NEWS UPDATE :

KABAR DUNIA ISLAM

Get the Flash Player to see this player.

Inspirasi

Renungan

Berkedok Pasar Murah, Yayasan Terang Bangsa Gencarkan Kristenisasi di Kulonprogo

Rabu, 30 Juli 2014


Meski bulan Ramadhan adalah bulan kemeriahan umat Islam, hal itu tak mengurungkan niat misionaris salibis menawarkan akidahnya kepada umat Islam. Terutama pada warga yang miskin dan awam terhadap agamanya. Baru baru ini sebuah acara yang berbau pendangkalan akidah berlangsung di Kecamatan Samigalung, Kulon Progo, Yogyakarta.

Acara misionaris itu dikemas dengan kedok “Pasar Murah Yayasan Terang Bangsa Semarang”. Dilaksanakan di balai Desa Kebonharjo Samigaluh Kulon Progo Yogyakarta. Sabtu, 26 Juli 2014 dimulai jam 13.00 hingga jam 17.00 Wib. Dengan mengambil tema “Menyambut Hari Kemenangan Semua Orang Berharga di Mata-Nya.”

Sambil menyanyikan lagu lagu gereja yang sudah diubah sedemikian rupa, masyarakat muslim di sekitar Kecamatan Kebonharjo di buat bergembira. Terlihat masyarakat menikmati acara gratis tersebut.

Salah satu mobil yang digunakan dalam acara tersebut bertuliskan pesan khas berbunyi, “Menabur berbuah menuai.”

Saat ditelusuri profil Yayasan Terang Bangsa melalui websitenya, nuansa misionaris jelas terlihat dalam kalimat: “Pouring out the love of Christ to the city and surroundings, leading and mobilizing people to the Kingdom of God”.

Beberapa tahun yang lalu, mereka juga telah mengangkut warga desa ke gereja Terang Bangsa di Semarang. Berbagai ragam kegiatan dilaksanakan Sabtu siang 26 Juli 2014, dari pasar murah pantas pakai, sembako, potong rambut dan lain lain. Bahkan ada pembagian makan untuk berbuka.

Menurut kontributor Kiblat.net, sehari sebelum pelaksanaan, beberapa aktivis sempat mendatangi sebuah TPA di masjid setempat yang sedang berlangsung kegiatan belajar Al Qur’an. Tanpa segan segan dan permisi mereka langsung nimbrung dan mengajak berdo’a dengan cara mereka. Sehingga membuat pengasuh TPA tersebut terhenyak.

“Dengan berbagai polesan dari kupon yang di edarkan ke masyarakat sekitar 1000 lembar dan kemasan acara, mereka berusaha masuk ke daerah miskin dan pelosok. Tentu, acara ini luput dari perhatian aktivis Islam,” ujar kontributor Kiblat.net di Yogyakarta, Edy Hudzaifah.

Edi menuturkan, Kabupaten Kulon progo patut mendapatkan perhatian dari berbagai elemen umat Islam di sekitar Yogyakarta mengingat daerah ini cukup banyak pegunungan dan jauh dari denyut dakwah perkotaan. Semoga kejadian ini menjadikan momen untuk berdakwah di daerah tersebut.

“Pihak perangkat desa seharusnya bertindak lebih tegas kepada oknum oknum misionaris yang dengan acara tersebut bisa membahayakan akidah umat,” tambahnya.

*sumber: http://www.kiblat.net/2014/07/27/berkedok-pasar-murah-yayasan-terang-bangsa-gencarkan-kristenisasi-di-kulon-progo/


Puasa 6 Hari Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?


Oleh Ahmad Zarkasih, Lc
(Rumah Fiqih)

Orang muslim Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan puasa sunnah 6 hari syawal setelah berlebaran. Sudah bukan menjadi sesuatu yang asing di telinga para muslim Indonesia tentang sunnahnya puasa 6 hari syawal.

Tapi, kalau nanti ada yang mengatakan bahwa puasa 6 hari syawal itu bukanlah sebuah kesunahan, dan malah hukumnya itu makruh, tidak perlu kaget dan tidak usah marah. Pendapat seperti itu bukan sesuatu yang baru, bukan juga pendapat yang baru lahir kemarin sore. Justru pendapat tersebut sudah ada sejak 13 abad tahun lalu.

Ya! Pendapat yang mengatakan bahwa puasa 6 hari syawal itu adalah sebuah ke-makruh-an adalah pendapat yang dipegang oleh madzhab Imam Malik di madinah. Yang jelas memang berbed dengan pendapat jumhur (al-Hanafiyah, al-Syafiiyah dan al-Hanabila) yang memang berpendapat bahwa puasa 6 hari syawal itu puasa sunnah.

Puasa Syawal Sunnah

Jumhur ulama, selain madzhab al-Malikiyah, menyandarkan pendapat mereka bahwa puasa 6 hari syawal itu dengan hadits yang diriwayatka oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya dari sahabat Abu Ayyub al-Anshariy, Nabi saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh” (HR Muslim, Kitab al-Shiyam, Bab Kesunahan puasa 6 hari syawal)

Dalam hadits sahabat Abu Ayyub al-Anshariy ini ada pahala yang dijanjikan oleh Allah swt kepada muslim tapi tanpa ada ancaman untuk mereka yang tidak mengerjakan. Artinya ini adalah anjuran, yang berarti sebuah kesunnahan. Dan bukan sebuah kewajiban karena tidak ada ancaman dalam meninggalkannya.

Puasa Syawal Makruh

Madzhab Imam Malik di Madinah bukan tidak tahu adanya hadits Abu Ayyub al-Anshariy ini, justru sang Imam paling tahu tentang hadits, toh beliau juga seorang ahli hadits (muhaddits) dan dikenal sebagai imam madzhab yang sangat kuat sekali dalam pengamalan hadits di setiap fatwa-fatwa beliau.

Akan tetapi yang perlu diketahui bahwa hadits Abu Ayyub al-Anshariy ini, walaupun shahih, hadits ini menyelisih ‘Amal Ahl Madinah (Pekerjaan Penduduk Madinah), dan lebih dari itu, jalur periwayatannya adalah ahad (tunggal), yaitu diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingakatan sanadnya. Bukan hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh orang banyak dalam setiap tingkatan sanad.

Imam Ibnu Abdil-Barr, ulama terkemuka madzhab al-Malikiyah mengatakan dalam kitabnya al-Istidzkar (3/379):

وَذَكَرَ مَالِكٌ فِي صِيَامِ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ أَنَّهُ لَمْ يَرَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ يَصُومُهَا، قَالَ وَلَمْ يَبْلُغْنِي ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ

“Imam Malik menyebutkan perihal puasa 6 hari syawal bahwa beliau tidak pernah melihat seseorang dari kalangan ahli fiqih dan ahli ilmu yang berpuasa 6 hari syawal, beliau (imam Malik) juga berkata: ‘tidak satu pun riwayat yang sampai kepadaku tentang puasa syawal dari salah satu ulama salaf’.”

Madzhab Imam Malik memang terkenal sekali sebagai madzhab yang menggunakan ‘Amal Ahl Madinah sebagai sandaran hukum (mashdar al-Syari’ah). Ketika ada hadits ahad yang mana kandungannya itu bertentangan dengan pekerjaan penduduk Madinah, walaupun itu shahih, yang dimenangkan ialah pekerjaan penduduk madinah.

Kenapa Ahl Madinah?

Apa yang dilakukan dan dipraktekkan oleh Imam Malik dalam fatwa beliau terkait ‘Amal Ahl Madinah bukan tanpa alasan. Hadits ahad yang shahih tidak langsung diamalkan jika itu memang bertentangan dengan pekerjaan penduduk Madinah. Berbeda dengan hadits mutawatir yang langsung diamalkan tanpa melirik pekerjaan penduduk Madinah.

Kenapa demikian?

Nabi saw, selain di Mekkah beliau membangun syariah juga di Madinah, bisa dikatakan bahwa Madinah adalah Mahall al-Tasyri’ (tempat/kota pensyariatan) yang mana banyak syariat-syariat Islam diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad ketika beliau di Madinah.

Dan ketika syariat itu diturunkan, Nabi saw pasti menginformasikan kepada para sahabat, lalu dijalankan syariat itu oleh para sahabat. Sampai akhirnya Nabi saw meninggal syariat yang pernah diturunkan dan dijalankan tidak mungkin hilang. Terus dijalankan dan turun menurun kepada generasi-generasi selanjutnya setelah sahabat, yang akhirnya itu menjadi kebiasaan yang biasa dilakukan oleh penduduk Madinah. Artinya bahwa ‘Amal Ahl Madinah itu diriwayatkan bukan hanya satu orang, akan tetapi diriwayatkan oleh seluruh penduduk negeri.

Dan ketika sampai pada masanya Imam Malik, beliau justru tidak melihat ada orang Alim dan juga para Ahli Fiqih di Madinah yang berpuasa 6 hari syawal setelah Ramadhan sebagaimana kutipan perkataan beliau di atas.

Jadi, kalau dibanding dengan hadits Abu Ayyub al-Anshariy yang hanya diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingkatan sanad, tentu jauh lebih kuat ‘Amal Ahl Madinah yang diriwayatkan oleh penduduk satu negeri? Jadi wajar saja kalau memang Imam Malik lebih mengedepankan pekerjaan penduduk Madinah daripada hadits Ahad, melihat bahwa memang madinah dianugerahi sebagai tempat turunnya syariat.

Karena itu beliau (Imam Malik) juga mengatakan:

وَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَيَخَافُونَ بِدْعَتَهُ وَأَنْ يُلْحِقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ أَهْلُ الْجَهَالَةِ

“dan para ahli ilmu memakruh-kan itu (puasa 6 hari syawal), dan mengkhawatikan bahwa itu adalah sebuah bid’ah, dan (khawatir) kalau orang-orang awam mengganggap itu bagian dari Ramadhan (padahal bukan)”. (al-Istidzkar 3/379)

Karena itu tidak dikerjakan oleh para ulama semasa hidup sang Imam, beliau khawatir bahwa itu adalah sebuah bidah yang terlarang, dan beliau juga sangat khawatir bahwa nantinya para orang awam menganggap itu bagian dari Ramadhan yang wajib dikerjakan, padahal tidak seperti itu. (al-Muntaqa’ Syarhu al-Muwatho’ 2/76, Mawahib al-Jalil 2/414)

Tapi sejatinya, kekhawatiran sang Imam saat ini sudah tidak bisa dijadikan alasan atas kemakruhan puasa syawal, toh tidak ada orang awam zaman sekarang yang meyakini bahwa puasa syawal itu adalah sebuah kewajiban yang merupakan bagian dari Ramadhan. Tidak ada.

Jadi …

Apapun itu, masalah ini masuk dalam lapangan  perbedaan pendapat yang masing-masing pihak tidak mungkin berpendapat dengan asal-asalan, pastilah pendapat mereka didukung oleh dalil dan argument yang sama kuatnya.

Jadi siapapun berhak untuk memilih pendapat mana yang mereka yakini selama ada dalil serta argument yang menjadi sandaran. Yang meyakini kesuanahannya, silahkan berusaha mewujudkan itu dengan berpuasa 6 hari syawal tanpa harus menyalahkan mereka yang meyakini kemakruhannya.

Begitu juga sebaliknya, mereka yang meyakini ini adalaha perkara yang makruh, mereka berhak atas itu. Tentu dengan tidak menyalahkan mereka yang berpuasa, dan tidak memicu serta memancing perdebatan yang tidak perlu.

Wallahu a’lam




Ahmad Zarkasih, Lc


*sumber: http://www.rumahfiqih.com/fikrah/x.php?id=278&=puasa-syawal-hukumnya-makruh-benarkah.htm


Membela Keadilan, Membela Palestina


Oleh Shofwan Al Banna

Anak-anak kecil itu berlari terengah-engah menuju hotel di tepi pantai Gaza yang berisi puluhan wartawan internasional yang sedang meliput Gaza.

“Setelah asap dari ledakan pertama mulai memudar, terlihatlah empat sosok yang memaksa kaki mereka berlari kencang...dari jarak sejauh 200 meter pun terlihat jelas bahwa setidaknya tiga dari mereka adalah anak-anak,” tulis Peter Beaumont, seorang wartawan The Guardian yang sedang bertugas di sana.

Mereka terus berteriak dan meminta bantuan. Para wartawan memberi mereka semangat untuk berlari menyelamatkan diri ke hotel. Namun, kecanggihan teknologi (dan kekejaman yang mengoperasikannya) rupanya jauh melampaui kecepatan kaki-kaki kecil mereka. Sebelum sampai ke hotel, ledakan keras menghantam anak-anak itu.

"Mereka yang menembak jelas-jelas menyesuaikan arah tembakan mereka untuk memburu mereka yang sedang mencoba menyelamatkan diri,” tutur Beaumont.

Empat anak-anak berusia tujuh hingga sebelas tahun itu pun tewas. Terbunuh. Oleh senjata dari salah satu angkatan perang paling kuat di dunia yang didanai negara adidaya terkuat di dunia tetapi terus membangun narasi sebagai korban yang terzalimi.

Nama mereka tidak boleh kita lupakan: dua bernama Muhammad, satu bernama Zakaria dan satu lagi bernama Ahed. Mereka semua dari keluarga Bakr. Mereka adalah anak-anak manusia.

Kekejian ini hanya fragmen kecil dari kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel. Hingga tanggal 20 kemarin, tercatat 434 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Mayoritas korban adalah masyarakat sipil.

Namun, peristiwa yang memilukan ini merupakan cermin dari apa yang sedang terjadi di Palestina. Israel dapat membunuh anak-anak dengan tenang, bahkan di depan hotel yang disesaki para wartawan, karena mereka tahu bahwa tidak akan ada yang menghukum mereka. Mereka memiliki kekebalan.

Amerika Serikat buru-buru menyesalkan peristiwa tersebut, tapi menegaskan bahwa yang bersalah adalah HAMAS dan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri. Ini adalah lampu hijau untuk pembantaian selanjutnya. Israel selalu bisa membunuh dan tinggal mengarahkan telunjuk mereka ke HAMAS (atau siapapun yang mereka kehendaki). Para pembelanya akan mengulang-ulang kaset rusak tentang bahwa “Israel hanya membela diri”.

Media massa internasional juga mengalami kesulitan untuk menceritakan apa yang terjadi. New York Times bahkan mengganti judul untuk menghilangkan kesan bahwa “Israel adalah penjahatnya.”

Berita NBC yang menyiarkan peristiwa di Gaza bahkan harus diawali dengan framing yang tegas “saat HAMAS meluncurkan roket dari Gaza, Israel membalas.”

Seorang wartawan senior yang meliput Gaza, Ayman Mohyeldin, ditarik oleh NBC setelah melaporkan situasi di Gaza dan menunjukkan simpatinya pada para korban. Ia kemudian dikembalikan lagi untuk bertugas setelah kritik bertubi-tubi datang pada NBC dari para jurnalis lain yang menilai Ayman sebagai seorang wartawan yang memiliki rekam jejak dan integritas sangat baik.

Benarkah Israel hanya membela diri?

Sebelum bicara soal roket, Israel awalnya memulai operasi ini dengan dalih untuk mencari tiga remaja Israel yang diklaim oleh Netanyahu diculik oleh HAMAS (tapi HAMAS menolak tuduhan ini).

Dengan dalih ini, Israel memulai operasi besar-besaran dan menangkap 350 orang Palestina, termasuk mereka yang dibebaskan melalui perjanjian gencatan senjata pada agresi militer mereka yang terakhir ke Gaza. Sekedar catatan, ketiga remaja tersebut tinggal di Gush Etzion, sebuah kawasan pemukiman yang menurut hukum internasional (Pasal 49 Konvensi Jenewa) disepakati sebagai daerah pemukiman ilegal.

Namun, jika penculikan itu, kalaupun benar dilakukan oleh HAMAS, dapat dijadikan dalih untuk serangan membabi buta ke Gaza, bukankah Palestina lebih memiliki hak untuk “membela diri”?

Menurut data resmi dari Kementrian Informasi Otoritas Palestina, sejak tahun 2000 hingga 2013, ada 1.518 anak-anak Palestina dibunuh oleh Israel. Artinya, setiap tiga hari, ada satu anak Palestina terbunuh. Banyak yang dibunuh tanpa alasan yang jelas, selain bahwa mereka adalah anak-anak Palestina.

Sebelum peristiwa penculikan tiga remaja Israel, Naftali Fraenkel, Gilad Shaer, dan Eyal Yifrah, yang terjadi pada tanggal 12 Juni 2014, terjadi pembunuhan terhadap dua remaja Palestina oleh tentara Israel.

Pada tanggal 15 Mei 2014, empat remaja Palestina ditembak dengan peluru tajam oleh serdadu Israel padahal mereka tidak bersenjata dan tidak melakukan apa-apa yang membahayakan. Dua meninggal dunia, bernama Nadim Nuwarah dan Muhammad Salameh. Israel tidak menyesal dan malah mengintimidasi saksi yang memiliki video yang merekam peristiwa tersebut. Seperti direkam oleh Human Rights Watch, serdadu Israel mengancam saksi tersebut dengan mengatakan bahwa “kami akan meremukkanmu seperti serangga.”

Kesimpulannya sederhana. Kalau Israel yang membunuh dan menculik, tidak apa-apa. Hanya membela diri. Kalau ada orang Palestina membalas, mereka adalah teroris dan Israel harus menghukum seluruh Gaza, termasuk anak-anaknya.

Argumen “Israel hanya membela diri” menutupi akar masalah yang sebenarnya: penjajahan atas Palestina dan kehendak Israel untuk memberangus segala hambatan atas proyek penjajahan yang mereka lancarkan.

Argumen lain yang sering digunakan untuk membela adalah bahwa “Israel ingin damai, tetapi Palestina yang tidak ingin berdamai.” Karena itu, HAMAS-lah (dan seluruh gerakan perlawanan yang lain) yang harus disalahkan karena tidak ingin berdamai.

Ada yang membela Israel dengan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dahulu membeli tanah di Palestina dengan harga mahal. Ya, tentu saja. Hal ini justru menunjukkan bahwa bangsa Arab Palestina tidak memiliki masalah dengan Yahudi yang ditindas oleh Eropa.

Yang mereka lawan adalah ideologi politik rasis bernama Zionisme, yang mengusir dua pertiga penduduk Palestina dari rumah mereka pada tahun 1948 dan melakukan pembantaian keji seperti yang terjadi di Deir Yasin. Yang mereka lawan adalah Zionisme yang memberikan semua Yahudi hak untuk menjadi warga negara Israel sambil mengusir orang-orang Palestina dan membuldozer rumah-rumah mereka untuk dijadikan pemukiman-pemukiman khusus Yahudi.

Proses perundingan damai yang sekarang dilakukan disponsori oleh Amerika Serikat yang keberpihakannya jelas. Israel menggunakan “perundingan-perundingan damai” (sekaligus menyiapkan beragam alasan untuk memperlambat prosesnya) untuk membeli waktu memperluas pemukiman ilegal sambil mengusir warga Palestina demi menciptakan politik ruang yang menghapus kemungkinan kemerdekaan Palestina.

Yang Israel dan Amerika Serikat tawarkan adalah Palestina yang “abal-abal”, karena kendali sepenuhnya tetap ada di Israel. Menurut perjanjian Oslo II, Palestina dibagi menjadi tiga kawasan: A, B, dan C. Kawasan A berada di bawah kendali otoritas Palestina. Kawasan B (22%) berada di bawah kendali otoritas Palestina dalam urusan sipil, tapi di bawah kendali militer Israel. Kawasan C, 60% dari total wilayah, berada di bawah kendali penuh Israel. Ini bagaikan Belanda mengakui Indonesia merdeka tapi tentara Belanda masih bisa seenak hati masuk ke rumah-rumah kita.

Negara boneka Palestina yang ditawarkan oleh Israel adalah negara yang dapat menjadi tempat Israel membuang ancaman demografis dari pertumbuhan penduduk Arab dan menjadi tempat membuang pengungsi, sambil tetap menguasai negara itu dalam kendalinya.

Palestina akan menjadi seperti “Bantustan” di Afrika Selatan pada zaman apartheid Afrika Selatan. Negaranya seakan merdeka, tapi tanpa kedaulatan politik, tanpa ekonomi, tanpa kuasa atas batas-batas wilayahnya, serta tetap menjadi subordinat dari Israel.

(Saya tidak perlu menjelaskan blokade Gaza di sini. Sudah terlalu panjang. Google it.)

Perdamaian tentu baik, tapi ia harus berangkat dari keadilan. Indonesia harus tegas berpihak pada kalimat dalam mukadimah konstitusinya:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

*sumber: https://www.selasar.com/politik/membela-keadilan-membela-palestina


"Muslim Gaza Ngungsi di Gereja, Toleransi, dan Pluralisme" by @hafidz_ary


ada berita muslim palestina ngungsi di gereja kok jd argumen untuk menihilkan penentangan kita thdp pluralisme.

muslim palestina yang ke gereja gak ikutan ibadah gereja kan seperti yg panasbung* mau?
(*panasbung=pasukan nasi bungkus, jokowers)

mrk ngungsi ke gereja bukan krn gereja nya ... mrk ngungsi kemanapun tempat yg tdk jd sasaran israel sperti gereja dan sekolah nya UN (PBB).

ngungsi di gereja ya soal biasa lah ... jangan dihubung2kan jd argumen "campur aduk agama".

aneh ... ketika ada nyerempet2 campur aduk agama kok seneng banget ... maunya agama tuh gmn?

padahal hubungan beda agama dlm Islam itu simpel ... silakan beribadah sesuai agama masing2 dan bekerja sama di luar urusan keagamaan.

di jakarta warga kebanjiran ngungsi di masjid, biasa aja ... kerjasama urusan sosial diperbolehkan dlm islam.

kayaknya seneng bener dpt kabar muslim palestina ngungsi di gereja ... krn masjid dan rumah muslim jd target Israel, ya cari tempat yg ga jd target.

bodohnya kelewatan nih panasbung gak bisa bedakan antara "toleransi" dan "campur aduk agama", pluralisme.

panasbung demen banget kalo ada berita muslim ikut misa atau kristen ikut sholat jumat, mrk anggap ini setinggi2nya toleransi. #bodoh

padahal cukup ibadah masing2 saja dan harga org lain yg beribadah , trus bekejasama utk urusan lain .. simpel.

dulu yahudi dibantai di eropa jg yg bantu nolongin/ ngumpetin ya org2 muslim | sayang aj emang tu kaum ga tau diri.

selama ratusan tahun, palestina menjadi tempat yg aman bagi yahudi yg lari dr pembantaian gereja .. skrg mrk malah bantai tuan rumah yg baik (muslim).

keadilan, kemanusiaan itu gak pandang agama, harus dibela.

toleransi paling hebat dari pejuang palestina adalah berjuang melawan israel siap melindungi rakyat palestina apapun agamanya, trmasuk kristen.

org2 Israel gak tau diri ... dipersilahkan tinggal di palestina oleh muslim agar selamat dr pembantaian gereja, malah tuan rumah dibantai.

yahudi dikejar2 gereja, dipersilahkan masuk rumah muslim biar aman, dilindungi ... eh tuan rumahnya dibunuh, rumahnya dirampas.

1400 tahun Islam memimpin palestina, damai seluruh pemeluk agama tinggal disana ... karakter khas dr Islam, melindungi semua pemeluk agama.

beda dg gereja saat kuasai spanyol misalnya, umat islam dan yahudi dibantai.

sangat berbeda ketika sebelumnya spanyol dikuasai Islam, spanyol jd pusat peradaban dunia, contoh sempurna toleransi thdp pemeluk agama.

spanyol ketika dikuasai gereja, pemeluk agama lain dibantai. yahudi ketika kuasa palestina, muslim dibantai.

cuma Islam yg ketika menguasai sebuah wilayah maka wilayah itu dimakmurkan dan kebebasan beragama dijamin.

spanyol saat Islam, baghdad saat Islam, atau turki saat Islam adalah contoh bagaimana toleransi umat beragama dijamin ... krn itulah islam.

Sy juga heran kenapa jika agama lain yg berkuasa, semangatnya adalah menghabisi pemeluk agama lainnya.

kenapa ndak bisa mencontoh Islam, pemeluk agama lain dilindungi... bukan dikejar2 diburu dibunuh dibantai.

“bagaimana dgn ISIS?? Yg membantai umat lain..” jawab: ISIS itu buatan amrik, bagian dari operasi intelejen AS dan Israel, muslim pun dibunuh mereka.

kalo suriah bisa direbut IM, ini sangat berbahaya buat AS dan israel, diciptakanlah ISIS (untuk menghadang IM)...

Indonesia juga contoh bagus dr toleransi... mayoritas muslim tp jumlah gereja disini proporsinya terbanyak di dunia.

ribuan tahun Islam berkuasa pemeluk agama lain tenang di turki, palestina, spanyol, baghdad.. setelah Islam turun (dari kekuasaan), dunia kacau.

jd cuma Islam yg pantas memimpin dunia, krn jk islam memimpin, semua pemeluk agama terlindungi ... sejarah membuktikan.

sekarang kita liat ketika barat yg dikendalikan zionis ini memimpin dunia, pembantaian thdp muslim terjadi dimana2 ...

yup, Islam adalah contoh sempurna toleransi ... hanya Islam yg layak memimpin dunia agar semua damai.

skrg barat yg dikendalikan zionis sdg memimpin dunia, terbukti kekacauan dimana2 ... amburadul.

1400 tahun Islam memimpin dunia, toleransi dipraktekan dg sempurna.

kalo ada muslim yg tdk setuju pendirian gereja, bukan protes thdp gerejanya tapi tidak tertibnya. yg tertib sih dibiarin aja.

krn dlm Islam tdk punya ajaran pemaksaan thdp agama "kalo gak masuk Islam gw bunuh lho", gak ada ini. iman itu kerelaan hati.

(dari twit @hafidz_ary 29/7/2014)



Ahli Hukum: Pemenang Pilpres 2014 di Tangan MK


Ahli Hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Dr Mudzakir mengatakan pemenang pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 berada di tangan Mahkamah Konstitusi (MK).

"Bukan keputusan KPU. Karena keputusan KPU itu bisa dibanding atau dikomplain ke MK. Yang jadi pemenang sebetulnya adalah keputusan MK," kata Mudzakir saat dihubungi wartawan, Selasa (29/7/2014), seperti dikutip Inilah.com.

Dia pun menyayangkan sikap calon presiden Jokowi-JK yang sudah menyatakan kemenangan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Padahal, masih ada proses gugatan di MK.

"Kesalahan para Capres itu adalah menyatakan diri mereka menang. Padahal menyatakan diri mereka menang bila masa banding ke MK itu sudah tertutup. Baru itu dinyatakan menang. Mestinya dua kubu harus memberi tahu ke para pendukungnya bahwa keputusan yang sebenarnya itu adalah keputusan MK," ujarnya.

Selain itu, dia juga menyayangkan perekrutan sejumlah nama menteri oleh Jokowi-JK untuk mengisi kabinet nanti.

"Kalau masih diumumkan menang oleh KPU kemudian merekrut kabinet dan sebagainya, itu sebenarnya keliru dan tidak boleh dilakukan," jelas dia.

Menurut dia, seharusnya pasangan Jokowi-JK tidak boleh mengklaim menang. Apalagi mengeluarkan statemen kalau Jokowi kalah berarti ada kecurangan.

"Itu salah. Itu yang harus dijelaskan ke masyarakat bahwa menang kalah itu urusan MK," katanya lagi.

Ia menjelaskan, sesuai dengan mekanisme penyelesaian sengketa pemilu presiden mestinya tim Jokowi-JK wajib memberitahu pendukungnya bahwa keputusan pemilu menang masih bersifat sementara dan finalnya adalah keputusan MK. (inilah)


Vonis Tiga Tahun untuk Terdakwa Zakat Maut Pasuruan, Bagaimana dengan JK?

Bocah 11 tahun jadi korban tewas saat pembagian zakat di rumah JK (29/7)

Kejadian pembagian sedekah yang menimbulkan korban jiwa saat Open House di rumah Jusuf Kalla (JK) kemarin (29/7) mengingatkan kita pada kejadian mengenaskan 'Zakat Maut' di Pasuruan Jawa Timur 2008 lalu.

Ahmad Faruk, terdakwa kasus zakat maut yang menewaskan 21 orang akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Pasuruan. Ia terbukti bersalah telah melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, sesuai Pasal 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Vonis majelis hakim yang diketuai Sutarjo ini lebih ringan dua tahun ketimbang tuntutan jaksa, yakni lima tahun penjara. Melalui pengacaranya, Ahmad Faruk merasa keberatan atas vonis yang telah dijatuhkan kepadanya. Terdakwa bermaksud banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya. (sumber: http://news.liputan6.com/read/231738/vonis-tiga-tahun-untuk-terdakwa-zakat-maut)

Apakah hukum akan berlaku juga untuk cawapres JK? Apakah persamaan didepan hukum yang dulu digembar-gemborkan Jokowi-JK saat debat pilpres akan ditegakkan? Saat ramai debat pilpres kubu Jokowi-JK sering menyindir perlakukan hukum terhadap anak Hatta Rajasa yang mereka katakan terjadi ketidakadilan hukum. Apakah mereka sekarang akan sama lantang menuntut perlakuan sama di depan hukum pada kasus 'Zakat Maut' JK?

Sebagaimana ramai diberitakan, kegiatan pembagian sedekah di kediaman Wapres terpilih (versi KPU) Jusuf Kalla, pada Selasa (29/7/2014) menimbulkan korban jiwa.

Selain menyebabkan satu orang tewas, acara open house di rumah JK juga menyebabkan tujuh orang harus dilarikan ke rumah sakit. Sebagian besar mengalami sesak napas karena kehabisan oksigen dan luka-luka setelah berdesak-desakan.

Korban tewas dalam open house di rumah JK, diketahui bernama Handika (11), warga Kelurahan Rappokalling, Tallo, Makassar. Korban diketahui datang ke kediaman JK yang berada di Jalan Haji Bau, Makassar, sekitar pukul 10 WIT.

Korban yang tewas akibat kehabisan napas dan terinjak-injak, kemudian dibawa ke RS Stella Maris, Makassar. Orang tua korban Muhammad Thalib dan Halwiyah histeris begitu mengetahui anaknye tewas.

Sementara tujuh warga yang mengalami luka-luka masih menjalani perawatan, termasuk satu orang yang harus dilarikan ke ruang bedah RS Stella Maris.



Penjajah Israel Hancurkan Satu-Satunya Pembangkit Listrik Gaza

90% of 1.8 million people are without power after Israeli fire knocked out the sole power station... (@iFalasteen)

SATU-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza dilaporkan telah berhenti beroperasi. Pembangkit listrik yang menyediakan energi bagi masyarakat di Jalur Gaza ini telah terbakar akibat serangan Israel.

“Pembangkit listrik satu-satunya di Gaza telah berhenti bekerja karena serangan Israel. Serangan ini telah merusak pembangkit uap dan kemudian menghantam tangki bahan bakar hingga membakar fasilitas,” ujar Fathi al-Sheikh Khalil, wakil direktur otoritas energi di Gaza , pada Selasa (29/7/2014).

Kebakaran besar telah melanda pabrik pada Selasa (29/7/2014) pagi. Kendaraan pemadam kebakaran dilaporkan masih belum dapat menjangkau daerah tersebut.

Kerusakan pembangkit listrik ini telah memperburuk kerusakan infrastruktur di Gaza, yang ditimbulkan akibat serangan mematikan Israel selama 22 hari ke Jalur Gaza.

Sejak 8 Juli, pesawat tempur Israel telah menggempur berbagai fasilitas publik di Jalur Gaza, menghancurkan rumah-rumah dan mengubur ratusan keluarga dalam reruntuhan. [sm/islampos/pt]

SUMBER LISTRIK ALTERNATIF


Inilah sumber elektrik yang serba sederhana yang mereka ada untuk meneruskan kehidupan dalam ketiadaan sumber elektrik. Inilah juga yang digunakan mereka untuk mengecas laptop dan handphone mereka untuk terus menyampaikan berita terkini dari sana. (sumber: aqsa syarif)



Mursi Puji Perlawanan Rakyat Gaza


KAIRO - Presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi melemparkan pujian atas perlawanan warga Gaza terhadap Israel. Dirinya menegaskan, secara naluriah pemerintah Mesir harusnya turut membantu perlawanan rakyat Gaza.

“Secara alami, kami dituntun untuk mendukung Palestina dalam melawan para penajajah, dan kami akan berusaha semampu kami untuk terus membantu Palestina agar bisa lepas dari tangan penjajah,” ungkap Mursi.

“Saya menyatakan kekaguman pada mereka yang terus berjuang membela Gaza dan pujian juga saya utarakan kepada para revolusioner di Gaza,” Mursi menambahkan. Seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (29/7/2014).

Presiden yang digulingkan oleh militer Mesir tahun lalu dan sedang mengunggu eksekusi mati itu merupakan salah satu orang yang berjasa dalam proses gencatan senjata antara Hamas dan Israel tahun 2012 lalu.

Pemerintah Mesir yang saat ini dipimpin oleh Abdul Fatah As-sisi memiliki sudut pandang terbalik dengan pemerintahan era Mursi. Pemerintah Mesir saat ini memasukan Hamas kedalam daftar hitam, sebagai salah satu kelompok teroris di dunia. (sindonews)


Rezim Mesir Dapat Pujian Israel Karena Sudah Hancurkan 1636 Terowongan Gaza


Media Zionis-Israel hari Ahad (27/7) mengutip pejabat Mesir yang mengatakan bahwa pasukan keamanan Mesir hari ini telah menghancurkan 13 terowongan yang menghubungkan antara Mesir dan Jalur Gaza.

Hal itu terjadi bersamaan dengan berlanjutnya penutupan gerbang perlintasan Rafah, di tengah-tengah pengetatan blokade yang mencekik atas Jalur Gaza dalam gelombang agresi yang dilancarkan pasukan penjajah Zionis.

Koran Yedeot Aharonot, di halaman situsnya menyebut bahwa Mesir adalah “tetangga yang baik”. Hal ini merujuk kepada tindakan pasukan keamanan Mesir yang menghancurkan 13 terowongan yang membentang dari Sinai ke Jalur Gaza melalui pagar perbatasan.

Yedeot Aharonot menambahkan, dengan pengumuman penghancuran 13 terowongan hari ini maka jumlah terowongan yang telah dihancurkan Mesir mencapai 1636 buah.

Menurut situs media Zionis, sejak penggulingan Presiden Mahammad Mursi, Mesir mendorong pasukannya secara besar-besaran ke Sinai untuk memerangi gerakan-gerakan Islam dan untuk menghancurkan terowongan-terowongan yang digunakan pejuang Hamas untuk menyelundupkan senjata, bahan makanan dan bahan bakar. (hidayatullah.com)


"Tiada Daya, Maka Berjaya" | oleh Salim A. Fillah


    Maha Suci Dzat yang menjadikan;
    Berhina padaNya sebagai kemuliaan
    Berfaqir padaNya sebagai kekayaan
    Tunduk padaNya sebagai keluhuran
    Dan bersandar padaNya sebagai kecukupan..


Lelaki itu pergi dengan marah.

Mari kita fahami betapa berat tugas dakwahnya di Ninawa, betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Malam dan siang, pagi dan petang; diajaknya mereka meninggalkan berhala-berhala tak bernyawa dan perbuatan-perbuatan tak bermakna. Didekatinya mereka satu-satu maupun dalam kumpulan, ketika sepi maupun di keramaian.

Tetapi hanya cemooh dan tertawaan, umpatan dan makian, serta penolakan dan pengusiran yang dia dapat. Maka dia, Yunus ibn Mata namanya, pergi dengan marah. Dia tinggalkan negerinya sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi pada kaum-kaum sebelumnya, pasti turun pada kaum pendurhaka. Bukankah demikian nasib kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, dan penduduk negerinya Luth?

Tapi dia pergi karena ketaksabarannya, ketakteguhannya, dan ketaktelatenanannya. Dia pergi sebelum ada perintah Allah untuk menghentikan seruannya. Dia menyerah sebelum tiba waktunya. Maka sebagai hamba yang disayangiNya, Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain, jika dia tak sabar dalam tugas dakwahnya. Cara itu adalah musibah.

Kita tahu ringkasnya, Yunus  yang menumpang sebuah kapal akhirnya dibuang ke samudra setelah 3 kali muncul namanya dalam undian. Kapal itu dalam badai yang bergulung mengerikan, maka ada yang berkeyakinan seseorang harus dipersembahkan pada penguasa lautan. Lagipula, ia terasa kelebihan muatan. Awalnya, sang nakhoda tak tega. Yunus tampak sebagai orang baik. Tapi namanya muncul tiga kali, seakan memang hanya dialah yang dikehendaki.

Ketetapan Allah berlaku baginya. Seekor ikan membuka mulut menyambut tubuhnya yang terjun ke air. Bahkan, menurut sebagian mufassir, ikan yang menelannya dilahap ikan yang lebih besar, lalu dengan perut berisi ia menuju ke dasar lautan. Maka jadilah Yunus berada dalam gelap, dalam gelap, dalam gelap. Kelam berlapis-lapis.

***

Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan, “Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah, serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.

“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasihNya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Maka demikianlah Yunus, ‘Alaihis Salam. Di perut ikan Nun, dalam gelap yang mencekik hingga ke hati, dia menangisi kelemahannya, menekuri hari-harinya, dan mengaku telah berbuat aniaya.

“La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” (QS Al Anbiya’ [21]: 87)

Doa Yunus, betapa sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takzim dan syahdu. Demikianlah pada pinta para Nabi di dalam Al Quran, kita menemukan lafazh doa, ruh tauhid, sekaligus keindahan adab. Hari ini, ketika kita disuguhi fahaman antah berantah bahwa doa harus dirinci-rinci, dibayang-bayangkan, dan dijerih-jerihkan; seakan dengan demikian ia lebih cepat dikabulkan, mari berkaca pada doa Yunus.

Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, hiba-hiba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah. “Doa Dzun Nun, ‘Alaihis Salam”, demikian menurut ibn Taimiyah, “Adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al Quran.” Doa itu mengandung 2 hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah, dan berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.

“Berdoalah menyeru Rabbmu dengan tadharru’ (merendahkan diri) dan khufyah (memelankan suara). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al A’raaf [7]: 55)

Maka doa Yunus, yang tidak rinci, yang tidak dibayang-bayangkan, bahkan tak tergambar apa yang dipintanya, dijawab Allah dengan limpahan karunia yang membawa kejayaan. Dia hanya mengakui ketakberdayaan dan laku aniayanya pada diri sendiri; maka Allah yang Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, mengulurkan pertolonganNya, pembelaanNya, dan bantuanNya.

Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan. Dia bahkan tak perlu payah berenang, karena diantar oleh sang ikan sampai tepian. Dan tempatnya didamparkan bukanlah sembarang daratan. Imam Ibnu Katsir mengetengahkan riwayat dalam tafsirnya dari Ka’b Al Ahbar dan Ibn ‘Abbas, bahwa Yunus dibaringkan di hamparan tanah yang kemudian ditumbuhi suatu tanaman dari jenis labu.

“Kemudian Kami lemparkan Yunus ke daratan kering, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuknya Kami tumbuhkan pohon dari jenis yaqthin.” (QS Ash Shaaffaat [37]: 145-146)

Selazimnya seseorang yang terkurung dalam gelap di kedalaman laut selama waktu yang panjang, maka Yunuspun sakit. “Keadaan beliau seumpama burung yang kehilangan seluruh bulunya”, ujar Ibn Mas’ud menafsir. Adapun menurut Ibn ‘Abbas, “Beliau bagaikan bayi yang baru dilahirkan; ringkih, tak terlindung, rumih, dan rentan.”

“Pohon yaqthin”, demikian masih menurut Ibn ‘Abbas, “Adalah qar’u, dari jenis labu yang tak disukai lalat dan serangga sehingga dia menaungi Yunus hingga terjaga.”

Ketika Yunus siuman, secara naluriah dia menggapai buah yang ada di dekatnya kemudian memakannya. Buah tanaman itu, yang mengandung air, gizi, dan zat-zat bermanfaat, amat mudah dicerna oleh tubuhnya. Khasiatnya menjalari seluruh pembuluh dan sendi, merasuki semua sumsum dan pori, memulihkan tenaga dan kesentausannya. Sakit, payah, dan terganggunya faal badan akibat berpuluh hari di dalam perut ikan dan di dasar lautan, kini pulih sehat dan bertambah afiat.

Nabi Yunuspun bugar kembali, bersemangat, dan berjanji pada Allah untuk nanti teguh, istiqamah, dan tak menyerah dalam berdakwah kepada kaumnya; apapun yang akan terjadi di hadapannya. Tetapi alangkah takjub penuh syukurnya dia. Sebab ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah. Jumlah mereka, lebih dari 100.000 orang kiranya.

Betapa berkah doa Yunus. Bukan hanya menjadi karunia keselamatan dirinya, doa itu bahkan menjadi anugrah hidayah bagi begitu banyak manusia dari kaumnya. Dakwah Yunus berjaya, tepat pada saat dia merasa dan mengaku bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia mengakui dirinya aniaya dan hatinya tunduk memuliakan Allah ‘Azza wa Jalla. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia merasa tak berdaya.

Di lapis-lapis keberkahan, berjayalah hamba yang merasa tak berdaya tanpaNya. Maka Maha Suci Dzat yang menjadikan berhina padaNya sebagai kemuliaan, berfaqir kepadaNya sebagai kekayaan, tunduk padaNya sebagai keluhuran, dan bersandar padaNya sebagai kecukupan.

***

Kita menjawab panggilan adzan, ketika kita diseru untuk shalat dan dipanggil menuju kejayaan bukan dengan kepercayaan diri menggebu-gebu, bukan juga dengan keyakinan jiwa menderu-deru, bukan pula dengan rasa pasti mampu yang berseru-seru.

“Hayya ‘alash shalaah.. Marilah shalat!”, ajak Muadzin. Jawab kita bukan, “Siap! Bisa! Pasti bisa! Luar Biasa!” “Hayya ‘alal falaah! Mari menuju keberhasilan, kemenangan, dan kejayaan!”, sambung muadzin. Dan jawab kita bukan pula, “Saya! Saya! Saya! Yeaaa!”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setaqwa-taqwa manusia, setaat-taat hamba, dan sekuat-kuat pengabdi Rabbnya mengajarkan sebuah jawaban yang apa adanya tentang betapa lemahnya kita. Ungkapan paling jujur itu adalah, “La haula wa la quwwata illa billah. Tiada daya untuk menghindar dari keburukan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Ketika kaki melangkah keluar dari rumah, maka tuntunan doa bagi kita ada dalam hadits shahih dari Anas ibn Malik yang terrekam dalam Sunan Abu Dawud (595) dan Sunan At Tirmidzi (3487). Bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Jika seorang di antara kalian keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:  ‘Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallahi La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.. Dengan nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa Allah’; maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga syaithan-syaithan menjauh darinya. Lalu syaithan yang lainnya berkata kepada syaithan yang ingin menggodanya; ‘Bagaimana kau akan mengoda seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?”

“Dengan asma Allah”, adalah ikrar iman kita. Tak ada tempat bagi nama selainNya, bahkanpun nama kita, dalam berangkat maupun kembali, berjalan maupun berhenti, di kala pulang maupun pergi. Hanya namaNya yang layak diagungkan di setiap tapak dan langkah, berjalan dan berkendara, hatta hingga jatuh dan bangunnya. Semua dalam nama Allah, agar kita menghadapkan wajah padaNya dengan lurus dan berserah diri.

Selanjutnya, kita menginsyafi bahwa hanya Allah-lah sandaran terkuat, terkokoh, terhebat. Bukan diri, ilmu, ataupun hal-hal yang kita daku sebagai milik yang menjadi tempat bergantung. Bukan anak maupun pasangan, bukan kerabat maupun kawan, bukan rekan ataupun atasan. “Aku bertawakkal hanya kepada Allah”, adalah ikrar kepasrahan kita. Bahwa tiap tapak yang terayun serta tiap langkah yang terpijak ini, Allah-lah yang mengatur, mengarahkan, dan menepatkannya.

Dan akhirnya, “Tiada daya untuk menghindar dari maksiat dan keburukan, serta tiada kekuatan untuk menunaikan ketaatan dan meraih kebaikan; melainkan dengan kuasa dan pertolongan Allah.” Inilah kealpaan kita yang mudah tergoda, maka hanya dari Allah pembentengannya. Inilah kerawanan kita yang dalam bahaya, maka hanya dari Allah perlindungannya. Inilah kemalasan kita yang sering tak hendak, maka hanya dari Allah semangat dan kemampuannya. Inilah kelembekan kita yang tak menjangkau, maka hanya dari Allah penggapaiannya.

Demikianlah, di lapis-lapis keberkahan, tiap helaan nafas, tiap detakan jantung, dan tiap denyutan nadi terjalani dengan asma Allah, dengan tawakkal pada Allah, dan dengan pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan karunia Allah. Sebab kita mengerti, pengakuan atas ketakberdayaan di hadapan Yang Maha Jaya adalah sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis, dan tak pernah berakhir.

Salim A. Fillah

(http://salimafillah.com/tiada-daya-maka-berjaya/)


Arsip Blog

Keumatan

Salim A. Fillah

 
© Copyright PIYUNGAN ONLINE
fixedbanner