara Futsal Hidayat Nur Wahid Cup

Senin, 18 Agustus 2008

pkspiyunganonline: JAKARTA - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid menepis keterkaitan kejuaraan futsal yang diselenggarakannya dengan kepentingan politik tahun 2009. Seperti diketahui, Kejuaraan Nasional Terbuka Indoor Soccer-Futsal Hidayat Nur Wahid Cup 2008 yang berakhir di Gelora Bung Karno kemarin memperebutkan piala bergilir dari Hidayat Nur Wahid.

"Saya memang suka dengan sepak bola, bulu tangkis. Saya berharap ini tidak dipersempit dengan tafsir politik yang sangat pendek," katanya. Ia mengatakan selama ini memang rajin berolahraga dan publik juga mengetahui hal itu. Menurutnya, kalau orang yang tidak rajin berolahraga kemudian tiba-tiba membuat turnamen olahraga, mungkin bisa menimbulkan tafsir berbeda.

Meski demikian, Hidayat mendorong agar orang tidak takut dengan tafsir politik lalu enggan membina olahraga. Ia justru berharap, para pimpinan partai politik, organisasi masyarakat, pimpinan eksekutif, legislatif, dan yudikatif ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai bapak angkat cabang olahraga tertentu. Ia juga meminta pemerintah agar memberi insentif pengurangan pajak kepada perusahaan-perusahaan yang selama ini giat membina cabang olahraga. Dengan demikian diharapkan perusahaan-perusahaan lainnya juga akan bersemangat melakukan pembinaan terhadap olahraga.

Selain kejuaraan futsal yang baru pertama kali ini diselenggarakan, sejak dua tahun lalu Hidayat juga menyelenggarakan kejuaraan bulu tangkis. Hidayat dikenal rajin berolahraga. Olahraga yang paling kerap dilakukannya adalah bulu tangkis. Sedangkan futsal dilakoninya setiap hari Minggu pagi di lapangan kompleks Dewan Perwakilan Rakyat bila ia tidak ada kesibukan.

"Pilihan saya jatuh pada penyelenggaraan kejuaraan futsal karena olahraga ini relatif tidak membutuhkan lapangan besar, waktu banyak, dan melibatkan banyak orang. Anak bangsa perlu diberi alternatif kegiatan yang menyehatkan dan positif. Saya berharap ini bisa menguatkan modal sosial untuk menyalakan semangat olahraga rakyat dan bangsa. Tidak ada bangsa yang maju tanpa rakyatnya yang sehat," katanya.

Dalam kejuaraan futsal ini keluar sebagai juara umum tim Surabaya yang mengalahkan tim Jakarta. Selain kedua tim, bertanding pula tim dari Bengkulu, Bandung, Semarang, Palembang, Medan, dan Banjarmasin. Hidayat juga sempat melakukan pertandingan eksibisi melawan tim wartawan.

sumber: kompas
 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner