NEWS UPDATE :

MABIT Sabtu Wage PKS Piyungan

Sabtu, 31 Mei 2008

Bertempat di Masjid PerumGTS, semalam [30/5] DPC PKS Piyungan mengadakan MABIT [Malam Bina Iman & Taqwa] dengan rangkaian acara Khotmil Qur’an, Taushiyah, Tahajud & dzikir ma’tsurat.
Acara rutin tiap Sabtu Wage ini diikuti 35 peserta dari jajaran pimpinan DPC, DPRa dan kader sebagai bekal ruhiyah mengemban tugas da’wah.

Tepat jam 20.15 acara dibuka dengan KHOTMIL QUR’AN, yaitu mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an dengan tiap peserta membaca 1 juz berbeda secara bersamaan. Selanjutnya tausyiyah diampaikan oleh ustadz Basyori dari Banguntapan. Beliau mengingatkan agar para kader da’wah selalu tertambat hatinya dengan akhirat. Dengan tema Dzikrul Maut, ustadz yang ternyata masih single ini menguraikan secara detil detik-detik akhir kehidupan manusia di muka bumi.

Setelah istirahat tidur, sekita pukul 03.30 peserta bermunajat langsung kepada Sang Kholik dengan sholat tahajud yang di-imami oleh ustadz Agung Isnaeni.
Dan untuk memperkuat tali ikatan dengan Allah, acara diakhiri dengan membaca dzikir ma’tsurat setelah sholat subuh berjama’ah.

PUNK MOSLEM: Da'wah di Basis Underground

Jumat, 30 Mei 2008

Inilah fenomena baru: ngaji di kalangan anak Punk. Mereka mengidentitaskan pengajian komunitas underground itu dengan sebutan Punk Moslem.

Adalah Ahmad Zaki, menyisihkan waktunya untuk mengasuh anak-anak punk belajar membaca Al Qur'an. Zaki, menaruh harapan besar, generasi muda ini kelak menjadi agen perubahan untuk menularkan kebaikan kepada rekan-rekan sesama anak-anak punk.

Pergumulan Zaki dengan komunitas anak-anak punk bermula ketika ia ber¬gaul dengan ternan-ternan komunitas punk di kawasan Pulo Gadung, Rama¬dhan setahun yang lalu (2007). Ketika itu, Zaki menjadi Event Organigizer (EO) sebuah pertunjukan musik di sebuah kampus. Ia sering mengundang komunitas punk dalam kegiatan pertunjukan musik di mall-mall, kampus dan sekolah-sekolah.

Saat itulah Zaki mendapat tempat di hati anak-anak punk. Mereka sering bertanya, kapan ada job lagi, maksudnya agenda ngeband. "Mereka yakin, secara materi bisa mendapatkan sesuatu, sete¬lah saya menjadi marketing kelompok band mereka," ujar Zaki mengenang.

Zaki yang aktif di Dompet Dhuafa (DD) rupanya telah mengamati perkemba¬ngan anak-anak punk yang acapkali nongkrong di jalan-jalan ini. Meski Zaki bukan anak jalanan, ia merasa terpanggil untuk berdakwah di komunitas anak¬anak punk. “Dulu, saya pernah bandel. Setidak-tidaknya, saya tahu kehidupan mereka," ungkapnya.

Di komunitas band underground itulah, Zaki bertemu dengan (aIm) Budi Khaironi, orang yang paling disegani di komunitas punk tersebut. Sebelum meninggal akibat kecelakan motor (Maret 2007), Zaki teringat kata-kata yang pernah diucap¬kan pimpinan komunitas punk itu: "Bang Zaki, tolong bimbing teman-teman kami (secara spiritual)."

Lalu siapa sesungguhnya Budi Khae¬roni (32)? Dia adalah anak jalanan jebolan pesantren yang terjun ke jalan. Selain ngeband dan mengamen, Budi pernah menjadi Ketua Panji (Persaudaaran Anak Jalanan Indonesia).

Perlu diketahui, setiap wilayah di in¬donesia, mereka punya persaudaraan, komunitasnya sekitar 5000-an, rata-rata muslim. Jika ada teman-teman yang ter¬jaring trantib, Budi-lah yang mengurus untuk membebaskan rekannya itu. Di usia muda, tepatnya 23 Mei 2007 lalu, Budi meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, meskipun sempat dirawat selama tiga hari di RS. UKI.

Komunitas Punk Moslem rupanya mulai banyak jaringannya. "Kalau ikut komunitas mereka di Tangerang, shalat Jumat, misalnya, khotibnya pun dari komunitas mereka sendiri, gayanya metal abis. Termasuk jamaahnya. Me¬mang, nggak semuanya punk, alirannya beragam, ada yang beraliran regge, altematif, rap, dan aliran musik lainnya," kata Zaki.

Temyata Budi tidak sendiri. Ada se¬orang rekan yang memiliki misi sama untuk mengisi ladang dakwah ini di tengah komunitas anak punk. Ia adalah Bowo, anak kiai jebolan pesantren yang juga habis waktunya di jalan. Sejak itulah, Zaki merasa mendapat dukungan penuh.

"Kalau bukan' kita siapa lagi yang akan berdakwah di kalangan anak jalanan. Kalau mau dakwah di komunitas anak jalanan, elu harus main di jalanan. Jika berdakwah di komunitas punk, elu tidak bisa pake baju koko, yang menun¬jukan kesalehan," begitu Bowo pemah berujar.

Sebagai generasi punk yang tobat, Budi dan Bowo merasa prihatin dan gerah melihat teman-teman yang menga¬lami disorientasi dalam hidupnya.

"Kini banyak bermunculan generasi punk yang tidak jelas, apakah punk ideologis atau punk modis. Kalau tahun 1994, banyak punk ideologis. Mereka benar-benar punk. Sekarang sekadar punk mode," kata Zaki.

Keprihatinan itulah yang mendorong Zaki, Budi. dan Bowo menarik anak-anak punk yang sudah bosan dengan jalan hidupnya. Ngeband dan mengaji adalah kultur baru yang hendak ditularkan ke generasi punk. Mereka menyebut iden¬ titas kelompoknya dengan sebutan Punk Moeslem. Saat ngeband, syairnya pun bernuansakan Islami. Ketika Islam men¬jadi basic, mereka mulai malu saat berbuat maksiat.

Punk Moslem lahir karena kepriha¬tinan seorang Budi (alm), akan kondisi pemuda yang berada di komunitas punk, hidup tanpa orientasi (anti kemapanan) dan meninggalkan agamanya. Punk Moslem itu didirikan sejak Ramadhan 1427 H (2007). Sebelum berdiri Punk Moslem, Budi sempat mendirikan Wa¬rung Udix Band yang berdiri 7 tahun yang lalu dan sempat mengeluarkan album indielabel "Anak Bayangan". Di Warung Udix, ia merekrut anak-anak punk dan mengajarkan pendidikan Islam.

"Kalau orang bangga dengan kemus¬rikan dan dosa-dosa yang mereka laku¬kan, tapi punk moslem bangga dengan agama mereka (Islam). Biar mereka anak jalanan, brutal, tapi anak-anak punk moslem tetap punya Tuhan. Ketika ternan-teman menamakan dirinya punk muslim, ada sebagian komunitas yang menolak punk muslim secara tegas. Mereka berkilah, tidak ada tuh anak punk yang punya tuhan atau ideologis."

Setelah ngeband, anak-anak punk merasa ada sesuatu yang kosong. Sejak 4-5 bulan yang lalu, dibuatlah pengajian rutin. Setiap malam Jumat, diadakan taklim, bentuknya seperti mentoring. Sedangkan Selasa malam, belajar tah¬sin. Mulanya hanya lima anak yang ngaji, kemudian berkembang menjadi 20 orang, laki-Iaki dan perempuan. Kini, ngaji bagi mereka adalah sebuah kebu¬tuhan.

Awalnya mereka ada yang atheis. Sampai-sampai ada yang guyon, ah..gue mau masuk Islam atau Kristen dulu. Karena bagi mereka, agama bukanlah sesuatu yang sakral. Kalau pas ngamen cuma dapat Rp. 300, diantara mereka ada yang teriak: "Allah Maha Pelit". SeteIah dibina, anak itu meyakini Allah itu tidak pelit.

"Ketika anak-anak punk sudah menganggap ngaji sebagai kebutuhan, mereka mengirim pesan singkat (sms), malam ini ngaji nggak? Yang jelas, saya tidak ingin mereka merasa sedang diarahkan untuk masuk sebuah pergerakan atau kelompok harakah tertentu. Saat ini, pengajian kami memang belum ada namanya. Paling-paling, teman-teman menyebut penga jian ini pengajiannya punk moslem."

Zaki menargetkan untuk lebih fokus membina 20 anak yang rutin mengaji. Suatu ketika, mereka akan merekrut rekan-rekannya sendiri. Syukur-syukur jaringan ini bisa menyebar lagi. Rencananya, awal Juni ini Zaki akan mengadakan daurah (pelatihan) di puncak. Dari 20 anak yang mengaji, separuhnya sudah ada yang lancar membaca al Quran.

Meski Zaki bekerja di sebuah lembaga sosial (DD), ia tak diminta untuk berdakwah atas nama institusinnya. Secara pribadi, Zaki merasa terpanggil. Tak sia-sia, hasil dari dakwah itu, tidak sedikit anak-anak punk yang hijrah dan mulai pandai mengaji. Sebut saja, Lutfi yang meninggalkan dunia obat dan minuman keras. "Harapan saya ke depan, mereka dapat menjadi agen perubahan bagi teman-teman yang lain," jelas Zaki.

Bukan rahasia umum, anak jalanan kerap dianggap tidak produktif, bahkan dicap sampah masyarakat. Orang kalau berdakwah di masjid itu biasa. Tapi bagaimana jika berdakwah di komunitas anak-anak punk?

Zaki, Budi, dan Bowo adalah segelintir yang mengambil pilihan itu. [Adhes Satria-SABILI]

PKS Dukung Demonstrasi Turunkan BBM

Fraksi-PKS Online: Fraksi PKS diwakili anggotanya yang duduk di Komisi IX Chairul Anwar dan Anshari Siregar mendukung demonstrasi menuntut diturunkannya kembali harga BBM. Aksi demonstrasi yang dilakukan Serikat Pekerja Nasional (SPN) ini digelar Kamis (29/5) di depan Gedung DPR.

Berorasi di hadapan ratusan demonstran, Chairul mengatakan kenaikan harga BBM telah melemahkan daya beli masyarakat khususnya para buruh. Karenanya dia mendesak Pemerintah untuk menurunkan kembali harga BBM.

"Mahalnya biaya kesehatan, mahalnya biaya pendidikan serta naiknya harga-harga sembako adalah dampak naiknya harga BBM, sementara gaji para pekerja dan buruh tidak mengalami kenaikan. Karenanya Pemerintahan SBY-JK harus menurunkan kembali harga BBM," kata dia bersemangat.

Selain daya beli terhadap kebutuhan pokok sehari-hari berkurang, lanjut Chairul, para buruh juga tidak lagi mampu membiayai kesehatan mereka. Hal itu disebabkan karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat dan harga obat-obatan yang ikut membumbung tinggi menyusul naiknya BBM. Padahal untuk bertahan hidup sehat saja buruh semakin tidak mampu karena praktis tidak dapat menyediakan makanan yang bergizi.

Belum lagi biaya pendidikan, kata Chairul. Para buruh dan pekerja bisa dipastikan akan kesulitan membiayai pendidikan putra-putri mereka. Sejauh ini mereka sudah sering mengeluhkan mahalnya harga buku pelajaran dan keperluan sekolah lainnya. Biaya-biaya itu tentunya akan semakin tinggi pasca naiknya BBM.

" Untuk komponen transportasi buruh pun tak kalah kewalahannya, sementara gaji mereka tidak mengalami kenaikan. Hal ini tentu saja sangat memberatkan kehidupan para buruh," tandasnya. (nisa)

Untuk Apa Punya Minyak?

Kamis, 29 Mei 2008

Oleh: MT Zen

Harga minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia sejak awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk akalnya keadaan ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak lain adalah kutukan.

Dahulu, di zaman Orde Baru, saya masih ingat sekali bahwa setiap kali ada berita tentang turunnya harga minyak di pasaran dunia, Pemerintah Indonesia sudah berkeluh kesah. Pada waktu itu cadangan terbukti Indonesia tercatat 12 miliar barrel.

Kini, pada masa Reformasi ini, lebih khusus lagi selama kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, pemerintah juga berteriak, berkeluh kesah, dan panik apabila harga minyak meningkat di pasaran dunia.

Harga minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia sejak awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk akalnya keadaan ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak lain adalah kutukan.

Cadangan tak tersentuh

Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih mempunyai cadangan minyak sebesar 9 miliar barrel. Memang betul, jika dibandingkan dengan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah, 9 miliar barrel itu tidak ada artinya. Namun, jelas-jelas Indonesia masih punya minyak. Selain cadangan lama, cadangan blok Cepu belum juga dapat dimanfaatkan. Belum lagi cadangan minyak yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh.

Perlu diketahui bahwa pada pertengahan tahun 1970-an Indonesia memproduksi 1,5 juta barrel per hari. Yang sangat mencolok dalam industri minyak Indonesia adalah tidak ada kemajuan dalam pengembangan teknologi perminyakan Indonesia sama sekali.

Norwegia pada awal-awal tahun 1980-an mempunyai cadangan minyak yang hampir sama dengan Indonesia. Perbedaannya adalah mereka tidak punya sejarah pengembangan industri minyak seperti Indonesia yang sudah mengembangkan industri perminyakan sejak zaman Hindia Belanda, jadi jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Lagi pula semua ladang minyak Norwegia terdapat di lepas pantai di Laut Atlantik Utara. Lingkungannya sangat ganas; angin kencang, arus sangat deras, dan suhu sangat rendah; ombak selalu tinggi.

Teknologi lepas pantai, khusus mengenai perminyakan, mereka ambil alih dari Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 tahun. Sesudah 10 tahun tidak ada lagi ahli-ahli Amerika yang bekerja di Norwegia.

Saya berkesempatan bekerja di anjungan lepas pantai Norwegia dan mengunjungi semua anjungan lepas pantai Norwegia itu. Tak seorang ahli Amerika pun yang saya jumpai di sana sekalipun modalnya adalah modal Amerika, terkecuali satu; seorang Indonesia keturunan Tionghoa dari Semarang yang merupakan orang pertama yang menyambut saya begitu terjun dari helikopter dan berpegang pada jala pengaman di landasan. Dia berkata sambil tiarap berpegangan tali jala, ”Saya dari Semarang, Pak.” Dia seorang insinyur di Mobil yang sengaja diterbangkan dari kantor besarnya di daratan Amerika untuk menyambut saya di dek anjungan lepas pantai bernama Stadfyord A di Atlantik Utara.

Di sanalah, dan di anjungan- anjungan lain, saya diceritakan bahwa mereka tidak membutuhkan teknologi dari Amerika lagi. Mereka sudah dapat mandiri dan dalam beberapa hal sudah dapat mengembangkan teknologi baru, terutama dalam pemasangan pipa-pipa gas dan pipa-pipa minyak di dasar lautan. Teknologi kelautan dan teknologi bawah air mereka kuasai betul dan sejak dulu orang-orang Norwegia terkenal sebagai bangsa yang sangat ulet dan pemberani. Mereka keturunan orang Viking.

Ada satu hal yang sangat menarik. Menteri perminyakan Norwegia secara pribadi pernah mengatakan kepada saya bahwa Norwegia dengan menerapkan teknologi enhanced recovery dari Amerika berhasil memperbesar cadangan minyak Norwegia dengan tiga kali lipat tanpa menyentuh kawasan-kawasan baru. Ini sesuatu yang sangat menakjubkan.

Norwegia pernah menawarkan teknologi tersebut kepada Indonesia, tetapi mereka minta konsesi minyak tersendiri dengan persyaratan umum yang sama dengan perusahaan lain. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an. Namun, kita masih terlalu terlena dengan ”kemudahan-kemudahan” yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Pejabat Pertamina tidak mau mendengarkannya. Gro Halem Brundtland, mantan perdana menteri, menceritakan hal yang sama kepada saya.

Contoh lain, lihat Petronas. Lomba Formula 1 di Sirkuit Sepang disponsori oleh Petronas. Petronas itu belajar perminyakan dari Pertamina, tetapi kini jauh lebih kaya dibanding Pertamina. Gedung kembarnya menjulang di Kuala Lumpur. Ironisnya, banyak sekali pemuda/insinyur Indonesia yang bekerja di Petronas.

Kenapa banyak sekali warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan berprestasi di luar negeri, tetapi begitu masuk kembali ke sistem Indonesia tidak dapat berbuat banyak?

Jika kita boleh ”mengutip” Hamlet, dia bekata, ”There is something rotten, not in the Kingdom of Denmark, but here, in the Republic of Indonesia.”

Lengah-terlena

Salah satu kelemahan Indonesia dan kesalahan bangsa kita adalah mempunyai sifat complacency (perkataan ini tidak ada dalam Bahasa Indonesia, cari saja di kamus Indonesia mana pun), sikap semacam lengah-terlena, lupa meningkatkan terus kewaspadaan dan pencapaian sehingga mudah disusul dan dilampaui orang lain.

Lihat perbulutangkisan (contoh Taufik Hidayat). Lihat persepakbolaan Indonesia dan PSSI sekarang. Ketuanya saja meringkuk di bui tetap ngotot tak mau diganti sekalipun sudah ditegur oleh FIFA.

Apa artinya itu semua? Kita, orang Indonesia tidak lagi tahu etika, tidak lagi punya harga diri, dan tidak lagi tahu malu. Titik.

Ketidakmampuan Pertamina mengembangkan teknologi perminyakan merupakan salah satu contoh yang sangat baik tentang bagaimana salah urus suatu industri. Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna disedot perusahaan-perusahaan asing, sementara negara nyaris tak memperoleh apa pun. Dalam hal ini, Pertamina bukan satu-satunya. Perhatikan benar-benar semua perusahaan BUMN Indonesia yang lain. Komentar lain tidak ada.

*MT Zen Guru Besar Emeritus ITB
Sumber: Kompas

Pemburu Akhirat

Rabu, 28 Mei 2008


Oleh: Anis Matta
Penghujung malam. Sang khalifah, Ali Bin Abi Thalib, berdiri di tengah mihrabnya. Sendiri. Tangannya menengadah ke langit. Air matanya tumpah ruah. Lirih benar ketika do’anya memecah sunyi, “Tuhan, biarlah dunia ini hanya ada dalam genggaman tanganku. Jangan biarkan ia masuk ke dalam hatiku.”

la sadar ia berada di puncak. Tapi juga di ujung waktunya. la hanya ingin menutup kitab kehidupannya dengan kebaikannya. la tidak ingin tergelincir di ujung jalan. Tapi godaan kekuasaan memang terlalu dahsyat untuk diremehkan.

Melawan dalam sunyi itu susah. Terlalu susah. Membangun dalam hening itu berat. Terlalu berat. Tapi meremehkan kekuasaan yang ada dalam genggaman tanganmu, meninggalkannya dengan sadar dan enteng, mungkin jauh lebih susah. Jauh lebih berat. Inilah syahwatnya syahwat. Inilah kunci dunia yang memberimu segalanya: kebesaran, kemegahan, kemudahan, popularitas, uang, seks. Semuanya. Itulah yang kamu bangun dari perlawanan berdarah-darah. Kerja panjang dalam hening dan sepi.

Sekarang, ketika kamu sudah merebutnya, setelah semuanya ada dalam genggamanmu, kamu harus melepasnya, dengan sadar dan enteng, sambil tersenyum. Inilah sisi ketiga dari kepahlawanan seseorang yang diceritakan kekuasaan: kezuhudan. Kamu tidak melawan musuh disini. Kamu tidak bekerja keras disini. Kamu bahkan tidak berpikir disini. Kamu hanya melawan dirimu sendiri. Memikirkan nasibmu sendiri. Memilah keinginanmu sendiri: Apa yang kau cari sebenarnya? Inikah?

Kamu harus berhati-hati dengan penglihatanmu sendiri! Kamu mungkin salah lihat. Kamu mungkin tertipu. Kamu sedang berada di puncak. Tapi kamu juga sedang melangkah pada jengkal terakhir dari waktumu. Apa yang kamu lihat di sini bukanlah apa yang kamu cari. Ini hanya fatamorgana. Kamu harus melampauinya. Tujuanmu yang sebenarnya masih ada di ujung sana, di balik fatamorgana ini: akhirat.

Hanya ketika seorang pahlawan menetapkan misi hidupnya sebagai pemburu akhirat, ia akan sanggup melampaui dunia: meremehkan kekuasaannya, meninggalkannya dengan sadar dan enteng. Itu sebabnya mereka tidak menikmatinya. Kekuasaan berubah jadi beban yang menyesakkan dada. Bukan kehormatan yang membuatnya bangga.

“Aku ingin melepas jabatan ini. Aku sudah bosan dengan rakyatku. Mungkin juga mereka sudah bosan denganku,” kata Umar bin Khattab suatu saat di tengah masa khilafahnya.

Hanya ketika kamu menganggap kekuasaan sebagai beban kamu akan mencari celah untuk melepaskannya.

Hanya ketika beban pertanggungjawaban menyiksa batinmu, merebut privasimu, membuatmu takut setiap saat, kamu tidak akan pernah bisa menikmati kekuasaan. Kamu pasti lebih suka meninggalkannya. Hanya ketika itu kamu jadi pahlawan.

2 TAHUN Semburan Lapindo!

Semburan lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tepat dua tahun pada 29 Mei 2008. Hingga hari Selasa (27/5), semburan lumpur sudah menggenangi 14 desa di tiga kecamatan. Proses pembayaran ganti rugi terhadap lebih dari 12.000 keluarga korban lumpur oleh Lapindo Brantas Inc dinilai tidak berjalan lancar. Begitu juga relokasi infrastruktur yang hancur, seperti jalan tol, jalan raya, dan rel kereta. sumber: Kompas.

Mencari Wajah Baru PKS

Selasa, 27 Mei 2008

Penulis: Muhammad Qodari

Tidak banyak partai baru yang bisa bertahan dalam era politik "tarung bebas" sekarang ini. Di antara partai politik baru yang mampu bertahan itu, yang paling menarik adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

PKS merupakan partai menarik karena banyak alasan. Pertama, ia besar karena bertumpu pada kemampuan berorganisasi, bukan pada karisma seorang tokoh tertentu. Kedua, ia didominasi anak-anak muda yang rata-rata berpendidikan tinggi dan bersemangat tinggi.

Ketiga, ia berasal dari sebuah gerakan sosial yang kental dengan nuansa agama sehingga disebut juga sebagai "gerakan dakwah". Keempat, ia (sempat) mewarnai politik Indonesia dengan "politik program" -program bersih dan peduli-, sesuatu yang terasa menyegarkan di tengah politik Indonesia yang didominasi jargon, bahkan tipu muslihat kepada rakyat.

Masa hidup PKS juga menarik untuk dicermati. Masa hidup itu mungkin bisa dibagi ke dalam empat periode besar. Meminjam periode hidup manusia, mungkin kita sebut periodisasi tersebut sebagai periode kandungan, periode balita, periode remaja, dan periode dewasa muda. Periode kandungan adalah masa-masa ketika PKS belum menjadi partai politik dan masih berbentuk gerakan sosial keagamaan yang disebut Tarbiyah atau Usrah sebagaimana disinggung di atas.

Pada periode itu, banyak kader utama PKS yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Mereka belajar keterampilan di kampus sambil belajar agama di bawah bimbingan para murabbi atau mentor yang membimbing mereka bukan hanya dalam soal kuliah, namun juga karir dan masa depan.

Kader-kader muda itu umumnya gelisah dengan nasib bangsa dan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, namun terbelakang. Mereka mencita-citakan masyarakat Indonesia yang maju dalam sains, ekonomi, dan teknologi, namun tetap religius dalam hidup keseharian.

Gerakan reformasi 1998 membuka peluang bagi kader-kader dakwah itu dari peran-peran yang bersifat sosial keagamaan menjadi gerakan politik. Dimulai dengan kelahiran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang tiba-tiba jadi organisasi mahasiswa paling solid dan terorganisasi sampai deklarasi Partai Keadilan (PK) yang berpartisipasi dalam Pemilu 1999.

Inilah fase balita dalam hidup PKS. Sesuai dengan namanya, sebagai balita, PK belum bisa bicara banyak dalam perolehan hasil pemilu. Pada 1999 itu, PK hanya mendapatkan 1,4 persen suara nasional.

Meskipun berstatus "partai balita" (partai di bawah lima tahun), PK berhasil menggebrak dan mewarnai "kanvas besar" politik Indonesia. Pada periode 1999-2004, dengan segelintir anggota DPR dan DPRD yang dimilikinya, PK banyak tampil di publik dengan cara dan tata laku politik yang dianggap kontras -setidaknya berbeda dalam arti positif- dengan politisi atau partai politik lain yang lebih dulu dikenal masyarakat Indonesia.

Aneka tata laku yang berbeda itu mulai demonstrasi partai yang tertib dan rapi, sikap antikorupsi, sampai aneka program pro-publik seperti bakti sosial bidang pendidikan, kesehatan, maupun bencana alam.

Dengan "diferensiasi politik" yang demikian, pada Pemilu 2004, PK yang harus berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan limpahan suara yang sangat signifikan. Suara PKS melonjak dari 1,4 persen menjadi 7,3 persen. Kenaikan suara itu mengakibatkan jumlah anggota DPR/DPRD asal PKS juga melonjak drastis.

Raihan suara yang signifikan di berbagai daerah juga meningkatkan peran politik PKS sehubungan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung, baik dalam kapasitas sebagai kendaraan politik maupun mesin politik calon kepala daerah. Inilah saatnya sang partai balita menjadi partai remaja.

Dalam kamus psikologi perkembangan, masa remaja juga dikenal sebagai masa pancaroba -masa transisi- dari anak-anak ke dewasa. Pada masa itu, remaja mengalami banyak perubahan dan tantangan, baik biologis maupun psikologis.

Kondisi pancaroba itu juga terjadi pada PKS sebagai partai remaja. Kader-kader PKS yang duduk di pemerintahan -baik eksekutif maupun legislatif- adalah orang-orang baru yang sebelumnya tidak atau belum pernah berkarir di pemerintahan. Sampai tataran tertentu, mereka masih "gagap" berpolitik, terutama berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik lain yang sudah lebih mapan.

Contoh-contoh kegagapan politik itu, antara lain, tampak pada kegagalan Fraksi PKS DKI Jakarta menjadikan kadernya sebagai ketua DPRD DKI Jakarta, padahal kursi PKS paling banyak di ibu kota provinsi. Begitu pula gonjang-ganjing politik yang dialami Nurmahmudi Ismail di Kota Depok. Di satu sisi benar bahwa gonjang-ganjing tersebut merupakan kelanjutan dari sengketa pada masa pilkada. Di sisi lain, hal itu juga menunjukkan kekurangterampilan Nurmahmudi sebagai representasi dari PKS untuk membangun konsensus politik dengan kekuatan politik lain. Padahal, dalam posisi sebagai kepala daerah, Nurmahmudi memiliki kapasitas dan sumber daya untuk membangun konsensus tersebut.

Namun, contoh kegagapan yang paling serius kiranya terletak pada berkembangnya pencitraan kekinian PKS sebagai partai yang eksklusif, hanya untuk, bahkan mengusung agenda agama tertentu. Bahkan, dalam pilkada di DKI Jakarta, dikembangkan isu PKS sebagai kelompok Taliban ala Indonesia. Di satu sisi, citra semacam itu mungkin merupakan produk manuver politik dari lawan-lawan politik. Namun, di sisi lain pencitraan tersebut mungkin berasal dari tingkah laku, sikap politik, dan atribut-atribut yang dipakai PKS dan kader-kadernya.

Citra atau atribusi negatif, apalagi "Talibanisme", sangat tidak menguntungkan PKS, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, PKS akan kesulitan menambah suara, apalagi untuk menjadi partai terbesar di Indonesia, karena pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan multikultural. Dalam jangka panjang, citra semacam itu bisa menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial serta politik antara PKS dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain.

Karena itu, menjadi menarik bagi kita mengamati kegiatan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS yang diselenggarakan di Bali pada 1-3 Februari 2008. Lebih menarik lagi bila kita melihat logo mukernas berupa lambang padi dan bulan sabit emas khas PKS diapit Candi Bentar. Diberitakan, peserta mukernas menggunakan "udeng" atau ikat kepala khas Bali, sementara mukernas itu akan dibantu pengamanan adat Bali. Timbul kesan kuat bahwa dengan pemilihan Bali sebagai tempat mukernas berikut semua atribut yang disebut tadi, PKS ingin membangun citra baru sebagai partai yang akomodatif, toleran, dan bersahabat dengan kelompok agama dan budaya mana pun di Indonesia, khususnya Bali yang didominasi masyarakat beragama Hindu.

Semoga kesan yang dibangun PKS dengan mukernas di Bali itu mencerminkan kesadaran politik yang jenuin di kalangan pengurus dan kader.

Pemilu 2009 Tanpa Stiker & Arak-arakan

PK-Sejahtera Online: Hajatan lima tahunan bangsa Indonesia tidak akan seramai tahun 2004. Berdasarkan UU Pemilu yang belum lama disahkan itu melarang adanya alat peraga kampanye parpol berupa tempelan seperti stiker dan pamflet. Alat peraga yang diperbolehkan untuk kampanya yang berlangsung pada 18 Juli 2008 – 1 April 2009 hanya berupa spanduk, baliho, bendera dan umbul-umbul.

”Hal ini mengingat adanya kesepakatan untuk menciptakan suasana Pemilu 2009 agar berjalan tertib, lancar, damai serta tidak menimbulkan kekotoran,” papar Anggota KPU I Gede Putu Artha, Selasa(27/5).

Informasi tersebut dikatakan Putu pada acara sosialisasi UU Pemiu kepada fungsionaris PKS di Kantor DPP PKS Jl Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F Jakarta.

Selain soal alat peraga, Putu juga menginformasikan pemutakhiran data, verifikasi parpol, tahapan pemilu, serta penghitungan perolehan suara. Menurutnya, KPU sudah mempelajari sengketa yang terjadi saat pilkada. Salah satunya adalah soal Daftar Pemilh Tetap (DPT).

Menurutnya, DPT pada pemilu 2009 boleh dimiliki oleh pengurus parpol, tidak seperti yang terjadi pada pilkada lalu. Namun demikian, lanjut Putu, daftar tersebut hanya boleh dimiliki oleh pengurus partai di tingkat Kabupaten/ Kota.

Untuk menghindari data yang tidak valid, seperti anggota TNI/ POLRI, orang yang sudah meninggal serta yang tidak berhak memilih namun masih ada dalam DPT, mantan anggota KPUD Bali itu menyarankan agar partai beserta masyarakat mendata dan melaporkannya ke BPS.

”Laporkan ke BPS, minta tanda terima dan laporkan ke Kecamatan atau Kelurahan,” sarannya.

Sementara itu, menyinggung soal verifikasi peserta pemilu 2009, I gede Putu Artha memastikan PKS lolos dan berhak menjadi peserta pemilu 2009.

”Berdasarkan Undang Undang, PKS memang partai yang sudah pasti ikut Pemilu tanpa proses verifikasi,” katanya.


Persiapan NONBAR EURO 2008

Senin, 26 Mei 2008

Tuan rumah Swiss akan membuka perhelatan Euro 2008 dengan menghadapi Republik Ceska dalam pertandingan Grup A di Basel pada 7 Juni 2008. Sementara juara bertahan Yunani mengawali usaha mempertahankan gelar dengan bertemu Swedia di Salzburg pada 10 Juni.

Bagaimana akhir perhelatan akbar EURO 2008 yang akan berlangsung 7-29 Juni nanti? Segera hubungi DPRa PKS setempat untuk menggelar NONBAR EURO 2008 di kampung Anda.

Hotline:
DPRa SRIMARTANI : Rusdi 0274-6888562
DPRa SRIMULYO : Andi 0274-7179934
DPRa SITIMULYO : Didi 0274-7855313

Jadwal pertandingan Euro 2008 dapat dilihat dengan mengklik JADWAL SIARAN TV EURO 2008.

Semiloka Kewanitaan Srimulyo

Minggu, 25 Mei 2008

Guna mewujudkan keluarga PKS Bahagia, maka Forum Ukhuwah Akhwat DPRa Srimulyo mengadakan Semiloka 'Kesehatan Reproduksi & Psikologi Pasca Melahirkan'.


Mengambil tempat di rumah Bapak Harjono Kabregan, acara yang berlangsung hari Ahad [25/5] jam 09.00 - 12.00 berjalan dengan baik. Peserta yang berjumlah 40-an akhwat dan ummahat dari semua DPRa menyimak dengan serius penuturan nara sumber.

Pada sesi pertama, Ibu Dwi Astuti menguraikan aspek kesehatan reproduksi. Sedangakan dalam sesi kedua, Ibu Ida Nurlaela menjelaskan aspek psikologi pasca melahirkan.

Diharapkan acara ini menambah bekal bagi ibu-ibu dan calon ibu dalam menyiapkan keluarga yang bahagia sejahtera.

Futsal Piala Hidayat Nur Wahid

Ada yang berbeda dari penampilan Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid yang ditemui hari Sabtu pagi. Hidayat tampil sporty karena akan membuka turnamen Futsal memperebutkan piala bergilir Ketua MPR di Pro Arena Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Kejuaraan Futsal Hidayat Nurwahid Cup yang diikuti oleh puluhan klub futsal ini juga diselenggarakan di 8 (delapan) kota besar. Selain bertujuan menggalang solidaritas, kejuaraan ini juga ditujukan untuk mencari bibit baru pemain futsal nasional.

Setelah membuka kejuaraan, Ketua MPR yang beru saja menikah ini juga turut berpartisipasi untuk bertanding melawan tim futsal wartawan. Meski timnya kalah, namun Hidayat Nurwahid berhasil menyumbangkan sebuah gol.

Nonbar DPRa Srimartani

Sabtu, 24 Mei 2008

Bertempat di dusun Wanujoyo Lor, Srimartani kecamatan Piyungan, Rabu (21/5)malam berlansung kegiatan Nonton Bareng layar lebar Final Liga Champions.

Acara Nonbar terlaksana atas kerja bareng pemuda dusun Wanujoyo Lor dengan DPRa PKS Srimartani.

Antusias warga dusun Wanujoyo Lor berimbas dengan permintaan mereka untuk menyelenggarakan kegiatan serupa pada even Piala Eropa yang tinggal menghitung hari.

Kegiatan nonbar sendiri sudah beberapa kali dilakukan oleh DPRa PKS Srimartani di berbagai dusun. Dan Nonbar semalam merupakan kegiatan perdana PKS di dusun Wanujoyo Lor. Dengan kegiatan seperti itu diharapkan mampu memperluas jangkauan PKS ke dusun-dusun yang selama ini belum tersentuh oleh PKS.

Sema'an & Syukuran Milad PKS DPD Bantul

Rabu, 21 Mei 2008

DPD PKS Bantul mengadakan puncak acara Milad PKS ke-10 dengan menggelar acara Sema'an Al-Qur'an dan Tasyakuran di Pendopo Parasamya Kabupaten Bantul.

Kegiatan fullday ini dimulai dari Selasa (20/5) pagi dengan menggelar Semaa'an Al-Qur'an yang diikuti oleh kader akhwat dan simpatisan ibu-ibu. Sedang malam harinya diadakan Tabligh Akbar yang diisi oleh Almukarom K.H. Cholid Mahmud.

Pada acara Tabligh Akbar juga sekaligus pengumuman dan penyerahan hadiah kepada pemenang berbagai lomba yang diadakan DPD PKS Bantul dalam rangka milad PKS ke-10.

Sebelumnya, berbagai lomba telah digelar diantaranya: Bulutangkis Cup, Muslimah Smart, Tahfidz 7 juz, Ta'mir Masjid Teladan, pemilihan DPRa Terbaik.

Terpilih sebagai DPRa Terbaik adalah DPRa Banguntapan.

Pos WK Lomba Kartinian

Selasa, 20 Mei 2008

Bertempat di Balai Desa Srimulyo Kecataman Piyungan, hari Ahad [27/4] digelar acara Lomba & Demo Masak.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Kewanitaan DPC PKS Piyungan kali ini dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Sebelum acara lomba masak, peserta disuguhkan demo masak 'Ketela Nuget' yang diperagakan oleh Chef Tabrani.
Setelah puas mendapat 'jurus baru' memasak dari Chef Tabrani, tibalah giliran para peserta menjajal keahlian mereka membuat masakan 'Segitiga Singkong'.

'Perang' segitiga singkong diikuti oleh 13 kelompok remaja putri dan ibu-ibu.
1. Pos WK dusun Kemloko
2. Ibu-ibu perumahan Wanujoyo
3. PKK Ngemplak A
4. PKK Ngemplak B
5. Remaja Putri Payak
6. Ibu-ibu Banyakan 1
7. Ibu-ibu Banyakan 2
8. Kelompok Ibu Kaligatuk
9. Kelompok Ibu Cikal
10. Kelompok Ibu Klenggotan A
11. Kelompok Ibu Klenggotan B
12. Kelompok Ibu Ngijo A
13. Kelompok Ibu Ngijo B

Setelah menghabiskan semua jurus masak yang dimiliki, akhirnya keluar sebagai sang jawara lomba kali ini adalah:

Juara 1 : Remaja Putri Payak
Juara 2 : Ibu-ibu Perum Wanujoyo
Juara 3 : Pos WK Kemloko

Sukses selalu buat kiprah Kewanitaan DPC PKS Piyungan.

Merenda Jejak ke Surga

Kamis, 15 Mei 2008

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60)

Kemenangan merupakan anugerah Allah swt. yang sangat berharga. Ia juga menjadi harapan orang yang sedang berjuang. Bagi mereka yang berada di medan juang kemenangan amat dinanti-nanti segera tiba. Mereka ingin kemenangan itu jadi dekat. Akan tetapi perlu diketahui bahwa kemenangan tidak akan datang secara ujug-ujug. Melainkan ada beberapa persoalan yang patut untuk dilakukan agar bisa menghadirkannya.

Kemenangan bagian dari ketentuan Allah swt. atas urusan hamba-Nya (Qudratullah). Dia yang Maha Tahu akan nasib yang dialami ciptaan-Nya. Dia pula yang berhak untuk memberikan kemenangan ataupun menundanya. Kemenangan dari Allah swt. pasti datangnya baik di dunia ataupun akhirat. Sehingga tidak ada kamus kekalahan di hati para pejuang.

Namun kemenangan itu datang dengan jalan-jalan yang akan memuluskan kehadirannya. Melalui upaya maksimalitas manusia (ikhtiyar basyariyah). Adapun mereka yang telah melakukan upaya yang maksimal untuk mencapai prasyarat kemenangan, maka kemenangan menjadi haknya. Oleh karena itu ikhtiyar basyariyah juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh mereka yang menunggu-nunggu kemenangan. Ikhtiyar basyariyah yang optimallah yang perlu dibangun dalam perjuangan ini agar kememangan itu menjadi hak yang mutlak.

Bila para dai yang sedang berada di barisan terdepan dalam medan perjuangan ini memahami akan hakikat kemenangan dari dua hal di atas, maka sikap utama dari diri mereka tidak lain adalah sikap siap untuk digerakkan dalam menunaikan sebuah operasionalisasi dakwah ini (isti’dad lil amal). Adapun upaya yang mesti dilakukannya sebagai berikut:

1. Kesanggupan untuk dimobilisasi (Al Qudrah li tanfidz)

Kesanggupan dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai keadaan merupakan watak para pahlawan Islam dalam memenangkan dakwah di medan peperangan. Sikap ini secara umum memang perilaku prajurit sejati. Kesanggupan diri membuat mereka berani maju menghadapi tugas dan amanah dakwah sekalipun berat rasanya. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali kemenangan yang hakiki. Hidup mulia atau mati syahid.

Bagi seorang prajurit yang siap, memikul tugas dan tanggung jawab adalah kemuliaan. Sehingga mereka akan mengerahkan segenap kemampuan untuk tetap berada di garis tugasnya. Berbalik ke belakang sama artinya dengan mewariskan keburukan dan kekalahan. Karena itu mereka berupaya untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Semangat Abdullah bin Rawahah RA. yang berapi-api di Perang Muktah memacu keberanian para sahabat sehingga mampu mengobarkan kepahlawanan mereka. Membuat jiwa para sahabat lebih mencintai harumnya syurga dari pada pulang kembali ke Madinah. Padahal mereka harus menghadapi musuh dengan jumlah dan kekuatan yang besar. Kecintaan pada hari akhirat menjadi landasan sikap mereka menyongsong tugas mulia. Dan modal itulah kaum muslimin memenangkan pertarungan dan mewariskan perilaku keimanan yang sebenar-benarnya kepada generasi berikutnya.

Hari yang kita lalui saat ini tampak sangat jelas. Karena jelasnya tugas dan amanah yang mesti kita tunaikan. Bila kita runut tugas itu satu persatu maka akan kita dapati begitu banyak tugas yang menanti kita. Tugas itu sedang antri untuk diselesaikan. Masalahnya adalah siapakah gerangan yang akan menunaikannya. Apalagi jika ditinjau dari waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya, maka ia memerlukan kader dakwah yang amat banyak.

Dalam situasi dan kondisi yang pelik dimana tugas dan waktu saling berlomba. Maka perilaku dai sejati untuk selalu siap dimobilisasi harus dikedepankan dari pada sikap gamang untuk menunaikannya. Karena kegamangan dalam melaksanakan tugas sering menghambat kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Sikap gamang bagi kader dakwah merupakan batu sandungan yang harus segera disingkirkan. Dan yang perlu dihidupkan adalah sikap untuk selalu sanggup dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai situasi. Selanjutnya menempati pos-pos yang lowong dengan sabar dan disiplin.

Pada jihad siyasi banyak pos-pos dakwah yang perlu diisi dengan segera. Karena waktu dan tugas yang perlu diselesaikan saling mendahului. Kader dakwah mesti tanggap dengan kemampuannya dan pos yang ada. Sehingga bisa segera mengistijabahi tugas-tugas mulia tersebut.

2. Bersabar berada di pos-pos dakwah (As Shabru fi ‘aba’i ad da’wah)

Berada pada pos dakwah terkadang banyak kendala dan cobaan. Baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan. Ini memang ujian dakwah yang diberikan Allah swt. pada kita untuk menilai sejauh mana tingkat kesabaran dan kesetiaan prajurit sejati pada tugasnya. Serta keberhasilannya dalam menjalankan amanah yang diberikan padanya.

Adakalanya berada pada pos-pos tugas membosankan bahkan menegangkan karena beban yang berat. Namun adakalanya juga menyenangkan karena fasilitas dan pendapatan yang menggiurkan. Tidak jarang kita jumpai orang yang minta dipindahkan ke pos lain karena tidak suka pada tugas yang harus dikerjakan sehari-hari. Ada pula yang minta terus berada pada posnya karena penghasilan dan fasilitas yang ia dapatkan. Akhirnya tugas itu dinilai dari kesenangan material.

Kaum muslimin pernah mengalami pelajaran pahit di medan Uhud. Ini mesti menjadi catatan mahal umat Islam. Tatkala pos-pos tugas itu dinilai dengan pandangan kesenangan material maka berakibat fatal bagi mereka. Sebab pos-pos yang harusnya dijaga dengan sabar dan disiplin, akhirnya ditinggalkan begitu saja. Kekosongan pos tugas itu menjadi peluang musuh untuk mengkocar-kacir barisan kaum muslimin hingga porak poranda. Dan kerugianlah yang diperolehnya.

Padahal Rasululah saw. mengingatkan mereka dengan komandonya: “Berjagalah di pos kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu.” (HR. Bukhari)

Kasus Uhud menjadi ibroh (pelajaran) berharga bagi orang-orang beriman. Cukup sekali saja hal itu terjadi. Tidak boleh terulang lagi apalagi sampai berulang-ulang. Oleh karena itu bekal kesabaran dan keteguhan hati perlu terus dipasok jangan sampai berkurang sedikitpun. Panglima Saad bin Abi Waqqas r.a. menyerukan pasukan yang akan menghadapi tentara Persia dengan instruksinya: “Tempati pos kalian dan bersabarlah, karena kesabaran menjadi jalan kemenangan.”

Bagi kader dakwah ketika sudah menempati pos tugasnya, ia akan menjaganya dengan baik. Ia tidak akan tergiur sekejappun untuk meninggalkannya. Ia juga tidak tergoda oleh kesenangan material yang mengganggunya. Namun ia akan terus berada pada posnya dengan penuh kesabaran. Sebagaimana Sang Junjungan telah mengingatkan bahwa, “Prajurit yang baik adalah bila ditugaskan di bagian belakang, maka ia ada di tempatnya. Bila ia ditugaskan di barisan terdepan, maka ia pun ada di tempatnya.” (HR. An-Nasai).

3. Siap siaga menyongsong tugas (Al Istijabah lil amal)

Bila peluit sang komandan telah dibunyikan, berarti tugas-tugas harus segera diselesaikan. Kesiagaan menyongsong tugas menjadi indikasinya. Dari sana kadang menang dan kalah dapat diperkirakan. Mereka yang siap siaga artinya mereka siap menghadapi situasi apapun. Akan tetapi mereka yang lengah berarti mereka akan menjerumuskan dirinya pada jurang kebinasaan.

Kesiagaan kader dakwah indikasi kesiapannya untuk bertarung. Tentunya, siap di segala sektor. Kesiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan nafsiyah. Dengan kesiapan yang demikian, maka dapat dipetakan kekuatan diri dan musuhnya. Dan seberapa besar kendala yang peluang kemenangan yang akan didapatinya.

Manakala kesiapan itu sudah begitu gamblang di hati kaum muslimin dan kader dakwah secara khusus, maka Allah swt. yang akan memback-upnya. Yang Maha Kuat dan Perkasalah yang akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki kader dakwah apabila sudah digerakkan sejak awal.

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 17)

Yang menjadi persoalannya adalah apakah kader dakwah saat ini seluruhnya sudah siap siaga menyongsong tugas atau masih asyik termangu dengan kebingungannya. Semuanya kembali pada diri masing-masing. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bila kader dakwah belum siap siaga menyongsong tugas jangan berharap hari esok lebih baik dari kemarin.

Generasi Qur’ani masa lalu menjadi umat terbaik bukan terletak pada keberadaan Rasul bersama mereka. Melainkan sikap mereka terhadap Qur’an dan sikap mereka secara keseluruhan yang siap siaga menerima tugas dan perintah. Bila saat itu disodorkan amanah tugas, maka saat itu pula mereka kerjakan tanpa reserve. Nah, kalau begitu sikap mereka itulah yang perlu kita ulang pada diri kita saat ini. Karena tugas dan instruksi komandan untuk jihad siyasi saat ini begitu sangat jelas.

4. Pantang Mundur (Adamul dubur)

Bila pertarungan sudah di hadapan, hanya satu sikap saja yang dilakukan, yaitu maju ke depan. Tidak boleh ada kata mundur atau balik ke belakang. Karena mundur artinya kekalahan. Dan kekalahan adalah kehinaan bagi kader dakwah di dunia dan akhirat. Allah swt. sudah menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal: 15 -16)

Bagi kader dakwah tugas mulia menjadi jalan mulus untuk masa depan. Ia tidak akan pernah berpikir balik ke belakang. Ia akan maju terus menyongsong masa depan. Begitulah kemenangan kaum muslimin di berbagai tempat, termasuk di Eropa. Panglima Thariq bin Ziyad menyampaikan pidatonya di hadapan para prajurit, “Wahai kaum muslimin di belakangmu lautan lepas, tidak ada lagi perahu yang akan membawa kalian ke negeri kampung halaman. Dan di depanmu musuh menghadang. Tidak ada pilihan lain untuk kemenangan kecuali maju ke hadapan songsong musuh dengan hati lapang. Sambut tugas dengan ringan.”

Menghadapi kenyataan ini, keberanianlah yang perlu kita perbesar. Berani karena benar dan berani karena membawa misi kesucian. Kader dakwah pemberani dalam melaksanakan tugas dapat menjadi pintu kegemilangan. Khususnya kegemilangan dakwah di negeri dambaan ini.

5. Tidak bermaksiat (Adamul Ma’shiyah)

Kemenangan dan kekalahan yang dialami kaum muslimin sangat dipengaruhi oleh perbuatan para prajuritnya. Kemaksiatankah atau ketaatan. Kemaksiatan dapat menjadi penyebab kekalahan dan ketaatan dapat membawa kemenangan.

Para pemimpin Islam selalu mewasiatkan untuk mewaspadai perilaku kemaksiatan kadernya. Karena kemaksiatan yang dilakukan satu orang dapat berakibat buruk bagi yang lainnya. Kemaksiatan yang dilakukan seorang kader dakwah harus lebih ditakuti daripada besarnya jumlah dan kekuatan musuh. Sebab maksiatan membuat Allah swt. menjauhi mereka. Dan tidak akan memberikan bala bantuan-Nya.

Catatan hitam dari kasus Uhud pun terjadi lantaran kemaksiatan sebagian prajurit muslim. Mereka tidak mematuhi perintah Rasulullah saw. karena tergiur dengan rampasan perang yang berserakan di depan mereka. Lalu mereka meninggalkan bukit Uhud dan mengumpulkan ghanimah tersebut. Akhirnya pos yang kosong itu segera diambil alih musuh sebagaimana yang diingatkan Allah swt.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Iman: 152)

Cukuplah Uhud menjadi pelajaran besar bagi kita. Satu hal yang perlu dicamkan. Jangan pernah bermaksiat sedikitpun ketika pertarungan telah di hadapan. Kemaksiatan lobang jurang kebinasaan dan kehinaan dunia dan akhirat.

Manakala anashir-anashir kemenangan tersebut dapat terealisir di jiwa para kader dakwah, maka pertolongan dan bala bantuan yang dijanjikan Allah swt. akan tampak nyata di depan mata. Kemenangan tersebut menjadi hak bagi para pejuang (nashrullah wal futuhat). Sebagaimana kemenangan dan penaklukan Kota Mekkah, banyak musuh-musuh dakwah yang tunduk terhina di hari itu dan segera menjadi pengikut Nabi saw. dan kemuliaan orang beriman sebagai pakaian para pejuang yang dahulu telah memberikan investasinya pada dakwah ini. Dan kita telah memahaminya bahwa hal itu melalui proses yang panjang dan rumit. Wallahu ‘alam bishshawab.

Sumber: Dakwatuna.com
 
© Copyright PKS PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS PIYUNGAN